• Tidak ada hasil yang ditemukan

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN DAN PROGRAM CSR PT PERTAMINA RU VI BALONGAN

MARINE REG III MANAGER LEGAL AND GENERAL AFFAIRS MANAGER

Spesifikasi Bahan Baku

Bahan baku utama yang digunakan oleh PT. Pertamina (Persero) RU VI Balongan adalah minyak Duri dan minyak Minas yang berasal dari Dumai-Riau, serta beberapa campuran minyak mentah lain, diantaranya Mudi mix, Cepu crude oil, dan Banyu Urip crude oil. Pada awalnya bahan baku utama yang digunakan adalah minyak mentah yang berasal dari Duri dan Minas dengan perbandingan Duri : Minas 80% : 20%. Namun dalam perkembangan selanjutnya dengan pertimbangan optimasi yang lebih baik, jumlah perbandingan dari minyak Duri dan Minas yang dicampurkan hampir sama, selain itu juga dilakukan penambahan minyak Nile Blend dalam jumlah kecil karena mulai terbatasnya kandungan minyak Duri dan Minas dan sifat dari minyak Nile Blend yang sesuai dengan kondisi dari Pertamina RU VI Balongan.

Minyak Duri adalah minyak mentah yang memiliki kualitas yang sangat rendah karena sebagian besar komponennya merupakan senyawa hidrokarbon berantai panjang yang banyak menghasilkan residu pada hasil proses di Crude Distillation Unit (CDU), sedangkan minyak Minas adalah minyak mentah yang memiliki kualitas lebih baik dari pada minyak Duri, karena jumlah residu yang dihasilkan dari proses CDU lebih sedikit dibandingkan minyak Minas.

Spesifikasi Produk

Produk dari kilang minyak tiap unit (CDU, AHU, RCC) hanya sebagai bahan dasar produk yang dijual di pasar, PT. PERTAMINA membuat dengan cara mencampur antara minyak dengan angka oktan tinggi dan angka angka oktan kecil untuk mendapatkan spesifikasi produk yang sesuai dengan pasar. Dalam hal ini, produk yang mempunyai angka oktan paling tinggi adalah Super- TT dan RU- VI Balongan adalah satu-satunya kilang di Indonesia yang memproduksinya.

Produk yang dihasilkan oleh PT. PERTAMINA RU VI Balongan adalah: Tabel 20. Kapasitas dan Distribusi Produk PERTAMINA RU-VI Balongan

Jenis Produk Kapasitas Satuan

A. BBM

Motor Gasoline

Automotive Diesel Oil Industrial diesel Oil

Decant Oil dan Fuel Oil

57.500 26.900 7.000 8.500 BPSD BPSD BPSD BPSD B. Non BBM LPG Propylene Ref. Fuel Gas Sulfur 700 600 125 30 Ton/hari Ton/hari Ton/hari Ton/hari C. BBK Pertamax Pertamax Plus HOMC 580 10.000 30.000 BPSD BPSD BPSD

Tabel 21. Prestasi PT Pertamina RU VI Balongan

No. Jenis Prestasi Tahun Keterangan

1 ISO 14001:2004 2013 RU VI balongan mendapatkan re sertifikasi ISO 14001:2004 dari badan sertifikasi internasional SGS sebagai perusahaan yang menjaga lingkungan

2 ISO 9001:2008 2013 Perusahaan konsisten menjaga mutu baik pengeloaan organisasi maupun produk

3 ISO 18001:2007 2012 Resertifikasi internasional System

manajemen kesehatan dan keselamatan kerja 4 ISO 17025:2008 2012 Akreditasi jaminan kualitas laboratorium RU

VI Balongan

5 PROPER HIJAU 2013 Program penilaian kinerja lingkungan oleh KMLH

6 PROPER EMAS 2015 Program penilaian kinerja lingkungan oleh KMLH

7 GOLD rank 2013 System manajeman keamanan perusahaan

oleh kepolisian RI

8 PLATINUM

predicate

2013 The best kometer oleh pertamina RU VI Balongan

ProgramCorporate Social Resposibility

Pada bagian ini akan membahas mengenai program Corporate Social Responsibilityyang telah dilakukan oleh PT Pertamina. Pada bagian ini juga akan dijelaskan mengenai program-program di dalam CSR PT Pertamina beserta dengan program khusus MangroveEduparkKelompok Binaan Jaka Kencana dan Pantai Lestari, Indramayu.

ProgramCorporate Social Responsibility(CSR) PT Pertamina

PT Pertamina merupakan salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang gas dan minyak bumi, sebagaimana dengan peraturan yang telah ditetapkan dalam UU PT No. 40 Tahun 2007 Bab V pasal 47 terkait dengan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi Perseroan, menjadi landasan dasar PT Pertamina untuk menghidupkan dan menerapkan CSR (Corporate Social Responsibility) dalam kegiatan perusahaan. Pertamina memiliki bagian tersendiri yang melaksanakan tanggung jawab terhadap masyarakat yaitu Community Development yang terbagi menjadi dua unit, yaitu TJSL (Tanggung Jawab Sosial Lingkungan) dan PKBL (Program Kemitraan Bina Lingkungan).

Pembahasan mengenai Program tanggung jawab sosial dan lingkungan kini diberi nama Divisi CSR (Corporate Social Responsibility) PT Pertamina telah berjalan semenjak sebelum diberlakukannya UU PT No 40 Tahun 2007 yang mewajibkan setiap perusahaan untuk memberikan sebagian keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan untuk kesejahteraan masyarakat. Tujuan CSR PT Pertamina adalah mewujudkan komitmen korporat dalam memberikan manfaat yang berkelanjutan (sustainable) bagi masyarakat sekitar, mendukung pencapaian proper Hijau dan Emas untuk unit korporasi sekaligus untuk membangun reputasi korporasi.

Penerapan Program CSR PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan mengacu pada Kebijakan CSR Korporat PT Pertamina RU VI Balongan yang merupakan implementasi tanggung jawab perusahaan kepada masyarakat dan lingkungan tehadap dampak yang diakibatkan oleh kegiatan operasi perusahaan melalui perilaku yang transparan dan beretika. Untuk mengimplementasikan tanggung jawab tersebut, dibuatlah suatu Kebijakan Unit sebagai pedoman pelaksanaannya yaitu:

1. Berkomitmen memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program yaitu bidang pendidikan, kesehatan, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan infrastruktur di sekitar wilayah operasional PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan.

2. Konsisten dalam pembangunan yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah operasional PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan.

3. lmplementasi Program CSR melibatkan unsur-unsur Perusahaan dan

Stakeholders di sekitar wilayah operasional PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan.

4. Melaksanakan program sesuai dengan hukum dan norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga mendukung tercapainya Visi dan Misi PT Pertamina (Persero) RU VI Balongan. "Menjadi Kilang Terkemuka di Asia Tahun 2025". 5. Mengacu kepada kebijakan Lingkungan Hijau di Pertamina RU VI Balongan.

Lingkup CSR yang dilakukan oleh PT Pertamina terdapat dalam beberapa bidang, diantaranya: pendidikan, kesehatan, lingkungan, infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat.

1. Pendidikan

Program ini fokus pada tujuan untuk meningkatkan kualitas tingkat pendidikan di sekitar wilayah operasi perusahaan, salah satu contohnya adalah melakukan pembangunan sarana, prasarana dan infrastruktur sekolah maupun bangunan perguruan tinggi. Kemudian untuk meningkatkan motivasi para peserta pendidikan diberikan beasiswa pendidikan untuk memacu peningkatan prestasi bagi mereka dan membantu anak-anak yang kurang mampu dalam menempuh pendidikan karena alasan ekonomi. Implementasi dari Program pendidikan adalah Bantuan Pendidikan dasar, bantuan buku pelajaran, Optimalisasi PAUD dan beasiswa bagi yang tidak mampu.

2. Kesehatan

Program ini menitikberatkan pada peningkatan kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan hidup dalam lingkungan mereka, khususnya disekitar wilayah operasi perusahaan. Program ini mencakup beberapa golongan penerima bantuan, seperti ibu hamil dan menyusui, bantuan operasi bebas biaya untuk masyarakat kurang mampu untuk penyakit 34 tertentu. Adapula bantuan sarana, prasarana, dan infrastruktur fasilitas mum kesehatan untuk kesejahteraan masyarakat, juga bantuan Program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), dan program Inkubator untuk menjaga kematian bayi ke RSUD Indramayu.

3. Lingkungan

Lingkungan menjadi sorotan utama perusahaan dalam menjamin keberlangsungan hidup masyarakat. Oleh sebab itu PT Pertamina melakukan beberapa terobosan seperti reklamasi dan reboisasi disejumlah lokasi yang rawan akan kerusakan lingkungan akibat operasi perusahaan. Implemantasi Program yang menjadi unggulan pada program lingkungan ini adalah Mangrove edupark yang membina dua kelompok tani mangrove yaitu Jaka Kencana dan Pantai Lestari.

4. Peningkatan Infrastruktur dan Pemberdayaan Masyarakat

Program ini merupakan salah satu program yang diharapkan mampu mewujudkan keberlanjutan dalam pelaksanaannya pada masyarakat, selain peningkatan infrastruktur, perusahaan berupaya menjalin hubungan kerja sama dengan beberapa lembaga lainnya untuk mewujudkan desa binaan dalam mendampingi masyarakat untuk mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Implemantasi program ini diantara adalah program budidaya itik dan telur, pemberdayaan perikanan, pemberdayaan purna TKW, dan pelatihan las bersertifikat.

Program Lingkungan MangroveEdupark

Program yang termasuk dalam kategori lingkungan ini, disebut Program Mangrove Edupark PT Pertamina. Adapun lokasi desa mitra binaan PT Pertamina terdapat di dua tempat, yaitu Desa Karangsong dan Pabean Udik. Program ini dilakukan dengan melakukan hubungan kemitraan dengan lembaga institusi, yaitu Universitas Gajah Mada. Bentuk kolaborasi yaitu kemitraan ini dilakukan agar tercipatnya CSR yang tepat sasaran dan kolaborasi yang baik bagi perusahaan dan masyarakat dalam melakukan pemberdayaan. Oleh sebab itu, diperlukan salah satu pihak perantara sebagai jalan untuk mencapai tujuan CSR yang tepat sasarsan dan suistanable atau keberlanjutan bagi masyarakat dan lingkungan.

Program Mangrove Edupark kemudian dibagi kembali menjadi beberapa jenis program yang akan menjadi pembahasan dalam penelitian ini yaitu program pengolahan mangrove dan program pengelolaan ekosistem mangrove yang melibatkan dua kelompok binaan yaitu Pantai Lestari dan Jaka Kencana.

Sejarah Program

Desa Karangsong merupakan salah satu desa yang berada di pesisir Laut Jawa, Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani tambak bandeng dan udang. Nelayan yang terdapat di desa ini beraneka ragam, dilihat dari ukuran kepemilikan perahu mereka, menjadi tiga golongan yaitu nelayan dengan perahu besar dan memiliki penghasilan besar, nelayan dengan perahu sedang yang dalam kesehariannya menjual hasil tangkapannya ke TPI Desa Karangsong dan juga hasil tambak yang banyak dijual ke jakarta. Karangsong juga memiliki luasan vegetasi mangrove sebesar ±50 ha yang mana sejak tahun 90an hingga tahun 2007 mengalami banyak pengurangan lahan akibat adanya abrasi pantai dan konversi lahan menjadi tambak ikan. Rehabilitasi dan pengelolaan mangrove serta sosialisasi tentang mangrove yang bijaksana dan teratur merupakan hal yang diperlukan bagi masyarakat agar ekosistem mangrove

terjaga dan masyarakatpun bisa berkembang ekonominya dan bisa memahami akan arti pentingnya mangrove di lingkungan tempat mereka tinggal.

Program ini dibentuk pada tahun 2008, pada awalnya tahun 2008 telah terjadi peristiwa tumpahan minyak crude oil PT. Pertamina di daerah karangsong dan sekitarnya. Hal ini membuat PT Pertamina dengan Divisi CSR nya terdorong untuk bertanggung jawab atas tercemarnya limbah-limbah minyak yang tercecer dilaut Karangsong, pabean udik dan sekitarnya. Jadi, CSR PT Pertamina membentuk team untuk membuat program tentang ganti rugi dengan nelayan, dan juga program terkait lingkungan dan pemberdayaan bagi masyarakat sekitar. Bentuk kemitraan dan binaan pun dilakukan oleh PT Pertamina yang sekarang dibantu dengan team CSR Universitas Gajah Mada dalam membuat program rehabilitasi mangrove berbasis edukasi. Program ini telah disepakati secara keseluruhan, yaitu dimulai dari pemetaan wilayah hingga tahap evaluasi program. Pemetaan wilayah yang memulai perencanaan program, pelaksanaan program, telah menghasilkan beberapa sumber data, diantaranya potensi masyarakat dan alam.

Pertamina bermitra dengan kelompok tani Pantai Lestari yang juga dibentuk pada tahun 2008 yang berfokus pada pengelolaan vegetasi mangrove yang ada di karangsong, sehingga CSR menjadikan kelompok Pantai Lestari menjadi kelompok mitra dan binaan PT Pertamina dalam mewujudkan program pertamina di bidang lingkungan khususnya program rehabilitasi mangrove dan bersama- sama dalam mengkonsep kawasan konservasi mangrove yang berbasis edukasi/

mangrove edupark. Seiring berjalannya waktu CSR pun juga bermitra dengan Kelompok Jaka Kencana di desa Pabean Udik, kelompok ini juga berfokus pada Pengolahan mangrove. CSR Pertamina ingin bahwa konsep mangrove edupark tidak hanya sekedar pengelolaan mangrove beserta jenis-jenisnya dan merawatnya, tapi juga ingin memberi pengetahuan kepada masyarakat bahwa mangrove juga bisa diolah menjadi makanan dan minuman yang sehat dan bergizi, sehingga dua kelompok inilah yang menjadi mitra pertamina untuk program lingkungan mangrove edupark dengan target roadmap tahun 2017 menjadi ekowisata mangrove center berbasis edukasi dan menjadi central produk unggulan olahan mangrove.

Implementasi Program

Implementasi dari program mangrove edupark ini adalah melalui berbagai tahap atau roadmap yang telah dibuat CSR Pertamina sebagai misi yang dilakukan untuk mencapai target utama yaitu menjadikan karangsong sebagai mangrove center berbasis edupark di wilayah barat Indonesia. Pada berbagai tahap tersebut CSR pertamina senantiasa mendampingi kelompok dalam mewujudkan langkah demi langkah target yang akan dicapai setiap tahunnya. Program mangrove edupark memiliki beberapa kegiatan yang mengacu pada tujuan akhir perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Pada tahap pengetahuan, pendamping program mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak dalam memberikan sosialisasi tentang mangrove kepada kelompok binaan, dan juga sharing terkait segala pengetahuan tentang mangrove yang dimiliki kelompok binaan, sehingga adanya sinergitas dalam pelaksanaan program kedepannya. Dalam hal pengelolaan, PT Pertamina memberikan pengetahuan baru kepada kelompok Pantai Lestari terkait pemantauan dan

pengawasan mangrove menggunakan sistem barcoding melalui internet dan android, hal ini bertujuan agar mangrove yang telah ditanam dari Pertamina bisa dipantau perkembangnya dan bisa memantau jika terjadi masalah terhadap tumbuhan tersebut.

Pada tahap sikap, pendamping bersama dengan anggota masing-masing kelompok sering mengadakan pertemuan rutin untuk mebahas permasalahan terkait kebutuhan dan keinginan anggota kelompok dalam pelaksanaan nanti, sehingga mereka terus memiliki kemauan yang kuat untuk terintegrasi dalam program mangrove ini. Pada kelompok Pantai Lestari, pendamping sering berkujung untuk menanyakan apa yang diperlukan oleh kelompok, seperti keperluan perahu, bibit, pelampung, alat komunikasi dan sebagainya. Pada kelompok Jaka Kencana, bersama-sama mengidentifikasi mangrove yang bisa diolah menjadi makanan dan minuman sehingga menjadi produk yang unggul dan bisa diterima oleh pasar.

Pada tahap keterampilan, menekankan pada peningkatan kemampuan anggota kelompok lestari untuk bisa memantau mangrove melalui sistem android menggunakan barcoding. Juga pada kelompok Jaka Kencana agar memiliki keterampilan dalam membuat produk, mengemas produk dan memasarkannya. tahap keterampilan ini diharapkan agar kelompok bisa berdaya dan mandiri di bidang nya maisng-masing dan program mangrove edupark bisa berjalan sesuai rencana. Pada hal ini didukung pula oleh peryataan anggota kelompok Pantai Lestari:

“… Adanya pertamina, pengetahuan kami semakin bertambah tentang mangrove, kami diberi ilmu baru terkait pemantauan mangrove yang lebih efektif menggunakan sistem android, sehingga kita nggak susah payah memantau keliling mangrove yang cukup luas ...” –Bapak MK

Adapun pernyataan kelompok Jaka Kencana terhadap Program

“… Pendamping CSR mas riza sama mba tri sudah banyak bantu kita, banyak diskusi dan praktek terkait pengenalan jenis mangrove, kita juga diajari packaging, sehingga produk kita bersih dan higenis, dan sudah menerima serifikat halal dan P- irt…”-Bapak AL 40 tahun

Pendapat dari kedua kelompok menjelaskan bahwa pertamina berupaya agar kedua kelompok selain mensukseskan program mangrove juga mereka senang karena perkembangan mereka semakin maju dengan adanya CSR pertamina. Stakholders Pemerintah Desa, Dinas Perikanan Indramayu, Dinas kehutanan Indramayu, Pendamping CSR PT Pertamina. Masing-masing

stakeholders memiliki tugas dan peranan yang berbeda, Secara umum kita dapat membagi menjadi 3 kategori, yaitu: masyarakat, pemerintah, dan swasta (perusahaan). Masyarakat dilibatkan sebagai penerima program, menjalankan program yang sebelumnya telah disusun oleh perusahaan yang bekerjasama dengan UGM. Pada program ini anggota kelompok dapat dikatakan hanya menerima program tanpa secara mandiri menginisiasi program dan kebutuhan yang mereka perlukan, PT Pertamina membuat program bersifat top-down, sehingga semua sumber informasi, ide, gagasan, diawali oleh para pemberi program (Perusahaan dan UGM juga hanya para petinggi kelompok seperti ketua dan sekretaris kelompok yang diajak rapat dalam menentukan program.

Selanjutnya pemerintah, sangat mendukung adanya Program CSR ini tetapi pihak pemerintah hanya dapat membantu sebatas dukungan moril. Dinas perikanan bertugas sebagai seorang penyuluh kemudian dihadirkan untuk memberikan pengarahan dan sosialisasi terkait mangrove bagi masyarakat. Hal ini juga dalam pengakuan dari Pimpinan CSR Pertamina RU VI Balongan, seperti:

“… Kita memang agak kurang pengetahuan tentang apa itu CSR, yang kami tahu CSR itu dibentuk karena adanya undang-undang yang membuat kita harus ada CSR untuk masyarakat. Kami mengartikan juga CSR bahwa Perusahaan dan masyarakat itu harus sama-sama deket, kita tinggal di lingkungan masyarakat jadi kita harus buat baik juga dan CSR berupaya agar masyarakat sekitar perusahaan bisa berdaya dan sejahtera dan lingkungan mangrove yang rusak pun kembali normal ...” .–Bapak CS 35 tahun

Menurut pemahaman pihak CSR Pertamina, bahwa mereka melakukan CSR karena memang mengikuti undang-undang yang berlaku di Indonesia. Ini sejalan dengan pendapat Wibisono (2007) bahwa tanggung jawab sosial dilakukan perusahaan dalam rangka memenuhi kewajiban atas dasar anjuran regulasi Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang perseroan terbatas. Pada Implementasi Program Mangrove Edupark, Pertamina RU VI Balongan sangat aktif dalam hal promosi dan pemberitaan mengenai Program mangrovenya ke media-media siaran yang ada di Indonesia, surat kabar, televisi, radio dan sebagainya, bahkan Pertamina sanggup mengundang Menteri Lingkungan Hidup yaitu Ibu Siti Nurbaya yang membuka jalannya akses program mangrove. Dalam hal ini ada dua keuntungan yang diperoleh yaitu

1. Pertamina RU VI semakin meningkat eksistensinya dan membawa nama baik pertamina dalam hal bina lingkungan

2. Nama kelompok tani mangrove beserta programnya juga ikut terangkat dan masyarakat Indonesia semakin mengenal tentang tempat edukasi mangrove.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Hadi (2009) bahwa biaya sosial CSR yang dikeluarkan perusahaan memiliki manfaat meningkatkan legitimasi dan meningkatkan image perusahaan baik dipasar komoditas maupun pasar modal.

Gambar 6. Implementasi Program Pengolahan Mangrove Jaka Kencana Pada implementasi program ini juga, partisipasi menjadi hal utama dalam pelaksanaan program di lapang. Partisipasi anggota kelompok penerima program yang menjadi salah satu fokus perusahaan. Keaktifan partisipasi atau tidaknya anggota juga dipertimbangkan melalui ketua kelompok yang memimpin anggotanya di dalam kelompok. Oleh karena itu CSR Pertamina lebih memilih kelompok Pantai Lestari dan Jaka Kencana sebagai kelompok mitra binaan dikarenakan mereka yang lebih aktif dibandingkan dengan kelompok-kelompok tani mangrove lainnya. Hal ini disampaikan oleh sal satu pendamping CSR yaitu Mas RZ yaitu

“… Disini banyak banget kelompok mangrove, tapi cuma hanya sekedar kelompok dadakan aja. jika ada proyek, kalo ada uang banyak kelompok itu aktif awal-awalnya aja, tengah-tengahnya sudah pada bubar, makanya kita pilih kelompok Pantai Lestari dan Jaka Kencana karena mereka konsisten sama kelompok yang mereka buat, itu karena ketuanya yang aktif menggerakkan anggota …”–Mas RZ

Pendapat diatas menjelaskan bahwa kepemimpinan dan partisipasi anggota kelompok menentukan keberlanjutan suatu program, apabila program berlanjut/suistainable maka efektivitas Program CSR pun juga menjadi baik. Partisipasi yang paling jelas terlihat adalah pada saat implementasi program pada contohnya adalah untuk kelompok Pantai Lestari yaitu jika ada penanaman mangrove mereka semua terlibat aktif dalam penanaman, lalu jika ada kunjungantamu, merek semua aktif pada jobdesk atau pembagian kerja masing- masingJadi, partisipasi yang mereka lakukan adalah bagian dari kewajiban anggota dan juga sebagai pekerjaan mereka. Sedikit berbeda kelompok Jaka Kencana terlihat partisipasi aktif anggota hanya jika ada proyek baru yang masuk dan tidak semua anggota ikut berpartisipasi, dikarenkan jumlah anggota mereka yang cukup banyak sehingga hanya sebagian yang berpartisipasi secara bergantian seiring proyek yang masuk.

Menurut pendapat salah satu pendamping lapang CSR, bahwa partisipasi masyarakat cukup baik dalam pelaksanaan program, hanya saja pengetahuan akan organisasi para anggota yang kurang, dikarenakan pendidikan mereka khusunya Jaka Kencana yang sangat rendah, disbanding dengan pendidikan anggota yang ada pada kelompok Pantai Lestari. Diakui pula oleh pendamping lapang, untuk tahap perencanaan, hanya Perusahan, Team CSR dan ketua kelompok yang diajak berdiskusi terkait program, sedangkan para anggota hanya menerima hasil jadinya tanpa ada partisipasi. Pada tahap monitoring dan evaluasi, Pendamping CSR berupaya memonitoring kelompok dengan mendatangi kelompok lewat para ketua maupun anggota kelompok. Selain itu, evaluasi biasanya CSR mengadakan kumpul bersama dengan seluruh kelompok bersama stakeholder lainnya seperti perangkat desa dan dinas kehutanan dan perikanan.

Gambar 7. Evaluasi Program Mangrove Edupark di Kantor Kecamatan Indramayu

Evaluasi juga dilakukan pada kelompok Jaka Kencana (Foto 1 Lampiran 5). Program yang telah dicanangkan dari tahun 2008 hingga sekarang ini telah dirasakan kedua kelompok dalam partisipasinya yang dilakukan didalam kelompok. Dari partisipasi ini menentukan apakah Program CSR Mangrove edupark telah tepat sasaran dan memberikan dampak positif tidak hanya untuk nama kelompok dan ketua namun juga anggota yang juga ikut merasakannya. Sehingga harapannya pada tahun 2017 program Mangrove edupark menjadi program ekowisata mangrove center berbasis edukasi dan menjadi central produk unggulan olahan mangrove yang dikelola oleh dua kelompok ini.

Ikhtisar

Program CSR Pertamina dibidang lingkungan yaitu mangrove edupark bermula dari adanya kejadian tumpahan minyak crude oil yang terjadi di sekitar pantai karangsong, pabean udik dan sekitarnya. Hal tersbut membuat team CSR Pertamina tergerak untuk bertanggung jawab dengan melakukan serangkaian program dan ganti rugi demi terciptanya keamanan dan kenyaman di lingkungan masyarakat dan lingkungan alam. CSR Pertamina membuat serangkaian program penanaman mangrove dan juga ganti rugi ke para nelayan.

Program mangrove edupark merupakan Program CSR Pertamina dibidang lingkungan yang pada program ini pertamina ingin masyarakat daerah indramayu dan para pengunjung dari berbagai daerah bisa belajar tentang mangrove yang memiliki banyak fungsi dan manfaatnya untuk manusai dan alam. program di