BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
B. Konsep Kelas dalam Masyarakat
1. Masyarakat
angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada. Akan tetapi, secara teoritas, angka minimumnya ada dua orang yang hidup bersama.
2) Bercampur dengan waktu yang cukup lama. Manusia berkumpul akan menimbulkan manusia baru, Manusia juga dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti; mempunyai keinginan-keinginan untuk menyampaikan kesan-kesan atau perasaan-perasaannya, sebagai akibat hidup bersama itu, timbullah sistem komunikasi dan timbul peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antarmanusia dengan kelompok tersebut.14
3) Mereka sadar bahwa mereka suatu kesatuan.
4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. Sistem kehidupannya bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lain.15
b) Abu Ahmadi menambahkan bahwa ciri-ciri masyarakat sebagai berikut :
13
Ibid., h. 118
14
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2012), Cet. 44, h. 22
15
15
1) Harus ada pengumpulan manusia dan harus banyak, bukan pengumpulan binatang;
2) Telah bertempat tinggal dalam waktu yang lama di suatu daerah tertentu;
3) Adanya aturan-aturan atau undang-undang yang
mengatur mereka untuk menuju kepada kepentingan dan tujuan bersama.16
Berdasarkan ciri-ciri di atas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat adalah kumpulan orang yang di dalamnya hidup bersama dalam waktu cukup lama, memiliki kesadaran bahwa mereka satu kesatuan, dan menciptakan nilai, norma, dan kebudayaan bagi kehidupan mereka.
c. Lapisan masyarakat (Stratifikasi Sosial) 1) Pengertian Kelas Sosial
Di dunia tentunya kita akan menjumpai masyarakat yang bervariasi dan dalam suatu masyarakat pasti ada sesuatu yang dihargai oleh masyarakat. Bagi negara agraris, tanah merupakan sesuatu yang paling dihargai, sedangkan bagi masyarakat industri uang yang paling di hargai, dan untuk masyarakat kota, pendidikan hal yang paling dihargai. Dari sumber-sumber tersebut baik tanah, uang, maupun pendidikan tinggi akan menempati lapisan atas dalam suatu masyarakat.17
Dalam ilmu sosiologi, pelapisan sosial dalam masyarakat lebih dikenal dengan istilah stratifikasi sosial. Stratifikasi berasal dari kata stratum (jamaknya adalah strata yang berarti lapisan).18
Menurut Soerjono Soekanto dalam J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, menjelaskan bahwa di dalam setiap masyarakat di mana pun selalu dan pasti mempunyai sesuatu yang dihargai. Baik berupa kekayaan, ilmu pengetahuan, status
16
Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2009), Cet.5, h. 107
17
Yesmil Anwar dan Adang, Sosiologi untuk Universitas, (Bandung: PT Refika Aditama, 2013), h. 215
18
16
haji, status “darah biru” atau keturunan keluarga tertentu yang terhormat, atau apa pun yang bernilai ekonomis. Namun, di berbagai masyarakat tentunya sesuatu yang dihargai tidaklah selalu sama. Misalnya, di lingkungan masyarakat pedesaan bahwa tanah dan sawah lebih berharga dibandingkan gelar pendidikan akademis atau perguruan tinggi, sedangkan di masayarakat modern pendidikan gelar akademis atau perguruan lebih berharga.19
Namun, istilah kelas juga tidak selalu mempunyai arti yang sama, walaupun pada hakikatnya mewujudkan sistem kedudukan-kedudukan yang pokok dalam masyarakat. Penjumlahan kelas-kelas dalam masyarakat disebut class-system. Artinya, semua orang dan keluarga yang sadar akan kedudukan mereka itu diketahui dan diakui oleh masyarakat umum. Max Weber tetap menggunakan istilah kelas bagi semua lapisan. Adanya kelas yang bersifat ekonomis di bagi nya lagi ke dalam sub yang bergerak dalam bidang ekonomi.20
Adapun definisi dari kelas sosial menurut para ahli sosiologi, yaitu:
a) Max Weber menyatakan, bahwa sebuah kelas terdiri atas orang-orang yang life chances nya sama, ialah kepentingan ekonomis dalam milik barang-barang dan kesempatan mendapatkan penghasilan, menurut syarat-syarat pasaran barang dan tenaga buruh.21
b) Hassan Shadily, menyatakan bahwa kelas sosial adalah sebagai golongan yang terbentuk karena adanya perbedaan kedudukan yang tinggi dan rendah, dan karena adanya rasa segolongan dalam kelas itu masing-masing, sehingga kelas yang satu dapat dibedakan dari kelas yang lain.22
19
J. Dwi Narwoko dan Bagong Suyanto, Sosiologi: Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta: Kencana, 2007), h. 152
20
Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta:Rajawali Pers, 2012), Cet .44, h. 205
21
Ibid.,
22
Abdulsyani, Sosilogi Skematika, Teori, dan Terapan, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012), Cet. 4, h. 89
17
c) Menurut Pitrim A. Sorikin yang dimaksud dengan kelas sosial adalah “Pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarchis). Dimana perwujudannnya adalah lapisan-lapisan atau kelas-kelas tinggi, sedang, ataupun kelas-kelas yang rendah.23
d) Peter Berger, mendefinisikan kelas sebagai “a type of stratification in which one’s general position in society is basically determinate by economic criteria“.24 Seperti yang dirumuskan Max dan Weber, konsep kelas dikaikan dengan posisi seorang dalam masyarakat berdasarkan kriteria ekonomi. Apabila semakin tinggi perekonomian seserang maka semakin tinggi pula kedudukannya dan bagi mereka perekonomiannya bagus termasuk kategori kelas tinggi (high class), begitu juga sebaliknya bagi mereka yang perekonomiannya cukup, termasuk kategori kelas menengah (middle class), mereka yang perekonomiannya rendah termasuk kategori kelas bawah (lower class).
Dari beberapa definisi yang dikemukakan para ahli sosiologi di atas penulis menyimpulkan bahwa kelas sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas bertingkat (hierarchis) yang didasarkan pada faktor ekonomi, pendidikan, pekerjaan, dan keterkitan (jabatan). Adapun perwujudannya adalah lapisan-lapisan atau kelas-kelas tinggi, sedang, ataupun kelas-kelas yang rendah.
2) Ukuran atau Kriteria Kelas Sosial
Ukuran atau kriteria yang biasa di pakai untuk menggolongkan anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan masyarakat sebagai berikut :
a) Kekayaan dan penghasilan
Seseorang yang memiliki kekayaan paling banyak akan menempati kelas teratas. Kekayaan tersebut bisa dilihat seperti, mobil pribadi, rumah, cara berpakaian atau kebiasaan berbelanja. 25
23
Anwar dan Adang. loc.cit
24
Komanto Sunarto, Pengantar Sosiologi. (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2012), h. 93
25
18 b) Pekerjaaan
Berbagai pekerjaan juga mempengaruhi pada sisitem pelapisan sosial. Penilaian orang terhadap profesi penarik becak, kuli bangunan, buruh pabrik, dan para pekerja kantoran yang berpakaian bersih, berpenampilan rapi, berdasi dengan mengendarai mobil, selalu membawa Hp tentu memiliki perbedaan status sosial yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok penarik becak. c) Pendidikan
Jenjang pendidikan seseorang biasanya mempengaruhi status sosial seseorang di dalam struktur sosial. Maka tinggi rendahnya tingkat pendidikan akan mempengaruhi pola-pola kehidupan orang tersebut. Oleh karena itu, seseseorang yang berpendidikan tinggi hingga dokter akan berstatus lebih tinggi dibandingkan dengan seseorang yang lulusan SD.26
3) Macam-macam Kelas Sosial
Dikalangan para ahli sosiologi kita menjumpai keanekaragaman dalam penentuan kelas. Marx, membagi kelas dalam dua kelompok, yaitu Borjuis dan Proletar.27 Namun sejumlah ilmuan sosial membedakan menjadi tiga kelas atau lebih, yakni:28
a) Kelas atas, kelas ini ditandai oleh kekayaan, pengaruh baik dalam sektor-sektor masyarakat perorangan ataupun umum, berpenghasilan tinggi, tingkat pendidikan yang tinggi, dan kestabilan kehidupan keluarga.
b) Kelas menengah, kelas ini ditandai oleh tingkat pendidikan yang tinggi, penghasilan dan mempunyai penghargaan yang tinggi terhadap kerja keras, pendidikan, kebutuhan
26
F. Zahroh , “Pandangan Keluarga Kelas Sosial Menengah Terhadap Pendidikan Agama Islam di Masyarakat Dersa Murocalan Kecamatan Glagah Kabupaten Lamongan” Skripsi pada UIN Sunan Ampel Surabaya, 2011, h. 25
27
Ng. Philipus dan Nurul Aini, Sosiologi dan Politik, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2004), h. 85
28
19
menabung dan perencanaan masa depan, serta mereka dilibatkan dalam kegiatan komunitas.
c) Kelas bawah, terdiri dari kaum buruh kasar, penghasilannya pun relatif lebih rendah sehingga mareka tidak mampu menabung, lebih berusaha memenuhi kebutuhan masa depan, berpendidikan rendah, dan penerima dana kesejahteraan dari pemerintah.
Adapun Daniel Rossidies mengungkapkan adanya lima kelas masyarakat, yaitu :
a) Kelas atas, terdiri dari keluarga kaya dan berkuasa, yang diperolehnya secara turun-temurun. Anggota kelas ini biasanya menduduki jabatan-jabatan kunci dalam perusahaan, bank, asuransi dan lainnya. Mereka menikmati prestise tinggi dan sangat berorientasi pada budaya konsumsi elit seperti musik dan kesenian lainnya.29
b) Kelas menengah atas, terdiri dari manajer bisnis yang sukses, para profesional (dokter, arsistek, pengacara), dan pejabat-pejabat tinggi sipil dan militer. Anggotanya berpenghasilan tinggi dan menghimpun kekayaan melalui investasi dan tabungan.
c) Kelas menengah bawah, terdiri dari pengusaha kecil, profesi rendahan (guru sekolah, pekerja sosial, perawat), salesman, dan karyawan. Pendapatan mereka umumnya hanta dapat menabung sedikit.
d) Kelas pekerja, terdiri dari pekerjaan yang terampil, atau tanpa keterampilan, dan pelajar. Kelompok ini memiliki angka pengangguran yang tinggi, tidak memiliki tabungan, dan prestise rendah.
e) Kelas bawah, terdiri dari orang-orang yang hidup dalam kemisikinan, misalnya para pengangguran, penganggur tak kentara, ibu-ibu terlantar, dan orang-orang miskin yang sakit-sakitan. Kelompok ini menderita karena tekanan ekonomi dan memiliki prestise sosial yang sangat rendah. Mereka sering dianggap sampah masyarakat, pemalas, dan tak berguna. 30
Penelitian ini difokuskan pada masyarakat kelas menengah dan masyarakat kelas bawah.
29
Philipus dan Aini, op.cit., h. 84
30
20
2. Masyarakat Kelas Sosial Menengah