PERKEMBANGAN PERTANIAN PETANI PADI TADAH HUJAN DI DESA TANJUNG LEIDONG TAHUN 1970-2000
3.3 Panen dan Pekerja
Keadaan fisik dan daerah tertentu menyebabkan penduduknya harus mengalami fluktuasi-fluktuasi yang demikian besarnya dengan hasil panen mereka, sehingga tanpa
28
pemungutan dari kaum elit sekalipun kelangsungan hidup mereka sudah rawan. Apabila disamping itu, penghasilan mereka pada umumnya rendah, maka setiap pendapatan tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh kaum elit setelah satu (serentetan) panen yang gagal besar kemungkinannya akan mempunyai efek yang gawat terhadap kehidupan petani. Oleh kerena itu tidak mengherankan bahwa daerah-daerah sedemikian seringkali terkenal dengan sejarahnya yang ditandai dengan pembrontakan dan perlawanan terhadap kekuasaan negara29
Panen dilaksanakan berdasarkan umur tanaman sesuai dengan deskripsi variates sekitar 150 - 160 hari setelah tanam, cara ini paling mudah diingat dan paling banyak dilakukan petani. Cara ini dilakukan dengan melihat warna bulir padi yang sudah menguning dan daun bendera yang masih hijau atau mulai menguning, sedangkan daun bendera masih tampak hijau atau mulai menguning.30
29
James C.Scott, Moral Ekonomi Petani, Jakarta, 1981. Hal.304 30
Ibid, hal.80
Ketika padi sudah mulai menguning para petani mulai sibuk mengurus panennya seperti mencari tenaga kerja, untuk menghindari kebanjiran dan kekurangan tenaga kerja untuk memanen padi walaupun padi belum matang secara optimal. Adapaun yang datang untuk memanen di Desa Tanjung Leidong ini datang datang berbagai penjuru yaitu dari air joman, kisaran, siborong-borong, samosir dan lain lain, karena masyarakat yang bereda di daerah tersebut tidak mampu menyelesaikan hasil pertanian meresa sendiri, baik melalui gotong royong ataupun dikerjakan sendiri. Ketika panen pada tahun 1970 yang datang memanen padi tersebut ialah semua kaum wanita karena mereka yang datang memenen hanya menggunakan ani-ani untuk memanen padi disawah tanpa terkecuali, dalam menyelesaikan satu Hektar padi panen dengan menggunakan ani-ani yang pekerjanya 10 orang membutuhkan waktu 12 hari dan menghabiskan waktu yang sangat lama. meskipun demikian tidak mengurangi semangat para wanita yang bekerja. Karena mengingat belum ditemukan alat yang modern dan cepat untuk
beroperasi dalam bekerja.ini berlangsung selama kurang lima tahun. Setelah siap diani-ani para pekerja mereka akan memukul padi tersebut atau mimijak padi tersebut supaya bilur-bilur padi akan lepas itu dilakukan dengan kayu ataupun dengan pelepah kelapa, ini dikerjakan pada malam hari.
Pada tahun 1975 muncul sabit sebagai alat untuk memanen padi disawah, dan yang datang bekerja sebagai pekerja bukan hanya wanita saja melainkan pria juga sudah ikut serta dalam memanen padi di desa ini. Mulailah masyarakat Desa Tanjung Leidong menggunakan sabit sebagai alat untuk memanen padi disawah, dan sabit ini lebih cepat cara kerjanya kalau yang menggunakan ani-ani membutuhkan waktu 12hari dengan mengunkan sabit hanya membutuhkana waktu enam hari dalam menyelesaikan satu hektar padi meskipun demikian tidak untuk meningkatkan hasil pertanian tetapi hanya untuk mempercepat sarana atau cara kerja petani dalam menyelesaikan panen padi. Pada waktu yang kurang lebih bersamaan, mesin pemanen dan perontok gabah mulai muncul diarena percaturan setempat. Kemunculan alat-alat ini sebagian besar dimungkinkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi yang sebelumnya juga telah memperbaiki pendapatan buruh tani dikampung31
o Dengan menggunakan kedua kaki, padi di injak dengan cara diputar-putar .
Adapun beberapa cara untuk merontontokkan padi dari bulirnya yaitu :
o Kemudian cara digedig, tumpukan padi dipukul-pukul dengan menggunakan daun pelapah atau daun kelapa
o Perontokan padi dengan fedal thresher yang digerakkan dengan mesin.32
31
James C. Scott, Senjatanya Orang-Orang Yang Kalah(Bentuk-Bentuk Perlawanan sehari-hari Kaum Tani), Jakarta, 2000, Hal. 146
32
Ibid, hal.91
Namun pada tahun 1980 muncullah alat modern yang bisa menyelesaikan panen secara cepat dan praktis yang biasa disebut dengan nama Theresher33
Bisa diperkirakan lebih banyak masyarakat yang datang untuk memanen padi daripada penduduk yang berdomisili diderah tersebut. Hampir setiap rumah yang para pekerjanya ada sebanyak 15 orang datang untuk berpanen. Namun demikian mereka adalah tenaga kerja musiman dengan sendirinya datang ataupun datang karena sudah beritahu bahwa setiap bulan maret masyarakat Desa Tanjung Leidong akan penen padi. Mereka datang pada saat panen saja karena pada saat panen ketakutan-ketakutan masyarakat sangatlah banyak. Adapun yang menjadi ketakutan masyarakat ialah ketika padi sudah tua, maka padi-padi itu akan lengket dan tumbang karena padi semakin tua semakin merunduk, ketika hujan datang maka dalam memproleh hasil panen dari sawah sangatlah sulit selain tanah sudah tergenang air, pengangkutan dari sawah ke tempat yang kering sangatlah sulit, bahkan mereka menggunakan sampan plastic untuk menarik padi tersebut dari lahan persawahan sampai kepinggir jalan ataupun untuk tiba dirumah pemilik .ini juga membawa dampak terhadap pemanen yang datang ke Desa Tanjung Leidong, selain masyarakat datang untuk memanen bertambah semakin dan semakin cepet proses kerjanya. Namun ketika mesin perontok padi ini sudah muncul di Desa Tanjung Leidong masyarakat tidak mau langsung menerima alat mesin tersebut karena dalam pemikiran mereka jikalau menggunkana alat tersebut maka akan banyak bilur-bilur padi tersebut akan terbuang secara Cuma-Cuma. Namun yang membawa pertama kali mesin perontok padi ini berasal dari Aceh dan sekaligus datang sebagai petani musiman di daerah tersebut, setelah masyarakat mengerti alat modern masyarakat menerima alat mesin perontok padi tersebut sebagai sarana untuk mempermudah cara kerja petani yang hendak memanen padi tersebut.
33
padi. Ketika air hujan datang Maka bulir-bulir padipun akan basah dan tidak bisa langsung dijual ke kilang padi kerena mereka harus terlebih dahulu menjemur padi tersebut supaya padi tersebut bisa dijual kekilang padi. Sebenarnya banyak yang menjadi ketakutan masyarakat yang ada di Desa Tanjung Leidong ini, mereka yang datang untuk bekerja terutama orang-orang jawa, batak, sedangkan orang-orang jawa berasal dari kisaran sedangkan orang-orang batak berasal dari siborong-borong, samosir dan sidikalang mereka tinggal dirumah pemilik sawah yang menggunakan jasanya (makan, minum, dan tidurnya) ditanggung oleh petani pemilik sawah sampai bertahun-tahun demikian lah yang datang untuk memanen hasil pertanian di Desa Tanjung Leidong. Setelah selesai panen petani mereka kembali petani yang datang bekerja sebagai pekerja musiman kembali kedaerahnya masing-masing. Namun ketika sudah selesai masyarakat petani di Desa Tanjung Leidong mengerjakan hasil pertanian mereka, ada yang menjual hasil pertanian mereka semua ke tauke dan ada yang menyisihkan hasil penennya untuk kebutuhan hidup satu tahun kedepannya supaya tidak lagi membeli beras untuk bulan berikutnya, namun ada juga yang menjual sekaligus hasil pertanian mereka ketauke dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka menunggu hasil panen padi singgang yang kedua, kerena setelah selesai panen padi bisa dikatakan masyarakat memproleh hasil panen dua kali dalam setahun tapi dengan sekali penanaman yang dinamakan singgang padi34
34
Singgang padi merupakan hasil padi yang kedua kalinya setelah padi sudah selesai dipanen, maka akan tumbuh kembali padi kecil pada bagian batang padi yang sudah selesai di arit dari batang padi, hasil padi singgang ini tidak lama proses panennya hanya menunggu waktu selama 30 hari setelah selesai panen.
. Dalam menunggu singgang padi ini, tidak menunggu waktu terlalu lama, hanya menunggu waktu selama 30 hari setelah padi tersebut dipanen, setelah selesai diarit batang padi, maka akan tumbuh kembali padi pada bagian padang padi tersebut, bisa dikatakan bahwa dalam sekali penanaman bibit padi mampu menghasilkan panen dua kali dalam setahun, singgang padi ini tidak jauh beda dengan padi yang pertama, jikalau hasil padi pertama bisa memproleh 4-5 ton per hektarnya maka padi singgang
ini bisa memproleh hasil mencapai 2 sampai dengan 3 ton perhektarnya. Namun dari segi kualitas beras singgang ini jauh lebih sedap rasanya dibandingkan hasil padi yang pertama, namun setelah selesai panen banyak hal yang bisa dikerjakan oleh petani yaitu, mencari ikan dilaut, mencari ikan dikolam adapun ikan yang dicari yaitu: ikan sepat, ikan gabus, ikan lele, ikan betik dan lain-lain. Adapun hasil ikan tersebut mereka jual langsung kepasar ataupun di asin untuk laut mereka sehari-hari. Sehingga masyarakat yang ada di Desa Tanjung Leidong tidak lagi membeli ikan ke pasar setiap hari, namun untuk sayur mayor mereka memilih untuk menanam sayur-mayur mereka disawah mereka atau benteng sawah yang sudah ditimbun tanah.
3.4Pemasaran
Pemasaran Pengaruh pertanian padi bukan hanya di pola kehidupan masyarakat saja namun di pemasaran juga terjadi. Tauke atau kilang padi di desa ini bermunculan dengan pemasaran yang terorganisir. Hubungan antara petani dan tauke sangat dekat dan saling membutuhkan. Masyarakat harus tetap menjaga hubungan baik dengan Tauke karena tidak ada pilihan lain untuk menjual padi selain Tauke tersebut, mengingat transportasi yang sangat sulit untuk diitempuh karena jalan harus melalui transportasi laut. Karena hanya kapal taukelah yang ada di daerah tersebut. Pada tahun 1970 dalam pemasaran hasil daripada pertanian mereka mereka tidak langsung menjual padi mereka begitu saja, tetapi mereka terlebih dahulu mengolah padi yang sudah dipanen, lalu mereka menumbuk padi tersebut kedalam lesung dan menjual beras tersebut kepasar, dalam pemasaran juga mereka belum memiliki transpotasi dalam pengankutan beras, mereka berjalan kaki menelusuri pasar sepanjang 10 km dengan menjunjun beras tersebut. karena tauke Zuke ini baru ada pada tahun 1975 setelah berbagai rintangan yang dilalui oleh masyarakat dalam pemasaran beras, namun setelah dibukanya kilang padi Zuke ini, mereka tidak lagi menumbuk padi tersebut setelah selesai dipanen, melainkan mereka langsung menjual beras
tersebut kekilang padi, dan kilang padilah yang akan mengolahnya sendiri. Dan tauke inilah yang melakukan pemasaran tersebut keberbagai daerah atau kota kota besar seperti, kota Medan, Jakarta, Malasya dll35
35
Wawancara dengan pemilik kilang padi (Tauke) tanggal 02 April 2014 .
Masyarakat membutuhkan tauke untuk pemasaran hasil pertanian mereka dan tauke membutuhkan hasil pertanian dari masyarakat untuk melancarkan usaha mereka. Adapun kilang padi yang mau menerima padi tidak banyak hanya satu dua atau tiga kilang padi saja, yang menjadi pemasaran terbesar di daerah Tanjung Leidong sekitarnya ialah Tauke Zuke, inilah yang menampung semua padi yang ada di daerah tersebut tanpa terkecuali karena sarana transportasi tidak ada untuk keluar masuknya barang, semua yang mengkelolah ialah Tauke Zuke. Potensi padi sawah yang dihasilkan Kecamatan Kualuh Leidong diolah dan dijadikan beras Leidong yang cukup terkenal di Sumatera Utara, bahkan beras Leidong jenis KKB ( kuku balam) dan ramos telah dipasarkan dijakarta, di Medan, dan beberapa kota terbesar di Sumatera Utara. Dalam industry pengelolahan padi atau disebut kilang padi, Kecamatan Kualuh Leidong memiliki kilang padi terbesar di Sumatera Utara yang mengelolah padi secara modern yang menghasilkan beras yang berkualitas
Pemasaran di desa ini ada satu jenis yaitu pemasaran bebas dan pemasaran yang satu Tauke Zuke, dan Tauke Zuke yang manampung hasil yang ada di Kecamatan kulauh Leidong, pemasaran besar sampai ke berbagai penjuru mulai Tanjung Balai, Medan, Jakarta, dan Malasyia. Adapun pemasaran yang dijual ialah besar, dan Tauke tidak menjual padi tetapi sudah mengolahnya menjadi beras. Pemasaran bebas yaitu masyarakat tidak ada perjanjian terhadap salah satu tauke dan pemasaran terikat yaitu petani mempunyai perjanjian dengan tauke.
BAB IV
PENGARUH PERTANIAN PADI BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA