II TINJAUAN PUSTAKA
III. METODE PENELITIAN
1. Masalah Pada Setiap Agroekosistem
Salah satu faktor yang menjadi kendala dalam peningkatan produksi jagung adalah beragamnya agroekosistem jagung, dimana setiap agroekosistem jagung memiliki permasalahan masing-masing :
(1) Lahan Kering/ Tegalan
Masalah utama penanaman jagung di lahan kering adalah kebutuhan air yang sepenuhnya tergantung pada curah hujan. Selain itu, faktor kesuburan lahan yang bervariasi dan adanya erosi yang mengakibatkan penurunan kesuburan
lahan juga menjadi kendala penanaman jagung di lahan kering. Hal ini menyebabkan pada awal pertumbuhan tanaman tergantung pada curah hujan yang tidak menentu, dan kelebihan air pada akhir pertumbuhan pertanaman pertama. Pada pertanaman kedua, terjadi kelebihan air pada stadium awal dan kekurangan air pada akhir pertumbuhan. Pertanaman jagung ketiga umumnya kekurangan air. Varietas yang digunakan adalah varietas lokal yang berdaya hasil rendah, padahal tingkat produktivitas sangat dipengaruhi oleh pemupukan dan varietas yang digunakan. Sistem demikian banyak dijumpai didaerah terisolasi yang petaninya tergolong miskin dengan usahatani subsisten. Sarana dan prasarana produksi, pengangkutan, pemasaran hasil, dan penyuluhan masih terbatas.
(2) Lahan Sawah Tadah Hujan
Pada lahan ini jagung ditanam sebelum dan sesudah padi, dan mungkin setelah itu ditanam jagung lagi. Walaupun kesuburan tanahnya cukup tinggi, padi hanya dapat ditanam satu kali pada puncak musim hujan karena tidak ada sistem irigasi. Curah hujan pada musim pertama tidak mencukupi untuk padi sawah, tetapi memadai untuk budidaya jagung. Kondisi kelembapan yang demikian memaksa petani untuk menanam jagung dengan varietas berumur genjah (70-80 hari). Pada awal pertumbuhan, tanaman jagung sebelum padi dapat mengalami keekringan karena kelembapan tanah yang tidak terjamin, sehingga petani kadang-kadang harus menanam 2-3 kali. Hal ini berarti peningkatan kebutuhan tenaga kerja dan pemborosan benih. Selain kekeringan pada awal pertumbuhan, tanaman juga mengalami kelebihan air (tergenang) pada saat berbunga. Pertanaman jagung kedua (setelah padi) umumnya merupakan pertanaman
87
terbaik, walaupun dapat juga mengalami kekeringan pada akhir pertumbuhan atau kelebihan air pada awal pertumbuhan. Pertanaman jagung ketiga - bila dilakukan oleh petani - sangat rawan terhadap cekaman kekeringan.
Belum tersedianya varietas berumur sangat genjah serta memiliki biji berwarna putih dan tanggap terhadap pemupukan membuat upaya peningkatan produktivitas pada agroekositem ini semakin sulit dilakukan.
(3) Sawah Beririgasi
Lahan ini diklasifikasikan sebagai lahan yang subur dengan respon petani yang lebih mudah menerima masukan tinggi dan hasilnya mencapai dua kali lipat hasil rata-rata nasional. Lahan ini memungkinkan introduksi varietas unggul berumur sedang atau dalam seperti hibrida. Jagung ditanam satu atau dua kali setahun setelah padi, tergantung ketersediaan air. Pada pola tanam padi – padi
– jagung, lama pengairan sering tidak lebih dari 80 hari setelah panen padi. Keterbatasan durasi pengairan akan mengurangi kesempatan untuk mengeksploitasi kemampuan genetik jagung hibrida yang berumur 100 hari atau lebih.
(4) Lahan Pasang Surut dan Bukaan Baru
Selain penanaman jagung di lahan kering dan lahan sawah, terdapat jenis lahan lain yang cukup potensial untuk penanaman jagung, yaitu lahan pasang surut. Lahan pasang surut di Indonesia relatif masih cukup luas dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Masalah utama pada lahan pasang surut adalah tingkat kesuburan tanah yang masih rendah, keadaan tanah masam (pH 3-5) dan tingkat kelarutan mineral (Al) dan besi (Fe) masih tinggi sehingga mempengaruhi
ketersediaan fosfat dalam tanah. Lahan bukaan baru juga umumnya mengalami kendala kendala biologis (adaptasi varieatas, hama, penyakit, dan gulma), dan kendala sosial ekonomi (penggunaan/pengolahan, pemasaran).
Dengan demikian, salah satu indikator persoalan dari sisi produksi yang harus segera dipecahkan dalam rangka untuk memacu peningkatan produktivitas jagung nasional adalah upaya untuk menemukan inovasi tekhnologi spesifik lokasi mencakup ke seluruh wilayah agroekositem, karena potensi hasil varietas unggul dapat direalisasikan jika lingkungan tumbuhnya mendukung.
2. Tekhnik Budidaya yang Diterapkan Petani
Banyak petani yang mungkin dianggap telah mengadopsi tekhnologi baru, namun kebanyakan mereka masih menerapkan sebagian atau seluruh tekhnik budidaya tradisional dengan masukan rendah, seperti mutu benih rendah, varietas lokal berdaya hasil rendah, tanpa atau dengan pupuk takaran rendah, tanpa perlindungan hama dan penyakit, dan populasi tanaman tidak memadai. Hal ini disebabkan karena makin mahalnya harga benih bermutu tinggi, pupuk, dan pestisida.
Masih terbatasnya benih bermutu di tingkat petani merupakan salah satu masalah dalam upaya percepatan peningkatan produksi. Hal ini terkait dengan tingginya ketergantungan petani akan benih yang disebabkan karena benih
tanaman menyerbuk silang seperti jagung tidak mudah diproduksi secara
tradisional oleh petani. Sampai saat ini, varietas jagung hibrida yang ditanam petani hampir seluruhnya dihasilkan oleh lembaga penelitian swasta (multinasional), seperti PT Cargill, Pioneer dan Charoen Pokphan atau PT BISI.
89
Sedangkan varietas komposit unggul dihasilkan oleh institusi pemerintah, antara lain Badan Litbang Pertanian.
Jika mayoritas petani jagung di Indonesia telah beralih menanam varietas
unggul, seperti hibrida dan komposit unggul diduga akan meningkatkan
produktivitas jagung sehingga produksi jagung akan meningkat secara signifikan.
Varietas unggul jagung hibrida memiliki beberapa keunggulan, seperti hasil yang
diperoleh lebih tinggi yaitu sekitar 7-9 ton per hektar, pertumbuhannya lebih
seragam dan tahan penyakit Diperkirakan saat ini penyebaran jagung hibrida di Indonesia baru mencapai 40 persen dari total areal jagung.
Produktivitas jagung yang rata-rata per tahunnya hanya 2,70 ton per
hektar sangat rendah jika dibandingkan dengan produktivitas jagung Amerika
Serikat yang telah mencapai 9,31 ton per hektar. Hal ini mengingat masih
tertinggalnya adopsi tekhnologi oleh petani jagung dalam negeri. Walaupun benih
jagung hibrida yang menjadi andalan produksi kini relatif sudah memasyarakat
dan mudah diakses oleh petani, akan tetapi petani menilai harga benih masih
terlalu mahal, terutama benih hibrida sedangkan modal yang dimiliki terbatas.
Disamping itu, pemilik sumber benih yang juga merupakan pemegang paten tak jarang memberlakukan aturan yang tak berpihak pada petani.