• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS A. Legitimacy Theory

D. Sustainable Development Goals

Report of the world Commission on Environment and Development (1987), pembangunan berkelanjutan (sustainable development) didefinisikan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi masa depan untuk memenuhi kebutuhan mareka sendiri (United Nations, 1987). (Fuzi dan Oxtavianus, 2014) menyatakan bahwa pembangunan berkelanjutan dalah suatu proses perubahan yang didalamnya menckup seluruh aktivitas seperti aksploitasi sumber daya, arah investasi, orientasi pengembangan teknologi, dan perubahan kelembagaan yang berada dalam keadaan selaras serta meningkatkan potensi masa kini dan masa depan untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi manusia.

Pembangunan kampus berkelanjutan patut diperhitumgkan karena lingkungan kampus universitas memiliki populasi yang besar sehingga menyebabkan penggunaan air bersih yang besar, penggunaan energi yang cukup besar, menghasilkan sampah dan limbah yang besar, penggunaan transportasi yang tinggi, dan fasilitas – fasilitas yang makin bertambah (Gunawan dkk, 2012).

Tujuan pembangunan berkelanjutan atau sustainable Development Goals (SDG‟s) merupakan dokumen kesepakatan pembangunan global untuk melaksanakan pembangunan yang berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pada proses pembangunan (Ngoyo, 2015). Untuk dapat mencapai tujuan dalam Sustainable

28

Development Goals (SDG), tidak hanya membutuhkan peran dari pemerintah, namaun juga dari akademik, politisi, Non-Governmental Organization (NGO), perusahaan, dan elemen masyarakat lainnya. Agenda (2030) untuk pembangunan berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable Development atau SDG’s) adalah kesempatan pembangunan baru yang mendorong perubahan kea rah pembangunan berkelanjutan berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan hidup.

SDG‟s yang digunakan dalam penelitian ini yaitu “ Air Bersih dan Sanitasi layak (SDG 6)”. Indikator target 6 dalam tujuan pembangunan berkelanjutan (TPB) Indonesia 2030 yang dapat ditetapkan dalam universitas terdiri dari akses layanan sumber air minum layak dan berkelanjutan, memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air, akses terdapat layanan sanitasi layak dan berkelanjutan, meningkatkan kualitas air dengan mengurangi polusi. TPB Indonesia 2030 diturunkan lagi ke dalam Kebijakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN, 2015-2019), (Said et al.,2016). Air miinum layak dan bersih merupakan air minum yang terlindungi meliputi air ledeng, keran umum, penampungan air hujan atau mata air, dan sumur bor. Air minum yang bersih dan aman dapat digunakan dan diakses anggota universitas. Fasilitas cuci tangan dengan sabun dan air menjadi indikator yang paling efektif dalam meningkatkan kesehatan. Klosetnya menggunakan leher angsa atau plengsengan dengan tutup, menggunakan tanki septik (septik tank) atau sistem pengelolahan air limbah (SPAL). Sanitasi layak dan berkelanjutan meliputi

29

mencuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum, pengelolaan sampah dengan aman, dan pengelolaan limbah cair dengan aman (Said et al., 2016).

Pengelolaan sampah dengan aman adalah melakukan kegiatan pengolahan sampah di rumah tangga dengan mengedepankan prinsip mengurangi, memakai ulang, dan mendaur ulng. Pengeloln limbh cair dengan aman adalah melakukan kegiatan pengolahan limbah cair di eumah tangga yang berasal dari sisa kegiatan mencuci, kamar mandi, dan daput yang memenuhi standar kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan yang mampu memutuskan mata rantai penularan penyakit.

Kemudian indikator akhir adalah meningkatkan kualitas air dengan mengurangi polusi. Cara yang dilakukan merupakan meminimalkan pelepasan material dan bahan kimia berbahaya dengan membangunan infrastruktur pengelolaan air limbah (said et al.,2016). Sangat penting untuk memiliki akses air bersih di universitas, oleh karena itu air harus dilestarikan dan dirawat atau digunakan kembali dengan aman untuk irigasi. Dengan mempriorotaskan air bersih, universitas dapat meningkatkan kesehatan mahasiswanya (Hamzah et al., 2018). Dalam mendukung (SDG 6) perguruan tinggi di eropa melaksanaan proyek pengembangan teknologi berkelanjutan dan penghapusan obat-obat dan air limbah (Franco et al., 2018).

Sedangkan the University of Queensland berkomitmen untuk mengatasi kompleksitas tantangan air global untuk menigkatkan akses dan memastikan pengelolaan sumber daya yang vital ini. Melalui Global Change Institute (GCI), universitas mengoordinasikan dalam inovasi dan pendidikan serta membangun kemitraan penelitian air strategis dan memfasilitasi penelitian (Hall et al., 2016).

30 E. Maslahah dalam Menunjang Green Campus

Maslahah diartikan sebagai mengambil kemanfaatan akan suatu hal dan menjauhi kemudhratan atau hal – hal yang tidak menguntungkan bahkan yang bisa merugikan. Seperti dalam kitab Lisanul Arab bahwa maslahah mengandung arti adanya suatu manfaat, baik dari asalnya maupun dari prosesnya, contohnya menghasilkan kenikmatan dan faedah, ataupun penjagaan dan pencegahan dan juga seperti menjauhi kemudharatan (Qarib dan Harahap, 2016). Jika stakeholder yang ada diperguruan tinggi memiliki kesadaran akan hal kemaslahatan umat, terutama pada masyarakat dan lingkungan sekitar maka akan mendatangkan suatu manfaat atau suatu hal yang bernilai positif diantara kedua belah pihak. Walaupun para stakeholder memiliki kesadaran mengenai suatu hal disekitarnya untuk kemaslahatan umat, tetapi ia melakukan sesuatu atau tidak memiliki suatu usaha melakukan tindakan perbaikan, maka hal tersebut termasuk dalam hal yang tidak menguntungkan.

Maslahah dari perprektif islam merupakan suatu hal yang sangat memperhatikan manfaat dari segala aspek. Maslahah bagi organisasi dalam hal ini perguruan tinggi islam dapat menjadi suatu alat yang dapat mendorong mereka untuk melakukan sesuatu. Dampak positif dari hal tersebut adalah para stakeholder akan lebih mengerti mengenai hal yang ternyata penting untuk diketahui seperti pentingnya akan lingkungan sekitar. Berdasarkan pada penelitian sebelumnya, dalam hukum islam, yaitu dalam Al-Qur‟an diketahui bahwa hukum syari‟at islam yaitu diantaranya kemaslahatan manusia yang dalam hal ini mengenai Sustainable Developtment Goals

31

sebagai salah satu bentuk kemaslahatan manusia (Hendar, 2011). Allah SWT berfirman dalam al-qur‟an surat al-Anbiyaa‟ 21 : 107.

Terjemahnya:

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi alam semesta”.

Melihat maslahah dari segi hukum Islam, seperti yang dijelaskan dala al- Qur‟an, yaitu Allah mengutus diantara manusia untuk menjadi rahmat semesta alam.

Membuat agar orang-orang atau makhluk hidup lainnya merasa tentram dan damai dengan kehadiran kita diantaranya. Karena bukanlah dikatakan sebagai rahmat semesta alam apabila seseorang membuat orang lain tidak nyaman akan kehadirannya.

Dokumen terkait