• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKNA MARTAHI KAREJO .1 Makna Perangkat Adat Martahi Karejo .1 Makna Perangkat Adat Martahi Karejo

Teks 2: Hata pangalusi ni Harajaon: Bahasa Indonesia:

4.3 MAKNA MARTAHI KAREJO .1 Makna Perangkat Adat Martahi Karejo .1 Makna Perangkat Adat Martahi Karejo

Bab ini membahas tentang perangkat adat yang dilaksanakan pada upacara adat martahi karejo pada masyarakat angkola. Ada beberapa perangkat adat yang mempunyai arti luas dan mempunyai filsafat bagi masyarakat angkola khususnya, yakni (1) burangir (sirih), (2) gambir, (3) soda, (4) pining (pinang), (5) timbako (tembakau), (6) pinggan (piring), (7) abit (kain), dan (8) hadangan. Perangkat adat satu sampai lima dikatakan juga pada istilah masyarakat Angkola, yakni empat ganjil lima gonop yang artinya empat masih terasa ganjil atau janggal maka harus dibuat 5 agar menjadi genap ataupun lengkap.

Makna dan Filsafat perangkat adat martahi karejo pada masyarakat Angkola, yaitu:

1. Burangir (sirih)

Burangir atau sirih ini sebagai penanda dari hasuhuton ataupun kahanggi karena jika sirih ini dimakan akan mengeluarkan warna merah yang menandakan bahwa antara suhut dan kahanggi ini adalah sedarah. Burangir merupakan simbol dari hasuhutan atau kahanggi.

2. Gambir

Gambir ini sebagai penanda kepada anakboru karena rasa dari gambir tersebut ada manis dan pahit, kemudian gambir ini diibarakan kepada kerja dari anakboru karena pekerjaan itu adat yang berat dan ada juga yang ringan, disamping itu keuntungan dari anakboru ini adalah diberi kebebasan melakukan apa saja yang ada di dalam pelaksanaan horja (pesta), sehingga anakboru ini juga dikatakan dalam istilah masyarakat angkola, yakni si horus nalobi sitamba na urang, artinya bila dalam pelaksanaan itu ada yang lebih maka semuanya akan diberikan kepada anakboru dan apabila ada yang kurang maka terpaksa anakboru ini mencukupi atau menambah kekurangan tersebut agar pihak suhut atau mora tidak merasa malu dalam melaksanakan acara horja (pesta) tersebut.

3. Soda

Pengertian dari soda pada masyarakat Angkola yang mempunyai warna putih tetapi memiliki rasa yang pedas seperti terbakar. Soda tersebut sebagai penanda kepada mora karena apapun yang disampaikan mora sebagai orang yang dihormati dan yang mengatur pelaksanaan horja (pesta) adalah benar mora sebagai penyampai segala sesuatu pesan yang diamanatkan, walaupun terkadang pahit dirasakan oleh pihak yang medengarkan, dalalm hal ini mora tidak akan salah karena seperti soda yaitu setiap yang putih itu menyampaikan yang jernih, walaupun yang menerimanya merasa pahit atau sakit harus selalu diterima.

4. Pining (pinang)

Pining sebagai penanda keapda mora. Makna dari pining atau pinang adalah jika pinang terbsebut dibelah menjadi dua akan terlihat garis-garis

berwarna merah dan juga berwarna putih. Pinang ini dilambangkan kepada harajaon dan hatobangon karena apa saja yang disampaikan oleh mereka walaupun itu manis atau pahit harus benar-benar ikhlas menerimanya dan apapun yang diberikan oleh harajaon dan hatobangon harus diterima apa adanya sekalipun tidak suka. Pengertiannya adalah kalau kita lakukan dan laksanakan dengan benar apa yang disampaikan oleh harajaon dan hatobangon maka pinang ini akan menjadi obat yang artinya apa yang kita kerjakan pada saat melaksanakan horja (pesta) dengan mendengarkan saran dari mereka pasti akan menjadi baik. 5. Timbako (tembakau)

Tembakau sebagai penanda kepada orangkaya. Dalam hal ini yang pertama dibahas mengenai timbako (tembakau) adalah asap karena apabila tembakau ini di hisap (merokok) maka asapnya akan pergi ke atas dan menyebar, tembakau ini dilambangkan kepada orang kaya.Orang kaya disni adalah yang memberikan rang-rangan, artinya kemanapun diletakkan orang kaya ini yang mengarahkan dan orang kayalah yang memberikan gambaran menegenai apa yang harus dikerjakan dan dilaksanakan pada horja (pesta) tersebut. Segala sesuatu kegiatan yang terjadi pada saat pelaksanaan horja (pesta) orang kaya mengatur kapan fase-fase pelaksanaannya dan mengatur waktu, yakni bulan, minggu, hari dan jam berapa yang tepat untuk dilaksanakan.

6. Pinggan (piring)

Pinggan (piring) disebut juga dengan pinggan parsadaan, pada zaman dahulu piring ini terbuat dari kayu, tetapi setelah datang barang-barang dari luar negeri terutama dari cina ada yang disebut dengan pahar yang terbuat dari

kuningan. Kemudian terakhir ada pinggan godangdari negeri cina juga tetapi tebuat dari porselen. Pinggan (piring) memiliki arti parsadaan (kesatuan) dan masyarakat Angkola memiliki istilah untuk piring tersebut yakni sapinggan sapangananyang artinya adalah adat batak adalah satu dan masyarakat batak adalah satu. Kemudian perangkat adat sirih, gambir, soda, pinang, dan tembakau diletakkan diatas piring ini agar bias melaksanakan yang sudah diamanatkan dan bias dikerjakan bersama-sama.

7. Abitbugis (kain)

Abit dilihat dengan secara umum digunakan untuk menutupi bagian yang perlu ditutup. Bagian yang perlu ditutup dalam pelaksanaan adat ini adalah permohonan dari suhut. pada saat melaksanakan martahi karejo suhut ini mengajukan beberapa permohonan atau permintaan agar terlaksana horja (pesta) yang akan dilaksanakan dengan ulasan agar bisa lebih baik lagi maka di tutupilah dengan abit ini yang artinya permohonan dari suhut tersebut bias dipenuhi.

8. Hadangan

Ada aturan untuk meletakkan hadangan ini yaitu mulut dari hadangan ini dihadapkan di depan harajaon di persidangan yang artinya agar pihak dari suhut atau yang melaksanakan adat tersebut dari atas sampai bawah agar di isi hadangan tersebut dengan memenuhi keinginan dari suhut untuk dapat diberkatu dan apa yang diinginkan oleh suhut dapat terlaksana dengan baik.

Ada beberapa perbedaan perangkat adat dalam melaksanakan horja godang yaitu pada abit dan hadangan. Pada pelaksanaan horja kecil biasanya memakai abit bugis dan hadangan tetapi pada pelaksanaan horja godang abit

yang dipakai adalah abit godang karena permintaan atau permohonan dari yang melaksanakan horja godang atau suhutlebih besar dan lebih banyak dan abit ini juga menunjukkan marsabe-sabe untuk manortor. Sedangkan untuk hadangan juga diganti dengan talam karena permintaan dari suhut bukan sedikit yang ingin dilaksanakan dan dipatuhi sesuai dengan pengertian abit godang tersebut

Gambar 5.1 Perangkat adat martahi karejo 4.3.2 Kearifan Lokal Pada Tradisi Martahi Karejo

Dalam bab ini peneliti dideskripsikan mengenai nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada upacara adat martahi karejo masyarakat Angkola. Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat atau daerah. Jadi merujuk pada lokalitas dan komunitas tertentu. Keraf (2002) menegaskan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam

komunitas ekologis. Semua bentuk kearifan lokal ini dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan diwariskan dari generasi ke generasi sekaligus membentuk pola perilaku manusia terhadap sesama manusia, alam maupun gaib.

Kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial. Sebagai salah satu bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis melainkan berubah sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan dan ikatan sosial budaya yang ada di masyarakat.

Adanya gaya hidup yang konsumtif dapat mengikis norma-norma kearifan lokal di masyarakat. Untuk menghindari hal tersebut maka norma-norma yang sudah berlaku di suatu masyarakat yang sifatnya turun menurun dan berhubungan erat dengan kelestarian lingkungannya perlu dilestarikan yaitu kearifan lokal 4.3.2.1Nilai Kearifan Bergotong-Royong

Salah satu peninggalan dari orang tua dulu bagi masyarakat Angkola adalah gotong-royong. Dalam setiap pekerjaan untuk kepentingan bersama selalu dikerjakan bergotong-royong. Misalnya musyawarah untuk membangun Musollah dan Mesjid, membuat jalan setapak, membersihkan jalan dan parit, membangun rumah tangga termasuk gotong-royong martahi pada upacara pesta pernikahan masyarakat Angkola.

Dalam proses martahi karejo pada upacara adat masyarakat Angkola tidak mungkin mampu dikerjakan sendiri oleh keluarga yang ingin melaksanakan

hajatan. Semua keluarga dekat dan tetangga mempunyai kebersamaan untuk membantu hajatan tersebut, dalam hal ini yang ikut membantu baik muda maupun tua. Menantu lelaki, menantu perempuan bahkan pejabat pemerintahpun mempunyai kedudukan tertentu dalam suku, maka tidak segan-segan turun tangan dalam membantu pesta pernikahan itu.

Begitu juga dalam pendanaan, masyarakat juga ikut dalam membantu memberikan bantuan untuk meringankan beban kepada pihak yang menyelenggarakan pesta pernikahan. Ketika musyawarah seluruh keluarga dan orang yang mempunyai ikatan dan suku dan keluarga diawal sudah membantu berdasarkan kemampuannya masing-masing. Dalam hajatan tersebut, nampak sekali nilai gotong-royongnya, ibu-ibu sudah bergabung menyiapkan bumbu-bumbu masakannya, generasi muda memasak nasi, mengangkat piring dan mencucinya, memasang hiasan. Membantu keluarga yang sedang melaksanakan hajatan merupakan sebuah kebanggaan bagi masyarakat Angkola dan yang ikut membantu secara gotong-royong begitu banyak, begitu juga tamu yang hadir. Semakin tinggi status sosial masyarakatnya semakin tinggi pula partisipasi masyarakat membantunya baik bantuan tenaga maupun materinya.

4.3.2.2Nilai Kearifan Musyawarah

Dibawah ini dijelaskan teks yang menunjukkan nilai kearifan lokal yang berhububungan dengan komitmen musyawarah yakni:

Teks 2: Hata pangalusi ni Harajaon Bahasa Indonesia:

Permisi sepuluh di siding yang mulia ini, hormat kepada anak raja dan juga anak yang mora. adalah benar tadi siang datang undangan kalian

kepada kami, itulah kalian suhut sihabolonan, agar berkumpul di rumah yang mulia ini yaitu pada malam ini. Setelah kami sampai disini kalian hidangkan sipulut dengan intinya seperti yang ingin menyatukan hati kami. Setelah selesai menikmati hidangan segeranya anakboru kalian yaitu goruk-goruk hapinis berdiri menawarkan sirih sambil meletakkan napuran di depan anak raja dan anak yang mora. menyampaikan keluh kesah dan mengatakan bahwa anak gadis ingin menikah.

Kami dari harajaon ikut serta melaksanakan. Tapi satu permintaan yaitu horas nian tondi madingin sayur matua bulung, semufakat dalam musyawarah seiya sekata., karena seperti peribahasa:

Tali diluruskan

Untuk pengikat andilo Jika kita seiya sekata

Itulah yang membawa kekuatan

Dikarenakan masih disini orang kaya begitu juga raja panusunan bulung, dan merekalah yang pandai menerima keluh kepada merekalah kita serahkan.

Bahasa Mandailing:

Santabi sampulu di sidang na mulia on, hormat tu anak ni raja songoni dohot anak ni na mora. Tutu nangkin di arian I, ro ontang munu tu hami, ima hamu suhut si habolonan, anggiat anso marlagut di bagas na mulia on. Ima pado ari borngin on. Dung tolap hami tu son jana di patating munu do sipulut mardongan inti songon dalan na palagut roha nami. baen madung salose na markopi sagiro do anak boru munu ima goruk-goruk ni hapinis jonjong manyurduon burangir dalan patipal na puran di jolo ni anak raja dohot anak ni na mora. Mangandungkon holos dohot lidung na mandokkon boru na giot langka matobang.

Hami sian harajaon laing na dohot ma pasaut patulusna. Sada doma pangidoan sai horas nian tondi madingin sayur matua bulung, satumtum satahi hita dohot saoloan, harana laing songon ni umpama do da:

Tali di patali tali Baen ihat ni andilo Anggo sa tumtum sa tahi Ido maroban gogo

Onpe dison dope orang kaya songoni dohot raja panusunan bulung. Baen ibana do na malo sumambut lidung tu ibana doma ta soraho, botima.

Dari teks diatas dapat kita lihat kembali makna martahi karejo yang sebenarnya yaitu musyawarah yang dilaksanakan oleh masyarakat Angkola untuk menitipkan kerja kepada kerabat dan masyarakat setempat, dimana masyarakat setempat yang dianggap sebagai pemuka-pemuka adat yang sering disebut masyarakat angkola sebagi harajaon atau hatobangon dan semua keluarga dari pihak yang ingin melakukan suatu hajatan dikumpulkan dalam suatu waktu yang bersamaan hanya untuk menjelaskan maksud dan tujuan untuk melakukan hajatan, serta untuk memusyawarahkan segala permasalahan yang dianggap penting dalam pelaksanaan hajatan tersebut. Pada akhirnya musyawarah ini nanti akan menghasilkan suatu kesepakatan tentang bagaimana hajatan ini akan dilaksanakan.

Dapat kita simpulkan bahwa masyarakat Angkola mempunyai salah satu sifat yakni selalu musyawarahkan segala hal yang sudah menjadi tradisi untuk memperoleh kesepakatan serta keputusan bersama dalam melaksanakan suatu hajatan khususnya yang berhubungan dengan tradisi dan masyarakat Angkola adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai musyawarah baik itu dalam pelaksanaan tradisi ataupun dalam kehidupan sehari-hari, karena sifat musyawarah ini telah dibentuk sejak dahulu dalam lingkungan masyarakat Angkola.

4.3.2.3Nilai Kearifan Kehormatan

Adapun nilai kehormatan adat masyarakat Angkola terletak pada keseimbangan aspek spritual dan material yang ada pada diri seseorang. Kekayaan harta dan kedudukan ataupun jabatan yang ada pada seseorang tidak ada artinya

bila tidak didukung oleh keutamaan spritualnya. Orang yang mempunyai banyak harta serta memiliki jabatan dan posisi tinggi diiringi dengan sifat suka menolong atau memajukan sesama, mempunyai anak keturunan serta diiringi dengan jiwa keagamaan maka dia dipandang terhormat.

Teks yang menunjukkan nilai kearifan lokal yang berhubungan dengan kehormatan yakni:

Teks 1 : Hata ni Suhut