TINJAUAN PUSTAKA
2.2 Masalah pada restorasi kelas II komposit .1 Marginal gap
Pada restorasi komposit kelas II dengan servikal margin berada dibawah cemento enamel junction akan menyebabkan terbentuknya gap disepanjang margin servikal. Hal ini terjadi karena adanya pengerutan polimerisasi ( > 2.0%) atau adanya ketidaksesuaian antara koefisien thermal ekspansi gigi dan resin komposit, ketidaksesuaian antara modulus elatisitas gigi dan resin komposit pada dinding kavitas berdampak pada terjadinya deformasi bahan dan menyebabkan stress shrinkage antar permukaan. Jika stres terjadi antar subtansi gigi dan sistem adhesif, maka kontraksi gap akan terbentuk dan dapat mengganggu ketahanan restorasi. (Stocton,2007;
Narayana dkk, 2014)
Terjadinya adaptasi marginal yang tidak adekuat yang menyebabkan terjadinya gap dapat disebabkan beberapa hal diantaranya adalah : terjadinya pengerutan resin komposit yang disebabkan oleh proses fotopolimerisasi dimana resin komposit pada daerah lapisan dasar tidak dapat dicapai light cured pada saat proses polimerisasi (Fabianelli,2005; Karthic, 2011; Campos,2014). Hal ini akan menyebabkan resin komposit akan tertarik kearah sinar akhirnya membentuk celah. Kemungkinan lain adalah enamel yang lebih tipis pada permukaan margin kavitas pada aspek proksimal yang menyulitkan perlekatan bahan restorasi (Yaroub dan Hameed, 2014).
2.2.2 Stress mastikasi
Resin komposit memiliki sifat mekanis yang dapat digunakan pada semua area gigi dalam rongga mulut namun restorasi yang secara fungsional sering terdapat pada beban pengunyahan yang tinggi masih merupakan masalah (Graham,2012). Saat fungsi mastikasi berjalan, komponen material pada permukaan gigi dan komposit mengalami stres secara mekanis dan kimia. Stres ini mengakibatkan kerusakan sifat bahan tersebut. Pemecahan ikatan kovalen dengan penambahan air pada ikatan eter merupakan salah satu alasan utama dalam kerusakan yang terjadi pada bahan adhesif pada permukaan gigi dan resin komposit.(Nakabayashi, 1982).
Beberapa peneliti menyatakan bahwa struktur gigi akibat etsa asam mengakibatkan enzim proteolitik terganggu, sehingga dapat menghasilkan produk seperti matrix metalloproteinase (MMP) yang dapat menurunkan komponen kolagen
Gambar 2. 3. Gap yang terbentuk di area gingiva yang direstorasi dengan bahan Komposit yang berbeda (Yaroub &Hameed., 2014).
yang terdapat pada lapisan hybrid. Adapun beberapa faktor yang menghambat terjadinya pembentukan ikatan adalah : (1) penyerapan air dan hidrolisis dari bahan resin, (2) perubahan bahan (3) penyerapan bahan adhesif oleh matriks dentin yang mengalami demineralisasi, (4) penguapan bahan adhesif dan (5) pengaruh terpaparnya bahan dengan cairan rongga mulut.(Bohaty dkk., 2013; Yaroub, 2014).
2.2.3 Stres polimerisasi
Polimerisasi adalah reaksi intermolekuler yang berantai yang secara fungsional mampu berlangsung secara tidak terbatas. Polimerisasi terjadi melalui serangkaian reaksi kimia di mana polimerisasi dibentuk oleh sejumlah monomer individual. Unit monomer tersebut berhubungan satu dengan yang lain sepanjang rantai polimer oleh ikatan kovalen. Resin komposit adalah monomer dimetakrilat di mana bahan ini mengeras melalui mekanisme tambahan yang diawali oleh radikal bebas (Bohaty dkk., 2013).
Faktor – faktor yang mempengaruhi kualitas polimerisasi resin komposit adalah intensitas cahaya, lama penyinaran, panjang gelombang cahaya, ketebalan resin komposit, jarak ujung light curing unit dengan permukaan restorasi, warna resin komposit, dan komposisi bahan resin komposit itu sendiri. Intensitas cahaya suatu light curing unit dipengaruhi oleh jarak ujung light curing unit dengan permukaan resin komposit. Semakin besar jarak penyinaran, maka dispersi cahaya light curing unit akan meningkat sehingga akan sulit untuk memperoleh polimerisasi yang efektif (Kartrhick, 2011).
Terbatasnya penggunaan resin komposit sebagai bahan restorasi tampaknya disebabkan karena adanya pengerutan selama polimerisasi yang akan menyebabkan buruknya marginal seal, terjadinya pewarnaan marginal dan karies rekuren dan pengerutan polimerisasi terus berlanjut sehingga menghasilkan stres pada bahan restorasi (Bohaty dkk., 2013; Kartrhick, 2011).
Penyusutan selama polimerisasi dapat membentuk gap yang dapat menyebabkan kurangnya kerapatan bagian tepi. Besarnya kontraksi yang terjadi bergantung pada ketebalan bahan yang digunakan, ukuran kavitas, serta teknik aplikasinya secara klinis.
Akibat adanya kontraksi polimerisasi, perbedaan koefisien termal, dan perlekatan yang inadekuat antara bahan restorasi dan permukaan gigi dapat menyebabkan kebocoran mikro. (Kartrhicks, 2011).
2.2.4 Desain kavitas
Secara khusus, restorasi resin komposit dimanfaatkan untuk meningkatkan estetik dan memperkecil kehilangan stuktur gigi akibat preparasi. Preparasi pada gigi yang mengalami karies dilakukan sesuai dengan prinsip Minimal Intervention of Dentistry (MID). Minimal intervensi dalam kedokteran gigi didefinisikan sebagai suatu perawatan terhadap karies dengan mengambil jaringan gigi yang terdemineralisasi saja dan sebisa mungkin tetap menjaga struktur gigi yang sehat.
(Mount, 2009, Kinch-Murdoch & Mc Lean., 2003). Klasifikasi desain kavitas menurut G.V Black telah berubah dengan klasifikasi baru menurut Mount and Hume. Preparasi kavitas dengan minimal intervensi pada kavitas kelas II menurut Mount and Hume diantaranya adalah modifikasi Tunnel dan preparasi internal pada daerah proksimal.
Mini box atau preparasi slot membuang daerah marginal ridge tapi tidak sampai daerah pit dan fissure. Beberapa studi menunjukkan bahwa preparasi tunnel menunjukkan hasil yang lebih baik dibanding slot (Kinch-Murdoch & Mc Lean., 2003).
2.2.5 Kebocoran mikro
Kebocoran mikro merupakan celah interfasial antara dinding kavitas permukaan gigi dengan bahan restorasi yang dapat dilalui oleh bakteri, cairan, molekul, dan ion (Fabianelli, 2005; Fouri, 2011). Secara klinis kebocoran mikro berakibat pada hipersensitifitas atau rasa nyeri pasca restorasi, terbentuknya karies
sekunder, pewarnaan pada tepi restorasi, bahkan dapat mempercepat kerusakan tumpatan itu sendiri (Powers dan Sakaguchi, 2006).
Kegagalan dari sistem adhesif sering terjadi karena terbentuknya celah antara resin komposit dan jaringan gigi. Celah ini disebabkan karena kekuatan perlekatan yang kurang baik sehingga tidak mampu menahan tekanan penyusutan pada saat polimerisasi. Hal ini menyebabkan kebocoran mikro dan pengerutan polimerisasi ini berkaitan juga dengan configuration factor ( C- factor ). C- factor adalah perbandingan dari permukaan yang berikatan dan tidak berikatan pada permukaan gigi yang di preparasi (gambar 2.2). Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa semakin besar C - factor semakin besar kegagalan perlekatan karena efek polimerisasi. Kavitas kelas II merupakan kavitas dengan C-factor yang tinggi sehingga berpotensi untuk terjadi pengerutan polimerisasi. (Karthrick, 2012; Bohaty dkk, 2013).
Sehubungan dengan karakteristik resin komposit yaitu adanya polymerization shrinkage, maka keberhasilan restorasi resin komposit pada dasarnya juga tergantung pada adhesif atau pelekatan yang efektif pada struktur email dan dentin. Menurut penelitian yang dilakukan Vargas dan Swift (1994) menyatakan bahwa bahan adhesif dapat berfungsi untuk membantu resin komposit dalam membentuk ikatan antara struktur gigi dengan resin komposit. Ikatan tersebut diharapkan dapat mengurangi
Gambar 2.4 C - factor pada berbagai preparasi restorasi gigi (Karthick., 2011)
kontraksi polimerisasi sehingga dapat mengurangi terbentuknya celah mikro (Samimi, 2012).
Menurut Samimi (2012) ada hubungan antara nilai pH dengan terjadinya keocoran mikro. Etsa yang mengandung pH=1 seperti pada sistem adhesif total etsa, menunjukkan efek terjadinya kebocoran mikro yang tinggi. Sedangkan pada sistem adhesif self ecth mempunyai pH=2 menunjukkan tingkat kebocoran mikro lebih rendah. Hal ini disebabkan karena adanya proses dekalsifikasi pada permukaan email yang tidak mencapai peritubular dentin, tidak ada serat kolagen di dentin yang kolaps dan hibridisasi dapat terjadi melalui polimerisasi monomer fosfat dengan serat kolagen sehingga mengurangi kebocoran mikro di bawah lapisan hibrid (Summit dkk, 2001).
Sistem total etsa dengan menggunakan asam fosfat yang mempunyai pH sangat kuat, kemampuan dekalsifikasi yang dihasilkan tidak hanya di permukaan email saja, tetapi juga sampai membuka peritubular dentin yang mengandung 80-90% kolagen sehingga terjadi demineralisasi di dalamnya. Serat kolagen yang kolaps mengakibatkan tidak ada tempat untuk penetrasi bahan bonding yang mencapai seluruh kedalaman zona yang mengalami dekalsifikasi. Dengan demikian mekanisme perlekatan baik secara mikromekanik maupun ikatan kimia tidak dapat terjadi sampai seluruh zona dekalsifikasi sehingga kemungkinan terjadi kebocoran mikro pada dentin menjadi lebih besar (Simmi, 2012).
2.3 Mengatasi masalah pada restorasi klas II resin komposit