TINJAUAN TEORETIS A. Legitimacy Theory
B. Maslahah Concept
Agama islam menganut syari‟at islam berawal dari datangnya Nabi Muhammad SAW. Beliau merupakan pembawa risalah terakhir dari ajaran ilahi, yaitu lanjutan dari risalah yang sudah ada sebelumnya. Syari‟at diwahyukan oleh Allah SWT untuk dibawa oleh Muhammad untuk umat manusia agar dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan. Islam merupakan agama yang memberikan pedoman hidup kepada manusia secara menyeluruh, meliputi segala aspek kehidupan manusia menuju pada tercapainya kebahagian jasmani dan rohani, baik dalam kehidupan individu maupun
23
dalam kehidupan bermasyarakat. Tujuan adanya penciptaan hukum (syar‟i) secara umum dalam menetapkan hukum-hukumnya yaitu untuk kemaslahatan dan kepentingan seluruh umat manusia, baik dalam segi kebahagiaan yang sementara didunia ini maupun kebahagiaan yang kekal diakhirat nanti.
Menurut bahasa kata kemaslahatan berasal dari Bahasa Arab dan telah dibakukan kedalam Bahasa Indonesia menjadi kata maslahat, yang berarti mendatangkan kebaikan atau membawa kemanfaatan (manfa‟ah) dan menolak kerusakan (mafsadah) (Kholil, 1995). Karena pada hakikatnya syari‟at ditunrunkan di dunia ini hanya untuk kemaslahatan manusia (innama unzilati syari‟atu litahqiqi mashalihil anam) (Hadi, 2014). Menurut bahasa aslinya kata maslahah berasal dari kata salaha, yasluhu, salahah, artinya sesuatu yang baik, patut, dan bermanfaat. Sedangkan kata mashalah artinya terlepas bebas, tidak terikat dengan dalil agama (Sirat et al., 2016). Al-mursalah adalah manf‟ul (objek) dari fi‟il madhi dalam bentuk tsulasi dengan tambahan huruf „alif‟ dipangkalnya yaitu arsala. Secara etimologi artinya terlepas, bebas (muthliqoh) (Yunus, 1973).
Kajian teori hukum islam (usul fiqh), maslahah diketahui dengan sebutan yang bervariasi yaitu prinsip (prinsip, al-asl, al- qa‟idah, al-mabda‟), dalim hukum ataupun sumber (dalil, masdar, source), doktrin (doctrine, dabir), konsep (concept, al-fikrah), metode (method, al-tariqah), dan teori (theory, al-nazariyyah) (Asmawi, 2017). Solusi penyelesaian dalam bentuk ijtihad merupakan proses berfikir rasional secara optimal dalam menetapkan hukum islam dengan tetap mengacu pada kedua sumber hukum yaitu al-qur‟an dan hadist, agar dapat ditemukan jawaban atas
24
berbagai persoalan yang mincul ditengah-tengah ummat. Ijtihad merupakan tugas penting dan kemampuan menjalankannya iaial tujuan utama ilmu asas yurisprudensi islam („ilmu ushul ai-fiqh) (Ghani et al., 2011). Maslahah mursalah menjadi salah satu metode penetapan hukum yang sanga tefektif dalam merespon, menyikapi, serta memberikan solusi, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Muhammad, sahabat, tabi‟in, danpara„ulama (mujtahid) (Asriaty, 2015).
Prinsip hukum Islam maslahah saat ini dapat digunakan sebagai mekanisme penyaringan etis untuk diajarkan sebagai bagian dari proses pendidikan akuntansi yang bermoral atau beretika (Rahman dan Rahim, 2012). Konsep maslahah sosial juga di gunakan dalam sistem keuangan Islam saat ini khususnya dalam hal tanggung jawab social (Cebeci, 2012). (Syarifuddin, 2008), maslahah al-Dharuriyyah yaitu kemaslahatan yang memiliki hubungan dengan kebutuhan umat manusia, baik didunia maupun diakhirat, kemaslahatan dalam bentuk ini ada lima, yaitu memelihara agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Hak asasi bagi tiap-tiap orang adalah hak hidup. Kaitannya dengan kemaslahatan yaitu keselamatan jiwa dan kehidupan manusia, Allah mensyariatkan berbagai hukum yang terkait dengan itu (Pasaribu, 2014). Juga untuk memiliki ketentraman jiwa dalam kehidupan, seseorang juga saling menjaga hubungan harmonis, yaitu hubungannya dengan Allah, manusia dan juga hubungannya dengan Alam Semesta. Manusia dan Alam memiliki satu kesamaan, yaitu sama-sama ciptaan Allah. Nah, sebagai sesame makhluk-Nya, sepatutnya kita untuk menjaga hubungan dengan alam, caranya yaitu dengan menjaga dan juga merawat lingkungan disekitar dan tidak pula merusaknya.
25 C. Green Campus
Konsep green mulai popular pada tahun (1992) dengan istilah green school, sampai pada tahun (2007) baru muncul istilah green campus yang diuji pada Tongji University di mana konsep green dan teknologi ekologi telah dimasukkan dalam praktek pembangunan kampus, operasional, energi dan sumber daya yang menjadikan sebuah modal yang suksek tentang kampus yang hemat (Danuri, 2016). Menurut (Humblet, 2010) sebuah kampus hijau (green campus) merupakan komunitas pendidikan tinggi yang meningkatkan efisiensi energi, konservasi sumber daya dan meningkatkan kualitas lingkungan dengan membudidaya untuk keberlanjutan terciptanya hidup sehat dalam lingkungan kampus.Kampus diharapkan menjadi agen perubahan yang berperan dalam menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih, rindang (hijau), indah dan sehat tempat. Pentingnya kampus hijau pada dasarnya menuntut kesadaran penuh dari perusahaan, khususnya perguruan tinggi yang telah merasakan manfaat dari lingkungan (Abdullah et al., 2021).Dengan program kampus hijau diharapkan dapat membentuk kesadaran dan kepedulian terhadap kampus masyarakat untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam mengurangi pemanasan global (Buana et al., 2018).
Penelitian (Mayasari et al., 2016), (Send dan Keshari, 2019), (Sisriani dan Fatimah, 2017), dan (Hapsari et.al.,2014) mengungkapan bahwa green campus merupakan konsep untuk membangun praktik kehidupan berkelanjutan yang ramah lingkungan di lembaga pendidikan yang dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial. Jadi secara umum dapat disimpulkan bahwa green campus
26
adalah konsep kampus ramah lingkungan pada perguruan tinggi yang memberikan manfaat positif bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial. Green campus penting suatu lembaga pendidikan untuk berpartisipasi dan bertanggung jawab dalam menciptakan lingkungan yang berkelanjutan. Terdapat manfaat dari penerapan green campus menurut (Puspadi et al. 2016).
(Geng et al., 2012) menyatakan bahwa universitas harus berperan aktif bergerak menuju sebuah universitas hijau. Semua fakultas, anggota staf dan mahasiswa harus bergabung dalam upaya tersebut. (Shahrullah et al., 2014) juga menyebutkan bahwa upaya sukses untuk menciptakan kampus hijau yaitu melibatkan pemangku kepentingan internal dan eksternal lembaga pendidikan tinggi. Keberhasilan kegiatan green campus tergantung pada partisipasi penuh dari semua anggota komunitas kampus. Keterlibatan dan kesadaran masyarakat universitas sangat penting untuk keberhasilan integrasi keberlanjutan lingkungan kampus. Selain kesadaran, penekanan khusus harus diletakkan pada penegakan peraturan yang meningkatkan komitmen masyarakat universitas untuk praktik- praktik keberlanjutan (Qdais et al., 2019). Lamar University juga mengurangi margin dan ukuran font atau menyesuaikan tata letak dokumen untuk mengurangi jumlah halaman, mengedarkan dokumen untuk diedit atau disetujui secara elektronik, mencetak pada kedua sisi setiap lembar kertas, mencetak sesuai pesanan, membawa komputer untuk rapat serta mencetak dokumen, berbagi informasi dengan memproyeksikannya, menggunakan program pesan seperti email dan facebook untuk bertukar informasi, dan membagikan selebaran rapat secara
27
elektronik dapat secara signifikan mengurangi penggunaan kertas (Iqbal dan Ahmad, 2015).