BAB III JUAL BELI MOBIL SECARA KREDIT MELALUI LEASING
C. Masalah yang Terjadi dalam Pelaksanaan Jual Beli Secara
terjadi permasalahan di masyarakat. Mulai dari angsuran yang tidak dapat dibayar dan sebagainya. Berangkat dari hal ini, maka dianggap perlu hukum turut serta dalam mengatur keadaan tersebut. Tiga hal utama yang perlu diatur adalah sebagai berikut:
1. Done Payment
Bank Indonesia dalam Surat Edaran BI No. 15/40/DKMP tanggal 23 September 2013 mengatur bahwa syarat uang muka/ down payment (DP) kendaraan bermotor melalui bank minimal 25 persen untuk kendaraan roda dua dan 30 persen untuk kendaraan roda tiga atau lebih untuk tujuan nonproduktif. Serta 20 persen untuk kendaraan roda 3 atau lebih untuk keperluan produktif. Nonproduktif di sini artinya tidak digunakan untuk kepentingan komersial, seperti hanya dijadikan alat transportasi sehari-hari. Sedangkan produktif misalnya kendaraan
87 Muchdarsyah Sinungan, Kredit Seluk Beluk dan Pengelolaannya, Yogyakarta: Tograf, 1990 hal. 41
dinas atau angkutan umum. Sedangkan DP dari leasing menurut Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 43/PMK.010/2012 adalah minimal 20 persen untuk kendaraan roda dua atau tiga dan 25 persen untuk kendaraan roda empat atau lebih.
Adapun DP minimal untuk kendaraan roda empat atau lebih untuk tujuan produktif adalah 20 persen dari harga total.
2. Fidusia
Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, fidusia adalah suatu proses mengalihkan hak milik atas suatu benda dengan dasar kepercayaan, tapi benda tersebut masih dalam penguasaan pihak yang mengalihkan. Fidusia umumnya dimasukkan dalam perjanjian kredit kendaraan bermotor. Kita sebagai debitur membayar biaya jaminan fidusia tersebut. Tujuannya adalah kendaraan yang dikredit bebas dari penarikan debt collector. Karena itu, ada Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 130/PMK 010/2012 tentang Pendaftaran Fidusia yang mewajibkan leasing mendaftarkan jaminan fidusia paling lambat 30 hari sejak perjanjian kredit ditandatangani. Leasing yang tak mendaftarkan jaminan tersebut terancam dibekukan usahanya. Menurut Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2011, satu-satunya pihak yang berhak menarik kendaraan kredit bermasalah adalah kepolisian.
3. Asuransi
Kendaraan bermotor yang dibeli melalui kredit, terutama kendaraan baru, biasanya dilengkapi dengan asuransi. Asuransi kendaraan
bermotor sendiri ada dua jenis, yaitu All Risk dan Total Lost Only (TLO). Asuransi All Risk melindungi pengguna kendaraan dari risiko hilang sampai lecet. Sedangkan TLO melindungi pengguna dari risiko hilang saja. Biasanya leasing mendaftarkan kendaraan kredit ke asuransi jenis TLO. 88
Suatu perjanjian yang dibuat secara sah artinya tidak bertentangan dengan undang-undang mengikat kedua belah pihak. Perjanjian itu pada umumnya tidak dapat ditarik kembali kecuali dengan persetujuan tertentu dari kedua belah pihak atau berdasarkan alasan yang telah ditetapkan oleh undang-undang. Ada keleluasaan dari pihak yang berkepentingan untuk memberlakukan hukum perjanjian yang termuat dalam Buku III KUH Perdata tersebut, yang juga sebagai hukum pelengkap ditambah pula dengan asas kebebasan berkontrak tersebut memungkinkan para pihak dalam prakteknya untuk mengadakan perjanjian yang sama sekali tidak terdapat di dalam KUH Perdata maupun KUHD, dengan demikian oleh undang-undang diperbolehkan untuk membuat perjanjian yang harus dapat berlaku bagi para pihak yang membuatnya. Apabila dalam perjanjian terdapat hal-hal yang tidak ditentukan, hal-hal tunduk pada ketentuan undang-undang.
PT. FIF Grup Cabang Sei Kambing, Medan dalam memberikan kredit pada harus memperhatikan persetujuan perjanjian yang disepakati kedua belah pihak secara tertulis, selain itu adanya obyek perjanjian yang mewajibkan pihak debitur untuk membayar angsuran beserta bunganya dalam jangka waktu tertentu.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa hubungan hukum antara pemberi kredit
88 Handri Hartono, Cara Pintar Memilih dan Mengajukan Kredit, Jakarta: Aneka Ilmu, 2016 hal. 43
dalam hal ini PT. FIF Grup (kreditur) dan penerima kredit (konsumen) didasarkan pada perjanjian kredit jual beli mobil yang lazimnya berbentuk standart contract.89
Setelah perjanjian kredit dilaksanakan, disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak maka timbullah hubungan hukum yang menimbulkan hak dan kewajiban para pihak. Dengan kata lain mereka terikat oleh perjanjian kredit tersebut, yaitu antara pemberi kredit dalam hal ini pihak PT. FIF dan konsumen (pembeli). Dalam hal ini batasan tentang definisi perjanjian diatur dalam Pasal 1313 KUH.Perdata yang berbunyi : “Suatu persetujuan adalah suatu perbuatan yang mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih.”
Suatu perjanjian harus memenuhi syarat sahnya perjanjian sebagaimana diatur Pasal 1320 KUH.Perdata : sepakat mereka mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat suatu perikatan, adanya obyek atau hal tertentu yang diperjanjikan, tidak dilarang oleh undang-undang. Adapun keabsahan suatu kesepakatan para pihak yang mengikatkan dirinya, maka kesepakatan ini harus memenuhi kriteria Pasal 1321 KUHPerdata : “Tiada sepakat yang sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1338 ayat (3) asas itikad baik ini diatur. Asas itikad baik ini sangat mendasar dan penting untuk diperhatikan terutama di dalam membuat perjanjian, maksud itikad baik disini adalah bertindak sebagai pribadi yang baik. Itikad baik dalam pengertian yang
89 Hasil Wawancara dengan bapak Eka Sanjaya di Kantor PT. FIF Jl. Kapten Muslim, Sei Sikambing C. II, Medan Helvetia, Kota Medan pada tanggal 24 Juli 2019
sangat subyektif dapat diartikan sebagai kejujuran seseorang, yaitu apa yang terletak pada seseorang pada waktu diaadakan perbuatan hukum. Sedangkan itikad baik dalam pengertian obyektif yaitu bahwa pelaksanaan suatu perjanjian itu harus didasarkan pada norma kepatutan atau apa-apa yang dirasa sesuai dengan yang patut dalam masyarakat.
Rumusan dari Pasal 1338 ayat (3) KUH.Perdata tersebut mengidentifikasikan bahwa sebenarnya itikad baik bukan merupakan syarat sahnya suatu kontrak sebagaimana syarat yang terdapat dalam Pasal 1320 KUH Perdata. Unsur itikad baik hanya diisyaratkan dalam hal pelaksanaan dari suatu kontrak, bukan pada pembuatan suatu kontrak. Sebab unsur “itikad baik” dalam hal pembuatan suatu kontrak sudah dapat dicakup dari Pasal 1320 KUH Perdata tersebut.90
Adapun dalam Pasal 1457 menjelaskan perjanjian jual beli adalah suatu persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu barang/benda dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat diri berjanji untuk membayar harga. Dalam hal ini PT. FIF Jl. Kapten Muslim, Sei Sikambing C. II, Medan Helvetia, Kota Medan telah melaksanakan perjanjian kredit jual beli mobil dengan mengacu pada Pasal 1338 KUHPerdata dengan iktikad baik dan berdasarkan kesepakatan bersama sesuai Pasal 1320 KUH Perdata.
90 Munir Fuady, Op. Cit, hal. 39
D. Terjadinya Over Kredit dalam Jual Beli Mobil Secara Kredit Melalui Leasing
Pengalihan hak dan over kredit adalah merupakan tindakan aktif dari debitur dalam hal ini debitur yang memiliki hak kredit mobil mengalihkan hak kreditnya kepada debitur baru.91 Tindakan aktif ini dapat berupa menjual kembali hak debitur dengan pengalihan kewajiban dari debitur lama kepada debitur baru.
Novasi atau pembaruan hutang merupakan salah satu cara untuk menghapus atau mengakhiri suatu perjanjian. Novasi atau pembaruan hutang adalah suatu perjanjian baru yang menghapuskan perjanjian lama dan pada saat yang sama memunculkan perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama.
Pengalihan hak dan over kredit yang sering dilakukan oleh debitur adalah untuk mengalihkan hutangnya, dalam hal ini hutang yang berupa angsuran/cicilan kredit pembayaran mobil yang telah diambilnya dari leasing, hal ini dilakukan dengan tujuan bermacam-macam, seperti: debitur pindah tugas keluar kota, debitur sakit dan juga untuk menghindari kredit macet. Suatu kredit digolongkan kredit macet sejak tidak ditepatinya atau dipenuhinya ketentuan yang tercantum dalam perjanjian kredit, yaitu apabila debitur selama tiga kali berturut-turut tidak membayar angsuran dan bunga kredit.
Sebelum batas akhir pengembalian pinjaman terlihat tanda-tanda sebagai berikut:
a. Sebelum jatuh tempo, rekening tidak menunjukan mutasi debit dan kredit.
b. Kredit mengalami overdraft secara terus-menerus.
91 Kartini Mulyadi, Gunawan Widjaya, Seri Hukum Harta Kekayaan: Hak Tanggungan, Jakarta: Prenada Media, 2005, hal. 65
c. Adanya tanda-tanda bahwa debitur tidak sanggup lagi membayar bunga atas kredit. 92
Sebelum semua hal tersebut di atas terjadi biasanya debitur akan berusaha menyelamatkan uang yang telah dibayarkan kepada pihak leasing tersebut dengan jalan menjual kembali atau mengalihkan kredit tersebut kepada pihak lain, dalam hal ini debitur baru, sehingga angsuran tersebut akan diteruskan oleh debitur baru tersebut dan pembayaran yang diterima diperhitungkan dengan uang yang telah dibayarkan kepada leasing.
Dari sisi debitur di pihak yang mengalihkan kredit (penjual), Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya pengalihan hak/over kredit dalam Kredit Mobil, antara lain:
a. Pihak debitur lama
b. Pihak Konsumen/Debitur Baru
Faktor-faktor yang terjadi dari pihak debitur lama adalah:
a. Kesulitan ekonomi, sehingga tidak dapat melanjutkan angsuran kredit, atau untuk menghindari risiko disita oleh pihak leasing dengan terjadinya kredit macet sehingga akan mengalami kerugian yang besar.
Apabila debitur tidak dapat melanjutkan angsuran kredit karena kesulitan ekonomi akan berakibat debitur dikatakan melakukan wanprestasi dan juga akan berakibat terjadinya eksekusi jaminan. Oleh karenanya untuk menghindari terjadinya hal tersebut dimana gagalnya debitur untuk melunasi utangnya sebagaimana ditentukan dalam perjanjian kredit sehingga akan mengakibatkan objek dari perjanjian
92 Komaruddin Sastradipoera, Strategi Manajemen Bisnis Perbankan, Bandung: Kappa Sigma, 2004, hal. 22
kredit tersebut disita oleh pihak leasing atau terjadi eksekusi jaminan maka debitur mencari jalan keluar dengan cara menjual atau mengalihkan apa yang menjadi obyek dalam perjanjian kredit tersebut dalam hal ini debitur mengalihkan kreditnya atau melakukan over kredit mobil tersebut kepada pihak lain.
b. Resiko disita oleh pihak leasing dengan terjadinya kredit macet, sehingga akan mengalami kerugian yang besar.
c. Mencari keuntungan.
d. Memanfaatkan fasilitas kredit mobil yang diberikan oleh kantor dimana debitur bekerja.
Pengalihan atau over kredit dilakukan debitur juga untuk menyelamatkan uang yang telah dibayarkan kepada pihak leasing dan menyelamatkan mobil yang menjadi agunan. Sehingga dalam rangka tersebut, debitur menjual kembali atau mengalihkan kredit tersebut kepada pihak lain agar pihak lain sebagai penerima pengalihan kredit dapat melanjutkan sisa angsuran/cicilan/pembayaran mobil dan membayar kepada debitur sesuai dengan perhitungan dengan uang yang telah dibayarkan debitur kepada kreditur atau membayar penuh sehingga kredit dapat dilunasi.
Dari sisi pihak penerima pengalihan kredit (debitur), membeli mobil yang masih dalam kondisi kredit di leasing dilakukan bisa karena faktor untuk mendapatkan keuntungan dengan suku bunga yang masih disubsidikan/rendah dari pihak leasing, atau karena tidak cukup uang membeli secara tunai sementara dia tidak mau berurusan dengan permohonan kredit mobil yang dirasa sangat ketat
dan teliti persyaratannya, atau usia yang sudah tua sehingga bila mengajukan kredit kepada leasing akan ditolak dan sebagainya.
E. Pandangan KUH Perdata Terhadap Over Kredit
Pasal 1413 KUHPerdata menetapkan ada 3 (tiga) maacam cara untuk terjadinya novasi, yaitu:
1. Novasi subyektif aktif adalah suatu perjanjian yang bertujuan mengganti kreditur lama dengan seorang kreditur baru.
2. Novasi subyektif pasif adalah suatu perjanjian yang bertujuan mengganti debitur lama dengan debitur baru dan membebaskan debitur lama dari kewajibannya. Hal ini dapat juga disebut dengan alih debitur.
3. Novasi obyektif adalah suatu perjanjian antara kreditur dengan debitur untuk memperbarui atau merubah obyek atau isi perjanjian. Pembaruan perjanjian ini terjadi jika kewajiban prestasi tertentu dari debitur diganti dengan prestasi lain.
Novasi pada hakekatnya merupakan perjanjian baru yang menggantikan perjanjian lama maka perjanjian ikutannya seperti hak tanggungan tidak ikut beralih kepada perjanjian baru kecuali diperjanjikan secara tegas dalam perjanjian novasi, bahwa perjanjian ikutannya seperti hak tanggungan tidak hapus dan ikut beralih dengan terjadinya perjanjian novasi.
Sementara pengertian cessie menurut Pasal 613 ayat (1 dan 2) BW adalah:
Penyerahan akan piutang-piutang atas nama dan kebendaan tak bertubuh lainnya dilakukan dengan membuat sebuah akte otentik atau di bawah tangan, dengan mana hak-hak atas kebendaan itu dilimpahkan kepada orang lain. Penyerahan hak
demikian bagi pihak yang berhutang tiada akibatnya melainkan setalah penyerahan itu diberitahukan kepadanya secara tertulis, disetujui dan diakuinya.
Sehingga dengan pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengalihan hak/over kredit adalah merupakan kebalikan dari cessie dimana bila cessie yang berganti adalah krediturnya dalam hal ini bank akan tetapi bila
pengalihan hak/over kredit yang berganti adalah debiturnya yaitu yang berhutang baik itu dengan sepengetahuan pihak kreditur atau tidak, hutangnya tetap dialihkan oleh debitur tersebut.
ADANYA OVER KREDIT PADA PT. FIF GROUP A. Mekanisme Pelaksanaan Over Kredit Pada PT. FIF GROUP
Memberikan kredit kepada masyarakat, lembaga pembiayaan terlebih dahulu berkeyakinan bahwa kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi utangnya sesuai yang diperjanjikan, dengan melakukan penilaian terhadap watak, kemampuan, modal, jaminan dan prospek usaha dari debitur. Perjanjian ini sangat penting artinya karena berfungsi sebagai perjanjian pokok, bukti mengenai batas-batas hak dan kewajiban diantara perusahaan pembiayaan konsumen (kreditur) dan konsumen (debitur), dan alat untuk melakukan pengawasan atas kredit tersebut. Seiring kemajuan di era globalisasi yang menuntut pelayanan cepat dan tepat, muncullah kecenderungan para pelaku usaha.
Kebanyakan orang menganggap bahwa proses over kredit cukup dilakukan antara dua pihak, yaitu pihak yang mengover dan pihak yang menerima overan tanpa melibatkan pihak kreditur (bank/leasing) yang memberikan fasilitas pendanaan. Bentuk perjanjian pun seringkali dibuat di bawah tangan bahkan kadang-kadang hanya perjanjian lisan saja.109
Kondisi ini sangat berpotensi menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Contoh kasus yang sering terjadi adalah pihak penerima over kredit tidak meneruskan angsuran dengan lancar sehingga timbul kredit macet. Tentu saja pihak kreditur akan menagih kepada pihak pengover karena perjanjian kredit masih atas nama pengover. Atau sebaliknya penerima over kredit akan
109 Hasil Wawancara dengan bapak Ray Mandha Purba sebagai HRD PT. FIF Medan pada tanggal 24 Juli 2019
menanggung risiko kerugian karena barang yang diover kreditkan bukanlah milik dari orang yang mengoverkan kredit mobilnya.
Pengalihan kredit dalam kredit mobil secara di bawah tangan diartikan sebagai tindakan pengalihan yang dilakukan tanpa sepengetahuan pihak bank pemberi kredit dalam hal ini adalah PT. FIF dan dilakukan tidak di hadapan pejabat yang berwenang. Menurut prosedur yang ada sebenarnya hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh pihak debitur karena segala bentuk pengalihan hak kredit mobil (over kredit) harus dilakukan dengan persetujuan dan sepengetahuan dari pihak bank pemberi kredit. Dengan demikian, tindakan tersebut dianggap sebagai tindakan hukum sepihak oleh pihak leasing, dimana pengikatan jual beli hanya mengikat kedua belah pihak yang membuat perjanjian, sementara objek yang diperjanjikan masih terkait dengan pihak ketiga yaitu PT.FIF pemberi kredit.Pengalihan kredit yang dilakukan secara di bawah tangan dapat diartikan merupakan suatu tindakan pengalihan kredit (over kredit) yang dilakukan hanya di antara para pihak saja dan tanpa sepengetahuan pihak leasing. Tindakan tersebut oleh leasing dianggap sebagai tindakan hukum sepihak dan karenanya pihak bank pemberi kredit, dalam hal ini PT. FIF tetap mengakui pihak debitur pertama sebagai pihak yang terikat dengan perjanjian kredit tersebut. Akibatnya muncul risiko yang besar bagi pihak debitur yang menerima pengalihan. Hal ini dikarenakan segala sesuatu mengenai objek dan pemilikan mobil yang menjadi jaminan dalam perjanjian kredit serta semua data yang masih disimpan oleh leasing pemberi kredit terkait dengan perjanjian kredit tersebut masih tetap tertulis dan terdaftar atas nama debitur yang mengalihkan.110
110 Ibid.
Jadi, akta otentik merupakan suatu akta yang dibuat oleh pejabat yang diberi wewenang untuk itu oleh penguasa menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan, baik maupun tanpa bantuan dari yang berkepentingan, yang mencatat apa yang dimintakan untuk dimuat di dalamnya oleh yang berkepentingan. Yang mana akta tersebut dibuat oleh atau di muka seseorang pejabat umum yang mempunyai kewenangan untuk membuat surat tersebut. Dari pengertian tersebut di atas maka suatu akta otentik mengandung unsur-unsur sebagai berikut:
a. Dibuat dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang.
b. Dibuat oleh dan atau dihadapan pegawai atau pejabat umum yang ditunjuk oleh undang-undang.
c. Pegawai umum oleh dan atau dihadapan siapa akta itu dibuat, harus mempunyai wewenang untuk membuat akta tersebut.
Pejabat umum yang dimaksud dalam pasal tersebut di atas antara lain Notaris, Hakim, Panitera, Juru Sita, Pegawai Pencatat Sipil. Contoh dari akta otentik adalah akta notaris, vonis, surat berita acara sidang, proses verbal penyitaan, surat perkawinan, kelahiran, kematian, dan sebagainya. Akta di bawah tangan dibuat dalam bentuk yang tidak ditentukan oleh undang-undang, tanpa perantara atau tidak di hadapan pejabat umum yang berwenang, tetapi cukup oleh pihak yang berkepentingan saja. Contoh dari akta di bawah tangan antara lain surat perjanjian sewa menyewa rumah, surat perjanjian jual beli mobil antara pemilik pertama dengan pemilik baru, dan sebagainya.
B. Bentuk Pertanggungjawaban Leasing Ditinjau dari Undang- Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan Fidusia Pada PT. FIF GROUP
Perjanjian yang dibuat oleh para pihak akan mengikat mereka untuk mematuhinya. Hal tersebut juga terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menyebutkan bahwa: “semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya”. Akan tetapi dalam kenyataan tidak selalu sesuai dengan apa yang diharapkan, misalnya pada perjanjian pembiayaan dengan penyerahan hak milik secara fidusia di PT. FIF Medan, telah terjadi wanprestasi yang dilakukan oleh debitur.
Terjadinya pengalihan objek perjanjian ke pihak ketiga yang dilakukan debitur tanpa memberitahukan terlebih dahulu kepada kreditur merupakan sebuah wanprestasi dalam sebuah perjanjian. Wanprestasi adalah seseorang yang tidak memenuhi prestasinya dimana merupakan kewajiban di dalam suatu perjanjian.
Berdasarkan isi perjanjian pembiayaan dengan penyerahan hak milik secara fidusia yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, diketahui bahwa debitur dilarang mengalihkan atau memindah tangankan ke pihak lain tanpa persetujuan kreditur. Prestasi adalah suatu yang wajib dipenuhi debitur dalam setiap perjanjian, sehingga apabila debitur tidak memenuhi prestasi sesuai yang telah ditentukan dalam perjanjian maka debitur dikatakan wanprestasi. Ada 4 (empat) kriteria seseorang debitur dapat dikatakan wanprestasi yaitu:
1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya.
2. Melaksanakan apa yang dijanjikan, tetapi tidak sebagaimana yang dijanjikan.
3. Melakukan apa yang dijanjikan tapi terlambat.
4. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Apabila dilihat dari kriteria-kriteria wanprestasi di atas dan dikaitkan dengan terjadinya pengalihan objek perjanjian kepada pihak ketiga yang dilakukan debitur tanpa persetujuan kreditur dalam perjanjian pembiayaan dengan penyerahan hak milik secara fidusia, maka wanprestasi yang dilakukan debitur adalah melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Adanya perlindungan hukum yang diberikan ke pihak kreditur, maka pihak kreditur mempunyai hak untuk menuntut debitur, baik dari segi hukum pidana maupun perdata. Apabila dari segi hukum perdata maka kreditur berhak meminta ganti kerugian atas wanprestasi yang dilakukan debitur sebagaimana yang diatur dalam Pasal 1243 KUH Perdata menyebutkan bahwa : “Penggatian biaya, rugi dan bunga karena tak terpenuhinya suatu perikatan barulah mulai diwajibkan apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan atau dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampauinya”.
Di samping itu kreditur juga bisa membatalkan perjanjian tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian Pasal 6 A ayat (4) yang disebutkan diawal, dimana hal tersebut juga sesuai dengan Pasal 1266 KUH Perdata yang menyebutkan bahwa: “Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan-persetujuan yang bertimbal balik manakala salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya…“. Apabila kreditur melakukan penarikan kendaraan yang menjadi objek perjanjian, maka debitur wajib menyerahkan kendaraan tersebut. Sesuai dengan Pasal 30 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia, yang menyebutkan bahwa: “Pemberi fidusia wajib menyerahkan
benda yang menjadi objek jaminan fidusia dalam rangka pelaksanaan penarikan jaminan.”
Adanya penyerahan hak milik secara fidusia tersebut maka sesuai dengan yang tercantum dalam perjanjian yaitu Pasal 3 butir (ii) perjanjian kredit menyebutkan bahwa : “Debitur berkewajiban memelihara baikbaik kendaraan tersebut dan secara rutin melaporkan secara tertulis kepada pihak kreditur”.
Kemudian Pasal 3 butir (iii) disebutkan bahwa: “Debitur tidak boleh menyewakan, meminjamkan, menjaminkan atau memindah tangankan kendaraan tersebut kepada pihak lain”. Hal mengenai pengalihan juga sesuai dengan Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang JaminanFidusia yang berbunyi: “Pemberi fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan atau menyewakan kepada pihak lain benda yang menjadi objek jaminan fidusia yang tidak merupakan benda persediaan, kecuali dengan persetujuan tertulis terlebih dahulu dari penerima fidusia.”
Sedangkan dalam Pasal 36 menyebutkan bahwa : “Pemberi fidusia yang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia sebagaimana yang di maksud Pasal 23 ayat (2) yang dilakukan
Sedangkan dalam Pasal 36 menyebutkan bahwa : “Pemberi fidusia yang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan benda yang menjadi objek jaminan fidusia sebagaimana yang di maksud Pasal 23 ayat (2) yang dilakukan