• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN DAN MAHASISWA IMPLEMENTASI KAMPUS MERDEKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN AKHIR PENELITIAN DOSEN DAN MAHASISWA IMPLEMENTASI KAMPUS MERDEKA"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

PENELITIAN DOSEN DAN MAHASISWA IMPLEMENTASI KAMPUS MERDEKA

EFEKTIVITAS PENEGAKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA TERHADAP ANGKA PENGGUNA SITUS FILM

BAJAKAN SEBAGAI DAMPAK PENERAPAN PHYSICAL DISTANCING DI KOTA DENPASAR

TIM PENELITI :

Kadek Januarsa Adi Sudharma, S.H., M.H. (Ketua) NIDN : 0801018903

Putu Ngurah Dhimas Pratama Sanjaya (Anggota) NIM : 31711623

Dewa Ayu Yeni Asmari (Anggota)

NIM : 31711540

UNIVERSITAS PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS HUKUM DAN ILMU SOSIAL

PROGRAM STUDI ILMU HUKUM

TAHUN 2020

(2)
(3)

EFEKTIFITAS PENEGAKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA TERHADAP ANGKA PENGGUNA SITUS FILM BAJAKAN

SEBAGAI DAMPAK PENERAPAN PHYSICAL DISTANCING DI KOTA DENPASAR

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penerapan UU Hak Cipta terhadap angka pengguna situs penyedia film bajakan sebagai dampak dari penerapan physical distancing di Kota Denpasar. Populasi penelitian ini adalah warga Kota Denpasar dengan sampel sejumlah 172 responden secara acak, yang telah mengisi quisioner online. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif sehingga data dianalisis untuk mengetahui efektifitas penerapan UU Hak Cipta di masyarakat selama penerapan physical distancing.

Hasil penelitian yang diperoleh adalah terjadi penurunan persentase angka pengguna situs penyedia film bajakan sebelum dan selama COVID-19 sebesar 21,7% Angka tersebut diperoleh dari hasil rekapitulasi data responden pengguna situs film bajak sebelum penerapan physical distancing yaitu sebesar 51,9 % atau sama dengan 89 orang dan data responden angka pengguna situs film bajakan selama penerapan physical distancing yang menjadi hanya 30,2 % atau setara dengan 52 orang. Hal ini dipengaruhi oleh sepadannya perbandingan waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk menonton film di situs legal. Setelah melihat data dan mengkajinya dengan teori efektifitas hukum dan perlindungan hukum dapat disimpulkan juga bahwa selama Phsycal Distancing diterapkan, penegakan UU Hak Cipta belum berjalan dengan baik dan harus diperbaiki dengan salah satu caranya yaitu mengganti delik aduan yang terdapat di dalamnya menjadi delik biasa.

Kata kunci : Efektivitas Hukum, Perlindungan Hak Cipta, Film Bajakan

(4)

THE EFFECTIVENESS OF ENFORCEMENT OF LAW NUMBER 28 OF 2014 CONCERNING COPYRIGHT TOWARDS

USER NUMBERS OF POLICY FILM WEBSITES AS THE IMPACT OF DISTANCED PHYSICAL APPLICATION IN

DENPASAR CITY ABSTRACT

The purpose of this study was to determine the effectiveness of the application of the Copyright Act to the number of pirated movie sites viewers as a the impact of physical distancing in Denpasar City. The population of this research is the residents of Denpasar City with a random sample of 172 respondents, who have filled in an online questionnaire. This study uses qualitative descriptive data analysis techniques so that the data is analyzed to determine the effectiveness of the application of the Copyright Law in society during the application of physical distancing. The results obtained were that there was a decrease in the percentage of users of pirated film provider sites before and during COVID-19 by 21,7%

from the previous 51.9% or the same as 89 people, now experiencing a significant decrease to only 30.2% or the same as to 52 people. This is influenced by the proportion of the time and costs spent watching movies on legal sites. After looking at the data and reviewing it with the theory of legal effectiveness and legal protection, it can also be concluded that as long as psychological distancing is implemented, enforcement of the Copyright Law has not been going well and must be corrected in one way, namely replacing the complaint offense contained in it into an ordinary offense.

Keywords: Legal Effectiveness, Copyright Protection, Illegal Movies.

(5)

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat-dan karunia- Nya sehingga peneliti dapat membuat laporan akhir kegiatan penelitian dengan judul

“Efektifitas Penegakan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan Sebagai Dampak Penerapan Physical Distancing di Kota Denpasar”.

Laporan ini dapat terselesaikan dengan baik, berkat adanya dukungan dari berbagai pihak. Peda kesempatan kali ini penyusun ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir, Nyoman Sri Subawa, S.T., S.Sos., M.M. selaku Rektor Universitas Pendidikan Nasional Denpasar.

2. Dr. Ni Nyoman Juwita Arsawati, S.H., M.Hum. selaku Dekan Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial Universitas Pendidikan Nasional Denpasar.

3. Putu Eva Ditayani Antari, S.H., M.H. selaku Kepala Program Studi Ilmu Hukum Universitas Pendidikan Nasional Denpasar.

4. Komang Satria Wibawa Putra, S.H., M.H. selaku penanggungjawab Merdeka Belajar – Kampus Merdeka Program Penelitian.

5. Kementerian Hukum dan HAM wilayah Bali selaku narasumber.

6. Serta semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulis dalam menyelesaikan laporan ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa laporan ini tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan masukan serta pengarahan dari dari pihak yang telah di sebutkan di atas. Meskipun demikian penulis tetap bertanggung jawab terhadap semua isi dalam laporan ini. Penulis berharap semoga laporan ini bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.

Denpasar, 14 Januari 2021

Kadek Januarsa Adi Sudharma, S.H., M.H

(6)

DAFTAR ISI

Isi Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

RINGKASAN ………. iii

PRAKATA ……….. iv

DAFTAR ISI ……….……….. v

DAFTAR TABEL ……….. vii

DAFTAR GAMBAR ……….. viii

DAFTAR LAMPIRAN ……….. ix

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ...………...… 1

1.2 Rumusan Masalah ……… 5

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Konsep Hak Kekayaan Intelektual ……….. 6

2.2 Film/Karya Sinematografi ……… 8

2.3 Pelanggaran Hak Cipta ………...………... 10

2.4 Prinsip Hak Kekayaan Intelektual ………...………... 13

2.5 Teori Hukum ………...………... 15

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN 3.1 Tujuan Penelitian ………...………. 19

3.2 Manfaat Penelitian ...………. 19

BAB 4. METODE PENELITIAN 4.1 Tahapan Penelitian ...………. 20

4.2 Lokasi Penelitian ...………. 21

4.3 Kerangka Penelitian ...……… 21

4.4 Rancangan Penelitian ...……… 22

4.5 Jenis dan Sumber Data ……… 23

4.6 Teknik Pengumpulan Data ………... 25

4.7 Analisa Data... 26

4.8 Penarikan Kesimpulan...…... 26

BAB 5. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 5.1 Data Responden ………...………... 27

5.2 Hasil Penelitian ... ……….. 31

5.2.1 Dampak Penerapan Physical Distancing Selama COVID-19 Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan di Kota Denpasar ... 31

5.2.2 Efektivitas UU Hak Cipta Terhadap Situs Film Bajakan Khususnya Selama COVID-19 di KotaDenpasar... 34

5.3 Luaran yang Dicapai ………... 50

(7)

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan ………..………... 51

6.2 Saran ……….………... 51

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Rencana Target Capaian……… 50

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 4.1 Kerangka Pemikiran... 25

Gambar 4.2 Rancangan Penelitian ... 26

Gambar 5.1. Diagram Usia Responden……… 27

Gambar 5.2 Diagram Tingkat Pendidikan Responden……… 27

Gambar 5.3 Diagram Domisili Responden………. 28

Gambar 5.4 Diagram Pengguna Situs Film Legal Dan Situs Penyedia Film Bajakan Sebelum Pandemi COVID-19... 28 Gambar 5.5 Diagram Pengguna Situs Film Legal dan Situs Penyedia Film Bajakan Selama Penerapan Physical Distancing... 30 Gambar 5.6 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui UU Hak Cipta………… 31

Gambar 5.7 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Sanksi dari Menonton dan Mengunduh Film Ilegal………. 32 Gambar 5.8 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Bahwa Menonton Film di Indoxxi atau Situs Sejenisnya Adalah Melanggar Aturan………. 32 5.9 Gambar Prosedur Permohonan Pencatatan Ciptaan Online……… 48

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. CV Penulis

Lampiran 2. Draft Pertanyaan Kuesioner Lampiran 3. Hasil Kuesioner

Lampiran 4. Surat Permohonan Ijin Data dan Wawancara Tertulis Lampiran 5. Draft Pertanyaan Wawancara

Lampiran 6. Hasil Wawancara Lampiran 7. Foto-Foto Kegiatan

(11)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Film merupakan media hiburan yang sekarang sedang banyak diminati oleh masyarakat luas. Menurut data dari Badan Perfilman Indonesia, terjadi peningkatan jumlah penonton bioskop secara hampir berjenjang di setiap tahunnya. Peningkatan jumlah penonton tersebut sempat melonjak pada rentang tahun 2018-2019, yang hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Jumlah penonton terakhir setelah direkapitulasi oleh Badan Perfilman Indonesia adalah sejumlah 51.901.745 penonton bioskop. Sebuah pencapaian tertinggi bagi perfilman tanah air.1

Memasuki awal tahun 2020, prestasi tersebut seakan anti klimaks karena mewabahnya COVID-19 di tengah masyarakat. Sebelum dikenal sebagai COVID-19, penyakit ini dikenal sebagai virus corona baru 2019 atau 2019- nCoV. Virus ini adalah virus baru, namun mirip dengan keluarga virus yang menyebabkan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) dan sejumlah influensa biasa.2

Virus ini sudah mewabah ke seluruh dunia termasuk Indonesia dan bahkan telah menelan korban jiwa. Mewabahnya virus ini juga menyebabkan masyarakat tidak dapat beraktivitas seperti biasa dan hanya menjalankan kegiatannya dari rumah saja. Hal tersebut karena diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (selanjutnya disebut PSBB) oleh pemerintah.

Pemberlakuan tersebut didasari oleh Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) sebagai aturan turunan dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar

1 Agus Mediarta, 2020, Perkembangan Film Indonesia 2019 : Bukan Sekadar Jumlah Penonton, diakses pada tanggal 22 Juni 2020, tersedia di: http://filmindonesia.or.id/article/perkembangan-film- indonesia-2019-bukan-sekadar-jumlah-penonton#.X3mDOGgzYdV .

2 Satuan Tugas Penanganan COVID-19, 2020, Tanya Jawab, diakses pada tanggal 05 Oktober 2020, tersedia di: https://covid19.go.id/tanya-

jawab?search=Apa%20itu%20virus%20corona%20baru%20dan%20COVID-19.

(12)

Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID- 19) yang mengatur terkait bentuk percepatan penanganan COVID-19. Dalam mendukung langkah pemerintah untuk mempercepat penanganan COVID-19 dengan tetap menjaga ketertiban masyarakat, POLRI selaku institusi yang membidangi keamanan negara telah mengeluarkan Maklumat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: Mak/2/III/2020 tentang Kepatuhan Terhadap Kebijakan Pemerintah Dalam Penanganan Penyebaran Virus Corona (COVID-19) (selanjutnya disebut Maklumat Kepolisian tentang Penanganan COVID-19). Dimana di dalamnya berisi larangan untuk tidak mengadakan kegiatan sosial kemasyarakatan yang menyebabkan berkumpulnya massa dalam jumlah banyak, baik di tempat umum maupun di lingkungan sendiri, yaitu:

1) Pertemuan sosial, budaya, keagamaan dan aliran kepercayaan dalam bentuk seminar, lokakarya, sarasehan dan kegiatan lainnya yang sejenis;

2) Kegiatan konser musik, pekan raya, festival, bazaar, Pasar malam, pameran, dan resepsi keluarga;

3) Kegiatan olahraga, kesenian, dan jasa hiburan;

4) Unjuk rasa, pawai, dan karnaval; serta

5) Kegiatan lainnya yang menjadikan berkumpulnya massa.

Hal tersebut juga berlaku di Kota Denpasar, namun dengan istilah yang berbeda. Melalui Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2020 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Denpasar, Wali Kota merespon langkah tanggap pemerintah untuk menekan angka korban positif COVID-19 di Indonesia.

Melihat kondisi yang sedang terjadi khususnya di Kota Denpasar serta mencermati isi dari Maklumat Kepolisian tentang Penanganan COVID-19 di atas, hiburan menonton bioskop diberhentikan untuk sementara waktu demi mempercepat penanganan COVID-19. Per maret 2020 bioskop-bioskop di seluruh Indonesia pun terpaksa harus ditutup sampai waktu yang belum dapat

(13)

ditentukan. Kota Denpasar sendiri memiliki 4 bioskop yang juga harus tutup demi menekan angka penyebaran COVID-19.

Penutupan bioskop sebagai salah satu tempat masyarakat dapat menonton film secara legal, praktis hanya mengandalkan Over-The-Top yang dikenal dengan OTT yang menjadi tempat untuk menonton film dengan cara yang taat sesuai hukum. Dimana masyarakat dapat menikmati film luar atau dalam negeri melalui platform online seperti Netflix, VIU, IFLIX, Google Movies, Apple TV dan lain sebagainya. Platform tersebut adalah platform yang legal karena selain sudah sesuai dengan hukum, para pekarya juga dapat menikmati hak ekonomi dari karya mereka dengan adanya persentase pembagian royalti.

Namun tidak semua masyarakat menonton film di situs online yang legal. Apabila melihat kondisi di lapangan, ada banyak sekali masyarakat yang justru menonton film di situs bajakan yang menyediakan film secara gratis.

Fenomena ini sebenarnya sudah terjadi jauh sebelum pandemi ini mewabah.

Dimana industri film di hantui oleh pembajakan film dengan hadirnya situs film bajakan seperti IndoXXI, Ganool dan lainnya. Faktor gratis adalah salah satu alasan yang membuat sebagian besar masyarakat memilih menonton film di situs bajakan tersebut. Terlebih lagi masyarakat tidak perlu terikat dengan suatu perjanjian dalam situs tersebut sehingga masyarakat merasa terbebas dari tanggung jawab apapun.

Situs bajakan tersebut tentu sangat jelas melanggar hak eksklusif serta merugikan hak ekonomi pencipta atau pemegang hak cipta. Dalam Penjelasan Pasal 4 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (selanjutnya disebut UU Hak Cipta) yang dimaksud dengan "hak eksklusif" adalah hak yang hanya diperuntukkan bagi pencipta, sehingga tidak ada pihak lain yang dapat memanfaatkan hak tersebut tanpa izin pencipta.

Pemegang hak cipta yang bukan pencipta hanya memiliki sebagian dari hak eksklusif berupa hak ekonomi.3 Sedangkan hak ekonomi merupakan hak eksklusif pencipta atau pemegang hak cipta untuk mendapatkan manfaat

3 Hutomo Shadiqqi, 2019, PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEMEGANG HAK CIPTA KARYA SINEMATOGRAFI (FILM) DALAM KASUS PENAYANGAN DAN PENGUNDUHAN GRATIS MELALUI INTERNET DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA, FAKULTAS HUKUM DAN KOMUNIKASI, Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Hlm. 3.

(14)

ekonomi atas ciptaan.4 Maka dari itu, untuk melindungi hak eksklusif dan hak ekonomi pencipta sudah seharusnya para pelanggar hak cipta mendapatkan sanksi yang tegas.

Sebagaimana diketahui bersama, dalam proses mewujudkan ide cerita film menjadi bentuk nyata, seorang produser harus mengeluarkan modal untuk menunjang pembuatan suatu film. Modal yang dimaksud terdiri atas sumber daya alam, sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta dana.

Oleh karena itu, sudah seharusnya negara memberikan perlindungan hukum sebagai bentuk apresiasi pembuatan suatu ciptaan.5 UU Hak Cipta telah mengatur pemberian sanksi hukum pidana bagi barang siapa yang melakukan pelanggaran hak cipta yaitu dengan dijatuhi hukuman pidana penjara maksimal 10 (sepuluh tahun) dan denda maksimal sebesar Rp. 4.000.000.000,00- (empat milyar rupiah).6

Namun, sayangnya peraturan tersebut masih belum dapat diterapkan dengan baik untuk memberantas pelanggaran hak cipta yang dalam hal ini adalah pembajakan secara digital. Terlebih dengan situasi pandemi seperti ini, dimana bioskop ditutup dan semua melakukan physical distancing. Terdapat kemungkinan besar bahwa angka pengguna situs film bajakan tersebut mengalami peningkatan.

Maka dari itu, fenomena ini menarik untuk dikaji agar mengetahui dampak yang ditimbulkan dari penerapan physical distancing ini terhadap angka pengguna situs film bajakan serta melihat peran UU Hak Cipta dalam melindungi pekarya sinematografi selama pandemi ini berlangsung di Kota Denpasar.

4 Ningsih Ayup Suran, Maharani Balqis Hediyati, 2019, PENEGAKAN HUKUM HAK CIPTA TERHADAP PEMBAJAKAN FILM SECARA DARING, Jurnal Meta-Yuridis Vol. 2, No. 1, Hlm.14.

5 Noor Nur Khaliq Khussamad, dkk, 2019, PERLINDUNGAN HUKUM HAK CIPTA ATAS FILM LAYAR LEBAR YANG DIPUBLIKASI MELALUI SOSIAL MEDIA TANPA IZIN, Riau Law Journal, Vol. 3, No.1, Hlm. 127.

6 Andre Daniel, Hendro Saptono Stefano, Mahmudah Siti, 2016, PERLINDUNGAN HUKUM PEMEGANG HAK CIPTA FILM TERHADAP PELANGGARAN HAK CIPTA YANNG DILAKUKAN SITUS PENYEDIA LAYANAN FILM STREAMING GRATIS DI INTERNET (MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2014 TENTANG HAK CIPTA), Diponogoro Law Journal, Vol. 5, No. 3, Hlm. 3.

(15)

1.2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana dampak penerapan physical distancing selama COVID-19 terhadap angka pengguna situs film bajakan di Kota Denpasar?

2. Bagaimana efektivitas penegakan UU Hak Cipta terhadap perlindungan film yang terdapat pada situs film bajakan selama COVID-19 di Kota Denpasar?

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian dan Konsep Hak Kekayaan Intelektual

Istilah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) adalah terjemahan dari Intelecctual Property Right yang telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1994 tentang Pengesahan Agreement Establishing The World Trade Organization. Pengertian Intelectual Property Right sendiri adalah hak atas kekayaan yang timbul dari kemampuan intelektual manusia.

Dimana hak tersebut erat kaitannya dengan hak pribadi seseorang dan hak asasi manusia. Hal tersebut sudah tertuang dan terlindungi dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (Universal Declaration of Human Rights / UDHR), seperti dalam Pasal 27 Ayat (2) menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan perlindungan kepentingan moral dan material dari hasil penelitian, hasil kesusateraan, ataupun hasil produksi seni yang dihasilkannya.7

Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan perubahan dari istilah Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI). Hal tersebut berdasarkan pada Surat Keputusan Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Republik Indonesia Nomor M.03.PR.07.10 Tahun 2000 dan Persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dalam Surat Nomor 24/M/PAN/1/2000.8

HKI adalah hak ekslusif yang diberikan oleh suatu hukum atau suatu peraturan kepada kelompok atau perseorangan atas ciptaannya. Hak ini pada dasarnya adalah untuk memberikan hak menikmati secara ekonomis atas karya intelektualnya tersebut. Selain dapat melindungi serta memberi kepastian hukum agar pekarya dapat menerima haknya, diciptakannya hak kekayaan intelektual juga bertujuan untuk menghindari seseorang melanggar hak milik orang lain.

HKI sendiri terbagi menjadi beberapa sub bahasan, pengelompokan Hak Kekayaan Intelektual yang didasarkan pada Convention Estabilishing The

7 Nugroh Haro Budi, 2006, JURNAL HUKUM INTERNASIONAL DEKLARASI UNIVERSAL HAK ASASI MANUSIA, Vol.4, No. 1, Hlm. 9.

8 Abdul Atsar, 2018, Mengenal Lebih Dekat Hukum Kekayaan Intelektual, CV Budi Utama, Yogyakarta, Hlm 2.

(17)

World Intellectual Property Organization (WIPO) dan hak cipta termasuk di dalamnya.

A. Hak Cipta (Copy Right)

Menurut Pasal 1 Angka 1 UU Hak Cipta menjelaskan hak cipta adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurangi pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang undangan.

Dari bunyi pasal tersebut dapat dicermati bahwa elemen terpenting dari hak cipta adalah prinsip deklaratif dimana pencipta harus mengumumankan atau mendeklarasikan terlebih dahulu ciptannya untuk kemudian dapat memiliki hak cipta atas ciptaannya tersebut.

Selain dalam UU Hak Cipta, salah satu organisasi di bawah PBB yaitu WIPO juga memberikan pengertian terkait hak cipta. Menurut WIPO, hak cipta adalah terminology hukum yang menggambarkan hak-hak yang diberikan kepada pencipta untuk karya-karya mereka dalam bidang seni dan sastra.9

Dalam menghindari kesalahan tafsir oleh masyarakat dalam UU Hak Cipta telah mengatur terkait jenis-jenis ciptaan pada Bab IX Pasal 59 Ayat (1) sebagai berikut:

“(1) Pelindungan Hak Cipta atas Ciptaan adalah : a. karya fotografi; b. Potret; c. karya sinematografi; d. permainan video; e.

program komputer; f. perwajahan karya tulis; g. terjemahan, tafsir, saduran, bunga rampai, basis data, adaptasi, aransemen, modifikasi dan karya lain dari hasil transformasi; h. terjemahan, adaptasi, aransemen, transformasi atau modifikasi ekspresi budaya tradisional; i. kompilasi ciptaan atau data, baik dalam format yang dapat dibaca dengan program komputer atau media lainnya; dan j. kompilasi ekspresi budaya tradisional selama kompilasi tersebut merupakan karya yang asli, berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan pengumuman. “

9 Aziz Muhammad, 2017, KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG HAK CIPTA DAN PENGATURAN HAK CIPTA DI INDONESIA, Al-Qisth Law Review, Vol. 1, No.1, Hlm. 14.

(18)

Berdasarkan bunyi pasal tersebut maka jenis ciptaan yang disebutkan diatas termasuk karya sinematografi mendapatkan perlindungan hak cipta atas ciptaannya berlaku selama 50 (lima puluh) tahun sejak pertama kali dilakukan pengumuman.

B. Hak Kekayaan Industrian (Industrial Property Rights).

Hak kekayaan industri terdiri dari:

1. Paten (Patent), yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2016 Tentang Paten,

2. Merek (Trademarks), yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, 3. Desain Industri (Industry Design), yang diatur dalam Undang-Undang

Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, 4. Penanggulangan Praktik Persaingan Curang (Repression of Unfair

Competition), yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat,

5. Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu (Layout Design of Integrated Circuit), yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan

6. Rahasia Dagang (Trade Secret), yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.10

2.2 Film / Karya Sinematografi

A. Pengertian Film/Karya Sinematografi

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman (selanjutnya disebut UU Perfilman) memiliki pertimbangan:

1. Bahwa film sebagai karya seni budaya memiliki peran strategis dalam peningkatan ketahanan budaya bangsa dan kesejahteraan masyarakat

10 C.S.T. Kansil, 1997, Hak Milik Intelektual (Hak Milik Perindustrian dan Hak Cipta), PT. Sinar Grafika, Jakarta, Hlm. 98.

(19)

lahir batin untuk memperkuat ketahanan nasional dan karena itu negara bertanggung jawab memajukan perfilman;

2. Bahwa film sebagai media komunikasi massa merupakan sarana pencerdasan kehidupan bangsa, pengembangan potensi diri, pembinaan akhlak mulia, pemajuan kesejahteraan masyarakat, serta wahana promosi indonesia di dunia internasional, sehingga film dan perfilman indonesia perlu dikembangkan dan dilindungi;

3. Bahwa film dalam era globalisasi dapat menjadi alat penetrasi kebudayaan sehingga perlu dijaga dari pengaruh negatif yang tidak sesuai dengan ideologi pancasila dan jati diri bangsa indonesia;

Kemudian lebih spesifik dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 40 Ayat (1) UU Hak Cipta, yang dimaksud dengan "karya sinematografi" adalah:

“Ciptaan yang berupa gambar bergerak (moving images) antara lain film dokumenter, film iklan, reportase atau film cerita yang dibuat dengan skenario, dan film kartun. Karya sinematografi dapat dibuat dalam pita seluloid, pita video, piringan video, cakram optik dan/atau media lain yang memungkinkan untuk dipertunjukkan di bioskop, layar lebar, televisi, atau media lainnya. Sinematografi merupakan salah satu contoh bentuk audiovisual. “

B. Situs Film Online

Situs film online dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu situs film online legal dan bajakan diantaraya:

1. Situs Film Legal

Situs film legal merupakan situs penyedia film yang secara hukum sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Artinya situs film legal melakukan aktivitasnya tanpa melanggar ketentuan- ketentuan terkait hak cipta, hak ekonomi, dan hak moral pencipta.

Sehingga dalam hal ini para pencipta film tidak akan merasa dirugikan.

Sebaliknya para pencipta akan merasa diuntungkan dengan adanya situs ini yang dapat memudahkan para penonton untuk menonton film yang

(20)

mungkin belum sempat dinikmati di bioskop-bioskop. Situs ini biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Kualitas film yang disediakan dengan kualitas tinggi (HD) b. Umumnya harus berlangganan atau membayar

c. Tidak terdapat iklan 2. Situs Film Bajakan

Situs film bajakan merupakan situs penyedia film yang secara hukum tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Berbeda halnya dengan situs film legal, situs film bajakan tentu bertentangan dengan ketentuan-ketentuan hak cipta, hak ekonomi, dan hak moral pencipta. Hal ini akan membuat para pencipta merasa dirugikan dan tidak dihargai. Situs ini biasanya menjadi incaran pihak terkait untuk melakukan pemblokiran. Namun, meski sudah banyak pemblokiran situs film bajakan, tidak sedikit juga munculnya situs film bajakan baru lainnya. Pemblokiran situs film bajakan ini seakan tak berujung.

Sehingga sampai saat ini masih banyak terdapat pelanggaran terkait hak cipta film. Situs film bajakan biasanya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Dapat diakses dengan mudah

b. Kualitas film yang disediakan tidak dengan kualitas tinggi (HD) c. Gratis atau tanpa berlangganan sebelumnya 11

d. Terdapat banyak iklan

2.3 Pelanggaran Hak Cipta

A. Pengertian Pelanggaran Hak Cipta

Pengertian pelanggaran hak cipta tidak secara ekspilit dijelaskan dalam UU Hak Cipta, namun setelah memahami bunyi Pasal 1 UU Hak Cipta maka pelanggaran hak cipta adalah sebuah tindakan dimana baik seseorang ataupun suatu kelompok yang bukan pencipta atau pemegang

11 Kumparan, 2020, Seperti Ganool, Ini Lho 5 Ciri Situs Ilegal yang Bisa Ditemukan, diakses pada tanggal 31 Oktober 2020, tersedia di: https://m.kumparan.com/amp/berita-update/seperti-ganool-ini-lho- 5-ciri-situs-bajakan-yang-bisa-ditemukan-1u85HLyUDYG.

(21)

hak cipta mengumumkan atau memperbanyak termasuk didalamnya, menerjemahkan, mengaransemen, memamerkan, menyewakan, mengadaptasi meminjamkan, mempertunjukkan mengimpor, mengalihwujudkan, menjual pada publik, mengkomunikasikan, merekam dan menyiarkan, ciptaan pada publik melalui sarana apapun secara sepihak tanpa mendapat ijin dari pencipta atau pemegang hak cipta.

Pengertian di atas menjelaskan bahwa selain pencipta atau pemegang hak cipta dilarang untuk mengumumkan atau memperbanyak suatu hasil ciptaan.

B. Macam – Macam Pelanggaran Hak Cipta 1. Pembajakan (Piracy)

Piracy atau pembajakan merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai macam aktivitas, seperti pemalsuan yang berkaitan dengan internet. Internet piracy merupakan satu hal yang berbahaya dan biasanya bersifat bajakan dan bahkan cenderung tergolong aksi kriminal ini juga mencakup penyalinan atau penyebaran secara tidak sah atas perangkat lunak yang dilindungi Undang-Undang. Hal ini sejalan dengan definisi pelanggaran hak cipta yaitu penggunaan karya cipta yang melanggar hak eksklusif pemegang hak cipta, seperti hak untuk mereproduksi, mendistribusikan, menampilkan, atau memamerkan karya berhak cipta, atau membuat karya turunan, tanpa izin dari pemegang hak cipta, yang biasanya penerbit atau usaha lain yang mewakili atau ditugaskan oleh pencipta karya tersebut.12

2. Pengunduhan Bajakan (Illegal Downloading)

Pengunduhan bajakan lebih jelasnya adalah suatu perbuatan menyalin konten digital tanpa izin dari pemegang hak cipta. 13 Sehingga dapat mengakibatkan kerugian hak ekonomi bagi pencipta dan pemegang hak ciptanya. Hal ni dikarenakan royalti yang

12 Ningsih Ayup Suran, Maharani Balqis Hediyati, Op-Ci, Hlm.17.

13 Kaunang Valentine Felisya, 2013, PENGUNDUHAN BAJAKAN MUSIK DIGITAL (MP3) MELALUI JASA LAYANAN INTERNET SEBAGAI DARI HAK CIPTA, Lex Privatum, Vol.I, No.2, Hlm. 60.

(22)

seharusnya menjadi milik pencipta atau pemegang hak cipta tidak dapat diterima sebagaimana mestinya karena pelanggaran ini.

Sayangnya, walaupun tindakan ini termasuk tindakan kriminal, masih banyak sekali masyarakat yang melakukan hal ini dengan tanpa rasa bersalah. Hal ini yang harusnya segera ditindak lanjuti agar kedepannya pelanggaran hak cipta tidak semakin marak terjadi.

3. Illegal Movie Streaming

Illegal Movie Streaming merupakan kegiatan menonton film secara langsung (streaming) tanpa mengunduh (download) terlebih dahulu yang dilakukan oleh pengguna situs film bajakan. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelanggaran hak cipta online. Situs bajakan tersebut dengan sengaja menyediakan/memfasilitasi film yang dilindungi hak ciptanya yang diperoleh secara tidak sah kepada pengguna. 14

C. Sanksi Pelanggaran Hak Cipta

Pemerintah Indonesia telah memiliki aturan untuk menindak setiap bentuk pelanggaran hak cipta dengan sanksi yang tegas guna memberi efek jera bagi para pelanggar hak cipta maupun masyarakat.

Seperti bunyi Pasal 9 UU Hak Cipta dimana :

“(1) Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).

(2) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp.

500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(3) Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak

14 Ellysinta Vivia, dkk, 2020, PENGARUH ILLEGAL MOVIE STREAMING TERHADAP POPULARITAS FILM BAGI MAHASISWA, Universitas Internasional Batam, Jurnal Teknologi Informasi, Vol. 6, No. 1, Hlm. 36.

(23)

ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Ayat (1) huruf a, huruf b, huruf e, dan/atau huruf g untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(4) Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud pada Ayat (3) yang dilakukan dalam bentuk pembajakan, dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp4.000.000.000,00 (empat miliar rupiah).”15

2.4 Prinsip Hak Kekayaan Intelektual

Untuk lebih memahami makna dari HKI ada baiknya terlebih dahulu mengerti prinsip prinsip yang terkadung dalam HKI itu sendiri. Adapun dasar perlindungan Hak Kekayaan Intelektual yang didalamnya memiliki dua prinsip deklaratif dan prinsip konstitutif:

1. Prinsip Deklaratif (First to Use) atau sistem deklaratif adalah sistem pendaftaran yang hanya menimbulkan dugaan adanya hak sebagai pemakai pertama pada merek bersangkutan. Sistem deklaratif dianggap kurang menjamin kepastian hukum dibandingkan dengan sistem konstitutif berdasarkan pendaftaran pertama yang lebih memberikan perlindungan hukum. Dalam sistem deklaratif titik berat diletakkan atas pemakai pertama. Siapa pemakai pertama suatu merek adalah yang dianggap berhak manurut hukum atas merek bersangkutan.

2. Prinsip Konstitutif (First to File) atau disebut juga first to file principle artinya, merek yang di daftar adalah yang memenuhi syarat dan sebagai yang pertama. Tidak semua merek dapat di daftarkan. Merek tidak didaftar atas dasar permohonan yang diajukan oleh pemohon yang 12 beritikad tidak baik. Pemohon beretikad tidak baik adalah pemohon yang mendaftarkan mereknya secara tidak jujur dan tidak layak, ada niat tersembunyi misalnya membonceng, meniru, atau menjiplak ketenaran yang meninmbulkan persaingan tidak sehat dan mengecoh atau

15 Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 2016, Ketentuan Hukum Pidana Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 Tentang Hak Cipta, diakses pada tanggal 27 September 2020, tersedia di:

https://kbbi.kemdikbud.go.id/Beranda/Hukum.

(24)

menyesatkan konsumen. Yang dapat mendaftarkan merek adalah orang atau badan hukum. Dalam sistem konstitutif, hak akan timbul apabila telah didaftarkan oleh si pemegang. Karena itu, dalam sistem ini pendaftaran merupakan suatu keharusan.16

Selain itu terdapat prinsip – prinsip dasar lainnya dalam Hak Kekayaan Intelektual antara lain sebagai berikut :

1. Prinsip Perlindungan Hukum Karya Intelektual

Hukum hanya memberi perlindungan kepada pencipta, pendesain, dan inventor yang dengan daya intelektualnnya menghasilkan suatu ciptaan, desain atau invensi orisinil yang sebelumnya belum ada.

Orisinilitas menjadi persyaratan terpenting dari HKI. Hukum memberi perlindungan kepada pencipta, pendesain atau inventor tidak dimaksud untuk selama-lamanya, tetapi berlangsung dalam jangka waktu tertentu yang dianggap wajar. Jangka waktu perlindungan hukum dimaksudkan agar pencipta, pendesain atau inventor memperoleh kompensasi yang layak secara sosial ekonomi.

2. Prinsip Keseimbangan Hak Dan Kewajiban

Hukum mengatur berbagai kepentingan yang berkaitan dengan HKI secara adil dan proporsional, sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan kepentingannya. Pihak yang berkepentingan dalam hal ini adalah pemerintah, pencipta, inventor, atau pemegang atau penerima HKI dan masyarakat. HKI yang berbasis pada individualisme harus diimbangi dengan keberpihakan pada kepentingan umum.

3. Prinsip Keadilan

Pengaturan hukum HKI harus mampu melindungi kepentingan pencipta atau inventor. Di sisi lain jangan sampai kepentingan pencipta atau inventor mengakibatkan timbulnya kerugian bagi masyarakat luas.

Pencipta sebuah karya, atau orang lain yang bekerja membuahkan hasil dari kemampuan intelektualnya wajar memperoleh imbalan. Imbalan tersebut dapat berupa materi maupun bukan materi seperti adanya rasa aman karena dilindungi, dan diakui atas hasil karyanya. HKI juga tidak

16 Muhamad Djumhana dan Djubaedillah, 2014, Hak Milik Intelektual, Sejarah, Teori, dan Praktiknya di Indonesia, PT Citra Aditya Bakti, Bandung, Hlm. 256.

(25)

boleh digunakan untuk menekan suatu negara agar mengikuti keinginan negara lain, apalagi dimaksudkan untuk membatasi terjadinya alih teknologi dari negara maju kepada negara berkembang.

4. Prinsip Perlindungan Ekonomi dan Moral

Lahirnya karya intelektual membutuhkan waktu, kreativitas intelektual, fasilitas, biaya yang tidak sedikit dan dedikasi. Oleh karena itu pencipta atau inventor harus dijamin oleh hukum untuk memperoleh manfaat ekonomi dari karyanya. Selain itu, pencipta atau inventor juga dilindungi hak moralnya, yaitu berhak untuk diakui keberadaannya sebagai pencipta atau inventor dari suatu karya intelektual.17

2.5 Teori Hukum

A. Efektivitas Penerapan UU Hak Cipta

Maraknya kemunculan situs film bajakan merupakan bentuk kemutakhiran yang disalah gunakan. Kenyataan bahwa sekarang modernisasi dijadikan cara baru untuk melakukan pembajakan sungguh menyulitkan para pekarya film dan pemegang hak cipta film untuk memastikan terlindunginya hak hak yang seharusnya mereka dapatkan atas karya miliknya. Para pekarya tentu akan sangat berharap UU Hak Cipta yang telah berjalan menjadi benteng untuk melindungi hak hak mereka, namun sayang teori terkadang tidak sesuai dengan kenyataannya di lapangan. Berkaca pada teori efektivitas hukum dari Soerjono Soekanto, beliau berpendapat bahwa efektif atau tidaknya suatu hukum ditentukan oleh 5 (lima) faktor, yaitu :

1. Faktor hukumnya sendiri (undang-undang).

2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum.

3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum.

4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan.

17 Riswandi Budi Agus, Syamsudin M, 2004, Hak Kekayaan Intelektual dan Budaya Hukum, PT.

Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hlm. 32.

(26)

5. Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.18

Kelima faktor tersebut adalah kacamata untuk mengkaji efektivitas penerapan UU Hak Cipta dari perspektif pemerintah selaku pembuat regulasi. Yang mana efektivitas penerapan UU Hak Cipta dipengaruhi oleh banyak variabel yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya demi menjamin perlindungan hukum para pemegang hak cipta tersebut.

B. Teori Perlindungan Hukum

Namun apabila dikaji dari sisi perlindungan hukum, teori perlindungan hukum dari Philipus M. Hadjon tepat mewakili kaca mata pekarya selaku pemegang hak cipta atas karyanya. Beliau berpendapat bahwa perlindungan hukum adalah perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subyek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kesewenangan19

Apabila dikaitkan dengan maraknya bermunculan situs film bajakan, modernisasi bukan alasan untuk melakukan pembiaran terhadap rumitnya penegakan UU Hak Cipta dewasa ini. Sehingga, demi terlindungi hak cipta miliknya, dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan juga pekarya untuk dapat menjaga agar perlindungan hukum baik perlindungan hukum preventif dan represif berjalan lebih baik agar hak hak pekarya dapat terpenuhi dan terlindungi dengan baik. Teori perlindungan hukum dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Perlindungan Hukum Preventif

Sarana perlindungan hukum preventif adalah Perlindungan hukum diberikan oleh pemerintahan dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan

18 Soerjono Soekanto, 2007, Pokok-pokok Sosiologi Hukum, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hlm.

110.

19 Setiono, 2004, Rule of Law (Supremasi Hukum), Magister Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Hlm. 3.

(27)

perundang – undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu – rambu atau batasan – batasan dalam melakukan suatu kewajiban.20 Dalam hal perlindungan hukum terhadap hak cipta, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementrian Hukum dan HAM telah melakukan perlindungan hukum secara preventif yaitu dengan cara memfasilitasi untuk siapa pun untuk mencatatkan hak ciptanya sehingga dapat melindungi pencipta atau pemegang hak cipta dari segala jenis pelanggaran hak cipta di kemudian harinya.

2. Perlindungan Hukum Represif

Sedangkan perlindungan hukum secara refpresf di Indonesia ditangani oleh badan-badan : Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Umum, Instansi Pemerintah yang merupakan lembaga banding administrasi dan badan-badan khusus. Sarana perlindungan hukum represif yang dilakukan oleh pengadilan dalam bentuk penjatuhan pidana kepada pelaku. Salah satu tujuan penjatuhan pidana menurut Andi Hamzah dan Sumangelipu adalah perlindungan terhadap umum (protection of the public) termasuk di dalamnya perlindungan hukum terhadap korban. 21

C. Teori Kesadaran Hukum

Selain itu, kesadaran masyarakat untuk tidak menggunakan jasa situs film bajakan merupakan kunci yang sangat penting demi terciptanya budaya menghormati hak cipta orang lain. Penegakan hukum (law enforcement) dibangun melalui kesadaran hukum (law awareness) masyarakat. Mengenai kesadaran hukum ini, Ewick dan Silbey membagi kesadaran hukum menjadi tiga bentuk yakni:

a. Consciousness as attitude (kesadaran sebagai sikap),

b. Consciousness as epiphenomenon (kesadaran sebagai epiphenomenon) dan

20 Ray Pratama Siadari, 2015, Teori Perlindungan Hukum, diakses pada tanggal 16 November 2020, tersedia di: http://raypratama.blogspot.co.id/2015/04/teori-perlindungan-hukum.html.

21 Ibid.

(28)

c. Consciousness as cultural practice (kesadaran sebagai praktik kultural).

Konsep dari kesadaran sebagai sikap menunjukkan bahwa kelompok kelompok sosial dari semua ukuran dan tipe (keluarga- keluarga, kelompok-kelompok sebaya, kelompok-kelompok kerja, perusahaan-perusahaan, komunitas-komunitas, institusi-institusi hukum dan masyarakat-masyarakat), muncul dari tindakan-tindakan bersama individu-individu. 22

22 Ali Achmad, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicial Prudence) Termasuk Interprestasi Undang-Undang, Legisprudence Kencana, Hlm. 510.

(29)

BAB III

TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan di atas, adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi dampak penerapan physical distancing selama pandemi COVID-19 terhadap angka pengguna situs film bajakan di Kota Denpasar.

2. Untuk mengetahui dan mengidentifikasi efektivitas UU Hak Cipta terhadap situs film bajakan selama pandemi COVID1-9 di Kota Denpasar.

3.2 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman serta menambah wawasan dan ilmu pengetahuan di bidang hukum terkait hak atas kekayaan intelektual khususnya hak cipta.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini diharapkan dapat berguna dan memberikan informasi kepada Pemerintah tentang bagaimana dampak physical distancing terhadap angka pengguna situs penyedia film bajakan dan efektivitas UU Hak Cipta selama pandemi COVID1-9 di Kota Denpasar.

(30)

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Tahapan Penelitian

Adapun tahapan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi Masalah

Adapun pengertian dari kata mengidentifikasi dan masalah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Mengidentifikasi berarti suatu kegiatan untuk menentukan atau menetapkan identitas. Sedangkan masalah berarti sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Mengidentifikasi masalah merupakan suatu kegiatan untuk menemukan atau menentukan sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan. Setelah peneliti mengidentifikasi masalah, dilanjutkan dengan menyusun rumusan masalah yang akan diteliti.

2. Studi Literatur

Pada tahapan ini peneliti melakukan kajian pustaka seperti mengkaji peraturan perundang-undangan, buku-buku, jurnal-jurnal, serta pustaka lainnya yang terkait dengan permasalahan yang akan dikaji.

3. Membuat Kerangka Penelitian (Model)

Pada tahapan ini peneliti membuat kerangka pemikiran yang merupakan analisis deduktif tentang hubungan logis (teoretik) antar variabel. 23 Kerangka pemikiran tersebut akan mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian.

4. Menyusun Rancangan Penelitian

Pada tahapan ini peneliti menyusun rancangan penelitian yang akan dijadikan dasar dalam melakukan proses penelitian.

23 Imam Gunawan, 2016, Metode Penelitian Kualitatif, The Learning University, Hlm. 14.

(31)

5. Menyusun Strategi Teknik Pengumpulan Data

Pada tahapan ini peneliti menyusun strategi dalam pengumpulan data.

Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan yaitu melalui studi pustaka, wawancara, dan kuesioner.

6. Menulis Laporan Penelitian

Pada tahapan ini peneliti membuat laporan hasil penelitian secara tertulis sesuai dengan data yang didapatkan dan dianalis.

4.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di Kota Denpasar yang merupakan Ibukota Provinsi Bali. Peneliti memilih Kota Denpasar sebagai sampel dalam penelitian ini karena Kota Denpasar merupakan kota terbesar di Kepulauan Nusa Tenggara. Kota ini juga merupakan kota yang paling berkembang di Provinsi Bali. Hal tersebut kemudian menjadikan kota ini sebagai salah satu kota metropolitan di Indonesia.

Alasan lainnya yaitu karena jumlah angka positif COVID-19 di Kota Denpasar merupakan yang tertinggi di Provinsi Bali yaitu total positif sebanyak 4205 orang, sembuh 3913 orang, dirawat 197 orang, dan meninggal 95 orang pertanggal 14 Desember 2020.24 Berdasarkan data tersebut, Kota Denpasar mengeluarkan regulasi dalam upaya meminimalisir penyebaran COVID-19, salah satunya yaitu terkait physical distancing. Salah satu dampak dari adanya physical distancing ini yaitu terkait jumlah pengguna situs film bajakan dan efektvitas penegakan UU Hak Cipta terhadap pengguna situs film bajakan di tengah pandemi COVID-19.

24 Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik Kota Denpasar, 2020, Perkembangan Covid-19, diakses pada tanggal 14 Desember 2020, tersedia di: https://covid19.denpasarkota.go.id.

(32)

Efektivitas Penegakan UU Hak Cipta Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan Sebagai Dampak Penerapan Physical Distancing di Kota Denpasar

Observasi Melalui Kuisioner Secara Daring

Studi Dokumen Studi Lapangan Wawancara

1. Bagaimakah dampak penerapan physical distancing selama COVID19 terhadap angka pengguna situs penyedia film bajakan di Denpasar?

2. Bagaimakah efektivitas UU Hak Cipta terhadap perlindungan film yang terdapat pada situs film bajakan khususnya selama COVID19 ini di Denpasar?

Metode Penelitian Landasan Teori Kesimpulan

4.3 Kerangka Penelitian (Model)

Adapun kerangka penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah:

Gambar 4.1

Kerangka Pemikiran Bagaimakah efektivitas UU Hak Cipta terhadap perlindungan film yang terdapat pada situs film bajakan khususnya selama COVID19 ini di Kota Denpasar

4.4 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian ini dimulai dari menyusun latar belakang yang didasari atas permasalahan yang akan teliti, kemudian dilanjutkan dengan

(33)

penyusunan rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian.

Kemudian dilanjutkan dengan membuat kerangka pemikiran, menentukan lokasi penelitian, membuat rancangan penelitian, menentukan teknik pengumpulan data, dan teknik analisa data. Berdasarkan data-data yang diperoleh, mulailah disusun hasil penelitian dan pembahasan. Hasil penelitian dan pembahasan tersebut akan menjawab rumusan masalah penelitian yang dikaji sehingga dapat menghasilkan suatu kesimpulan dan saran. Rancangan penelitian dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 4.2 Rancangan Penelitian

4.5 Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris. Penelitian hukum empiris merupakan penelitian yang mengkaji antara harapan (Das Sollen/Law in Books) dengan kenyataan di lapangan (Das Sein/Law in Action). Berdasarkan sifatnya, penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Deskriptif yaitu membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual, dan akurat

Melihat permasalahan yang terjadi di masyarakat, dan menyusun latar belakang

Luaran Penelitian Tujuan Penelitian

Rumusan Masalah

Tinjauan Pustaka

Teknik Pengumpulan Data Rancangan

Penelitian Lokasi

Penelitian Kerangka

Penelitian

Simpulan dan Saran

Pembahasan Hasil

Penelitian

Teknik Analisa Data

(34)

mengenai data, sifat, serta hubungannya dengan permasalahan yang dikaji.25 Sedangkan Kualitatif yaitu mengumpulkan, menganalisa, dan menampilkan data dalam bentuk paragraf dan narasi.

Berdasarkan sumbernya, data dibagi menjadi 2 yaitu:

1. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari obyek yang diteliti.

Dalam hal ini, data tersebut diperoleh melalui penyebaran kuisioner secara daring serta melakukan wawancara dengan pihak terkait yaitu Kementrian Hukum dan HAM Bagian HKI Provinsi Bali serta professional dibidang Intelectual Right for Film. Data tersebut kemudian akan diolah dan dianalisa oleh peneliti.

2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang digunakan sebagai data pendukung yang diperoleh dari bahan hukum yang meliputi bahan hukum utama (primer), bahan hukum pelengkap (sekunder), maupun bahan informasi hukum (tersier).

a. Bahan hukum primer yaitu peraturan perundang-undangan. Diantaranya yaitu : Undang Undang No.28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, Undang Undang No.33 Tahun 2009 tentang Perfilman, Peraturan Pemerintah No 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), Maklumat Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor: Mak/ 2 /III/2020, Peraturan Menteri Kesehatan No. 9 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar Dalam Rangka Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19), dan Peraturan Wali Kota Nomor 32 Tahun 2020 tentang Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM) di Kota Denpasar.

b. Bahan hukum sekunder yaitu buku-buku, dan jurnal-jurnal hukum tentang HKI, Perfilman, Metode Penelitian, dan sebagainya.

3. Data Tersier

25 Ajat Rukajat, 2018, Pendekatan Penelitian Kualitatif, CV Budi Utama, Yogyakarta, Hlm.1.

(35)

Data tersier adalah data yang menunjang data primer dan data sekunder dimana pada penelitian ini data tersier diperoleh dari internet melalui situs terkait yang memuat informasi yang dibutuhkan sesuai dengan pokok pembahasan.

4.6 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:

1. Studi Pustaka

Studi pustaka adalah teknik pengumpulan data dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, buku, jurnal, serta dokumen pendukung lainnya terkait permasalahan yang diteliti. Dalam penelitian ini yaitu perarturan perundangan undangan terkait hak cipta dan peraturan lainnya yang keluarkan selama pandemi COVID-19, buku dan jurnal tentang hak cipta, serta dokumen pendukung lainnya.

2. Wawancara

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, wawancara merupakan tanya jawab dengan seseorang yang diperlukan untuk dimintai keterangan atau pendapatnya mengenai suatu hal. Dalam penelitian ini yaitu wawancara dengan informan dari Kementerian Hukum dan HAM Bagian HKI Provinsi Bali, serta professional dibidang Intelectual Right for Film.

3. Kuesioner

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuesioner adalah alat riset atau survei yang terdiri atas serangkaian pertanyaan tertulis yang bertujuan mendapatkan tanggapan dari kelompok orang terpilih. Dalam penelitian ini yaitu kelompok orang yang akan mengisi kuesioner adalah kelompok umur generasi milenial dengan rentang kelahiran tahun 1982 – 2004 atau sekitar umur 20 – 33 tahun.

(36)

4.7 Analisa Data

Analisa data yang digunakan peneliti adalah analisis secara deskriptif kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil penelitian akan dikelompokan lalu akan didiskripsikan secara naratif untuk kemudian dikaitkan dengan asas, teori hukum serta UU Hak Cipta untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat dan dapat dipertanggung jawabkan.

Analisa dimulai dari data pengguna situs penyedia film bajakan di Denpasar sebelum dan selama pandemi COVID-19. Data tersebut akan dikelompokkan ke dalam beberapa bagian (situs legal dan non-legal) sesuai dengan nama situs atau penyedia layanan. Berdasarkan data tersebut kemudian akan dikaitkan dengan efektivitas UU Hak Cipta terhadap situs penyedia film bajakan selama pandemi COVID-19 di Kota Denpasar.

4.8 Penarikan Kesimpulan Penelitian

Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data yang dianalisis dalam pembahasan yang telah dikaitkan dengan teori-teori terkait. Berdasarkan hal tersebut maka dalam pembahasan akan terlihat jawaban dari rumusan permasalahan yang dikaji sehingga menghasilkan suatu kesimpulan.

(37)

BAB V

HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1 Data Responden

Setelah memperoleh data melalui google form, selanjutnya data tersebut dianalisis secara seksama dengan melakukan komparasi data antara kebiasaan menonton film sebelum dan selama physical distancing yang dilakukan saat pandemi COVID- 19 berlangsung ini. Adapun jumlah responden yang telah mengisi data melalui google form yaitu sejumlah 172 responden. Berikut adalah diagram umur, tingkat pendidikan, dan tempat tinggal dari 172 responden.

Gambar 5.1 Diagram Usia Responden.

Berdasarkan diagram diatas, maka dapat dilihat bahwa 59,9% atau 103 responden berusia 21-25 tahun, 37,2% atau 64 responden berusia 15-20 tahun, 1,2% atau 2 responden berusia dibawah 15 tahun, 1,2% atau 2 responden berusia 26-30 tahun, dan 0,6 % atau 1 responden berusia diatas 30 tahun.

Gambar 5.2 Diagram Tingkat Pendidikan Responden.

(38)

Kemudian jika dilihat dari tingkat pendidikannya terdapat 74,4% atau 128 responden pada tingkat Diploma/Sarjana, disusul tingkat SMA/SMK sebesar 25%

atau 43 responden, dan 0,6% atau 1 responden pada tingkat SD dan SMP.

Gambar 5.3 Diagram Domisili Responden.

Dilihat dari tempat tinggalnya, 57,6% atau 99 responden bertempat tinggal di Denpasar dan 42,4% atau 73 responden berasal dari luar Denpasar. Hal tersebut menunjukan bahwa 61,7% atau 106 responden dalam penelitian ini merupakan generasi milenial yaitu dengan rentang kelahiran tahun 1982 – 2004 atau sekitar umur 20 – 33 tahun, dengan tingkat pendidikan 74,4% atau 128 responden pada tingkat Diploma/Sarjana, serta 57,6% atau 99 responden bertempat tinggal di Denpasar.

Dari data diatas dapat dijabarkan pula bahwa dari 172 responden yang mengisi kuesioner tersebut hampir mayoritas masyarakat Kota Denpasar pernah menonton film di bioskop sebelum penerapan physical distancing. Adapun data yang diperoleh sebagai berikut :

Gambar 5.4 Diagram Lingkaran Intensitas Masyarakat Kota Denpasar Saat Menonton Film di Bioskop

Dari data diatas terlihat bahwa minat masyarakat Kota Denpasar untuk menonton film di bioskop tergolong tinggi. Dari 172 responden yang mengisi

(39)

kuisioner tersebut terdapat 47,1 % atau sekitar 81 responden yang sering menonton film di bioskop sebelum penerapan physical distancing kemudian ada sekitar 46,5%

atau setara 80 responden yang jarang menonton di bioskop dan 6,4% atau 11 responden yang tidak pernah menonton film di bioskop. Dari data yang telah dijelaskan terlihat bahwa sebenarnya antusiasme masyarakat Kota Denpasar untuk menonton film di bioskop sebenarnya cukup tinggi namun, hal tersebut tidak menjadi jaminan bahwa hal tersebut dapat menekan angka pengguna situs film bajakan. Karena pada praktik di lapangan persentase angka pengguna situs film bajakan termasuk tinggi.

Berikut adalah data yang kami peroleh dari 172 responden terkait kebiasaan menonton film sebelum pandemi COVID-19 sebagai berikut.

Gambar 5.4 Diagram Pengguna Situs Film Legal Dan Situs Penyedia Film Bajakan Sebelum Pandemi COVID-19.

Dari data tersebut dapat dilihat bahwa sebesar 47,1% atau 81 responden menonton film melalui situs bajakan seperti IndoXXI, LK21, DuniaFilm21 dan lain sebagainya. Namun menariknya terdapat temuan di lapangan bahwa ada sekitar 4,8% atau 8 responden yang menonton di situs film bajakan baru dan apabila dijumlahkan menjadi 51,9% atau sama dengan 89 orang. Menariknya dalam diagram lingkaran diatas terdapat temuan lapangan juga yang cukup menarik yaitu munculnya aplikasi messeger bernama Telegram sebagai salah satu tempat dimana masyarakat menonton film bajakan. Telegram adalah sebuah aplikasi chatting yang memungkinkan mengirimkan pesan, berbagi foto, video dan audio serta bertukar file yang ter-enkripsi. Selain itu Telegram juga dapat digunakan di berbagai

(40)

platform atau sistem operasi seperti Android, iOS, MacOS, Windows OS dan Linux OS (versi desktop) secara bersamaan.26

Namun, Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) siap mengajukan pemblokiran akun penyebar film dan serial gratis yang marak terjadi di aplikasi perpesanan instan, Telegram. Kemenkominfo akan melakukan tindak lanjut apabila terdapat laporan dari masyarakat. Tindak lanjut tersebut berupa pengajuan pemblokiran atau suspend akun atau channel Telegram oleh Kemenkominfo dikarenakan aplikasi perpesanan instan Telegram bersifat privat. 27

Dalam diagram di atas masyarakat Kota Denpasar yang menonton situs legal seperti Netflix yang hanya sebesar 22,1% atau 38 responden disusul layanan streaming VIU sebesar 14% atau setara 24 responden, terakhir IFLIX layanan streming legal yang mendapatkan persentase 11% saja atau 19 responden, Google Movie memperoleh 0,6% atau 1 responden dan WeTV yang mendapatkan 0,6%

atau 1 responden. Sehingga setelah dikalkulasikan terdapat 48,3% atau 83 orang yang menonton film melalui situs resmi.

Dalam form isian yang telah disebar faktor gratis dan sangat mudah menjadi alasan paling dominan dan berada di peringkat pertama kenapa masyarakat menonton film di situs bajakan tersebut. Masyarakat lebih memilih menonton film di situs penyedia film bajakan karena mereka tidak ingin ribet untuk berlangganan situs flm legal yang pada saat itu harga untuk satu bulan berlangganan dapat mencapai sekitar Rp. 186.000.00,- perbulannya namun mereka tidak dapat menggunakannya secara maksimal karena waktu untuk menonton mereka sangatlah sedikit. Dimana sebelum pandemi mereka telah disibukkan oleh berbagai macam rutinitas yang menyita waktu baik itu kerjaan, pelajaran ataupun kesibukan lainnya.

Sehingga mereka merasa uang yang akan dikeluaran tidaklah sebanding apabila dikomparasikan dengan banyaknya waktu untuk mereka menikmatinya.

Hal tersebutlah menjadi faktor utama bagi mereka menggunakan situs penyedia film bajakan karena sangatlah membantu bagi mereka yang hanya

26 Muhammad Sholeh, 2020, Aplikasi Telegram dan 5 Kelebihannya, diakses pada tanggal 20 November 2020, tersedia di: https://kirim.email/aplikasi-telegram-dan-5-kelebihannya/.

27Francisca Christy Rosana, 2020, Akun Pembagi Film Gratis di Telegram Terancam di Blokir, diakses pada tanggal 7 Januari 2021,tersedia https://bisnis.tempo.co/read/1419299/akun-pembagi-film- gratis-di-telegram-terancam-diblokir

(41)

menonton film hanya pada waktu luang mereka saja. Apalagi film yang disediakan oleh situs penyedia film bajakan tersebut bisa dikatakan lengkap. Mulai dari yang terlama sampai yang paling baru dengan kuliatas yang tergolong cukup baik namun tentu saja itu melanggar hukum. Hal tersebutlah yang pada akhirnya menyebabkan angka pengguna situs penyedia film bajakan lebih banyak sebelum pandemi mewabah.

Namun menariknya, setelah diterapkannya Physical Distancing sebagai bentuk penanganan Pemerintah Indonesia untuk menekan angka penyebaran COVID-19 terjadi perubahan data yang signifikan. Berikut adalah data kebiasaan menonton film selama pandemi COVID-19.

Gambar 5.5 Diagram Pengguna Situs Film Legal dan Situs Penyedia Film Bajakan Selama Penerapan Physical Distancing.

Dari data diatas terjadi hal yang sangat menarik. Dapat dilihat bahwa terjadi penurunan persentase angka pengguna situs penyedia fim bajakan yang sebelumnya mencapai angka 51,9% atau sama dengan 89 orang kini mengalami penurunan yang cukup signifikan menjadi hanya 30,2% atau setara dengan 52 orang yang menonton film melalui situs film bajakan. Hal tersebut diikuti dengan kenaikan persentase angka pengguna Nexflix, IFLIX. Sebelumnya persentase pengguna Netflix hanya sebesar 22,1% atau 38 responden naik menjadi 39,5% setara 68 responden.

Sedangkan persentase pengguna IFLIX juga meningkat dari yang sebelumnya hanyalah 11% saja atau 19 responden lalu naik menjadi 12,2% atau 21 responden.

Namun tren kenaikan tersebut tidak diikut oleh situs legal VIU yang justru mengalami penurunan persentase dari sebelumnya 14% atau setara 24 responden menjadi hanya 13,4% atau 23 responden.

(42)

Pada data selama pandemi berlangsung terdapat penambahan situs menonton film yang legal yaitu dengan adanya Disney+ dan Bioskop Online Indonesia yang baru berdiri di tengah pandemi. Menurut data yang dihimpun terdapat 2,9% atau 5 responden yang menonton Disney+ dan 1,7% atau 3 responden yang menonton Bioskop Online Indonesia. Sehingga setelah dikalkulasikan terdapat 69,8% atau setara dengan 120 orang menonton film melalui situs film resmi.

5.2 Hasil Penelitian

5.2.1. Dampak Penerapan Physical Distancing Selama COVID-19 Terhadap Angka Pengguna Situs Film Bajakan di Kota Denpasar

Beberapa ahli hukum mengemukakan bahwa kesadaran hukum masyarakat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tegaknya hukum di suatu negara.

Kesadaran hukum tersebut berkaitan dengan apakah suatu hukum berfungsi atau tidak dalam masyarakat.28 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kesadaran hukum adalah kesadaran seseorang akan pengetahuan bahwa suatu perilaku tertentu diatur oleh hukum. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa kesadaran hukum sebenarnya merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalam diri manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada.29

Gambar 5.6 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui UU Hak Cipta.

28 Atang Hermawan Usman, 2014, KESADARAN HUKUM MASYARAKAT DAN PEMERINTAH SEBAGAI FAKTOR TEGAKNYA NEGARA HUKUM DI INDONESIA, Jurnal Wawasan Hukum, Vol.

30, No. 1, Hlm. 5.

29 Ellya Rosana, 2014, KEPATUHAN HUKUM SEBAGAI WUJUD KESADARAN HUKUM MASYARAKAT, Jurnal Tapis, Vol. 10, No. 1, Hlm. 10.

(43)

Berdasarkan data responden yang berhasil dihimpun dari lapangan, dari total 172 responden dapat dilihat bahwa ada sebesar 88,4% atau 152 responden telah mengetahui UU Hak Cipta dan 11,6% atau 20 responden tidak mengetahui UU Hak Cipta. Namun dari banyaknya responden yang mengetahui eksistensi UU Hak Cipta tidak sejalan dengan persentase pemahaman akan aturan aturan yang terdapat dalam undang undang tersebut.

Gambar 5.7 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Sanksi dari Menonton dan Mengunduh Film Bajakan.

Bila diperhatikan dengan seksama pada diagram lingkaran diatas, terdapat sekitar 64,5% atau 111 responden yang mengetahui sanksi dari menonton film secara bajakan dan 35,5% atau 61 responden tidak mengetahui sanksi dari menonton film secara legal di situs bajakan. Yang lebih menarik untuk diperhatikan, adalah tentang persepsi maysarakat Kota Denpasar terkait apakah menonton film di situs bajakan adalah melanggar hukum yang berlaku.

Gambar 5.8 Diagram Jumlah Responden yang Mengetahui Bahwa Menonton Film di Indoxxi atau Situs Sejenisnya Adalah Melanggar Aturan.

Referensi

Dokumen terkait

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan

Perubahan pertama terhadap pengaturan Hak Cipta di Indonesia dilakukan dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 6

g menyatakan bahwa jika di kemudian hari terjadi perubahan hak cipta atas karya ini, saya bertanggung jawab untuk menyampaikannya ke UKSW terkait perubahan yang dilakukan; h menyatakan