• Tidak ada hasil yang ditemukan

TERHADAP TOTALm

2.2 Mata Pencaharian Penduduk

Mata pencaharian ialah pekerjaan yang rutin dilakukan hal ini bisa dilihat dari corak kehidupan penduduk setempat, berdasarkan cirri yang dimilikinya, kehidupan penduduk dapat dibedakan menjadi dua corak kehidupan tradisional (sederhana) dan corak kehidupan modern (kompleks). Masing-masing corak kehidupan memiliki corak kehidupan tersendiri. Mata Pencaharian penduduk yang memiliki corak sederhana biasanya sangat berhubungan denagn pememfaatan lahan dan sumber daya alam kelautan (perikanan).

Usaha pembudidayaan atau penangkapan hewan-hewan dilaut biasanya dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah pesisir. Nelayan menangkap ikan-kan laut di kawasan laut dangkal atau zona neterik. Secara tradisioanal para nelayan menggunakan perahu kecil dan jenis pengankapan ikan dasarnya hanya menggunakan jaring, pancing, dan jala. Adapaun jenis ikan

yang dihasilkan ialah ikan teri, ikan senangin, ikan lidah, gembung, kerang, kepiting dan lain-lain.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam beberapa abad lamanya, pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan peradapan wilayah nusantara memiliki kelautan ekonomi dan politik dan berbasis pada sumber daya kelautan. Setelah lebih dari puluhan tahun seperti diabaikan barulah di era repormasi, kesadaran untuk menjadikan pembangunan nasional kita. Setidaknya, hal tersebut tercermin dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara(GBHN) tahun 1999. Ada sejumlah alasan mengapa pemerintah harus peduli terhadap pemberdayaan kelautan. Diantaranya Indonesia merupakan Negara kepulauan atau Negara maritim dimana pada banyak pulau dan pantai, di dalamnya terdapat kekayaan alam sumber daya laut dan pesisir14

Sebelum tahun 1970 mata pencaharian masyarakat Desa Tanjung Leidong ialah nelayan, adapaun nelayan sebagai pedagang sekaligus bermata pencaharian sebagai nelayan yang ada di Desa Tanjung Leidong. Tingkat perekonomian yang hanya mengandalkan nelayan, biasanya memiliki kehidupan perekonomian yang tergolong rendah. Kehidupan nelayan tergantung kepada kondisi alam, dimana para nelayan harus menyesuaiakan terhadap pada pasang surutnya air laut, apabila angin berhembus kencang (pasang mati) maka nelayan tidak akan kelaut lagi akibatnya berpengaruh terhadap perahu yang mereka bawa kedalam laut, sedangkan apabila pasang naik (pasang besar) mereka akan kewalahan dalam mencari ikan, itu terlihat pada tanggal kelender nelayan bagaimana keadaan dilaut. Adapun mereka gunakan sebagai alat tangkap untuk mencari ikan yaitu: Jaring, Pancing, Jala, dan perahu dayung mengingat pada saat itu alat tehknolgy belum tersedia, kehidupan ini dilakukan demi memenuhi kelangsungan hidup, kehidupan nelayan ini tidak tahu kapan di mulai di Desa Tanjung Leidong, tetapi cara yang

.

14

mereka gunakan ialah sama seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka dalam menangkap ikan di Laut. Tetapi hal ini, masyarakat sudah tinggal menetap didaerah tersebut dan melakukan pekerjaanya sebagai nelayan meskipun kehidupan masyarakat tersebut masih tradisional.

Hambatan yang terjadi pada masyarakat nelayan ialah mereka sangat kesulitan dalam pemasaran hasil ikan yang mereka proleh setiap harinya. Adapun ikan yang mereka proleh setiap harinya yaitu : ikan teri, ikan lidah, ikan cumi-cumi, ikan kepala batu, kerang, kepiting dll, adapun hasil yang mereka proleh dengan jumlah ikan yang sangat banyak yaitu dijual dengan harga murah karena tingkat persedian yang kurang memadai yaitu sarana Transportasi, tempat pengasinan ikan, dan pemasarannya. Kehidupan inilah yang yang sangat sulit dalam pengkapan hasil ikan di Laut yang hanya menggunakan perahu dayung (sampan)15

Hasil mata pencaharian setiap tahunnya hanya bisa mencukupi pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat di Desa Tanjung Leidong. Sedangkan jumlah ikan yang diperoleh setiap harinya hampir mencapai 80-100/kg perhari dan di jual kepada tengkulak (pemborong) dengan harga Rp 100-300/kilogram, ini merupakan mereka yang memiliki sampan sendiri, pada masa itu mereka yang memiliki sampan sendiri sudah kalangan menengah keatas, dan apabila mereka yang tidak memiliki sampan, mereka bekerja sebagai karyawan orang-orang pemilik kapal atau sampan, ini dikarenakan sangat sulitnya kehidupan masyarakat. dan apabila pasang mati maka harga ikan akan melonjak tinggi dan demikian sebaliknya. Oleh karena itu produksi ikan sulit terjangkau oleh masyarakat dari tahun ke tahun. Semakin lama masyarakat seamakin tidak bisa memperthankan hasil ikan tersebut, kehidupan nelayan menghantar kepada kemiskinan dan mengalami kesulitan. Keadaan yang rendah tingkat perekonomian ini akan mengancam

.

15

kelangsungan hidup masyarakat apabila tidak menambah solusi yang tepat dan menambah mata pencaharaian yang lain yang mampu meningkatkan kehidupan masyarakat. Akibat nelayan yang hanya mampu memenuhi kebutuhan kehidupan sehari-hari, anak-anak mereka tidak bisa memproleh pendidikan, bahkan untuk sekolah tingkat SD (sekolah dasar) saja sangat kesulitan dalam membiayai anak-anak mereka, bahkan anak yang dibawah umur saja sudah di bawa untuk mencari nafkah (berlaut) demi memenuhi kebutuhan hidup mereka. Keterbatasan ekonomi di Desa Tanjung Leidong sangat jelas kelihatan, ini terlihat pada tingkat pendidikan yang rendah, sebelum tahun 1970 pendidikan di desa Desa Tanjung Leidong ini sangat rendah masih banyak masyarakat hanya menyekolah kan anaknya hanya sebatas sekolah dasar yang paling tinggi saat itu. Sedangkan untuk tingkat kesehatan juga tidak memadai, Masyarakat lebih memilih untuk pergi berobat secara tradisional karena lebih murah.

Hal ini karena tingkat perekonomian, masyarakat sangat rendah sehingga lebih memilih pengobatan tradisional daripada pergi ke puskesmas yang biaya nya lebih mahal. Kalau berobat secara tradisional hanya memerlukan biaya yang sedikit untuk upah yang memberi obat, sedangkan ke puskesmas mereka harus membayar biaya pengobatan serta menebus obat dari puskesmas. Untuk ibu-ibu yang mau melahirkan pun mereka harus ke dukun beranak karena pada saat untuk bidang kesehatan belum tersedia. Rendah nya perekonomian saat itu hanya mengandalkan nelayan sebagai mata pencaharian pokok. Namun pada tahun1960 sebelum dibukanyaa lahan pertanian di Desa Tanjung Leidong penduduk asli desa tersebut hanya terdiri dari 217KK yang memiliki pekerjaan sebagai nelayan, namun karena yang kebanyakan yang bekerja sebagai nelayan yaitu masyarakat melayu, tidak semua mereka para nelayan mau ikut membuka lahan pertanian kehutan, mereka tetap bekerja sebagai nelayan meskipun para nelayan

sudah banyak yang mencoba membuka lahan pertanian, adapun yang membuka lahan pertanian sekitar 150 Kk yang mau ikut membuka lahan petanian16

BAB III .

Penduduk di Tanjung Leidong bermata pencaharian sebagai Nelayan ataupun pertanian. Hal ini menjadi indikator akan pentingnya setelah dibukanya lahan pertanian di Kecamatan Tanjung Leidong sebagai penopang kegiatan perekonomian penduduk yang sebagian besar menggantungkan hidupnya pada pertanian tersebut. Mata pencaharian penduduk yang heterogen tersebut merupakan bagian dari kegiatan ekonomi yang berlangsung di Tanjung Leidong sebagai akibat dari perkembangan serta pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik.

PERKEMBANGAN PERTANIAN PETANI PADI TADAH HUJAN DI DESA

Dokumen terkait