BAB II TENTANG BAGI HASIL DAN TABUNGAN HAJI
B. Tabungan Haji
2. Manfaat
a. Secara Teoritis, sebagai pengembangan ilmu pengetahuan muamalah pada umumnya dan khususnya tentang analisis penerapan bagi hasil pada tabungan haji di BRI Syariah
b. Secara Praktis,
1) Bagi Bank Syariah
Sebagai kontribusi ilmiah untuk menambah ilmu dan wawasan pengetahuan. Selain itu diharapkan dapat menjadi sumber rujukan atau informasi bagi BRI Syariah dalam meningkatkan pengguna produk tabungan haji dan memberikan masukan terhadap bagi hasil yang sudah diterapkan di BRI Syariah apakah sudah sesuai dengan prinsip syariah atau tidak terutama pada produk tabungan haji.
2) Bagi Masyarakat
Agar masyarakat mengetahui tentang perkembangan Bank Syariah dalam mengembangkan Perbankan Syariah di Indonesia dan memberikan informasi kepada masyarakat, terutama kepada para masyarakat yang akan atau dan sudah menggunakan produk tabungan haji yaitu bagaimana system penerapan bagi hasil yang diterapkan BRI Syariah untuk para nasabahnya apakah masih mengandung unsur riba atau tidak.
D. Kajian Studi (Review) Terdahulu
1. Yulianti, 2010. Tinjauan Hukum Positif Terhadap Praktek Bagi Hasil pada Bank Syariah (Studi Pada Bank BRI Syariah Cabang Bendung Hilir Jakarta Pusat) Penelitian dalam skripsi ini berfokus pada bagaimana hukum positif tentang penerapan praktek bagi hasil pada BRI Syariah yang disesuaikan dengan UU No. 21 Tahun 2008, Sedangkan penulis memfokuskan penelitian skripsi ini tentang tinjauan penerapan bagi hasil pada tabungan haji di BRI Syariah Pusat Jakarta, jadi penulis hanya meneliti tentang penerapan bagi hasil pada produk tabungan haji di BRI Syariah saja.
2. Suhaeti, 2010. Keunggulan Kompetitif Produk Tabungan Haji Bank Syariah (BMI, BSM dan Bank DKI Syariah). Penelitian dalam skripsi ini berfokus pada keunggulan kompetitif yang diberikan pada produk tabungan haji serta keuntungannya atau kekurangannya pada produk tersebut di bank-bank syariah yaitu BMI, BSM dan Bank DKI Syariah, sedangkan penulis memfokuskan penelitian skripsi ni tentang tinjauan penerapan bagi hasil pada tabungan haji di BRI Syariah Pusat Jakarta, jadi penulis hanya meneliti tentang penerapan bagi hasil pada produk tabungan haji di BRI Syariah saja.
3. Ihdini Maulida Rahmah, 2011. Manajemen Pengelolaan Dana Tabungan Haji Pada BNI Syariah Cabang Jakarta Selatan. Penelitian dalam skripsi ini berfokus pada mekanisme, pengelolaan tabungan haji di BNI Syariah dan pola kerjasama yang dilakukan BNI Syariah dengan Kementerian
Agama RI beserta analisis SWOT, sedangkan penulis hanya memfokuskan penelitian skripsi ini tentang tinjauan penerapan bagi hasil pada tabungan haji di BRI Syariah Pusat Jakarta jadi penulis hanya meneliti tentang penerapan bagi basil pada produk tabungan haji di BRI Syariah saja.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian
“Kualitatif“, yaitu metode penelitian yang data-datanya tidak berwujud angka-angka biasa berupa verbal yang diperoleh sebagai hasil penjumlahan. Metode penelitian ini bersifat deskriptif karena data yang dianalisis itu berupa deskripsi.
Deskriptif menurut pengertiannya adalah pencarian fakta dengan interpretasi yang tepat. Kualitatif adalah penelitian yang berupa kata-kata atau gambar bukan angka-angka, kalaupun ada angka-angka sifatnya sebagai penunjang. Jadi, penelitian ini adalah penelitian berdasarkan fakta-fakta atau kejadian yang tidak direkayasa dan penelitian ini menggunakan kata-kata, tulisan-tulisan ataupun gambar-gambar yang sesuai dengan fakta bukan penelitian yang menggunakan angka sebagai penjelasannya.
2. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa penelitian langsung pada Bank BRI Syariah dan pendekatan penelitian ini juga dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan informasi agar data yang diterima oleh penulis benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan.
3. Jenis Data dan Sumber Data
Dalam menyusun karya ilmiah ini, penulis menggunakan dua sumber jenis data yaitu:
a. Sumber Data Primer
Merupakan sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dalam hal ini adalah penulis. Data yang diperoleh penulis berupa dari hasil wawancara dengan pihak yang terkait pada Bank BRI Syariah serta documenter-dokumenter perusahaan, berupa arsip atau dokumen yang relevan dengan pembahasan penelitian penulis.
b. Sumber Data Sekunder
Merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data. Data yang diperoleh dari literature-literatur kepustakaan, seperti buku-buku, majalah, internet, artikel serta sumber-sumber data lainnya yang mempunyai relevansi dengan penulisan karya ilmiah ini.
4. Tehnik Pengumpulan Data
Sesuai dengan permasalahan yang diangkat oleh penulis, maka dalam pengumpulan data karya ilmiah ini penulis menggunakan penelitian sebagai berikut:
a. Penelitian Kepustakaan (Library Research)
Penelitian yang dilakukan diperpustakaan ini mengambil setting perpustakaan sebagai tempat penelitian dengan objek penelitiannya adalah bahan-bahan kepustakaan, seperti buku-buku, sumber dokumen perusahaan, surat kabar, internet dan kepustakaan lainnya yang mendukung serta berkaitan dengan penelitian ini. b. Penelitian Lapangan (Field Research)
Adapun penelitian lapangan yang penulis lakukan adalah dengan melakukan observasi ketempat penelitian dan wawancara dengan nara sumber terkait, sehingga penulis dapat mengetahui secara langsung bagaimana mengelola dan memanajemen produk tabungan haji sampai dengan pembagian hasilnya.
5. Tehnik Analisa
Berdasarkan permasalahan yang akan diangkat oleh penulis maka, setelah data dikumpulkan kemudian diolah, dan dianalisa dengan analisa deskriptif. Maka analisis yang digunakan adalah analisis induktif dengan menarik hal-hal yang bersifat khusus ke dalam hal-hal yang bersifat umum, Setelah dilakukan analisis terhadap penerapan bagi hasil pada tabungan haji di BRI Syariah, kemudian ditafsirkan dengan kerangka
pemikiran berdasarkan studi pustaka, takhir adalah menarik kesimpulan sesuai dengan permasalahan penelitian.
F. Tehnik Penulisan
Penulisan skripsi ini mengacu pada Buku Pedoman Penulisan Skripsi yang diterbitkan oleh Fakultas Ilmu Dakwah dan fimu Komunikasi.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan menggambarkan secara garis besar tentang apa yang akan ditemukan dalam skripsi ini. Skripsi mi terdiri dari lima bab, berikut ini sistematika penulisannya secara lengkap dan jelas.
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini merupakan bagian pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan kajian terdahulu, metode penelitian dan sistematika penulisan,
BAB II TENTANG BAGI HASIL DAN TABUNGAN HAJI
Pada bab ini, terdapat tiga sub bab pertama membahas tentang konsep bagi hasil pada tabungan haji mudharabah yang terdiri dari: pengertian penerapan bagi hasi1, bagi hasil dalam perbankan syariah, dan perbedaan bagi hasil dengan bunga. Sub bab kedua membahas tentang teori nisbah bagi hasil yang terdiri dari: pengertian nisbah bagi hasil, faktor-faktor yang
mempengaruhi bagi hasil, dan mekanisme perhitungan bagi hasil. Sub bab ketiga membahas tutang iabungn haji mud? swubah mutksqah yg terdiri dari : pengertian tabungan haji, karakteristik tabungan haji, mekanisme dan operasional tabungan haji, dan akad mudharabah mutlaqah dalam tabungan haji.
BAB III PROFIL UMUM BRI SYARIAH
Bab ini Membahas tentang profil BRI Syariah serta mencakup Sejarah berdirinya BRI Syariah. Visi dan Misi BRI Syariah, Struktur Organisasi BRI Syariah, Dan produk tabungan haji di BRI Syariah beserta pembiayaan-pembiayaan yang di berikan dari BRI Syariah.
BAB IV PENERAPAN BAGI HASIL PADA BRI SYARIAH
Bab ini membahas mengenai tinjauan penerapan bagi hasil pada tabungan haji mudharabah di BRI Syariah dan prinsip mudhambah pada tabungan haji menguraikan mengenai analisis terhadap sistem bagi hasil pada tabungan haji BRI Syariah, penerapan bagi hasil di BRI Syariah, dan perkembangan produk tabungan haji dan talangan haji BRI Syariah dari tahun ke tahun. BAR V PENUTUP
Dalam bab ini merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan pembahasan beberapa pokok permasalahan dan saran-saran.
15 A. Bagi Hasil
1. Pengertian Nisbah Bagi Basil (Profit loss sharing)
Dengan melarang riba, Islam berusaha membangun sebuah masyarakat berdasarkan kejujuran dan keadilan. Model ekonomi kovensional di mana, seorang kreditur akan mendapatkan keuntungan dan debitur tanpa memperdulikan hasil usaha debitur. Akan lebih adil jika kedua belah pihak kredit maupun debitur sama-sama menanggung keuntungan maupun kerugian, dan inilah konsep mudharabah dalam ekonomi Islam dengan sistem bagi basil bukan dengan bunga (tiba). Jadi, yang dilarang dalam Islam adalah keuntungan yang ditetapkan sebelumnya. Pembagian keuntungan yang sah dan dapat diterima menjadi fondasi pengembangan dan implementasi perbankan Islam.
Dalam Islam pemilik modal dapat secara sah mendapatkan bagian dari keuntungan yang diperoleh pelaksana usaha. Sistem bagi hasil dibolehkan dalam Islam karena yang ditetapkan sebelumnya adalah rasio bagi hasil, bukan tingkat keuntungan seperti yang berlaku dengan sistem bunga.1
1
Latifa M Algaond dan Mervyn K Lewis, Perbaikan Syariah Prinsip, Praktik dan Prospek (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007), h. 58.
Nisbah adalah rasio atau perbandingan pembagian keuntungan (bagi hasil) antara shahibul maal dan mudharib.1 Bagi hasil adalah bentuk retrun dari kontrak investasi, dan waktu ke waktu, tidak pasti dan tidak tetap. Besar kecilnya peroleh kembali itu bergantung pada hasil usaha yang benar-benar terjadi. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sistem bagi hasil merupakan salah satu praktik perbankan syariah.2
Dalam bank syariah nisbah bagi basil merupakan kesepakatan porsi bagi basil yang akan diperoleh pemilik dana (shahibul mal) dan pengelola dana (mudharib) yang tertuang dalam akad perjanjian yang telah ditandatangani pada awal sebelumnya dilakukan akad kerja sama, a. Landasan Syariah
QS. Al-Baqarah [2] : 282
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu melakukan transaksi utang-piutang untuk jangka waktu yang ditentukan, tulislah...”
QS. Al-Ma’idah [5]: 1
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu.”
1
Sunarto Zulkifli, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah, Cet. ifi (Jakarta: Zikrul Hakim, 2007), h. 180.
2
Adiwarman Karim, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Cet. III (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004), h.191.
b. Ketentuan Bagi Hasil
1) Pada dasarnya, LKS boleh menggunakan prinsip bagi hasil (Net Revenue Sharing) maupun bagi untuk (Profil Sharing) dalam pembagian hasil usaha dengan kemitraan (nasabah)-nya.
2) Dilihat dan segi kemaslahatan (al-aslah), saat ini, pembagian hasil usaha sebailcnya digunakan prinsip Bagi Hasil (Net Revenue Sharing).
3) Penetapan prinsip pembagian hasil usaha yang dipilih harus disepakati dalam akad4.
c. Konsep Bagi Hasil
1) Pemilik dana menginvestasikan dananya melalui lembaga keuangan atau bank bertindak sebagai pengelola dana.
2) Pengelola (bank) mengelola dana tersebut dalam sistem pool of fund selanjutnya akan menginvestasikan dana tersebut kedalam proyek atau usaha yang layak dan menguntungkan serta memenuhi aspek syariah.
3) Kedua belah pihak menandatangani akad yang akan berisi ruang lingkup kerjasama, nominal, nisbah dan jangka waktu berlakunya kesepakatan tersebut.5
4
Dewan Syariah Nasional No. : 15/DSN-MUI/ix/2000, Prinsip Distribusi Hasil Usaha
Dalam Lembaga Keuangan Syari’ah, h. 83. 5
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah: Konsep, Produk Dan Implementasi Operasional (Jakarta: Djambatan, 2001), h.265.
2. Prinsip Bagi Hasil Menurut Syari’ah
Prinsip bagi hasil (profit sharing), secara umum dalam perbankan syariah dapat dilakukan dalam empat akad utama6, yaitu al-musyarakah, al-mudharabah, almuzara’ah dan al-mushaqah. Walaupun demikian, prinsip yang paling banyak dipakai adalah al-musyarakah dan al-mudharabah, sedangkan almuzara‘ah dan al-mushaqah dipergunakan khusus untuk plantation financing atau pembiayaan pertanian oleh beberapa bank Islam.
Istilah mudharabah berasal dan kata dharb fi al-ardh orang yang bepergian di atas bumi (yadribuna fi al-ardh) mencari karunia Allah (almuzammil:20). Karena pekerjaan dan perjalanannya, mudharib berhak atas sebagian keuntungan usaha. Dalam sunnah, para fukaha bersandar pada praktik mudharabah antara Nabi SAW dan Khadijah sebelum pernikahannya, ketika Nabi SAW mengadakan perjalanan dagang ke Syria untuk Khadijah. Jadi, dalil hukum yang dipergunakan untuk mendukung model ini adalah al-Qur’an dan Sunnah7
.
Secara teknis, Al-Mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha berdasarkan mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh
6
Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktik (Jakarta: Gema Insani Press, 2001), h.98.
7
Latifa M Algaoud dan Mervyn K Lewis, Perbankan Syariah Prinsip. Praktik dan Prospek, h.38.
pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kekurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Landasan syariah yang mendasari akad ini adalah Al-Qur’an Surat
Al-Muzzammil ayat 20, yang artinya:
“...dan dari orang-orang yang benjalan dimuka bumi mencari
sebagian karunia Allah...”
Sedangkan Hadist Nabi menyatakan sebagai berikut:
“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana kemitra usahanya secara mudharabah Ia mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya atau membeli ternak. Jika menjalani peraturan tersebut, yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikan syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah SAW, dan Rasulullah
membolehkannya.”
Secara umum mudharabah terbagi menjadi dua jenis8, yaitu: mudharabah muthlaqah adalah bentuk kerjasama antara shahibul maal dan mudhanib yang cakubannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu dan daerah bisnis.
Sedangkan mudharabah muqayyadah, atau disebut juga dengan istilah restricted mudharabah / specified mudharabah adalah kebalikan
8
Wahbah Az-Zahai1y, A1-Fiqhu A1-Islaamiyu wa Adiliatuhu, h. 840. Baca juga Muhammad Syafi’i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, h.97.
dan mudharabah muthlaqah. Si mudharib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si shahibul maal dalam memasuki jenis dunia usaha.
Kerjasama mudharabah ini merupakan kerjasama kepercayaan penuh oleh karena itu, mudharib sebagai pihak yang diberi amanah dan dipercaya untuk mengelola usaha hendaknya dapat meneladani sifat Rasul yaitu STAF (Siddiq, Tabligh, Amanah, Fathanah). Sikap dan tingkah laku mudharib hendaknya Shiddiq (benar, jujur), tabligh (komunikatif, kredibilitas), dan fathanah (cerdik. bijaksana, intelektual). Tanpa dilandasi hal tersebut, tidak ada keadilan antara pemilik dana dan pengelola dana. Kejujuran, keterbukaan, amanah sangat diperlukan oleh para pengelola bank syariah, terutama yang berkaitan dengan pembagian hasil usaha yang merupakan karakteristik utama bank syariah.
Konsep bagi hasil berlandaskan pada beberapa prinsip dasar. Selama prinsip-prinsip dasar ini dipenuhi, detail dan aplikasinya akan bervariasi dan waktu ke waktu. Ciri utama pola bagi hasil adalah bahwa keuntungan dan kerugian ditanggung bersama baik oleh pemhlik dana maupun pengusaha.
Beberapa prinsip dasar yang dikemukakan oleh usmani9, adalah sebagai berikut:
a. Bagi hasil tidak berarti meminjamkan uang, tetapi merupakan partisipasi dalam usaha.
b. Investor atau pemilik dana harus ikut menanggung resiko kerugian usaha sebatas proposi pembiayaannya.
c. Para mitra usaha bebas menentukan, dengan persetujuan bersama, rasio keuntungan untuk masing-masing pihak, yang dapat berbeda dan rasio pembiayaan yang diisyaratkan.
d. Kerugian yang ditanggung oleh masing-masing pihak harus sama dengan proposi investasi mereka.
Prinsip bagi hasil menurut Antonio Syafi’i10 :
a. Penentuan besarnya rasio atau nisbah bagi hasil disepakati pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi. b. Besarnya rasio bagi hasil didasarkan pada jumlah keuntungan yang
diperoleh.
c. Rasio bagi hasil tetap tidak berubah selama akad masih berlaku, kecuali diubah atas kesepakatan bersama.
d. Bagi hasil bergantung pada keuntungan usaha yang dijalankan. Bila usaha merugi, kerugian akan ditanggung bersama.
e. Jumlah pembagian laba meningkat sesuai dengan pembagian keuntungan.
Dapat disimpulkan bahwa bagi basil adalah suatu sistem yang meliputi tata cara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan
pengelola dana. Pembagian hasil usaha ini salah satu contohnya dapat terjadi diantara pihak bank dengan pihak nasabah. Kedua belah pihak sama-sama sepakat bahwa modal usaha yang diberikan pihak pertama akan dikelola pihak kedua secara professional dan bertanggung jawab.
3. Sistem Bagi Hasil
Dalam aplikasi perbankan syariah pada umumnya bank dalam sisitem bagi hasil dapat menggunakan sistem profit sharing maupun revenue sharing tergantung kepada kebijakan masing-masing bank untuk memilih salah satu dan sistem yang ada11. Dari pengamatan yang dilakukan saat ini lembaga keuangan syariah, baik Bank Umum Syariah, Bank Konvensional yang mempunyai cabang syariah, Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), dan Baitul Mal Tamwil (BMT) di Indonesia, dalam melakukan distribusi hasil usaha antara shahibul mal (deposan) dengan lembaga keuangan syariah sebagai mudharib masih mempergunakan metode pembagian laba (profit sharing)12.
Berikut ini adalah penjelasan dari sistem bagi hasil yang terdapat pada perbankan syariah:
a. Profit Sharing
Profit Sharing adalah perhitungan bagi hasil berdasarkan kepada hasil hasil net dari total pendapatan setelah dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan
11
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional,h. 264.
12
Wiroso, Pernghimpunan Dana dan Distribusi Hasil Usaha Bank Syariah (Jakarta : PT. Grasindo, 2005), h. 120.
tersebut13. Pendapatan-pendapatan tersebut diatas, setelah dikurangi dengan biaya-biaya operasional, harus dibagi antara bank dengan para penyandang dana, yaitu nasabah investasi, para penabung, dan para pemegang saham sesuai dengan nisbah yang diperjanjikan14.
Sistem profit sharing, dimana bagi hasil dihitung berdasarkan pendapatan netto setelah dikurangi biaya bank, maka kemungkinan yang akan terjadi adalah bagi hasil yang akan diterima oleh para shahibul mal (pemilik dana) akan semakin kecil, tentunya akan mempunyai dampak yang cukup signifikan apabila ternyata secara umum tingkat suku bunga pasar lebih tinggi. Kondisi ini akan mempengaruhi keinginan masyarakat untuk menginvestasikan dananya ke bank syariah, yang berdampak pada jumlah dan pihak ketiga secara keseluruhan15.
Sistem profit sharing, apabila dipertahankan dalam memperhitungkan bagi hasil mereka, maka jalan satu-satunya untuk menghindari resiko tersebut diatas adalah dengan cara bank harus mengalokasikan sebagian dan porsi bagi hasil yang mereka terima untuk subsidi terhadap bagi hasil yang akan dibagikan kepada nasabah pemilik dana. Dengan kata lain bank mengurangi porsi bagi
13
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional,h. 264.
14
Zainul Arifin, Dasar-Dasar Manajemen Bank Syariah, h. 57. 15
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional, h. 264.
hasil yang mereka peroleh untuk menutupi kekurangan bagi hasil yang akan diterima oleh nasabah (deposan)16.
b. Revenue Sharing
Revenue sharing adalah perhitungan bagi hasil didasarkan pada total seluruh pendapatan sebelum dikurangi dengan biaya-biaya yang telah dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan tersebut17.
Besarnya pendapatan yang dibagikan dalam perhitungan distribusi hasil usaha dengan prinsip bagi hasil (revenue sharing) ini adalah pendapatan (revenue) dan pengelola dana (penyaluran) sebesar porsi dan mudharabah (investasi tidak terikat) yang dihimpun tanpa adanya pengurangan beban-beban yang dikeluarkan bank syariah18.
Revenue sharing, dimana bagi hasil yang akan didistribusikan dihitung dan total pendapatan bank sebelum dikurang pendapatan bank sebelum dikurangi dengan biaya-biaya bank, maka kemungkinan yang terjadi adalah tingkat bagi hasil yang diterima oleh pemilik dana untuk mengarahkan investasinya kepada bank syariah yang nyatanya justru mampu memberikan hasil yang
16
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional, h. 265.
17
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional, h. 264.
18
optimal, dan pada akhirnya akan berdampak pada peningkatan total dana pihak ketiga pada bank syariah19.
Revenue sharing mengandung kelemahan, karena apabila tingkat pendapatan bank sedemikian rendah maka bagian bank, setelah pendapatan didistribusikan oleh bank, tidak mampu membiayai kebutuhan operasionalnya (yang lebih besar dari pendapatan fee) sehingga merupakan kerugian bank dan membebani para pemegang saham sebagai penanggung kerugian20.
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Bagi Hasil a. Faktor Langsung
Diantara faktor-faktor langsung (direct factors) yang mempengaruhi perhitungan bagi hasil adalah investment rate, jumlah dana yang tersedia dan nisbah bagi hasil (profit sharing ratio). 1) Investment rate, merupakan persentase actual dana yang
diinvestasikan dan total dana. Jika bank menentukan investment rate sebesar 80%, hal ini berarti 20% dari total dana yang dialokasikan untuk memenuhi likuiditas.
2) Jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan merupakan jumlah dana dari berbagai sumber dana yang tersedia untuk diinvestasikan. Dana tersebut dapat dihitung dengan menggunakan salah satu metode:
19
Tim Pengembang Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, Bank Syariah : Konsep, Produk dan Implentasi Operasional,h. 265.
20
a) Rata-rata saldo minimum bulanan b) Rata-rata total saldo harian
Investment dikalikan dengan jumlah dana yang tersedia untuk diinvestasikan akan menghasilkan jumlah dana yang aktual yang digunakan.
3) Nisbah (profit sharing ratio)
a) Salah satu ciri mudharabah adalah nisbah yang harus ditentukan dan disetujui pada awal perjanjian.
b) Nisbah antara sam bank dengan bank lainnya dapat dibedakan.
c) Nisbah juga dapat berbeda dari segi waktu ke waktu dalam satu bank misalnya deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.
d) Nisbah juga dapat berbeda antara satu account dengan account lainnya sesuai dengan besarnya dana dan jatuh temponya.
b. Faktor tidak langsung
1) Penentuan butir-butir pendapatan dan biaya mudharabah