BAB II KAJIAN PUSTAKA
3. Matematika di Sekolah Dasar
Matematika adalah terjemaharn dari mathematics. Namun arti atau definisi yang tepat dari matematik tidak dapat di terapkan secara eksak (pasti) dan singkat. Definisi matematik makin lama makin sukar untuk di buat, karena cabang-cabang matematik makin lama makin bertambah dan makin bercampur satu sama yang lainnya.
James dan James (1976) dalam kamus matematikanya menyatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk, susunan, besaran, dan konsep-konsep yang saling
berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi dalam tiga bidang, yaitu : aljabar, analisis, dan geometri namun pembagian yang jelas sangatlah sukar untuk di buat, sebab cabang-cabang itu semakin bercampur. Sebagai contoh ada pula pendapat yang menyatakan bahwa matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi dalam empat wawasan yang luas, yaitu aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistik.
Jhonson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat. Lebih berupa bahasa simbol mengenai ide (gagasan) dari pada mengenai bunyi, matematika adalah pengetahuan struktur yangy terorganisasikan sifat-sifat atau teori-teori itu dibuat secara deduktif berdasarkan pada unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didetinisikan, aksioma-aksioma, sifat-sifat, atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide dan matematika itu adalah suatu seni keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisasiannya. Jadi menurut Jhonson dan Rising jelas matematika adalah ilmu dedukatif. Rey dan kawan-kawan (1984) dalam bukunya menyatakan bahwa matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan suatu jalan atau pola berfikir suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.
Kemudian Kline (1973) dalam bukunya mengatakan pada, bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.
Fungsi matematika sekolah dasar adalah sebagai salah satu unsure masukan instrumental, yang memiliki objek dasar abstrak dan berlandaskan konsistensi dalam system proses mengajar belajar untuk mencapai tujuan pendidikan (Kurikulum Pendidikan Dasar, 1994/1995 :68 ).
c. Tujuan Matematika
Matematika sebagai alat bantu dan pelayan ilmu tidak hanya untuk matematika sendiri tetapi untuk ilmu-ilmu yang lainnya, baik untuk kepentingan teoritis maupun untuk kepentingan praktis sebagai aplikasi dari matematika. Mengapa matematika itu diajarkan di sekolah alasan utamanya tentunya karena kegunaannya untuk umat manusia diantaranva.
a. Dengan belajar matematika, manusia dapat menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat yaitu dalam berkomunikasi sehari-hari seperti dapat berhitung, dapat menghitung luas, isi, dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menafsirkan data, dapat menyelesaikan bidang studi lain.
b. Matematika diajarkan di sekolah karena matematika dapat membantu bidang studi yang lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi statistika dan lain-lain.
c. Dengan mempelajari geometri ruang siswa dapat meningkatkan kemampuan pemahaman ruang sehingga berpikir logik dan tepat dimensi tiga dengan mempelajari aljabar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam merumuskan asumsi, definisi generalisasi dan lain-lain.
d. Matematika selain dapat digunakan untuk memperlihatkan fakta dan penjelasan persoalan, juga dapat dipakai sebagai alat perkiraan seperti perkiraan cuaca, pertumbuhan penduduk, keberhasilan belajar dan lain-lain.
e. Matematika berguna sebagai penunjang pemakaian alat-alat canggih seperti kalkulator, komputer.
f. Matematika diajarkan di sekolah seperti ilmu lainnya yaitu untuk terpeliharanya matematika itu sendiri demi peningkatan kebudayaan.
Dengan demikian, tujuan umum Pendidikan Matematika pada jenjang pendidikan dasar tersebut memberi tekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta juga memberikan tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.
Selanjutnya, kurikulum pendidikan dasar (2004 :61) juga menyatakan bahwa tujuan khusus pengajaran matematika masing-masing adalah sebagai berukut :
1. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari 2. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih gunakan,
melalui kegiatan matematika.
3. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). 4. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin. d. Ruang Lingkup Materi
Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar (2004 : 69) ruang lingkup materi/bahan kajian matematika di Pendidikan Dasar adalah Bahan kajian inti matematika di SD mencakup Aritmatika (berhitung), pengantar aljabar, geometri, pengukuran, dan kajian data (Pengantar Statistik).
Berdasarkan urutan dari beberapa pengertian di atas, dapat diartikan pembelajaran matematika di SD adalah proses komunikasi, transaksional yang bersifat timbal balik (proses sosialisasi) antara guru dengan siswa dan sebaliknya di sekolah dasar mengenai kemampuan menggunakan bilangan-bilangan atau simbol-simbol bagi ketajaman penalaran yang dapat memperjelas permasalahan kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan matematika.
B. Sasaran Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD
Sasaran pokok pembelajaran matematika bagi murid SD dilihat dari progam pengajaran yaitu :
1. Siswa memiliki keterampilan hitung dasar menjumlah dan mengurangi serta dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam menghitung uang.
2. Siswa memiliki keterampilan hitung dasar melalui perkalian dan pembagian.
3. Siswa memiliki keterampilan menyelesaikan soal cerita dengan kalimat matematik dan dalam batas penggunaan bilangan bulat.
4. Siswa memiliki keterampilan mengukur panjang dan waktu dalam kehidupan sehari-hari.
5. Siswa memiliki pandangan ruang melalui pengenalan bangun segitiga, kubus, balok.
6. Siswa memiliki keterampilan menghitung luas dengan kertas kotak.
Siswa tersebut harus mampu serta terampil menerapkan semua kemampuan perhitungan matematika di atas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pengetahuannya. Itulah sasaran dalam pembelajaran matematika bagi murid SD.
C. Masalah Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD
Beberapa masalah dalam pembelajaran matematika tidak dirasakan oleh siswa saja, tetapi oleh gurupun ada. Disini beberapa masalah yang dirasakan oleh guru yaitu :
1. Guru kesulitan memilih metode yang tepat dan benar untuk mengajarkan matematika sehingga murid-murid dapat mengerti perhitungan matematika.
2. Guru kesulitan mengubah rasa takut siswa terhadap pelajaran matematika menjadi sikap senang.
3. Pembelajaran matematika masih memperoleh hasil nilai rata-rata rendah. 4. Keberhasilan pembelajaran matematika masih jauh dari sasaran yang
diharapkan di atas.
1. Siswa merasa takut dan sulit belajar matematika. 2. Siswa kurang memahami cara-cara praktis perhitungan. 3. Siswa kesulitan dalam menghitung bangun ruang.
4. Siswa tegang dan stres menghadapi persoalan matematika
5. Siswa rata-rata kurang faham dan mendapat nilai kurang baik dalam pelajaran matematika.
Itulah beberapa masalah yang berkembang dilapangan dalam proses pembelajaran matematika yang menjadi hambatan guru dan siswa dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran bidang studi tersebut. Masalah di atas perlu dilakukan solusi pemecahannya sehingga di masa mendatang keberhasilan pembelajaran matematika menjadi semakin bertambah baik, untuk itu perlu dirumuskan strategi pembelajaran matematika yang sesuai.
D. Model Pembelajaran Kooperatif STAD
Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu. Implikasi dari teori Vygotsky ini dapat berbentuk pembelajaran kooperatif. Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (contextual teaching and learning),yaitu tentang learning community (Depag RI, 2004).
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif Student Teams Achievment Division (STAD)dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel : 2.1
Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD
Fase Tingkah laku Guru
Fase 1
Menyampaikan kompetensi yang diharapkan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang diharapkan, dan memotivasi siswa belajar.
Fase 2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok bekerja dan belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan diskusi secara efisien.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
Fase 5
Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Fase 6
Memberikan penghargaan
Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya hasil belajar individu maupun kelompok.
E. Bermain Kuis
Bermain kuis atau dikenal dengan strategi pembelajaran Team Quiz. Langkah-Iangkah pembelajaran Team Quiz adalah sebagai berikut:
1. Guru membentuk tiga kelompok (disesuaikan jumlah siswa).
2. Membagi tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian.
3. Buat skor masing-masing jawaban tiap kelompok (Depag. RI, 2001). Team Quiz adalah suatu kegiatan tanya jawab antar kelompok. Dalam kegiatan bertanya dan menjawab akan terjadi proses belajar yang tidak membosankan. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan "Berfikir itu sendiri adalah bertanya" (Hasibuan dan Moejiano, 2004).
Pengertian bertanya adalah ucapan verbal yang meminta tespons dari seseorang yang dikenai. Respons yang diberikari dapat berupa pengetahuan sampai dengan hal-hal yang merupakan hasil pertimbangan. Jadi bertanya merupakan stimulus efektif yang mendorong berfikir (Hasibuan dan Moejiono, 2004).
Dari pendapat dan pengertian tersebut, bertanya menunjukkan bahwa, baik yang bertanya maupun yang menjawab telah terjadi proses berfikir dari dirinya. Sedangkan berfikir merupakan proses belajar. Pemecahannya adalah mengajukan pertanyaan tentang semua informasi penting.
Di samping itu, pertanyaan-pertanyaan tentang fakta yang disampaikan dengan kata-kata sendiri, bukannya mengulang tepat seperti yang tertulis, membantu siswa mempelajari makna teks itu dan bukannya sekedar menghafalkannya (Mohamad Nur,1998). Pendapat ini mendukung bahwa memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat pertanyaan-pertanyaan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari teman adalah sama dengan memberi kesempatan belajar kepada siswa, sehingga pembelajaran berpusat pada siswa ataustudent center.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Obyek Tindakan
Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani, 2005). Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Yatim Riyanto, 2001) merupakan penelitian yang bersiklus, yang terdiri dari rencana, aksi, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:
Rencana
Refleksi
Gambar 3.1 : Tahapan Per Siklus
Penelitian tindakan kelas ini menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Devisions) dengan variasi bermain kuis. Pembelajaran dengan kooperatif STAD memiliki keunggulan yang dapat mengatasi masalah yang ada. Karena dalam kooperatif STAD akan terjadi meningkatnya fungsi mental melalui percakapan dan interaksi lainnya, serta kerjasama antar siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen.
Begitu pula bermain kuis diyakini memiliki keunggulan menciptakan suasana pembelajaran yang mengasyikkan, karena berupa permainan tanya jawab antar kelompok. Dalam situasi demikian diharapkan siswa tidak akan
Refleksi Observasi Refleksi Aksi Observasi dst
mengantuk dan bosan belajar matematika. Kegiatan bertanya dan menjawab adalah bentuk kegiatan berfikir, sedangkan belajar juga melalui proses berfikir.
Sebagaimana layaknya penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini akan dimulai dari siklus I yang pelaksanaannya melalui 4 (empat) tahap yaitu : perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan-tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar : 3.2 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas
Bagaimana pelaksanaan dari tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan berikut ini:
1. Perencanaan
Perencanaan dibuat berawal dari permasalahan yang muncul di lapangan yaitu dari pengalaman peneliti sebagai guru di Kelas VI SD Negeri 2 Sindanglaya. Permasalahan ini dapat disebut sebagai refleksi awal, yaitu hasil belajar matematika yang selalu rendah terutama pada kompetensi dasar tentang "Luas Bangun" yang mencakup:
a. Luas bidang datar (persegipanjang, jajargenjang, dan lingkaran) b. Luas permukaan bangun ruang ( kubus, balok, tabung )
c. Luas gabungan beberapa bangun datar (variasi dari bangun di atas) d. Luas gabungan sebagian bangun datar (variasi dari sebagian bangun
datar)
Dari permasalahan di atas muncul gagasan untuk menerapkan pembelajaran STAD dengan variasi kuis, dengan tujuan untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, efektif, inovatif, memudahkan,
TAHAP I Refleksi (Ra) TAHAP II Perencanaan (P-T) TAHAP III Tindakan Observasi (T-O) TAHAP IV Refleksi (R)
mengasyikkan, dan menyenangkan. Kegiatan perencanaan ini diawali dengan kegiatan:
a. Mengajukan izin ke guru kelas yang akan di jadikan objek untuk mengadakan PTK.
b. Mengadakan pertemuan dengan yang terdiri dari: 2 orang guru sebagai observer, yang membicarakan langkah-langkah penelitian.
c. Mempersiapkan rencana pelajaran, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan instrument pengamatan.
d. Mempersiapkan pengelolaan kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen berdasarkan kemampuan siswa dan jenis kelamin.
Tindakan akan dilaksanakan sesuai dengan tahapan pembelajaran STAD, tetapi ada variasi dengan kegiatan kuis. Kuis dilaksanakan pada tahap unjuk kerja dari setiap kelompok. Jika pada pembelajaran STAD murni, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, namun pada pembelajaran ini setiap kelompok memberikan pertanyaan kepada kelompok-kelompok lain. Untuk lebih konkritnya dapat diikuti langkah-langkah kegiatan pembelajaran berikut:
Tabel: 3.1
Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran STAD dan KUIS
Fase Tingkah laku Guru Kegiatan Siswa
Fase 1
Menyampaikan kompetensi yang diharapkan dan
memotivasi siswa disertai observasi (10 menit )
Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang diharapkan, dan memotivasi siswa belajar. Aktif mendengar, melihat, mencatat, bertanya, dan menjawab. Fase 2 Menyajikan informasi Disertai observasi (15 menit)
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi dan lewat bahan bacaan. Aktif mendengar, melihat, mencatat, bertanya, dan menjawab, serta membantu melakukan demonstrasi.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok bekerja dan belajar, setiap kelompok 4 siswa yang heterogen (5 menit)
Guru menjelaskan kepada siswa agar membentuk kelompok belajar dengan memberikan data nama anggota kelompok dan mengarahkan setiap kelompok agar membuat soal dan kunci jawaban soal yang telah diberikan
Berkelompok secara heterogen sesuai kemampuan, memberi nama, kelompok. Mendengar, melihat, bertanya, menjawab Fase 4 Membimbing kelompok bekerja dan belajar disertai observasi (15 menit)
Guru membimbing
kelompok-kelompok belajar pada saat mereka
mengerjakan tugas mereka.
Membuat soal dan jawabannya sejumlah anggota melalui diskusi kelompok. Fase 5 Evaluasi disertai observasi (35 menit)
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok
menyampaikan soal kepada kelompok lain
Bermain kuis antar kelompok melalui kegiatan bertanya dan menjawab.
Pada fase 5, yaitu pada saat kegiatan kuis, setiap kelompok memberikan soal kepada kelompok lain. Setiap kelompok mempunyai anggota dengan kode sebagai berikut:
Kelompok A mempunyai anggota berkode: A1, A2, A3, dan A4. Kelompok B mempunyai anggota berkode: B1, B2, B3, dan B4. Kelompok C mempunyai anggota berkode: C1, C2, C3, dan C4. Kelompok D mempunyai anggota berkode: D1, D2, D3, dan D4. Kelompok E mempunyai anggota berkode: E1, E2, E3, dan E4. Kelompok F mempunyai anggota berkode: F1, F2, dan F3. Kelompok G mempunyai anggota berkode: G1, G2, dan G3.
Sedangkan aturan mainnya diatur sebagai berikut: Setiap kelompok diberi kesempatan menyampaikan pertanyaan sebanyak 4 soal. Ketika kelompok A tampil menyampaikan pertanyaan, yang diberi kesempatan menjawab adalah kelompok B (B1), C (C1), D (D1), dan E (E1). Dan ketika kelompok B tampil, yang menjawab adalah kelompok F (F1), G (G1), A (A1), C (C2), begitu seterusnya.
Dari kegiatan kuis dapat diketahui kemampuan setiap siswa dalam menilai jawaban temannya maupun kemampuannya dalam menjawab pertanyaan temannya.
2. Tindakan
Pelaksanaan tindakan dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :
a. Siswa berkelompok dengan anggota 4/3 orang siswa yang heterogen kemampuannya.
b. Setiap kelompok bekerjasama membuat soal tentang luas bangun beserta kunci jawabannya.
c. Setiap kelompok unjuk kerja dengan memberikan soalnya kepada anggota kelompok lain secara menyebar. Jika soalnya 4 maka pertanyaan tersebut harus dijawab oleh 4 kelompok, di mana tiap kelompok mengirimkan wakilnya untuk menjawab soal dari kelompok yang tampil.
Pada tahap pelaksanaan tindakan, dilaksanakan skenario pembelajaran sesuai perencanaan yang telah disusun pada tahap perencanaan di atas. Siklus I dilaksanakan selama 2 (dua) pertemuan atau dua kali 40 menit (80 menit). Untuk siklus berikufiya disesuaikan dengan perkembangan siklus I.
3. Observasi
Observasi dilakukan oleh tim observer yang terdiri dari 2 orang guru untuk mengetahui bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung. Beberapa kegiatan penting yang perlu diamati adalah :
1. Fase pembelajaran klasikal, berapa prosen siswa yang aktif: melihat, mendengar, bertanya, menjawab, dan mencatat. Pada fase ini observer menggunakan instrumen angket.
2. Fase pembelajaran kelompok, yang perlu diamati adalah bagaimana kegiatan masing-masing anggota kelompok dalam memainkan peranannya dalam kelompoknya, antara lain : kerja sama, berpendapat,
semangat kerja, dan basil kerja. Fase ini menggunakan instrumen angket.
3. Fase unjuk kerja tiap kelompok penanya, yang diamati adalah:
a) Bagi penanya dinilai : penampilan, kualitas soal, kualitas kunci jawaban, menilai jawaban.
b) Bagi penjawab dinilai : penampilan, kualitas jawaban, kerjasama, waktu. Pada fase ini digunakan instrumen angket.
4. Semua aktifitas pembelajaran yang positif maupun negatif perlu dicacat sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan siklus berikutnya.
4. Refleksi
Pada kegiatah refleksi ini, tim peneliti mengadakan pertemuan untuk membahas hasil observasi. Data yang terekam pada instrumen observasi dievaluasi dan diambil kesimpttlan untuk membuat rencana pelaksanaan siklus II. Dari hasil pertemuan tim peneliti menyusun rencana dan mempersiapkan keperluan pembelajaran pada siklus II misalnya: peraga, LKS, dan instrumen observasi atau mungkin penataan ruangan dan peralatan lain yang diperlukan misalnya foto, dan lain-lain.
B. Lokasi, Waktu, dan Subyek Penelitian
Penelitian berlangsung di Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Sedangkan waktu penelitian diadakan pada semester 2 tahun pelajaran 2007/2008.
Jumlah murid SD Negeri Sukamukti I tahun pelajaran 2007/2008 adalah 168 siswa dan jumlah Kelas VI kelas, jumlah pengajar terdiri dari PNS dan guru Bantu/guru honorer, penjaga sekolah honorer 1 orang. Letak lokasi sekolah cukup strategis karena terletak ditepi jalan raya yang mudah dijangkau oleh kendaraan.
Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan dari 4 Januari 2008 sampai dengan 28 Februari 2008. Jadual pelaksanaannya dapat dijelaskan pada tabel berikut:
Tabel 3.2 Jadual Penelitian
No Waktu Kegiatan Pelaksana
1. 4-9 Januari 2008 Identifikasi masalah Peneliti 2. 11 Januari 2008 Mengajukan izin ke tiap guru
Kelas VI
Peneliti
3. 21-23 Januari 2008 Pembuatan Proposal Penelitian Peneliti 4. 24-26 Januari 2008 Pembuatan RPP, LKS, Instrumen
Observasi, penggandaan perangkat pembelajaran dan lain lainnya
Peneliti
5. 28 Januari 2008 Pertemuan dengan guru untuk membahas pelaksanaan tindakan Siklus I.
Tim Peneliti
6. 28 Jan.-12 Feb 2006 Pelaksanaan Tindakan: Siklus I :
28 Januari 2008 - Pertemuan I Tim Peneliti 30 Januari 2008 - Pertemuan II Tim Peneliti 31 Januari 2008 Rencana Tindakan Siklus II Tim Peneliti
Siklus II :
2 Februari 20078 - Pertemuan III Tim Peneliti 5 Februari 20078 - Pertemuan IV Tim Peneliti 7 Februari 20078 Rencana Tindakan Siklus III Tim Peneliti
Siklus III :
9 Februari 20078 - Pertemuan V Tim Peneliti 12 Februari 20078 - Pertemuan VI Tim Peneliti 7. 13 - 28 Februari 20078 Penulisan Laporan PTK Peneliti
Penelitian tindakan kelas ini mengangkat mata pelajaran matematika sebagai obyek penelitian. Peneliti mengangkat mata pelajaran matematika karena matematika memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mendukung kemajuan teknologi dan segala aspek kehidupan yang menyangkut kehidupan di zaman modern sekarang ini. Menurut struktur program Kurikulum 2004 jam pelajaran matematika sebanyak 6 jam pelajaran per minggu.
Dilihat dari tersedianya jam pelajaran dengan tingkat kesulitan siswa dalam menguasai kompetensi dasar yang ada, masih belum imbang. Karena kenyataan yang terjadi masih banyak siswa yang belum menguasai secara tuntas terhadap kompetensi dasar yang ditetapkan.
Kompetensi dasar untuk Kelas VI adalah sebagai berikut:
1. Bilangan : Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.
2. Geometri : Melakukan pengukuran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.
3. Pengolahan Data: Membaca, mengumpulkan, dan menyajikan data.
Dalam penelitian ini mengangkat kompetensi dasar geometri yang meliputi luas bangun datar yaitu : luas persegipanjang, persegi, segitiga, jajargenjang, belah ketupat/layang-layang, gabungan bangun datar, dan luas bangun ruang sperti kubus, balok, dan tabung.
Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2007/2008 yang berada di SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Jumlah subyek penelitian 26 siswa dari 26 siswa. Kondisi siswa ini yang kemampuan matematikanya sangat kurang karena hasil ulangan harian pada pembelajaran sebelumnya hanya mencapai rata-rata 57,8.
Siswa Kelas VI sebagai subyek penelitian ini memiliki karakteristik yang heterogen. Heterogen baik dalam segi kemampuan intelegensi, motivasi belajar, latar belakang keluarga, maupun sifat dan wataknya. Dari segi watak ada beberapa siswa yang memiliki watak sulit diatur, sehingga kadang-kadang menyulitkan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Namun secara umum memiliki kepribadian yang cukup baik.
Dilihat dari kemampuan matematika sangat kurang. Permasalahan tersebut mungkin dikarenakan semangat belajar yang kurang. Keadaan tersebut dapat dilihat keadaan sehari-hari, di mana siswa sering mengeluh pusing dan bosan bila diajak belajar matematika. Permasalahan inilah yang mendorong peneliti mengangkat mata pelajaran matematika kompetensi dasar tentang luas bangun sebagai obyek penelitian.