• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

D. Masa dan Hikmah Hadhanah

Anak-anak yang masih di bawah umur masih sangat memerlukan bimbingan dan asuhan serta didikan dari orang tuanya hingga ia menjadi dewasa dan dapat berdiri sendiri dalam memenuhi keperluannya. Pemeliharaan anak tersebut pada saatnya akan berakhir dan yang menjadi persoalan adalah sampai kapankah berakhirnya masa pemeliharaan anak.

Para fuqaha pada umumnya membagi masa usia anak kepada dua yaitu: 1. Masa anak kecil ialah masa sejak anak dilahirkan sampai anak berumur

antara 7 dan 9 tahun. Pada masa ini anak belum dapat mengurus dirinya sendiri. Ia memerlukan pelayanan, penjagaan dan didikan dari pendidiknya.

32

35

2. Masa kanak-kanak. Masa ini mulai sejak anak berrmur 7 atau 9 atau 11 tahun. Pada masa ini anak-anak telah dapat mengurus dirinya sendiri.33

Tidak terdapat ayat-ayat al-Qur‟an dan Hadits yang menerangkan dengan tegas tentang masa Hadhanah, hanya terdapat isyarat-asyarat yang menerangkan masa tersebut. Karena itu para ulama melaksanakan ijtihad sendiri-sendiri dalam menetapkannya dengan berpedoman kepada isyarat-isyarat itu.34 Adapun pendapat fuqaha sebagai berikut:

a. Menurut madzhab Hanafi, terutama ulama-ulama mereka yang terdahulu bahwa mengasuh anak kecil laki-laki itu berakhir apabila ia telah sanggup mengurus keperluannya yang utama seperti makan, berpakaian dan kebersihannya. Sedangkan untuk anak perempuan berakhir sampai usia baligh (batas timbul syahwat). Mereka tidak memberi batas yang tegas. Adapun ulama-ulama Hanafi yang datang kemudian memberi batasnya berdasarkan ijtihad karena pertimbangan kondisi anak, tempat dan masanya. Maka mereka menentukan batas usia untuk anak laki-laki berusia 7 tahun dan untuk anak perempuan berusia 9 tahun.

b. Madzhab Maliki menyatakan bahwa batas usia seorang anak untuk diasuh ialah sejak anak itu lahir sampai baligh. Untuk anak perempuan ialah sejak

33

Kamal Mukhtar, Asas-Asas Hukum Islam tentang Perkawinan, h.136. 34

Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Ilmu Fiqh, h.214.

36

lahir sampai ia kawin, bahkan sampai ia dicampuri suaminya, demikian menurut madzhab ini.35

c. Madzhab Syafi‟i , tidak ada batasan tertentu bagi asuhan. Anak tetap tinggal

bersama ibunya sampai dia bisa menentukan pilihan apakah tinggal bersama ibu atau ayahnya. Kalau si anak sudah sampai pada tingkat ini, dia disuruh memilih apakah tinggal bersama ibu ataukah dengan ayahnya; tetapi bila si anak memilih tinggal bersama ibu dan ayahnya, maka dilakukan undian, bila si anak diam (tidak memberikan pilihan), dia ikut bersama ibunya.36

d. Madzhab Hambali, masa asuh anak laki-laki dan perempuan adalah 7 tahun dan sesudah itu si anak disuruh memilih apakah tinggal bersama ibu atau ayahnya, lalu si anak tinggal bersama orang yang dipilihnya itu.37

Bila anak laki-laki telah melewati masa kanak-kanak yaitu mencapai usia tujuh tahun, yang dalam fiqh dinyatakan sebagai mumayyiz dan dia tidak idiot, antara ayah dan ibu berselisih dalam memperebutkan hak Hadhanah, maka si anak diberi hak pilih antara tinggal bersama ayah atau ibunya untuk pengasuhan

35

Peunoh Daly, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Studi Perbandingan dalam Kalangan Ahlus-Sunnah dan Negara-negara Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1988), h.405.

36

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Madzhab. Penerjemah Masykur A.B., dkk, (Jakarta: Lentera Basritama, 1996), h.417.

37

37

selanjutnya. Inilah pendapat sebagian ulama di antaranya imam ahmad dan Imam

Syafi‟i.38

Hak pilih diberikan kepada anak bila terpenuhi dua syarat39, yaitu:

Pertama, kedua orang tua telah memenuhi syarat untuk mengasuh sebagaimana disebutkan sebelumnya. Bila salah satu memenuhi syarat dan yang lain tidak, maka si anak diserahkan kepada yang memenuhi syarat, baik ayah atau ibu.

Kedua, si anak tidak dalam keadaan idiot. Bila si anak dalam keadaan idiot, meskipun telah melewati masa kanak-kanak, maka ibu yang berhak mengasuh; dan tidak ada hak pilih untuk si anak.

2. Hikmah Hadhanah.

Hikmah Hadhanah (mengasuh anak) dapat dilihat dari dua sisi:

Pertama, sudah menjadi kewajiban seorang lelaki untuk bisa merawat diri dan keluarganya. Sedangkan, pengasuhan anak menjadi kewajiban wanita. Pendidikan anak adalah hal utama yang perlu mendapatkan perhatian dimasa kecilnya, khususnya dari pihak ibu. Karena umumnya, ibulah yang sering berinteraksi dengan anak.

Kedua, ibu umumnya lebih peduli dan mengasihi anaknya dibanding seorang ayah. Dengan demikian, sang ibu tidak memiliki banyak waktu untuk

38

Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h.330 39

38

memperhatikan keserasian pakaiannya, makannya, minumnya dan kesehatannya.40

Hikmah penetapan masa pengasuhan bagi anak laki-laki dalam rentang waktu 7 tahun pertama dan juga anak wanita dalam 9 tahun pertama, lebih berdasar bahwa anak laki-laki pada usia 7 tahun umumnya telah siap menerima pelajaran, ilmu pengetahuan, sastra, keterampilan dan segala hal yang mengantarkannya kepada kehidupan dunia dan akhiratnya. Berbeda dengan anak wanita yang terlebih dahulu harus diajarkan bagaimana ia bisa menjaga diri dan kehidupannya dengan baik. Pada umumnya ibu mampu dan sabar dalam mendidik anak pada kondisi seperti ini. Setelah masa pengasuhan berlalu, maka pada saat itulah peran ayah mulai tampak.

Dalam masa pengasuhan, sang ibu mengajarkan anaknya semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan rumah, khususnya bagi putrinya, karena kelak ia akan menjadi seorang istri. Dengan demikian pada usianya yang kesembilan, ia telah mampu menjaga dirinya dan mempelajari banyak hal dari ibunya, khususnya yang berkaitan dengan pengaturan rumah. Masa pengasuhan sembilan tahun tersebut cukup untuknya untuk memahami apa yang seharusnya dilakukannya. Bahkan, ia pun bisa mengetahui bagaimana kelak ia mengasuh anaknya setelah pernikahannya setelah ia melihat semua pekerjaan ibunya padanya dan juga pada saudaranya.

40

Ali Ahmad al-Jarjawi, Indahnya Syari’at Islam. Penerjemah Faisal Saleh, dkk, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), h.406.

39

Setelah melewati masa pengasuhan, maka mulailah seorang ayah memegang peranan penting. Ia bertanggung jawab untuk mengajarkan moral dan agama hingga dengannya anak bisa mendapatkan kemenangan di dunia dan akhiratnya. Seorang ayah adalah orang yang paling mampu menjaga kesucian anaknya hingga sang anak kelak akan membangun rumah tangganya dan menjadi anggota masyarakat yang bisa dibanggakan. Dengan pola inilah, maka tercapailah kebahagiaan sejati bagi anak.41

41

40

Dokumen terkait