BAB I PENDAHULUAN
1.6 Manfaat Hasil Penelitian
1.6.2 Manfaat Praktis
a. Bagi Mahasiswa
Diharapkan agar dapat memberikan referensi dan pengembangan wawasan berpikir bagi diri sendiri maupun pembaca mengenai Efektifitas Penegakan Hukum Pidana dalam mencegah timbulnya tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online.
b. Bagi Penegak Hukum
Diharapkan agar skripsi ini dapat dijadikan refrensi bagi penegak hukum agar dalam melakukan tugasnya dalam menegakkan hukum terhadap cyber crime khususnya dalam tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli
online dapat dilaksanakan secara optimal. c. Bagi Masyarakat
Untuk memberikan kesadaran hukum kepada masyarakat terhadap aturan-aturan yang berlaku tentang tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online pada semua orang agar lebih berhati-hati dalam berkegiatan di dunia maya.
1.7. Landasan Teoritis
Skripsi ini secara garis besar menggunakan tiga teori hukum dalam membahas permasalahan ini. Tujuan dipergunakannya teori hukum untuk membantu penulis dalam memperjelas masalah yang diteliti. Teori-teori yang dipergunakan adalah:
a. Teori Pencegahan
Terkait pembahasan rumusan masalah mengenai pencegahan tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online di Polresta Denpasar digunakan Teori Pencegahan Umum sebagaimana dikemukakan oleh Anselm Von Feurbach mengenai psychologische zwag, yang dimana berbunyi :
“apabila setiap orang mengerti dan tahu, bahwa melanggar peraturan
hukum itu diancam pidana, maka orang itu mengerti dan tahu juga akan dijatuhi pidana atas kejahatan yang dilakukannya dapat digolongkan ke dalam teori pencegahan umum. Jadi menurut teori ini tercegahlah bagi setiap orang untuk berniat jahat sehingga di dalam jiwa orang masing-masing telah mendapatkan
tekanan atas ancaman pidana.”9
b. Teori Kriminologi
Objek dari kriminologi sendiri adalah orang-orang yang melakukan tindak pidana kejahatan (pelaku kejahatan) itu sendiri. Tujuan mempelajari kriminologi ini sendiri agar nantinya menjadi mengerti apa sebab-sebabnya berbuat jahat, apakah karena memang bakatnya adalah jahat, ataukah di dorong oleh keadaan masyarakat di sekitarnya baik secara sosiologis dan ekonomis, atau sebab-sebab lainnya. Jika sebab-sebab itu sudah diketahui, maka di samping pemidanaan, dapat diadakan tindakan-tindakan yang tepat agar orang tadi tidak lagi berbuat demikian, atau agar orang lain tidak akan melakukannya.10
Kriminologi dibagi menjadi tiga bagian yaitu:
1. Criminal Biology, menyelidiki dalam diri orang itu sendiri akan sebab-sebab dari perbuatannya, baik dalam jasmani maupun rohani;
9
Marlina, 2011, Hukum Penitensier, PT. Refika Aditama, Bandung, h. 57.
10
2. Criminal Sosiology, mencoba mencari sebab-sebab dalam lingkungan masyarakat di mana masyarakat itu berada;
3. Criminal Policy, tindakan-tindakan apa yang sekiranya harus dijalankan supaya orang lain tidak berbuat demikian.11
Berabad-abad sudah menjatuhi pidana kepada orang yang melakukan kejahatan, namun orang masih melakukan kejahatan. Pidana disini menandakan bahwa tidak mampu untuk mencegah adanya kejahatan yang dimana berarti pidana bukanlah obat bagi penjahat. Penjahat dianggap sebagai orang sakit dan pidana bersifat memberi nestapa sebagai pembalasan atas kejahatan yang telah dilakukan. Cara mengobati penjahat disini tentunya terlebih dahulu diperlukan mengetahui sebab-sebab dari penyakit itu, dan bukanlah pidana yang bersifat memberi nestapa sebagai pembalasan atas kejahatan yang telah dilakukan, melainkan tindakan-tindakan.12
Moeljatno menyatakan pandangan seperti diatas agak terlalu simplitis, sebab pandangan bahwa pidana adalah semata-mata sebagai pembalasan kejahatan yang dilakukan, dan dimana sekarang hal tersebut sudah ditinggalkan, dan telah diinsafi bahwa senyatanya sekarang sudah lebih kompleks. Pada saat ini apabila masih terdapat sifat pembalasan, maka hal tersebut hanya segi yang kecil saja. Pada saat ini yang lebih besar dan lebih penting pada menentramkan kembali masyarakat yang telah digoncangkan dengan adanya perbuatan pidana di satu pihak, dan di lain pihak, mendidi
11
Ibid, h.15. 12
kembali orang melakukan perbuatan pidana tadi menjadi anggota masyarakat yang berguna.13
Moeljatno menyatakan disini seharusnya pidana harusnya berubah tidak lagi sebagai pembalasan atau penderitaan fisik dan perendahan martabat manusia sebagai pembalasan dari kejahatan yang telah dilakukan, tetapi mencangkup seluruh sarana yang telah dipandan layak dan dipraktikkan dalam suatu masyarakat tertentu.14
Adanya kriminologi di samping ilmu hukum pidana, pengetahuan tentang kejahatan menjadi lebih luas. Pengetahuan tersebut nantinya akan membuat orang mendapat pengertian lebih baik tentang penggunaan hukumnya terhadap kejahatan maupun tentang pengertiannyamengenai timbulnya kejahatan dan cara-cara pemberantasannya, sehingga memudahkan penentuannya adanya kejahatan dan bagaimana menghadapai untuk kebaikan masyarakat dan penjahat itu sendiri.15
c. Teori Aksi
Meneliti efektifitas hukum hendaknya menelaah efektifitas suatu peraturan perundang-undangan dengan membandingkan antara realitas hukum dengan ideal hukum. Donald Black menyatakan, ideal hukum merupakan kaidah hukum yang dirumuskan dalam undang-undang atau putusan hakim (law in
13 Ibid, h. 16. 14 Ibid. 15 Ibid.
book). Dengan merujuk principle of effectiviness dari Hans Kelsen menyebutkan bahwa realitas hukum berarti seseorang harus bertingkah laku atau bersikap sesuai tata kaidah hukum, denga kata lain realitas hukum adalah hukum dalam tindakan (law in action).16 Meneliti efektifitas hukum dari undang-undang tidak hanya menetapkan tujuan dari undang-undang (baik dari kehendak pembuat undang-undang atau tujuan langsung tidak langsung, maupun tujuan instrumental-tujuan simbolis), diperlukan pula syarat-syarat lain seperti:
1. Perilaku yang diamati adalah perilaku nyata;
2. Perbandingan antara perilaku yang diatur dalam hukum dengan keadaan apabila tidak diatur dalam hukum. Apabila hukum sudah mampu mengubah perilaku masyarakat (berprilaku sesuai hukum) maka seharusnya perilaku tersebut akan sama ketika tidak ada hukum yang mengatur perilaku tersebut.
3. Mempertimbangkan jangka waktu pengamatan
4. Mempertimbangkan tingkat kesadaran pelaku. Berl Kutschinsky mengemukakan empat indicator kesadaran hukum yaitu:
a. Pengetahuan tentang peraturan-peraturan hukum (law awareness) b. Pengetahuan tentang isi peraturan hukum (law aquitance)
c. Sikap hukum (law attitude); dan d. Perilaku Hukum (legal behavior).17
Dalam bukunya The Structure of Social Action, Parsons mengemukakan karakteristik tindakan sosial (Social Action) sebagai berikut:
1. Adanya individu sebagai aktor;
2. Aktor dipandang sebagai pemburu tujuan-tujuan;
3. Aktor memilih alternative cara, alat dan teknik untuk mencapai tujuannya;
16
Amirudin dan H. Zainal Asikin, 2010, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Rajawali
Pers, Jakarta, h. 137.
17
Soerjono Soekanto, 1982, Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum, Rajawali Pers,
4. Aktor apabila berhadapan dengan sejumlah kondisi-kondisi situasional (berupa kondisi dan kondisi yang sebagian tidak dapat dikendalikan oleh individu) yang membatasi tindakannya dalam mencapai tujuan. Misalnya adalah kelamin dan tradisi;
5. Aktor berada di bawah kendali nilai-nilai, norma-norma dan berbagai ide abstrak yang mempengaruhi dalam memilih dan menentukan tujuan. Contohnya kendala dalam kebudayaan.18
d. Teori Penegakan Hukum
Penegakan hukum merupakan usaha dalam mewujudkan ide-ide dan konsep-konsep hukum yang diharapkan rakyat menjadi suatu kenyataan.19 Soejono Soekanto mengemukakan, inti dari penegakan hukum terletak pada kegiatan menyerasikan antara apa yang ada di dalam kaidah-kaidah sejumlah peraturan-peraturan perundang-undangan terhadap penciptaan, pemeliharaan dan mempertahankan kedamaian dalam pergaulan hidup.20
Soerjono Soekanto mengemukakan ada 5 (lima) faktor yang mempengaruhi penegakan hukum, yaitu:
1. Faktor hukumnya sendiri, yang dibatasi dengan undang-undang saja; 2. Faktor penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun yang
menerapkan hukum;
3. Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum;
4. Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku dan diterapkan;
5. Faktor kebudayaan, sebagai hasil karya, cipta dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup.21
18
Amirudin dan H. Zainal Asikin, Op.cit, h. 142
19
Soleman B. Taneko, 1993, Pokok-pokok Studi Hukum dalam Masyarakat, Rajawali
Pers, Jakarta, h. 49.
20
Sabian Utsman, 2010, Dasar-Dasar Sosiologi Hukum – Makna Dialog antara Hukum
& Mayarakat, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, h. 373.
21
Soerjono Soekanto, 2004, Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penegak Hukum, PT.
Efektifitas dari suatu perundang-undangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, atara lain:
1. Pengetahuan tentang substansi perundang-undangan; 2. Cara-cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut;
3. Institusi yang terkait dengan ruang lingkup perundang-undangan di dalam masyarakatnya;
4. Proses lahirnya perundang-undangan, yang tidak boleh dilahirkan secara tergesa-gesa untuk kepentingan instan atau sesaat, yang dimana Gunar Myrdall mengistilahkan sebagai sweep legislation, yang memiliki kualitas buruk dan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat.22
Gangguan terhadap penegak hukum mungkin terjadi apabila tidak adanya
keserasia antara “tri tunggal” nilai, kaidah dan pola perilaku. Gangguan
tersebut dapat terjadi apabila ketidakserasian antara nilai yang berpasangan menjelma dalam kaidah-kaidah yang bersimpang siur dan pola perilakunya tidak terarah sehingga mengganggu kedamaian pergaulan.23
1.8. Metode Penelitian 1.8.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Jenis Penelitian Hukum Empiris atau yang sering disebut sebagai Penelitian Hukum Sosiologis yang mengkonsepkan hukum sebagai pranata sosial yang secara riil dikaitkan dengan variable sosial lainnya. Sasaran dari jenis penelitian hukum empiris yakni law in action.24
22
Achmad Ali, 2009, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan
(Judicial Prudence) Termasuk Interprestasi Undang-Undang (Legal Prudence), Kencana Prenada Media Group, Jakarta, h. 378.
23
Penelitian hukum empiris sama seperti penelitian hukum normatif, yang dimana juga mengggunakan data sekunder pada data awalnya, kemudian dilanjutkan dengan data primer atau data lapangan, jenis-jenis penelitian hukum empiris dapat dibedakan sebagai berikut:
a. Penelitian berlakunya hukum
Penelitian efektifitas hukum
Penelitian dampak hukum
b. Penelitian identifikasi hukum tidak tertulis.25
Penelitian empiris dalam skripsi ini mengkaji mengenai bekerjanya UU ITE khususnya Pasal 28 ayat (1), namun ketika aturan yang mengatur mengenai korban kejahatan tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online tersebut diberlakukan menimbulkan suatu permasalahan. Permasalahan tersebut dapat dianalisis mengenai efektivitas dari UU ITE serta upaya yang dapat dilakukan oleh penegak hukum dalam menanggulangi korban akibat dari tindak pidana penipuan dalam transaksi jual beli online.