(Net
NPM =
b). Retur n on Equity (ROE)
Mengukur kemampuan bank untuk mengahasilkan laba dengan membandingkan
laba dengan equity. (Kasmir, 2003 : 280)
ROE
100%
Capital
Equity
Income
Net
x
=
2.2.2.3. Kegunaan Analisis Ra sio
Analisis rasio seperti halnya alat-alat analisis yang lain adalah “future oriented”.
Oleh karena itu penganalisa harus mampu untuk menyesuaikan faktor-faktor yang
bersangkutan. Dengan demikian kegunaan atau manfaat suatu angka rasio
sepertinya tergantung kepada kemampuan atau kecerdasan penganalisa dalam
menginterprestasikan data yang bersangkutan. (Munawir, 1998 : 64)
Analisis rasio digunakan oleh tiga kelompok utama (Weston, 1990 : 312-313) Yaitu
:
1. Manajer, yang menggunakan rasio-rasio tersebut untuk menganalisis
mengendalikan dan memperbaiki operasi perusahaan.
2. Analisa kredit, seperti petugas kredit bank atau analis yang menetapkan
peringkat obligasi (di AS), yang menganalisis rasio
untuk menentukan kemampuan suatu perusahaan membayar utangnya.
3. Analisa sekuritas, yaitu analisis saham yang berkepentingan atas efisiensi dan
prospek pertumbuhan perusahaan, dan analis obligasi yang berkepentingan
atas kemampuan perusahaan untuk membayar bunga dan pokok obligasi serta
nilai likuiditas aktiva dalam hal ini kepailitan.
Secara lengkap kegunaan analisis laporan keuangan dikemukaan oleh Harahap (2002
:195-197) sebagai berikut :
a) Dapat memberikan informasi yang lebih luas, lebih dalam daripada yang
terdapat dalam laporan keuangan biasa.
b) Dapat menggali informasi yang tidak nampak secara kasat mata (eksplisit) dari
suatu laporan keuangan atau yang berada dibalik laporan keuangan (implisit).
c) Dapat mengetahui kesalahan yang terkandung dalam laporan keuangan.
d) Dapat membongkar hal-hal yang bersifat tidak konsisten dalam hubungannya
laporan keuangan maupun kaitannya dengan informasi yang diperoleh dari
luar perusahaan.
e) Mengetahui sifat-sifat hubungan yang akhirnya dapat melahirkan model-model
dan teori-teori yang terdapat di lapangan seperti untuk prediksi, peningkatan
(rating)
f) Dapat memberikan informasi yang diinginkan oleh pengambil keputusan.
g) Dapat menentukan peringkat (rating) perusahaan menurut criteria tertentu
yang sudah dikenal dalam dunia bisnis.
h) Dapat membandingkan situasi perusahaan dengan perusahaan lain dengan
periode sebelumnya atau dengan Standar Industri normal atau Standar ideal.
i) Dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami perusahaan baik
posisi keuangan, hasil usaha, struktur keuangan dan sebagainya.
j) Bisa juga memprediksi potensi apa yang mungkin dialami perusahaan dimasa
yang akan datang.
Menurut Dahlan (1993 : 266) Analisis rasio menggambarkan hubungan
matematis antara suatu jumlah lainnya. Perhitungan yang digunakan dalam
analisis rasio ini sebenarnya relatif sederhana, namun interprestasi terhadap rasio
tersebut merupakan masalah yang cukup komplek. Oleh karena itu, efektifnya
rasio keuangan ini sebagai suatu alat analisis, sangat tergantung dari kemampuan
dan keahlian analisis menginterprestasikan rasio-rasio yang digunakan.
Selanjutnya, analisis rasio keuangan dapat memberikan petunjuk dan gejala-gejala
serta informasi keuangan lainnya mengenai keadaan keuangan suatu bank.
Ang (1997) menyatakan bahwa dividen merupakan nilai pendapatan bersih
perusahaan setelah pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) yang
ditahan sebagai cadangan bagi perusahaan. Deviden ini untuk dibagikan kepada para
pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Cadangan yang diambil
dari EAT dilakukan sampai cadangan mencapai minimum dua puluh persen dari
modal yang ditempatkan. Modal yang ditempatkan adalah modal yang disetor penuh
ditambah dengan modal yang belum disetor sehubungan dengan penerbitan saham
baru seperti rights dan warran. Keputusan mengenai jumlah laba yang ditahan dan
deviden yang akan dibagikan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham
(RUPS).
Kebijakan deviden berkaitan dengan penentuan pembagian pendapatan
(earning) antara penggunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada para pemegang
saham sebagai deviden atau untuk digunakan di dalam perusahaan, yang berarti
pendapatan tersebut harus ditahan dalam perusahaan (Riyanto, 1995). Dalam
merumuskan kebijakan deviden manajer dihadapkan pada masalah investasi dan
memilih paduan utang-modalnya untuk mendanai investasi. Keputusan untuk
membayar deviden besar berarti secara simultan memutuskan untuk menahan sedikit
laba, jikalau ada; ini nantinya menghasilkan ketergantungan yang lebih besar pada
pendanaan modal eksternal. Sebaliknya dengan investasi dan keputusan pendanaan
perusahaan, pembayaran deviden yang kecil akan berarti penahanan laba yang tinggi
dengan lebih sedikit kebutuhan dana modal yang dihasilkan dari luar. Setiap
perusahaan selalu menginginkan adanya pertumbuhan bagi perusahaan tersebut di
satu pihak dan juga dapat membayarkan deviden kepada para pemegang saham di lain
Kebijakan deviden perusahaan bisa dianggap oleh pemilik sebagai alat
monitor. Dengan mengasumsikan bahwa pembayaran deviden mensyaratkan
manajemen untuk menerbitkan saham untuk mendanai investasi baru atau memenuhi
kebutuhan dana dari hutang, investor baru atau kreditur mungkin tertarik pada
perusahaan hanya jika perusahaan memberikan informasi yang meyakinkan bahwa
modal atau pinjaman akan digunakan agar menguntungkan. Maka pembayaran
deviden secara tak langsung menghasilkan monitor yang lebih ketat pada kegiatan
investasi manajemen.
Dengan perkataan lain, kebijakan dividen menyediakan informasi mengenai performa (performance) perusahaan. Oleh karena itu, masing-masing perusahaan menetapkan kebijakan dividen yang berbeda-beda, karena kebijakan dividen berpengaruh terhadap nilai perusahaan otomotif dalam membayar dividen kepada para
pemegang sahamnya, maka perusahaanmungkin tidak dapat mempertahankan dana
yang cukup untuk membiayai pertumbuhannya di masa mendatang. Sebaliknya, maka saham perusahaan menjadi tidak menarik bagi perusahaan.
Pembagian dividen kepada pemegang saham menyebabkan posisi kas suatu
perusahaan semakin berkurang. Hal ini juga mengakibatkan leverage (rasio antara
hutang terhadap ekuitas) akan semakin besar. Dampak yang timbul adalah para pelaku
pasar akan berpikiran negatif terhadap perusahaan. Campbell menyatakan bahwa
pembagian dividen tunai kepada pemegang saham akan menyebabkan harga saham
jatuh pada waktu ex-dividend date.
1.2.4. Pr ofitabilitas
Menurut Pradhono (2004) profitabilitas adalah laba bersih yang dihasilkan
laporan laba rugi yang juga merupakan bagian dari laporan keuangan. Earnings
digunakan investor untuk menilai perusahaan. Prinsip yang dipegang investor yakni
jika perusahaan tersebut memperoleh laba yang besar maka perusahaan tersebut pasti
mempunyai prospek yang bagus di masa mendatang.
Generally accepted accounting principle (GAAP) menyatakan bahwa
pengakuan pendapatan terjadi pada saat transfer of title, tanpa memperdulikan apakah
perusahaan sudah atau belum menerima pembayaran tunai (accrual basis). Biaya yang
berkaitan langsung dengan pendapatan dan akan diakui pada periode yang sama
dengan pengakuan pendapatan. Biaya lain yang tidak berkaitan langsung dengan
pendapatan akan diakui pada periode terjadinya. (Pradhono, 2004).
Perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung menggunakan
hutang relatif kecil karena laba ditahan yang tinggi sudah memadai untuk membiayai
sebagian besar kebutuhan pendanaan (Asuhanrembulan, 2008). Arifin (2001) dalam
Asuhanrembulan (2008) menyatakan bahwa profitabilitas mempunyai pengaruh yang
signifikan terhadap struktur modal.
Perusahaan dengan tingkat pengembalian yang tinggi atas investasi
menggunakan utang yang relatif kecil profitabilitas adalah hasil bersih dari berbagai
kebijaksanaan dan keputusan (Riyanto, 1993), sedangkan Machtoedz (1994) dalam
Eko (2006) mendefinisikan profitabilitas sebagai suatu indicator kinerja yang
dilakukan manajemen dalam mengelola kekayaan perusahaan (Asuhanrembulan,
2008).
Profitabilitas menunjukkan kemampuan dari modal yangdiinvestasikan
dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan bagi investor. Myers
(1984) dalam Taswan (2008) menyatakan bahwa manajer mempunyai pecking order
hutang, kemudian dengan equity. Dengan demikian terdapat hubungan negatif antara
profitabilitas dengan debt ratio. Hasil studi Moh'd et al (1998), Myers (1984) dan
Jensen et at (1992) menemukan bahwa firm profitability mempunyai hubungan
negatif dan signifikan dengan debt ratio.
2.2.4. Ear ning per shar e
Dalam lingkaran keuangan alat ukur yang paling sering digunakan adalah
EPS. Angka yang serimg ditunjukkan dari EPS inilah yang sering dipublikasikan
mengenai performance perusahaan yang menjual sahamnya kepada masyarakat luas
(go public) karena investor atau para calon investor berpandangan bahwa EPS
mengandung informasi yang penting untuk melakukan prediksi mengenai besarnya
dividen per saham di kemudian hari dan tingkat harga saham di kemudian hari, serta
EPS juga relevan untuk menilai efektifitas manajemen dan kebijakan deviden.
Menurut Nachrowi (2006:71), “dalam berinvestasi di bursa, investor akan
memperlihatkan berbagai aspek, salah satunya adalah penghasilan per lembar saham
(Earning per share atau EPS)”. EPS merupakan salah satu indikator yang dapat
menunjukkan kinerja perusahaan, karena besar kecilnya EPS akan ditentukan oleh
laba perusahaan.
EPS merupakan salah satu hal utama yang diperhatikan investor sebelum
membuat keputusan investasinya disuatu perusahaan karena investor tentunya
mengharapkan pengembalian atau return yang tinggi dari investasinya sehingga
investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi di perusaan yang mempunyai EPS yang
gilirannya akan menyebabkan harga saham perusahaan tersebut cenderung bergerak
naik. Jadi , Earning Per Share berpengaruh terhadap harga saham.
2.2.5. Penga r uh Ear ning per shar e Ter hadap Har ga Saham
Earning Per Share (EPS) merupakan faktor yang dapat mengukur besarnya
laba yang diberikan kepada pemegang saham, jika laba perlembar saham lebih tinggi,
maka prospek perusahaan lebih baik, sementara jika laba per saham lebih rendah
berarti kurang baik, dan laba per saham negatif berarti tidak baik (Samsul, 2006 :
167).
Menurut Sutrisno (2003: 255), earning per share atau laba per lembar
saham merupakan ukuran kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan
perlembar saham pemilik .
Menurut Stice dan Skousen (2005: 647), terdapat hubungan yang signifikan
antara perubahan earning dan perubahan saham. Apabila EPS tinggi, investor
menganggap perusahaan mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang,
karena investor percaya bahwa nilai suatu saham akan bergantung pada kemampuan
perusahaan dalam menghasilkan laba setiap lembar saham. Apabila EPS yang
dihasilkan sesuai dengan harapan investor, maka keinginan investor untuk
menanamkan modalnya juga meningkat dan akan meningkatkan harga saham seiring
dengan tingginya permintaan akan saham.
2.2.6. Penga r uh Dividen Ter hadap Har ga Saham
Menurut Hin (2001:34), pengertian dividen adalah pembagaian bagian
perusahaan di tentukan oleh para pemegang saham pada saat berlangsungnya RUPS
(Rapat Umum Pemegang Saham).
Pembagian dividen kepada pemegang saham menyebabkan posisi kas suatu
perusahaan semakin berkurang. Hal ini juga mengakibatkan leverage (rasio antara
hutang terhadap ekuitas) akan semakin besar. Dampak yang timbul adalah para
pelaku pasar akan berpikiran negatif terhadap perusahaan. (Campbell and Beranek’s
1995) menyatakan bahwa pembagian dividen tunai kepada pemegang saham akan
menyebabkan harga saham jatuh
Kebijakan dividen sangat penting karena mempengaruhi kesempatan
investasi perusahaan, harga saham, struktur finansial, arus pendanaan dan posisi
likuiditas. Dengan perkataan lain, kebijakan dividen menyediakan informasi
mengenai performa perusahaan. Oleh karena itu, masing-masing perusahaan
menetapkan kebijakan dividen yang berbeda-beda, karena kebijakan dividen
berpengaruh terhadap nilai perusahaan otomotif dalam membayar dividen kepada
para pemegang sahamnya, maka perusahaan mungkin tidak dapat mempertahankan
dana yang cukup untuk membiayai pertumbuhannya di masa mendatang. Sebaliknya,
maka saham perusahaan menjadi tidak menarik bagi perusahaan. Oleh karena itu,
perusahaan otomotif harus dapat mempertimbangkan antara besarnya laba yang akan
ditahan untuk mengembangkan perusahaan otomotif. Untuk itu, peranan seorang
manajer keuangan sangat penting dalam memutuskan apakah kebijakan yang diambil
oleh perusahaan baik bagi nilai perusahaan dimasa mendatang di mata para investor.
2.3. Ker angka Konseptual
2.4. Hipotesis
Hipotesis pada penelitian ini adalah :
1. Diduga bahwa Earning per share berpengaruh positif terhadap Harga Saham
2. Diduga bahwa dividen berpengaruh positif terhadap Harga Saham PRICE (HARGA SAHAM) (Y) Earning per Share (X1) Dividen (X2)
BAB III
METODE PENELITAIN
3.1.Definisi Operasional dan Pengukuran Va r iabel
a. Harga Saham.
Harga saham adalah harga saham yang terjadi di bursa pada saat penutupan (closing
price) yang terbentuk pada setiap akhir perdagangan saham. Dengan demikian data
yang diambil dalam penelitian ini adalah data closing price untuk masing-masing
saham sebelum dan sesudah ex-dividend date selama periode penelitian di Bursa Efek
Indonesia.
b. Earning Per Share
Adalah harga perlembar saham dibara laba per lembar saham. Earning per
share dapat dirumuskan sebagai berikut :
Earning Per Share = Harga per lembar Saham
Laba per Lembar Saham …(Pradhono, 2004)
c. Dividend
Adalah kebijakan yang diukur dengan jumlah laba yang dibagi pada pemegang saham
terhadap jumlah lembar saham. Dengan rumus :
Dividend = Jumlah laba yang dibagi pada pemegang saham
3.2. Populasi dan Sampel
3.2.1. Populasi
Populasi adalah kelompok subyek atau obyek yang memiliki ciri – ciri atau
karakteristik – karakteristik tertentu yang berbeda dengan kelompok subyek atau
obyek lain, dan kelompok tersebut akan dikenai generalisasi dari hasil penelitian
(Soemarsono, 2004 : 44)
Yang dipergunakan sebagai populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan
Otomotif yang go public di PT. Bursa Efek Indonesia periode tahun 2007-2010 yang
berjumlah 17 perusahaan.
3.2.2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri dan karakteristik yang sama
dengan populasi tersebut. Karena itu sample harus representative dari sebuah populasi
(Sumarsono, 2002 : 45).
Teknik penentuan sampel yang dipergunakan dalam penelitian adalah purposive
sampling, yaitu penentuan sampel dengan kriteria tertentu.
Kriteria yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah :
- Perusahaan Manufaktur pada Sektor Otomotif yang membayar dividen tunai
secara berturut-turut di BEI. Data ini diperlukan untuk perusahaan-perusahaan
yang melakukan pengumuman dividen untuk kemudian ditentukan apakan
perusahaan tersebut melakukan kenaikan atau penurunan (dibandingkan
dengan besarnya dividen pada tahun sebelumnya).
- Perusahaan Otomotif tersebut tidak dalam keadaan delisting (Kebijakan yang
dilakukan oleh bursa efek untuk mengeluarkan emiten dari bursa, artinya
Berdasarkan kriteria tersebut diperoleh 15 perusahaan Otomotif yang go publik di
Bursa Efek Indonesia.
3.2.Teknik Pengumpulan Data
3.2.1. J enis Data
Data yang digunakan untuk memenuhi keperluan penelitian ini bersumber dari
data sekunder yang diambil dari laporan tahunan Perusahaan Otomotif go public dan
terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia.
3.2.2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan untuk memenuhi keperluan penelitian ini di peroleh
dari Bursa Efek Indonesia
3.2.3. Teknik Pengumpulan data
Dalam rangka memperoleh data-data yang diperlukan, maka metode
pengumpulan data yang akan digunakan yaitu metode dokumentasi berupa
pengumpulan kertas data. Metode dokumentasi adalah cara pengumpulan data yang
berkaitan dengan obyek penelitian.
3.3.Teknik Analisis dan Uji Hipotesis Data
3.4.1. Teknik Analisis Data
Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi Linier
berganda. Model analisis ini dipilih karena penelitian ini dirancang untuk meneliti
Di atas telah dijelaskan bahwa dalam penetilian ini diperlukan teknik analisis
yang menggunakan model regresi linier dan pengujian hipotesis menggunakan uji t
dengan hipotesis sebagai berikut :
1. Menghitung masing–masing variabel bebas dan variabel terikat berdasarkan
laporan keuangan tahunan perusahaan maka dapat dihitung masing–masing
variabel bebas dan variabel terikat yang diperlukan untuk analisis.
2. Meregresikan variabel bebas dengan variabel terikat
Untuk menganalisis permasalahan digunakan regresi linier berganda dengan
persamaan sebagai berikut :
Y1 = β0 + β1X1 + β2X2 + ei ... (Sudrajat, 2001:112)
Keterangan :
Y = Harga Saham
X1
= Devidin
X2
= Earning per share
β0 = Konstanta
β1,...,β3 = Koefisien regresi
ei = Kesalahan pengganggu (error)
3.4.2. Uji Asumsi Klasik
Untuk mendukung keakurat an hasil model regresi, maka perlu dilakukan penelusuran t erhadap asum si klasik yang meliput i asumsi mult ikolinierit as, het eroskedast isit as dan aut okorelasi. Hasil dari asumsi klasik t ersebut adalah sebagai berikut :
1. Multikolinear itas
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam persamaan regresi
baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Deteksi adanya
multikolinieritas dapat dilihat dari besaran VIF (Varians Inflation Factor), yaitu :
(Ghozali, 2001 : 57)
1. Jika besaran VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinieritas.
2. Jika besaran VIF > 10 maka terjadi multikolinieritas.
2. Heter osk edastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi
ketidaksamaan variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lainnya. Jika
varians dari residual dari suatu pengamatan ke pengamatan lain berbeda, maka
disebut terdapat heteroskedastisitas. Metode regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi heteroskedastistitas. (Ghozali, 2001 : 60). Sedangkan kriteria pengujiannya
adalah:
a. Nilai probabilitas > 0,05 berarti bebas dari heteroskedastisitas.
b. Nilai probabilitas < 0,05 berarti terkena dari heteroskedastisitas.
3. Autokor elasi
Autokorelasi adalah korelasi (hubungan) yang terjadi diantara anggota – anggota
dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam rangkaian waktu ( seperti pada
data return waktu atau time series data ) atau yang tersusun dalam rangkaian ruang (
seperti pada data silang waktu atau cross sectional). (Sumodiningrat, 2002 : 231).
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu regresi linear ada
korelasi kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode t-1
(sebelumnya). Untuk mengetahui ada tidaknya gejala autokorelasi maka perlu dilihat
tabel Durbin Watson dengan jumlah variabel bebas ( k ) dan jumlah data ( n )
sehingga diketahui dL dan du maka dapat diperoleh distribusi daerah keputusan atau
Kriteria pengujian Durbin Watson dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut :
Tabel 1 : Autokor elasi
Durbin Watson Kriteria 0 < DW < dL
dL < DW < du du < DW < 4-du 4-du < DW < 4-dL 4-dL < DW < 4-
Ada autokorelasi positif Tanpa kesimpulan Tidak ada autokorelasi Tanpa kesimpulan Ada autokorelasi negatif Sumber : Ghozali, 2001 : 61
3.5. Uji Hipotesis
Untuk mengetahui signifikan atau tidaknya pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat digunakan Program SPSS 17 dengan uji t yang memiliki prosedur
sebagai berikut:
a. Ho : bi = 0 ; tidak terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas terhadap
variabel terikat.
Hi : bi ≠ 0 ; terdapat pengaruh yang signifikan variabel bebas terhadap variabel terikat.
b. Tingkat signifikan 5% = 0,05
c. Kriteria pengujian :
1. Jika nilai probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak dan Hi diterima
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Desk r ipsi Per usahaan
4.1.1. Gambar an Umum Bur sa Efek Indonesia
Perkembangan Bursa di Indonesia dimulai dari pendirian Badan Pelaksana Pasar M odal (Bapepam) sebagai pengelola Bursa pada tahun 1977. Pada saat it u merupakan masa paling sulit bagi Bapepam untuk memperkenalkan dan mengembangkan Bursa di Indonesia. Dengan usaha yang begit u besar baik dari t enaga SDM maupun dari dana yang dikeluarkan oleh Pemerint ah melalui Bapepam, unt uk pengembangan Bursa di Indonesia nilainya cukup besar yang t idak mungkin dilakukan oleh pihak swast a/ SRO sep ert i dew asa ini.
Pengembangan Bursa membut uhkan wakt u kurang lebih 15 t ahun untuk dapat menghasilkan 162 emit en. Baru set elah Bapepam berhasil mengembangkan Bursa di Indonesia dan Bursa sudah menjadi kebut uhan masyarakat Indonesia khususnya emit en dan invest or, kemudian Bursa disw ast anisasikan (t ahun 1992).
Dalam perjalanan penswast anisasian Bursa, untuk mendorong percepat an pencat at an emit en dan perdagangan saham di Indonesia khususnya di w ilayah timur, Pem erint ah melalui Bapepam mempelopori pendirian BES pada t ahun 1989. BES merupakan Bursa sw ast a pert ama kali didirikan di Indonesia pada t anggal 16 Juni 1989, dan kemudian dilanjut kan dengan pendirian BEJ pada t anggal 13 Juli 1992. Pendirian BEJ adalah seiring dengan pensw ast anisasian Bursa Efek Indonesia. Pada t ahun 1992, Pemerintah mengalihkan peran Bapepam sebagai penyelenggara Bursa
kepada BEJ melalui sw ast anisasi Bursa. Selanjut nya, pada t ahun 1993 Pemerint ah melalui Perserikat an Perdagangan Uang dan Efek (PPUE) mendirikan Bursa Paralel Indonesia (BPI) untuk mengakomodasi t ransaksi di luar Bursa (over t he count er). Perkembangan berikut nya, pada t ahun 1995 BPI digabungkan dengan BES dan set elah penggabungan BES t elah mampu mengembangkan fasilit as pencat at an dan perdagangan bagi perusahaan menengah kecil sert a obligasi/ surat ut ang.
Set elah Bursa Efek Indonesia disw ast anisasikan menjadi BEJ dan BPI digabungkan dengan BES, perkembangan percepat an emit en saham, emit en obligasi mengalami kenaikan. Namun, lima t ahun t erakhir (sejak 2002 hingga sekarang) emit en saham dan obligasi mengalam i perlambat an, dan di bidang inst rum en lainnya sepert i derivat if dapat dikat akan belum mengalami kemajuan berart i. Kondisi ini mendorong perlunya perhat ian Pemerint ah, dalam hal ini Bapepam dan LK, SRO, dan pelaku pasar, untuk melakukan sesuat u yang st rat egis unt uk mencapai percepat an pert umbuhan jum lah emit en saham dan obligasi sert a perkembangan produk-produk yang dapat diperdagangakan di Bursa. Salah sat u pendekat an yang direncanakan oleh Pemerint ah sebagaimana dit uangkan dalam M ast er Plan Pasar M odal 2005-2009 yait u penggabungan BES dan BEJ. Penggabungan kedua Bursa ini diyakini dapat menghasilkan sinergi sehingga efisiensi pasar modal dapat t ercapai. Bursa Efek Indonesia (BEI) didirikan oleh pemerint ah Indonesia pada t anggal 1 Desember 2007 yang merupakan penggabungan ant ara Bursa Efek Jakart a (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES).
Visi Bursa Efek Indonesia tidak terlepas dari latar belakang dilakukannya
penggabungan BES-BEJ sebagaimana dituangkan dalam Master Plan Pasar
Modal 2005-2009 yaitu adanya suatu keinginan untuk memiliki suatu Bursa
yang kuat, bernilai, kredibel, kompetitif dan berdaya saing global. Bertitik tolak