Masa Pendudukan Jepang berlangsung dari tahun 1942–1945, diwarnai dengan perubahan-perubahan yang penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, perubahan-perubahan itu terlihat nyata dalam bidang politik, ekonomi dan sosial. Pada masa pendudukan Jepang ini, dibentuk Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, yang sangat penting artinya bagi perjuangan bangsa Indonesia khususnya untuk mewujudkan kemerdekaan. Para tokoh pergerakan yang sebelumnya aktif dalam masa awal dan masa radikal melanjutkan berkiprah menuangkan gagasan-gagasannya untuk perbaikan nasib bangsanya dan kemudian berhasil memproklamasikan kemerdekaan lepas dari pengaruh Jepang.
Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang yang menjadi sekutu Jerman, menyerang pangkalan armada Amerika Serikat di Pearl Harbour (Pasifik). Sejak itu Perang Pasifik atau yang lebih dikenal dengan Perang Asia Timur Raya (ATR) berlangsung sengit. Perang ini merupakan bagian dari Perang Dunia II (PD II) yang berlangsung sejak 1 September 1939 (serbuan Jerman atas Polandia) hingga 15 Agustus 1945 (Jepang menyerah kepada Sekutu).
Pada mulanya PD II hanya berkobar di Eropa antara Jerman dan Italia melawan Sekutu (Amerika, Inggris, Belanda, dan Perancis). Kemudian pada akhir tahun 1941, Jepang (di Asia) melibatkan diri dalam peperangan dan bergabung dengan Jerman dan Italia. Pada tanggal 8 Desember 1941 Jepang menyerang pangkalan Angkatan Laut Amerika di Pearl Harbour (Hawai). Akibatnya, pecahlah Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Dalam waktu singkat, pasukan Jepang menyerbu dan menduduki negara-negara Filipina, Myanmar, Malaysia, Singapura, dan Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda memaklumatkan perang pada Jepang lima jam setelah penyerbuan Pearl Harbour, tetapi pasukannya tidak sebanding dengan pasukan Jepang yang menyerbu Indonesia. Belanda hanya memiliki 4 divisi sedangkan Jepang menyerang dengan 6 sampai 8 divisi, sehingga tidak mengherankan bila Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi serbuan tentara Jepang (Dai Nippon).
Pada tanggal 23 Januari 1942 Jepang menduduki Balikpapan, tanggal 14 Februari 1942 menduduki Palembang, dan tanggal 16 Februari 1942, Plaju juga jatuh ke tangan tentara Jepang. Pada tanggal 1 Maret 1942, Tarakan (kota minyak) di Kalimantan juga dikuasai Jepang. Di samping itu, tentara Jepang
berhasil mendarat sekaligus tiba di tiga tempat di Pulau Jawa yaitu di Teluk Banten, di Eretan Wetan di pantai utara Jawa Barat dan di Desa Kragan di sebelah timur kota Pasuruan, Jawa Timur.
Pada tanggal 5 Maret 1942, kota Jakarta sudah diduduki Jepang. Pada tanggal 8 Maret 1942, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yakni Tjarda van Starkenborgh Starkhouver menyerahkan pemerintahan Hindia Belanda kepada Panglima Angkatan Perang Jepang di Jawa, Letnan Jenderal H. Imamura. Upacara penyerahan itu berlangsung di Kalijati (Subang) Jawa Barat. Dengan penyerahan Belanda tanpa syarat pada tanggal 8 Maret 1942, maka berakhirlah penjajahan Belanda di Indonesia. Maka sejak 8 Maret 1942 Indonesia mulai diduduki atau diperintah oleh Jepang.
Kedatangan tentara Jepang yang berhasil mengalahkan Belanda disambut dengan baik di mana-mana. Jepang menyebutnya sebagai Saudara Tua bangsa Indonesia. Jepang mempergunakan kesempatan ini untuk propaganda agar rakyat Indonesia mau membantu Jepang. Faktor utama tentara Jepang menyerbu Indonesia yaitu: alasan ekonomis (ingin mendapatkan minyak, batu bara dan bahan baku industri) dan imperialisme (perluasan wilayah atau pasar industri).
Beberapa taktik Jepang dalam mengambil atau menarik simpati rakyat Indonesia, antara lain:
1. Tentara Jepang mengijinkan rakyat Indonesia mengibarkan Sang Merah Putih;
2. Lagu Indonesia Raya (karya WR. Supratman) boleh dinyanyikan di mana-mana; dan
3. Bahasa Belanda dilarang digunakan sebagai bahasa pergaulan sehari-hari dan diganti dengan bahasa Indonesia.
Namun demikian, dengan masuknya Jepang tidak berarti Pergerakan Nasional Indonesia akan berhenti. Gerakan Petisi seperti Wibowo dan Soetarjo yang muncul pada tahun 1936-an tetap menjadi landasan perjuangan kaum pergerakan di masa Jepang. Hanya saja, pada masa pendudukan Jepang semua organisasi maupun perkumpulan dibubarkan, kecuali yang bersifat hiburan dan organisasi yang dikehendaki pemerintah Jepang. Berikut ini adalah beberapa organisasi yang dibentuk, dikehendaki atau mendapat ijin keberadaannya oleh Pemerintah Jepang.
1. Gerakan Tiga A
Gerakan 3A ini merupakan organisasi pertama kali yang didirikan oleh pemerintahan Jepang di Indonesia. Organisasi ini didirikan tanggal 29 April 1942, dipelopori oleh bagian Propaganda Jepang (Seindenbu). Pelopor Gerakan Tiga A ialah Shimizu Hitoshi (orang Jepang). Semboyan Gerakan Tiga A adalah: Nipon Pemimpin Asia, Nipon Pelindung Asia, dan Nipon Cahaya Asia. Ketua Gerakan Tiga A yaitu Mr. Syamsuddin dibantu oleh beberapa bekas tokoh Parindra seperti K.Sutan Pamuncak dan Muhammad Saleh.
2. Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Pada tanggal 9 Maret 1943 Jepang mendirikan Pusat Tenaga Rakyat (Putera). Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dipimpin oleh Empat Serangkai yaitu: Ir. Soekarno (Bung Karno), Drs. Mohammad Hatta (Bung Hatta), Ki Hajar Dewantara, dan KH. Mas Mansur. Jepang curiga terhadap Putera karena kegiatan-kegiatannya
justru lebih memberi keuntungan kepada persiapan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 8 Januari 1944 didirikan sebuah organisasi baru bernama Jawa Hookokai (Organisasi Kebaktian Rakyat Jawa) yang dipimpin oleh orang-orang Jepang. Kegiatan Jawa Hookokai lebih bersifat pemaksaan, sehingga pada kemudian hari munculah istilah kerja paksa (Romusha). Namun demikian, orang-orang yang terlibat dalam Romusha oleh Jepang disebut sebagai Prajurit Ekonomi.
3. Majelis Syura Muslim in Indonesia (Masyumi)
Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi) sebelumnya adalah berupa organisasi Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) pada masa akhir Hindia Belanda (akhir Jaman Pergerakan Nasional). Organisasi ini didirikan oleh K.H. Mas Mansur tahun 1937 di Surabaya. Untuk mendapatkan simpati dari rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam, maka pada tanggal 13 Juli 1942 MIAI dihidupkan kembali oleh Pemerintah Pendudukan Jepang. Kemudian, pada bulan Oktober 1943, MIAI dibubarkan kemudian didirikan sebuah organisasi Islam baru bernama Majelis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Masyumi secara resmi berdiri pada tanggal 22 Nopember 1943. Sebagai ketua dipilih K.H. Hasyim Asy’ari, dibantu oleh K.H. Mas Mansur dan K.H. Farid Ma’ruf. Kepada pemuda-pemuda Islam diberi kebebasan untuk membentuk laskar-laskar muslimin Indonesia dan dilatih kemiliteran oleh tentara Jepang. Seperti: Laskar Hisbullah, Laskar Fisabilillah, dan lain-lain.
Karena keadaan perang semakin gawat, maka tentara Jepang membuka kesempatan bagi pemuda-pemuda Indonesia untuk menjadi pembantu prajurit Jepang. Maka tentara Jepang membentuk Heiho (Pembantu Prajurit Jepang khususnya untuk perang di luar Jawa). Untuk Angkatan Darat disebut Rikugun Heiho, sedangkan untuk Angkatan Laut disebut Kaigun Heiho.
5. Peta (Pembela Tanah Air)
Pada tanggal 3 Oktober 1943, tentara Jepang mengumumkan pembentukan tentara Pembela Tanah Air (Peta). Hal ini disebabkan karena serangan tentara Sekutu terhadap tentara Jepang semakin gencar, oleh karena itu semakin banyak pemuda-pemuda Indonesia yang dibutuhkan untuk mempertahankan Pulau Jawa dan sekitarnya (untuk pertahanan dalam negeri Indonesia), sehingga banyak pemuda Indonesia yang dilatih tentara Jepang dalam latihan militer untuk keperluan membantu Jepang dalam berperang.
Perang Pasifik adalah babak baru bagi perjuangan untuk mencapai Indonesia merdeka. Pada tanggal 16 Juni tahun 1943 Perdana Menteri Jepang Tojo memberikan kebijakan baru untuk memperluas bidang pendidikan dan kebudayaan serta memberi kesempatan untuk ikut serta di bidang pemerintahan. Realisasi kebijakan ini terlihat dengan dibentuknya badan-badan pertimbangan di daerah dan pusat. Pengangkatan orang-orang Indonesia untuk menduduki jabatan tinggi mulai nampak.
Di samping itu orang-orang Indonesia mulai menjadi anggota badan penasehat pada badan-badan
Pemerintahan Militer Jepang. Penempatan orang-orang pribumi pada jabatan pemerintahan di setiap keresidenan mulai nampak. Dalam masa pemerintahan Jepang di Indonesia, wilayah pemerintahannya dibagi atas tiga bagian besar. Pertama meliputi: Jawa dan Madura dengan pusat pemerintahan di Batavia. Wilayah ini di bawah kekuasaan pasukan Tentara XVI. Kedua Wilayah Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Wilayah ini di bawah kekuasaan pasukan Tentara XXV; dan Wilayah ketiga meliputi: Irian Jaya, Maluku, Nusa Tenggara dan Sulawesi yang berpusat di Makassar. Wilayah ini di bawah kekuasaan Pasukan Arm ada Selatan II.
Masa pendudukan Jepang ini merupakan masa yang berat bagi orang-orang Indonesia. Orang-orang Indonesia diwajibkan mengikuti kemauan Jepang yang dirasakan rakyat Indonesia sangat memberatkan. Rakyat dipaksa untuk membantu Jepang untuk memperoleh kemenangan dalam perang Asia Timur Raya. Rakyat dipaksa menyerahkan hasil panen, menyerahkan perhiasan dan dipaksa untuk menjadi tenaga romusha, yang banyak dipekerjakan di daerah sekitar medan perang. Mereka dipaksa untuk membuat jalan, jembatan, terowongan atau bunker dan lain-lain. Akibatnya kehidupan rakyat sangat memprihatinkan. Kehidupan ekonomi mereka sangat merosot. Bahan kebutuhan sehari-hari sangat sulit didapat. Untuk mendapatkannya rakyat harus mengikuti antrian yang memakan waktu lama. Bahkan tidak jarang mereka tidak kebagian, sehingga tenaga dan waktu terbuang percuma.
Tidak sedikit rakyat yang mati karena kelaparan dan menderita sakit. Di samping itu juga diakibatkan karena kerja keras yang berlebihan (romusha) untuk
kepentingan penjajahan Jepang. Situasi pada masa itu betul-betul sangat menyedihkan, banyak rakyat mati karena kelaparan, tidak ada obat-obatan, mudah diserang penyakit seperti beri-beri, tipes, kolera, malaria dan lain-lain. Banyak wanita dan gadis-gadis Indonesia yang dijadikan pemuas nafsu seks tentara Jepang (zugun ianfu). Akibat penderitaan rakyat yang begitu parah, maka terjadilah beberapa perlawanan terhadap Jepang, seperti: Teuku Abdul Jalil dan Teuku Hamid di Aceh (Aceh), K.H. Zainal Mustafa (Singaparna, Tasikmalaya), K.H. Kusaeri (Cilacap), serta Pemberontakan PETA, Supriyadi (Blitar).
Menjelang akhir tahun 1944 Jepang mendapat kekalahan dalam perang Pasifik. Akibatnya Kabinet Tojo jatuh dan digantikan oleh Kabinet Jenderal Koiso. Dalam kebijakannya kabinet Jenderal Koiso mengumumkan apa yang dikenal dengan janji kemerdekaan kepada Indonesia di kelak kemudian hari. Berbagai daerah pangkalan tentara Jepang dikuasai oleh Tentara Sekutu dibawah pimpinan Amerika Serikat, diantaranya adalah daerah Balikpapan. Pada bulan Maret 1945 Panglima Tentara Jepang di Jakarta mengumumkan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Zunbi Cosakai.
Badan baru ini bermaksud menyelidiki masalah tata pemerintahan, ekonomi, politik dalam rangka pembentukan negara merdeka. Upacara peresmian dilakukan pada tanggal 28 Mei 1945 di Pejambon yang dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi Jepang dan diikuti penaikan Bendera Merah Putih. Badan ini diketuai oleh dr. Rajiman Widiodininggrat. Dalam sidangnya pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945 badan ini telah melahirkan konsep dasar-dasar negara. Badan penyelidik ini kemudian dibubarkan
dan dibentuk badan baru Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritsu Zunbi inkai.
Meskipun kekalahan Jepang sangat dirahasiakan, tetapi berkat kecepatan para pemuda, berita tentang menyerahnya Jepang kepada Sekutu, sampai juga pada pemimpin-pemimpin Indonesia. Pada tanggal 16 Agustus 1945 bertempat di Asrama Baperpi Cikini 71 Jakarta para pemuda dari berbagai kelompok mengadakan rapat dibawah pimpinan Chaerul Saleh. Rapat memutuskan agar kemerdekaan segera diproklamasikan oleh bangsa Indonesia sendiri. Para pemuda lalu mengirimkan utusan kepada Bung Karno dan Bung Hatta untuk menyampaikan hasil putusan rapat tersebut.
Para pemuda juga minta agar pengumuman tentang kemerdekaan Indonesia lepas dari segala ikatan dengan Jepang. Semula Soekarno-Hatta menolak usul para utusan tadi dengan alasan bahwa mereka harus berembug dulu dengan para pemimpin lainnya serta harus mendengarkan keterangan resmi tentang penyerahan Jepang. Utusan yang terdiri atas pemuda Darwis dan Wikana akhirnya kembali dan menyampaikan hasil penolakan tersebut. Penolakan tersebut mempertajam perbedaan pendapat yang telah ada antara golongan tua dan golongan muda. Golongan muda mendesak agar proklamasi segera dilaksanakan keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945, sedang golongan tua masih menekankan perlunya rapat dengan PPKI terlebih dahulu.
Adanya perbedaan pendapat itu mendorong golongan pemuda untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke luar kota, dengan tujuan untuk menjauhkan mereka dari segala pengaruh Jepang. Upaya paksa untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke
Rengasdengklok ini dikemudian hari dikenal dengan Peristiwa Rengasdengklok. Demikianlah pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 4.30 para pemuda membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok kota kecil di sebelah timur Jakarta.
Sementara itu di Jakarta tercapai kesepakatan antara golongan tua dan golongan muda bahwa Proklamasi Kemerdekaan harus dilaksanakan di Jakarta. Mr. Ahmad Subardjo memberi jaminan bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945. Atas jaminan itu Bung Karno dan Bung Hatta dibawa kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta Bung Karno dan Bung Hatta langsung menuju rumah Laksamana Maeda di Jalan Imam Bonjol No. 1. Di rumah inilah naskah proklamasi disusun dan rumusannya berhasil diselesaikan pada menjelang subuh tanggal 17 Agustus 1945.
Pada pukul 10.00 tanggal 17 Agustus 1945 di halaman rumah kediaman Bung Karno Jalan Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) naskah proklamasi tersebut diumumkan oleh Soekarno-Hatta dihadiri pemimpin-pemimpin bangsa dan berbagai kalangan pemuda. Sejak itulah Indonesia memasuki alam kemerdekaan. Kemerdekaan yang telah dicapai itu harus dibela dan dipertahankan. Pemuda-pemuda Indonesia tampil ke depan dan mengambil tindakan-tindakan yang nyata, antara lain :
a. Berita proklamasi dikumandangkan ke seluruh tanah air dan segenap penjuru dunia oleh pemuda-pemuda yang bekerja di kantor berita PTT serta instansi-instansi lain.
b. Pemuda-pemuda yang bekerja di jawatan-jawatan mengambil alih jawatan-jawatan dari tangan Jepang dengan atau tanpa kekerasan.
c. Untuk menjaga keamanan, pemerintah mula-mula membentuk BKR (Badan Keamanan Rakyat) pada 22 Agustus 1945. Kemudian para pemuda bekas anggota PETA, Heiho, dan KNIL mengajukan usul pada pemerintah untuk membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan TKR dibentuk tanggal 5 Oktober 1945. TKR kemudian diganti menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) bulan Januari 1946. Selanjutnya pada 3 Juni 1947, TRI diganti lagi menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).
d. Milik pemerintah Jepang seperti gedung, mobil dan lain-lain dinyatakan milik Republik Indonesia.
e. Slogan-slogan dan semboyan-semboyan perjuangan ditempelkan atau dicat pada tembok dan dinding-dinding kereta api.
Pihak Jepang di Indonesia sejak semula tidak mau mengakui adanya Republik Indonesia. Secara resmi Jepang ditugaskan untuk menjaga keamanan sampai tentara sekutu tiba dan diperintahkan agar tidak mengubah keadaan yang ada.
D. PERJUANGAN MEMPERTAHANKAN
KEMERDEKA-AN
Masa kemerdekaan dan perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dimulai dari tahun 1945-1949, diwarnai dengan pengisian atau pembentukan perlengkapan lembaga Negara sebagaimana Negara merdeka dan perjuangan bersenjata dalam mempertahankan kemerdekaan,
serta berbagai diplomasi antara bangsa Indonesia dengan pihak Belanda. Diplomasi itu direalisasikan dalam perjanjian-perjanjian. Intinya Belanda sebenarnya tidak relabila Indonesia merdeka. Sehingga dengan berbagai cara Belanda ingin menjajah Indonesia kembali dengan cara memecah belah Republik Indonesia yang baru lahir.
1. Masa Awal Indonesia Merdeka
Memasuki bulan Agustus 1945 kedudukan Jepang semakin kritis. Pada tanggal 6 Agustus 1945 Kota Hiroshima dibom oleh Sekutu dan disusul Kota Nagasaki pada 8 Agustus 1945. Akibatnya Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Dengan penyerahan Jepang itu terjadi kevakuman kekuasaan di Indonesia. Bangsa Indonesia kemudian
mempergunakan kesem-patan tersebut untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang didirikan 7 Agustus 1945 dijadikan badan nasional dengan menambah enam orang anggota sehingga badan tersebut beranggotakan 27 orang. Melihat susunan anggotanya yang mewakili seluruh tanah air, maka pada waktu itu PPKI dianggap sebagai “Badan Perwakilan” seluruh rakyat Indonesia.
Sehari setelah proklamasi, 18 Agustus 1945, PPKI mengadakan sidang pertama. Sidang tersebut berhasil mengesahkan UUD serta menunjuk Ir. Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden. Dalam sidang berikutnya berhasil dibentuk berbagai kementrian dan pembagian
wilayah Indonesia menjadi delapan (8) provinsi. Selanjutnya berhasil pula dibentuk Komite Nasional, Partai Nasional dan Badan Keamanan Rakyat. Sedikit demi sedikit aparat pemerintahan semakin lengkap, sehingga roda pemerintahan pun mulai berjalan.
Untuk menegakkan kedaulatan, negara yang baru lahir ini dihadapkan dengan berbagai tantangan, bentrokan dengan Jepang terjadi di berbagai daerah. Demikian juga dengan Sekutu yang ternyata diboncengi oleh Netherland Indische Civil Administration (NICA). Perang Kemerdekaan pun terjadi di mana-mana bahkan hampir di seluruh wilayah Indonesia.
2. Usaha-usaha Belanda untuk Menghancurkan Republik Indonesia
Pada pertengahan September 1945 rombongan pertama pasukan Sekutu mulai mendarat. Mereka merupakan bagian dari South East Asia Command (SEAC) di bawah pimpinan Laksamana Mountbatten. Untuk Indonesia SEAC membentuk Allieu Force Netherlands East Indies (AFNEI) yang terdiri atas pasukan Inggris yang mendarat di Jawa dan Sumatera serta pasukan Australia yang mendarat di luar Jawa dan Sumatra. Pasukan ini bertugas melucuti dan memulangkan tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang.
Pemerintah RI menerima kedatangan pasukan tersebut dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan pihak Sekutu terhadap RI. Pada tanggal 1 Oktober 1945 Letnan Jenderal Christison, menyatakan bahwa pihaknya mengakui (de facto) pemerintahan Republik
Indonesia. Semenjak itu pasukan-pasukan Inggris mulai memasuki kota-kota penting di Jawa dan Sumatera. Namun kemudian timbul ketegangan-ketegangan baru antara pasukan Inggris dan pasukan RI yang kemudian berkembang menjadi pertempuran-pertempuran. Apalagi setelah diketahui bahwa kedatangan pasukan sekutu (tentara Inggris) itu diboncengi oleh NICA. Sehingga pada awal masa kemerdekaan, pasukan-pasukan RI tidak hanya menghadapi Jepang tetapi juga Inggris dan NICA (Belanda).
Keadaan ini sudah diduga oleh para pemimpin Indonesia. Itulah sebabnya pemerintah RI pada tanggal 5 Oktober memutuskan untuk membentuk suatu tentara dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Selain itu pemerintah mengeluarkan maklumat bahwa RI akan menanggung semua hutang-hutang Nederland Indie. Dengan maklumat ini pemerintah ingin menunjukkan pada dunia luar bahwa RI bukanlah negara yang masih tunduk pada Jepang, tetapi RI mengakui tata cara negara-negara demokrasi barat. Sebagai realisasi dari maklumat ini maka didirikan sejumlah partai dan dibentuk satu kabinet yang dipimpin oleh Perdana Menteri Syahrir. Tugas kabinet ini adalah menjalankan perundingan-perundingan dengan pihak Belanda, yang melahirkan perundingan di Linggarjati pada tahun 1946.
Sebelum perundingan disepakati, Kabinet Syahrir dibubarkan karena mendapat kritikan dari kelompok oposisi yaitu Tan Malaka. Namun Presiden menunjuk Syahrir untuk kembali memimpin kabinet. Dalam perundingan Kabinet Syahrir II mengusulkan bahwa pada dasarnya RI
adalah negara yang berdaulat penuh atas bekas wilayah Nederland Indie. Karena itu Belanda harus menarik mundur tentaranya dari Indonesia. Mengenai modal asing pemerintah Republik Indonesia tetap akan menjamin. Selanjutnya Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda Van Mook mengajukan usul suatu pengakuan atas Republik Indonesia (Jawa) dan pembentukan negara Serikat. Atas anjuran Duta Istimewa Inggris Clark Kern, Syahrir memberi konsensus pada bulan Maret itu juga, yaitu agar Belanda mengakui RI di Jawa dan Sumatera saja dan agar bersama-sama Belanda membentuk Republik Indonesia Serikat
Keinginan Belanda lewat tentara Sekutu dinyatakan oleh Van Mook pada tanggal 19 Januari 1946. Kehadirannya adalah bermaksud menciptakan Negara persemakmuran (commenwealth). Anggotanya adalah Kerajaan Belanda, Suriname, Curocao dan Indonesia. Urusan ke luar commenwealth itu dipegang oleh kerajaan Belanda sedangkan urusan ke dalam dipegang oleh masing-masing negara. Pada perundingan bulan Mei 1946, Van Mook mengusulkan agar Republik Indonesia bersedia membentuk commontwealth dan pengakuan Belanda atas kekuasaan RI di Jawa dan Madura dikurangi kota-kota yang telah diduduki Sekutu. Usul ini tentu saja ditolak oleh pihak RI. Pemerintah tetap menolak ide commontwealth dan tetap menuntut pengakuan kedaulatan atas Jawa, Madura, dan Sumatera.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi di meja perundingan antara Indonesia dan Belanda mengenai pengakuan kedaulatan RI dan intimidasi Belanda di luar Jawa dan Sumatera. Di
samping itu munculnya oposisi Tan Malaka dengan Persatuan perjuangannya (PP) yang dengan gencar menyerang pemerintah. Sikap ini memuncak dengan meletusnya pergolakan di daerah-daerah Solo untuk menghapuskan daerah istimewa Surakarta. Keadaan sedemikian kritisnya, sehingga Presiden merasa perlu mengumumkan keadaan bahaya. Status keadaan bahaya diperlakukan untuk seluruh Indonesia karena pihak Tan Malaka berhasil menculik Sutan Syahrir bersama Mayor Jenderal Sudibyo, Dr. Darmasetiawan, dan Dr Sumitri. Atas seruan Presiden para penculik kemudian membebaskan Syahrir dan kawan-kawan. Kemudian pihak PP mencoba memaksa Presiden untuk menyusun pemerintah baru yang dipimpin oleh kawan-kawan Tan Malaka pada tanggal 3 Juli 1947, tetapi Presiden tetap menunjuk Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri. Kabinet Syahrir III terbentuk Oktober 1946.
Dari pihak Belanda intimidasi dimulai dengan diselenggarakannya Konferensi Malino bulan Juli 1946 untuk membentuk “negara-negara“ di wilayah-wilayah yang akan ditinggalkan tentara Sekutu. Ini jelas bertentangan dengan kehendak RI yaitu agar negara-negara bagian dalam Republik Indonesia dibentuk bersama-sama RI dan Belanda.
Sementara itu pihak Inggris ikut berbicara dengan maksud agar penarikan tentara Sekutu (Inggris) berjalan secepat mungkin, agar utusan Inggris di bawah pimpinan Lord Killern tiba pada bulan Agustus dan mengusulkan antara lain syarat-syarat gencatan senjata antara RI dengan Belanda. Pemerintah Indonesia menyetujui usul ini dan mengirim perwira-perwira tentara
Republik Indonesia untuk menyelesaikan masalah tehnis gencatan senjata.
Sementara itu perundingan dengan pihak Belanda dilanjutkan setelah Kabinet Syahrir III disahkan dalam bulan Oktober 1946. Delegasi Indonesia yang dipimpin Sutan Syahrir mengajukan usul agar Indonesia diakui kedaulatannya, pihak Belanda mengajukan usul commontwealth lagi. Namun, akhirnya tercapai juga suatu konsensus. Perundingan yang dilakukan di Linggarjati dikeluarkan hasilnya pada tanggal 15 November 1946. Ide commontwealth