• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KRITISI FORMULASI TINDAK PIDANA

A. Masalah Kualifikasi Tindak Pidana

Sangat disayangkan, penegasan kualifikasi tindak pidana sebagai kejahatan atau pelanggaran tidak dirumuskan dalam Ketentuan Pidana Undang-undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Hal ini bisa menimbulkan masalah, karena perundang-undangan pidana diluar KUHP tetap terikat pada aturan umum KUHP mengenai akibat-akibat yuridis dari pembedaan antara “kejahatan” dan “pelanggaran”.

Menurut Wirjono Prodjodikoro, kata-kata “kejahatan” dan “pelanggaran” kini merupakan istilah-istilah sebagai terjemahan dari istilah-istilah misdrijf dan

overtreding dalam Bahasa Belanda. Misdrijf atau kejahatan berarti suatu

perbuatan yang tercela dan berhubungan dengan hukum, berarti tidak lain daripada “perbuatan melanggar hukum”. Overtredingen atau pelanggaran berarti suatu perbuatan yang melanggar sesuatu, dan berhubungan dengan hukum, berarti tidak lain daripada “perbuatan melanggar hukum”. Jadi, sebenarnya arti kata dari kedua istilah itu sama, maka dari arti kata tidak dapat dilihat perbedaan antara kedua golongan tindak pidana ini.32

Membedakan “kejahatan” dan “pelanggaran” penting artinya karena di dalam Buku I KUHP terdapat peraturan yang hanya berlaku terhadap kejahatan dan tidak pada pelanggaran. Kegunaan pembedaan kejahatan terhadap pelanggaran, kita temukan dalam sistematika KUHP yang merupakan “buku

32

Khairu Rizki : Analisa Kasustindak Pidana Memberikan Ijazah Tanpa Hak (Studi Putusan PN Medan Reg. NO. 1932/Pid.B/2005/PN.MDN), 2008.

USU Repository © 2009

induk” bagi semua perundang-undangan hukum pidana, karena dikaitkan dengan akibat hukum yang penting dan tertentu sebagai berikut:

1) Dalam Bab I Buku I KUHP Pasal 2 sampai dengan Pasal 9 tentang berlakunya aturan pidana dalam undang-undang menurut tempat, tidak selalu mengenai tindak pidana saja tetapi adakalanya hanya mengenai kejahatan tertentu saja (Pasal 5);

2) Dalam Bab II Buku I KUHP yang mengatur tentang pidana diperbedakan antara lain:

a) Masa percobaan pemidanaan , bagi kejahatan lebih lama daripada bagi pelanggaran pada umumnya (Pasal 14 b);

b) Pelepasan bersyarat hanya berlaku untuk kejahatan (pidana penjara) (Pasal 15);

c) Pencabutan hak-hak tertentu hanya boleh dijatuhkan pada kejahatan tertentu (Pasal 36, 37);

d) Pada umumnya ancaman bagi kejahatan lebih berat dibandingkan bagi pelanggaran.

3) Dalam Bab III Buku I KUHP, ditentukan bahwa:

a) Putusan hakim untuk menyerahkan seorang anak yang belum cukup umur kepada pemerintah, hanya jika anak itu telah melakukan ulang suatu kejahatan atau pelanggaran tertentu (Pasal 45);

b) Adanya pemberatan pidana karena melakukan suatu kejahatan dengan menggunakan bendera kebangsaan R.I (Pasal 52 a).

Khairu Rizki : Analisa Kasustindak Pidana Memberikan Ijazah Tanpa Hak (Studi Putusan PN Medan Reg. NO. 1932/Pid.B/2005/PN.MDN), 2008.

USU Repository © 2009

a) Percobaan melakukan kejahatan dipidana (Pasal 53);

b) Percobaan melakukan pelanggaran tidak dipidana (Pasal 54). 5) Dalam Bab V Buku I, antara lain:

a) membantu untuk melakukan suatu kejahatan dipidana, tetapi untuk pelanggaran tidak (Pasal 56, 60);

b) “Omkering van Bewijslast” bagi pengurus-pengurus dan sebagainya,

hanya berlaku untuk pelanggar(an) (Pasal 59). 6) Dalam Bab VI Buku I, antara lain:

a) Untuk pemidanaan beberapa kejahatan sekaligus, umumnya digunakan

absortie-stelsel (stelsel penyeraban).

b) Untuk pemidanaan beberapa pelanggaran sekaligus, umumnya digunakan

comulatie-stelsel (stelsel penjumlahan).

7) Dalam Bab VII Buku I, antara lain:

“pengaduan” hanya diatur untuk beberapa kejahatan tertentu saja, sedangkan seseorang yang melakukan suatu pelanggaran, selalu dapat dituntut tanpa adanya pengaduan.

8) Dalam Bab VIII Buku I antara lain:

a) Daluwarsa (penuntutan pidana atau penjalanan pidana) pada kejahatan umumnya lebih lama waktunya dibandingkan dengan pelanggaran;

b) Hanya pada pelanggaran saja ada kemungkinan penyelesaian di luar acara pidana dengan pembayaran maksimum denda dengan sukarela.

Khairu Rizki : Analisa Kasustindak Pidana Memberikan Ijazah Tanpa Hak (Studi Putusan PN Medan Reg. NO. 1932/Pid.B/2005/PN.MDN), 2008.

USU Repository © 2009

a) Pembantuan dan percobaan untuk melakukan kejahatan termasuk dalam arti kejahatan. Pembantuan/percobaan untuk melakukan pelanggaran, tidak diatur seperti itu;

b) Permufakatan (samenspanning) hanya untuk melakukan kejahatan. 10)Recidive:

a) Recidive untuk kejahatan tertentu diatur dalam pasal-pasal: 486,487, dan 488.

b) Recidive untuk pelanggaran diatur dalam pasal-pasal yang bersangkutan (489, 492, 495, 501, 517, 530, 536, 540, 541, 542, 544, 545, dan 549). 11)Kesalahan (schuld)

Pada kejahatan selalu ditentukan, atau dapat disimpulkan adanya salah satu bentuk kesalahan, sedangkan pada pelanggaran tidak.

12)Kualifikasi

Hanya dalam kejahatan dikenal adanya kejahatan ringan (pasal-pasal: 302 (1), 352 (1), 364, 379, 384, 407 (1), 482 dan 315 KUHP), sedangkan dalam pelanggaran tidak dikenal.

Berdasarkan riwayat pembentukan KUHP di Nederland dapat diketahui bahwa yang dipakai sebagai dasar untuk membedakan kejahatan dan pelanggaran adalah dari perbedaan antara “rechtsdelicten” dan “wetsdelicten”. Rechtsdelicten merupakan perbuatan yang dianggap sebagai bertentangan dengan perikeadilan atau nilai-nilai keadilan dalam masyarakat. Kalau seandainya perbuatan ini tidak diatur dalam undang-undang dan tidak dikenakan sanksi pidana, maka perbuatan tersebut dalam pandangan masyarakat tetap dianggap sebagai perbuatan yang

Khairu Rizki : Analisa Kasustindak Pidana Memberikan Ijazah Tanpa Hak (Studi Putusan PN Medan Reg. NO. 1932/Pid.B/2005/PN.MDN), 2008.

USU Repository © 2009

bertentangan dengan nilai-nilai keadilan dan patut dilarang. Misalnya: membunuh, menipu, mencuri dan sebagainya.

Sedangkan wetsdelicten diartikan sebagai perbuatan yang dilarang dengan hukuman berdasarkan perumusannya dalam undang-undang. Perbuatan ini jika tidak dilarang dengan tegas dalam undang-undang, maka tidak dipandang oleh masyarakat sebagai perbuatan yang salah dan patut dihukum. Misalnya: pelanggaran lalu lintas.

Penetapan kualifikasi tindak pidana sebagai “kejahatan” merupakan “penetapan kualifikasi yuridis” yang mempunyai akibat/konsekuensi yuridis, baik dalam arti konsekuensi yuridis materiel (yaitu terikat pada aturan umum dalam KUHP) maupun konsekuensi yuridis formal (dalam KUHAP), sepanjang tidak ditentukan lain oleh Undang-undang. Penetapan kualifikasi yuridis ini diperlukan untuk “menjembatani” berlakunya aturan umum KUHP terhadap hal-hal yang tidak diatur dalam UU di luar KUHP. Jadi, identik dengan penetapan kualifkasi yuridis terhadap suatu perbuatan sebagai “Tindak Pidana Ekonomi” atau sebagai “Tindak Pidana Korupsi” yang juga mempunyai akibat yuridis, yaitu:

13)apabila UU di luar UU Tindak Pidana Ekonomi (UU Nomor 7 Drt. 1955) menyebut/menyatakan, bahwa suatu delik adalah “Tindak Pidana Ekonomi”, maka berlakulah ketentuan-ketentuan dalam UU Tindak Pidana Ekonomi itu (lihat Pasal 1 sub 3c UU No. 7 Drt. 1955);

14)apabila UU diluar UU Korupsi (UU No. 31 Tahun 1999)

Khairu Rizki : Analisa Kasustindak Pidana Memberikan Ijazah Tanpa Hak (Studi Putusan PN Medan Reg. NO. 1932/Pid.B/2005/PN.MDN), 2008.

USU Repository © 2009

maka berlakulah ketentuan dalam UU Korupsi itu (lihat Pasal 14 UU No. 31 Tahun 1999).33

Demikian pulalah dengan ketentuan KUHP. Karena aturan umum KUHP membedakan antara “aturan umum untuk kejahatan” dan “aturan umum untuk pelanggaran”, maka apabila aturan umum KUHP itu akan juga diberlakukan terhadap UU di luar KUHP (berdasarkan Pasal 103), maka UU di luar KUHP itu juga harus menyebut kualifikasi yang jelas dari tindak pidana yang diaturnya, apakah merupakan “kejahatan” atau “pelanggaran”.

Dokumen terkait