• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masa Pendudukan Jepang Masa Pendudukan Jepang

Dalam dokumen PERKEMBANGAN SEJARAH SENI RUPA DI INDONE (Halaman 34-58)

 Cita PERSAGI masih melekat pada para pelukis, serta menyadari pentingnya seni lukis untuk kepentingan revolusi.

 Pemerintah Jepang mendirikan KEIMIN BUNKA SHIDOSO,Lembaga Kesenian Indonesia –Jepang ini pada dasarnya lebih mengarah pada kegiatan propaganda Jepang.

 Tahun 1943 berdiri PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat) oleh Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantara dan KH Mansur. Tujuannya

memperhatikan dan memperkuat perkembangan seni dan budaya. Khusus dalam seni lukis dikelola oleh S. Sudjojono dan Afandi, selanjutnya bergabung pelukis Hendara, Sudarso, Barli, Wahdi dan sebagainya Hasil karya mereka mencerminkan kelanjutandari masa cita Nasional

Tokoh utama pada masa ini antara lain:  S. Sudjojono

 Basuki Abdullah, Emiria Surnasa  Agus Djajasumita, Barli

 Affandi, Hendra dan lain-lain

Mengungsi, 1947, karya S. Sudjojono, cat minyak diatas kanvas, 95 x 149 cm

Keluarga Pemusik , 1971, karya Hendra Gunawan, cat minyak diatas kanvas, 150 x 90 cm

Pengemis karya Affandi,

5.Periode pasca-kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka bermunculanlah kelompok-kelompok seniman lukis Indonesia, diantaranya:

( kuda putih karya Affandi )

 Sanggar Masyarakat (1946) dipimpin Affandi, kemudian diganti nama menjadi SIM (Seniman Indonesia Muda) yang dipimpin oleh S.

Sudjojono;

 Pelukis Rakyat (1947), Affandi dan Hendra Gunawan keluar dari SIM dan mendirikan Pelukis Rakyat dipimpin oleh Affandi;

 Perkumpulan Prabangkara (1948);

 ASRI (Akademi Senirupa (1948), tokoh-tokoh pendirinya RJ. Katamsi, S.Sudjojono,Hendra Gunawan, Jayengasmoro, Kusnadi dan

Sindusisworo;

 Tahun 1950 di Bandung berdiri Balai Perguruan Tinggi Guru Gambar yang dipelopori oleh Prof. Syafei Sumarya, Mochtar Apin, Ahmad Sadali, Sujoko, Edi Karta Subarna;

 Tahun 1955, berdiri Yin Hua oleh Lee Man Fong ( perkumoulan pelukis Indonesia keturunan Tionghoa);

 Tahun 1958, berdiri Yayasan seni dan desain Indonesia oleh Gaos Harjasumantri.

 Tahun 1959, berdiri Organisasi Seniman Indonesia oleh Nashar. 6.Periode akademi (1950)

( Lukisan karya Barli Sasmita )

Pengembangan senirupa melalui pendidikan formal. Lembaga pendidikan yang bernama ASRI yang berdiri tahun 1948 kemudiaan secara formal tahun 1950 lembaga tersebut mulai membuat rumusan-rumusan untuk mencetak seniman-seniman dan calon guru gambar. Pada

tahun 1959 di Bandung dibuka jurusan Senirupa Institut Teknologi

Bandung(ITB), kemudian dibuka pula jurusan Senirupa di semua Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) diseluruh Indonesia.

7.Periode senirupa baru[

( Lukisan karya Dede Eri Supria )

Pada sekitar tahun 1974 muncul kelompok baru dalam seni lukis. Kelompok ini menampilkan corak baru dalam seni lukis Indonesia yang membebaskan diri dari batasan-batasan senirupa yang telah ada. Seniman muda yang mempelopori kelompok ini adalah Jim Supangkat, S. Prinka, Dee Eri Supria. Konsep kelompok ini adalah:

 Tidak membedakan disiplin seni;

 Menghilangkan sikap seseorang dalam mengkhususkan penciptaan seni;

 Mendambakan kreatifitas baru;

 Membebaskan diri dari batasan-batasan yang sudah mapan;  Bersifat eksperimental.

1. 1. MOOI INDIE

Pada mulanya istilah Mooi Indie pernah dipakai untuk memberi judul reproduksi sebelas lukisan pemandangan cat air Du Chattel yang diterbitkan dalam bentuk portfolio di Amsterdam tahun 1930. Namun demikian istilah itu menjadi popular di Hindia Belanda semenjak S. Sudjojono memakainya untuk mengejek pelukis-pelukis pemandangan dalam tulisannya pada tahun 1939. Dia mengatakan bahwa lukisan-lukisan pemandangan yang serba bagus, serba enak, romantis bagai di surga,

tenang dan damai, tidak lain hanya mengandung satu arti: Mooi Indie

(Hindia Belanda yang Indah).

Berawal dari para pelukis yang karena kelahiran dan tempat tinggalnya di Indonesia (Hindia Belanda) menjadi para pelukis Indo Belanda atau biasa

disebut Indische Schilderer, serta ditambah para pelukis asing yang datang

dari berbagai negara Eropa. Sehingga ada proses asimilasi dan alkulturasi yang kental yang mempengaruhi corak mooi indie.

Lukisan-Iukisan Mooi Indie dapat dikenali dari penampilan fisiknya. Bentuk atau subyek maternya adalah pemandangan alam yang dihiasi gunung, sawah, pohon penuh bunga, pantai atau telaga. Selain itu kecantikan dan eksotisme wanita-wanita pribumi, baik dalam pose keseharian, sebagai penari, atau pun dalam keadaan setengah busana. Laki-Iaki pribumi juga sering muncul sebagai obyek lukisan, biasanya sebagai orang desa, penari atau bangsawan yang direkam dalam setting suasana Hindia Belanda. Menurut M. Agoes Burhan, wama yang dipakai untuk mengungkapkan obyek-obyek itu kebanyakan cerah dan mengejar cahaya yang menyala. Karakter garisnya lembut sebagaimana lukisan Du Chattel, sampai lincah dan spontan seperti Isaac Israel, tetapi tidak ada yang sampai liar

sebagaimana goresan orang-orang ekspresionis. Mereka menempatkan obyek-obyek dalam komposisi yang formal, seimbang, sehingga

pada struktur diagonal atau bloking objek-objek dari sudut kanvas untuk menimbulkan suasana tegang dan dramatis jarang dipakai. Ciri-ciri fisik yang demikian itu merupakan manifestasi dari ide pelukisnya yang ingin merealisasikan impian untuk melihat negeri Timur, yang bagi pelukis-pelukis Belanda merupakan dunia dongeng sejak masa kanak-kanak mereka. Terdapat empat kelompok pelukis dari aliran Indie Mooi ini yang mulai berkembang pada awal abad ke-20 ini, yaitu:

 Orang asing yang datang dari luar negeri yang jatuh cinta pada

keindahan negeri ini dan menemukan obyekobyek yang cocok di tanah Hindia. Misalnya F.J. du Chattel, Manus Bauer, Nieuwkamp, Isaac Israel, PAJ Moojen, Carel Dake, Romualdo Locatelli (Itali), dll.

 Orang-orang Belanda kelahiran Hindia Belanda, misalnya Henry van

Velthuijzen, Charles Sayers, Ernest Dezen~e, Leonard Eland, Jan Frank, dll

 Orang pribumi yang berbakat melukis dan mendapat ketrampilan dari

dua kelompok di atas, misalnya Raden Saleh, Mas Pirngadi, Abdullah Surisubroto, Wakidi, Basuki Abdullah, Mas Soeryo Soebanto, Henk Ngantunk

 Orang-orang Cina yang mulai muncul pada dasawarsa ketiga abad 20,

khususnya Lee Man Fong, Oei Tiang Oen dan Biau Tik Kwie. Pada umurnnya, dalam melakukan publikasi karya-karyanya mereka mengadakan pameran selama di Jakarta bertempat di Bataviasche Kuntkringgebouw, Theosofie Vereeniging, Kunstzaal Kolff & Co, Hotel Des Indes, dll.

Yang saya simpulkan ada 5 penggerak aliran lukis dimasa ini, yakni: A. A. J Payen (1792-1853), Raden Saleh (1807-1880), Abdullah Suryobroto (1878-1941), Wakidi (1888-1979), dan Mas Pirngadi (1875-1936)

1. 2. TOKOH PENTING MOOI INDIE

Antoine A.J PAYEN ialah penggerak utama atau penghubung antara koonial Belanda pada masa itu dengan Indonesia. Payen sebutannya ialah pribumi

yang dipercayai colonial Belanda saat itu untuk bekerja pada “Badan

Penyelidik Pengetahuan dan Kesenian” yang dikepalai oleh C.G.C.

Reinwardt. Saat itu payen bekerja bersama Bik bersaudara (Theodorus Bik dan Adrianus Bik) dengan tugas resmi melukis alam, kota, pemandangan,

tumbuh-tumbuhan dan fauna untuk kepentingan Natural Sciences

Commission pada badan yang dipimpin Reinwardt tersebut.

Pertemuan pertamanya dengan muridnya Raden Saleh di tempat tersebut mengembangkan minat gambar pribumi, secara khusus Raden Saleh. Bersama Bik bersaudara dia mengajari Raden Saleh menggambar.

Setelah Inggris “menyerahkan” kembali Indonesia kepada Belanda ditahun

1816, pemerintahan jajahan yang baru dari Nederland tidak saja membawa penguasa-penguasa kolonial, tetapi juga beberapa guru besar atau

professor yang diantaranya adalah Reinwardt yang dikuasakan untuk

melakukan penyelidikan-penyelidikan tentang “Pengetahuan dan Kesenian”, selain itu juga para pelukis yang diantaranya adalah Payen sendiri yang

menjadi pelukis pada “Badan Penyelidik Pengetahuan dan

Kesenian” tersebut. Para pelukis ini ditugaskan melukis alam dan pemandangan di Indonesia.

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun

mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup

membantu Raden Saleh mendalami seni lukisBarat dan belajar teknik

pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak

pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model

pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar

tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Ketertarikannya pada keindahan alam Indonesia Muncul seketika saat menjalani tugas tersebut, jadi beliau merasa bahwa tugas yang dia bebani ini juga sebagai pengetahuan yang pada akhirnya akan menjadi identitas

estetika Indonesia (hindia-belanda pada masa itu) pada beberapa masa. Beberapa sumber mempercayai bahwa Payen ialah pengaruh besar pada perkembangan keseni rupaan Raden Saleh yang juga menurunkan paham mooi indie pada kapasitas yang tidak lama.

RADEN SALEH (Semarang 1807-1880)

Info yang saya dapatkan memang tidak merujuk bahwa Raden Saleh ialah seniman mooi indie secara utuh. Namun tak dapat dipungkiri Beliau adalah salah satu pengauh Mooi Indie/seni rupa modern Indonesia. Berawal dari ketertarikannya menggambar yang dibimbing oleh Payen membuat citra mooi indie harus dia terima walaupun studinya keluar negri mengubah penggayaan dan estetika-nya.

Raden Saleh Sjarif Boestaman (Semarang, 1807 – Buitenzorg (sekarang

Bogor), 23 April 1880) tercatat sebagai salah seorang pelukis paling

terkenal dari Indonesia. Kiprahnya di dunia Seni Rupa berawal Sejak usia

10 tahun, ia diserahkan pamannya, Bupati Semarang, kepada

orang-orangBelanda atasannya di Batavia. Kegemaran menggambar mulai

menonjol sewaktu bersekolah disekolah rakyat (Volks-School).

Keramahannya bergaul memudahkannya masuk ke lingkungan

orang Belanda dan lembaga-lembaga elite Hindia-Belanda. Seorang

kenalannya, Prof. Caspar Reinwardt, pendiri Kebun Raya Bogor sekaligus

Direktur Pertanian, Kesenian, dan Ilmu Pengetahuan untuk Jawa dan pulau

sekitarnya, menilainya pantas mendapat ikatan dinas di departemennya.

Kebetulan di instansi itu ada pelukis keturunan Belgia, A.A.J. Payen yang

didatangkan dari Belanda untuk membuat lukisan pemandangan di Pulau

Jawa untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen di Belanda. Payen

tertarik pada bakat Raden Saleh dan berinisiatif memberikan bimbingan.

Payen memang tidak menonjol di kalangan ahli seni lukis di Belanda, namun

mantan mahaguru Akademi Senirupa di Doornik, Belanda, ini cukup

pembuatannya, misalnya melukis dengan cat minyak. Payen juga mengajak

pemuda Saleh dalam perjalanan dinas keliling Jawa mencari model

pemandangan untuk lukisan. Ia pun menugaskan Raden Saleh menggambar

tipe-tipe orang Indonesia di daerah yang disinggahi.

Terkesan dengan bakat luar biasa anak didiknya, Payen mengusulkan agar

Raden Saleh bisa belajar ke Belanda. Usul ini didukung oleh Gubernur

Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen yang memerintah waktu itu (1819–

1826), setelah ia melihat karya Raden Saleh.

Tahun 1829, nyaris bersamaan dengan patahnya perlawanan Pangeran

Diponegoro oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock, Capellen membiayai

Saleh belajar ke Belanda. Namun, keberangkatannya itu menyandang misi

lain. Dalam surat seorang pejabat tinggi Belanda untuk Departemen van

Kolonieen tertulis, selama perjalanan ke Belanda Raden Saleh bertugas mengajari Inspektur Keuangan Belanda de Linge tentang adat-istiadat dan

kebiasaan orang Jawa, Bahasa Jawa, danBahasa Melayu. Ini menunjukkan

kecakapan lain Raden Saleh.

Seperti yang dibahas sebelumnya payen diberi kesempatan untuk bersekolah diluar negri dan oleh karena itu seleah berpulangnya dari

studinya tersebut Raden Saleh membawa paham-paham estetika barat yang berkembang pada masa itu. Yakni Romantisme

Sepulangnya dari studi panjangnya Tak banyak catatan seni yang dia gores. Ia dipercaya menjadi konservator pada “Lembaga Kumpulan Koleksi

Benda-benda Seni”. Beberapa lukisan potret keluarga keraton dan pemandangan

menunjukkan ia tetap berkarya.

Karya yang paling menunjukan “kemolekannya” salah satunya ialah “Javanese Landscape, with Tigers Listening to the Sound of a Traveling Group”

Tidak terlalu banyak info yang menerangjan Abdullah Suryobroto selain beliau ialah ayah kandung dari seniman flamboyant Raden Basoeki

Abdullah, bersama rekannya wakidi dan pringadie beliau mencetus mooi indie secara utuh.

Pelukis R Abdullah Suriosubroto adalah putera Dr Wahidin Sudirohusodo, perintis pergerakan nasional ”Budi Utomo”. Tetapi berlainan dengan

ayahnya, Abdullah sama sekali tidak tertarik dengan dunia pergerakan, dia mengambil jalan hidup berbeda. Dia berkesempatan belajar di negeri

Belanda mengikuti tujuan ayahnya supaya Abdullah menempuh studi

kedokteran, tetapi sesuai kenyataannya Abdullah malah belajar seni lukis di Den Haag.

Sebenarnya yang saya tangkap dari penggayaan luis Abdullah hamper sama dengan ajaran payen kepada Raden Saleh. Yakni menggambarkan nuansa romantisme gaya Eropa yang dituangkan versi keindahan Indonesia, dimana alam mendominasi. Berbeda kembangannya dengan putranya Basuki

Abdullah yang mengembangkan mooi indie lebih ditekankan kepada keindahan wanita.

Wakidi (Palembang, 1889/1890–1979)

Wakidi (1889-1979) adalah pelukis berusia panjang. Wakidi yang orang tuanya asal Semarang, namun dia sendiri lahir di Plaju, Sumatera Selatan ini memilih untuk menetap di Sumatera Barat. Dia memperoleh pendidikan di Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru) yang berdiri sejak 1837 di

Bukittinggi. Di sekolah inilah Wakidi mendalami pelajaran menggambar dan melukis (1903).

Mengingat kemampuan luar biasa yang dimiliki Wakidi di usia mudanya, setamat disana, dia memperoleh tawaran menjadi guru lukis dan

menempuh pendidikan di Kweekschool. Diantara murid Wakidi tercatat tokoh proklamator Bung Hatta dan mantan Ketua MPRS Jenderal Besar Abdul Haris Nasution.

Tidak hanya di Kweekschool, beberapa tahun kemudian Wakidi ditawari menjadi guru di INS Kayutanam, yang didirikan M. Syafei pada tahun 1926. Di INS Wakidi ternyata juga disukai dan disenangi puluhan bahkan ratusan murid dan pengikut-pengikutnya.

Diantara murid-muridnya terdapat tokoh berkesinambungan yang berkiprah

dalam peta seni lukis nasional seperti Baharuddin MS, Syamsul Bahar, Mara

Karma, Hasan Basri DT. Tumbijo, Nasjah Jamin, Montingo Busye, Zaini, Nashar, Ipe Makruf, Alimin Tamin, Nuzurlis Koto, Arby Samah, Muslim Saleh, Mukhtar Apin, AA Navis, Mukhtar Jaos, Osmania dan banyak lagi hingga ke tokoh-tokoh muda saat ini.

MAS PRINGADI (1875-1936)

Mas Pirngadi lahir dalam keluarga ningrat pada tahun 1875. Beliau merupakan salah seorang pelukis aliran naturalis Indonesia paling berbakat. Awalnya, beliau belajar melukis dengan bahan caat air dari seorang pelukis Belanda, Du Chattel. Kemudian, beliau mengajar pelukis-pelukis terkenal seperti Sudjono dan Suromo. Tokoh lain yang dianggap sbagai pelukis terkenal Indonesia adalah Wahidi dan Abdullah

Suryosubroto. Mereka terkenal sebagai pelukis Indonesia pada zaman penjajahan Belanda awal abad ke-20. Mas Pirngadi sangat ahli melukis pemandangan alam dan orang. Disamping itu, beliau juga menghasilkan waktu bertahun-tahun membuat gambar terinci untuk Royal Batavia Society for Arts dan Sciences and the Archeological Service. Beliau meninggal pada tahun 1936.

Dalam melukis pemandangan alam, Abdullah dan Wakidi nampak lebih produktif maupun berkemampuan dibanding dengan Pirngadi yang tersita oleh pekerjaan rutinnya sebagai ilustrator museum antropologi di Jakarta.

1. 3. ERA PERSAGI, RUNTUHNYA MOOI INDIE

Zaman pergerakan yang ditandai dengan terselenggaranya Sumpah Pemuda 1928, dan pecahnya Perang Asia Timur dengan Jepang sebagai pemenangnya mempengaruhi geliat seni lukis di tanah air. Mazhab Mooi Indie lantas dikecam dan dikritik habis, dianggap hanya mengabadikan keindahan alam Indonesia saja dan kurang tanggap terhadap kenyataan di sekitarnya yang tidak semuanya indah, serba enak, tenang dan damai. Di sisi lain, pengembangan pada teknik melukis sangat diperhatikan pada masa itu, sehingga seni lukis realisme Indonesia makin memiliki identitas pribadi. Paska Sumpah Pemuda, terjadilah polemik kebudayaan yang riuh rendah dalam media massa. Terutama pada kurun waktu 1935-1939. Para pelukis tidak mau ketinggalan dan ikut ambil bagian. Tokoh-tokoh semacam Lee Man Fong, Ui Tiang Un, Henk Ngantung, Siauw Tik Kwie, Pirngadi, Subanto, Imandt, Jan Frank, Rudolf Bonnet ikut pula berdebat.

Sindudarsono Sudjojono (1913-1986) dan Affandi Koesoema (1907-1990) adalah dua tokoh yang paling menonjol pada masa itu. Berbeda dengan Affandi yang pendiam, Sudjojono adalah tokoh yang keras dan pemberang. Selain sebagai pelukis, dia juga kritikus seni lukis berlidah tajam. Pak Djon – begitu panggilan akrabnya – kerap mengecam Basoeki Abdullah yang dianggap bibit penerus mooi indie sebagai tidak nasionalistis, karena hanya melukis perempuan cantik dan pemandangan alam. Kritik Pak Djon itu tentu saja membuat berang Basoeki.

Pak Djon dan Basoeki kemudian dianggap sebagai musuh bebuyutan, bagai air dan api, sejak 1935. Namun di luar itu, Pak Djon yang memang memulai

karirnya sebagai seorang guru sekolah menengah dianggap pionir yang mengembangkan seni lukis modern khas Indonesia. Pengikut dan muridnya banyak, sehingga komunitas seniman, menjulukinya sebagai Bapak Seni Lukis Indonesia Baru.

Sebenarnya alasan Pak Djon mengancam geliat Basuki Abdullah tidak tanpa dasar, alasannya untuk mengakhiri masa mooi indie yang hanya menangkap keindahan negaranya tanpa menangkap kegelisahan dan rasa keprihatinan yang juga bagian dari keindahan bangsa kita sendiri. Juga kuatnya

pengaruh “barat” dalam penggayaan lukisan mooi indie manjadikan semakin kuatnya panggilan nasionalis Pak Djon.

Sudjojono memang tidak sendiri, bersama PERSAGI Pak Djon mulai mengaktifkan seni sebagai orasi, dan beberapa kekuatan propaganda lainnya. Berbeda hal dengan basuki Abdullah yang hingga kematiannya mempertahankan kepercayaan yang dianut sesepuhnya.

Namun beberapa sumber dan informasi yang saya dapat, Basuki Abdullah akhirnya menyadari bahwa seni modern adalah seni yang menutarakan kegelisahan dibandingkan hanya keindahannya saja. Beberapa karya Basuki Abdullah mulai melenceng.

PERSAGI pimpinan sudjojono adalah babakan baru dalam kasanah seni rupa Indonesia, tapi PERSAGI pun tak bisa mengelak keberadaannya pasti secaa tidak langsung dipengaruhi oleh gerakan MOOI INDIE . karena dari adanya ketertekanan munculah suatu kesadaran dan paham baru yang mempelopori perkembangan suatu zaman.

1. 4. KESIMPULAN (SUBJEKTIFITAS PRIBADI)

Sebenarnya gerakan revolusinoer seperti dalam kasus mooi indie hanyalah suatu kesadaran saja, dimana berawal dari sebuah tanggung jawab yakni

kolonial Belanda menyuruh Raden Saleh dan Payen untuk mendatakan karakter daerah dengan cara dilukis, dari segi lokasi, karakter wajahnya hingga bagian-bagian detail lokasinya.

Dari tugas tersebut yang juga dipengaruhi oleh Penggayaan lukis Belanda membuat peregerakan paham naturalis pelukis pribumi berasimilasi dengan penggayaan romantisme yang dibawa colonial Belanda.

Saya sendiri berpendapat bahwa pada perkembangannya, paham Mooi indie ini membuat fondasi dasar kemunculan seni rupa di Indonesia. Berawal dari payen, kemudian Raden Saleh dan hingga mas pringadi menjadi saksi atas perjuangan Indonesia menemukan jati dirinya.

Adapun bantahan sudjojono (pak djon) akan ketidak sesuaian mooi indie sebagai identitas seni rupa Indonesia beralasan namun tidak benar seratus persen, menurut saya pribadi alasan kuat kenapa ada sebuah pergerakan modern karena adanya suatu paham yang mendasar terlebih dahulu akan suatu objek yang baku(tidak banyak dirubah) seperti pelukisan bergaya mooi indie sendiri yang menangkap kesan dan pesan yang nyata, indah itu alam, karena alam itu indah. Benar adanya dan kalaupun pengaruh besar Belanda sebagai pihak “barat” mendifusikan paham ke bangsa kita sebagai paham “timur” ialah proses pendewasaan dan kita memang berhak untuk mengetahui dan kemudian menyeleksi mana yang harus kita buang dan mana yang harus kita asimilasikan.

Pada muaranya saya meyakini bahwa Indonesia dengan mooi indie nya pada masa itu membuat babakan “tersendiri” dari paham barat ataupun timur. Saya meyakini kita adalah bagian dari dua kebudayaan tersebut “timur dan barat” atau yang saya simpulkan sebagai “religiusitas dan filosofisme” yang akan bermuara pada SENI RUPA INDONESIA yang murni.

Sekali lagi saya amat sangat menghargai seniman-seniman besar yang juga memondasi sejarah seni rupa Indonesia, bagaikan karya mereka dalam lukisan-lukisan moleknya. Mungkin lebih dalam lagi dari molek itu sendiri ada harapan dan pesan yang ingin dibicarakan para perupa besar tersebut tentang kekayaan Indonesia yang paling molek dengan alam yang menarik para perupa barat untuk singgah dibansa hindia-belanda ini. Karena seni bukan hanya estetika atau pakem-pakem lainnya, lebih dari itu, seni dengan apapun ekspresinya atau penggayaannya adalah “diri kita’ sendiri yang ingin bercerita pada dunia.

Perkembangan seni rupa murni mancanegara di luar Asia berawal dari seni rupa Timur purba hingga sejarah seni rupa Eropa modern. Seni rupa Timur purba dapat dilihat melalui perkembangan seni rupa di Mesir. Kurun waktu perkembangannya dapat diuraikan secara kronologis,

yaitu dimulai dari sejarah seni rupa Mesir, seni rupa Eropa Klasik, seni rupa Renaissance, seni rupa Barok dan Rokoko, hingga seni rupa zaman modern.

1. Seni rupa Mesir

Mesir merupakan bangsa yang mempunyai peninggalan kebudayaan tertua di dunia (sejak 3400 SM). Bentuk karya-karya seni rupa bangsa Mesir berupa seni bangunan, seni patung, relief, seni lukis, dan seni kriya. Seni bangunan Mesir terdiri atas bangunan piramida, mastaba, dan candi. Piramida dan mastaba merupakan bangunan yang berfungsi untuk menyimpan mumi, sedangkan candi berfungsi sebagai tempat pemujaan. Seni patung

Mesir terbuat dari batu granit yang merupakan penggambaran dari Ramses, Chefren, Achnaton, Amenhotep, dan Spinx. Relief dan seni lukis Mesir banyak ditemukan pada dindingdinding

kuburan dan peti mati. Peninggalan lainnya berupa benda-benda kriya, seperti tembikar, perhiasan, dan mahkota.

2. Seni rupa Eropa Klasik

Perkembangan seni rupa di Eropa diawali dari seni rupa Yunani, Romawi, Helenis, hingga abad

pertengahan (Nasrani). Peninggalan-peninggalannya berupa seni bangunan, patung, relief, seni lukis, dan seni kriya. (senirupa Tri Edi Margono)

a. Seni rupa Yunani

Karya seni rupa yang berkembang di Yunani, antara lain seni bangunan dan seni kriya. Seni bangunan Yunani kebanyakan berbentuk istana serta bangunan megah lainnya. Seni lukis Yunani bercorak dekoratif dengan objek alam. Seni patungnya terbuat dari batu pualam dan kayu.

Dalam dokumen PERKEMBANGAN SEJARAH SENI RUPA DI INDONE (Halaman 34-58)

Dokumen terkait