PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN MASTERY LEARNING DENGAN PEMBERIAN TUGAS INDIVIDU
UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA
KELAS IV SD NEGERI 1 PACUNG TAHUN PELAJARAN 2019/2020
OLEH :
I NYOMAN DESI MAHARDIKA, S.Pd
SEKOLAH DASAR NEGERI 1 PACUNG
KECAMATAN TEJAKULA KABUPATEN BULELENG
2020
i
OPTIMALISASI MODEL PEMBELAJARAN MASTERY LEARNING DENGAN PEMBERIAN TUGAS INDIVIDU UNTUK MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV SEMESTER II SD NEGERI 1 PACUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
DISUSUN OLEH
NAMA : I NYOMAN DESI MAHARDIKA,S.Pd JABATAN : Guru
DINAS PENDIDIKAN KEPEMUDAAN DAN OLAHRAGA UPT. DISDIKPORA KECAMATAN TEJAKULA
SD NEGERI 1 PACUNG
2020
ii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang tersebut dibawah ini :
Nama : I NYOMAN DESI MAHARDIKA, S.Pd
Jabatan : Guru
Menyatakan bahwa Karya Tulis Ilmiah ini asli dan tidak berisi materi- materi yang telah dipublikasikan di tempat lain, terkecuali yang dikutip sebagai sumber referensi dan digunakan dalam teks tulisan ini, yang sumbernya sudah dinyatakan. Karya Tulis Ilmiah ini tidak pernah diajukan untuk memperoleh derajat kesarjanaan atau diploma pada institusi tertentu, begitu juga tidak ada kolaborasi yang telah dibuat dengan orang lain.
Penulis
I NYOMAN DESI MAHARDIKA.S.Pd.
iii
KATA PENGANTAR
Atas Asung Kerta Wara Nugraha Ida Sang Hyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Kuasa, penulis mendapat semangat dan kekuatan pikiran sehingga karya tulis yang berjudul “Optimalisasi Model Pembelajaran Mastery Learning Dengan Pemberian Tugas Individu Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Matemtika Pada Siswa Kelas IV Semester II SD Negeri 1 Pacung Tahun Ajaran 2019/2020 ” dapat terselesaikan sesuai jadwal waktu yang telah direncanakan..
Rasa syukur dan terimakasih mendalam penulis sampaikan atas ketulusan dan bantuan Bapak-bapak, Ibu-ibu sehingga penelitian ini dapat terselesaikan tepat waktu.
Demikian pengantar singkat yang mampu peneliti goreskan, semoga karya ini mampu menyumbangkan manfaat yang besar dalam meningkatkan efektifitas proses belajar mengajar di SD Negeri 1 Pacung
Pacung, 18 Juni 2020 Peneliti
I NYOMAN DESI MAHARDIKA, S.Pd.
iv DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN PERPUSTAKAAN ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR GRAFIK ... x
ABSTRAK ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA... 10
A. Metode Pemberian Tugas Individu dalam Kelompok ... . 10
B. Prestasi Belajar... 13
C. Mastery Learning... 20
D. Kerangka Berfikir... 24
E. Hipotesis Tindakan... 25
BAB III METODELOGI PENELITIAN... 26
A. Tempat Penelitian ... 26
B. Rancangan Penelitian ... ... 26
v
C. Subjek dan Objek Penelitian... 28
D. Waktu Penelitian... 29
E. Metode Pengumpulan Data... 30
F. Metode Analisis Data... 30
G. Kisi-Kisi dan Instrumen Penelitian ... 30
H. Indikator Keberhasilan Penelitian ... 31
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PERUBAHAN... 32
A. Hasil Penelitian ... . 32
B. Pembahasan... .. 47
BAB V PENUTUP... ... 51
A. Simpulan... .... 51
B. Saran... ... 52 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
vi
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 01. Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan
Pembelajaran Konvensional ... 21
Tabel 02. Nama-nama Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung ... 28
Tabel 03. Jadwal Penelitian ... 29
Tabel 04. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar ... 30
Tabel 05. Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Semester II Tahun pelajaran 2019/2020 Siklus I ... 37
Tabel 06. Data Interval Kelas Siklus I ... 39
Tabel 07. Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Semester II Tahun pelajaran 2019/2020 Siklus II ... 43
Tabel 08. Data Interval Kelas Siklus II ... 44
Tabel 09. Rekap Penelitian dari Siklus I sampai Siklus II ... 45
vii
DAFTAR GAMBAR
Halaman Gambar 01. Rancangan Penelitian Tindak Kelas ... 26
viii
DAFTAR GRAFIK
Grafik 01. Histogram Siklus I ... 40 Grafik 02. Histogram Siklus II ... 45
ix
OPTIMALISASI MODEL PEMBELAJARAN MASTERY LEARNING DENGAN PEMBERIAN TUGAS INDIVIDU UNTUK MENINGKATKAN
PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA PADA SISWA KELAS IV SEMESTER II SD NEGERI 1 PACUNG
TAHUN PELAJARAN 2019/2020 Oleh
I NYOMAN DESI MAHARDIKA, S.Pd ABSTRAK
Tujuan penulisan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk mengetahui apakah pemberian tugas individu dalam kerja kelompok menggunakan model pembelajaran Mastery Learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa SD Negeri 1 Pacung di Kelas IV Semester II tahun pelajaran 2019/2020 .Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan tes prestasi belajar. Metode analisis datanya adalah deskriptif . Hasil yang diperoleh dari penelitian ini penggambaran secara lengkap dapat dijabarkan sebagai berikut: hasil yang diperoleh pada awalnya 63,85 pada siklus I menjadi 67,69 dan pada siklus II menjadi 73,85. Hasil tersebut setelah dilakukan analisis menggunakan analisis deskriptif diperoleh kesimpulan bahwa pemberian tugas individu dalam kerja kelompok menggunakan model pembelajaran mastery learning dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Kata kunci : mastery learning, prestasi belajar
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum yang mulai diberlakukan di sekolah dasar bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang kompeten dan cerdas sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini hanya dapat tercapai apabila proses pembelajaran yang berlangsung mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki siswa.
Untuk itu guru perlu meningkatkan mutu pembelajarannya, dimulai dengan rancangan pembelajaran yang baik dengan memperhatikan tujuan, karakteristik siswa, materi yang diajarkan, dan sumber belajar yang tersedia. Kenyataannya masih banyak ditemui proses pembelajaran yang kurang berkualitas, tidak efisien dan kurang mempunyai daya tarik, bahkan cenderung membosankan, sehingga hasil belajar yang dicapai tidak optimal. Persoalannya adalah guru seringkali kurang memahami bentuk-bentuk metode pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses mengajar. Ketidakpahaman itulah membuat banyak guru secara praktis hanya menggunakan metode konvensional, sehingga banyak siswa merasa jenuh, bosan atau malas mengikuti pelajaran.
Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
2 kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut, diperlukan berbagai upaya aktif dari pendidik dalam proses pembelajaran yang efektif dan berdaya guna.Proses pembelajaran di kelas akan berhasil jikadalam pelaksanaannya guru memahami dengan baik Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada bab VI pasal (28) ayat 3, menyangkut persyaratan kompetensi profesional yang harus dimilikinya sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar danmenengah serta pendidikan anak usia dini yang meliputi:
kompetensipedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.
Gambaran singkat mengenai kompetensi tersebut yaitu: 1) Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantif kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya; 2) Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang yang mantap, arif, dewasa, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; 3) Kompetensi profesional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi pembelajaran bidang studi secara luas dap mendalam yang mencakup penguasaan substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan sebagai guru; 4)
3 Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar(http://karyono1993.wordpress.com).
Hanif Nurcholis menjabarkan apa yang tercantum dalam UU No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen yang menetapkan jabatan guru sebagai pendidik profesional, setingkat dokter, apoteker, lawyer, dan lain-lain. Tetapi menurut Hanif, jika dilihat dari kompetensinya terdapat empat peringkat pemabgian kompetensi guru: 1) profesional;2) tukang ngajar;3) juru ngajar; dan 4) pramu bahan ajar. Guru sebagai tukang, bekerja mengikuti pola atau model tertentu yang sudah dihafal.
Sebagai juru, bekerja berdasarkan petunjuk atasan untuk mengerjakan pekerjaan teknis.Pramu, bekerja berdasarkan perintah atasan untuk menyajikan sesuatu.
Sedangkan profesional,guru bekerja berdasarkan lima prinsip kerja profesi: 1) disiplin ilmu yang diperoleh saat mengikuti pendidikan, 2) pelatihan profesi, 3) pengalaman yang panjang dalam melaksanakan tugas profesi, 4) pengembangan profesi melalui forum-forum ilmiah, dan 5) berperilaku sesuai kode etik profesinya.
Guru yang mengajar dengan mengikuti pola/ model yang dihafal, ini tukang mengajar. Guru yang mengajar berdasarkan juklak/ juknis atasan, ini juru ngajar.Guru yang mengajar sekadar menyampaikan bahan ajar yang diperintahkan atasannya, ini pramu bahan ajar. Sedangkan Guru profesional adalah guru yang sangat ahli mengembangkan dan mengimplementasikan model pembelajaan yang bermutu dengan berpijak pada lima prinsip kerja profesi tersebut secara mandiri.
Cara kerjanya seperti dokter. Dalam bekerja, dokter tidak berdasarkan model/pola
4 tertentu, juklak/juknis, atau perintah direktur rumah sakitnya tapi berdasarkan lima prinsip kerja profesi tersebut secara mandiri (http://pepindogrup.blogspot.com).
Gambaran tentang guru yang dijabarkan di atas tentunya diperuntukkan bagi semuaguru untuk mengukur pribadi mereka masing-masing, dimana mereka berada, pada peringkat mana mereka dikategorikan, dan upaya apayang dapat mereka usahakan untuk memperbaiki peringkat tersebut menjadi ideal. Apa yangdigambarkandi atas mungkin ada banyak benarnya, salah satu yang terkadangguru lalai adalah perlakuan subyektif kepada siswa. Seringkali guru hanya memperhatikan siswa-siswa yang bisa membawa daya tarik tersendiri saja, sementara siswa yang terlihat sederhana dimarginalkan.Implikasi yang dapat dilihat, terkadang prestasi siswa yang satu dengan yang lain sangat menyolok. Guru masih mengutamakan rasa bukan profesi seperti para dokter. Jika seorang dokter memandang pasien sebagai seorang yang membutuhkan bantuan kesehatan, seorang guru tidak diajarkan pemahaman tentang seorang murid yang membutuhkan bantuan dalam menapaki tahapan perkembangannya, guru hanya diberikan pengetahuan bagaimana untuk mengajar.Kenyataan itu memunculkan dugaan, dalam pelaksanaan proses pembelajaranterkadang kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik secara individual untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam berbagai mata pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh), kreatif, objektif, dan logis mereka, belum memperhatikan perbedaan kemampuan secara individu yang mengakibatkan masih banyak siswa yang belum bisa mencapai ketuntasan belajar secara individual dikarenakan perbedaan perlakuan.Jika kecenderungan ini disandarkan pada tugas dan tanggungjawab serta standar
5 kompetensi yang harus ditaati oleh seorang guru tentu hal tersebut merupakan suatu tindakan yang keliru.
Menyadari kondisi yang ada,yang tentunya banyak berpengaruh terhadap kemauan guru untuk memberikan pengetahuan yang terbaik bagi setiap siswa, termasuk kemauan guru itu sendiri untuk menyiapkan bahan yang lebih baik, menerapkan metode-metode ajar yang efektif banyak berdampak pada belum tercapainya tingkat ketuntasan belajar siswa secara individual.
Bertolak dari kesadaran tersebut, guru berkeinginan untuk memperbaiki kondisi yang ada agar tingkat perkembangan kemampuan peserta didik tidak mengalami gangguan pada tahapan berikutnya.Langkah pertama yang ditempuh adalah melakukan observasi awal.Dari observasi ini diperoleh kenyataan hasil prestasi belajar siswa Kelas IV di Semester II Tahun Pelajaran 2020/2021 baru mencapai nilai 65,00. Hasil yang didapat disadari sepenuhnya masih jauh dari ketetapan standar minimal pencapaian mutu pendidikan yang ditetapkan.
Upaya perbaikan sangat perlu kiranya dilakukan, langkah perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran tuntas menjadi pilihan utama jika diperhatikan dari gambaran di atas.Karena model ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa pendekatan belajar tuntas (mastery learning) dapat dilaksanakan dan mempunyai efek meningkatkan motivasi belajar intrinsik. Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasi semua siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan, minat, dan bakat tadi asal diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai, peneliti berkeinginan untuk menerapkannya dalam pembelajaran sebagai solusi dalam mengatasi masalah prestasi belajar Matematika siswa Kelas IV
6 Semester II di SD Negeri 1 Pacung akibat ketidaksamaan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing siswa.
B. Rumusan Masalah dan Cara Pemecahannya 1. Rumusan Masalah
Melihat latar belakang permasalahan , maka rumusan penelitian ini dapat disampaikan sebagai berikut:
Apakahmodel pembelajaran mastery learning dengan pemberian tugas individu dapat meningkatkan prestasi belajar matemtika pada siswa kelas IV Semester II SD Negeri 1 PacungTahun Pelajaran 2019/2020?
2. Cara Pemecahan Masalah
Mastery learning merupakan suatu pendekatan pembelajaran yangmenganut azas ketuntasan belajar.Belajar tuntas (Mastery Learning) adalahpendekatan pembelajaran berdasar pandangan filosofis bahwa seluruh pesertadidik dapat belajar jika mereka mendapat dukungan kondisi yang tepat.Konsep belajar tuntas adalah proses belajar yang bertujuan agar bahan ajarandikuasai secara tuntas, artinya cara menguasai materi secara penuh.
Belajartuntas ini merupakan strategi pembelajaran yang diindividualisasikan denganmenggunakan pendekatan kelompok.Dengan sistem belajar tuntas diharapkanproses belajar mengajar dapat dilaksanakan agar tujuan instruksional yangakan dicapai dapat diperoleh secara optimal sehingga proses belajar lebihefektif dan efisien, demikian disampaikan Sukmadinata, Nana Syaodih dalam Dafid (2011: 11).
7 Peserta didik dalam memulai proses pembelajaran belajar dari topik yangsama, waktu yang sama dan perlakuan yang juga sama. Siswa yang masih belum tuntas dalam menguasai seluruh materi pada topik yangdipelajarinya mendapat pelajaran tambahan berupa tugas-tugas yang harus diselesaikan sehingga mencapai hasil yangsama dengan kelompoknya. Siswa yang telah tuntas mendapat pengayaanyang juga diberikan tugas tambahan sehingga mereka pun memulai mempelajari topik baru bersama-sama dengankelompoknya dalam kelas.
Prinsip-prinsip pengembangan pengajarannya menurut Sukmadinata, Nana Syaodih (2005) yang dikutif dari (http://pgmionemode.blogspot.com) sebagai berikut:
1. Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran.
2. Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa.
3. Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satua-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut.
4. Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik.
8 5. Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi
menggunakan acua patokan.
6. Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual.
Dari uraian di atas jelas bahwa model pembelajaran tersebut berupaya semaksimal mungkin menyampaikan materi pelajaran dengan cara sebaik- baiknya sesuai dengan tuntutan pembelajaran dewasa ini agar tercapai ketuntasan secara individual.Cara inilah yang dapat digunakan sebagai dasar pemecahan masalah yang ada, mengingat pentingnya pemberian bantuan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan pemahamannya yang harus dikuasainya.
C. Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa akan terjadi setelah diterapkan pemberian tugas individu dalam kerja kelompok menggunakan model pembelajaran Mastery Learning.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian dapat bermanfaat bagi guru-guru dan kepala sekolah sebagai referensi, bahan pertimbangan untuk menjadi salah satu solusi memecahkan masalah proses pembelajaran di sekolah.
9 2. Manfaat praktis
a. Bagi kepala sekolah, lebih tanggap dalam memberikan masukan dan saran kepada guru-guru yang mengalami masalah dalam proses pembelajaran untuk menggunakan model pembelajaran dalam penelitian ini.
b. Bagi guru, meningkatkan kreativitas mencari model pembelajaran yang efektif digunakan dalam proses pembelajaran untuk memperkaya teori dalam rangka peningkatan kompetensi guru.
c. Bagi siswa, meningkatkan kemampuan, belajar lebih bermakna, pengetahuan yang didapat melalui proses pembelajaran tersebut dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Metode Pemberian Tugas Individu dalam Kerja Kelompok
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan bahwa metode dapat diartikan sebagai cara teratur yang digunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki; cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan;
sikap sekelompok sarjana terhadap bahasa atau linguistik, misal metode preskriptif, dan komparatif; prinsip dan praktik pengajaran bahasa, misal metode langsung dan metode terjemahan.
Sedangkan metode menurut Wikipedia bahasa Indonesia menjelaskan metode berasal dari Bahasa Yunanimethodos yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka, metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan, atau bagaimana cara melakukan atau membuat sesuatu.
Sedangkan untuk pemberian tugas Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Online memberi batasan cara belajar atau mengajar yang menekankan pada pemberian tugas oleh pengajar kepada murid yang harus melakukan tugas yang diberikan kepadanya.
Supriatna, Nana, dkk.(2007:200) mengemukakan bahwa metode pemberian tugas adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru memberikan tugas
11 tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil dari tugas yang dikerjakannya (Partha, 2012).
Roestiyah mengatakan bahwa teknik pemberian tugas memiliki tujuan agar anak didik mendapat hasil belajar yang lebih mantap, karena anak didik melaksanakan latihan-latihan selama melakukan tugas, sehingga pengalaman anak dalam mempelajari sesuatu lebih terintegrasi. (Wijaya, 2012).
Mengacu definisi di atas, metode pemberian tugas dapat diartikan sebagai suatu cara interaksi belajar mengajar dimana guru memberikan tugas agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan laporan sebagai hasil yang telah dikerjakannya di sekolah ataupun di rumah secara perorangan atau berkelompok.
Kekuatan dari penggunaan metode penugasan ini, adalah:
1) Membuat peserta didik aktif belajar
2) Merangsang peserta didik belajar lebih banyak, baik dekat dengan guru maupun pasa saat jauh dari guru di dalam sekolah maupun di luar sekolah
3) Mengembangkan kemandirian peserta didik
4) Lebih menyakitkan tentang apa yang dipelajari dari guru, lebih memperdalam, memperkaya atau memperluas pandangan tentang apa yang dipelajari
5) Membina kebiasaan peserta didik untuk mencari dan mengelolah sendiri informasi dan komunikasi
6) Membuat peserta didik bergairah belajar karena dapat dilakukan dengan bervariasi
7) Membina tanggung jawab dan disiplin peserta didik
8) Mengembangkan kreativitas peserta didik (http://ilmuawan9saja.wordpress.com)
12 Dalam penelitian ini,metode yang dimaksud adalah pemberian tugas secara individu, yakni satu strategi belajar mengajar dimana dalam proses belajar mengajar dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang tiap kelompok terdiri dari 4-5 orang. Penggunaan metode tugas individu mempunyai tujuan agar siswa mampu mengejar ketertinggalan dalam penguasaan materi pelajaran dengan siswa lain dalam upaya mencapai tujuan bersama dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengembangkan rasa perasaan yang sama dengan orang lain dalam kelompoknya maupun antar kelompok.
Adapun yang menjadi pertimbangan dikembangkannya metode ini adalah:
1. Siswa sebagai individu memiliki kemampuan yang berbeda satu sama lain dengan tingkat kemajuan perkembangan yang berbeda pula yang seharusnya dihargai.
2. Setiap siswa sebagai makhluk sosial memiliki dorongan yang kuat untuk menampilkan kekuatannya di depan orang lain dan memiliki kebutuhan berkomunikasi yang sama dengan orang lain.
Tugas guru adalah bagaimana mendesain masing-masing komponen, seperti:
guru, siswa, metode, alat, sarana, tujuan, dan lain-lain agar komponen tersebut saling merespon dan mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya, senantiasa serasi antara komponen yang satu dengan yang lain sehingga tercipta proses belajar mengajar yang lebih optimal.
Menurut Asrofudin metode kerja kelompok ialah kerja kelompok dari beberapa individu yang bersifat pedagogik yang didalamnya terdapat hubungan timbal balik (kerja sama) antara individu serta saling mempercayai.
13 Sedangkan pada blog m.edukasi.web.id Metode kerja kelompok adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan menyuruh pelajar (setelah dikelompok- kelompokkan) mengerjakan tugas tertentu untuk mencapai tujuan pengajaran.
Mereka bekerja sama dalam memecahkan masalah atau melaksanakan tugas.
Sementara pengertian lain disampaikan Jumri Husni dalam blog-nya sebagai berikut kerja kelompok dapat diartikan sebagai suatu kegiatan belajar-mengajar dimana siswa dalam suatu kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi atas kelompok-kelompok kecil untuk mencapai suatu tujuan pengajaran tertentu.
Penggunaan metode kerja kelompok mengacu pada beberapa hal antara lain:
a. Pengelompokan untuk mengatasi kekurangan alat-alat pelajaran b. Pengelompokan atas dasar perbedaan kemampuan belajar c. Pengelompokan atas dasar perbedaan minat belajar d. Pengelompokan untuk memperbesar partisipasi tiap siswa e. Pengelompokan untuk pembagian pekerjaan
f. Pengelompokan untuk belajar bekerja sama secara efisien menuju ke suatu tujuan (http://jumridahusni.blogspot.com)
B. Prestasi Belajar
Pembicaraan di sini dimulai dengan pengertian aktivitas terlebih dahulu.
Kata “Aktivitas” berasal dari Bahasa Inggris ‘activity’ yang artinya ‘state of action, lireliness or ingorous mation’ (Webster’ New American Dictionary: 12). Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia kata ini berarti kebenaran dari perlakuan, kegiatan yang aktif, kegiatan yang aktual atau giat dalam melakukan gerak-gerik, usul.
14 Dalam bahasa Indonesia aktif berarti giat belajar, giat berusaha, dinamis, mampu berkreasi dan beraksi (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 32).
Aktivitas merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa, baik dalam aktivitas jasmani maupun dalam aktivitas rohani. Aktivitas ini jelas merupakan ciri bahwa siswa berkeinginan untuk mengikuti proses. Siswa dikatakan memiliki keaktifan apabila ditemui ciri-ciri seperti berikut (Tim Instruktur PKG, 1992: 2):
1. Antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran 2. Terjadi interaksi siswa dengan guru, siswa dengan siswa 3. Siswa terlibat dan bekerjasama dalam diskusi kelompok 4. Terjadi aktivitas siswa dalam pelaksanaan pembelajaran 5. Siswa berpartisipasi dalam menyimpulkan materi.
Keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar dapat dilihat dari (Nana Sudjana, 2000: http://www.scribd.com/doc/90372008).
1. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya 2. Terlibat dalam pemecahan masalah
3. Bertanya pada siswa lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya
4. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah
5. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai dengan petunjuk guru 6. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya 7. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah yang sejenis
15 8. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam
menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.
Belajar dalam Bahasa Inggris adalah “Study” yang artinya ‘The act of using the mind to require knowledge’ (Webster’ New American Dictionary:
1993).Apabila diartikan dalam Bahasa Indonesia, belajar adalah perbuatan menggunakan ingatan/pikiran untuk mendapatkan/memperoleh pengetahuan.
Belajar artinya berusaha untuk memperoleh ilmu atau menguasai suatu keterampilan; juga berarti berlatih (Kamus Besar Bahasa Indonesia: 27). Selanjutnya belajar juga berarti perubahan yang relatif permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dari praktek yang dilakukannya (Glosarium Standar Proses, Permen Diknas No. 41 tahun 2007).Dari ketiga pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan pikiran untuk memperoleh ilmu.Ini berarti bahwa belajar adalah perbuatan yang dilakukan dari tahap belum tahu ke tahap mengetahui sesuatu yang baru.
Prinsip belajar yang dapat menunjang tumbuhnya cara belajar siswa aktif adalah: stimulus, perhatian dan motivasi, respon, penguatan dan umpan balik (Sriyono, 1992: http://www.scribd.com/doc/903720811). Juga dikatakan bahwa ativitas belajar berupa keaktifan jasmani dan rohani yang meliputi keaktifan panca indra, keaktifan akal, keaktifan ingatan dan keaktifan emosi. Pendapat lain menyatakan bahwa aktivitas belajar dilakukan dalam bentuk interaksi antara guru dengan siswa dan antara siswa siswa dengan siswa lain (Abdul, 2002 dalam http://www.scribd.com/doc/90372081/)
16 Dari kedua pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar sebenarnya merupakan cara yang membuat siswa aktif, baik dengan penggunaan cara simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan jasmani dan rohani siswa sehingga muncul interaksi antar siswa dengan guru begitu juga interaksi antara siswa yang satu dengan siswa lainnya.
Dengan menggabungkan semua pendapat yang telah disampaikan serta pengertian-pengertian tentang belajar dapat disimpulkan bahwa belajar adalah penggunaan ingatan atau pikiran untuk memperoleh pengetahuan baru yang belum diketahui sebelumnya dengan penggunaan cara-cara tertentu seperti simulasi, respon, motivasi, penguatan, umpan balik yang dapat membangkitkan keaktifan siswa baik jasmani maupun rohani yang dapat membangkitkan interaksi antara siswa dengan guru serta siswa dengan siswa lainnya.
Prestasi belajar berasal dari kata “prestasi” dan “belajar”.Prestasi berarti hasil yang telah dicapai sedangkan belajar adalah berusaha memperoleh kepandaian/ilmu (Depdiknas, 2011: 4).
Prestasi belajar Matematikasama dengan prestasi belajar bidang studi yang lain merupakan hasil dari proses belajar siswa dan sebagaimana biasa dilaporkan pada wali kelas, murid dan orang tua siswa setiap akhir semester atau akhir tahun ajaran.
Prestasi belajar mempunyai arti dan manfaat yang sangat penting bagi anak didik, pendidik, orang tua/wali murid dan sekolah, karena nilai atau angka yang diberikan merupakan manifestasi dari prestasi belajar siswa dan berguna dalam pengambilan keputusan atau kebijakan terhadap siswa yang bersangkutan maupun
17 sekolah.Prestasi belajar merupakan kemampuan siswa yang dapat diukur, berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dicapai siswa dalam kegiatan belajar mengajar.
Djamarah (1994:23) mendefinisikan prestasi belajar sebagai hasil yang diperoleh berupa kesan-kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.Kalau perubahan tingkah laku adalah tujuan yang mau dicapai dari aktivitas belajar, maka perubahan tingkah laku itulah salah satu indikator yang dijadikan pedoman untuk mengetahui kemajuan individu dalam segala hal yang diperolehnya di sekolah. Dengan kata lain prestasi belajar merupakan kemampuan-kemampuan yang dimiliki oleh siswa sebagai akibat perbuatan belajar atau setelah menerima pengalaman belajar, yang dapat dikatagorikan menjadi tiga ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Bertolak dari hal tersebut di atas, maka faktor-faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar menurut Purwanto (2000: 102) antara lain: (1) faktor yang ada pada diri organisme itu sendiri yang dapat disebut faktor individual, seperti kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi, (2) faktor yang ada diluar individu yang disebut faktor sosial, seperti faktor keluarga/keadaan rumah tangga, guru dan cara mengajamya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar-mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia dan motivasi sosial. Dalam penelitian ini faktor ke 2 yaitu faktor yang dari luar seperti guru dan cara mengajarnya yang akan menentukan prestasi belajar siswa.
Guru dalam hal ini adalah kemampuan atau kompetensi guru, pendidikan dan lain- lain. Cara mengajarnya itu merupakan faktor kebiasaan guru itu atau pembawaan
18 guru itu dalam memberikan pelajaran.Juga dikatakan oleh Slamet (2003: 54-70) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstem.
Faktor intern diklasifikasi menjadi tiga faktor yaitu: faktor jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan. Faktor jasmaniah antara lain: kesehatan, cacat tubuh. Faktor psikologis antara lain: intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, kesiapan. Faktor kelelahan antara lain: kelelahan jasmani dan rohani.
Sedangkan faktor ekstern digolongkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah, faktor masyarakat. Faktor keluarga antara lain: cara orang tua mendidik, relasi antara keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga. Faktor sekolah antara lain: metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Faktor masyarakat antara lain: kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, bentuk kehidupan masyarakat. Peningkatan prestasi belajar yang penulis teliti dalam hal ini dipengaruhi oleh factor ekstern yaitu metode mengajar guru.
Sardiman (1988: 25) menyatakan prestasi belajar sangat vital dalam dunia pendidikan, mengingat prestasi belajar itu dapat berperan sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi.Adapun peran sebagai hasil penilaian dan sebagai alat motivasi diuraikan seperti berikut.
Dalam pembahasan sebelumnya telah dibicarakan bahwa prestasi belajar adalah hasil penilaian pendidikan tentang kemajuan prestasi siswa setelah melakukan aktivitas belajar. Ini berarti prestasi belajar tidak akan bisa diketahui
19 tanpa dilakukan penilaian atas hasil aktivitas belajar siswa. Fungsi prestasi belajar bukan saja untuk mengetahui sejauhmana kemajuan siswa setelah menyelesaikan suatu aktivitas, tetapi yang lebih penting adalah sebagai alat untuk memotivasi setiap siswa agar lebih giat belajar, baik secara individu maupun kelompok. Dalam pembahasan ini akan dibicarakan mengenai prestasi belajar sebagai hasil penilaian dan pada pembahasan berikutnya akan dibicarakan pula prestasi belajar sebagai alat motivasi. Prestasi belajar sebagai hasil penilaian sudah dipahami.Namun demikian untuk mendapatkan pemahaman, perlu juga diketahui, bahwa penilaian adalah sebagai aktivitas dalam menentukan rendahnya prestasi belajar itu sendiri.
Mohammad Surya (2004), mengatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, antara lain dari sudut si pebelajar, proses belajar dan dapat pula dari sudut situasi belajar.
Bila kita coba lihat lebih dalam dari pendapat di atas, maka prestasi belajar dipengaruhi banyak faktor.Faktor-faktor dari si pebelajar sendiri atau faktor dalam diri siswa dan faktor luar. Faktor dalam diri siswa seperti IQ, motivasi, etos belajar, bakat, keuletan, dan lain-lain sangat berpengaruh pada prestasi belajar siswa.
Penjelasan Surya selanjutnya adalah: dari sudut si pembelajar (siswa), prestasi belajar seseorang dipengaruhi antara lain oleh kondisi kesehatan jasmani siswa, kecerdasan, bakat, minat, motivasi, penyesuaian diri dan kemampuan berinteraksi siswa. Sedangkan yang bersumber dari proses belajar, maka kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran sangat menentukan prestasi belajar siswa. Guru yang menguasai materi pelajaran dengan baik, menggunakan metode dan media pembelajaran yang tepat, mampu mengelola kelas dengan baik
20 dan memiliki kemampuan untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar siswa untuk belajar, akan memberi pengaruh yang positif terhadap prestasi belajar siswa.
Sedangkan situasi belajar siswa, meliputi situasi lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat sekitar.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan belajar yang berbentuk angka sebagai simbol dari ketuntasan belajar bidang studi sejarah.Prestasi belajar ini sangat dipengaruhi oleh factor luar yaitu guru dan metode.Hal inilah yang menjadi titik perhatian peneliti di lapangan.
C. Mastery learning
Pendekatan mastery learningatau yang dalam bahasa Indonesianya disebut pembelajaran tuntas adalah salah satu usaha dalam pendidikan yang bertujuan untuk memotivasi peserta didik mencapai penguasaan (mastery level) terhadap kompetensi tertentu. Dengan menerapkan strategi pembelajaran tuntas dalam proses pembelajaran merupakan salah satu pendukung utama dalam pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi, berarti pembelajaran tuntas merupakan sesuatu yang harus dipahami dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh warga sekolah secara tuntas, jika ada yang masih tertinggal maka guru harus melaksanakan suatu upaya pemberian perlakuan khusus untuk membantu anak tersebut mengejar ketertinggalannya dalam penguasaan materi atau suatu kompetensi. Dengan demikian semua anak baik yang pintar ataupun yang kurang dapat menguasai kompetensi yang dipersyaratkan dengan baik.
21 Dalam pendekatan pembelajaran selama ini, hal yang disampaikan di atas agak terabaikan, terkadang guru sangat bangga dengan siswanya yang masuk kategori pintar sehingga menjadi perhatian lebih, sedangkan murid yang biasa saja, kurang mendapat perhatian.
Sehubungan dengan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa perbedaan antara pembelajaran tuntas dengan pembelajaran konvensional adalah bahwa pembelajaran tuntas dilakukan melalui asas-asas ketuntasan belajar, sedangkan pembelajaran konvensional pada umumnya kurang memperhatikan ketuntasan belajar khususnya ketuntasan peserta didik secara individual.
Untuk memperjelas perbedaan kedua jenis pembelajaran tersebut Ahmad Sudrajat dalam blognya membuat perbandingan ke dua pola tersebut pada Tabel berikut.
Tabel 01. Perbandingan Kualitatif antara Pembelajaran Tuntas dengan Pembelajaran Konvensional
Pembelajaran Tuntas Pembelajaran Konvensional A. Persiapan
Tingkat ketuntasan
• Diukur dari performance peserta didik dalam setiap unit (satuan kompetensi atau kemampuan dasar
• Setiap peserta didik harus mencapai nilai 75 Diukur dari performance peserta didik yang dilakukan secara acak
Satuan Acara Pembelajaran
• Dibuat untuk satu minggu pembelajaran, dan dipakai sebagai pedoman guru serta diberikan kepada peserta didik.
• Dibuat untuk satu minggu pembelajaran, dan hanya dipakai sebagai pedoman guru
Pandangan terhadap kemampuan peserta didik
• Kemampuan hampir sama, namun tetap ada variasi
• Kemampuan peserta didik dianggap sama
B. Pelaksanaan pembelajaran Bentuk pembelajaran
• Dilaksanakan melalui pendekatan klasikal, kelompok dan individual
• Dilaksanakan sepenuhnya melalui pendekatan klasikal
22 Cara pembelajaran
• Pembelajaran dilakukan melalui penjelasan guru (lecture), membaca secara mandiri dan terkontrol, berdiskusi, dan belajar secara individual
• Dilakukan melalui mendengarkan (lecture), tanya jawab, dan membaca (tidak terkontrol)
Orientasi pembelajaran
• Pada terminal performance peserta didik (kompetensi atau kemampuan dasar) secara individual
• Pada bahan pembelajaran
Peranan guru
• Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individual
• Sebagai pengelola pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan seluruh peserta didik dalam kelas
Fokus kegiatan pembelajaran
• Ditujukan kepada masing-masing peserta didik secara individual
• Ditujukan kepada peserta didik dengan kemampuan menengah Penentuan keputusan mengenai satuan pembelajaran
• Ditentukan oleh peserta didik dengan bantuan guru
• Ditentukan sepenuhnya oleh guru C. Umpan Balik
Instrumen umpan balik
• Menggunakan berbagai jenis serta bentuk tagihan secara berkelanjutan
• Lebih mengandalkan pada penggunaan tes objektif untuk penggalan waktu tertentu
Cara membantu peserta didik
• Menggunakan sistem tutor dalam diskusi kelompok (small-group learning activities) dan tutor yang dilakukan secara individual
• Dilakukan oleh guru dalam bentuk tanya jawab secara klasikal
Sumber: http://akhmadsudrajat.wordpress.com
Supaya pembelajaran tuntas dapat berlangsung secara terstruktur Winkel (dalam blog Murni) menyarankan sebagai berikut:
a. Tujuan-tujuan pembelajaran yang harus dicapai ditetapkan secara tegas. Semua tujuan dirangkaikan dan materi pelajaran dibagi atas unit-unit pelajaran yang diurutkan, sesuai dengan rangkaian semua tujuan pembelajaran.
b. Siswa dituntut supaya mencapai tujuan pembelajaran lebih dahulu, sebelum siswa diperbolehkan mempelajari unit pelajaran yang baru untuk mencapai
23 tujuan pembelajaran. Jadi siswa dilarang untuk mempelajari pokok bahasan berikutnya sebelum siswa tersebut mamahami pokok bahasan sebelumnya.
c. Ditingkatkan motifasi belajar siswa dan efektivitas usaha belajar siswa, dengan memonitor proses belajar siswa melalui testing berkala dan kontinyu, serta memberikan umpan balik kepada siswa mengenai keberhasilan atau kegagalannya pada saat itu juga.
d. Memberikan bantuan atau pertolongan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan (http://murni-uni.blogspot.com)
Sedangkan Ahmadi, Abu, dkk. (2005) yang dikutif dari blog Ahmad mengemukakan ada beberapa ciri belajar tuntas (mastery learning), yaitu:
1) Siswa dapat belajar dengan baik dalam kondisi pengajaran yang tepat sesuai dengan harapan pengajar; 2) Bakat seorang siswa dalam bidang pengajaran dapat diramalkan, baik tingkatannya maupun waktu yang dibutuhkan untuk mempelajari bahan tersebut. Bakat berfungsi sebagai indeks tingkatan belajar siswa dan sebagai suatu ukuran satuan waktu; 3) Tingkat hasil belajar bergantung pada waktu yang digunakan secara nyata oleh siswa untuk mempelajari sesuatu dibandingkan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mempelajarinya; 4) Tingkat belajar sama dengan ketentuan, kesempatan belajar bakat, kualitas pengajaran, dan kemampuan memahami pelajaran; 5) Setiap siswa memperoleh kesempatan belajar yang berdiferensiasi dan kualitas pengajaran yang berdiferensiasi pula.
(http://pgmionemode.blogspot.com).
D. Kerangka Berpikir
24 Untuk bisa memenuhi tuntutan belajar, Mastery learning bukanlah merupakan metode yang sederhana untuk dikerjakan. Untuk ini guru harus betul- betul aktif, betul-betul membuat persiapan yang matang dan memerlukan pelatihan yang sangat baik.
Para pengembang konsep belajar tuntas mendasarkan pengembangan pengajarannya pada prinsip-prinsip sebagai berikut:1) Sebagian besar siswa dalam situasi dan kondisi belajar yang normal dapat menguasai sebagian terbesar bahan yang diajarkan. Tugas guru untuk merancang pengajarannya sedemikian rupa sehingga sebagian besar siswa dapat menguasai hampir seluruh bahan ajaran; 2) Guru menyusun strategi pengajaran tuntas mulai dengan merumuskan tujuan-tujuan khusus yang hendak dikuasai oleh siswa;3) Sesuai dengan tujuan-tujuan khusus tersebut guru merinci bahan ajar menjadi satua-satuan bahan ajaran yang kecil yang medukung pencapaian sekelompok tujuan tersebut; 4) Selain disediakan bahan ajaran untuk kegiatan belajar utama, juga disusun bahan ajaran untuk kegiatan perbaikan dan pengayaan. Konsep belajar tuntas sangat menekankan pentingnya peranan umpan balik; 5) Penilaian hasil belajar tidak menggunakan acuan norma, tetapi menggunakan acua patokan; 6) Konsep belajar tuntas juga memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan individual (dikutif dari http://pgmionemode.blogspot.combersumber dari (Sukmadinata, Nana Syaodih, 2005).
Prinsip ini direalisasikan dengan memberikan keleluasaan waktu, yaitu siswa yang pandai atau cepat belajar bisa maju lebih dahulu pada satuan pelajaran berikutnya, sedang siswa yang lambat dapat menggunakan waktu lebih banyak atau
25 lama sampai menguasai secara tuntas bahan yang diberikan.Kemampuan yang akan ditelorkan oleh siswa dituntun dengan baik oleh guru, diberi bimbingan, diberi penugasan-penugasan secara individu, dan siswa dibiasakan untuk mengulangi pelajaran di setiap kesempatan. Dasar berpikir seperti inilah yang diharapkan akan dapat memecahkan masalah yang ada.
E. Hipotesis Tindakan
Rumusan hipotesis yang dapat disampaikan dalam penelitian ini adalah:model pembelajaran mastery learning dengan pemberian tugas individu dapat meningkatkan prestasi belajar matemtika pada siswa kelas IV Semester II SD Negeri 1 PacungTahun Pelajaran 2019/2020.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat Penelitian
26 Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Pacung , Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng. Lingkungan sekolah ini aman, indah, rindang, dan sejuk.
B. Rancangan Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang direncanakan akan berlangsung selama 2 siklus, dimana setiap siklusnya terdiri dari tiga kali pelaksanaan tindakan.
Dalam melaksanakan penelitian tindakan, rancangan penelitian mengikuti rancanganyang telah diujicobakan terlebih dahulu oleh para ahli.Dalam penelitian ini, penulis memilih rancangan penelitian tindakan yang disampaikan oleh Arikunto,Suharsimisebagai berikut:
Gambar: 01 Alur Penelitian Tindakan kelas 1. Perencanaan
Pada tahap ini peneliti membuat RPP, berkonsultasi dengan teman sejawat membuat instrumen.
Permasalahan
Permasalahan baru hasil refleksi
Apabila permasalahan
belum terselesaikan
Perencanaan Tindakan I
Pelaksanaan Tindakan I
Refleksi Pengamatan/
Pengumpulan
Perencanaan Tindakan II
Pelaksanaan Tindakan II
Refleksi II Pengematan/
Pengumpulan Data II Dilanjutkan ke
siklus berikutnya
27 Pada tahap menyusun rancangan diupayakan ada kesepakatan antara guru dan sejawat. Rancangan dilakukan bersama antara peneliti yang akan melakukan tindakan dengan guru lain yang akan mengamati proses jalannya tindakan. Hal tersebut untuk mengurangi unsur subjektivitas pengamat serta mutu kecermatan pengamatan yang dilakukan.
2. Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan dengan pembelajaran di kelas.Pada tahap ini guru / peneliti giat melakukan tindakan menggunakan metode ajar.Rancangan tindakan tersebut sebelumnya telah dilatih untuk dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenarionya.Skenario dari tindakan diupayakan dilaksanakan dengan baik.
3. Pengamatan atau observasi
Tahap ini sebenarnya berjalan bersamaan dengan saat pelaksanaan.
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, jadi, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama.
Pada tahap ini,guru yang bertindak sebagai peneliti melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan tes prestasi belajar yang telah tersusun, termasuk juga pengmatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu serta dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa, bias dilakukan setelah proses selesai.
4. Refleksi
28 Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan berikutnya.
Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dari proses refleksi maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan dapat teratasi.
C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian
Menjadi subjek dalam penelitian ini adalah semua siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung. Untuk jelasnya terlihat pada tabel berikut.
Tabel 02. Nama-nama Siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung
NO NAMA SISWA
1 I Komang Ketut Andika 2 I Gede Rian
3 Ni Komang Anggreni Putri 4 Ni Kadek Dwi Ariani 5 I Wayan Galang Dirgayusa 6 Ni Kadek Noviani
7 I Nengah Resky Editya Marta 8 Ni Ketut Serina
9 Ni Kadek Sinta Yunita Ariantini 10 I Gede Sudiarna
11 Ni Luh Susila Dewi
29 12 I Komang Wirayadnya
13 Ni Kadek Michelle Wiyda Pratiwi
2. Objek Penelitian
Yang menjadi objek penelitian ini adalah peningkatan prestasi belajar Matematika siswa Kelas IV SD Negeri 1 Pacung setelah diterapkan pemberian tugas dalam kerja kelompok menggunakan model Mastery learning dalam proses pembelajaran.
D. Waktu Penelitian
Pelaksanaan penelitian direncanakan berlangsung dari bulan Pebruari sampai bulan juni .Sebagai gambaran dari pelaksanaan penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 03. Jadwal Penelitian
No Kegiatan Februari 2019 Maret 2019 April 2019 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1.
Penyusunan proposal dan
pelaksanaan kegiatan awal
15 22
2. Perencanaa n tindakan I 3. Pelaksanaan
tindakan I 4.
Pengamatan /pengumpul an data I 5. Refleksi I 6.
Perencanaa n tindakan II
30 7. Pelaksanaan
tindakan II 8.
Pengamatan /pengumpul an data II 9. Refleksi II 10.
Penulisan laporan/penj ilidan
E. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dengan menggunakan tes prestasi belajar.
F. Metode Analisis Data
Data yang telah diperoleh kemudian peneliti analisis menggunakan metode analisis deskriptif. Untuk data kuantitatif dianalisis dengan mencari mean, median, modus, membuat interval kelas dan melakukan penyajian dalam bentuk tabel dan grafik.
G. Kisi-kisi dan Instrumen Penelitian 1. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar
Tabel 04. Kisi-kisi Tes Prestasi Belajar Bidang Studi Matematika N
o
Standar Kompetensi
Kompetensi
Dasar Materi Indikator Bentuk
Tes 1 Menjumlahkan
dan
mengurangkan bilangan bulat
Mengurutkan bilangan bulat
Bilangan bulat
▪ Mengenal bilangan bulat negatif dalam kehidupan sehari-hari
▪ Membaca dan menulis
bilangan bulat
▪ Menentukan
PG
31 letak bilangan bulat dalam garis bilangan Menjumlahkan
dan
mengurangkan bilangan bulat
Mengurutkan bilangan bulat
Bilangan bulat
▪ Membandingk
an dua
bilangan bulat
▪ Mengurutkan sekelompok bilangan bulat dari kecil ke besaratau sebaliknya
PG
Menjumlahkan dan
mengurangkan bilangan bulat
Menjumlahka n bilangan bulat
Operasi hitung bilangan bulat
▪ Menunjukkan letak bilangan bulat pada garis bilangan
▪ Menjumlahka n bilangan bulat positif dan positif
PG
Menjumlahkan dan
mengurangkan bilangan bulat
Menjumlahka n bilangan bulat
Operasi hitung bilangan bulat
▪ Menjumlahka n bilangan bulat positif dan negative
▪ Menjumlahka n bilangan bulat negatif dan positif
▪ Menjumlahka n bilangan bulat negatif dan negatif
PG
2. Instrumen Penelitian
32 Sudah terlampir pada masing-masing RPP. Untuk evaluasi setiap akhir siklus dibuat soal dalam bentuk pilihan ganda sebanyak 10 soal dengan bobot tiap soal adalah 10 sehingga skor maksimal menjadi 100.
H. Indikator Keberhasilan Penelitian
Dalam penelitian ini diusulkan tingkat keberhasilan per siklus yaitu pada prestasi belajar anak diharapkan pada siklus I mencapai rata-rata 70 dengan nilai ketuntasan 70% dan pada siklus II mencapai nilai rata-rata 70 atau lebih dengan nilai ketuntasan belajar minimal 75% atau lebih.
BAB IV
33 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Pada bagian ini, akan dipaparkan data yang diperoleh dari penelitian tindakan ini secara rinci berdasarkan penelitian yang dilakukan di SD Negeri 1 Pacung. Sebelum menyampaikan hasil-hasil penelitian ada baiknya dilihat dahulu pendapat para ahli pendidikan berikut: dalam menyampaikan hasil penelitian dan pembahasan, perlu menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi yang berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan dan kelemahan yang terjadi. Perlu ditambahkan hal yang mendasar, yaitu hasil pembahasan (kemajuan) pada diri siswa, lingkungan, guru, motivasi dan aktivits belajar, situasi kelas dan hasil belajar, kemukakan grafik dan tabel hasil analisis data yang menunjukkan perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistimatis dan jelas (Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 83). Bedasrkan paparan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini yang harus diperhatikan adalah perencanaan, hasilnya apa, bagaimana pelaksanaanya, apa hasil yang dicapai, sampai pada refleksi berikutnya semua hasilnya. Oleh karenanya pembicaraan pada bagian ini dimulai dengan apa yang dilakukan dari bagian perencanaan.
1. Siklus I
34 1) Rencana Tindakan I
Hasil yang didapat dari kegiatan perencanaan meliputi:
a. Peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang akan dilaksanakan dengan metode Mastery learning sepeti terlihat pada lampiran RPP ini mengikuti aturan Permen No. 41 tahun 2007 yang merupakan standar yang mesti diikuti guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran inti, teori-teori mastery learning dimasukkan mengikuti skenario pembelajaran seperti:
penyediaan ruangan yang nyaman, upaya kegiatan-kegiatan yang menggembirakan, membuat pembelajaran lebih sederhana, mengupayakan siswa lebih pada berbicara gerak tubuh, perintah-perintah yang berhubungan dengan hal-hal tersebut, mengikuti tujuan pembelajaran yang sudah direncanakan, informasi yang banyak, materi pengakuan-pengakuan atas keberhasilan siswa, perayaan atas keberhasilan siswa untuk umpan balik dan motivasi peningkatan hasil belajar, apersepsi yang banyak, memberikan siswa pengalaman nyata, sesuai biar dialami sendiri oleh siswa, mengupayakan kata kunci, model, metode, strategi yang bisa membantu siswa, demonstrasi yang lebih mendominir agar siswa dapat mengekspresikan kemampuan mereka, pengulangan-pengulangan, penguatan-penguatan sangat diperlukan, memberdayakan seluruh kemampuan dan potensi yang ada, rancangan belajar terus dinamis, penghargaan bagi kemampuan siswa mengupayakan pembelajaran selaras dengan kerta otak manusia,
35 mengupayakan bermacam-macam interaksi, mengupayakan agar pembelajaran menjadi bermakna, tujuan yang sangat efektif. Dengan kegiatan pembelajaran seperti itu dapat diketahui beberapa kemajuan.
Berdasar hasil awal kemampuan siswa Kelas IV yang tertera pada latar belakang, peneliti merencanakan kegiatan yang lebih intensif seperti berkonsultasi dengan teman-teman guru dan kepala sekolah tentang persiapan pelaksanaan pembelajaran menggunakan metode Mastery learning .
b. Menentukan waktu pelaksanaan, yang menyangkut hari, tanggal, sesuai dengan jadwal penelitian.
c. Meminta kepada teman-teman guru bidang studi sejenis dan kepala sekolah sebagai mitra kesejawatan dalam pelaksanaan RPP ikut serta mengawasi jalannya proses pembelajaran yang sudah direncanakan.
Hasilnya adalah kesiapan teman-teman guru untuk ikut melaksanakan supervisi kunjungan kelas.
d. Menentukan yang menjadi prinsip supervisi teknik kunjungan kelas.
Hasilnya adalah format-format perencanaan teknik kunjungan kelas untuk penilaian guru.
e. Memperbanyak jumlah/frekuensi kunjungan kelas dalam siklus berikutnya sehingga kedekatan supervisor dengan guru dan siswa akan terjalin dengan baik.
36 f. Merencanakan bahan pelajaran dan merumuskan tujuan. Menentukan bahan pelajaran, dengan cara menyesuaikan dengan silabus yang berlaku dan penjabarannya dengan cukup baik.
g. Memilih dan mengorganisaasikan materi, media, dan sumber belajar.
Pada siklus pertama ini, peneliti mengorganisasikan materi pembelajaran dengan baik. Urutan penyampaiannya dari yang mudah ke yang sulit, cakupan materi cukup bermakna bagi siswa, menentukan alat bantu mengajar. Sedangkan dalam penentuan sumber belajar sudah disesuaikan dengan tujuan, materi pembelajaran dan tingkat perkembangan peserta didik.
h. Merancang skenario pembelajaran.
Skenario pembelajaran disesuikan dengan tujuan, materi dan tingkat perkembangan siswa, diupayakan variasi dalam penyampaian. Susunan dan langkah-langkah pembelajaran sudah disesuaikan dengan tujuan, materi, tingkat perkembangan siswa, waktu yang tersedia, sistematiknya adalah menaruh siswa dalam posisi sentral, mengikuti perubahan strategi pendidikan dari pengajaran ke pembelajaran sesuai Permen Diknas No.
41 Tahun 2007.
2) Pelaksanaan Tindakan I
Sebagai upaya Trianggulasi, pada pelaksanaan pembelajaran mastery learning ini peneliti mengajak seorang guru ke kelas untuk memantau kebenaran pelaksanaan pembelajaran mastery learning. Guru sudah diberitahu sebelumnya tentang kebenaran model pembelajaran mastery
37 learning sehingga memiliki kemampuan untuk mengamati proses. Selama
pelaksanaan tindakan I ini ada beberapa hal yang bisa dicatat yaitu:
a. Pengelolaan Kelas
Mengelola kelas dengan persiapan yang matang menggunakan model pembelajaran mastery learning , mengajar materi dengan benar sesuai perencanaan di RPP adan alur pembelajaran Mastery learning .
b. Penampilan
Penampilan secara umum, peneliti berpakaian rapi, menggunakan bahasa yang santun, menuntun siswa semaksimal mungkin dengan penggunaan metode Mastery learning sesuai alur pembelajaran ini yang sudah disampaikan pada hasil perencanaan.
3) Observasi/Pengamatan
Pengamatan yang dilakukan sangat bervariasi. Data yang diperoleh dari kegiatan observasi yang dilakukan peneliti akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan peneliti dalam menerapkan model pembelajaran mastery Learning mengingat semua kelemahan peneliti akan teramati dengan baik. Apabila peneliti hubungkan dengan yang disebut variabel penyela atau variabel intervening dimana ada hal-hal tertentu yang bisa mempengaruhi hubungan antara variabel bebas yaitu model pembelajaran mastery Learning dengan variabel terikat yaitu pretasi belajar. Hal tertentu yang dibicarakan adalah kebenaran pelaksanaan model pembelajaran mastery Learning. Apabila pelaksanaannya tidak benar sudah tentu akan berpengaruh terhadap hasil belajar.
38 Hal tersebut peneliti lakukan demi adanya upaya inovasi agar tulisan ilmiah ini lebih berdaya guna dan berhasil guna. Penekanan pada kegiatan intelektual; memproses pengalaman belajar menjadi sesuatu yang bermakna dalam kehidupan nyata; membiasakan anak lebih produktif, analitis, kritis;
penggunaan metode, teknik, dan strategi yang memungkinkan anak mencari dan menemukan jawaban sendiri secara optimal. Selain itu, model ini menuntut kemampuan pemecahan masalah untuk peningkatan kepuasan intelektual, mempertajam proses ingatan untuk penguasan lebih lama, pembelajaran lebih terpusat pada anak , pengembangan konsep diri dan bakat akademik, menghindarkan diri dari belajar dengan hafalan, menumbuhkan kemampuan mengasimilasi dan mengakomodasi informasi. Langkah-langkah pembelajarannya adalah: a) merumuskan pertanyaan untuk dapat melakukan penelitian, b) mencek apakah hasil pengamatan anak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan, c) pengumpulan data/informasi, d) mengnalisis informasi, e) membuat simpulan-simpulan berdasar hasil analisis informasi. Dari semua pengertian di atas, penulis sudah menyiapkan instrumen untuk ketepatan pelaksanaan yang dibawa oleh guru dan anak yang mengamati proses pembelajaran.
Hasil Pengamatan/ obsertvasi / pengumpulan data disampaikan pada tabel berikut:
39 Tabel 05. Prestasi Belajar Siswa Kelas IV Semester II Tahun pelajaran
2020/2021 Siklus I
NomorSubjek Penelitian Nilai Keterangan
1. 80 Tuntas
2. 60 Belum Tuntas
3. 70 Tuntas
4. 70 Tuntas
5. 60 Belum Tuntas
6. 70 Tuntas
7. 70 Tuntas
8. 70 Tuntas
9. 70 Tuntas
10. 70 Tuntas
11. 60 Belum Tuntas
12. 70 Tuntas
13. 60 Belum Tuntas
Jumlah Nilai 880
Rata-rata (Mean) 67,69
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) 70 Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi 4 Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan 9 Prosentase Ketuntasan Belajar 69,23%
4) Refleksi Siklus I
Sebelum memulai refleksi, ada baiknya melihat pendapat para pakar pendidikan tentang apa yang dimaksud dengan refleksi. Pendapat ini akan merupakan panduan terhadap cara atau hal-hal yang perlu dalam menulis refleksi. Refleksi merupakan kajian secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan berdasarkan data yang telah terkumpul, kemudian dilakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan.Refleksi menyangkut analisis,
40 sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan (Hopkin, 1993 dalam Suharsimi Arikunto, Suhardjono, Supardi, 2006: 80).
1) Analisis kuantitatif prestasi belajar siswa siklus I
a. Rata-rata (mean) yang diperoleh dari jumlah nilai : jumlah anak.
Nilai tersebut adalah 13
880 = 67,69
b.Median (titik tengah) dicari dengan mengurut data/ nilai siswa dari yang terkecil sampai yang terbesar. Jika datanya ganjil ambil satu di tengah. Jika datanya genap ambil dua data di tengah, kemudian dijumlahkan dan dibagi dua. Angka tersebut adalah 70,00
c. Modus (angka yang paling banyak/paling sering muncul) setelah data diasccending/ diurut. Angka yang paling sering muncul adalah 70,00.
d. Untuk persiapan penyajian dalam bentuk grafik maka hal-hal berikut dihitung terlebih dahulu.
1. Banyak kelas ( K ) = 1 + 3,3 X Log (N) = 1 + 3,3 X Log 13 = 1 + (3,3 X 1.11 ) = 1 + 3.66 = 4.66 → 4
2. Rentang kelas (r) = skor maksimum – skor minimum = 80 - 60
= 20 3. Panjang interval (i) = r/K = 20/4 = 5 → 5
41 Tabel 06.data kelas interval
No Interval Nilai Frekuensi Frekuensi
Urut Tengah Absolut Relatif
1 60 ─ 64 62 4 30.77
2 65 ─ 69 67 0 0.00
3 70 ─ 74 72 8 61.54
4 71 ─ 77 74 0 0.00
5 78 ─ 84 81 1 7.69
6 85 ─ 91 88 0 0.00
7 92 ─ 98 95 0 0.00
Total 13 100.00
Frekuensi Relatif = 𝐹𝐴𝑏𝑠𝑜𝑙𝑢𝑡
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑥 100 Penyajian dalam bentuk grafik/histogram
Grafik 01. Histogram Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika
Siswa Kelas IV Semester II SD Negeri 1 Pacung Tahun Pelajaran 2019/2020 Siklus I
0 1 2 3 4 5 6 7 8
59.5-64.5 64.5-69.5 69.5-74.5 70,5-77,5
4
0 8
0
FREKUENSI ABSOLUT
NILAI
42 2. Siklus II
1. Perencanaan
Dengan melihat semua hasil yang didapat pada siklus I, baik refleksi data kualitatif maupun refleksi data kuantitatif, maka untuk perencanaan pelaksanaan penelitian di siklus II ini ada beberapa hal yang perlu dilakukan yaitu:
a. Peneliti merencanakan kembali jadwal untuk melakukan pembelajaran di kelas dengan melihat jadwal penelitian pada Bab III dan waktu dalam kalender pendidikan. Hasil dari refleksi siklus I merupakan dasar dari pembuatan perencanaan di siklus ini.
b. Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran yang baik yang mengacu ke pembelajaran Mastery learning namun model RPP-nya tetap mengikuti Permen No. 41 tahun 2007 serta membuat instrumen pengumpulan data. Instrumen pengumpulan data yang dibuat seperti instrumen-instrumen sebelumnya yang meliputi instrumen observasi keaktifan belajar dan format observasi dan tes prestasi belajar.
c. Bersama guru merancang skenario penerapan pembelajaran dengan melihat kekurangan-kekurangan yang ada pada siklus I dengan mengidentifikasi hal-hal yang bisa dilakukan untuk peningkatan pembelajaran. Untuk hal ini, semua catatan tentang kekurangan yang ada di siklus I yang merupakan hasil refleksi disampaikan pada guru untuk dipelajari. Memberitahu guru apa-apa yang perlu dilaksanakan, apa saja