KERANGKA TEORI 2.1Strategi
2.1.5 Manfaat Strategi
Menurut greenly dalam David (2002:19) bahwa manajemen strategi menawarkan manfaat antara lain:
a. Memungkinkan mengenali, menetapkan prioritas, dan memanfaatkan berbagai peluang
b. Menyediakan pandangan objektif mengenai masalah manajemen c. Menjadi kerangka kerja untuk memperbaiki koordinasi dan
pengendalian aktivitas
d. Meminimalkan pengaruh kondisi dan perubahan yang merugikan e. Memungkinkan keputusan utama yang lebih baik mendukung sasaran
f. Memungkinkan alokasi waktu dan sumber daya yang lebih efektif untuk mengenali peluang
g. Memungkinkan sumber daya yang lebih kecil dan waktu lebih sedikit dicurahkan untuk mengoreksi kesalahan atau keputusan.
h. Menciptakan kerangka kerja untuk komunikasi internal diantara staff 2.1.6 Perumusan Strategi
Menurut Henry Mintzberg, Joseph Lampel, James Brian Quinn, dan Sumantra Ghoshal (2003) dalam buku The Strategy Process, menyajikan lima definisi strategi yaitu :
A. Strategi Sebagai Rencana
Strategi adalah rencana, semacam sadar dimaksudkan yang meliputi tindakan (pedoman yang ditetapkan) untuk menangani situasi. Dengan definisi ini, strategi memiliki dua karakteristik penting, yaitu mereka dibuat sebelum tindakan yang menerapkan, dan mereka dikembangkan secara sadar dan sengaja. Sebagai rencana, strategi berkaitan dengan bagaimana pemimpin mencoba untuk menetapkan arah untuk organisasi, untuk mengatur mereka pada tindakan yang telah ditentukan. Dalam mempelajari strategi sebagai rencana, kita harus entah bagaimana masuk ke dalam pikiran strategi, untuk mencari tahu apa yang benar-benar dimaksudkan.
B. Strategi Sebagai Taktik
Sebagai taktik, strategi membawa kita ke dalam wilayah persaingan langsung, dimana ancaman dan berbagai manuver lain bekerja untuk mendapatkan keuntungan. Tempat ini proses pembentukan strategi dalam pengaturan yang
paling dinamis, dengan gerakan memprovokasi dan sterusnya. Namun ironisnya, strategi itu sendiri adalah sebuah konsep yang berakar tidak dalam perubahan tetapi dalam stabilitas dalam mengatur rencana dan pola didirikan.
C. Strategi Sebagai Pola
Tetapi jika strategi dapat dimaksudkan (apakah sebagai rencana umum atau khusus ploys), tapi mereka juga dapat terwujud. Dengan kata lain, menentukan setrategi sebagai rencanan ini tidak cukup; kita juga perlu definisi yang meliputi perilaku yang dihasilkan. Dengan demikian, definisi ketiga diusulkan strategi adalah pola-khususnya, pola dalam aliran tindakan (Minzberg dan Waters, 1985 dalam Mintzberg, Lampel, Quinn, Ghoshal:2003). Menurut definisi ini, strategi adalah konsistensi dalam perilaku, apakah atau tidak dimaksudkan.
Dengan demikian, definisi strategi sebagai rencana dan pola dapat cukup independen satu sama lain. Strategi sebagai pola juga memperkenalkan gagasan tentang konvergensi, pencapaian konsistensi dalam perilaku organisasi. Menyadari strategi dimaksudkan, mendorong kita untuk mempertimbangkan gagasan bahwa strategi dapat muncul serta sengaja dikenakan.
D. Strategi Sebagai Posisi
Definisi keempat adalah strategi sebagai posisi secara khusus, cara untuk menemukan sebuah organisasi, diteori organisasi suka menyebutnya “lingkungan”. Dengan definisi ini, strategi menjadi mediasi antara organisasi dan lingkungan dalam konteks internal dan eksternal. Definisi strategi sebagai posisi dapat kompatibel dengan baik atau semua dari yang sebelumnya, posisi dapat
dicentang dan bercita-cita untuk memikirkan rencana (taktik) dapat dicapai, mungkin bahkan melalui pola perilaku.
Sebagai posisi, strategi ini mendorong kita untuk melihat organisasi dalam lingkungan kompetitif mereka, bagaimana mereka menemukan posisi merek dan melindungi merek untuk memenuhi persaingan, menghindarinya atau menumbangkannya. Hal ini memungkinkan kita untuk beroikir organisasi secara ekologis, sebagai organism dalam ceruk yang berjuang untuk bertahan hidup di dunia permusuhan dan ketidakpastian serta simbiosis
E. Strategi Sebagai perspektif
Sementara definisi keempat strategi terlihat keluar, mencari untuk menemukan organisasi dalam lingkungan eksternal, dan turun ke posisi kelima terlihat di dalam organisasi, memang dalam kepala strategi kolektif, tetapi sampai dengan pandangan yang lebih luas. Di sini, strategi adalah perspektif, bukan hanya terdiri dari posisi pilihan, tetapi cara yang tertanam memahami dunia.
Definisi kelima ini menunjukan bahwa semua konsep strategi memiliki satu implikasi penting, yaitu bahwa semua strategi adalah abstraksi yang hanya ada d pikiran pihak yang berkepentingan. Hal ini penting untuk diingat bahwa tidak ada yang pernah melihat atau menyentuh strategi, setiap strategi adlaha sebuah penemuan, khayalan dari imajinasi seseorang, apakah dirumuskna sebagai niat untuk mengatur perilaku itu berlangsung atau dimpulkan sebagai pola untuk menggambarkan perilaku yang telah terjadi
Sebagai perspektif, strategi menimbulkan pertanyaan menarik tentang niat dan perilaku dalam konteks kolektfif. Jika kita medefinisikan organisasi sebagai
tindakan kolektif dalam mengejar misi umum, kemudian strategi sebagai perpekttif memunculkan masalah bagaimana menyebar niat melalui sekelompok orang untuk menjadi bersama sebagai norma-norma dan nilai-nilai dan bagaimana pola perilaku menjadi sangat tertanam dalam kelompok.
Perumusan strategi adalah pengembangan rencana jangka panjang untuk manajemen efektif dari kesempatan dan ancaman lingkungan, dilihat dari kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Strategi yang dirumuskan bersifat lebih spesifik tergantung kegiatan fungisional manajemen Freddy Rangkuti (1997)
Perencanaan strategi merupakan bagian dari manajemen strategi. Manajemen strategi adalah seni dan ilmu untuk pembuatan (formulating), penerapan (implementing) dan evaluasi (evaluating) keputusan-keputusan strategi antar fungsi yang memungkinkan sebuah organisasi mencapai tujuan di masa datang. Jadi perencanaan strategi lebih terfokus pada bagaimana manajemen puncak menentukan visi, misi, falsafah, dan strategi perusahaan untuk mencapai tujuan perusahaan jangka panjang Husein Umar (2001).
Perumusan strategi mencakup kegiatan mengembangkan visi dan misi suatu usaha, mengidentifikasi peluang dan ancaman eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan internal organisasi, menetapkan tujuan jangka panjang organisasi, dan memilih strategi tertentu untuk digunakan David (2004)
Tujuan dilakukan perumusan strategi adalah mengurangi resiko, untuk bertahan, dan atau berkembang untuk memperoleh profit. kegiatan dalam perumusan strategi adalah mengembangkan visi dan misi bisnis, mengenali
peluang-ancaman, menetapkan kekuatan-kelemahan internal menetapkan tujuan jangka panjang, merumuskan alternatif strategi dan menetapkan strategi Harisudin, (2009)
Langkah-langkah dalam perumusan strategi dapat diuraikan sebagai berikut:
Menurut jatmiko (2003) Pada dasarnya strategi dapat dikelompokkan berdasarkan empat (4) jenis strategi yaitu :
1. Strategi pertumbuhan atau Ekspansi
Perusahaan harus tumbuh untuk memuaskan pemiliknya. Pertumbuhan suatu perusahaan merupakan hasil dari variabel – variabel produk atau jasa yang dihasilkan, Kondisi lingkungan eksternalnya, kemampuan dan skill manajemennya. Pertumbuhan menjamin kelangsungan organisasi dalam jangka panjang, atau dengan kata lain perusahaan / organisasi harus tumbuh jika ingin survive.
Terdapat beberapa jenis strategi yang dikategorikan dalam strategi pertumbuhan, yaitu :
a. Pertumbuhan Konsentrasi
Strategi konsentrasi disebut juga strategi penetrasi pasar yang fokus pada bisnis produk/jasa tunggal, atau sejumlah kecil produk/jasa yang sangat berkaitan.
Strategi konsentrasi merupakan strategi untuk meningkatkan penggunaan produk-produk yang telah ada di dalam pasar yang ada. Terdapat tiga pendekatan dasar untuk menerapkan strategi konsentrasi, yaitu :
1. Pengembangan pasar (Market Development)
Pengembangan pasar adalah memperluas pasar dari bisnis produk/jasa semula atau produk yang sudah ada. Pengembangan pasar dapat dilakukan dengan memperluas bagian pasar dari pasar semula, memperluas wilayah pasar, atau memasuki segmen pasar baru.
2. Pengembangan produk (Produk Development)
Pengembangan produk adalah memilih produk/jasa dasar menambahkan produk/jasa yang sangat berkaitan yang dapat dijual pada pasar semula, atau dengan kata lain mengembangkan produk – produk baru untuk melayani yang sudah ada.
3. Integrasi Horizontal (Horizontal integration)
Integrasi horizontal terjadi apabila suatu organisasi perusahaan menambah satu atau lebih bisnisnya yang memproduksi produk/jasa yang sejenis dioperasikan pada pasar produk yang sama.
b. Strategi Integrasi Vertikal
Integrasi vertikal terjadi apabila suatu bisnis atau perusahaan bergerak ke wilayah yang melayani pasokan bahan baku atau mendekatkan produk ke arah pelanggan. Apabila suatu bisnis bergerak ke arah bidang yang melayani pasokan bahan baku, maka disebut integrasi vertikal kebelakang dan sebaliknya, bila suatu bisnis bergerak ke arah yang melayani pelanggan atau pemakai akhir suatu produk maka disebut integrasi vertikal ke depan.
Diversifikasi terjadi apabila suatu organisasi bergerak ke arah bidang usaha yang menghasilkan produk yang secara jelas berbeda dari jenis semula.
2. Strategi Stabilitas
Strategi Stabilitas berarti organisasi tetap melanjutkan pekerjaan atau aktivitas yang sama dengan sebelumnya. Asumsi strategi stabilitas adalah bahwa lingkungan eksternal tidak akan mengalami perubahan yang signifikan pada jangka pendek. Kunci keberhasilan strategi stabilitas adalah pada sistem monitoring lingkungan eksternal dan pengalaman manajemen dalam menentukan waktu yang tepat untuk merespon perubahan kondisi pasar. 3. Strategi Penciutan
Strategi penciutan (Retrenchment) disebut juga strategi bertahan (Defensive), atau strategi penyehatan. Perusahaan yang menerapkan strategi merasa bahwa strateginya tidak sesuai dengan sasaran atau misi dasarnya. Sehingga perusahaan merasa perlu mengurangi skala operasinya.Adapun jenis – jenis strategi penciutan adalah :
a. Cutback dan Turnaround
Cutback dan Turnaround adalah strategi penyehatan perusahaan yang bertujuan mengeliminasi kerugian dan memotong biaya – biaya tetap, atau memotong biaya – biaya operasi, atau mengurangi ukuran operasi perusahaan agar beroperasi lebih efisien.
Divestment adalah strategi penyehatan atau penciutan perusahaan yang bertujuan mengeliminasi kerugian dan memotong biaya – biaya tetap yang ditanggung perusahaan dengan caran menjual sebagian aset atau kekayaan yang dimiliki organisasi perusahaan.
c. Likuidasi (Liquidation)
Likuidasi adalah strategi penciutan atau penyehatan perusahaan dengan menjual seluruh aset yang dimiliki perusahaan. Terdapat dua jenis likuidasi, yaitu liquidation by choice yaitu likuidasi yang dilakukan karena memang pilihan yang diambil oleh pihak perusahaan dan liquidation by force yaitu likuidasi yang dilakukan karena memang kondisi keuangan perusahaan sudah tidak sehat dan sangat buruk.
d. Kebangkrutan (Bankcruptcy)
Suatu perusahaan dikatakan bangkrut jika pemilik perusahaan tidak dapat lagi menjalankan usahanya.
4. Strategi kombinasi
Strategi kombinasi digunakan apabila suatu korperasi organisasi perusahaan dalam waktu bersamaan menerapkan strategi yang berbeda untuk setiap unit bisnis strategi yang berbeda.
B. Strategi Bisnis
Strategi bisnis merupakan strategi yang pada level unit bisnis dan strateginya lebih ditekankan untuk meningkatkan posisi pesaing produk atau jasa perusahaan di dalam suatu industry atau segmen pasar tertentu (Solihin, 2012). Menurut Rangkuti (2009 : 7) strategi bisnis juga disebut strategi bisnis secara
fungsional karena strategi ini berorientasi pada fungsi – fungsi kegaiatan manajemen, seperti strategi pemasaran, strategi produksi atau strategi operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi – strategi yang berhubungan dengan keuangan.
C. Manajemen Strategi
Manajemen strategi dapat didefinisikan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan fungisional yang membuat organisasi mampu mencapai objektifnya (Fred R. David 2002) Fokus manajemen strategis terletak pada memadukan manajemen, pemasaran, keuangan/akunting, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi komputer untuk mencapai keberhasilan organisasi. Proses manajemen strategi terdiri dari tiga tahap yaitu perumusan strategi, implementasi strategi, dan evaluasi strategi. Pertama, perumusan strategi termasuk pengembangan produk, mengenali peluang dan ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih strategi tertentu untuk dilaksanakan. Kedua, implementasi strategi menuntut perusahaan untuk menetapkan obyek tahunan, memperlengkapi dengan kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan. Implementasi strategi termasuk pengembangan budaya mendukung strategi, menciptakan struktur organisasi yang efektif, mengubah arah usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memanfaatkan sistem informasi, dan menghubungkan konpensasi karyawan dengan prestasi
organisasi. Ketiga, evluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah : (1) Meninjau faktor – faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi (2) Mengukur prestasi (3) Mengambil tindakan korektif. Evaluasi strategi diperlukan karena keberhasilan hari ini bukan merupakan jaminan keberhasilan di masa depan. Keberhasilan selalu menciptakan masalah baru dan berbeda (David, 2002 : 5) 2.2 Analisis SWOT
Analisis situasi merupakan awal proses perumusan strategi. Selain itu, analisis situasi juga mengharuskan para manajer strategi untuk menemukan kesesuaian strategi antara peluang-peluang eksternal dan kekuatan-kekuatan internal, disamping memperhatikan ancaman-ancaman eksternal dan kelemahan-kelemahan internal Hunger and Wheleen (2003).
Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (oppurtunities), namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencanaan strategi (strategi planner) harus menganalisis faktor-faktor strategi perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada pada saat ini. Hal ini disebut dengan analisis situasi. Model yang popular untuk analisis situasi adalah Analisis SWOT Rangkuti, (2006:19)
a. Analisis Situasi Eksternal
Lingkungan eksternal terdiri dari variabel-variabel (kesempatan dan ancaman) yang berada diluar organisasi dan tidak secara khusus ada dalam pengendalian jangka pendek dari manajemen puncak. Variabel-variabel tersebut membentuk keadaan dalam organisasi dimana organisasi ini hidup. Lingkungan eksternal memiliki dua bagian yaitu lingkungan kerja dan lingkungan sosial Hunger and Wheleen (2003)
Peluang dan ancaman eksternal merujuk pada peristiwa dan tren perekonomian, sosial dan budaya, politik dan pemerintahan, konsumen dan pemasok, tingkat teknologi dan persaingan yang dapat menguntungkan atau merugikan suatu organisasi secara berarti di masa depan. Peluang dan ancaman sebagian besar di luar kendali suatu organisasi. Perusahaan harus merumuskan strategi untuk memanfaatkan peluang-peluang eksternal dan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman ekstenal David (2002).
Analisis lingkungan eksternal adalah suatu proses yang digunakan perencanaan strategi untuk memantau sektor lingkungan dalam menentukan peluang dan ancaman perusahaan sampai kepala pangkalnya. Kemudian memastikan pengaruh eksternal dapat disalurkan melalui arah yang positif dan dapat memberikan konribusi optimal kepada perusahaan Harisudin, (2009)
b. Analisis Situasi Internal
Kekuatan dan kelemahan internal adalah segala kegiatan dalam kendali organisasi yang bisa dilakukan dengan sangat baik atau buruk. Kekuatan dan kelemahan tersebut ada dalam kegiatan manajemen, pemasaran,
keuangan/akuntansi, produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi manajemen di setiap perusahaan. Setiap organisasi berusaha menerapkan strategi yang menonjolkan kekuatan internal dan berusaha menghapuskan kelemahan internal David (2004).
Lingkungan internal terdiri dari variabel-variabel (kekuatan dan kelemahan) yang ada di dalam organisasi tetapi biasanya tidak dalam pengendalian jangka pendek dari manajemen puncak. Variabel-variabel tersebut merupakan bentuk suasana dimana pekerjaan dilakukan. Variabel-variabel itu meliputi struktur, budaya, dan sumber daya organisasi Hunger and Wheleen, (2003)
Tujuan akhir dilakukannya analisis internal adalah terumuskannya faktor-faktor strategi kekuatan dan kelemahan. Faktor-faktor-faktor internal yang perlu dianalisis adalah manajemen internal, baruan pemasaran, produksi, keuangan, penelitian dan pengembangan (litbang) Harisudin, (2009).