BIROKRASI PEMERINTAH SIPIL
C. MASYARAKAT SIPIL MADANI
159 kelompok kerja dengan lebih memberikan tanggung jawab yang besar pada tatanan organisasi yang paling bawah.
160 memiliki kebebasan, mempunyai sistem ekonomi pasar dan timbulnya asosiasi-asosiasi masyarakat yang mandiri serta satu sama lain saling menompang.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan secara umum masyarakat madani atau civil society dapat diartikan sebagai suatu corak kehidupan masyarakat yang terorganisir, mempunyai sifat kesukarelaan, keswadayaan, kemandirian, namun mempunyai kesadaran hukum yang tinggi. Dikutip dalam jurnal Pendidikan Kewarganegaraan yang berjudul Konsep Masyarakat Madani di Indonesia Dalam Masa Postmodern, untuk mewujudkan cita-cita ke arah masyarakat madani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, diperlukan berbagai prasyarat sebagaimana diungkapkan oleh Han Sung-Jun:
1. Diakui dan dilindunginya hak-hak individu dan kemerdekaan berserikat serta mandiri dari negara.
2. Adanya ruang publik yang memberikan kebebasan bagi siapa saja dalam mengartikulasikan isu-isu politik.
3. Terdapatnya gerakan kemasyarakatan yang berdasar pada nilai-nilai budaya tertentu.
4. Terdapatnya kelompok inti di antara kelompok-kelompok menengah yang mengakar dalam masyarakat dan mampu menggerakkan masyarakat dalam melakukan modernisasi sosial ekonomi.
Untuk memahami masyarakat madani diperlukan upaya untuk mengidentifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk memperkuat masyarakat tersebut. Oleh karena itu, perlu meletakkan masyarakat madani pada posisi baik secara konseptual maupun operasional bisa berperan untuk memberdayakan masyarakat. Ada beberapa butir elemen yang menonjol dalam
161 bahasan masyarakat madani ini, antara lain: Pertama, upaya mengakkan demokrasi atau masyarakat demokrasi yang berkeadaban yang didasarkan atas prinsip-prinsip dan ketaatan terhadap hukum-hukum religius. Kedua, pemberdayaan kepada kekuatan rakyat. Ketiga, adanya pengakuan atas hubungan yang erat antara kekuatan pemerintah, kekuatan rakyat sipil, dan kekuatan sektor private. Dan keempat, pengakuan dan perhormatan terhadap ditegakkan hukum diatas
kekuatan-kekuatan yang ada dalam suatu masyarakat negara.
● Masyarakat Madani di Indonesia
Masyarakat Indonesia mempunyai karakteristik yang berbeda dengan negara lainnya. Karakteristik tersebut diantaranya adalah: (1) Pluralistik/keberagaman, (2) sikap saling pengertian antara sesama anggota masyarakat, (3) toleransi yang tinggi dan (4) memiliki sanksi moral. Karakteristik-karakteristik tersebut diharapkan senantiasa mewarnai kehidupan masyarakat madani model Indonesia nantinya. keberadaan masyarakat Indonesia dapat dicermati melalui perjalanan bangsa Indonesia. (Suroto, 2015).
Secara historis perwujudan masyarakat madani di Indonesia sebenarnya sudah mulai dicita-citakan semenjak terjadinya perubahan sosial ekonomi pada masa kolonial, terutama ketika kapitalisme mulai diperkenalkan oleh Belanda. Hal ini ikut mendorong terjadinya pembentukan sosial melalui proses industrialisasi, urbanisasi, dan pendidikan modern. Hasilnya antara lain munculnya kesadaran baru di kalangan kaum elit pribumi yang mendorong terbentuknya organisasi sosial modern. Pada masa demokrasi terpimpin politik Indonesia didominasi oleh penggunaan mobilisasi massa sebagai alat legitimasi politik. Akibatnya setiap
162 usaha yang dilakukan masyarakat untuk mencapai kemandirian beresiko dicurigai sebagai kontra revolusi. Sehingga perkembangan pemikiran menuju masyarakat madani kembali terhambat.
Perkembangan orde lama dan munculnya orde baru memunculkan secercah harapan bagi perkembangan masyarakat madani di Indonesia. Pada masa orde baru, dalam bidang sosial-ekonomi tercipta pertumbuhan sosial-ekonomi, tergesernya pola kehidupan masyarakat agraris, tumbuh dan berkembangnya kelas menengah dan makin tingginya tingkat pendidikan. Sedangkan dalam bidang politik, orde baru memperkuat posisi negara di segala bidang, intervensi negara yang kuat dan jauh terutama lewat jaringan birokrasi dan aparat keamanan. Hal tersebut berakibat pada terjadinya kemerosotan kemandirian dan partisipasi politik masyarakat serta menyempitkan ruang-ruang bebas yang dahulu pernah ada, sehingga prospek masyarakat madani kembali mengalami kegelapan. Setelah orde baru tumbang dan diganti oleh era reformasi, perkembangan masyarakat madani kembali menorehkan secercah harapan. Hal ini dikarenakan adanya perluasan jaminan dalam hal pemenuhan hak-hak asasi setiap warga negara yang intinya mengarahkan pada aspek kemandirian dari setiap warga negara.
Dari zaman orde lama sampai era reformasi saat ini, permasalahan perwujudan masyarakat madani di Indonesia selalu menunjukkan hal yang sama. Beberapa permasalahan yang bisa menjadi hambatan sekaligus tantangan dalam mewujudkan masyarakat madani model Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1. Semakin berkembangnya orang “miskin” dan orang yang merasa miskin.
163 2. LSM dan partai politik muncul bagaikan jamur yang tumbuh di musim penghujan sehingga memungkinkan berbagai
“ketidakjelasan”.
3. Pers berkembang pesat dan semakin canggih tetapi justru
“fesimisme” masyarakat yang terjadi.
4. Kaum cendikiawan semakin banyak tetapi cenderung berorientasi pada kekuasaan.
5. Kurang percaya diri untuk bersaing dan senantiasa merasa rendah diri.
Mencermati keadaan sekarang, maka diperlukan sebuah strategi jitu untuk mencapai kehidupan yang madani. Proses pemberdayaan tersebut menurut Dawam Rahardjo dapat dilakukan dengan tiga model strategi sebagaimana sebagai berikut:
- Strategi yang lebih mementingkan integrasi nasional dan politik.
- Strategi yang lebih mengutamakan reformasi sistem politik demokrasi.
- Strategi yang memilih pembangunan masyarakat madani sebagai basis yang kuat ke arah demokratisasi.
● Aspek Kelembagaan Masyarakat Sipil
Suatu kesatuan (entity) yang diakui eksistensinya seperti masyarakat sipil atau madani ini pasti mempunyai sistem dan kelembagaan. Salah satu unsur penting dari suatu kesatuan itu adalah bagaimana suatu keajegan bisa berjalan dalam norma tertentu sehingga melahirkan aksi yang repetitif. Repetisi dalam norma tertentu diakui kebenarannya dan diikuti sebagai suatu pedoman, dan bisa dijadikan sebagai karakteristik dari kesatuan tersebut. Dengan mengemukakan pemahaman tentang konsep masyarakat madani di depan, kiranya pembahasan tentang
164 kelembagaan masyarakat sipil atau madani minimal dapat dikemukakan hal-hal sebagai berikut:
1) Masayarakat sipil atau madani didukung oleh adanya lembaga demokrasi atau lembaga rakyat.
2) Masyarakat sipil atau madani didukung oleh lembaga hukum.
3) Masyarakat sipil atau madani dibantu oleh adanya hubungan yang erat antara lembaga pemerintah, lembaga bisnis, dan lembaga rakyat.
Ketiga kelembagaan ini merupakan suatu kesatuan yang mewarnai adanya masyarakat sipil atau madani tersebut.
1) Lembaga Rakyat (Demokrasi)
Lembaga rakyat merupakan tempat berkumpul dan bertemunya rakyat untuk membicarakan, menyampaikan dan mengajukan protes jika sesuatu bertentangan dengan aspirasinya. Rakyat dengan inisiatifnya sendiri berkumpul sesuai dengan kesamaan-kesamaan tertentu. Perkumpulan rakyat masing-masing ini menyatu dalam suatu lembaga rakyat. Atas dasar kepentingan bersama ini, rakyat menentukan arah bagaimana kepentingan bersama itu bisa diwujudkan. Dari perspektif ini rakyat membuat kebijakan-kebijakan tertentu untuk dilaksanakan agar kepentingan bersama tercapai. Dengan demikian lembaga rakyat bisa menentukan kebijakan untuk kepentingan bersama, bisa pula lembaga ini menentukan siapa yang melaksanakan kebijakan dan yang mengendalikannya. Dalam masyarakat madani, lembaga rakyat ini diakui keberadaannya dan peranannya sebagai penentu dan pengontrol kebijakan masyarakat. Disini demokrasi mulai lahir dan disini lembaga
165 rakyat itu bersuasana demokrasi. Dari demokrasi ini kemudian mempunyai predikat berkeadaban, religius, menjunjung tinggi hukum, pemberdayaan kepada rakyat dan kemandirian. Dengan demikian lembaga rakyat ini dapat pula disebut debagai lembaga demokrasi. Lembaga rakyat ini wujud realitanya bisa berupa lembaga-lembaga swadaya masyarakat, kelompok-kelompok kepentingan, partai politik dan kelompok-kelompok rakyat lainnya. Lembaga rakyat ini dapat pula disebut sebagai lembaga yang menjalankan kegiatan politik. Karena lembaga ini berkaitan dengan proses pembuatan kebijakan politik yang harus dijalankan oleh lembaga pelaksana atau administrasi politik.
2) Lembaga Birokrasi Pemerintah
Dalam masyarakat sipil atau madani kedudukan dan fungsi lembaga pemerintah merupakan penerima dan pelaksana amanat yang diberikan oleh lembaga rakyat. Kekuasaan lembaga pemerintah berasal dari titipan dan pemberian lembaga rakyat. Lembaga pemerintah dilaksanakan oleh orang-orang yang dipercaya oleh rakyat dan dibantu oleh orang-orang yang selaras dengan keahliannya. Lembaga pemerintah dalam masyarakat madani dalam pemahaman paradigma yang sekarang merupakan gambaran dari tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa itu bisa diwujudkan jika amanat yang dibebankan kepada lembaga ini dijalankan dengan konsekuen, adil, baik dan penuh akuntabilitas. Dengan sendirinya cara-cara seperti ini akan transparan bisa diketahui secara jelas oleh rakyat.
Semuanya dilandaskan atas kepercayaan antara lembaga rakyat dan lembaga pemerintah. Dengan demikian
166 kewibawaan lembaga ini ditegakkan dengan sendirinya.
Citra kelembagaan pemerintah seperti ini yang diwujudkan dalam masyarakat madani.
3) Lembaga Hukum
Lembaga hukum merupakan lembaga penegak keadilan dalam suatu masyarakat. Lembaga hukum ini tempat dimana semua rakyat memerlukan dan mencari keadilan.
Hukum menjamin agar keadilan bisa dijalankan secara murni dan konsekuen untuk seluruh rakyat tanpa membedakan asal-usul, warna kulit, kedudukan, keyakinan, dan lain sebagainya. Didalam masyarakat madani lembaga sangat vital, karena pada lembaga ini dipercayakan oleh masyarakat agar keadilan ditegakkan. Salah satu sendi kehidupan bermasyarakat adalah keadilan. Jika keadilan tidak ada masyarakat akan pincang, dan penerapan keadilan itupun tidak boleh dilebihkan dan dikurangi. Lembaga hukum dalam masyarakat madani harus menjadi tempat mencari keadilan. Oleh karena itu, lembaga hukum ini tidak boleh sedikitpun bergoyah untuk menerapkan keadilan yang didasarkan atas ketentuan, hukum dan syariat yang telah disepakati bersama. Jika lembaga hukum telah memutuskan suatu keadilan bagi yang memintanya atau mencarinya, maka keputusan keadilan yang adil itu harus dihormati dan diterima. Masyarakat tunduk kepada hukum yang adil, dan kehidupan masyarakat ini mempunyai kepastian dihadapan hukum, sehingga martabat, harga diri dan hak asasinya bisa dijamin dalam masyarakat madani. Lembaga hukum ini mempunyai kewenangan dan kekuasaan yang mandiri tidak dicampuri oleh kekuasaan dan kewenangan lembaga-lembaga lainnya.
167 4) Lembaga Bisnis
Lembaga ini merupakan lembaga perekonomian dari masyarakat madani yang bisa mendukung eksistensi dari masyarakat madani yang bisa mendukung eksistensi dari masyarakat madani sendiri. Dalam lembaga ini masyarakat madani mengakui bahwa hubungan antara bidang perekonomian dan bisnis yang diupayakan oleh masyarakat mempunyai keterjalinan yang erat dengan lembaga pemerintah lembaga rakyat yang ditopang dengan lembaga hukum yang solid. Dalam ciri tata kepemerintahan yang baik (good governance) yang didukung oleh tiga domain yakni pemerintah (the state), sektor privat (business), dan masyarakat sipil (civil society) (Sheila Grant, 1999). Sektor privat ini meliputi semua institusi yang dimiliki oleh masyarakay yang bergerak dalam basis mencari keuntungan. Kegiatan sektor ini meliputi bidang produksi, penyediaan barang, jasa pelayanan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bertujuan mencari laba. Sektor ini biasanya disebut dengan sektor bisnis. Didalam tata kepemerintahan yang baik bukan hanya menitikberatkan pada aspek kelembagaan politik, hukum dan sosial saja, akan tetapi juga melibatkan aspek kelembagaan ekonomi. Jalinan hubungan antara lembaga bisnis, lembaga pemerintah dan lembaga rakyat ini dapat memperbaiki upaya pemberian pelayanan kepada masyarakat. Hal semacam ini tidak luput dari pusat perhatian dari nilai-nilai yang terkandung oleh masyarakat madani.
168 D. LIBERALISASI EKONOMI DAN TRANSFORMASI
BIROKRASI
Liberalisasi ekonomi yang pada hakikatnya berorientasi pada pertumbuhan, perlu diimbangi dengan kebujaksanaan yang memfokuskan diri pada pemerataan. Ini dapat diwujudkan dengan keberpihakan pada ekonomi rakyat yang pada hakikatnya merupakan usaha-usaha menengah dan kecil. Melalui keberpihakan pada ekonomi rakyat yang diwujudkan dalam bentuk berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dan kemampuan serta pemberdayaan pengusaha-pengusaha kecil dan menengah, diharapkan mereka dapat memainkan peranannya dalam dinamika kehidupan ekonomi nasional.
Tantangan yang harus dihadapi birokrasi adalah bagaimana dapat memainkan peranannya yang optimal didalam konteks, di satu pihak, menguatnya peranan sektor swasta sebagai akibat dari proses liberalisasi dan di lain pihak, adanya tuntutan normatif untuk mewujudkan keadilan sosial dan menanggulangi kemiskinan.
Tuntutan liberalisasi ekonomi memang menharuskan birokrasi untuk menyerahkan sebagian dari kewenangannya pada mekanisme pasar. Dalam kaitan dengan ini peranan birokrasi tidak lagi bersifat controlling akan tetapi lebih bersifat influencing dan directing. Ini dilakukan melalui kebijakan-kebijakan ekonomi makro yang menciptakan rambu-rambu kearah mana kegiatan ekonomi para pelaku ekonomi tadi diarahkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh para birokrat tersebut (Osborne & Gaebler, 1993):
1) Dalam rangka memainkan peranannya untuk melakukan influencing dan directing, birkrasi harus membina kemitraan (partnership development) dengan para pelaku ekonomi, baik dengan sektor swasta, BUMN, maupun koperasi.
169 2) Dalam melaksanakan fungsinya, birokrasi harus menyadari bahwa fungsi utamanya adalah memberikan pelayanan agar mekanisme pasar itu dapat berfungsi optimal.
3) Karena spirit liberalisasi adalah adanya kompetisi yang sehat, maka birokrasi perlu mendorong kompetisi menuju the best performance, bukan saja antara sektor swasta, akan tetapi juga antara sektor swasta dan dan sektor pemerintah dan diantara lembaga-lembaga didalam sektor publik.
4) Didalam konteks dominasi mekanisme pasar, birokrasi perlu pula berorientasi pada mekanisme pasar. Perubahan-perubahan yang ingin diwujudkan, seringkali harus dilakukan melalui mekanisme pasar, dengan menciptakan faktor-faktor insentif dan disinsentif.
5) Disamping itu birokrasi harus mempunyai orientasi jauh kedepan. Dengan demikian langkah-langkah preventif harus lebih menonjol dibandingkan langkah-langkah kuratif.
6) Tidak lepas dari keberpihakan pada ekonomi rakyat.
Karenanya, proses alokasi sumber harus dilakukan sedemikian rupa sehingga mempunyai empowering effect pada pengusaha menengah dan kecil, agar mereka dapat memberikan kontribusinya dalam kegiatan ekonomi nasional.
E. PENUTUP
● Kesimpulan
Perubahan paradigma pemerintahan telah terjadi berulang-ulang antara lain perubahan paradigma dari orientasi sistem manajemen pemerintahan yang sarwa negara menjadi berorientasi ke pasar (market), perubahan paradigma dari orientasi lembaga pemerintahan yang kuat, besar dan otoritarian menjadi berorientasi kepada small dan less government, egalitarian dan demokrasi.
170 Kemudian ada perubahan paradigma dari sentralisasi kekuasaan menjadi desentralisasi kewenangan, perubahan manajemen pemerintahan yang hanya menekankan pada batas-batas dan aturan yang berlaku untuk satu negara tertentu, mengalami perubahan ke arah boundaryless organization, selain itu ada perubahan dari paradigma yang mengikuti tatanan birokrasi Weberian menjadi tatanan birokrasi yang post bureaucratic government (Rourke, 1992) dan post bureaucratic organization (Heckscher Donnellon, 1994) dan yang teraakhir ada perubahan paradigma dari a low trust society ke arah a high trust society (Fukuyama, 1995).
Dalam bahasa Arab konsep masyarakat Madani dikenal dengan istilah almujtama’ al-madani, dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah civil society. Selain kedua istilah tersebut, ada dua istilah yang merupakan istilah lain dari masyarakat madani yaitu masyarakat sipil dan masyarakat kewargaan. Barat. Perwujudan masyarakat madani di Indonesia sebenarnya sudah mulai dicita-citakan semenjak terjadinya perubahan sosial ekonomi pada masa kolonial. Hal ini ikut mendorong terjadinya pembentukan sosial melalui proses industrialisasi, urbanisasi, dan pendidikan modern.
Hasilnya antara lain munculnya kesadaran baru di kalangan kaum elit pribumi yang mendorong terbentuknya organisasi sosial modern.
Kelembagaan masyarakat sipil madani merupakan salah satu unsur penting dari suatu kesatuan itu adalah bagaimana suatu keajegan bisa berjalan dalam norma tertentu sehingga melahirkan aksi yang repetitif. Repetisi dalam norma tertentu diakui kebenarannya dan diikuti sebagai suatu pedoman, dan bisa dijadikan sebagai karakteristik dari kesatuan tersebut. Masyarakat sipil atau madani didukung oleh lembaga hukum, masyarakat sipil
171 atau madani dibantu oleh adanya hubungan yang erat antara lembaga pemerintah, lembaga bisnis, dan lembaga rakyat. Ketiga kelembagaan ini merupakan suatu kesatuan yang mewarnai adanya masyarakat sipil atau madani tersebut.
172 REFERENSI
Thoha, Miftah. 2004. Birokrasi dan Politik di Indonesia. Rajawali Pers: Jakarta.
Tjokrowinoto, Moeljarto. 1996. Pembangunan Dilema dan Tantangan. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Utomo, Warsito. 2006. Administrasi Publik Baru Indonesia. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Suroto. 2015. Konsep Masyarakat Madani di Indonesia Dalam Masa Postmodern. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Lambung Mangkurat: Banjarmasin. Vol. 5, No. 9:
664-669.
173