• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian untuk Masyarakat

Dalam dokumen TESIS AKHIR OLEH LUWINDA AVITHA SARI HARAHAP (Halaman 33-174)

BAB I. PENDAHULUAN

I.5. Manfaat Penelitian

I.5.3. Manfaat Penelitian untuk Masyarakat

Dengan mengetahui hubungan antara gangguan tidur dengan tekanan darah, tekanan nadi, tekanan arteri rata - rata, frekuensi detak jantung, dan nilai MMSE pada pasien usia lanjut, maka masyarakat dapat mengetahui faktor - faktor yang berkaitan dengan terjadinya gangguan tidur dan gangguan fungsi kognitif.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. TIDUR II.1.1. Definisi

Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia dan komponen terpenting untuk kesehatan yang baik, kualitas hidup yang baik, dan kinerja tubuh yang baik selama seharian (World Health Organization / WHO, 2004). Tidur adalah faktor yang berkontribusi terhadap kesehatan yang optimal dan vitalitas (Bansil dkk, 2011). Tidur adalah suatu keadaan fisiologik yang dapat timbul bergantian dengan kondisi terbangun dari tidur, durasi dan kualitas tidur sama pentingnya untuk kualitas hidup (WHO, 2004). Tidur dapat didefinisikan sebagai suatu keadaan kehilangan kewaspadaan yang normal, berulang, reversible disertai dengan hilangnya persepsi dan respons terhadap lingkungan luar (Silber dkk, 2010).

Gangguan tidur adalah suatu kondisi yang dikarakteristikkan oleh gangguan pada pola tidur yang biasa atau gangguan perilaku pada saat tidur yang menyebabkan stress dan gangguan pada aktivitas sehari – hari (Sie, 2013).

II.1.2. Pembagian Tahapan Tidur

Secara normal, tidur dapat dibagi atas dua tahap yang nyata, yaitu: non – rapid eye movement (NREM) dan rapid eye movement (REM) sleep (Schupp dkk, 2003). Non – rapid eye movement sleep

dikarakteristikkan dengan terjadinya pengurangan aktivitas fisiologis. Tidur menjadi lebih dalam, gelombang otak yang dinilai dengan menggunakan electroencephalogram (EEG) terlihat lambat dan memiliki amplitudo terbesar, pernafasan, dan frekuensi detak jantung melambat, dan tekanan darah menurun. Pada tahap NREM terbagi atas 4 stadium, yaitu : (National Sleep Foundation, 2016)

 Stadium 1:

Keadaan mengantuk atau transisi dari kondisi bangun sampai jatuh tertidur. Gelombang otak dan aktivitas otot mulai menurun. Pada tahap tidur stadium 1 kemungkinan akan timbul muscle jerks secara tiba – tiba, yang didahului oleh sensasi terjatuh (National Sleep Foundation, 2016). Pada stadium 1, EEG menunjukkan amplitudo yang rendah, frekuensi campuran, dan terdapat gerakan bola mata yang lambat (rolling) (Lumbantobing, 2011).

 Stadium 2 :

Periode tidur yang tenang dimana pergerakan bola mata berhenti. Gelombang otak menjadi lebih lambat, kadang – kadang ditemukan sleep spindles, diikuti dengan adanya periode tonus otot yang spontan bercampur dengan periode otot yang relaksasi. Frekuensi detak jantung melambat dan suhu tubuh menurun (National Sleep Foundation, 2016).

 Stadium 3 dan 4:

Gelombang delta bervoltase tinggi mendominasi gambaran EEG pada stadium III dan stadium IV terdiri dari gelombang tidur yang lambat (Lumbantobing, 2011). Tekanan darah menurun, pernafasan melambat, dan suhu tubuh menurun bahkan menjadi rendah, disertai dengan tidak adanya pergerakan tubuh (National Sleep Foundation, 2016).

Pada tahap REM sleep merupakan periode tidur yang aktif yang ditandai dengan aktivitas otak yang meningkat. Gelombang otak menjadi cepat dan desynchronized, hampir sama dengan kondisi sadar.

Pernafasan menjadi lebih cepat, irregular, dan dangkal; pergerakan bola mata bervariasi pada berbagai arah dan otot pada anggota gerak tubuh tidak dapat digerakkan untuk sementara waktu. Frekuensi detak jantung dan tekanan darah meningkat. Juga dijumpai terjadinya mimpi pada tahap tidur ini (National Sleep Foundation, 2016).

II.1.3. Fisiologi Tidur

Sewaktu tidur REM, didapatkan pola frekuensi campuran dengan voltase rendah (desynchronized EEG). Gelombang sinusoid 3 – 5 Hz hipokampus terlihat selama tidur REM. Letupan gerak cepat konjugat dari mata terjadi waktu tidur REM, dan pada rekaman EMG terlihat aktivitas dan tonus sebagian besar otot berkurang atau tidak ada, menggambarkan inhibisi dari pusat di batang otak. Subjek sering menunjukkan hiperventilasi, takikardia, dan fluktuasi pada tekanan darah. Manula

menunjukkan berkurangnya jumlah tidur gelombang – lambat, sering terbangun dan jumlah waktu tidur berkurang (Lumbantobing, 2011).

Sejak dimulainya tidur didapatkan secara progresif menurun dan menaik melalui stadium 1 ke stadium 4, selama periode 70 - 100 menit di - ikuti oleh letupan REM. Siklus ini berulang kira – kira tiap 90 menit.

Periode REM berlangsung kira – kira 15 menit dan merupakan kira – kira 20% dari waktu tidur total. Umumnya tidur REM merupakan 20 – 25 % dari jumlah tidur, stadium 2 sekitar 50% dan stadium 3 dan 4 bervariasi luas dengan usia. Tidur terdiri dari 4 – 6 siklus satu malam. Jumlah jam tidur total yang normal berkisar dari 5 – 9 jam pada 90% orang dewasa.

Dengan berlanjutnya usia, efisiensi tidur berkurang, dengan waktu yang lebih lama di tempat tidur namun lebih singkat dalam keadaan tertidur.

Pola tidur normal diatur oleh pusat – pusat yang saling berhubungan di bagian atas batang otak, daerah diencephalon dan basal forebrain yang bertanggung jawab terhadap inisiasi dan pengaturan tidur. Penyakit neurologi dapat mengakibatkan berbagai bentuk gangguan tidur, di antaranya dapat disebut mengantuk di siang hari, gangguan siklus bangun – tidur, dan berbagai gangguan behavioral sewaktu tidur (Lumbantobing, 2011).

Pola bangun – tidur sebagian ditentukan oleh faktor genetik dan endogen, sebagian lagi oleh faktor lingkungan atau eksogen. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengindentifikasi jam sirkadian yang mengatur irama tidur – bangun. Pada hewan jelas diketahui, dan diduga mungkin juga pada manusia, bahwa nukleus di suprakhiasmatik di

hipotalamus merupakan lokasi jam yang mempunyai pengaruh terbesar.

Nukleus ini mempunyai hubungan – hubungan yang luas dengan bangunan hipotalamus, talamus, dan mesensefalon yang mungkin berperan juga dalam tidur (Lumbantobing, 2011).

II.1.4. Siklus Tidur Bangun

Sistem ascending arousal memancar dari batang otak dan hipotalamus posterior ke arah forebrain. Sel-sel saraf pada laterodorsal tegmental nuclei (LDT) dan pedunculopontine tegmental nuclei (PPT) membawa serabut kolinergik (acetylcholine) ke semua target di forebrain, termasuk juga di talamus, dan kemudian mengatur aktivitas kortikal. Sel-sel saraf pada Tuberomammilary Nucleus (TMN) berisi histamin, Sel-sel-Sel-sel saraf daripada raphe nuclei berisi 5 Hydroxytripthamine (5-HT) dan neuron daripada Locus Ceruleus (LC) berisi noradrenalin, sedang sleep promoting neuron daripada ventrolateral preoptic nucleus (VLPO) berisi GABA (Gamma Amino Butryric Acid) disebut Gaba – ergic neuron dan galanin. Nukleus - nukleus aminergik memancar difus kearah forebrain, yang mengatur aktifitas target di kortikal dan hipotalamus secara langsung. Sinyal dari SCN (Suprachiasma Nucleus) menimbulkan bangun waspada pada siang hari dan juga menginduksi tidur pada malam hari via proyeksi eferen ke area dorsomedial hipotalamus dan area preoptic kemudian memancar ke area lain yang terlibat dalam regulasi tidur, seperti area VLPO dan wake - promoting centres di batang otak dan hipotalamus posterior. Ventrolateral preoptic nucleus memancar ke area

lainnya di hipotalamus, memodulasi arousal area di batang otak, pons, dan hipotalamus posterior (Sjahrir, 2008).

Gambar 1. Sistem ascending arousal mengirimkan sinyal dari batang otak dan hipotalamus posterior menuju seluruh forebrain

Dikutip dari: Sjahrir, H. 2008. Nyeri Kepala dan Vertigo. Pustaka Cendekia Press. Yogyakarta.

II.1.5. Kebutuhan Tidur

Para peneliti yang melakukan penelitian tentang tidur mendapati bahwa kebutuhan tidur pada usia dewasa rata – rata 7 sampai 9 jam tiap malam, usia remaja sekitar 9,5 jam dan usia bayi umumnya membutuhkan sekitar 16 jam perhari (National Sleep Foundation, 2016).

II.1.6. Klasifikasi Gangguan Tidur

Berdasarkan the third edition of the International Classification of Sleep Disorders (ICSD) yang dipublikasikan oleh the American Academy of Sleep Medicine pada Maret 2014, klasifikasi tidur dibagi atas enam kategori utama secara klinis yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

1. Insomnia :

Seorang pasien insomnia mengeluh kesulitan untuk memulai tidur (sleep onset insomnia) atau mempertahankan tidurnya (sleep maintenance insomnia) meskipun mereka ada kesempatan untuk tidur, dikondisikan untuk tidur dan punya waktu tidur. Pada pasien insomnia, tidurnya menjadi singkat dan kurang adekuat, mudah terganggu, kualitasnya buruk, tidak merasa segar saat bangun tidur, tidak nyaman atau tidak menimbulkan efek restorasi. Seringkali mereka terjaga berulang kali atau bangun terlalu dini dan sulit tidur lagi. Pada pasien insomnia anak – anak seringkali sulit diajak tidur atau tidak bisa tidur sendiri. Gangguan tidur ini akan menyebabkan gangguan fungsi sehari – hari. Para ahli mendefinisikan insomnia bila sleep latency lebih dari 30 menit; waktu terjaga setelah onset tidur lebih dari 30 menit; efisiensi tidur kurang dari 85%; atau total lama tidur (total sleep time) kurang dari 6 – 6,5 jam, dan keluhan tersebut terjadi minimal 3 hari seminggu (Islamiyah, 2014).

Pembagian insomnia menurut ICDS edisi ketiga yaitu:

a) Chronic insomnia disorder b) Short - term insomnia disorder c) Other insomnia disorder

d) Isolated symptoms and normal variants e) Excessive time in bed

f) Short sleeper (Zucconi dkk, 2014)

2. Sleep - related breathing disorders :

Kondisi yang ditandai dengan adanya gangguan pernafasan yang terjadi pada saat tidur. Pembagian sleep - related breathing disorders menurut ICSD edisi ketiga yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

A) Obstructive sleep apnoea disorders : (1) Obstructive sleep apnoea, adult (2) Obstructive sleep apnoea, paediatric B) Central sleep apnoea syndromes :

(1) Central sleep apnoea with Cheyne – Stokes breathing (2) Central apnoea due to a medical disorder without

Cheyne – Stokes breathing

(3) Central sleep apnoea due to high-altitude periodic breathing

(4) Central sleep apnoea due to a medication or substance (5) Primary central sleep apnoea

(6) Primary central sleep apnoea of infancy (7) Primary central sleep apnoea of prematurity (8) Treatment - emergent central sleep apnoea C) Sleep - related hypoventilation disorders :

(1) Obesity hypoventilation syndrome

(2) Congenital central alveolar hypoventilation syndrome (3) Late – onset central hypoventilation with hypothalamic dysfunction

(4) Idiopathic central alveolar hypoventilation

(5) Sleep - related hypoventilation due to a medication or substance

(6) Sleep - related hypoventilation due to a medical disorder D) Sleep - related hypoxaemia :

(1) Disorder sleep – related hypoxaemia E) Isolated symptoms and normal variants :

(1) Snoring (2) Catathrenia

3. Central disorders of hypersomnolence :

Hampir seperempat dewasa muda mengalami Excessive Daytime Sleepiness (EDS) atau mengantuk berlebihan di siang hari.

Penyebabnya cukup banyak meliputi waktu tidur kurang, kelainan tidur primer, kelainan medis dan neurologis yang menganggu tidur atau menyebabkan tidur patologis. Keluhan yang khas adalah tertidur yang tidak bisa ditahan, menyebabkan rasa malu, menurunnya produktivitas, dan kadang – kadang menyebabkan bencana ( misal : saat mengemudi) (Purnomo, 2014).

Pembagian central disorders of hypersomnolence berdasarkan ICSD edisi ketiga yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

(1) Narcolepsy type 1 (2) Narcolepsy type 2

(3) Idiopathic hypersomnia (4) Kleine – Levin syndrome

(5) Hypersomnia due to a medical disorder

(6) Hypersomnia due to a medication or substance (7) Hypersomnia associated with a psychiatric disorder (8) Insufficient sleep syndrome

(9) Isolated symptoms and normal variants : (a) Long sleeper

4. Circadian rhythm sleep – wake disorders :

Diagnosis gangguan tidur irama sirkadian (circadian rhythm sleep – wake disorders) adalah :

A. Adanya gangguan tidur yang menetap, disebabkan terutama hal – hal berikut :

1. Perubahan sistem waktu sirkadian

2. Ketidaksesuaian antara ritme sirkadian endogen dan faktor endogen yang mempengaruhi waktu atau durasi tidur.

B. Gangguan tidur irama sirkadian mengakibatkan insomnia, ngantuk berlebihan, atau keduanya.

C. Gangguan tidur tersebut berhubungan dengan masalah sosial, pekerjaan, atau hal fungsional lainnya.

Berdasarkan ICSD edisi ketiga, circadian rhythm sleep wake disorders dibagi atas beberapa macam yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

(1) Delayed sleep – wake phase disorder (2) Advanced sleep – wake phase disorder

(3) Irregular sleep – wake rhythm disorder (4) Non – 24 – h sleep – wake rhythm disorder (5) Shift work disorder

(6) Jet lag disorder

(7) Circadian sleep – wake disorder not otherwise specified (NOS)

5. Parasomnias :

Parainsomnias merupakan fenomena fisik yang tidak diinginkan dimana dapat muncul terutama pada saat tidur (Silber dkk, 2010). Parainsomnias dapat berupa berjalan sambil tertidur, mimpi buruk, dan mengompol yang diakibatkan adanya gangguan pada NREM yang timbul pada saat malam hari (National Sleep Foundation, 2016). Parainsomnias dibagi menjadi kelompok yang muncul dari tidur non – REM (juga dikenal sebagai confusional arousal) dan kelompok yang muncul pada saat tidur REM.

Berdasarkan ICSD edisi ketiga, Parasomnias dibagi atas beberapa macam yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

(1) NREM - related parasomnias :

(a) Disorders of arousal (from NREM sleep) (b) Confusional arousals

(c) Sleepwalking (d) Sleep terrors

(e) Sleep-related eating disorder (2) REM - related parasomnias :

(a) REM sleep behaviour disorder (b) Recurrent isolated sleep paralysis (c) Nightmare disorder

(3) Other parasomnias :

(a) Exploding head syndrome (b) Sleep-related hallucinations (c) Sleep enuresis

(d) Parasomnia due to a medical disorder

(e) Parasomnia due to a medication or substance (f) Parasomnia, unspecified

(4) Isolated symptoms and normal variants : (a) Sleep talking

6. Sleep - related movement disorders :

Gambaran dasar dari sleep - related movement disorders adalah adanya gerakan yang relatif sederhana, sering dijumpai stereotipik yang dapat timbul selama tidur atau pada awal tidur.

Menurut ICSD edisi ketiga, sleep - related movement disorders terdiri dari beberapa macam yaitu : (Zucconi dkk, 2014)

(1) Restless legs syndrome

(2) Periodic limb movement disorder (3) Sleep-related leg cramps

(4) Sleep-related bruxism

(5) Sleep-related rhythmic movement disorder (6) Benign sleep myoclonus of infancy

(7) Propriospinal myoclonus at sleep onset

(8)Sleep-related movement disorder due to a medical disorder (9) Sleep-related movement disorder due to a medication or

substance

(10) Sleep-related movement disorder, unspecified (11) Isolated symptoms and normal variants :

(a) Excessive fragmentary myoclonus

(b) Hypnagogic foot tremor and alternating leg muscle activation

(c) Sleep starts (hypnic jerks)

II.1.7. Epidemiologi Gangguan Tidur

Meskipun gangguan tidur merupakan keluhan yang paling sering dijumpai pada pasien berbagai usia, dimana para peneliti mendapati terutama pada orang usia lanjut sangat mudah terjadi gangguan tidur.

Sebuah penelitian besar yang dilakukan pada 9000 lebih orang usia lanjut yang berumur > 60 tahun ditemukan sekitar 42% subjek penelitiannya memiliki kesulitan dalam memulai dan mempertahankan tidur. Pada follow up selama 3 tahun didapati 15% subjek yang tercatat tidak menderita kesulitan tidur pada dasarnya memiliki gangguan tidur, dan disimpulkan bahwa insidensi terjadinya gangguan tidur rata – rata pertahun sekitar 5%

(Roepke dkk, 2010).

Insomnia merupakan kasus gangguan tidur tersering dijumpai dalam praktik sehari – hari. Sepertiga populasi dewasa mengeluhkan insomnia dan sekitar 10% diantaranya mengalami insomnia kronis.

Prevalensi insomnia lebih banyak pada kelompok lansia, status sosial ekonomi rendah, pekerja dengan sistem rotasi (shift), dan korban perceraian. Wanita juga lebih sering terkena insomnia dibandingkan pria.

Prevalensi insomnia juga meningkat pada populasi pengguna alkohol atau NAPZA, pasien yang sedang dirawat di rumah sakit atau asrama, dan pasien yang sedang mengalami gangguan medis atau neurologis tertentu (Islamiyah, 2014)

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dijumpai pada orang usia lanjut yang ditandai dengan adanya kesulitan dalam memulai tidur atau mempertahankan tidur, bersamaan dengan terjadinya gangguan pada aktivitas sehari – hari. Beberapa studi telah menemukan bahwa lebih dari 40 – 50% orang dewasa yang berusia lebih dari 60 tahun dilaporkan telah mengalami gangguan tidur. Ada tiga tipe gangguan tidur primer yang sering dijumpai pada orang usia lanjut yaitu : sleep disordered breathing (SDB), restless legs syndrome (RLS) atau periodic limb movements in sleep (PLMS), dan REM sleep behaviour disorder (RBD) (Roepke dkk, 2010).

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) merupakan kasus SDB yang paling sering dijumpai. Berdasarkan penelitian Young dkk tahun 1993 menemukan prevalensi OSAS sekitar 2% pada wanita dan 4% pada pria dewasa. Di india prevalensi OSAS 7,5%, Singapura diperkirakan sekitar 15%, Thailand 1,9% pada wanita dan 4,8% pada pria (Tedjasukmana, 2014). Advanced Sleep Phase Type (ASPT) lebih sering pada umur separuh baya dan dewasa tua, dengan perkiraan prevalensi

sebesar 1% dari orang separuh baya, dan mungkin lebih banyak pada dewasa tua (Fidiana, 2014).

II.1.8. Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI)

Pittsburgh Sleep Quality Index diperkenalkan pada tahun 1989 oleh Buysse dan Renolds, sebagai suatu alat untuk mengukur kualitas tidur dan gangguan tidur secara retrospektif selama periode satu bulan.

Pittsburgh Sleep Quality Index dapat membedakan kualitas tidur yang baik dan buruk, dan menyediakan pengukuran yang singkat dan berguna secara klinis untuk berbagai macam gangguan tidur(Cinar dkk, 2012).

Ada 19 item yang terdapat pada PSQI yang dikelompokkan menjadi 7 komponen yaitu : kualitas tidur subjektif (1 item), latensi tidur (2 item), durasi tidur (1 item), efisiensi kebiasaan tidur (3 item), gangguan tidur (9 item), penggunaan obat tidur (1 item), dan gangguan dalam melaksanakan tugas sehari – hari (2 item) (Cinar dkk, 2012). Pittsburgh Sleep Quality Index terdiri dari 19 pertanyaan yang dijawab sendiri oleh penderita dan lima pertanyaan yang dijawab oleh teman sekamar. Skala penilaian terdiri dari 15 bagian pilihan berganda mengenai frekuensi dari gangguan tidur dan kualitas tidur subjektif dan 4 bagian mengenai jam/

waktu tidur, waktu bangun, latensi tidur dan durasi tidur. Lima pertanyaan kepada partner tidur adalah pilihan berganda mengenai nilai dari gangguan tidur (Buysse dkk, 2000).

Setiap komponen diberikan penilaian antara skor 0 (tidak ada kesulitan) sampai 3 (kesulitan tidur yang berat). Seluruh komponen dijumlahkan menjadi suatu skor keseluruhan / total skor dari seluruh

komponen (berkisar antara nilai 0 - 21). Apabila nilai total skor dari seluruh komponen PSQI > 5 dinyatakan sebagai gangguan tidur yang signifikan (Aoudia dkk, 2013; Soysal dkk, 2013; Miaskowski dkk, 2012; Buysse dkk, 2000). Nilai total skor dari seluruh komponen PSQI > 5 juga menandakan kualitas tidur yang buruk (Smyth dkk, 2012). Nilai total skor yang paling tinggi menunjukkan kualitas tidur yang buruk (Cinar dkk, 2012). Apabila total skor keseluruhan dan skor pada komponen tidur bernilai tinggi menandakan bahwa adanya keluhan yang timbul dan gangguan tidur yang dialami juga lebih berat (Miaskowski dkk, 2012). Pittsburgh Sleep Quality Index merupakan salah satu instrumen yang paling banyak digunakan untuk mengevaluasi tidur pada klinis dan untuk tujuan penelitian (Aoudia dkk, 2013).

II.2. FUNGSI KOGNITIF II.2.1. Definisi

Fungsi kognitif merupakan aktivitas mental yang melibatkan beberapa macam fungsi yaitu persepsi, atensi, memori, recall, pembuatan keputusan, pertimbangan, berpikir, perencanaan, pemecahan masalah, dan fungsi eksekutif (Brandimonte dkk, 2006).

II.2.2. Domain Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif terdiri dari 5 modalitas yaitu: (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008)

a. Fungsi Atensi

Atensi adalah kemampuan untuk bereaksi atau memperhatikan satu stimulus dengan mampu mengabaikan stimulus lain yang tidak

dibutuhkan. Atensi merupakan hasil hubungan antara batang otak, aktivitas limbik dan aktivitas korteks sehingga mampu untuk fokus pada stimulus spesifik dan mengabaikan stimulus lain yang tidak relevan.

Konsentrasi merupakan kemampuan untuk mempertahankan atensi dalam periode yang lebih lama. Gangguan atensi dan konsentrasi akan mempengaruhi fungsi kognitif lain seperti memori, bahasa dan fungsi eksekutif (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

b. Fungsi Bahasa

Bahasa merupakan perangkat dasar komunikasi dan modalitas dasar yang membangun kemampuan fungsi kognitif. Jika terdapat gangguan bahasa, pemeriksaan kognitif seperti memori verbal dan fungsi eksekutif akan mengalami kesulitan atau tidak dapat dilakukan. Gangguan bahasa sering terlihat pada lesi otak fokal maupun difus, sehingga merupakan gejala patognomonik disfungsi otak. Penting bagi klinikus untuk mengenal gangguan bahasa karena hubungan yang spesifik antara sindrom afasia dengan lesi neuroanatomi (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

c. Memori

Secara umum memori adalah proses bertingkat dimana informasi pertama kali harus dicatat dalam area korteks sensorik kemudian diproses melalui sistem limbik untuk terjadinya pembelajaran baru. Secara klinik memori dibagi menjadi tiga tipe dasar : immediate, recent, dan remote memory berdasarkan rentang waktu antara stimulus dan recall (Kolegium

Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

a) Immediate memory merupakan kemampuan untuk merecall stimulus dalam interval waktu beberapa detik.

b) Recent memory merupakan kemampuan untuk menginggat kejadian sehari-hari (misalnya tanggal, nama dokter, apa yang dimakan saat sarapan, atau kejadian - kejadian baru) dan mempelajari materi baru serta mencari materi tersebut dalam rentang waktu menit, jam, hari, bulan, tahun.

c) Remote memory merupakan rekoleksi kejadian yang terjadi bertahun-tahun yang lalu (misalnya tanggal lahir, sejarah, nama teman).

Gangguan memori merupakan gejala yang paling sering dikeluhkan pasien. Amnesia secara umum merupakan defek fungsi memori. Ketidak mampuan untuk mempelajari materi baru setelah brain insult disebut amnesia anterograd. Amnesia retrograd merujuk pada amnesia pada kejadian yang terjadi sebelum brain insult. Hampir semua pasien demensia menunjukkan masalah memori pada awal perjalanan penyakitnya. Tidak semua gangguan memori merupakan gangguan organik. Pasien depresi dan ansietas sering mengalami kesulitan memori.

Amnesia psikogenik jika amnesia hanya pada satu periode tertentu, dan pada pemeriksan tidak dijumpai defek pada recent memory (Kolegium

Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

d. Visuospasial

Kemampuan visuospasial merupakan kemampuan konstruksional seperti menggambar atau meniru berbagai macam gambar (misal:

lingkaran, kubus) dan menyusun balok-balok. Semua lobus berperan dalam kemampuan konstruksi dan lobus parietal terutama hemisfer kanan berperan paling dominan (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

e. Fungsi eksekutif

Fungsi eksekutif adalah kemampuan kognitif tinggi seperti cara berpikir dan kemampuan pemecahan masalah. Kemampuan eksekutif diperankan oleh lobus frontal, tetapi pengalaman klinis menunjukkan bahwa semua sirkuit yang terkait dengan lobus frontal juga menyebabkan sindroma lobus frontal. Diperlukan atensi, bahasa, memori dan visuospasial sebagai dasar untuk menyusun kemampuan kognitif (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008).

II.2.3. Mini Mental State Examination (MMSE)

Mini Mental State Examination masih menjadi tes skrining yang paling sering digunakan untuk penurunan kognitif, meskipun ada tes singkat fungsi kognitif yang dikenal secara luas dan menunjukkan sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi. Mini Mental State Examination terdiri dari 11 sub-skala (nilai maksimal dalam kurung) yang diringkas

menjadi skor total (30): Orientasi waktu (5), Orientasi tempat (5), mengingat kata dengan cepat (3), atensi (5), mengingat kata dengan lambat (3), penamaan (2), pengulangan (1), mengikuti perintah (3), membaca (1), menulis (1), dan meniru desain (1). Atensi dinilai dengan 2 pertanyaan, tujuh seri dan ejaan kata mundur dan lebih tinggi dari 2 nilai dicatat (Naco dkk, 2013).

Pada MMSE fungsi kognitif yang dinilai adalah kemampuan orientasi, registrasi, atensi, kalkulasi, memori jangka pendek, bahasa dan kemampuan konstruksi. Namun MMSE mempunyai kelemahan karena tidak ada penilaian untuk fungsi eksekutif (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008). Pemeriksaan MMSE ini awalnya dikembangkan untuk skrining demensia, namun sekarang digunakan secara luas untuk pengukuran fungsi kognitif secara umum. Pemeriksaan MMSE kini adalah instrumen skrining yang paling luas digunakan untuk menilai status kognitif dan status mental pada usia lanjut (Kochhann dkk, 2009). Instrumen ini disebut ― mini ― karena hanya fokus pada aspek kognitif dari fungsi mental dan tidak mencakup pertanyaan tentang mood, kondisi kejiwaan yang abnormal dan pola

Pada MMSE fungsi kognitif yang dinilai adalah kemampuan orientasi, registrasi, atensi, kalkulasi, memori jangka pendek, bahasa dan kemampuan konstruksi. Namun MMSE mempunyai kelemahan karena tidak ada penilaian untuk fungsi eksekutif (Kolegium Neurologi Indonesia Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia, 2008). Pemeriksaan MMSE ini awalnya dikembangkan untuk skrining demensia, namun sekarang digunakan secara luas untuk pengukuran fungsi kognitif secara umum. Pemeriksaan MMSE kini adalah instrumen skrining yang paling luas digunakan untuk menilai status kognitif dan status mental pada usia lanjut (Kochhann dkk, 2009). Instrumen ini disebut ― mini ― karena hanya fokus pada aspek kognitif dari fungsi mental dan tidak mencakup pertanyaan tentang mood, kondisi kejiwaan yang abnormal dan pola

Dalam dokumen TESIS AKHIR OLEH LUWINDA AVITHA SARI HARAHAP (Halaman 33-174)

Dokumen terkait