BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
3.2 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan di bidang hukum terkait hak atas kekayaan intelektual khususnya hak cipta.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan informasi kepada Pemerintah tentang bagaimana dampak physical distancing terhadap angka pengguna situs penyedia film bajakan dan efektivitas UU Hak Cipta selama pandemi COVID1-9 di Kota Denpasar.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Tahapan Penelitian
Adapun tahapan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi Masalah
Adapun pengertian dari kata mengidentifikasi dan masalah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengidentifikasi berarti suatu kegiatan untuk menentukan atau menetapkan identitas. Sedangkan masalah berarti sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Mengidentifikasi masalah merupakan suatu kegiatan untuk menemukan atau menentukan sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Setelah peneliti mengidentifikasi masalah, dilanjutkan dengan menyusun rumusan masalah yang akan diteliti.
2. Studi Literatur
Pada tahapan ini peneliti melakukan kajian pustaka seperti mengkaji peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal-jurnal, serta pustaka lainnya yang terkait dengan permasalahan yang akan dikaji.
3. Membuat Kerangka Penelitian (Model)
Pada tahapan ini peneliti membuat kerangka pemikiran yang merupakan analisis deduktif tentang hubungan logis (teoretik) antar variabel. 23 Kerangka pemikiran tersebut akan mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian.
4. Menyusun Rancangan Penelitian
Pada tahapan ini peneliti menyusun rancangan penelitian yang akan dijadikan dasar dalam melakukan proses penelitian.
23 Imam Gunawan, 2016, Metode Penelitian Kualitatif, The Learning University, Hlm. 14.
5. Menyusun Strategi Teknik Pengumpulan Data
Pada tahapan ini peneliti menyusun strategi dalam pengumpulan data.
Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu melalui studi pustaka, wawancara, dan kuesioner.
6. Menulis Laporan Penelitian
Pada tahapan ini peneliti membuat laporan hasil penelitian secara tertulis sesuai dengan data yang didapatkan dan dianalis.
4.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Kota Denpasar yang merupakan Ibukota Provinsi Bali. Peneliti memilih Kota Denpasar sebagai sampel dalam penelitian ini karena Kota Denpasar merupakan kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara. Kota ini juga merupakan kota yang paling berkembang di Provinsi Bali. Hal tersebut kemudian menjadikan kota ini sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia.
Alasan lainnya yaitu karena jumlah angka positif COVID-19 di Kota Denpasar merupakan yang tertinggi di Provinsi Bali yaitu total positif sebanyak 4205 orang, sembuh 3913 orang, dirawat 197 orang, dan meninggal 95 orang pertanggal 14 Desember 2020.24 Berdasarkan data tersebut, Kota Denpasar mengeluarkan regulasi dalam upaya meminimalisir penyebaran COVID-19, salah satunya yaitu terkait physical distancing. Salah satu dampak dari adanya physical distancing ini yaitu terkait jumlah pengguna situs film bajakan dan efektvitas penegakan UU Hak Cipta terhadap pengguna situs film bajakan di tengah pandemi COVID-19.
24 Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Denpasar, 2020, Perkembangan Covid-19, diakses pada tanggal 14 Desember 2020, tersedia di: https://covid19.denpasarkota.go.id.
Efektivitas Penegakan UU Hak Cipta Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan Sebagai Dampak Penerapan Physical Distancing di Kota Denpasar
Observasi Melalui Kuisioner Secara Daring
Studi Dokumen Studi Lapangan Wawancara
1. Bagaimakah dampak penerapan physical distancing selama COVID19 terhadap angka pengguna situs penyedia film bajakan di Denpasar?
2. Bagaimakah efektivitas UU Hak Cipta terhadap perlindungan film yang terdapat pada situs film bajakan khususnya selama COVID19 ini di Denpasar?
Metode Penelitian Landasan Teori Kesimpulan
4.3 Kerangka Penelitian (Model)
Adapun kerangka penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:
Gambar 4.1
Kerangka Pemikiran Bagaimakah efektivitas UU Hak Cipta terhadap perlindungan film yang terdapat pada situs film bajakan khususnya selama COVID19 ini di Kota Denpasar
4.4 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian ini dimulai dari menyusun latar belakang yang didasari atas permasalahan yang akan teliti, kemudian dilanjutkan dengan
penyusunan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.
Kemudian dilanjutkan dengan membuat kerangka pemikiran, menentukan lokasi penelitian, membuat rancangan penelitian, menentukan teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data. Berdasarkan data-data yang diperoleh, mulailah disusun hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian dan pembahasan tersebut akan menjawab rumusan masalah penelitian yang dikaji sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan dan saran. Rancangan penelitian dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 4.2 Rancangan Penelitian
4.5 Jenis dan Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris. Penelitian hukum empiris merupakan penelitian yang mengkaji antara harapan (Das Sollen/Law in Books) dengan kenyataan di lapangan (Das Sein/Law in Action). Berdasarkan sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Deskriptif yaitu membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat
Melihat permasalahan yang terjadi di
mengenai data, sifat, serta hubungannya dengan permasalahan yang dikaji.25 Sedangkan Kualitatif yaitu mengumpulkan, menganalisa, dan menampilkan data dalam bentuk paragraf dan narasi.
Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi 2 yaitu:
1. Data Primer
Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari obyek yang diteliti.
Dalam hal ini, data tersebut diperoleh melalui penyebaran kuisioner secara daring serta melakukan wawancara dengan pihak terkait yaitu Kementrian Hukum dan HAM Bagian HKI Provinsi Bali serta professional dibidang Intelectual Right for Film. Data tersebut kemudian akan diolah dan dianalisa oleh peneliti.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang digunakan sebagai data pendukung yang diperoleh dari bahan hukum yang meliputi bahan hukum utama (primer), bahan hukum pelengkap (sekunder), maupun bahan informasi hukum (tersier).
a. Bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan. Diantaranya yaitu : Undang Undang No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Undang Undang No.33 Tahun 2009 tentang Perfilman, Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Maklumat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: Mak/ 2 /III/2020, Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2020 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Denpasar.
b. Bahan hukum sekunder yaitu buku-buku, dan jurnal-jurnal hukum tentang HKI, Perfilman, Metode Penelitian, dan sebagainya.
3. Data Tersier
25 Ajat Rukajat, 2018, Pendekatan Penelitian Kualitatif, CV Budi Utama, Yogyakarta, Hlm.1.
Data tersier adalah data yang menunjang data primer dan data sekunder dimana pada penelitian ini data tersier diperoleh dari internet melalui situs terkait yang memuat informasi yang dibutuhkan sesuai dengan pokok pembahasan.
4.6 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Studi Pustaka
Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, buku, jurnal, serta dokumen pendukung lainnya terkait permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini yaitu perarturan perundangan undangan terkait hak cipta dan peraturan lainnya yang keluarkan selama pandemi COVID-19, buku dan jurnal tentang hak cipta, serta dokumen pendukung lainnya.
2. Wawancara
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wawancara merupakan tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal. Dalam penelitian ini yaitu wawancara dengan informan dari Kementerian Hukum dan HAM Bagian HKI Provinsi Bali, serta professional dibidang Intelectual Right for Film.
3. Kuesioner
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuesioner adalah alat riset atau survei yang terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis yang bertujuan mendapatkan tanggapan dari kelompok orang terpilih. Dalam penelitian ini yaitu kelompok orang yang akan mengisi kuesioner adalah kelompok umur generasi milenial dengan rentang kelahiran tahun 1982 – 2004 atau sekitar umur 20 – 33 tahun.
4.7 Analisa Data
Analisa data yang digunakan peneliti adalah analisis secara deskriptif kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dikelompokan lalu akan didiskripsikan secara naratif untuk kemudian dikaitkan dengan asas, teori hukum serta UU Hak Cipta untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.
Analisa dimulai dari data pengguna situs penyedia film bajakan di Denpasar sebelum dan selama pandemi COVID-19. Data tersebut akan dikelompokkan ke dalam beberapa bagian (situs legal dan non-legal) sesuai dengan nama situs atau penyedia layanan. Berdasarkan data tersebut kemudian akan dikaitkan dengan efektivitas UU Hak Cipta terhadap situs penyedia film bajakan selama pandemi COVID-19 di Kota Denpasar.
4.8 Penarikan Kesimpulan Penelitian
Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data yang dianalisis dalam pembahasan yang telah dikaitkan dengan teori-teori terkait. Berdasarkan hal tersebut maka dalam pembahasan akan terlihat jawaban dari rumusan permasalahan yang dikaji sehingga menghasilkan suatu kesimpulan.
BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI
5.1 Data Responden
Setelah memperoleh data melalui google form, selanjutnya data tersebut dianalisis secara seksama dengan melakukan komparasi data antara kebiasaan menonton film sebelum dan selama physical distancing yang dilakukan saat pandemi COVID- 19 berlangsung ini. Adapun jumlah responden yang telah mengisi data melalui google form yaitu sejumlah 172 responden. Berikut adalah diagram umur, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal dari 172 responden.
Gambar 5.1 Diagram Usia Responden.
Berdasarkan diagram diatas, maka dapat dilihat bahwa 59,9% atau 103 responden berusia 21-25 tahun, 37,2% atau 64 responden berusia 15-20 tahun, 1,2% atau 2 responden berusia dibawah 15 tahun, 1,2% atau 2 responden berusia 26-30 tahun, dan 0,6 % atau 1 responden berusia diatas 30 tahun.
Gambar 5.2 Diagram Tingkat Pendidikan Responden.
Kemudian jika dilihat dari tingkat pendidikannya terdapat 74,4% atau 128 responden pada tingkat Diploma/Sarjana, disusul tingkat SMA/SMK sebesar 25%
atau 43 responden, dan 0,6% atau 1 responden pada tingkat SD dan SMP.
Gambar 5.3 Diagram Domisili Responden.
Dilihat dari tempat tinggalnya, 57,6% atau 99 responden bertempat tinggal di Denpasar dan 42,4% atau 73 responden berasal dari luar Denpasar. Hal tersebut menunjukan bahwa 61,7% atau 106 responden dalam penelitian ini merupakan generasi milenial yaitu dengan rentang kelahiran tahun 1982 – 2004 atau sekitar umur 20 – 33 tahun, dengan tingkat pendidikan 74,4% atau 128 responden pada tingkat Diploma/Sarjana, serta 57,6% atau 99 responden bertempat tinggal di Denpasar.
Dari data diatas dapat dijabarkan pula bahwa dari 172 responden yang mengisi kuesioner tersebut hampir mayoritas masyarakat Kota Denpasar pernah menonton film di bioskop sebelum penerapan physical distancing. Adapun data yang diperoleh sebagai berikut :
Gambar 5.4 Diagram Lingkaran Intensitas Masyarakat Kota Denpasar Saat Menonton Film di Bioskop
Dari data diatas terlihat bahwa minat masyarakat Kota Denpasar untuk menonton film di bioskop tergolong tinggi. Dari 172 responden yang mengisi
kuisioner tersebut terdapat 47,1 % atau sekitar 81 responden yang sering menonton film di bioskop sebelum penerapan physical distancing kemudian ada sekitar 46,5%
atau setara 80 responden yang jarang menonton di bioskop dan 6,4% atau 11 responden yang tidak pernah menonton film di bioskop. Dari data yang telah dijelaskan terlihat bahwa sebenarnya antusiasme masyarakat Kota Denpasar untuk menonton film di bioskop sebenarnya cukup tinggi namun, hal tersebut tidak menjadi jaminan bahwa hal tersebut dapat menekan angka pengguna situs film bajakan. Karena pada praktik di lapangan persentase angka pengguna situs film bajakan termasuk tinggi.
Berikut adalah data yang kami peroleh dari 172 responden terkait kebiasaan menonton film sebelum pandemi COVID-19 sebagai berikut.
Gambar 5.4 Diagram Pengguna Situs Film Legal Dan Situs Penyedia Film Bajakan Sebelum Pandemi COVID-19.
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa sebesar 47,1% atau 81 responden menonton film melalui situs bajakan seperti IndoXXI, LK21, DuniaFilm21 dan lain sebagainya. Namun menariknya terdapat temuan di lapangan bahwa ada sekitar 4,8% atau 8 responden yang menonton di situs film bajakan baru dan apabila dijumlahkan menjadi 51,9% atau sama dengan 89 orang. Menariknya dalam diagram lingkaran diatas terdapat temuan lapangan juga yang cukup menarik yaitu munculnya aplikasi messeger bernama Telegram sebagai salah satu tempat dimana masyarakat menonton film bajakan. Telegram adalah sebuah aplikasi chatting yang memungkinkan mengirimkan pesan, berbagi foto, video dan audio serta bertukar file yang ter-enkripsi. Selain itu Telegram juga dapat digunakan di berbagai
platform atau sistem operasi seperti Android, iOS, MacOS, Windows OS dan Linux OS (versi desktop) secara bersamaan.26
Namun, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) siap mengajukan pemblokiran akun penyebar film dan serial gratis yang marak terjadi di aplikasi perpesanan instan, Telegram. Kemenkominfo akan melakukan tindak lanjut apabila terdapat laporan dari masyarakat. Tindak lanjut tersebut berupa pengajuan pemblokiran atau suspend akun atau channel Telegram oleh Kemenkominfo dikarenakan aplikasi perpesanan instan Telegram bersifat privat. 27
Dalam diagram di atas masyarakat Kota Denpasar yang menonton situs legal seperti Netflix yang hanya sebesar 22,1% atau 38 responden disusul layanan streaming VIU sebesar 14% atau setara 24 responden, terakhir IFLIX layanan streming legal yang mendapatkan persentase 11% saja atau 19 responden, Google Movie memperoleh 0,6% atau 1 responden dan WeTV yang mendapatkan 0,6%
atau 1 responden. Sehingga setelah dikalkulasikan terdapat 48,3% atau 83 orang yang menonton film melalui situs resmi.
Dalam form isian yang telah disebar faktor gratis dan sangat mudah menjadi alasan paling dominan dan berada di peringkat pertama kenapa masyarakat menonton film di situs bajakan tersebut. Masyarakat lebih memilih menonton film di situs penyedia film bajakan karena mereka tidak ingin ribet untuk berlangganan situs flm legal yang pada saat itu harga untuk satu bulan berlangganan dapat mencapai sekitar Rp. 186.000.00,- perbulannya namun mereka tidak dapat menggunakannya secara maksimal karena waktu untuk menonton mereka sangatlah sedikit. Dimana sebelum pandemi mereka telah disibukkan oleh berbagai macam rutinitas yang menyita waktu baik itu kerjaan, pelajaran ataupun kesibukan lainnya.
Sehingga mereka merasa uang yang akan dikeluaran tidaklah sebanding apabila dikomparasikan dengan banyaknya waktu untuk mereka menikmatinya.
Hal tersebutlah menjadi faktor utama bagi mereka menggunakan situs penyedia film bajakan karena sangatlah membantu bagi mereka yang hanya
26 Muhammad Sholeh, 2020, Aplikasi Telegram dan 5 Kelebihannya, diakses pada tanggal 20 November 2020, tersedia di: https://kirim.email/aplikasi-telegram-dan-5-kelebihannya/.
27Francisca Christy Rosana, 2020, Akun Pembagi Film Gratis di Telegram Terancam di Blokir, diakses pada tanggal 7 Januari 2021,tersedia https://bisnis.tempo.co/read/1419299/akun-pembagi-film-gratis-di-telegram-terancam-diblokir
menonton film hanya pada waktu luang mereka saja. Apalagi film yang disediakan oleh situs penyedia film bajakan tersebut bisa dikatakan lengkap. Mulai dari yang terlama sampai yang paling baru dengan kuliatas yang tergolong cukup baik namun tentu saja itu melanggar hukum. Hal tersebutlah yang pada akhirnya menyebabkan angka pengguna situs penyedia film bajakan lebih banyak sebelum pandemi mewabah.
Namun menariknya, setelah diterapkannya Physical Distancing sebagai bentuk penanganan Pemerintah Indonesia untuk menekan angka penyebaran COVID-19 terjadi perubahan data yang signifikan. Berikut adalah data kebiasaan menonton film selama pandemi COVID-19.
Gambar 5.5 Diagram Pengguna Situs Film Legal dan Situs Penyedia Film Bajakan Selama Penerapan Physical Distancing.
Dari data diatas terjadi hal yang sangat menarik. Dapat dilihat bahwa terjadi penurunan persentase angka pengguna situs penyedia fim bajakan yang sebelumnya mencapai angka 51,9% atau sama dengan 89 orang kini mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi hanya 30,2% atau setara dengan 52 orang yang menonton film melalui situs film bajakan. Hal tersebut diikuti dengan kenaikan persentase angka pengguna Nexflix, IFLIX. Sebelumnya persentase pengguna Netflix hanya sebesar 22,1% atau 38 responden naik menjadi 39,5% setara 68 responden.
Sedangkan persentase pengguna IFLIX juga meningkat dari yang sebelumnya hanyalah 11% saja atau 19 responden lalu naik menjadi 12,2% atau 21 responden.
Namun tren kenaikan tersebut tidak diikut oleh situs legal VIU yang justru mengalami penurunan persentase dari sebelumnya 14% atau setara 24 responden menjadi hanya 13,4% atau 23 responden.
Pada data selama pandemi berlangsung terdapat penambahan situs menonton film yang legal yaitu dengan adanya Disney+ dan Bioskop Online Indonesia yang baru berdiri di tengah pandemi. Menurut data yang dihimpun terdapat 2,9% atau 5 responden yang menonton Disney+ dan 1,7% atau 3 responden yang menonton Bioskop Online Indonesia. Sehingga setelah dikalkulasikan terdapat 69,8% atau setara dengan 120 orang menonton film melalui situs film resmi.
5.2 Hasil Penelitian
5.2.1. Dampak Penerapan Physical Distancing Selama COVID-19 Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan di Kota Denpasar
Beberapa ahli hukum mengemukakan bahwa kesadaran hukum masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tegaknya hukum di suatu negara.
Kesadaran hukum tersebut berkaitan dengan apakah suatu hukum berfungsi atau tidak dalam masyarakat.28 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesadaran hukum adalah kesadaran seseorang akan pengetahuan bahwa suatu perilaku tertentu diatur oleh hukum. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa kesadaran hukum sebenarnya merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada.29
Gambar 5.6 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui UU Hak Cipta.
28 Atang Hermawan Usman, 2014, KESADARAN HUKUM MASYARAKAT DAN PEMERINTAH SEBAGAI FAKTOR TEGAKNYA NEGARA HUKUM DI INDONESIA, Jurnal Wawasan Hukum, Vol.
30, No. 1, Hlm. 5.
29 Ellya Rosana, 2014, KEPATUHAN HUKUM SEBAGAI WUJUD KESADARAN HUKUM MASYARAKAT, Jurnal Tapis, Vol. 10, No. 1, Hlm. 10.
Berdasarkan data responden yang berhasil dihimpun dari lapangan, dari total 172 responden dapat dilihat bahwa ada sebesar 88,4% atau 152 responden telah mengetahui UU Hak Cipta dan 11,6% atau 20 responden tidak mengetahui UU Hak Cipta. Namun dari banyaknya responden yang mengetahui eksistensi UU Hak Cipta tidak sejalan dengan persentase pemahaman akan aturan aturan yang terdapat dalam undang undang tersebut.
Gambar 5.7 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Sanksi dari Menonton dan Mengunduh Film Bajakan.
Bila diperhatikan dengan seksama pada diagram lingkaran diatas, terdapat sekitar 64,5% atau 111 responden yang mengetahui sanksi dari menonton film secara bajakan dan 35,5% atau 61 responden tidak mengetahui sanksi dari menonton film secara legal di situs bajakan. Yang lebih menarik untuk diperhatikan, adalah tentang persepsi maysarakat Kota Denpasar terkait apakah menonton film di situs bajakan adalah melanggar hukum yang berlaku.
Gambar 5.8 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Bahwa Menonton Film di Indoxxi atau Situs Sejenisnya Adalah Melanggar Aturan.
Ada sejumlah 75% atau 129 responden menyatakan bahwa menonton film di situs bajakan adalah perbuatan yang melanggar peraturan. Namun 25% atau 43 responden menilai bahwa hal tersebut adalah sebuah tindakan biasa dan tidak melanggar peraturan. Namun, meski mengetahui hal tersebut adalah melanggar aturan dan memiliki sanksi, tidak sedikit masyarakat yang lebih suka menonton film melalui situs bajakan. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya terkait data pengguna situs film legal dan bajakan sebelum pandemi COVID-19.
Adapun alasan dominan mengapa masyarakat lebih menggunakan situs bajakan dibandingkan legal. Alasan tersebut diantaranya yaitu mengunakan situs bajakan tidak perlu mengeluarkan biaya atau berlangganan, mudah diakses dan lengkap, kualitas cukup bagus, dan dapat diunduh (download) sehingga dapat ditonton berulang tanpa mengeluarkan data internet kembali. Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa meski mengetahui hal tersebut melanggar aturan, masyarakat tetap menggunakannya dengan berbagai alasan. Hal ini tentu berkaitan dengan tentang bagaimana kesadaran hukum dalam masyarakat. Melihat fenomena diatas maka masyarakat belum mempunyai kesadaran hukum yang tinggi. Kesadaran akan pentingnya mentaati peraturan dan menghargai karya-karya seniman perfilman.
Jika dibandingkan pengguna film situs legal dan bajakan sebelum dan saat pandemi COVID-19/Physical Distancing terdapat perbedaan yang cukup signifikan. Jika dibandingkan dengan data sebelum pandemi COVID-19 maka saat penerapan physical distancing terdapat penurunan pengguna situs film bajakan dan peningkatan pengguna situs film legal. Pengguna situs film bajakan yang sebelumnya mencapai angka 51,9% atau sama dengan 89 orang kini mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi hanya 30,2% atau setara dengan 52 orang. Sedangkan pengguna situs film legal 48,3% atau 83 orang meningkat menjadi 69,8% atau setara dengan 120 orang.
Berdasarkan hal tersebut maka dapat dibandingkan tingkat kesadaran hukum masyarakat lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi COVID-19. Hal tersebut dapat terjadi karena faktor kelayakan antara uang yang dikeluarkan untuk
berlangganan situs film legal dengan waktu yang dimiliki oleh mereka untuk menikmati situs yang telah mereka bayarkan.
Dengan penerapan physical distancing yang kini telah mencapai bulan keempat dan masyarakat hanya bekerja dan belajar dirumah saja, membuat masyarakat memiliki sangat banyak waktu luang. Hal tersebutlah yang menjadi faktor kunci bagi masyarakat untuk mengalokasikan uangnya demi berlangganan situs film legal karena tentu selain untuk menghibur diri serta menghilangkan rasa jenuh, kualitas film yang di dapat juga sangat jernih dan beragam. Sehingga bagi mereka hal tersebut sangatlah layak untuk dilakukan. Terdapat pengalihan alokasi dana dari yang sebelumnya Rp.50.000,00- untuk menonton 1 film saja di bioskop kemudian sekarang dikumpulkan kemudian mereka bayarkan untuk dapat beranganan situs film legal dan mereka dapat menonton banyak sekali film dalam 1 bulan tanpa ada batasnya.
5.2.2. Efektivitas UU Hak Cipta Terhadap Situs Film Bajakan Khususnya Selama COVID 19 di Kota Denpasar
Apabila dikaji menggunakan teori efetivitas hukum dari Soerjono Soekanto, penegakan UU Hak Cipta dapat dimasukkan ke dalam kategori belum berjalan efektif. Hal ini disebabkan karena :
1. Faktor Hukumnya Sendiri (Undang-Undang).
Berdasarkan hasil wawancara via daring pada tanggal 12 Mei 2020 dengan M. Aris Marasabessy, S.H., M.H. selaku profesional di bidang
Berdasarkan hasil wawancara via daring pada tanggal 12 Mei 2020 dengan M. Aris Marasabessy, S.H., M.H. selaku profesional di bidang