• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH PEMBANGUNAN DAERAH

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN MAGETAN (Halaman 54-60)

6. Keamanan dan Ketertiban

2.5 MASALAH PEMBANGUNAN DAERAH

Masalah pembangunan daerah akan dirumuskan dengan menggunakan parameter sebagai berikut: (a) Keterbatasan fisik alamiah, seperti karakter alam yang merupakan bawaan dari wilayah. Keterbatasan ini dapat bersifat mutlak (limitasi), tetapi dapat pula sebatas menghambat, (b) Keterbatasan sumberdaya manusia, baik dalam hal kuantitas, kualitas maupun distribusinya, (c) Keterbatasan kelembagaan daerah, baik menyangkut kapasitas kelembagaan maupun kedudukan kelembagaan.

Ketiga faktor pembatas tersebut akan menjadi masalah jika dikaitkan dengan kepentingan pembangunan wilayah, seperti peningkatan kesejahteraan, kelestarian sumberdaya dan sebagainya.

Hambatan-hambatan pengembangan wilayah Kabupaten Magetan adalah sebagai berikut:

1. Daya Dukung Lingkungan

a. Konflik Pemanfaatan Lahan

(1) Konversi Lahan Pertanian ke Non Pertanian

Konversi lahan pertanian ke non pertanian terjadi sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang meningkat menyebabkan peningkatan permintaan pengalihfungsian lahan sawah menjadi lahan non pertanian. Selama kurun waktu 2001-2007, terjadi perubahan penggunaan lahan pekarangan, tegalan, tanah sawah, hutan rakyat, maupun hutan negara. Tanah pekarangan dan tegalan, masing-masing bertambah menjadi 29 Ha dan 566 Ha, sementara tanah sawah berkurang penggunaannya seluas 100 Ha.

(2) Konversi Kawasan Lindung untuk Kawasan Budidaya

Konversi lahan dari kawasan lindung untuk kawasan budidaya ini meliputi:

(a) Konversi lahan dari kawasan hutan untuk budidaya pertanian dan pembangunan prasarana transportasi.

(b) Pemanfaatan kawasan berlereng curam untuk kegiatan pertanian tanaman semusim yang tidak mengindahkan prinsip-prinsip konservasi. Ini terlihat dari pemanfaatan kawasan berlereng curam untuk tanaman semusim meskipun seharusnya ditanami untuk tanaman keras.

(3) Konflik Pemanfaatan Ruang di Kecamatan Bendo

Konflik pemanfaatan ruang di Kecamatan Bendo berlangsung antara peruntukan kawasan militer dan kawasan budidaya. Konflik pemanfaatan ruang tersebut menyebabkan ketidakpastian kepemilikan lahan. Ketidakpastian kepemilikan lahan ini mengakibatkan ketidakpastian usaha bagi penduduk di Kecamatan Bendo. Oleh karena itu kegiatan perekonomian di Kecamatan Bendo menjadi kurang berkembang. Hal ini ditunjukkan dengan angka kemisikinan yang mencapai 32,42%.

b. Rawan Bencana Alam

Kabupaten Magetan merupakan wilayah yang rawan terhadap beberapa bencana alam. Hal ini disebabkan oleh kondisi geomorfologi, struktur geologi serta terdapatnya produk pelapukan batuan yang disertai dengan pembukaan kawasan hutan dan kondisi kegempaan di Kabupaten Magetan. Kawasan bencana tersebut meliputi kawasan bencana aliran lahar, rawan anah longsor, rawan bencana banjir dan rawan bencana kekeringan lahan.

c. Lokasi Wilayah yang Hampir Cul De Sac

Posisi Kabupaten Magetan yang berada pada kawasan selatan Jawa Timur bagian Barat menempatkan Kabupaten Magetan pada wilayah yang hampir cul de sac. Kondisi ini menyebabkan Kabupaten Magetan mempunyai keterkaitan yang rendah dengan wilayah eksternal yang kurang kondusif bagi pengembangan wilayah.

d. Defisit Sumberdaya Air

Sumberdaya air yang digunakan di Kabupaten Magetan cenderung melebihi potensi yang dimiliki sehingga mengakibatkan terjadinya defisit sumberdaya air. Studi tentang tata guna air dan neraca air Kabupaten Magetan yang dilakukan Dinas Pengairan mencatat bahwa Kabupaten Magetan terjadi defisit air selama 6 bulan sebesar 139 juta m3/6 bulan, sedangkan surplus air tejadi selama 6 bulan yaitu sebesar 488 juta m3/6 bulan. Sementara penggunaan Indeks Penggunaan Air (IPA) yaitu rasio penggunaan dan ketersediaan air sebagai indikator gejala krisis air, Kabupaten Magetan mempunyai rasio IPA sebesar 1,11. Angka tersebut temasuk dalam indikator terjadinya gejala sangat kritis atau defisit air.

Semakin menurunnya daya dukung lingkungan sumberdaya air merupakan penyebab dari kondisi defisit air tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya fluktuasi aliran sungai-sungai antara musim hujan dan musim kemarau.

Fluktuasi ini disebabkan oleh karakteristik fisik dan karakteristik hidrologis yang kurang menguntungkan antara lain:

(1) Ketimpangan distribusi hujan tahunan dimana sekitar 80% jatuh selama musim hujan dan hanya 20% jatuh selama musim kemarau.

(2) Topografi yang curam di daerah atas (upper area) mengakibatkan run off (limpasan air) mengalir dengan cepat menuju ke hilir.

(3) Degradasi lingkungan daerah hulu mengakibatkan daya tampung air daerah tangkapan hulu menjadi kecil atau tidak ada kemampuan retensi terhadap hujan yang jatuh, sehingga hujan yang jatuh langsung mengalir sebagai air limpasan. Akibat lain adalah mengecilnya sumber-sumber air dan penyusutan volume Telaga Sarangan dengan cepat.

e. Penurunan Kualitas Lahan

Parameter kualitas tanah yaitu kandungan bahan organik dan kejenuhan basa di Kabupaten Magetan menunjukkan tingkat yang sangat

rendah smpai rendah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tanah di wilayah Magetan telah terdegradasi sehingga menurun secara kualitas.

Penggunaan pupuk kimia secara berlebihan pada kawasan lahan sawah beririgasi merupakan penyebab utama. Selain itu usaha tani dataran tinggi yang dilakukan tanpa perlakuan konservasi, erosi yang banyak ditemukan mengindikasikan pada penurunan kualitas tanah secara kasat mata.

f. Luas Kawasan Hutan Masih di Bawah Standar Minimal (30%)

Kawasan hutan di Kabupaten Magetan meliputi hutan negara dan hutan rakyat dengan luas areal mencapai 9.482 ha. Luas kawasan hutan ini hanya mencapai 13,76% masih jauh dibawah standar minimal yang telah ditentukan oleh Undang-Undang Tata Ruang Nomor 26 Tahun 2007 (30%). Kondisi ini berakibat pada ketidakseimbangan tata air yang ditunjukkan terjadinya defisit air.

Secara normatif, wilayah provinsi/ kabupaten/ kota dipersyaratkan memiliki kawasan hutan/hutan lindung minimal 30% dari luas area terkait untuk kepentingan: (a) pemeliharaan dan pewujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup, dan, (b) pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Jika kawasan hutan kurang dari standar tersebut, selain terjadinya ketidakseimbangan tata air, juga kurang terjaganya perwujudan kelestarian berfungsinya lingkungan hidup wilayah.

2. Demografi

a. Rendahnya Tingkat Ketrampilan Penduduk untuk Mengembangkan Kegiatan Ekonomi di Luar Sektor Pertanian

Tingkat pendidikan formal penduduk di Kabupaten Magetan mayoritas masih pendidikan dasar. Penduduk yang tamat SD serta tidak tamat SD dan tidak sekolah mencapai jumlah 77,25% pada tahun 2007. Tingkat pendidikan penduduk yang rendah akan berdampak pada kemampuan yang rendah untuk pengembangan ketrampilan. Sementara pengembangan ketrampilan diperlukan untuk pengembangan kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian dan kemampuan untuk mengadopsi eknologi bagi peningkatan produktivitas pertanian.

b. Laju Pertumbuhan Penduduk Relatif Tinggi pada Kawasan-kawasan dengan Daya Dukung Lingkungan yang Terbatas

Laju pertumbuhan penduduk di Kecamatan Plaosan, Sidorejo, Panekan, Poncol dan Parang melebihi laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Magetan. Sementara kecamatan-kecamatan tersebut berada pada wilayah dengan karakteristik fisik yang berlereng agak terjal sampai lereng curam. Dengan demikian laju pertumbuhan penduduk yang tinggi di wilayah tersebut akan berdampak pada penurunan kualitas lingkungan.

3. Ekonomi

a. Kemiskinan

(1) Tingkat kemiskinan yang diukur dari persentase keluarga pra sejahtera dan Keluarga Sejahtera I terhadap total keluarga mencapai angka yang relatif tinggi yakni 29,42%. Demikian pula dengan angka PPP yang hanya mencapai angka 56,43 pada tahun 2007 lebih rendah dibandingkan dengan angka PPP pada tahun 2003 yang mencapai 60,53. Tingkat kemiskinan di Kabupaten Magetan ini sangat berkaitan dengan kondisi kesempatan kerja yang bertumpu pada sektor pertanian yang memberikan tingkat pendapatan yang rendah. Hal ini ditunjukkan dengan ketimpangan peranan sektor pertanian terhadap ekonomi wilayah dan penyerapan tenaga keja yang mengisyaratkan rendahnya tingkat produktivitas sektor pertanian yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan yang diterima petani. Kemampuan sektor pertanian dalam menyerap tenaga kerja mencapai 63,29%, sedangkan sumbangan sektor pertanian terhadap ekonomi wilayah hanya mencapai 34,70%.

(2) Tingkat kemiskinan yang terjadi sangat terkait dengan sempitnya kepemilikan lahan petani yang hanya mencapai kurang dari 0,5 Ha. Sebagai sektor yang berbasis sumberdaya lahan, pengembangan pertanian akan memberikan pendapatan yang optimal jika didukung oleh sumberdaya lahan yang cukup rendah. Rendahnya kepemilikan lahan pertanian berdampak pada tingkat produksi yang dihasilkan sehingga pendapatan yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup minimal.

(3) Tingkat kemiskinan juga dipengaruhi oleh rendahnya daya tawar petani dalam tata niaga produk pertanian. Melimpahnya produksi yang dihasilkan dan keinginan untuk mendapatkan uang kontan secara cepat menempatkan petani pada posisi tawar yang rendah jika dibandingkan dengan pedagang.

b. Tingkat Pengangguran Cenderung Meningkat

Peningkatan jumlah penduduk yang disertai dengan semakin sempitnya lahan pertanian serta kurang berkembangnya kegiatan ekonomi di luar sektor pertanian dan di sisi lain ketrampilan penduduk cenderung rendah menyebabkan angka pengangguran terbuka semakin meningkat. Meskipun jika dibandingkan dengan angka pengangguran Jawa Timur angka pengangguran Kabupaten Magetan masih lebih rendah. Angka TPT Kabupaten Magetan meningkat dari 4,92% menjadi 5,40%. Hal ini seiring dengan semakin menurunnya

kesempatan kerja di Kabupaten Magetan rata-rata 0,88% per tahun dengan jumlah 15.880 orang selama 2003-2007.

c. Kegiatan Agroindustrial Produk Masih Terbatas

Produk pertanian yang dijual masih dalam bentuk produk primer sehingga nilai tambah yang dihasilkan masih rendah pula.

Terbatasnya industri pengolahan hasil pertanian dengan ragam produk yang terbatas akan menyebabkan rendahnya nilai tambah yang dihasilkan.

d. Rendahnya Tingkat Penanaman Modal/Investasi

Rendahnya tingkat investasi ini dipengaruhi kondisi ekonomi makro yang tidak kondusif untuk pengembangan investasi yang ditandai dengan tingkat suku bunga yang cukup tinggi dan rendahnya daya tarik investasi di Kabupaten Magetan. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap rendahnya daya tarik investasi adalah faktor ekonomi, sosial budaya dan posisi kabupaten Magetan dalam konstelasi jaringan transportasi Provinsi Jawa Timur.

Faktor ekonomi berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tingkat kesejahteraan dan produktivitas masyarakat. Laju pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator yang digunakan dunia usaha dalam menilai apakah daerah tersebut perekonomiannya sudah berkembang atau belum. Tingkat kesejahteraan yang ditunjukkan dengan angka PDRB per kapita merupakan indikator tingkat daya beli masyarakat. Dalam kurun waktu 2001-2007, Kabupaten Magetan termasuk daerah tertinggal yaitu daerah dengan laju pertumbuhan dan tingkat PDRB per kapita relatif rendah. Faktor sosial budaya masyarakat berkaitan dengan rendahnya budaya wirausaha dari masyarakat di Kabupaten Magetan. Lokasi Kabupaten Magetan yang hampir cul de sac menyebabkan rendahnya tingkat aksesibilitas wilayah yang akan berdampak pada kelancaran usaha.

4. Prasarana dan Sarana Wilayah

a. Pelayanan Transportasi pada Desa-Desa Pinggiran Masih Terbatas.

Beberapa desa pinggiran pada wilayah perbatasan masih menghadapi hambatan berupa minimnya kualitas jaringan jalan dan jembatan.

b. Kurangnya Balai Latihan Kerja (BLK)

BLK sangat diperlukan penduduk untuk meningkatkan ketrampilan agar dapat mengembangkan kegiatan di luar sektor pertanian. BLK yang tersedia saat ini 1 unit. Keberadaan BLK tersebut belum mampu menampung jumlah tenaga keja yang ingin mendapatkan pelatihan.

c. Kualitas Pelayanan Sosial Dasar Masih Rendah d. Belum Tersedianya Angkutan Barang yang Memadai

Dalam dokumen PEMERINTAH KABUPATEN MAGETAN (Halaman 54-60)