BAB II KAJIAN PUSTAKA
C. Mastery Learning
Pendekatan mastery learningatau yang dalam bahasa Indonesianya disebut pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menerapkan strategi pembelajaran tuntas dalam proses pembelajaran merupakan salah satu pendukung utama dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah secara tuntas, jika ada yang masih tertinggal maka guru harus melaksanakan suatu upaya pemberian perlakuan khusus untuk membantu anak tersebut mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan materi atau suatu kompetensi. Dengan demikian semua anak baik yang pintar ataupun yang kurang dapat menguasai kompetensi yang dipersyaratkan dengan baik.
21 Dalam pendekatan pembelajaran selama ini, hal yang disampaikan di atas agak terabaikan, terkadang guru sangat bangga dengan siswanya yang masuk kategori pintar sehingga menjadi perhatian lebih, sedangkan murid yang biasa saja, kurang mendapat perhatian.
Sehubungan dengan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui asas-asas ketuntasan belajar, sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual.
Untuk memperjelas perbedaan kedua jenis pembelajaran tersebut Ahmad Sudrajat dalam blognya membuat perbandingan ke dua pola tersebut pada Tabel berikut.
Tabel 01. Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Tuntas Pembelajaran Konvensional A. Persiapan
Tingkat ketuntasan
• Diukur dari performance peserta didik dalam setiap unit (satuan kompetensi atau kemampuan dasar
• Setiap peserta didik harus mencapai nilai 75 Diukur dari performance peserta didik yang dilakukan secara acak
Satuan Acara Pembelajaran
• Dibuat untuk satu minggu pembelajaran, dan dipakai sebagai pedoman guru serta diberikan kepada peserta didik.
• Dibuat untuk satu minggu pembelajaran, dan hanya dipakai sebagai pedoman guru
Pandangan terhadap kemampuan peserta didik
• Kemampuan hampir sama, namun tetap ada variasi
• Kemampuan peserta didik dianggap sama
B. Pelaksanaan pembelajaran Bentuk pembelajaran
• Dilaksanakan melalui pendekatan klasikal, kelompok dan individual
• Dilaksanakan sepenuhnya melalui pendekatan klasikal
22 Cara pembelajaran
• Pembelajaran dilakukan melalui penjelasan guru (lecture), membaca secara mandiri dan terkontrol, berdiskusi, dan belajar secara individual
• Dilakukan melalui mendengarkan (lecture), tanya jawab, dan membaca (tidak terkontrol)
Orientasi pembelajaran
• Pada terminal performance peserta didik (kompetensi atau kemampuan dasar) secara individual
• Pada bahan pembelajaran
Peranan guru
• Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual
• Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik dalam kelas
Fokus kegiatan pembelajaran
• Ditujukan kepada masing-masing peserta didik secara individual
• Ditujukan kepada peserta didik dengan kemampuan menengah Penentuan keputusan mengenai satuan pembelajaran
• Ditentukan oleh peserta didik dengan bantuan guru
• Ditentukan sepenuhnya oleh guru C. Umpan Balik
Instrumen umpan balik
• Menggunakan berbagai jenis serta bentuk tagihan secara berkelanjutan
• Lebih mengandalkan pada penggunaan tes objektif untuk penggalan waktu tertentu
Cara membantu peserta didik
• Menggunakan sistem tutor dalam diskusi kelompok (small-group learning activities) dan tutor yang dilakukan secara individual
• Dilakukan oleh guru dalam bentuk tanya jawab secara klasikal
Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com
Supaya pembelajaran tuntas dapat berlangsung secara terstruktur Winkel (dalam blog Murni) menyarankan sebagai berikut:
a. Tujuan-tujuan pembelajaran yang harus dicapai ditetapkan secara tegas. Semua tujuan dirangkaikan dan materi pelajaran dibagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan, sesuai dengan rangkaian semua tujuan pembelajaran.
b. Siswa dituntut supaya mencapai tujuan pembelajaran lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai
23 tujuan pembelajaran. Jadi siswa dilarang untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya sebelum siswa tersebut mamahami pokok bahasan sebelumnya.
c. Ditingkatkan motifasi belajar siswa dan efektivitas usaha belajar siswa, dengan memonitor proses belajar siswa melalui testing berkala dan kontinyu, serta memberikan umpan balik kepada siswa mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga.
d. Memberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan (http://murni-uni.blogspot.com)
Sedangkan Ahmadi, Abu, dkk. (2005) yang dikutif dari blog Ahmad mengemukakan ada beberapa ciri belajar tuntas (mastery learning), yaitu:
1) Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajar; 2) Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan, baik tingkatannya maupun waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu; 3) Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya; 4) Tingkat belajar sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pelajaran; 5) Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula.
(http://pgmionemode.blogspot.com).
D. Kerangka Berpikir
24 Untuk bisa memenuhi tuntutan belajar, Mastery learning bukanlah merupakan metode yang sederhana untuk dikerjakan. Untuk ini guru harus betul-betul aktif, betul-betul-betul-betul membuat persiapan yang matang dan memerlukan pelatihan yang sangat baik.
Para pengembang konsep belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:1) Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran; 2) Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa;3) Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satua-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut; 4) Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik; 5) Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acua patokan; 6) Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual (dikutif dari http://pgmionemode.blogspot.combersumber dari (Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005).
Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau
25 lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.Kemampuan yang akan ditelorkan oleh siswa dituntun dengan baik oleh guru, diberi bimbingan, diberi penugasan-penugasan secara individu, dan siswa dibiasakan untuk mengulangi pelajaran di setiap kesempatan. Dasar berpikir seperti inilah yang diharapkan akan dapat memecahkan masalah yang ada.
E. Hipotesis Tindakan
Rumusan hipotesis yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah:model pembelajaran mastery learning dengan pemberian tugas individu dapat meningkatkan prestasi belajar matemtika pada siswa kelas IV Semester II SD Negeri 1 PacungTahun Pelajaran 2019/2020.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian
26 Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Pacung , Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Lingkungan sekolah ini aman, indah, rindang, dan sejuk.
B. Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang direncanakan akan berlangsung selama 2 siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari tiga kali pelaksanaan tindakan.
Dalam melaksanakan penelitian tindakan, rancangan penelitian mengikuti rancanganyang telah diujicobakan terlebih dahulu oleh para ahli.Dalam penelitian ini, penulis memilih rancangan penelitian tindakan yang disampaikan oleh Arikunto,Suharsimisebagai berikut:
Gambar: 01 Alur Penelitian Tindakan kelas 1. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat RPP, berkonsultasi dengan teman sejawat membuat instrumen.
27 Pada tahap menyusun rancangan diupayakan ada kesepakatan antara guru dan sejawat. Rancangan dilakukan bersama antara peneliti yang akan melakukan tindakan dengan guru lain yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Hal tersebut untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan pengamatan yang dilakukan.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan pembelajaran di kelas.Pada tahap ini guru / peneliti giat melakukan tindakan menggunakan metode ajar.Rancangan tindakan tersebut sebelumnya telah dilatih untuk dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenarionya.Skenario dari tindakan diupayakan dilaksanakan dengan baik.
3. Pengamatan atau observasi
Tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan.
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Pada tahap ini,guru yang bertindak sebagai peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan tes prestasi belajar yang telah tersusun, termasuk juga pengmatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa, bias dilakukan setelah proses selesai.
4. Refleksi
28 Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.
C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
Menjadi subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung. Untuk jelasnya terlihat pada tabel berikut.
Tabel 02. Nama-nama Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung
NO NAMA SISWA
1 I Komang Ketut Andika 2 I Gede Rian
3 Ni Komang Anggreni Putri 4 Ni Kadek Dwi Ariani 5 I Wayan Galang Dirgayusa 6 Ni Kadek Noviani
7 I Nengah Resky Editya Marta 8 Ni Ketut Serina
9 Ni Kadek Sinta Yunita Ariantini 10 I Gede Sudiarna
11 Ni Luh Susila Dewi
29 12 I Komang Wirayadnya
13 Ni Kadek Michelle Wiyda Pratiwi
2. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar Matematika siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung setelah diterapkan pemberian tugas dalam kerja kelompok menggunakan model Mastery learning dalam proses pembelajaran.
D. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian direncanakan berlangsung dari bulan Pebruari sampai bulan juni .Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 03. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Februari 2019 Maret 2019 April 2019
30
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dengan menggunakan tes prestasi belajar.
F. Metode Analisis Data
Data yang telah diperoleh kemudian peneliti analisis menggunakan metode analisis deskriptif. Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam bentuk tabel dan grafik.
G. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian 1. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar
Tabel 04. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar Bidang Studi Matematika N
o
Standar Kompetensi
Kompetensi
Dasar Materi Indikator Bentuk
Tes
31
32 Sudah terlampir pada masing-masing RPP. Untuk evaluasi setiap akhir siklus dibuat soal dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal dengan bobot tiap soal adalah 10 sehingga skor maksimal menjadi 100.
H. Indikator Keberhasilan Penelitian
Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu pada prestasi belajar anak diharapkan pada siklus I mencapai rata-rata 70 dengan nilai ketuntasan 70% dan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 70 atau lebih dengan nilai ketuntasan belajar minimal 75% atau lebih.
BAB IV
33 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini, akan dipaparkan data yang diperoleh dari penelitian tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 1 Pacung. Sebelum menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Bedasrkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini yang harus diperhatikan adalah perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa hasil yang dicapai, sampai pada refleksi berikutnya semua hasilnya. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini dimulai dengan apa yang dilakukan dari bagian perencanaan.
1. Siklus I
34 1) Rencana Tindakan I
Hasil yang didapat dari kegiatan perencanaan meliputi:
a. Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan metode Mastery learning sepeti terlihat pada lampiran RPP ini mengikuti aturan Permen No. 41 tahun 2007 yang merupakan standar yang mesti diikuti guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran inti, teori-teori mastery learning dimasukkan mengikuti skenario pembelajaran seperti:
penyediaan ruangan yang nyaman, upaya kegiatan-kegiatan yang menggembirakan, membuat pembelajaran lebih sederhana, mengupayakan siswa lebih pada berbicara gerak tubuh, perintah-perintah yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, mengikuti tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan, informasi yang banyak, materi pengakuan-pengakuan atas keberhasilan siswa, perayaan atas keberhasilan siswa untuk umpan balik dan motivasi peningkatan hasil belajar, apersepsi yang banyak, memberikan siswa pengalaman nyata, sesuai biar dialami sendiri oleh siswa, mengupayakan kata kunci, model, metode, strategi yang bisa membantu siswa, demonstrasi yang lebih mendominir agar siswa dapat mengekspresikan kemampuan mereka, pengulangan-pengulangan, penguatan-penguatan sangat diperlukan, memberdayakan seluruh kemampuan dan potensi yang ada, rancangan belajar terus dinamis, penghargaan bagi kemampuan siswa mengupayakan pembelajaran selaras dengan kerta otak manusia,
35 mengupayakan bermacam-macam interaksi, mengupayakan agar pembelajaran menjadi bermakna, tujuan yang sangat efektif. Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu dapat diketahui beberapa kemajuan.
Berdasar hasil awal kemampuan siswa Kelas IV yang tertera pada latar belakang, peneliti merencanakan kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode Mastery learning .
b. Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal penelitian.
c. Meminta kepada teman-teman guru bidang studi sejenis dan kepala sekolah sebagai mitra kesejawatan dalam pelaksanaan RPP ikut serta mengawasi jalannya proses pembelajaran yang sudah direncanakan.
Hasilnya adalah kesiapan teman-teman guru untuk ikut melaksanakan supervisi kunjungan kelas.
d. Menentukan yang menjadi prinsip supervisi teknik kunjungan kelas.
Hasilnya adalah format-format perencanaan teknik kunjungan kelas untuk penilaian guru.
e. Memperbanyak jumlah/frekuensi kunjungan kelas dalam siklus berikutnya sehingga kedekatan supervisor dengan guru dan siswa akan terjalin dengan baik.
36 f. Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan. Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik.
g. Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar.
Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik. Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi siswa, menentukan alat bantu mengajar. Sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik.
h. Merancang skenario pembelajaran.
Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia, sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai Permen Diknas No.
41 Tahun 2007.
2) Pelaksanaan Tindakan I
Sebagai upaya Trianggulasi, pada pelaksanaan pembelajaran mastery learning ini peneliti mengajak seorang guru ke kelas untuk memantau kebenaran pelaksanaan pembelajaran mastery learning. Guru sudah diberitahu sebelumnya tentang kebenaran model pembelajaran mastery
37 learning sehingga memiliki kemampuan untuk mengamati proses. Selama
pelaksanaan tindakan I ini ada beberapa hal yang bisa dicatat yaitu:
a. Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas dengan persiapan yang matang menggunakan model pembelajaran mastery learning , mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP adan alur pembelajaran Mastery learning .
b. Penampilan
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode Mastery learning sesuai alur pembelajaran ini yang sudah disampaikan pada hasil perencanaan.
3) Observasi/Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi yang dilakukan peneliti akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran mastery Learning mengingat semua kelemahan peneliti akan teramati dengan baik. Apabila peneliti hubungkan dengan yang disebut variabel penyela atau variabel intervening dimana ada hal-hal tertentu yang bisa mempengaruhi hubungan antara variabel bebas yaitu model pembelajaran mastery Learning dengan variabel terikat yaitu pretasi belajar. Hal tertentu yang dibicarakan adalah kebenaran pelaksanaan model pembelajaran mastery Learning. Apabila pelaksanaannya tidak benar sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar.
38 Hal tersebut peneliti lakukan demi adanya upaya inovasi agar tulisan ilmiah ini lebih berdaya guna dan berhasil guna. Penekanan pada kegiatan intelektual; memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata; membiasakan anak lebih produktif, analitis, kritis;
penggunaan metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan anak mencari dan menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini menuntut kemampuan pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama, pembelajaran lebih terpusat pada anak , pengembangan konsep diri dan bakat akademik, menghindarkan diri dari belajar dengan hafalan, menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Langkah-langkah pembelajarannya adalah: a) merumuskan pertanyaan untuk dapat melakukan penelitian, b) mencek apakah hasil pengamatan anak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, c) pengumpulan data/informasi, d) mengnalisis informasi, e) membuat simpulan-simpulan berdasar hasil analisis informasi. Dari semua pengertian di atas, penulis sudah menyiapkan instrumen untuk ketepatan pelaksanaan yang dibawa oleh guru dan anak yang mengamati proses pembelajaran.
Hasil Pengamatan/ obsertvasi / pengumpulan data disampaikan pada tabel berikut:
39 Tabel 05. Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Semester II Tahun pelajaran
2020/2021 Siklus I
NomorSubjek Penelitian Nilai Keterangan
1. 80 Tuntas
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi 4 Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan 9 Prosentase Ketuntasan Belajar 69,23%
4) Refleksi Siklus I
Sebelum memulai refleksi, ada baiknya melihat pendapat para pakar pendidikan tentang apa yang dimaksud dengan refleksi. Pendapat ini akan merupakan panduan terhadap cara atau hal-hal yang perlu dalam menulis refleksi. Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan.Refleksi menyangkut analisis,
40 sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 80).
1) Analisis kuantitatif prestasi belajar siswa siklus I
a. Rata-rata (mean) yang diperoleh dari jumlah nilai : jumlah anak.
Nilai tersebut adalah 13
880 = 67,69
b.Median (titik tengah) dicari dengan mengurut data/ nilai siswa dari yang terkecil sampai yang terbesar. Jika datanya ganjil ambil satu di tengah. Jika datanya genap ambil dua data di tengah, kemudian dijumlahkan dan dibagi dua. Angka tersebut adalah 70,00
c. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah data diasccending/ diurut. Angka yang paling sering muncul adalah 70,00.
d. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih dahulu.
1. Banyak kelas ( K ) = 1 + 3,3 X Log (N) = 1 + 3,3 X Log 13 = 1 + (3,3 X 1.11 ) = 1 + 3.66 = 4.66 → 4
2. Rentang kelas (r) = skor maksimum – skor minimum = 80 - 60
= 20 3. Panjang interval (i) = r/K = 20/4 = 5 → 5
41 Tabel 06.data kelas interval
No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi
Urut Tengah Absolut Relatif
1 60 ─ 64 62 4 30.77
42 2. Siklus II
1. Perencanaan
Dengan melihat semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data kuantitatif, maka untuk perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
a. Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan pembelajaran di kelas dengan melihat jadwal penelitian pada Bab III dan waktu dalam kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus I merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus ini.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik yang mengacu ke pembelajaran Mastery learning namun model RPP-nya tetap mengikuti Permen No. 41 tahun 2007 serta membuat instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang dibuat seperti instrumen-instrumen sebelumnya yang meliputi instrumen observasi keaktifan belajar dan format observasi dan tes prestasi belajar.
c. Bersama guru merancang skenario penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dengan mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan pembelajaran. Untuk hal ini, semua catatan tentang kekurangan yang ada di siklus I yang merupakan hasil refleksi disampaikan pada guru untuk dipelajari. Memberitahu guru apa-apa yang perlu dilaksanakan, apa saja
43 yang siswa mesti kerjakan, cara penerapan metode Mastery learning yang benar sesuai dengan yang diharapkan.
2. Pelaksanaan Tindakan
Uraian tentang pelaksanaan tindakan pada siklus II ini disampaikan sebagai berikut:
a. Pada hari yang sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah dibuat. Terkait model pembelajaran Mastery learning mulai diupayakan dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat untuk dapat melaksanakan pembelajaran lebih serius.
a. Pada hari yang sudah ditentukan sesuai jadwal, peneliti memulai tahap pelaksanaan tindakan dengan membawa semua persiapan yang sudah dibuat. Terkait model pembelajaran Mastery learning mulai diupayakan dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan harapan peneliti akan lebih bersemangat untuk dapat melaksanakan pembelajaran lebih serius.