BAB II TINJAUAN PUSTAKA
D. Transparansi
2. Manfaat Transparansi Keuangan
Menurut Medina (2012) manfaat transparansi keuangan yaitu:
a. Transparansi dapat mengurangi ketidakpastian yang memberikan kontribusi pada stabilitas fiskal dan makro ekonomi sehingga penyesuaian di kemudian hari dapat diminimalisir.
b. Meningkatkan akuntabilitas pemerintah. Legislatif, media, dan masyarakat dapat melaksanakan fungsi kontrol terhadap pemerintah lebih baik jika mereka mempunyai informasi tentang kebijakan, pelaksanaan kebijakan, dan penerimaan atau pengeluaran pemerintah. Para pejabat publik akan berlaku lebih bertanggung jawab jika keputusan yang diambil dilakukan secara terbuka atau transparan untuk publik dan dapat mencegah adanya korupsi, kolusi, dan nepotisme.
c. Transparansi dapat meningkatkan kepercayaan kepada pemerintah dan membangun hubungan sosial yang lebih erat, misalnya masyarakat dapat memahami kebijakan pemerintah dan bahkan mendukung kebijakan tersebut.
24 3. Prinsip Transparansi Keuangan
Menurut Mardiasmo (2009), prinsip-prinsip transparansi keuangan yaitu:
a. Informativeness (Informatif)
Informatif adalah pemberian arus informasi, berita, penjelasan mekanisme, prosedur, data, fakta, kepada stakeholders yang membutuhkan informasi secara jelas dan akurat. Indikator dari informatif adalah:
1) Tepat waktu. Laporan keuangan harus disajikan tepat waktu agar dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi, sosial, politik serta untuk menghindari tertundanya pengambilan keputusan tersebut.
2) Memadai. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mencakup dimuatnya pengungkapan informatif yang memadai atas hal-hal material.
3) Jelas. Informasi harus jelas sehingga dipahami sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.
4) Akurat. Informasi harus bebas dari kesalahan dan tidak menyesatkan bagi pengguna yang menerima dan memanfaatkan informasi tersebut.
5) Dapat diperbandingkan. Laporan keuangan hendaknya dapat diperbandingkan antar periode waktu dengan instansi yang
25
sejenis. Dengan demikian, daya banding berarti bahwa laporan keuangan dapat digunakan untuk membandingkan kinerja organisasi dengan organisasi lain yang sejenis.
b. Disclosure (Pengungkapan)
Indikator dari pengungkapan yaitu:
1) Kondisi Keuangan. Suatu tampilan atau keadaan secara utuh atas keuangan organisasi atau organisasi selama periode atau kurun waktu tertentu.
2) Susunan Pengurus. Komponen dalam organisasi. Struktur organisasi menunjukkan adanya pembagian kerja dan menunjukkan bagaimana fungsi atau kegiatan yang berbeda tersebut diintergrasikan.
3) Bentuk Perencanaan dan Hasil dari Kegiatan. Serangkaian tindakan untuk mencapai hasil yang diinginkan.
4. Bentuk Pelaksanaan Transparansi Publik
Transparansi penyelenggaraan publik adalah pelaksanaan tugas dan kegiatan yang bersifat terbuka bagi masyarakat dari proses kebijakan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan/pengendaliannya, serta mudah diakses oleh semua pihak yang membutuhkan informasi.
Menurut Ruminto dan Winarsih (2005), bentuk pelaksanaan transparansi pelayanan publik yaitu:
26
a. Prosedur pelayanan menunjukkan adanya tahapan secara jelas dan pasti serta cara yang harus ditempuh dalam rangka penyelesaian seseuatu pelayanan.
b. Waktu penyelesaian pelayanan merupakan jangka waktu penyelesaian suatu pelayanan publik mulai dari dilengkapinya atau dipenuhinya persyaratan teknis dan persyaratan administratif sampai dengan selesainya suatu proses pelayanan.
c. Pejabat atau petugas yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab dalam hal pemberian pelayanan dan/atau penyelesaian suatu keluhan.
d. Setiap unit pelayanan instansi pemerintah wajib menyusun standar pelayanan masing-masing sesuai dengan tugas dan kewenangannya, dan dipublikasikan kepada masyarakat sebagai jaminan adanya kepastian bagi penerima pelayanan.
5. Indikator Transparansi yang terdapat dalam Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2020:
a. Kepala Desa memfasilitasi BPD untuk melaksanakan Musdesus dengan mengundang perwakilan masyarakat untuk membantu verifikasi dan validasi data terkait penentuan calon penerima BLT-DD.
b. Pemerintah desa menyebarluaskan daftar penerima BLT-DD yang sudah disahkan oleh Kepala Desa di papan informasi yang mudah diakses dan dijangkau.
27 E. Akuntabilitas
1. Pengertian Akuntabilitas
Menurut Permendagri 113 Tahun 2014, akuntabilitas yaitu perwujudan kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumberdaya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Asas akuntabel yang menentukan bahwa setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggara pemerintah desa harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat desa sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.
Menurut Mursyidi (2013), akuntabilitas adalah mempertanggung jawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. Mardiasmo (2006), akuntabilitas adalah bentuk kewajiban mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya, melalui suatu media pertanggungjawaban yang dilaksanakan secara periodik.
Menurut Sedarmayanti (2003), akuntabilitas adalah kewajiban untuk memberikan pertanggungjawaban atau menjawab dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang atau suatu organisasi kepada pihak yang memiliki hak atau berkewenangan untuk meminta keterangan atau pertanggungjawaban.
28 2. Prinsip Akuntabilitas
Menurut LAN dan BPKP (2000), prinsip akuntabilitas adalah sebagai berikut:
a. Harus ada komitmen dari pimpinan dan seluruh staf instansi untuk melakukan pengelolaan pelaksanaan misi agar akuntabel.
b. Harus merupakan suatu sistem yang dapat menjamin penggunaan sumber daya secara konsisten dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
c. Harus dapat menunjukkan tingkat pencapaian tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.
d. Harus berorientasi pada pencapaian visi dan misi serta hasil dan manfaat yang diperoleh.
3. Dimensi Akuntabilitas
Menurut Mahmudi (2013) terdapat lima dimensi akuntabilitas yaitu:
a. Akuntabilitas Hukum dan Kejujuran. Akuntabilitas hukum dan kejujuran adalah akuntabilitas lembaga publik untuk berperilaku jujur dalam bekerja dan mentaati ketentuan hukum yang berlaku.
b. Akuntabilitas Manajerial. Akuntabilitas manajerial adalah pertanggungjawaban lembaga publik untuk melakukan pengelolaan organisasi secara efektif dan efisien.
c. Akuntabilitas Program. Akuntabilitas program berkaitan dengan pertimbangan apakah tujuan yang ditetapkan dapat dicapai atau tidak,
29
dan apakah organisasi telah mempertimbangkan alternatif program yang memberikan hasil dengan biaya yang minimal.
d. Akuntabilitas Kebijakan. Akuntabilitas kebijakan terkait dengan pertanggungjawaban lembaga publik atas kebijakan yang diambil.
e. Akuntabilitas Finansial. Akuntabilitas finansial adalah pertanggungjawaban lembaga publik untuk menggunakan uang publik secara ekonomi, efisien dan efektif, tidak ada pemborosan dan kebocoran dana serta korupsi.
4. Indikator akuntabilitas yang terdapat dalam Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2020:
a. Melakukan Musrenbangdes untuk mendiskusikan perubahan kegiatan untuk pemenuhan kebutuhan sosial berkaitan dengan bantuan yang berupa BLT-DD.
b. Penyaluran BLT-DD dilakukan secara tunai dan non-tunai.
c. Penyampaian laporan hasil penyaluran BLT-DD kepada pihak yang berwenang yaitu Inspektorat dan KPPN (Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara) untuk syarat anggaran BLT-DD bulan berikutnya.
30 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif.
Penelitian kualitatif didefinisikan sebagai suatu pendekatan atau penelusuran untuk mengeksplorasi dan memahami suatu gejala sentral, untuk mengetahui gejala sentral tersebut peneliti mewawancarai partisipan dengan mengajukan pertanyaan yang umum dan luas. Informasi yang berupa kata-kata atau teks tersebut kemudian dikumpulkan dan dianalisis (Creswell, 2008).
Menurut Bogdan dan Taylor (Moleong,2007: 3) mengemukakan bahwa metodologi kualitatif yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan kualitatif yang digunakan dalam penelitian berimplikasi pada penggunaan ukuran-ukuran kualitatif secara konsisten, artinya dalam pengolahan data, menyajikan dan memverifikasi serta menyimpulkan data tidak menggunakan perhitungan secara matematis atau statistik, melainkan lebih menekankan pada kajian interpretatif. Kajian interpretatif sendiri itu merupakan kajian yang dijelaskan dalam bentuk kata-kata atau deskripsi peneliti yang bersumber dari data yang diperoleh di lapangan.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang melakukan wawancara kepada pihak aparatur desa terkait penerapan asas transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran BLT-DD. Penelitian studi kasus ini meneliti suatu kasus
31
mengenai penerapan asas transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran BLT-DD di Desa Karanglo.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Maret-April 2021 di Kantor Kepala Desa Karanglo yang terletak di Jl. Karanglo, Plumbon, Karanglo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten.
C. Subjek Penelitian
Subjek penelitian yaitu sebagai informan yang memberikan informasi tentang situasi dan kondisi di tempat penelitian. Subjek penelitian ini adalah aparatur desa di Desa Karanglo dan masyarakat penerima BLT-DD di Desa Karanglo, Kecamatan Polanharjo yang nantinya akan memberikan informasi mengenai penerapan asas transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran BLT-DD.
D. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
1. Data Primer
Dalam penelitian ini, sumber data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari hasil wawancara kepada aparatur desa dan masyarakat penerima BLT-DD di Desa Karanglo sebagai informan terkait objek penelitian mengenai penerapan asas transparansi dan akuntabilitas penyaluran BLT-DD di Desa Karanglo. Informan aparatur desa di wakilkan oleh Sekretaris Desa yaitu Bapak Sudaryono, serta masyarakat penerima
32
BLT-DD yaitu Ibu Nita, Bapak Sarjono, Bapak Doni, Bapak Mujiraharjo, Bapak Wahyudi.
2. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah data yang digunakan untuk mendukung data primer yaitu melalui studi kepustakaan, dokumentasi, buku, arsip tertulis yang berhubungan dengan objek yang akan diteliti pada penelitian ini.
Sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya melalui orang lain atau dokumen (Sugiyono, 2015: 187).
a. Dokumen yang didapatkan di Desa Karanglo yaitu berupa daftar hadir penyaluran BLT-DD, surat undangan, fotocopy KTP dan KK, tanda terima penerimaan uang DD, hasil monitoring penyaluran BLT-DD.
b. Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 3 Tahun 2020 tentang penanggulangan corona virus disease 2019 (Covid-19) di desa melalui anggaran pendapatan dan belanja desa.
E. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Menurut Esrerberg (2002) dalam Sugiyono (2013: 72) mengartikan wawancara yaitu pertemuan dua orang untuk bertukar informasi serta ide dengan melakukan tanya jawab sehingga dapat di konstruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Teknik wawancara dilakukan secara intensif,
33
sehingga akan mampu memperoleh informasi sebanyak mungkin secara jujur dan detail. Dalam penelitian ini wawancara akan ditujukan kepada aparatur desa dan masyarakat penerima BLT-DD di Desa Karanglo tentang bagaimana penerapan asas transparansi dan akuntabilitas penyaluran BLT-DD di desa tersebut.
2. Observasi
Observasi atau mengamati suatu kegiatan yaitu peninjauan secara langsung pada saat penyaluran BLT-DD kepada masyarakat penerima yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana pemerintah desa menerapkan asas transparansi dan akuntabilitas dalam penyaluran bantuan langsung tunai dana desa di Desa Karanglo.
3. Dokumentasi
Menurut Sugiyono (2013: 82), dokumen yaitu catatan dari peristiwa penting yang sudah dilakukan. Dokumen tersebut bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang. Dalam penelitian ini dokumen yang digunakan yaitu berupa laporan mengenai penyaluran bantuan langsung tunai dana desa di Desa Karanglo.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data oleh Miles dan Huberman (1984) dalam Sugiyono (2013:91-99) menjelaskan bahwa terdapat tiga aktivitas dalam teknik analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Dalam penelitian ini peneliti melakukan aktivitas tersebut secara bertahap sebagai berikut:
34 1. Reduksi Data
Dalam mencari data di lapangan menggunakan panduan draft wawancara yang disusun berdasarkan Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2020. Data yang didapatkan dari lapangan perlu untuk dilakukan pencatatan yang teliti dan rinci, semakin lama peneliti ke lapangan maka jumlah data yang didapatkan semakin banyak. Untuk itu perlu dilakukan reduksi data yaitu merangkum, memilih hal yang penting, memfokuskan pada hal-hal yang pokok (Miles dan Huberman, 1984).
Sebelum melakukan reduksi data harus mencari data terlebih dahulu dengan melakukan wawancara kepada responden dengan menggunakan draft yang disusun sebelumnya dengan menggunakan acuan dari Instruksi Mendagri Nomor 3 Tahun 2020. Hasil wawancara tersebut kemudian dibuat dalam bentuk transkrip wawancara untuk dilakukan reduksi data. Reduksi data tersebut terkait 2 poin yaitu mengenai penerapan asas transparansi dan akuntabilitas penyaluran dana BLT-DD.
2. Penyajian Data
Setelah data di reduksi, kemudian hal yang harus dilakukan adalah menyajikan data berupa uraian singkat dan bagan. Miles dan Huberman (1984) menyatakan jika yang paling sering digunakan untuk menyajikan data adalah teks bersifat naratif. Bentuk penyajian data dalam penelitian penerapan asas transparansi dan akuntabilitas penyaluran BLT-DD di Desa
35
Karanglo ini akan disajikan dalam bentuk teks naratif yang berupa diagram atau bagan, catatan lapangan agar memudahkan untuk dibaca dan menarik kesimpulan.
3. Conclusing Drawing / Verification
Setelah data di reduksi dan disajikan, maka hal terakhir yang harus diakukan adalah membuat kesimpulan dan verifikasi. Peneliti akan memberikan kesimpulan bahwa dalam penyaluran BLT-DD di Desa Karanglo sudah menerapkan asas transparansi dan akuntabilitas yang didukung dengan bukti-bukti yang valid.
G. Kerangka Pemikiran
Dalam penyaluran BLT-DD tentunya berdasarkan pada peraturan yang berlaku untuk menjadi pedoman dalam penyaluran BLT-DD yaitu Instruksi Mendagri No 3 Tahun 2020. Dalam peraturan tersebut berisi mengenai mekanisme penyaluran BLT DD dan penyaluran tersebut dapat dilihat dari 2 asas keuangan desa yaitu asas transparansi dan akuntabilitas.
36
Gambar I. Kerangka Pemikiran Usulan Peneliti Bantuan
Langsung Tunai
Instruksi Mendagri No 3 Tahun 2020
Transparansi Akuntabilitas
Akuntabilitas Mekanisme Penyaluran
BLT Transparansi
Mekanisme Penyaluran BLT
37 BAB IV
GAMBARAN UMUM A. Gambaran Umum Kecamatan Polanharjo
1. Kondisi Geografis
Secara geografis Kecamatan Polanharjo merupakan salah satu Kecamatam yang berada di Kabupaten Klaten. Kecamatan Polanharjo memiliki 18 kelurahan atau desa, 115 RW dan 259 RT yang terdiri dari:
Tabel 1. Desa di Kecamatan Polanharjo
Nama Desa Nama Desa
1. Desa Borongan 10. Desa Kahuman 2. Desa Polan 11. Desa Turus
3. Desa Kebonharjo 12. Desa Wangen 4. Desa Ngaran 13. Desa Kapungan 5. Desa Nganjat 14. Desa Keprabon 6.Desa Janti 15. Desa Kranggan 7. Desa Jimus 16. Desa Ponggok 8.Desa Glagahwangi 17. Desa Sidowayah 9. Desa Karanglo 18. Desa Sidoharjo
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Klaten Tahun 2017 Kecamatan Polanharjo berbatasan dengan beberapa kecamatan dan kabupaten
yaitu: Sebelah Utara: Kabupaten Boyolali, Sebelah Timur: Kecamatan Delanggu, Sebelah Selatan: Kecamatan Ceper dan Kecamatan Karanganom, Sebelah Barat: Kecamatan Tulung
38
Gambar II. Peta Kabupaten Klaten
Sumber: https://www.visitklaten.com/artikel/peta-kabupaten-klaten/
a. Luas Wilayah Kecamatan Polanharjo
Berdasarkan luas wilayah, Kecamatan Polanharjo memiliki luas wilayah sebesar 23,84Km². Dengan kepadatan penduduknya sekitar 1.795 jiwa/Km². Luas wilayah tersebut terdiri dari lahan sawah seluas 1.823,84 hektar (76,48 persen) dan lahan bukan sawah seluas 561.00 hektar (23,52 persen). Lahan sawah dibagi menjadi berpengairan tehnis seluas 1.436,18 hektar (78,74 persen), berpengairan setengah tehnis seluas 380,66 hektar (20,88 persen), berpengairan sederhana seluas 7,00 hektar (0,38 persen).
Maka dari itu di Kecamatan Polanharjo masyarakatnya mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani.
39
Gambar III. Peta Kecamatan Polanharjo
Sumber: http://www.gkhwklaten.org/2008/10/peta-kabupaten-klaten-tiap-kecamatan.html 2. Kondisi Ekonomi
Apabila dilihat jarak letak desa-desa yang ada di Kecamatan Polanharjo tidak jauh dari jalan utama penghubung Yogyakarta-Solo.
Kecamatan Polanharjo berbatasan dengan daerah Delanggu, dimana daerah tersebut terdapat salah satu pasar besar yang ada di Kabupaten Klaten yaitu Pasar Delanggu. Infrastruktur jalan yang ada di Kecamatan Polanharjo baik jalan didalam desa maupun jalan besar terbilang sudah bagus karena semuanya sudah berlapis aspal. Hal ini tentu saja menjadi penunjang akses perekonomian yang baik dari desa ke kota. Kabupaten Klaten terkenal sebagai Lumbung Padi Nasional. Luas panen padi sawah pada tahun 2018 seluas 5.378 hektar naik sebesar 7,02 persen bila
40
dibandingkan luas panen padi sawah pada tahun 2017 yang seluas 5.025 hektar dan sebagian besar yaitu 92 persen lahan sawah di Kecamatan Polanharjo ditanami padi sepanjang tahun 2018. Selain di sektor pertanian di Kecamatan Polanharjo juga ada sektor perikanan. Luas areal perikanan pada tahun 2018 seluas 23,12 hektar, areal perikanan terluas terdapat di sawah yaitu seluas 12,00 hektar, di kolam seluas 6,83 hektar, di sungai sebesar 3,45 hektar, dan di genangan air seluas 0,84 hektar.
Kecamatan Polanharjo juga memiliki potensi populasi ternak sebagaimana kecamatan lainnya di Kabupaten Klaten. Potensi terbesarnya adalah ayam pedaging, dan pada tahun 2018 ada sekitar 116.178 ekor. Kemudian, ada populasi ayam buras sebanyak 69.387 ekor, serta ayam petelur sebanyak 28.207 ekor.
3. Kondisi Sosial
Desa yang ada di Kecamatan Polanharjo masih mengedepankan tolong-menolong, toleransi, kebersamaan seperti kehidupan yang ada di desa. Masyarakat tidak mengedepankan nilai individual seperti yan sudah banyak terjadi di masyarakat perkotaan. Hal tersebut dapat dilihat dengan rutinnya keiatan gotong royong, pengajian, jagongan dan paguyuban.
Pada kegiatan seperti gotong royong lebih dikedepankan dalam hal bebersih lingkungan desa dan juga merawat balai umum seperti posyandu dan kantor desa serta kantor dukuh. Masyarakat jua masih
41
serin melakukan kegiatan membantu tetangga yang sedang melakukan renovasi rumah atau pembuatan sumur. Tidak hanya itu, masyarakat juga biasanya membantu tetangga yang sedang memiliki hajatan atau acara.
4. Kondisi Demografis
Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Klaten, jumlah penduduk di Kecamatan Polanharjo tahun 2018 sebanyak 42.783 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki sebanyak 21.189 jiwa dan jumlah penduduk perempuan sebanyak 21.594 jiwa.
Kepadatan penduduk di Kecamatan Polanharjo sebesar 1.795 jiwa per Km².
B. Gambaran Umum Desa Karanglo
Desa Karanglo merupakan salah satu desa yang terletak di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Desa Karanglo memiliki luas wilayah 1,147 km² dengan batas wilayah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Desa Wangen Sebelah Selatan : Desa Jimus Sebelah Barat : Desa Ponggok Sebelah Timur : Desa Turus
Berdasarkan data monografi Desa Karanglo pada tahun 2021, terdapat sebanyak 759 KK dengan total penduduk berjumlah 2,092 jiwa dimana penduduk laki-laki sebanyak 1,025 jiwa dan penduduk perempuan sebanyak 1,067 jiwa. Masyarakat tersebut terbagi menjadi beberapa usia, usia
42
produktif 15-70 tahun sebanyak 1,480 jiwa, usia 0-15 tahun sebanyak 420 jiwa, sedangkan usia 70 keatas sebanyak 192 jiwa. Di Desa Karanglo rata-rata masyarakat berprofesi sebagai petani dan ada berbagai macam profesi lainnya.
Berikut data pekerjaan masyarakat Desa Karanglo menurut data monografi tahun 2021.
Tabel 2.Pekerjaan Masyarakat Desa Karanglo Tahun 2021 Jenis Pekerjaan Jumlah
43
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Selain masyarakat Desa Karanglo yang sudah memiliki pekerjaan, banyak masyarakat yang masih mengenyam di bidang Pendidikan. Maka dari itu, Desa Karanglo memiliki beberapa fasilitas Gedung sekolah yang digunakan dalam bidang Pendidikan.
Berikut sarana dan prasarana bidang Pendidikan yang ada di Desa Karanglo:
Tabel 3. Sarana dan Prasarana Pendidikan Desa Karanglo Tahun 2021
Pendidikan Jumlah
Taman Kanak-Kanak 2 buah
SD 2 buah
SMA 1 buah
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Selain fasilitas di bidang Pendidikan, Desa Karanglo juga memiliki fasilitas sarana dan prasarana tempat ibadah yang digunakan untuk menunjang masyarakat untuk bisa beribadah.
Berikut fasilitas sarana dan prasarana tempat ibadah yang ada di Desa Karanglo:
44
Tabel 4. Sarana dan Prasarana Tempat Ibadah Desa Karanglo Tahun 2021
Tempat Ibadah Jumlah
Masjid 6 buah
Kapel/Gereja 1 buah
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Desa Karanglo selain memiliki fasilitas sarana dan prasarana di bidang Pendidikan dan tempat ibadah, juga memiliki sarana dan prasarana di bidang olahraga.
Berikut sarana dan prasarana bidang olahraga di Desa Karanglo tahun 2021:
Tabel 5. Sarana dan Prasarana Bidang Olahraga di Desa Karanglo Tahun 2021
Sarana dan Prasarana Jumlah
Lapangan sepak bola 1 buah
Lapangan volley 3 buah
Lapangan bulu tangkis 1 buah
Lapangan basket 1 buah
Tabel 5. Sarana dan Prasarana Bidang Olahraga di Desa Karanglo Tahun 2021 (Lanjutan)
Lapangan tenis 1 buah
Lapangan tenis meja 2 buah
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Selain memiliki fasilitas olahraga, pastinya masyarakat juga membutuhkan fasilitas lain yang bisa menunjang kesehatan. Dan Desa Karanglo juga memiliki sarana dan prasarana di bidang kesehatan.
Berikut sarana dan prasarana bidang kesehatan di Desa Karanglo tahun 2021:
Tabel 6. Sarana dan Prasarana Bidang Kesehatan di Desa Karanglo Tahun 2021
Sarana dan Prasarana Jumlah
Puskesmas 1 buah
Posyandu 1 buah
45
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Selain itu, Desa Karanglo juga memiliki sarana dan prasarana yang bergerak di bidang tempat wisata.
Berikut sarana dan prasarana dalam bidang wisata yang dimiliki oleh Desa Karanglo:
Tabel 7. Sarana dan Prasarana Tempat Wisata Desa Karanglo Tahun 2021
Sarana dan Prasarana Jumlah
Taman Banyu Gemblinding 1 buah
Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
Desa Karanglo terbagi menjadi 6 dusun yang terdiri dari 5 RW dan 16 RT.
Berikut RW dan RT yang ada di Desa Karanglo:
Tabel 8. Dusun di Desa Karanglo Tahun 2021
Jumlah RW Jumlah RT
RT 01 : Dukuh Karangetan RT 02 : Dukuh Karangetan RT 03 : Dukuh Nglangun RT 04 : Dukuh Nglangun Sumber: Data Monografi Desa Karanglo Tahun 2021
46 1. Struktur Organisasi Desa Karanglo
Gambar IV. Stuktur Organisasi Pemerintah Desa Karanglo 2. Kondisi Sosial
Masyarakat Desa Karanglo masih sangat mengedepankan sikap toleransi, tolong-menolong antar masyarakat dan umat beragama.
Apabila masyarakat yang beragama muslim sedang merayakan hari raya Idul Fitri, maka masyarakat yang beragama non muslim menjaga keamanan desa demi kenyamanan umat islam yang sedang melangsungkan ibadah, begitupun sebaliknya.
KEPALA DESA
47 BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data
Desa Karanglo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Untuk mencegah kemiskinan akibat pandemic covid-19, masyarakat yang ada di Desa Karanglo diberikan bantuan berupa BLT-DD. Dana tersebut belum dianggarkan untuk programnya sehingga menggunakan dana perubahan dari pembangunan fisik. Penelitian ini menggunakan wawancara dengan narasumber yaitu Kepala Desa yang diwakilkan oleh Sekretaris Desa, Masyarakat Penerima BLT-DD terkait dengan proses penyaluran BLT-DD di Desa Karanglo. Dalam wawancara tersebut membahas mengenai penyaluran BLT-DD yang ada di Desa Karanglo.
Desa Karanglo merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Untuk mencegah kemiskinan akibat pandemic covid-19, masyarakat yang ada di Desa Karanglo diberikan bantuan berupa BLT-DD. Dana tersebut belum dianggarkan untuk programnya sehingga menggunakan dana perubahan dari pembangunan fisik. Penelitian ini menggunakan wawancara dengan narasumber yaitu Kepala Desa yang diwakilkan oleh Sekretaris Desa, Masyarakat Penerima BLT-DD terkait dengan proses penyaluran BLT-DD di Desa Karanglo. Dalam wawancara tersebut membahas mengenai penyaluran BLT-DD yang ada di Desa Karanglo.