• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN TEORI

C. Karakteristik pembelajaran Tematik

3. Mata pelajaran IPS

Pengertian IPS merujuk pada kajian yang memusatkan perhatiannya pada aktivitas kehidupan manusia. Berbagai dimensi manusia dalam kehidupan sosialnya merupakan fokus kajian dari IPS.

Aktivitas manusia dilihat dari dimensi waktu yang meliputi masa lalu, sekarang dan masa depan. Aktivitas manusia yang berkaitan dalam hubungan dan interaksinya dengan aspek keruangan atau geografis.

Aktivitas sosial manusia dalam memenuhi segala kebutuhan hidupnya dalam dimensi arus produksi, disitribusi dan konsumsi. Selain itu dikaji pula bagaimana manusia membentuk seperangkat peraturan

sosial dalam menjaga pola interaksi sosial antar manusia dan bagaimana cara manusia memperoleh dan mempertahankan suatu kekuasaan. Pada intinya, fokus kajian IPS adalah berbagai aktivitas manusia dalam berbagai dimensi kehidupan sosial sesuai dengan karakteristik manusia sebagai makhluk sosial (homo socius).13

Menurut Supardi (2015:182) Pengertian Social Studies (IPS)

“Social Studies are the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. Within the school program, social studies, provides coordinated, systematic study drawing upon such disciplines as antrophology, economics, geography, and sociology the humanities”14. Bahwa mata pelajaran IPS merupakan pembelajaran terintegrasi atau terpadu dari ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sehingga dapat menggembangkan warga negara yang baik. IPS di Sekolah Dasar merupakan mata pelajaran yang memadukan secara sistematis disiplin ilmu antropologi, ekonomi, geografi, sosiologi.

Jadi dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran IPS adalah interaksi dua arah dari seorang guru dan peserta didik, dimana antara keduanya terjadi komunikasi yang saling berkaitan mampu menggembangkan kemampuan dapat memecahkan persoalan di lingkungannya.

b. Ruang Lingkup IPS

Pembelajaran IPS ditingkat Sekolah Dasar, dipecahkan menjadi berbagai mata pelajaran seperti: Sosiologi, Geografi, Sejarah, dan Ekonomi.

1) Sosiologi, memberikan wawasan mengenai hubungan manusia dengan kelompok (interaksi sosial, kelompok sosial,

13 Supriatna Nana, Bahan Belajar Mandiri Pendidikan IPS di SD,2013.(Jakarta: unj) h 9.

14 Supardi, dkk. Pembelajaran IPS Sekolah Dasar,(Jakarta: Erlangga 2015), h 182

gejala sosial, struktur sosial, proses sosial, dan perubahan sosial) 2) Geografi, memberikan wawasan berkenaan dengan

wilayah-wilayah antara faktor manusia dan alam (lingkungan, tata ruang, kelompok)

3) Sejarah, memberikan wawasan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai priode (sejarah kebudayaan, sosial, keluarga, ekonomi, dan politik)

4) Ekonomi, memberikan wawasan pemenuhan kebutuhan manusia dan kelangkaan (Produksi, konsumsi, pasar, uang, bank, koperasi, kewirausahaan, dan perseroaan terbatas).15

Berdasarkan kesimpulan dari ruang lingkup pembelajaran IPS, secara keseluruhan ilmu yang mempelajari dan mengkaji ilmu sosial yang berhubungan dengan masyarakat, baik itu dari gejala, masalah, peristiwa sosial tentang kehidupan masyarakat.

c. Tujuan Pembelajaran IPS

Social studies atau IPS adalah program pembelajaran yang bertujuan untuk membantu dan melatih peserta didik, agar mampu memiliki kemampuan untuk mengenal dan menganalisis suatu persoalan dari berbagai sudut pandang secara logis dan kritis.

Sebagai contoh guru membahas tentang Candi Borobudur, dari sudut pandang geografi guru akan membicarakan tentang letak dan keadaan geografisnya, dilihat dari sudut pandang sejarah guru akan menjelaskan latar belakang didirikannya, tujuan, waktu, dan tokoh pemrakarsanya, dari sudut pandang ekonomi guru menjelaskan dari nilai ekonomis sebagai pusat wisata terbesar di Jawa, dan kalua dilihat dari sudut pandang sosiologi, guru akan membicarakan sosial-budaya

15 Ahmad Sutanto, Pengembangan Pembelajaran IPS di Sekolah Dasar, (Jakarta: Prenada Media Group, 2014), h. 6-8.

dan keterletakan masyarakat dengan nilai-nilai spiritual. Semuannya di bahas secara komprehensif.16

Berdasarkan falsafah, maka dirumuskan Pendidikan nasional, mengenai tujuan IPS yaitu:

Membentuk manusia pembangunan yang ber-Pancasila membentuk manusia yang sehat Jasmani dan rohaninya, meliputi Pengetahuan dan Keterampilan dapat mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab, dan dapat menyuburkan sikap demokrasi dan penuh rasa tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertasi budi pekerti luhur, mencintai bangsanya, dan mencintai sesame manusia sesuai ketentuan yang termaksud dalam UUD 1945.17

Kaitan dari tujuan IPS yang telah dijabarkan di atas, membuktikan pencapaian dari tujuan itu, bahwa harus sesuai dengan kebutuhan dan tantangan dalam kehidupan, baik itu tantangan kehidupan yang dihadapi, maupun yang akan datang.

4. Penilaian Autentik dalam Pembelajaran a. Pengertian Penilaian autentik

Asesmen autentik adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah asesmen merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel. Dalam kehidupan akademik keseharian, frasa asesmen autentik dan penilaian autentik sering dipertukarkan. Akan tetapi, frasa pengukuran atau pengujian autentik, tidak lazim digunakan.18

16 Dadang Supardan, Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Perspektif filosofi dan kurikulum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2015), h. 17

17 Rudy Gunawan, Pendidikan IPS Filosofis, Konsep dan Aplikasi, (Bandung: Alfabeta, 2013), h.18

18 Widiyanto Joko, Buku Evaluasi Pembelajaran (sesuai dengan kurikulum 2013) konsep, prinsip

& prosedur, (Universitas PGMI Madiun, 2015). h 56.

Pada penilaian autentik, siswa diminta untuk menerapkan konsep atau teori dalam keadaan sebenarnya sesuai dengan kemampuan atau keterampilan yang dimiliki siswa. Oleh karena itu guru harus memperhatikan keseimbangan antara penilaian kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan yang disesuaikan dengan perkembangan karakteristik siswa sesuai dengan jenjangnya, lebih banyak porsinya pada soft skill (misalnya kemampuan yang perlu dilatih dan diukur, antara lain: mengamati, motivasi berprestasi, kemauan kerja keras, disiplin, berkomunikasi, tata krama, dll) daripada penilaian hard skill (pengukuran penguasaan pengetahuan dan keterampilan).

Penilaian autentik atau penilaian kerja menurut Jon Mueller suatu bentuk penilaian dimana peserta didik diminta melakukan tugas-tugas dunia nyata yang menunjukkan penerapan pengetahuan dan keterampilan. Misalnya, peserta didik diminta untuk melakukan tugas yang berhubungan dengan dunia nyata atau autentik tugas atau konteks. 19 Dalam buku Teories In Educational Psychology menyatakan bahwa authentic assessment can be as creative as the jobs and tasks that people perform in the world, for they are a direct reflection of the real world20 (Penilaian autentik bisa sama kreatifnya dengan pekerjaan dan tugas yang dilakukan orang di dunia, karena ini adalah cerminan langsung dari dunia nyata). Sedangkan menurut Judith TM Gulikers, penilaian yang diperlukan peserta didik untuk mendemonstrasikan kompetensi (jenis) yang sama, atau kombinasi pengetahuan, keterampilan dan sikap, yang perlu mereka terapkan

19 Jon Mueller, “Authentic Assessment Toolbox: What is it”, 2016, (http://jfmueller.faculty.noctrl.edu/toolbox/whatisit.htm, diakses pada tanggal 10 april 2018).

20 Alyssa R. Gonzalez, Dehass, and Patricia P.Willens, Teories In Educational Psychology, (New York: Rowman & Littlefield Publisher, 2016), p.85

dalam situasi kriteria dalam kehidupan professional. Levelnya keaslian suatu penilaian dengan demikian ditentukan oleh derajat kemiripannya dengan kriteria situasi.21

Penialaian autentik pertama kali dikemukaakan oleh Wiggins pada tahun 1990 sebagai bentuk ketidak puasannya terhadap tes hasil belajar yang hanya mengukur dalam ranah pengetahuan saja berupa tes model pilihan ganda atau essai yang biasa dilakukan disekolah, tes tulis seperti itu tidak menggambarkan kemampuan siswa yang sebenarnya dari proses dan hasil belajar peserta didik.22

Dapat disimpulkan dari beberapa ahli pendapat mengenai penilaian autentik bisa disebut dengan penilaian secara realita atau sesungguhnya, karena proses pengumpulan data dari penilaiaannya tidak hanya dari hasil belajar saja, melainkan dari awal kegiatan pembelajaran, proses pembelajarannya, sampai akhir pembelajaran.

Penilaian autentik sendiri merupakan penilaian yang mencakup ranah penilaian sikap, penilaian pengetahuan, dan penilaian keterampilan.

b. Tujuan Penilaian Autentik

Dalam penilaian autentik kurikulum 2013, proses pembelajaran yang harus sejalan dengan tujuan pembelajaran untuk mengumpulkan berbagai informasi dengan berbagai Teknik. Karena penilaian yang sempurna dapat mengambarakan proses dan hasil yang sesungguhnya, dan penilaian dilakukan sepanjang kegiatan pengajaran untuk memotivasi dan menggembangkan kegiatan belajar peserta didik.

21 Judith TM Gulikers, dkk, “Perceptions of authentic assessment five dimensions of authenticity”, 2004, h. 5, (https://www.on.nl/Docs/Expetise/OTEC/Publicaties/Judithgulikers/paper SIG 2004 Bergen.pdf , diakses pada tanggal 22 april 2018)

22 Yanti Herlianti, Pembelajaran Tematik (Menggunakan Pendekatan Saintifik dan Penilaian otentik untuk mendukung Implementasi Kurikulum 2013),(Bandung: Rosdakarya) h. 125

Adapun tujuan penilaian autentik, untuk mencapai tingkat kompetensi yang ditentukan baik itu selama mengikuti pembelajaran maupun setelah proses pembelajaran, untuk memnatau kemajuan peserta didik sekaligus dapat mengetahui kesulitan belajar yang dialami peserta didik secara tepat, hasil pemantauan dipakai untuk umpan balik kepada siswa, dan untuk memperbaiki metode, pendekatan, dan sumber belajar bagi peserta didik.23 Dilihat dari tujuan bagi misi sekolah adalah untuk mengembangkan warga negara yang produktif, peserta didik harus mampu melakukan tugas yang berarti di dunia nyata, agar mahir untuk menghadapi kehidupan nyata.

c. Pelaksanaan Penilaian Autentik

Pelaksanaan penilaian autentik dalam kegiatan proses pembelajaran dimulai dengan menelaah dan diakhiri dengan tes tertulis atau nontes. Menelaah dilakukan dengan Teknik tanya jawab untuk mengeksplorasi pemahaman, dan pengalaman belajar sesuai tingkat kemampuan peserta didik 24 Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan penilaian autentik adalah sebagai berikut:

a) Penentuan standar, penilaian standar disini untuk pembelajaran dapat tercapai dengan baik, standar dalam pernyataan tentang apa yang akan dinilai atau akan dicapai oleh peserta didik

b) Penentuan tugas-tugas, bagian keterlibatan dalam penilaian autentik, karena melalui tugaslah kinerja peserta didik dinilai, sehingga tugas menjadi bagian yang penting

23 Abdul Majid, Penilaian Autentik proses dan hasil belajar. (PT. Remaja Rosdakarya:2014),h.42

24 Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian hasil belajar peserta didik berdasarkan kurikulum 2013), (Jakarta:Alfabeta, 2015) ,h.55

c) Pembuatan rubrik, merupakan seperangkat kriteria untuk memberikan nilai tugas kinerja yang dilakukan peserta didik.

Rubrik juga menjadi penilaian yang obyektif, lebih jelasnya rubrik dibuat dalam bentuk skala nilai (scoring scales).

Pada pelaksanaan penilaian autentik ini guru dapat memberikan tugas seperti: menulis, menggambar, melakukan sesuatu, memperagakan, presentasi atau diskusi. Dalam hal cakupan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.25

Dapat disimpulkan pelaksanaan penilaian autentik suatu penentu dalam mengekspolarasi pemahaman peserta didik dan pengalaman belajar sesuai dengan tingkat kemampuan.

d. Ruang lingkup Penilaian Autentik

Penilaian hasil belajar peserta didik menggunakan penilaian autentik, yaitu mencakup kompetensi sikap (afektif), kompetensi pengetahuan (cognitive), dan kompetensi keterampilan (Psikomotorik) yang dilakukan dengan berkesinambungan sehingga bisa digunakan untuk menentukan arah peserta didik terhadap standar yang telah ditentukan. Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata pelajaran, kompetensi muatan, kompetensi program, dan proses.

Ranah sikap (Afektif) berhubungan dengan minat dan sikap yang berbentuk tanggung jawab, kerja sama, disiplin, komitmen, percaya diri, jujur, menghargai pendapat orang lain, dan kemampuan mengendalikan diri. Ranah pengetahuan (Kognitif) suatu konsep ilmu pengetahuan yang harus dikuasi peserta didik melalui proses belajar mengajar. Kompetensi pengetahuan memiliki beberapa tingkatan diantaranya; ingatan atau hafalan, pemahaman, penerapan atau

25 Yanti, op.cit., h. 157-158

aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Ranah keterampilan (Psikomotorik) penilaian untuk mengukur tingkatan pencapaian kompetensi keterampilan dari peserta didik yang meliputi aspek imitasi, manipulasi, presisi, artikulasi, dan naturalisasi. 26 Berdasarkan ruang lingkup tersebut, membuktikan bahwa penilaian sikap, pengetahuan, dan keterampilan perlu dilakukan dalam kurikulum 2013, dengan cara pengaplikasian secara berkesinambungan antar ranah.

e. Prosedur Penilaian Autentik

1. Penilaian aspek sikap dilakukan melalui tahapan:

a. Mengamati perilaku peserta didik selama pembelajaran.

b. Mencatat peserta didik dengan menggunakan lembar observasi

c. Menindaklanjuti hasil pengamatan.

d. Mendeskripsikan perilaku peserta didik.

2. Penilaian aspek pengetahauan dilakukan melalui tahapan:

a. Menyusun perencanaan penilaian.

b. Mengembangkan instrumen penilaian.

c. Melaksanakan penilaian.

d. Memanfaatkan hasil penilaian.

e. Melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi.

3. Penilaian aspek keterampilan dilakukan melalui tahapan:

a. Menyusun perencanaan penilaian.

b. Mengembangkan instrumen penilaian.

c. Melaksanakan penilaian.

26 Andi Prastowo, Menyusun rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Tematik Terpadu, (Jakarta:Prenamedia Group, 2015),h.370

d. Memanfaatkan hasil penilaian.

e. Melaporkan hasil penilaian dalam bentuk angka dengan skala 0-100 dan deskripsi.

4. Prosedur penilaian proses belajar dan hasil belajar oleh pendidik dilakukan dengan urutan:

a. Menetapkan tujuan penilaian dengan mengacu pada RPP yang telah disusun.

b. Menyusun kisi-kisi penilaian.

c. Membuat instrumen penilaian berikut pedoman penilaian.

d. Melakukan analisis kualitas instrumen.

e. Melakukan penilaian.

f. Mengolah, menganalisis, dan menginterpretasikan hasil penilaian.

g. Melaporkan hasil penilaian

Berdasarkan kesimpulan dari penjelasan mengenai prosedur penilaian autentik dapat dilihat sesuai dengan aspek kompetensi yang hendak dicapai. Adapun kegiatan selama pembelajaran yang dilakukan dimulai dari mengamati peserta didik selama pembelajaran, menyampaikan materi dan memberikan pemahaman atau pengukuran konsep dari pengetahuan, dan terakhir menganalisis dengan melakukan instrument penilaian.

f. Jenis-jenis Penilaian Autentik

Jenis penilaian autentik dari segi alatnya terdiri dari tes (test) dan bukan tes (nontest). Sistem penilaian tes (test) kurang menggambarkan kemajuan belajar peserta didik secara menyeluruh, karena hasil belajar peserta didik digambarkannya dalam bentuk angka-angka atau huruf yang maknanya sangat abstrak. Sedangkan Teknik penilaian bukan tes (nontest) memberikan gambaran pengalaman dan kemajuan belajar bagi peserta

didik secara menyeluruh. Melalui penilaian tersebut kemajuan peserta didik dapat diketahui oleh guru, orang tua, dan oleh peserta didik sendiri.

Oleh karena itu, untuk melengkapi gambaran kemajuan belajar peserta didik secara menyeluruh, perlu di adakannya antara penilaian dalam bentuk tes (test) dan bukan test (nontest) dengan secara seimbang.27

Adapun jenis instrumen penilaian tes (test) seperti, pilihan ganda, jawaban singkat, jawaban terbuka, esai, dan laporan/ makalah. Sedangkan instrument penilaian bukan tes (nontest) seperti, Penilaian kerja, Penilaian portfolio, penilaian proyek, dan penilaian produk. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di Gambar 2.1

Gambar 2.1 Jenis Penilian Autentik

Test Non-test

27 Trianto Ibnu Badar, Desaian Pengembangan Pembelajaran Tematik, (Jakarta:Prenada Media, 2011), cet., 1, h. 260-262

Pilihan Ganda

Jawab singkat

Jawab terbuka

Esai

Laporan/makalah

Perangkat Penilaian Autentik

Kinerja

Portofolio

Proyek

Produk

Dapat disimpulkan hasil penilaian dengan cara ini dapat digunakan untuk umpan balik bagi peserta didik, dengan memantau kemajuan belajar peserta didik, memperbaiki program pembelajaran, dan mencapai kompetensi yang diharapkan.

g. Teknik dan Instrumen Penilaian Autentik

Teknik dan Instrumen yang digunakan di dalam penilaian autentik kurikulum 2013, yaitu kompetensi penilaian sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan sebagai berikut:

1) Penilaian Kompetensi Sikap a. Pengertian kompetensi sikap

Ranah sikap (afektif) bermula dari perasaan (suka atau tidak suka) yang terkait dengan kecenderungan seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. Sikap juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh seseorang.

Sikap merupakan menentukan keberhasilan belajar, apabila peserta didik tidak memilii minat pada pembelajaran, maka akan mengalami kesulitan untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Oleh karena itu, di dalam dunia Pendidikan tenaga pengajar (guru) harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik, agar mencapai kompetensi pembelajaran yang telah ditentukan. Untuk itu pendidik harus merancang program pembelajaran yang memerhatikan kompetensi sikap (afektif).

Dalam kurikulum 2013 sikap dibagi menjadi dua bagian yaitu, sikap spiritual dan sikap sosial. Bahkan kompetensi sikap menjadi kompetensi inti, yakni kompetensi inti 1 (KI-1) untuk sikap spiritual dan kompetensi inti 2 (KI-2) untuk sikap sosial.

Meskipun kompetensi sikap spiritual dan kompetensi sikap sosial memiliki kompetensi dasar (KD), namun tidak dijabarkan

di dalam materi atau konsep yang harus disampaikan. Karena kompetensi sikap spiritual dan sosial harus muncul dari diri peserta didik di dalam kehidupan sehari-hari, sikap tersebut harus dibarengin dengan penilaian instrument lainnya.28

b. Teknik-teknik Penilaian Kompetensi Sikap

Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa Teknik.

Teknik-teknik tersebut antara lain observasi, penilaian diri, penilaian antar peserta didik, dan jurnal. Teknik-teknik tersebut dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut.29

1) Observasi

Observasi merupakan Teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati.

Observasi juga bisa dikatakan dengan pengamatan, karena Teknik tersebut sumber informasi yang berguna untuk menganalisis perkembangan belajar siswa. Misalnya, guru mata pelajaran geografi menugaskan peserta didik membuat peta, tampak seorang peserta didik lamban dalam membutanya, sedangkan peserta didik lainnya menyelesaikan dengan tepat waktu yang ditentukan guru atau cepat dalam pengerjaannya.

2) Penilaian Diri

Penilaian diri merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi.

Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri.

28 Kunandar, Penilaian Autentik (Penilaian Hasil Belajar Peserta didik Berdasarkan Kurikulum 2013). Suatu Pendekatan Praktis, h.103-105

29 Hamzah B. Uno, Satria Koni, Assessment Pembelajaran, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2013), cet.

3, h.30

Penilaian diri bermanfaat bagi peserta didik bahwa mereka dapat andil dalam penilaian terhadap dirinya sendiri, yang bisa menyebabkan termotivasi dalam kegiatan belajar mengajar, dan berusaha memperbaiki atas kekurangannya.

3) Penilaian Antar Peserta didik

Penilaian antarpeserta didik merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik.

Penilaian ini akan menumbuhkan perasaan bahwa di dalam kelas peserta didik memiliki kehendak dalam pencapaian tujuan yang sama, karena peserta didik bisa belajar dari teman-teman sendiri bukan hanya dari guru.

4) Jurnal

Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.

Berdasarkan pemaparan tingkatan pengetahuan (kognitif) di atas, dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu tingkat rendah dan tingkat tinggi.

Tingkat rendah terdiri dari pengetahuan, pemahaman, dan penerapan.

Sedangkan tingkat tingginya terdiri dari analisis, sintesis, dan evaluasi

.

3. Penilaian Kompetensi Pengetahuan

a. Pengertian Penilaian Kompetensi Pengetahuan

Kompetensi pengetahuan (kognitif) adalah penilian yang dilakukan guru untuk mengukur tingkat pencapaian atau penguasaan peserta didik dalam aspek pengetahuan yang meliputi ingatan atau hafalan, pemahaman, penerapan, atau aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Kompetensi pengetahuan (kognitif) konsep penguasaan keilmuan yang dimiliki siswa yang didapatkan dari prose belajar atau kegiatan belajar mengajar. Kompetensi pengetahuan ini merupakan menjadi tolak ukur kemampuan siswa dalam memahami materi dan kompetensi yang telah diajarkan.

b. Teknik-teknik Penilaian kompetensi Pengetahuan 1) Test tertulis

Tes tulis berupa soal pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan uraian. Instrumen uraian dilengkapi pedoman penskoran.

Penilaian tes tertulis terdapat dua tipe soal, soal objektif dan subjektif. Soal objektif siswa disajikan dengan cara pemilihan jawaban yang telah disediakan. Jenis soal objektif seperti, soal benar-salah, soal pilihan ganda, dan soal menjodohkan. Sedangkan soal subjektif soal memberikan jawaban dengan menuliskan jawabannya. Jenis soal seperti, jawaban singkat, melengkapi, dan soal uraian.30

30 Herman Yosep, dan Yustiana Wahyu Harumurti, Penilaian Belajar Siswa, (Jakarta: Bumi aksara, 2013) h.73

2) Test Lisan

Tes lisan diharapkan dapat membuat peserta didik timbulnya rasa keberaniaannya dalam penyampaiannya, tes lisan bisa digunakan menguji peserta didik, baik secara individu maupun kelompok. Misalnya ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan ujian tingkat kompetensi, dan ujian sekolah.31

3) Penugasan

Penugasan merupakan kegiatan penilaian terhadap sautu tugas yang berupa pekerjaan rumah atau proyek yang ditentukan batas waktu pengumpulannya, penugasan meliputi: Pengumpulan, pengorganisasian, pengevaluasian, dan pengkajian data yang harus diselesaikan peserta didik dengan cara individu dan kelompok.32

Berdasarakan penjelasan Teknik penilaian pengetahuan tersebut, bahwa Teknik dengan penilaian tes tertulis berbentuk butiran soal yang telah dibuat oleh guru, Teknik penilaian tes lisan dalam bentuk guru bertanya secara langsung terhadap peserta didik, sedangkan Teknik penilaian penugasan guru memberikan tugas kepada peserta didik dengan pengumpulannya telah ditentukan waktunya.

4. Penilaian Kompetensi Keterampilan a. Pengertian Kompetensi Keterampilan

Penilaian keterampilan (psikomotorik) merupakan “masalah dan pertanyaan yang menarik dan layak penting, di mana peserta didik harus menggunakan pengetahuan untuk menggelar pertunjukan secara efektif dan secara kreatif. Artinya kompetensi keterampilan ini

31 Kusaeri, Acuan & Teknik penilaian Proses & Hasil belajar dalam kurikulum 2013, (Yogyakarta:Ar-Ruzz, 2014),h.196

32 Ibid, h. 231

lanjutan dari kompetensi pengetahuan dan kompetensi sikap apabila peserta didik sudah mengikutinya. Karena kompetensi keterampilan hasil bentuk ketercapaiannya kompetensi pengetahuan (kognitif) dan kompetensi sikap (afektif) dengan menunjukkan tingkat keahliaan dalam suatu tugas sekumpulan tugas tertentu.33

b. Teknik-teknik Penilaian Kompetensi Keterampilan 1) Penilaian unjuk kerja/kinerja

Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang pendidik dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan suatu tugas. Oleh karena itu, penilaian ini lebih diarahkan pada ketercapaian kompetensi dalam melakukan suatu tugas. Penilaian unjuk kerja/kinerja dapat digunakan dalam semua mata pelajaran khususnya mata pelajaran, seperti: sosiologi, ekonomi, geografi, sejarah.34

2) Penilaian Proyek

Proyek adalah tugas belajar (learning tasks) yang meliputi kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan secara tertulis maupun lisan dalam waktu tertentu.

3) Penilaian Portfolio

Penilaian portofolio adalah penilaian yang dilakukan dengan cara menilai kumpulan seluruh karya peserta didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif-integratif untuk mengetahui minat, perkembangan, prestasi, dan/atau kreativitas peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Karya tersebut dapat berbentuk tindakan nyata yang mencerminkan kepedulian peserta didik terhadap lingkungannya. Instrumen penilaian harus memenuhi

33 Kunandar, op.cit., h. 225

34 A Muri Yusuf, assessmen dan evaluasi Pendidikan: Pilar penyedia informasi dan kegiatan pengendalian mutu Pendidikan, (Jakarta:Prenamedia Group, 2015), cet. I, h. 296

persyaratan: pertama, substansi yang mempresentasikan kompetensi yang dinilai, Kedua, konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrument yang digunakan, dan ketiga, penggunaan Bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.

Berdasarkan penilaian kompetensi keterampilan yang telah diuraikan, bahwa Teknik penilaian portfolio hasil peserta didik yang menyajikan informasi bagi pendidik untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan perbaikan pembelajaran (umpan balik) untuk meningkatkan

Berdasarkan penilaian kompetensi keterampilan yang telah diuraikan, bahwa Teknik penilaian portfolio hasil peserta didik yang menyajikan informasi bagi pendidik untuk dijadikan bahan pertimbangan dalam menentukan perbaikan pembelajaran (umpan balik) untuk meningkatkan