• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

B. Uji Mann Whitney

Uji statistik dilanjutkan dengan uji Mann Whitney dengan membandingkan antar masing-masing perlakuan, nilai signifikansi α = 0,05. Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 10:

1. Nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa terdapat perbedaan rerata hitung diameter zona hambatan yang bermakna antara:

a. Kontrol positif dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 25%, 50%, 75%, dan 100%.

b. Daun pacar kuku kadar 25% dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 50%, 75%, dan 100%.

c. Daun pacar kuku kadar 50% dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 75% dan 100%.

2. Nilai p > 0,05 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan rerata hitung diameter zona hambatan yang bermakna antara ekstrak daun pacar kuku kadar 75% dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 100%.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

30 BAB V

PEMBAHASAN

Tabel 1 menunjukkan bahwa spesimen yang mengandung Streptococcus β hemolyticus paling banyak ditemukan pada penderita tonsilo-faringitis rentang usia 6-12 tahun (50%), hal ini menunjukkan bahwa yang paling banyak mengalami tonsilo-faringitis karena Streptococcus β hemolyticus adalah anak usia sekolah. Oleh karena itu, penggunaan bahan-bahan alami dengan efek samping yang minimal diharapkan dapat digunakan pada anak-anak.

Berdasarkan data pada penelitian ini ternyata angka kejadian tonsilo-faringitis yang disebabkan oleh Streptococcus β hemolyticus terhitung masih cukup banyak, dari 37 spesimen yang diidentifikasi ternyata 12 spesimen didapatkan bakteri Streptococcus β hemolyticus. Dapat dilihat dari gambar 1 bahwa spesimen yang mengandung Streptococcus β hemolyticus pada penelitian ini adalah 32% dari seluruh spesimen. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri Streptococcus β hemolyticus masih menjadi penyebab utama terjadinya tonsilo-faringitis bakterial.

Menurut etnofarmakologi, daun pacar telah lama digunakan sebagai obat kumur dalam sakit kerongkongan di India (Chopra, 1958), selain itu hingga saat ini daun pacar kuku sering digunakan sebagai bahan pewarna kulit, rambut, dan hiasan pada tangan (Habbal et al., 2007). Hal tersebut menunjukkan bahwa daun pacar kuku cukup aman digunakan secara topikal. Penggunaan obat kumur ekstrak daun pacar kuku diharapkan dapat menjadi obat komplementer untuk pengobatan jangka panjang yang aman

Pemberian antibiotik Eritromisin, Penisilin, Amoxicillin, dan Ceftriaxone terhadap semua sampel bertujuan untuk mengetahui pola resistensi bakteri Streptococcus β hemolyticus terhadap berbagai jenis antibiotik sekaligus menentukan antibiotik yang dijadikan kontrol positif (tabel 2 dan gambar 2). Pemberian antibiotik Eritromisin memberikan reaksi yang resisten pada pengukuran diameter zona hambat sebesar 83,33% sampel, padahal hingga saat

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

ini antibiotik Eritromisin masih banyak digunakan dalam praktek klinis khususnya untuk pasien yang alergi dengan antibiotik golongan Penisilin.

Begitu juga dengan pemberian antibiotik Penisilin, bakteri isolat klinis pada penelitian ini 50% sampel memberikan reaksi resisten, sedangkan 50% lainnya hanya memberikan reaksi intermediet. Meskipun pada praktek klinik Penisilin masih dijadikan untuk pengobatan pertama mengatasi tonsilo-faringitis bakterial, tetapi pada penelitian ini menunjukkan bahwa Penisilin sudah tidak poten lagi menghambat pertumbuhan Streptococcus β hemolyticus isolat klinis.

Antibiotik Amoxicillin masih memberikan reaksi yang cukup poten pada penelitian ini. Hanya 8,33% sampel resisten terhadap antibiotik Amoxicillin sedangkan 91,67% lainnya masih sensitif. Antibiotik Amoxicillin terbukti masih poten untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus β hemolyticus meskipun sudah terjadi resistensi.

Pada pemberian antibiotik Ceftriaxone pada bakteri Streptococcus β hemolyticus isolat klinis pada penelitian ini menunjukkan 100% sensitif. Karena hanya antibiotik Ceftriaxone yang sensitif seluruhnya, antibiotik Ceftriaxone dipilih menjadi kontrol positif pada penelitian ini.

Hasil pengukuran diameter daya hambatan terhadap Streptococcus β hemolyticus yang terbentuk karena pemberian keempat konsentrasi ekstrak daun pacar kuku dan kelompok kontrol disajikan dalam tabel 3 dan gambar 3. Rerata hitung diameter zona hambat kontrol positif, yaitu disk antibiotik Ceftriaxone (24,6 mm) lebih besar dari ekstrak daun pacar kuku konsentrasi 50%, 75%, dan 100%.

Gambar 3 menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak daun pacar kuku yang digunakan, semakin besar pula rerata hitung diameter daya hambat yang dibentuk. Peningkatan rerata hitung diameter daya hambatan sebanding dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak daun pacar kuku, menunjukkan adanya hubungan dosis respon. Temuan ini memperkuat kesimpulan kausal antara pemberian ekstrak daun pacar kuku dengan hambatan pertumbuhan Streptococcus β hemolyticus.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

32 Peningkatan dosis respon hanya berlaku sampai pada konsentrasi optimum. Pada ekstrak daun pacar kuku konsentrasi 100% diameter hambatannya sedikit lebih rendah dari 75% mungkin dikarenakan pada konsentrasi 100% sudah melebihi konsentrasi optimum efek daya hambat ekstrak daun pacar kuku.

Setelah dilakukan analis statistik uji Kruskal Wallis (lampiran 9) untuk membandingkan kelima rerata hitung diameter zona hambatan kelompok perlakuan utama, yaitu kontrol positif antibiotik ceftriaxone, ekstrak daun pacar kuku 25%, 50%, 75%, dan 100%, didapatkan bahwa ada perbedaan rerata hitung diameter zona hambat yang bermakna (p<0,05) antara kelima kelompok perlakuan tersebut.

Analisis dilanjutkan dengan melakukan perbandingan multiple rerata hitung diameter zona hambat antar masing-masing perlakuan utama (lampiran 10). Dengan uji Mann Whitney (α = 0,05) tampak adanya perbedaan yang bermakna antara kontrol positif antibiotik Ceftriaxone dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 25%, 50%, 75%, dan 100%; antara ekstrak daun pacar kuku kadar 25% dengan ekstrak daun pacar kuku kadar 50%, 75%, 100%; dan antara ekstrak daun pacar kuku 50% dengan 75%, dan 100%. Sedangkan perbedaan tidak bermakna ditemukan pada ekstrak daun pacar kuku kadar 75% dengan 100%, kedua ekstrak tersebut memiliki rata-rata zona hambatan yang hampir sama.

Berdasarkan pada hasil analisis tersebut, ekstrak daun pacar kuku memiliki kemampuan untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus β hemolyticus. Tetapi pemberian ekstrak daun pacar kuku yang melampaui dosis optimum 75%, seperti pada konsentrasi 100% tidak memberikan efek yang lebih baik.

Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Muhammad H. S. dan Muhammad S. dari Departemen Ilmu Biologi Universitas Usmanu Danfodiyo Nigeria (2005), bahwa ekstrak air daun pacar kuku mampu menghambat pertumbuhan Streptococcus sp. hingga diameter 23 mm pada konsentrasi 80%.

Data pada lampiran 7 menunjukkan rerata hitung diameter daya hambat ekstrak daun pacar kuku 75% (18,9 mm) dan 100% (18,3 mm) melebihi rerata hitung diameter disk antibiotik Eritromisin (7,6 mm) dan Penisilin (14,6 mm).

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

Namun jika dibandingkan dengan antibiotik Ceftriaxone sebagai kontrol positif (24,6 mm) ternyata keempat konsentrasi ekstrak daun pacar kuku masih belum efektif untuk digunakan dalam terapi alternatif tonsilo-faringitis Streptococcus β hemolyticus, karena keempat konsentrasi ekstrak daun pacar kuku menghasilkan rerata hitung diameter hambat yang belummampu mendekati atau melebihi rerata hitung diameter hambatan antibiotik kontrol positif.

Melihat bahwa daun-daun henna telah lama digunakan sebagai obat kumur dalam sakit kerongkongan di India (Chopra, 1958) dan pada penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak daun pacar kuku terbukti dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus β hemolyticus, maka bagi penduduk yang telah menggunakan daun-daun pacar kuku untuk mengobati sakit tenggorokan dapat melanjutkan penggunaannya.

Kelemahan dari skripsi ini adalah ekstrak daun pacar kuku yang digunakan hanya berasal dari satu daerah saja. Hal ini dikarenakan keterbatasan dari peneliti dalam mencari ekstrak daun pacar kuku dari berbagai daerah. Hendaknya penelitian dilakukan dengan menggunakan ekstrak daun pacar kuku dari berbagai daerah agar dapat diketahui efek antibakterinya dengan lebih bermakna.

perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id

commit to user

34 BAB VI

Dokumen terkait