• Tidak ada hasil yang ditemukan

II TINJAUAN PUSTAKA

III. METODE PENELITIAN

4. Pemasaran dan Distribusi Hasil

Permasalahan jagung yang lain adalah berkaitan dengan pemasaran dan distribusi. Meskipun memiliki sentra produksi jagung, namun sentra produksi tersebut menyebar sehingga menyebabkan petani akan sulit untuk memasarkan produknya kepada kalangan industri. Begitu juga dengan industri, khusunya

industri pakan akan sulit untuk mendapatkan jagung. Hal ini disebabkan karena mahalnya biaya angkutan. Selain itu, kemitraan produsen maupun pakan ternak dengan petani masih sedikit.

Hal ini lah yang ditenggarai sebagai salah satu penyebab terjadinya impor jagung. Impor jagung ditenggarai bukan karena masalah pasokan di dalam negeri, tetapi cenderung terdorong oleh kepentingan bisnis, khususnya bagi kalangan industri pakan ternak. Pengadaan jagung dengan mengimpor memang sangat efisien khususnya dalam konteks industri pakan ternak dibanding harus berurusan dengan petani atau kelompok tani yang selain lokasinya tersebar, kualitasnya juga beragam dengan volume yang terbatas pula. Oleh karena itu, pabrik pakan ternak haruslah tetap mengutamakan produksi jagung di dalam negeri dalam rangka tercapainya swasembada jagung di Indonesia. Impor dilakukan apabila memang produksi dalam negeri tidak mencukupi.

5.4.2. Berbagai Kebijakan Pemerintah Untuk Meningkatkan Produksi Jagung Nasional

Berbagai kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan produksi jagung nasional, antara lain :

1. Untuk mendukung program pengembangan jagung, mulai tahun1977/1978 pemerintah melakukan intervensi pasar dengan menetapkan harga dasar jagung. Penetapan harga dasar jagung dipandang penting karena produksi jagung saat itu cenderung meningkat dan ekspor cukup prospektif. Sejalan dengan perkembangannya, kebijakan harga dasar jagung dinilai tidak efektif dan kemudian dicabut pada tahun 1990. Hal ini disebabkan karena harga di tingkat petani senantiasa berada diatas harga dasar dan

93

permintaan jagung cukup tinggi sepanjang tahun. Dengan demikian harga jagung sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, bahkan sejak ada kesepakatan GATT dan WTO, pasar jagung dalam negeri semakin terbuka terhadap pasar internasional, sehingga harga jagung dalam negeri juga dipengaruhi oleh harga jagung dunia dan nilai tukar mata uang.

2. Tahun 1974/1975-1986 pemerintah mentapkan program Bimas Jagung yang dimulai pada Pelita II yaitu tahun 1974/1975; tahun 1987-1995 pemerintah melaksanakan Progran Insus Jagung; dan tahun 1996/1997 pemerintah kembali melaksanakan Program Supra Insus Tanaman Jagung yang dilaksanakan pada 10 propinsi di Indonesia.

3. Untuk meningkatkan produksi jagung, pemerintah telah mencanangkan program percepatan peningkatan produksi jagung hibrida dan komposit. Upaya ini mulai dirintis pada tahun 1996/1997 dimana program tersebut menekankan pada perluasan areal tanam/panen dan peningkatan Intensitas Pertanaman (IP).

4. Kemudian pada tahun 1997, dicanangkan program Gema Palagaung (Gerakan Mandiri Peningkatan Produksi Padi, Kedelai, dan Jagung) yang dicanangkan untuk mencapai swasembada dan surplus produksi padi, jagung, dan kedelai tahun 2001. Dengan adanya program tersebut, diharapkan dapat mendorong produsen dan petani jagung untuk meningkatkan produksinya melalui penanaman jagung hibrida yang memiliki keunggulan produksi daripada jenis jagung lainnya. Adanya program ini ternyata memberikan dampak positif terhadap petani. Petani

terpacu untuk meningkatkan produktivitasnya dan terbukti dapat meningkatkan produksi jagung secara nasional, tetapi belum mampu memenuhi semua kebutuhan dalam negeri.

5. Untuk mewujudkan swasembada jagung, pada tahun 2004 pemerintah

mencanangkan “Gerakan Tambahan Dua Juta Ton Jagung”

(GENTATATON JAGUNG) yang berhasil mendongkrak produksi jagung nasional menjadi sekitar 11,22 juta ton pada tahun 2004 dari tahun sebelumnya yang hanya 10,89 juta ton. Selain itu Ditjen Tanaman Pangan juga sudah menetapkan sejumlah kebijakan yang strategis, meliputi penyaluran bantuan benih jagung hibrida dan komposit, pengendalian OPT, perbaikan mekanisme penyaluran pupuk, serta pengembangan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT).

6. Untuk mempercepat diseminasi dan adopsi teknologi inovatif terutama

yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian, Departemen Pertanian melaksanakan Program Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani). Melalui program ini diharapkan produksi pertanian meningkat dan juga membuka wawasan petani terhadap teknologi budi daya pertanian. Perubahan pola pikir diharapkan dapat mengubah perilaku dalam budi daya pertanian dari cara konvensional ke teknik budi daya yang lebih baik.

7. Badan Litbang Departemen Pertanian telah mengembangkan inovasi teknologi jagung melalui pendekatan Pengolahan Tanaman Terpadu (PTT) yang diperkirakan akan mampu memberikan kontribusi yang nyata bagi

95

peningkatan produksi nasional. PTT jagung bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan produktivitas jagung secara berkelanjutan dan meningkatkan efisiensi produksi melalui komponen teknologi, antara lain varietas unggul, benih bermutu, penyiapan lahan hemat tenaga, populasi tanaman optimal, pemupukan yang efisien, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dengan mengutamakan aspek kelestarian lingkungan, pengelolaan panen dan pascapanen yang sesuai dengan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. 5.4.3. Langkah Strategis Untuk Meningkatkan Produksi Jagung Nasional

Walaupun pemerintah telah menerapkan berbagai kebijakan untuk meningkatkan produksi jagung nasional, hingga saat ini produksi jagung belum mampu memenuhi permintaan jagung domestik yang semakin meningkat. Dari hasil analisis respon penawaran di atas, dapat dilihat bahwa nilai elastisitas penawaran dalam jangka panjang bersifat elastis yang menandakan bahwa dalam jangka panjang petani sangat responsif terhadap perubahan harga karena asset- aset pertanian sudah relatif flexible, sehingga petani dapat meningkatkan produksinya.

Disinlah kebijakan yang telah diterapkan oleh pemerintah akan berperan besar karena hasil nyata dari penetapan kebijakan tersebut akan dapat terlihat dalam jangka panjang. . Oleh karena itu, dapat diduga bahwa kebijakan yang ada selama ini kurang efektif, tidak berjalan secara bertahap dan kontinu. Dengan demikian, agar kebijakan yang masih dan yang akan ditetapkan oleh pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan produksi jagung nasional dapat tercapai, maka

yang diperlukan adalah pelaksanaan kebijakan tersebut secara bertahap, konsisten, dan berkelanjutan. Dengan demikian tujuan dari kebijakan tersebut akan tercapai karena kebijakan tersebut berjalan dengan efektif dan efisien.

Disamping itu, strategi peningkatan produksi jagung nasional dapat dilakukan melalui beberapa cara, yaitu:

Dokumen terkait