• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN

1.4. ManfaatPenelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat,diantaranya:

1. Bidang Penelitian

Dapat mengembangkan kemampuan dalam penelitian bagi penulis mengenai gambaran klinis yang terjadi pada pasien kanker paru dan dapat dijadikan sumber yang bisa digunakan untuk penelitian selanjutnya.

2. Bidang Pendidikan

Menambah pengetahuan para dokter dan mahasiswa-mahasiswi kedokteran mengenai kanker paru.

3. Bidang Pelayanan Masyarakat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi yang benar bagi masyarakat tentang kanker paru.

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kanker Paru

2.1.1.Epidemiologi Kanker Paru

Kanker paru dikenal sebagai jenis kanker yang sering pada laki-laki di daerah industri di negara berkembang. Penelitian epidemiologi kejadian kanker paru menunjukkan bahwa insiden kanker paru berhubungan dengan faktor eksternal, lingkungan dan perilaku. Merokok merupakan faktor resiko utama yang signifikan.1,22

Di dunia, insiden kanker paru lebih tinggi umumnya adalah negara maju, di antaranya Inggris, Finlandia dan kalangan Negro Amerika Serikat memiliki insiden tertinggi, dengan penyusaian usia insidennya melebihi 100/100.000. Sejak dianjurkan pantang merokok tahun 1980an, insiden di Amerika Serikat, Kanada mulai turun. Dari data registrasi tumor di 5 benua yang diterbitkan pusat registrasi kanker dunia, insiden tertinggi kanker paru pada pria adalah di Liverpool, Inggris, terendah adalah Senegal dan Nigeria.1,22

Secara statistik di Rumah Sakit Dharmais pusat kanker nasional, kanker paru menduduki urutan ke-3 sebanyak 113 kasus setelah kanker payudara dan kanker serviks pada tahun 2007.22,1

2.1.2. Definisi Kanker Paru

Kanker paru adalah tumor ganas primer yang berasal dari saluran nafas atau epitel bronkus. Terjadinya kanker ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal, tidak terbatas, dan merusak sel-sel jaringan yang normal. Proses keganasan pada epitel bronkus didahului oleh masa pra kanker. Perubahan pertama yang terjadi pada masa pra kanker disebut metaplasia skuamosa yang ditandai dengan perubahan bentuk epitel dan menghilangnya silia.14,4

5

2.1.3. Etiologi dan Faktor Resiko Kanker Paru

Seperti umum nya kanker yang lain, penyebab yang pasti dari kanker paru belum diketahui, tapi paparan atau inhalasi berkepanjangan suatu zat yang bersifat karsinogenik merupakan faktor penyebab utama disamping adanya faktor lain seperti kekebalan tubuh, genetik, dan lain-lain. Dibawah ini akan diuraikan mengenai faktor resiko penyebab terjadinya kanker paru:

1. Usia

Usia merupakan faktor penting terjadinya kanker. Insiden kanker semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Hal tersebut sangat mungkin disebabkan karena semakin banyaknya pajanan faktor resiko dan kemampuan mekanisme perbaikan sel yang semakin menurun. 4Insiden puncak kanker paru terjadi pada usia antara 45-65 tahun. Perkembangan kanker kadang-kadang sangat lambat dan hanya dapat terdeteksi pada stadium lanjut. Kanker dapat berkembang bertahun-tahun tanpa disadari.4 2. Merokok

Tak diragukan lagi merupakan faktor utama. Suatu hubungan statistik yang defenitif telah diteggakan antara perokok berat (lebih dari dua puluh batang sehari) dari kanker paru (karsinoma bronkogenik). Perokok seperti ini mempunyai\kecenderung sepuluh kali lebih besar dari pada perokok ringan. Selanjutnya orang perokok berat yang sebelumnya dan telah meninggalkan kebiasaanya akan kembali ke pola resiko bukan perokok dalam waktu sekitar 10 tahun. Hidrokarbon karsinogen telah ditemukan dalam ter dari tembakau rokok yang jika dikenakan pada kulit hewan, menimbulkan tumor.11

3. Iradiasi

Insiden karsinoma paru yang tinggi pada penambang kobalt di Schneeberg dan penambang radium di Joachimsthal (lebih dari 50% meninggal akibat kanker paru) berkaitan dengan adanya bahan radioaktif dalam bentuk radon.3

6

4. Kanker paru akibat kerja

Terdapat insiden yang tinggi dari pekerja yang terpapar dengan karbonil nikel (pelebur nikel) dan arsenik (pembasmi rumput). Pekerja pemecah hematite (paru-paru hematite) dan orang-orang yang bekerja dengan asbestos dan dengan kromat juga mengalami peningkatan insiden.13,4 5. Polusi udara

Mereka yang tinggal di kota mempunyai angka kanker paru yang lebih tinggi dari pada mereka yang tinggal di desa dan walaupun telah diketahui adanya karsinogen dari industri dan uap diesel dalam atmosfer di kota. 3,12 6. Jenis Kelamin

Sebagian besar kanker paru mengenai laki-laki(65%) dengan resiko 1:13 dan pada perempuan 1:20. Perbandingan laki-laki terhadap perempuan adalah 4:1. 3,4

7. Genetik

Terdapat perubahan/mutasi beberapa gen yang berperan dalam kanker paru, yakni:

a. Proton oncogen

b. Tumor suppressor gene c. Gene encoding enzyme 8. Penyakit Paru

Penyakit paru seperti tuberkulosis dan penyakit paru obstruktif kronik juga dapat menjadi resiko kanker paru. Seseorang dengan penyakit paru obstruktif kronik beresiko empat sampai enam kali lebih besar terkena kanker paru ketika efek dari merokok dihilangkan.1

9. Diet

Beberapa penelitian melaporkan bahwa rendahnya konsumsi terhadap betakarotene, selenium, dan vitamin A menyebabkan tingginya resiko terkena kanker paru.3

7

2.1.4. Klasifikasi Kanker

Lebih dari 95% kanker paru primer berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkogenik), sisa 5% adalah kelompok lain yang mencakup karsinoid bronkus, tumor kelenjar bronkus, keganasan mesenkim, limfoma, dan beberapa lesi jinak.4

Kanker paru sekunder adalah kanker yang bermetastasis ke paru, sedangkan primernya berasal dari luar paru. Insiden kanker paru sekunder adalah 9,7% dari seluruh kanker paru. Diperkirakan 30% dari neoplasma akan bermetastasis ke paru. Insiden tumor yang banyak bermestastasis ke paru-paru adalah, Chorio Carcinoma (80%); Osteo sarcoma (75%); kanker ginjal (70%);

kanker tiroid (65%); melanoma (60%); kanker payudara (55%); kanker prostat (45%); kanker nasofaring (20%); dan kanker lambung (20%).3

2.1.5. Patofisiologi dan Gejala

Manifestasi klinis/ gejala pada kanker tergantung pada lokasi asal terjadinya kanker. Jika tumornya bersifat sentral, maka dapat menimbulkan gejala seperti batuk, sesak nafas, penyakit ateletaksis, post-obstruktif pneumonia, dan batuk darah (hemoptisis). Sedangkan jika tumor bersifat perifer, maka dapat menimbulkan gejala batuk, sesak nafas serta dapat memicu efusi pleura dan nyeri yang berat sebagai akibat dari proses infiltrasi ke pleura parietal dan dinding toraks.5

Beberapa gejala klinis pada kanker paru, terbagi menjadi:

1. Primary lung lesion symtomps a. Batuk

Terjadi sekitar 50-70% pada kanker paru.

Sebagian besar terjadi pada squamous cell carcinoma dan SCLC sebagai akibat dari adanya massa tumor yang dapat menekan dan mengiritasi reseptor batuk pada saluran nafas.

b. Penurunan Berat Badan (BB)

Terjadi sekitar 46% pada kanker paru. Kanker paru dapat meningkatkan lipolisis dan proteolisis,

8

yang pada akhirnya dapat menyebabkan penurunan jaringan adiposit dan oto rangka. Serta terjadi juga penurunan sintesis protein.

c. Hemoptisis

Terjadi sekitar 25-50% pada kanker paru. Sebagai akibat dari proses angiogenesis, menghasilkan pembuluh darah baru yang lebih rentan.

Sehingga memicu pecahnya pembuluh darah dan menyebabkan terjadinya batuk darah (hemoptisis).

d. Dispnea

Terjadi sekitar 25% pada kanker paru. Sesak nafas dapat terjadi sebagai akibat dari obstruksi pada extrinsik/ intraluminal airway serta aktivasi mekanoreseptor dan kemoreseptor pada paru-paru dapat menyebabkan cachexia atau hipoksemia/asidosis.

e. Nyeri Dada

Terjadi sekitar 20% pada kasus kanker paru. Nyeri dada akibat kanker paru ini, biasanya nyeri bersifat pleuritik.5

2. Mediastinal involvement5

a. Superior Vena Cava Syndrome

Terjadi sebagai akibat dari obstruksi vena kava superior yang merupakan efek dari kanker paru. Sebagian besar diakibatkan oleh SCLC.

b. Efusi Perikardium

Kanker paru dapat mengalami infiltrasi ke perikardium dan dapat menekan jantung sebagai akibat dari efusi pericardium.

c. Efusi Pleura

Menunjukkan gejala nyeri dada dan sesak nafas. Benigna pleural effusion dapat menyebabkan obstruksi limfatik, post-obstruktif pneumonitis, dan atelektasis. Sedangkan malignant pleural effusion ketika terdapat sel maligns pada cairan pleura.

d. Disfagia

Nyeri saat menelan sebagai akibat pembesaan modus limfe subkarinal

9

e. Pancoast Tumour ( Superior sulcus tumour)

Pasien dengan pancoast tumour menunjukkan gejala nyeri pada bahu dan lengan, kelemahan otot, atrofi pada tangan ipsilateral, homer syndrome (ptosis, miosis, anhidrosis). Terjadi pada sebagian besar kasus sekitar 5% NSCLC. Invasi tumor pada pleksus brachial dapat menyebabkan nyeri dan penurunan massa otot pada tangan serta lengan. Sedangkan invasi pada superior cervical sympathetic ganglion dapat memicu terjadinya sindrom homer antara lain:

Ptosis (akibat penurunan kontrol sistem pernafasan simpatis), Miosis, Anhidrosis (kekurangan cairan keringat).5

3. Paraneoplastic Syndromes a. Ektopik Cushing Syndrome

Sebagai akibat dari sekresi yang bersifat ektopil dari adrenokortikopik hormone (ACTH).

b. SIADH

Dapat menimbulkan euvolemik hiponatremia dan urine terkonsentrasi.

Gejala ringan terdiri dari sakit kepala dan kelemahan, sedangkan gejala yang berat dapat menyebabkan perubahan status mental, kejang, depresi nafas, dan bahkan kematian.

c. Hiperkalsemia

Sangat berkaitan dengan squamous cell carcinoma. Terjadi peningkatan sekresi PTH, yang dapat menyebabkan peningkatan resorpsi dan reabsorpsi kalsium renal.5

2.1.6. Hispatologi

Secara hispatologi kanker paru dapat dibagi menjadi 4 tipe, yakni karsinoma epidermoid (25%), karsinoma sel kecil (25%), adenokarsinoma (30%), dan karsinoma sel besar (15%). Sisanya merupakan tipe yang jarang didapat, yakni karsinoid bronkial, mukoepidermoid, dan karsinoma adenoskuamosa.6

Disamping itu masih ada pembagian dengan cara lain yang terdiri atas

“Small Cell Lung Cancer” (NSCLC0,

10

dimana satu sama lain mempunyai sifat biologi yang berbeda. Oleh karena itu klasifikasi dan grafik yang ada didasarkan atas perbedaan antara SCLC dan NSCLC tersebut.6

1. Non Small Cell Lung Cancer (NSCLC)

Pada NSCLC dikenal klasifikasi TMN, dimana T adalah tumor primer, N adalah metastasis kelenjar limfe, dan M adalah metastasis jauh.7,3

2. Small Cell Lung Cancer (SCLC)

Berbeda dengan NSCLC, SCLC mempunyai daya metastasis yang lebih tinggi, yakni sebelum tumor primer dapat dideteksi metastasis telah terjadi pada kelenjar limfe ( M mungkin lebih dulu ditemukan daripada N). Oleh karena itu klasifikasi TNM pada SCLC tidaklah bermakna. Disamping itu SCLC juga mempunyai tingkat pembelahan yang tinggi, sehingga relatif lebih sensitif terhadap tindakan radioterapi maupun sitostatik, akan tetapi tertutup kemungkinan untuk dilakukannya tindakan operasi.7,3

Metastasis yang sering terjadi adalah metastasis ke hati (30%), sumsum tulang (20%), tulang (40%), dan otak (10%). Oleh karena metastasis terjadi sejak dini maka tindakan radioterapi hanya diberikan untuk tujuan paliatif saja.6,3

Masa pembelahan sel kanker menurut Stephen G. Spiro Tabel 2.1. Tipe Histologis. 6

Tipe histologis Masa pembelahan

Small cell (sel kecil) 29 hari Large cell (sel besar) 86 hari Epidermoid (squamous) cell (sel

epidermoid)

88 hari

Adeno carcinoma (adenokarsinoma) 161 hari

2.1.7. Diagnosis Kanker Paru 1. Deteksi Dini Kanker Paru

Diagnosis klinis karsinoma paru harus berdasarkan analisis gabungan dari manifestasi klinis dan hasil berbagai teknik pencitraan, tapi diagnosis pasti

11

Anamnesis dan pemeriksaan fisik harus dilakukan dengan lengkap, pada pasien kanker paru terdapat gejala-gejala klinis yang telah disebutkan di atas, beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien tersangka kanker paru adalah: faktor umur, kebiasaan merokok, adanya riwayat kanker dalam keluarga, terpapar zat karsinogen atau terpapar jamur, dan infeksi yang dapat menyebabkan nodul soliter paru.3,12

2. Prosedur Diagnostik

a) Foto Rontgen Dada Secara Posterior-anterior (PA) dan Lateral

Pemeriksaan sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker paru. Studi dari Mayo Clinic USA, menemukan 61% tumor paru terdeteksi dalam pemeriksaan rutin dengan rontgen dada biasa.

Foto rontgen dada lebih banyak menemukan adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa.3,12

b) Pemeriksaan Computed Tomography dan Magnetic Resonance Imaging Pemeriksaan CT scan pada torak, lebih sensitif daripada pemeriksaan foto dada biasa, karena dapat mendeteksi kelainan atau nodul dengan diameter minimal 3 mm dan bila lesi di lokasi tumpang tindih struktur anatomi yang sulit ditemukan pada foto rontgen serta mudah menentukan karsinoma paru di antara jaringan sekitarnya. Pemeriksaan CT scan bisa sebagai pemeriksaan skrining kedua setelah foto dada biasa.3,12

c) Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

tidak rutin dikerjakan, karena ia hanya terbatas untuk menilai kelainan tumor yang menginvasi ke dalam vertebra, medula spinal, dan mediastinum. Keunggulan MRI dibandingkan CT scan adalah lebih mudah membedakan antara tumor padat dan pembuluh darah, dan dapat menampilkan trakeobronkus serta pembuluh darah yang tertekan, bergeser dan terobstruksi, namun dalam memeriksa nodul kecil dalam paru tidak sebaik CT scan.3,12

12

d) Pemeriksaan Bone Scanning

Pemeriksaan ini diperlukan bila diduga ada tanda-tanda metastasis ke tulang. Insiden tumor Non Small Cell Lung (NSLC) ke tulang dilaporkan sebesar 15%.3

e) Pemeriksaan Sitologi3,12

Pemeriksaan sitologi sputum dikerjakan terutama bila pasien ada keluhan seperti batuk. Pemeriksaan ini merupakan salah satu metode penting dalam diagnosis kanker paru, suatu metode diagnosis sederhana non invasif. Pada kanker paru yang letaknya sentral, pemeriksaan sputum yang baik dapat memberikan hasil positif sampai 67-85% pada karsinoma sel skuamosa. Untuk mendapatkan sel tumor in situ juga hanya bisa dengan pemeriksaan sitologi sputum dengan bantuan bronkoskopi. Pemeriksaan sitologi lain untuk diagnostik kanker paru dapat dilakukan pada cairan pleura, aspirasi kelenjar getah bening servikal, supraklavikula, bilasan dan sikatan bronkus pada bronkoskopi.

f) Pemeriksaan Histopatologi

a. Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas diagnosis kanker paru, untuk mendapatkan spesimennya dapat dengan cara biopsi melalui:

g) Bronkoskopi.

a. Modifikasi dari bronkoskopi serat optik dapat langsung melihat lesi di saluran trakeobronkial, juga dapat menjepit dan menyikat yang bertujuan mendapatkan jaringan untuk diagnosis histopatologi dengan pengamatan langsung, berupa: trans bronchial lung biopsy (TBLB), fluorescence bronchoscopy, ultrasound bronchoscopy, trans-bronchial needle-aspiration (TBNA). Hasil positif dengan bronkoskopi ini dapat mencapai 95% untuk tumor yang letaknya sentral dan 70-80% untuk tumor yangletaknya perifer.3,12

13

h) Trans Torakal Biopsi (TTB).

a. Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang letaknya perifer dengan ukuran >2 cm sensitivitasnya mencapai 90-95%.3

i) Torakoskopi.

Indikasi utama melakukan torakoskopi adalah: kelainan pleura, efusi pleura malignan, lesi difus pleura, dll. Biopsi tumor di daerah pleura dengan cara Video Assisted Thorachoscopy memiliki sensitivitas dan spesifisitas hingga 100%.3,9

j) Mediastinoskopi

Mediastinoskopi adalah suatu cara diagnosis melalui suatu lubang artifisial di celah depan trakea dimasukkan medistinoskop untuk melihat kelainan sekitar trakea, sekaligus melakukan biopsi. Pemeriksaan ini sangat berguna dalam memastikan ada tidaknya metastasis kelenjar limfe mediastinum pada kanker paru. Lebih dari 20% kanker paru bermetastasis ke mediastinum, terutama Small Cell Ca dan Large Cell Ca. Untuk mendapatkan tumor metastasis atau kelenjar getah bening yang terlibat dapat melakukan pemeriksaan mediastinoskopi dengan hasil nilai positif 40%.3,9

k) Torakotomi

Torakotomi untuk diagnostik kanker paru dikerjakan jika berbagai prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.3

l) Pemeriksaan Serologi/Tumor Market

Beberapa tes yang dipakai adalah: CEA (Carcinoma Embryonic Antigen),NSE(Neuron-spesific enolase),dan Cyfra 21-1 (Cytokeratin fragments 19).3

14

2.1.8. Diagnosis Banding 1. Tuberkulosis

Tuberkulosis adalah penyakit menular yang menyerang paru-paru, penyakit ini disebabkan oleh mycobacterium tuberkulosis.

Mikobakteria adalah bakteri aerob, berbentuk batang (basil) yang tidak membentuk spora.19

2. Pneumonia

Pneumonia adalah keradangan parenkrim paru dimana asinus terisi dengan cairan dan sel radang, dengan tau tanpa disertai infiltrasi sel radang kedalam dinding alveoli dan rongga interstisium.19

3. Tumor Mediastinum

Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum yaitu rongga yang berada di antara paru kanan dan kiri. Mediastinum berisi jantung, pembuluh darah arteri, pembuluh darah vena, trakea, kelenjar timus, syaraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya.19

4. Abses Paru

Infeksi destruktif berupa lesi nekrotik pada jaringan paru yang terlokalisir sehingga membentuk kavitas yang berisi nanah (pus) dalam parenkim paru pada satu lobus atau lebih.19

2.1.9. Stadium Klinis

Pembagian stadium kanker dibuat menggunakan sistem TNM oleh The International System for Staging Lung Cancer, serta diterima oleh The American Joint Committe on Cancer (AJCC) dan The Union Internationale Contrele Cancer (UICC) pada tahun 1973 dan kemudian direvisi 1986 dan terakhir pada tahun 1997.

15

2.1.9.1. Tabel Pembagian Stadium Kanker3 Tabel 2.2. Stadium Kanker Paru3

Stadium TNM secara bronkoskopis dan radiologis. Tis : karsinoma in situ

1. T0 : tidak terbukti adanya tumor primer 2. T1 : tumor, diameter 3cm

3. T2 : tumor, diameter > 3cm

4. T3 : tumor ukuran apapun meluas ke pleura, dinding dada, diafragma, perikardium, < 2 cm dari karina, terdapat atelektasis total

5. T4 : tumor ukuran apapun invasi ke mediastinum atau terdapat efusi pleura malignan

1. N0 : tidak ada kelenjar getah bening (KGB) yang terlibat 2. N1 : metastasis KGB bronkopulmoner atau ipsilateral hilus 3. N2 : metastasis KGB mediastinal atas sub karina

4. N3 : metastasis KGB mediastinal kontra lateral atau hilus atau KGB skaleneus atau supraklavikular

1. M0 : tidak ada metastasis jinak

2. M1 : metastasis jinak pada organ (otak, hati, dll)

16

2.1.10. Penatalaksanaan

Pengobatan kanker paru adalah multi-modaliti terapi (combined modality therapy). Kenyataannya pada saat pemilihan terapi, sering bukan hanya dihadapkan pada jenis histologis, derajat dan tampilan penderita saja tetapi juga kondisi nonmedis seperti fasilitas yang dimiliki rumah sakit dan kemampuan ekonomis penderita juga merupakan faktor yang amat menentukan. Pengobatan bedah dan radioterapi adalah pengobatan lokal sedangkan kemoterapi merupakan pengobatan sistemik.9

2.1.10.1.Pembedahan

Indikasi pembedahan kuratif pada kanker paru adalah untuk KPKBSK derajat I dan II. Pada penderita yang inoperable maka radioterapi atau kemoterapi dapat diberikan. Pembedahan juga merupakan bagian dari combined modality therapy, misalnya didahului kemoterapi neoadjuvan untuk KPBKSK derajat IIIA.

Indikasi bedah paliatif dilakukan bila ada kegawatan yang memerlukan intervensi bedah, seperti kanker paru dengan sindrom vena kava superior berat.9

Prinsip pembedahan adalah sedapat mungkin tumor direseksi lengkap berikut jaringan KGB intrapulmoner, dengan lobektomi ataupun pneumonektomi.

Segmentektomi atau reseksi baji hanya dikerjakan jika faal paru tidak cukup untuk lobektomi. Tepi sayatan diperiksa dengan potong beku untuk memastikan bahwa batas sayatan bronkus bebas tumor. KGB mediastinum diambil dengan diseksi sistematis, serta diperiksa secara patologi anatomis.9

2.1.10.2.Radioterapi

Radioterapi pada kanker paru dapat bersifat kuratif atau paliatif. Pada terapi kuratif, radioterapi menjadi bagian modality. Neoadjuvan kemo-radioterapi hanya diberikan pada kasus pancoast tumor.9

Efek samping yang sering adalah disfagia karena esophagitis post radiasi, sedangkan pneumonitis post radiasi jarang terjadi (<10%).

17

Radiasi dengan dosis yang bertujuan kuratif secara teoritis bermanfaat pada kasus yang inoperable tapi belum disokong data percobaan klinis yang sahih.

Keberhasilan memperpanjang survival sampai 20% dengan cara radiasi dosis paruh ini didapat dari kasus-kasus stadium I usia lanjut. Kasus dengan penyakit penyerta sebagai penyakit punyulit operasi atau pasien yang menolak dioperasi.9

Pasien dengan mestastasis sebatas N1-2 sudah merambat sebatas sayatan operasi maka radiasi post operasi untuk diberikan. Radiasi preoperasi untuk mengecilkan ukuran agar misalnya pada reseksi lebih komplit pada pancoast tumor atau stadium III b dilaporkan bermanfaat dari beberapa sentra kanker.9

2.1.10.3. Kemoterapi

Kemoterapi merupakan pilihan utama untuk kanker paru karsinoma sel kecil (KPKSK) dan beberapa tahun sebelumnya diberikan sebagai terapi paliatif untuk kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) derajat lanjut. Tujuan paliatif untuk kanker paru karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) derajat lanjut.

Tujuan pemberian kemoterapi paliatif adalah mengurangi atau menghilangkan gejala yang diakibatkan oleh perkembangan sel kanker tersebut sehingga diharapkan akan dapat meningkatkan kualiti hidup penderita. Tetapi akhir-akhir ini berbagai penelitian telah memperlihatkan manfaat kemoterapi untuk KPKBSK sebagai upaya memperbaiki prognosis, baik sebagai modality tunggal maupun bersama modality lain, yaitu radioterapi dan/ atau pembedahan.8,9

2.1.10.3.1. Indikasi Pemberian Kemoterapi

Indikasi pemberian kemoterapi pada kanker paru ialah:

1. Penderita kanker paru jenis karsinoma sel kecil (KPKSK) tanpa atau dengan gejala.

2. Penderita kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) yang inoperable (derajat IIIB & IV), jika memenuhi syarat dapat dikombinasi dengan radioterapi, secara konkuren, sekuensial atau alternating kemoradioterapi.

18

3. Kemoterapi adjuvan yaitu kemoterapi pada penderita kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) derajat I, II, dan III yang telah dibedah.

4. Kemoterapi neoadjuvan yaitu kemoterapi pada penderita derajat IIIA dan beberapa kasus derajat IIIB yang akan menjalani pembedahan. Dalam hal ini kemoterapi merupakan bagian terapi multimodality.9,8

2.1.11. Prognosis

a) Small Cell Lung Cancer (SCLC)

 Dengan adanya perubahan terapi dalam 15-20 tahun belakangan ini kemungkinan hidup rata-rata (median survival time) yang tadinya <3 bulan meningkat menjadi 1 tahun.

 Pada kelompok Limited Disease kemungkinan hidup rata-rata naik menjadi 1-2 tahun, sedangkan 20% daripadanya tetap hidup dalam 2 tahun.

 30% meninggal karena komplikasi local dari tumor.

 70% meninggal karena karsinomatosis.

 50% bermetastasis ke otak (autopsi).10,6

19

BAB III

KERANGKA TEORI dan KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

Gambar 3.1. Kerangka Teori.

Merokok

Klasifikasi

Patofisiologi & Gejala Hispatologi

Diagnosis Diagnosis Banding

Stadium Klinis

Penatalaksanaan

Etiologi &Faktor Resiko Kanker Paru

Nyeri Dada

Batuk Darah Merokok

Batuk Dahak Batuk

BB Menurun

Badan Lemah Sesak Nafas

20

3.2 Kerangka Konsep

Agar tujuan penelitan ini dapat terlaksana, maka diperlukan kerangka konsep sebagai dasar untuk melakukan penelitian dan menjawab permasalahan yang ada. Kerangka konsep yang akan menjadi pengarah dalam penelitan ini adalah faktor resiko kanker paru di RSUP H. Adam Malik tahun 2015.

Kerangka konsep nya yaitu:

Variabel Independen Variabel Dependen

Gambar 3.2. Kerangka Konsep.

Kanker Paru Jenis Kelamin

Usia

Kebiasaan Merokok

Gambaran Klinis

21

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Penelitian

Jenis penelitian adalah deskriptif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh catatan rekam medik penderita dengan melihat faktor resiko yaitu umur, jenis kelamin, gejala dan kebiasaan merokok. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, gejala dan kebiasaan merokok, sedangkan pada variabel terkaitnya adalah kejadian kanker paru pada pasien yang rawat inap di RSUP H. Adam Malik pada tahun 2015. Sampel berjumlah 107orang.

4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di bagian rekam medik RSUP H. Adam Malik.

Waktu pengambilan data rekam medik dimulai pada bulan Agustus 2016.

4.3. Populasi dan Sampel Penelitian 4.3.1. Populasi Penelitian

Populasi dari penelitan ini adalah pasien rawat inap dengan penyakit kanker paru pada tahun 2015yang tercatat di dalam data rekam medik.

Populasi dari penelitan ini adalah pasien rawat inap dengan penyakit kanker paru pada tahun 2015yang tercatat di dalam data rekam medik.

Dokumen terkait