• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN CIKIJING

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN CIKIJING"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN PEMBELAJARAN MODEL KOOPERAIF STAD DENGAN PERMAINAN KUIS TENTANG LUAS BANGUN PADA SISWA KELAS VI

SD NEGERI SUKAMUKTI I KECAMATAN CIKIJING KABUPATEN MAJALENGKATAHUN AJARAN 2007/2008

Laporan PTK Perbaikan ini berdasarkan surat tertanggal 22 Desember 2009 dengan nomor surat : 90793/A4.4/KP/2009 dan Karya Tulis ini Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan syarat kenaikan pangkat pada unsur pengembangan

profesi

Oleh :

MUHAMAD YUSUF, S.Pd. NIP. 131 506 701

PEMERINTAH KABUPATEN MAJALENGKA

UPTD PENDIDIKAN KECAMATAN CIKIJING

SD NEGERI SUKAMUKTI I

(2)

LEMBAR PENGESAHAN

Upaya Meningkatkan Pembelajaran Matematika Pada Siswa Kelas V dengan Metode Permainan di SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing

Kabupaten Majalengka

Penyusun

MUHAMAD YUSUF, S.Pd NIP. 131 506 701

Kepala SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing

J U M E N A, S.Pd. NIP. 131 011 826

Sukamukti, April 2008 Koordinator Perpustakaan

SD Negeri Sukamukti I Kec. Cikijing Kabupaten Majalengka

(3)

Penerapan Pembelajaran Model Kooperaif STAD Dengan Permainan Kuis Tentang Luas Bangun pada Siswa Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Kecamatani Cikijing Kabupaten Majalengka Tahun Ajaran 2007/2008

ABSTRAK

Pembelajaran Matematika yang disajikan dengan ceramah dan latihan-latihan individual sering tidak disukai oleh para siswa. Akibatnya hasil belajar selalu di urutan paling bawah dibandingkan mata pelajaran lainnya. Padahal ilmu matematika memiliki peranan sangat strategis dalam berbagai kehidupan. Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan dapat meningkatkan hasil belajar, maka perlu adanya perubahan pembelajaran yang menarik yaitu menerapkan pembelajaran model kooperatif STAD dan kuis.

Rumusan masalah yang diajukan: (1) Bagaimanakah pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat? (2) Bagaimanakah bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat ?.

Untuk menjawab rumusan masalah tersebut, maka dilakukan penelitian dengan subyek 26 orang siswa dari jumlah siswa seluruhnya 26 siswa SD Negeri 2 Sindanglaya Kelas VI. Pengambilan data menggunakan metode observasi, angket, tes tulis dan perbuatan, serta dokumentasi. Penelitian dilakukan dengan tiga siklus. Setiap siklus dilakukan perencanaan, pelaksanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pelaksanaan tindakan secara berurutan berupa: pembelajaran klasikal, pembelajaran kelompok membuat soal dan jawaban model STAD, dan kuis. Setiap siklus terdiri dari dua pertemuan. Pertemuan I pembelajaran klasikal, kerja kelompok, dan unjuk kerja kelompok dalam bentuk kuis. Pertemuan lI melanjutkan unjuk kerja kelompok dalam kegiatan kuis dan evaluasi hasil belajar.

Hasil penelitian pada siklus I, aktifitas pembelajaran klasikal hanya mencapai 54,22%. Hal ini belum mencapai peningkatan proses pembelajaran yang diharapkan yaitu 60-70%. Namun pada proses pembelajaran kelompok telah mencapai 91,66% dengan target 70-80%, dan kuis mencapai 74,82% dengan target 70-80%. Sedangkan hasil belajar hanya mencapai 66,66% siswa mencapai nilai 60 - >60 dengan rerata nilai 65 sedangkan target yang ditentukan 100% tuntas mencapai nilai 60 - >60.

(4)

Pada Siklus III selain ada peraga untuk setiap siswa, untuk dapat menemukan rumus luas bangun ruang berdasarkan rumus luas bangun datar yang telah dikuasai siswa, juga ditambah dengan pemberian tugas rumah berupa latihan-latihan. Hal ini disebabkan kompetensi yang harus dikuasai semakin sulit. Pada siklus III terjadi peningkatan proses pembelajaran klasikal yang cukup tinggi menjadi 84,61%. Hal ini disebabkan semakin banyaknya siswa yang mengajukan pertanyaan sebanyak 10 siswa dan mencatat sebanyak 26 siswa. Proses Pembelajaran kelompok meningkat menjadi 97,61%, dan proses kegiatan kuis meningkat menjadi 92,77%. Sedangkan hasil belajar mencapai rerata 79,61% dengan 100% siswa mencapai nilai 60 - >60. Dengan demikian semua target yang ditetapkan telah tercapai.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan (l) Pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat, meningkatkan proses pembelajaran, dan hasil belajar. (2) bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat, meningkatkan proses belajar, dan hasil belajar.

Maka disarankan (1) Kepada para guru, untuk meningkatkan proses pembelajaran maupun hasil belajar matematika, dapat digunakan model kooperatif STAD sebagai pilihan untuk mengatasi permasalahan pembelajaran matematika.(2) Strategi pembelajaran kuis seperti pada penelitian ini juga dapat diterapkan dalam pembelajaran matematika, namun diperlukan persiapan yang matang, terutama pada saat penilaian kelompok penjawab diperlukan bantuan dari siswa yang pandai untuk membantu guru mengerjakan soal-soal yang dibuat oleh temannya. (3) Bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian lanjutan sesuai dengan penelitian ini juga disarankan agar membuat persiapan yang lebih sempurna terutama dalam mempersiapkan instrumen pengamatan beserta rubrik-rubrik yang jelas pada saat kegiatan kuis. Juga disarankan agar tim pengamat minimal dua orang, karena menurut pengalaman peneliti tim pengamat sangat sibuk dalam menilai pada saat kegiatan kuis.

(5)

KATA PENGANTAR

Puji syukur allhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini.

Penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu syarat dalam Kenaikan Pangkat ke Golongan IV/b. Dalam penulisan ini, penulis mengambil judul : "Penerapan Pembelajaran Model Kooperaif STAD Dengan Permainan Kuis Tentang Luas Bangun pada Siswa Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijingi Kabupaten Majalengka Tahun Ajaran 2007/2008."

Penulis menyadari akan segala kekurangan dalam penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini. Maka dari itu kepada pembaca diharapkan untuk memberi sumbang saran maupun kritik yang bersifat membangun kearah perbaikan.

Juga pada kesempatan ini penulis ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan guru yang telah membantu sampai selesainya Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini dan semua pihak yang tidak sempat penulis sebut namanya satu persatu atas segala bantuannya dalam penulisan Laporan Penelitian Tindakan Kelas karya tulis ini.

Penulis berharap semoga Allah Swt. memberikan balasan yang berlipat ganda kepada mereka yang telah membantu.. Akhir kata penulis mengharapkan kepada yang membaca agar bersedia memberikan saran dan kritik yang membangun demi penyempurnaan dan peningkatan mutu Laporan Penelitian Tindakan Kelas ini serta mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Amin Yarobal Alamin.

(6)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN ... i

ABSTRAK ... ii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Perumusan Masalah ... 3

D. Hipotesis Tindakan... 4

E. Tujuan Penelitian ... 4

F. Manfaat Hasil Penelitian ... 4

G. Definisi Operasional... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar... 6

1. Pengertian Belajar ... 6

2. Pengertian Pembelajaran... 7

3. Matematika di Sekolah Dasar ... 7

4. Penilaian... 7

B. Sasaran Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD ... 11

C. Masalah Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD ... 11

D. Model Pembelajaran Kooperatif STAD... 12

E. Bermain Kuis ... 13

BAB III METODE PENELITIAN A. Obyek Tindakan ... 15

1. Perencanaan ... 16

2. Tindakan... 19

(7)

4. Refleksi ... 20

B. Lokasi, Waktu, dan Subyek Penelitian ... 20

C. Metode Pengumpulan Data ... 22

D. Metode Analisis Data ... 23

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Uraian Penelitian Secara Umum ... 24

B. Penjelasan Per Siklus ... 24

1. Pra Tindakan ... 24

2. Siklus I ... 26

3. Siklus II ... 32

4. Siklus III... 38

E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan... 43

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 49

B. Saran-saran ... 49 DAFTAR RUJUKAN

(8)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD ... 13

Tabel 3.1 Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran STAD dan KUIS ... 17

Tabel 3.2 Jadual Penelitian... 21

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus I dari Pengamat I ... 27

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus I dari Pengamat II ... 27

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus I ... 29

Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus I... 30

Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus I... 30

Tabel 4.6 Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I ... 31

Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus II ... 34

Tabel 4.8 Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus II... 35

Tabel 4.9 Rekapitulisi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus II ... 36

Tabel 4.10 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus II ... 36

Tabel 4.11 Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II ... 37

Tabel 4.12 Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus III ... 40

Tabel 4.13 Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus III ... 41

Tabel 4.14 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus III ... 41

Tabel 4.15 Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus III ... 42

Tabel 4.16 Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus III... 42

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Tahapan Per Siklus ... 15

Gambar 3.2 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas ... 16

Gambar 3.3 Interaksi Pembelajaran Kuis ... 15

Gambar 4.1 Peningkatan Pembelajaran klasikal Siklus I, II, dan III ... 44

Gambar 4.2 Peningkatan Pembelajaran Kooperatif STAD Siklus I, II, dan Siklus III ... 45

Gambar 4.3 Peningkatan Pembelajaran Melalui Kuis Siklus I, II, dan III... 46

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi yang penuh dengan kompetitif merupakan tantangan bagi dunia pendidikan. Teknologi pembelajaran inovatif seyogyanya dikembangkan dengan cara mengadaptasi atau mengadopsi teknologi pembelajaran inovatif yang memenuhi standar internasional. Hal ini tidak lain merupakan salah satu upaya untuk memenuhi amanat salah satu kebijakan inovatif, yaitu mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal atau nasional saja. (Mohamad Nur, 2003)

Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UURI No. 20 Th. 2003). Tujuan ini dituangkan dalam tujuan pembelajaran matematika yaitu melatih cara berfikir dan bernalar, mengembangkan aktifitas kreatif, mengembangkan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan kemampuan menyampaikan infomasi atau mengkomunikasikan gagasan. Sehingga matematika merupakan bidang ilmu yang strategis untuk membentuk generasi yang siap menghadapi era global yang penuh dengan kompetitif tersebut.

Matematika sebagai disiplin ilmu turut andil dalam pengembangan dunia teknologi yang kini telah mencapai puncak kecanggihan dalam mengisi berbagai dimensi kebutuhan hidup manusia. Era global yang ditandai dengan kemajuan teknologi informatika, industri otomotif, perbankan, dan dunia bisnis lainnya, menjadi bukti nyata adanya peran matematika dalam revolusi teknologi.

(11)

berusaha meningkatkan pembelajaran dan hasil belajar matematika. Apalagi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar matematika selalu berada di tingkat bawah dibandingkan dengan mata pelajaran lainnya.

Hal tersebut dapat dilihat dari hasil ulangan harian matematika yang pertama pada kompetensi dasar operasi hitung hanya mencapai rerata 57,8 dan hanya 50% siswa mencapai nilai 60 atau >60 . Padahal idealnya minimal harus mencapai 100% siswa mendapat 60 atau >60. Sedangkan operasi hitung merupakan dasar bagi kompetensi dasar berikutnya seperti menghitung luas bangun, volum bangun, dan sebagainya. Kondisi tersebut disebabkan oleh kenyataan sehari-hari yang menunjukkan bahwa siswa kelihatannya jenuh mengikuti pelajaran matematika. Pembelajaran sehari-hari menggunakan metode ceramah dan latihan-latihan soal secara individual, dan tidak ada interaksi antar siswa yang pandai, sedang, dan normal. Hal ini terbukti sebagian besar siswa mengeluh apabila diajak belajar matematika. Sering jika diberi tugas tidak selesai tepat waktu, dan lebih suka bermain dan mengobrol, alasannya pelajaran matematika memusingkan dan lain-lain.

Menyikapi kondisi tersebut penulis sebagai guru Kelas VI yang harus menyiapkan peserta didik menuju ujian akhir sekolah dan mampu bersaing dalam mengikuti tes masuk SMP Negeri, selalu berusaha memperbaiki pembelajaran dengan mengkondisikan pembelajaran yang memudahkan, mengasyikkan, dan menyenangkan bagi siswa. Usaha tersebut akan diwujudkan dalam suatu penelitian tindakan kelas yang akan menerapkan pembelajaran STAD dan bermain kuis.

Model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Devision)

(12)

STAD siswa dapat bekerja sama dalam menyelesaikan masalah sampai semua anggota kelompok dapat menyelesaikan masalah. Kelompok dikatakan tidak selesai jika ada anggotanya belum selesai.

Bermain kuis adalah permainan yang mengasyikkan bagi anak-anak usia sekolah dasar. Untuk itu pembelajaran dilanjutkan dengan bermain kuis antar kelompok agar matematika yang dianggap membosankan akan berubah menjadi menyenangkan, mengasyikkan, dan akhirnya semangat belajar siswa meningkat dan hasil belajar juga meningkat.

B. Identifikasi Masalah

Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa siswa sepertinya jenuh mengikuti pelajaran matematika. Hal ini terbukti mereka selalu mengeluh apabila diajak belajar matematika. Alasannya matematika memusingkan kepala dan lain-lain. Tugas yang diberikan secara individu mengakibatkan siswa yang kurang tidak bisa bekerja sama dengan siswa yang pandai, akibatnya sebagian besar siswa tidak berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu. Kondisi tersebut menimbulkan hasil matematika selalu berada pada peringkat bawah dibanding pelajaran lainnya. Rata-rata hasil belajar hanya mencapai angka 5 sampai 6 saja.

Permasalahan inilah yang mendorong penulis untuk memperbaiki pembelajaran melalui pembelajaran STAD (Student Teams-Achievement Divisions) dan bermain kuis dengan tujuan agar pembelajaran tidak membosankan tetapi sebaliknya dapat tercipta pembelajaran yang mengasyikkan dan menyenangkan. Di samping itu dengan pengelolaan kelas model STAD diharapkan terjadi interaksi positif antara siswa yang kemampuan matematikanya heterogen yang akhirnya nanti dapat dicapai hasil belajar yang lebih baik.

C. Perumusan Masalah

(13)

1. Bagaimanakah pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat ? 2. Bagaimanakah bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang

luas bangun menjadi lebih bersemangat ?

D. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan alasan-alasan di atas, maka dapat dikemukakan hipotesis tindakan sebagai berikut:

1. Jika siswa belajar tentang luas bangun dengan model kooperatif STAD, maka semangat belajar siswa akan meningkat.

2. Jika siswa belajar tentang luas bangun dengan bermain kuis, maka semangat belajar siswa akan meningkat.

E. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan dan mengetahui :

a. Pembelajaran model kooperatif STAD dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun lebih bersemangat.

b. Bermain kuis dapat mendorong siswa untuk belajar tentang luas bangun menjadi lebih bersemangat.

F. Manfaat Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada :

a. Siswa, agar mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik, menyenangkan, dan mengasyikkan.

b. Guru, agar dapat menambah wawasan dan informasi tentang pilihan berbagai bentuk- bentuk strategi pembelajaran, khususnya pembelajaran matematika.

c. Lembaga pendidikan, diharapkan dapat memberikan informasi dalam peningkatan kualitas pendidikan.

d. Penelitian lanjutan, sebagai bahan rujukan dalam penelitian selanjutnya.

G. Definisi Operasional

(14)

1. Peningkatan adalah suatu usaha untuk menjadikan lebih baik atau lebih bermutu, lebih berdaya guna dan berhasil guna.

2. Proses adalah seluruh rangkaian suatu tindakan (Trisno Yuwono, 1994). Dalam penelitian ini, proses adalah seluruh rangkahm kegiatan yang dilakukan oleh stswa dan guru dalam pembelajaran untuk mencapai hasil belajar secara maksimal.

3. Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dan para siswa secara bersama-sama dalam proses belajar mengajar (Ninik, 2000) 4. Luas bangun adalah salah satu kompetensi dasar pada mata pelajaran

matematika Kelas VI semester 2 (Kurikulum 2004)

5. Model kooperatif STAD adalah merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran. (Depag RI, 2004)

(15)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar 1. Pengertian Belajar

Pada keseluruhan proses di sekolah, baik di tingkat SD, Sekolah menengah lanjutan, maupun Perguruan Tinggi (PT), belajar adalah kegiatan yang sangat pokok. Artinya, keberhasilan tujuan pendidikan nasional sampai tujuan pembelajaran khusus bergantung kepada bagaimana proses belajar itu berlangsung dan dilaksanakan.

Moh. Surya (Burhanuddin TR, 1996:15) mengungkapkan bahwa belajar sebagai suatu perubahan tingkah laku. Sedangkan Rusyan (1993:7) mendefinisikan belajar sebagai modifikasi, suatu proses memperteguh, menyempurnakan tingkah laku melalui pengalaman.

Fontana (Winata Putra dan Rosita, 1994:3) mengartikan belajar sebagai perubahan yang relatif tetap dalam perilaku individu sebagai hasil dari pengalaman yang terpusat pada tiga hal : (1) Bahwa belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan tingkah laku. (2) Bahwa perubahan itu harus merupakan buah dari pengalaman.(3) Bahwa perubahan itu terjadi pada prilaku individu.

Burton (Uzer Usman, 1990:2) mengistilahkan belajar sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa belajar secara umum dan singkat adalah proses perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku dimaksud menyangkut aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.

(16)

tinggi sehingga tercapai tujuan yang diharapkan dari apa yang telah dipelajari, seperti yang tadinya tidak tahu konsep bilangan, konsep penjumlahan, dan konsep dasar lainnya mulai dari yang kongkret sampai yang abstrak.

2. Pengertian Pembelajaran

Suherman, dkk, (2001:9) menyatakan bahwa proses pembelajaran adalah proses pendidikan dalam lingkup persekolahan, sehingga arti dari proses pembelajaran adalah proses sosialisasi individu siswa dengan lingkungan sekolah, seperti guru, sumber/fasilitas, dan teman-teman sesama siswa.

Fontana (Suherman, 1981 : 47) mengungkapkan bahwa pembelajaran merupakan upaya penataan lingkungan yang memberi nuansa agar program belajar tumbuh dan berkembang secara optimal. Sedangkan Ibrahim, dkk (2002:48) menyatakan bahwa pembelajaran pada hakekatnya merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik, baik antar guru dengan siswa, siswa dengan siswa untuk mencapai tujuan yang lebih ditetapkan.

Dari ketiga definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran pada hakekatnya suatu proses dalam upaya sosialisasi sisvva baik dengan rekannya, guru, dan sumber atau fasilitas belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

3. Matematika di Sekolah Dasar a. Pengertian Matematika

Matematika adalah terjemaharn dari mathematics. Namun arti atau definisi yang tepat dari matematik tidak dapat di terapkan secara eksak (pasti) dan singkat. Definisi matematik makin lama makin sukar untuk di buat, karena cabang-cabang matematik makin lama makin bertambah dan makin bercampur satu sama yang lainnya.

(17)

berhubungan satu sama lainnya dengan jumlah yang banyaknya terbagi dalam tiga bidang, yaitu : aljabar, analisis, dan geometri namun pembagian yang jelas sangatlah sukar untuk di buat, sebab cabang-cabang itu semakin bercampur. Sebagai contoh ada pula pendapat yang menyatakan bahwa matematika itu timbul karena pikiran-pikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran yang terbagi dalam empat wawasan yang luas, yaitu aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis dengan aritmatika mencakup teori bilangan dan statistik.

Jhonson dan Rising (1972) dalam bukunya mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasikan pembuktian yang logik matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat. Lebih berupa bahasa simbol mengenai ide (gagasan) dari pada mengenai bunyi, matematika adalah pengetahuan struktur yangy terorganisasikan sifat-sifat atau teori-teori itu dibuat secara deduktif berdasarkan pada unsur-unsur yang didefinisikan atau tidak didetinisikan, aksioma-aksioma, sifat-sifat, atau teori-teori yang telah dibuktikan kebenarannya. Matematika adalah ilmu tentang pola keteraturan pola atau ide dan matematika itu adalah suatu seni keindahannya terdapat pada keterurutan dan keharmonisasiannya. Jadi menurut Jhonson dan Rising jelas matematika adalah ilmu dedukatif. Rey dan kawan-kawan (1984) dalam bukunya menyatakan bahwa matematika adalah telaahan tentang pola dan hubungan suatu jalan atau pola berfikir suatu seni, suatu bahasa, dan suatu alat.

Kemudian Kline (1973) dalam bukunya mengatakan pada, bahwa matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam.

(18)

Fungsi matematika sekolah dasar adalah sebagai salah satu unsure masukan instrumental, yang memiliki objek dasar abstrak dan berlandaskan konsistensi dalam system proses mengajar belajar untuk mencapai tujuan pendidikan (Kurikulum Pendidikan Dasar, 1994/1995 :68 ).

c. Tujuan Matematika

Matematika sebagai alat bantu dan pelayan ilmu tidak hanya untuk matematika sendiri tetapi untuk ilmu-ilmu yang lainnya, baik untuk kepentingan teoritis maupun untuk kepentingan praktis sebagai aplikasi dari matematika. Mengapa matematika itu diajarkan di sekolah alasan utamanya tentunya karena kegunaannya untuk umat manusia diantaranva.

a. Dengan belajar matematika, manusia dapat menyelesaikan persoalan yang ada di masyarakat yaitu dalam berkomunikasi sehari-hari seperti dapat berhitung, dapat menghitung luas, isi, dan berat, dapat mengumpulkan, mengolah, menyajikan, menafsirkan data, dapat menyelesaikan bidang studi lain.

b. Matematika diajarkan di sekolah karena matematika dapat membantu bidang studi yang lain seperti fisika, kimia, arsitektur, farmasi, geografi, ekonomi statistika dan lain-lain.

c. Dengan mempelajari geometri ruang siswa dapat meningkatkan kemampuan pemahaman ruang sehingga berpikir logik dan tepat dimensi tiga dengan mempelajari aljabar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, logis, dan sistematis dalam merumuskan asumsi, definisi generalisasi dan lain-lain.

d. Matematika selain dapat digunakan untuk memperlihatkan fakta dan penjelasan persoalan, juga dapat dipakai sebagai alat perkiraan seperti perkiraan cuaca, pertumbuhan penduduk, keberhasilan belajar dan lain-lain.

(19)

f. Matematika diajarkan di sekolah seperti ilmu lainnya yaitu untuk terpeliharanya matematika itu sendiri demi peningkatan kebudayaan.

Dengan demikian, tujuan umum Pendidikan Matematika pada jenjang pendidikan dasar tersebut memberi tekanan pada penataan nalar dan pembentukan sikap siswa serta juga memberikan tekanan pada keterampilan dalam penerapan matematika.

Selanjutnya, kurikulum pendidikan dasar (2004 :61) juga menyatakan bahwa tujuan khusus pengajaran matematika masing-masing adalah sebagai berukut :

1. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan) sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari 2. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialih gunakan,

melalui kegiatan matematika.

3. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). 4. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin. d. Ruang Lingkup Materi

Menurut Kurikulum Pendidikan Dasar (2004 : 69) ruang lingkup materi/bahan kajian matematika di Pendidikan Dasar adalah Bahan kajian inti matematika di SD mencakup Aritmatika (berhitung), pengantar aljabar, geometri, pengukuran, dan kajian data (Pengantar Statistik).

(20)

B. Sasaran Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD

Sasaran pokok pembelajaran matematika bagi murid SD dilihat dari progam pengajaran yaitu :

1. Siswa memiliki keterampilan hitung dasar menjumlah dan mengurangi serta dapat menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya dalam menghitung uang.

2. Siswa memiliki keterampilan hitung dasar melalui perkalian dan pembagian.

3. Siswa memiliki keterampilan menyelesaikan soal cerita dengan kalimat matematik dan dalam batas penggunaan bilangan bulat.

4. Siswa memiliki keterampilan mengukur panjang dan waktu dalam kehidupan sehari-hari.

5. Siswa memiliki pandangan ruang melalui pengenalan bangun segitiga, kubus, balok.

6. Siswa memiliki keterampilan menghitung luas dengan kertas kotak.

Siswa tersebut harus mampu serta terampil menerapkan semua kemampuan perhitungan matematika di atas dalam kehidupan sehari-hari dan dalam pengetahuannya. Itulah sasaran dalam pembelajaran matematika bagi murid SD.

C. Masalah Pembelajaran Matematika Bagi Siswa SD

Beberapa masalah dalam pembelajaran matematika tidak dirasakan oleh siswa saja, tetapi oleh gurupun ada. Disini beberapa masalah yang dirasakan oleh guru yaitu :

1. Guru kesulitan memilih metode yang tepat dan benar untuk mengajarkan matematika sehingga murid-murid dapat mengerti perhitungan matematika.

2. Guru kesulitan mengubah rasa takut siswa terhadap pelajaran matematika menjadi sikap senang.

3. Pembelajaran matematika masih memperoleh hasil nilai rata-rata rendah. 4. Keberhasilan pembelajaran matematika masih jauh dari sasaran yang

diharapkan di atas.

(21)

1. Siswa merasa takut dan sulit belajar matematika. 2. Siswa kurang memahami cara-cara praktis perhitungan. 3. Siswa kesulitan dalam menghitung bangun ruang.

4. Siswa tegang dan stres menghadapi persoalan matematika

5. Siswa rata-rata kurang faham dan mendapat nilai kurang baik dalam pelajaran matematika.

Itulah beberapa masalah yang berkembang dilapangan dalam proses pembelajaran matematika yang menjadi hambatan guru dan siswa dalam mencapai keberhasilan tujuan pembelajaran bidang studi tersebut. Masalah di atas perlu dilakukan solusi pemecahannya sehingga di masa mendatang keberhasilan pembelajaran matematika menjadi semakin bertambah baik, untuk itu perlu dirumuskan strategi pembelajaran matematika yang sesuai.

D. Model Pembelajaran Kooperatif STAD

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pengajaran dimana siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil yang memiliki tingkat kemampuan berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompok, setiap anggota saling bekerja sama dan membantu untuk memahami suatu bahan pembelajaran. Belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pembelajaran.

Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis. Salah satu teori Vygotsky, yaitu tentang penekanan pada hakikat sosiokultural dari pembelajaran. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi akan muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu. Implikasi dari teori Vygotsky ini dapat berbentuk pembelajaran kooperatif. Penerapan model pembelajaran kooperatif ini juga sesuai dengan yang dikehendaki oleh prinsip-prinsip CTL (contextual teaching and learning),yaitu tentang learning community (Depag RI, 2004).

(22)

Tabel : 2.1

Langkah-langkah Model Pembelajaran STAD

Fase Tingkah laku Guru

Fase 1

Menyampaikan kompetensi yang diharapkan dan memotivasi siswa

Guru menyampaikan standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang diharapkan, dan memotivasi siswa belajar.

Fase 2

Menyajikan informasi

Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demontrasi atau lewat bahan bacaan.

Fase 3

Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok bekerja dan belajar

Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan diskusi secara efisien.

Fase 4

Membimbing kelompok bekerja dan belajar

Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.

Fase 5

Evaluasi

Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.

Fase 6

Memberikan penghargaan

Guru mencari cara-cara untuk menghargai upaya hasil belajar individu maupun kelompok.

E. Bermain Kuis

Bermain kuis atau dikenal dengan strategi pembelajaran Team Quiz. Langkah-Iangkah pembelajaran Team Quiz adalah sebagai berikut:

1. Guru membentuk tiga kelompok (disesuaikan jumlah siswa).

2. Membagi tugas secara bergantian untuk membuat soal, jawaban dan penilaian.

3. Buat skor masing-masing jawaban tiap kelompok (Depag. RI, 2001). Team Quiz adalah suatu kegiatan tanya jawab antar kelompok. Dalam kegiatan bertanya dan menjawab akan terjadi proses belajar yang tidak membosankan. Keterampilan bertanya menjadi penting jika dihubungkan dengan pendapat yang mengatakan "Berfikir itu sendiri adalah bertanya" (Hasibuan dan Moejiano, 2004).

(23)

Dari pendapat dan pengertian tersebut, bertanya menunjukkan bahwa, baik yang bertanya maupun yang menjawab telah terjadi proses berfikir dari dirinya. Sedangkan berfikir merupakan proses belajar. Pemecahannya adalah mengajukan pertanyaan tentang semua informasi penting.

(24)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Obyek Tindakan

Penelitian ini menggunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat (Wardani, 2005). Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dinyatakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (dalam Yatim Riyanto, 2001) merupakan penelitian yang bersiklus, yang terdiri dari rencana, aksi, observasi, dan refleksi yang dilakukan secara berulang, hal ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Rencana

Refleksi

Gambar 3.1 : Tahapan Per Siklus

Penelitian tindakan kelas ini menerapkan model pembelajaran kooperatif STAD (Student Team Achievement Devisions) dengan variasi bermain kuis. Pembelajaran dengan kooperatif STAD memiliki keunggulan yang dapat mengatasi masalah yang ada. Karena dalam kooperatif STAD akan terjadi meningkatnya fungsi mental melalui percakapan dan interaksi lainnya, serta kerjasama antar siswa yang memiliki kemampuan yang heterogen.

Begitu pula bermain kuis diyakini memiliki keunggulan menciptakan suasana pembelajaran yang mengasyikkan, karena berupa permainan tanya jawab antar kelompok. Dalam situasi demikian diharapkan siswa tidak akan

Refleksi

Observasi

Refleksi

Aksi

Observasi

(25)

mengantuk dan bosan belajar matematika. Kegiatan bertanya dan menjawab adalah bentuk kegiatan berfikir, sedangkan belajar juga melalui proses berfikir.

Sebagaimana layaknya penelitian tindakan kelas, maka penelitian ini akan dimulai dari siklus I yang pelaksanaannya melalui 4 (empat) tahap yaitu : perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan-tahapan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar : 3.2 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas

Bagaimana pelaksanaan dari tahap-tahap tersebut dapat dijelaskan berikut ini:

1. Perencanaan

Perencanaan dibuat berawal dari permasalahan yang muncul di lapangan yaitu dari pengalaman peneliti sebagai guru di Kelas VI SD Negeri 2 Sindanglaya. Permasalahan ini dapat disebut sebagai refleksi awal, yaitu hasil belajar matematika yang selalu rendah terutama pada kompetensi dasar tentang "Luas Bangun" yang mencakup:

a. Luas bidang datar (persegipanjang, jajargenjang, dan lingkaran) b. Luas permukaan bangun ruang ( kubus, balok, tabung )

c. Luas gabungan beberapa bangun datar (variasi dari bangun di atas) d. Luas gabungan sebagian bangun datar (variasi dari sebagian bangun

datar)

Dari permasalahan di atas muncul gagasan untuk menerapkan pembelajaran STAD dengan variasi kuis, dengan tujuan untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif, efektif, inovatif, memudahkan,

(26)

mengasyikkan, dan menyenangkan. Kegiatan perencanaan ini diawali dengan kegiatan:

a. Mengajukan izin ke guru kelas yang akan di jadikan objek untuk mengadakan PTK.

b. Mengadakan pertemuan dengan yang terdiri dari: 2 orang guru sebagai observer, yang membicarakan langkah-langkah penelitian.

c. Mempersiapkan rencana pelajaran, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), dan instrument pengamatan.

d. Mempersiapkan pengelolaan kelas menjadi beberapa kelompok yang heterogen berdasarkan kemampuan siswa dan jenis kelamin.

Tindakan akan dilaksanakan sesuai dengan tahapan pembelajaran STAD, tetapi ada variasi dengan kegiatan kuis. Kuis dilaksanakan pada tahap unjuk kerja dari setiap kelompok. Jika pada pembelajaran STAD murni, setiap kelompok mempresentasikan hasil kerjanya, namun pada pembelajaran ini setiap kelompok memberikan pertanyaan kepada kelompok-kelompok lain. Untuk lebih konkritnya dapat diikuti langkah-langkah kegiatan pembelajaran berikut:

Tabel: 3.1

Langkah-langkah Kegiatan Pembelajaran STAD dan KUIS

Fase Tingkah laku Guru Kegiatan Siswa

(27)

Fase 3 soal dan kunci jawaban soal yang telah diberikan memberikan soal kepada kelompok lain. Setiap kelompok mempunyai anggota dengan kode sebagai berikut:

Kelompok A mempunyai anggota berkode: A1, A2, A3, dan A4. Kelompok B mempunyai anggota berkode: B1, B2, B3, dan B4. Kelompok C mempunyai anggota berkode: C1, C2, C3, dan C4. Kelompok D mempunyai anggota berkode: D1, D2, D3, dan D4. Kelompok E mempunyai anggota berkode: E1, E2, E3, dan E4. Kelompok F mempunyai anggota berkode: F1, F2, dan F3. Kelompok G mempunyai anggota berkode: G1, G2, dan G3.

(28)

Dari kegiatan kuis dapat diketahui kemampuan setiap siswa dalam menilai jawaban temannya maupun kemampuannya dalam menjawab pertanyaan temannya.

2. Tindakan

Pelaksanaan tindakan dilaksanakan melalui langkah-langkah sebagai berikut :

a. Siswa berkelompok dengan anggota 4/3 orang siswa yang heterogen kemampuannya.

b. Setiap kelompok bekerjasama membuat soal tentang luas bangun beserta kunci jawabannya.

c. Setiap kelompok unjuk kerja dengan memberikan soalnya kepada anggota kelompok lain secara menyebar. Jika soalnya 4 maka pertanyaan tersebut harus dijawab oleh 4 kelompok, di mana tiap kelompok mengirimkan wakilnya untuk menjawab soal dari kelompok yang tampil.

Pada tahap pelaksanaan tindakan, dilaksanakan skenario pembelajaran sesuai perencanaan yang telah disusun pada tahap perencanaan di atas. Siklus I dilaksanakan selama 2 (dua) pertemuan atau dua kali 40 menit (80 menit). Untuk siklus berikufiya disesuaikan dengan perkembangan siklus I.

3. Observasi

Observasi dilakukan oleh tim observer yang terdiri dari 2 orang guru untuk mengetahui bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung. Beberapa kegiatan penting yang perlu diamati adalah :

1. Fase pembelajaran klasikal, berapa prosen siswa yang aktif: melihat, mendengar, bertanya, menjawab, dan mencatat. Pada fase ini observer menggunakan instrumen angket.

(29)

semangat kerja, dan basil kerja. Fase ini menggunakan instrumen angket.

3. Fase unjuk kerja tiap kelompok penanya, yang diamati adalah:

a) Bagi penanya dinilai : penampilan, kualitas soal, kualitas kunci jawaban, menilai jawaban.

b) Bagi penjawab dinilai : penampilan, kualitas jawaban, kerjasama, waktu. Pada fase ini digunakan instrumen angket.

4. Semua aktifitas pembelajaran yang positif maupun negatif perlu dicacat sebagai bahan pertimbangan untuk perencanaan siklus berikutnya.

4. Refleksi

Pada kegiatah refleksi ini, tim peneliti mengadakan pertemuan untuk membahas hasil observasi. Data yang terekam pada instrumen observasi dievaluasi dan diambil kesimpttlan untuk membuat rencana pelaksanaan siklus II. Dari hasil pertemuan tim peneliti menyusun rencana dan mempersiapkan keperluan pembelajaran pada siklus II misalnya: peraga, LKS, dan instrumen observasi atau mungkin penataan ruangan dan peralatan lain yang diperlukan misalnya foto, dan lain-lain.

B. Lokasi, Waktu, dan Subyek Penelitian

Penelitian berlangsung di Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Sedangkan waktu penelitian diadakan pada semester 2 tahun pelajaran 2007/2008.

Jumlah murid SD Negeri Sukamukti I tahun pelajaran 2007/2008 adalah 168 siswa dan jumlah Kelas VI kelas, jumlah pengajar terdiri dari PNS dan guru Bantu/guru honorer, penjaga sekolah honorer 1 orang. Letak lokasi sekolah cukup strategis karena terletak ditepi jalan raya yang mudah dijangkau oleh kendaraan.

(30)

Tabel 3.2 Jadual Penelitian

No Waktu Kegiatan Pelaksana

1. 4-9 Januari 2008 Identifikasi masalah Peneliti 2. 11 Januari 2008 Mengajukan izin ke tiap guru

Kelas VI

Peneliti

3. 21-23 Januari 2008 Pembuatan Proposal Penelitian Peneliti 4. 24-26 Januari 2008 Pembuatan RPP, LKS, Instrumen

Observasi, penggandaan perangkat pembelajaran dan lain lainnya

Peneliti

5. 28 Januari 2008 Pertemuan dengan guru untuk membahas pelaksanaan tindakan Siklus I.

Tim Peneliti

6. 28 Jan.-12 Feb 2006 Pelaksanaan Tindakan: Siklus I :

28 Januari 2008 - Pertemuan I Tim Peneliti 30 Januari 2008 - Pertemuan II Tim Peneliti 31 Januari 2008 Rencana Tindakan Siklus II Tim Peneliti

Siklus II :

2 Februari 20078 - Pertemuan III Tim Peneliti 5 Februari 20078 - Pertemuan IV Tim Peneliti 7 Februari 20078 Rencana Tindakan Siklus III Tim Peneliti

Siklus III :

9 Februari 20078 - Pertemuan V Tim Peneliti 12 Februari 20078 - Pertemuan VI Tim Peneliti 7. 13 - 28 Februari 20078 Penulisan Laporan PTK Peneliti

Penelitian tindakan kelas ini mengangkat mata pelajaran matematika sebagai obyek penelitian. Peneliti mengangkat mata pelajaran matematika karena matematika memiliki peranan yang penting dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mendukung kemajuan teknologi dan segala aspek kehidupan yang menyangkut kehidupan di zaman modern sekarang ini. Menurut struktur program Kurikulum 2004 jam pelajaran matematika sebanyak 6 jam pelajaran per minggu.

(31)

Kompetensi dasar untuk Kelas VI adalah sebagai berikut:

1. Bilangan : Melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan serta menggunakannya dalam pemecahan masalah.

2. Geometri : Melakukan pengukuran dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

3. Pengolahan Data: Membaca, mengumpulkan, dan menyajikan data.

Dalam penelitian ini mengangkat kompetensi dasar geometri yang meliputi luas bangun datar yaitu : luas persegipanjang, persegi, segitiga, jajargenjang, belah ketupat/layang-layang, gabungan bangun datar, dan luas bangun ruang sperti kubus, balok, dan tabung.

Subyek penelitian ini adalah siswa Kelas VI Tahun Pelajaran 2007/2008 yang berada di SD Negeri Sukamukti I Kecamatan Cikijing, Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat. Jumlah subyek penelitian 26 siswa dari 26 siswa. Kondisi siswa ini yang kemampuan matematikanya sangat kurang karena hasil ulangan harian pada pembelajaran sebelumnya hanya mencapai rata-rata 57,8.

Siswa Kelas VI sebagai subyek penelitian ini memiliki karakteristik yang heterogen. Heterogen baik dalam segi kemampuan intelegensi, motivasi belajar, latar belakang keluarga, maupun sifat dan wataknya. Dari segi watak ada beberapa siswa yang memiliki watak sulit diatur, sehingga kadang-kadang menyulitkan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Namun secara umum memiliki kepribadian yang cukup baik.

Dilihat dari kemampuan matematika sangat kurang. Permasalahan tersebut mungkin dikarenakan semangat belajar yang kurang. Keadaan tersebut dapat dilihat keadaan sehari-hari, di mana siswa sering mengeluh pusing dan bosan bila diajak belajar matematika. Permasalahan inilah yang mendorong peneliti mengangkat mata pelajaran matematika kompetensi dasar tentang luas bangun sebagai obyek penelitian.

C. Metode Pengumpulan Data

Cara pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa instrument yaitu:

(32)

2. Angket, digunakan untuk mengumpulkan kegiatan pembelajaran klasikal. 3. Angket, digunakan untuk mengumpulkan data kegiatan pembelajaran

kelompok.

4. Angket, untuk mengumpulkan data kegiatan pembelajaran kuis, baik penjawab, penanya maupun pengamat.

D. Metode Analisis Data

Kegiatan analisis data dilakukan untuk menganalisis data di atas seperti tes hasil belajar, hasil angket dalam berbagai kegiatan pembelajaran berdasarkan indikator keberhasilan yang ditetapkan.

Sedangkan indikator keberhasilan proses pembelajaran ditetapkan sebagai berikut :

1. Data aktifitas pembelajaran klasikal diharapkan dapat mencapai nilai rerata 60% s.d 70%.

2. Tercapainya aktifitas belajar melalui kooperatif STAD dengan rerata 70-80%.

3. Tercapainya nilai aktifitas belajar melalui KUIS dengan rerata 70-80%. 4. Tercapainya nilai hasil belajar 100% siswa memperoleh 60->60. Bagaimana data tersebut dianalisis, dapat diuraikan berikut ini.

1. Data hasil belajar dianalisis berdasarkan pada ketuntasan belajar, yaitu 100% siswa mencapai 60 - >60.

2. Data aktifitas pembelajaran klasikal diharapkan dapat mencapai nilai rerata 60% s.d 70%

3. Data aktifitas pembelajaran kooperatif STAD ditargetkan dapat mencapai rerata 70 s.d. 80%.

(33)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Uraian Penelitian Secara Umum

Mata pelajaran Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam menunjang ilmu pengetahuan yang lain. Namun hasil belajar matematika selalu rendah. Hal ini menarik perhatian peneliti untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui penelitian tindakan kelas dengan menerapkan tindakan pembelajaran STAD dan KUIS. Subyek penelitian adalah siswa Kelas VI SD Negeri Sukamukti I Tahun Pelajaran 2007/2008. Pengumpulan data menggunakan tes dan angket. Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan jawaban positif terhadap hipotesis yang diajukan.

B. Penjelasan Per Siklus

Penelitian ini dilaksanakan melalui tiga siklus. Namun sebelumnya akan disampaikan kegiatan pra tindakan.

1. Pra Tindakan

Peneliti mengadakan penelitian tindakan kelas kepada guru. Peneliti membentuk tim yang terdiri dari peneliti dan dua orang guru serta seorang pengambil gambar. Kemudian tim membahas segala kegiatan yang akan dilakukan pada kegiatan pembelajaran, antara lain:

a. Mempelajari langkah-langkah kegiatan pembelajaran beserta pembagian waktunya.

b. Mempelajari instrumen yang akan digunakan merekam segala kejadian dan cara pengisiannya.

c. Mempelajari interaksi antar kelompok pada saat kegiatan kuis.

d. Mempelajari kode anggota kelompok beserta kartu anggota kelompok dan tugas masing-masing kelompok.

(34)

1) Peneliti sebagai pemberi tindakan dan mengamati segala kejadian yang muncul, baik positif maupun negatif.

2) Pengamat I sebagai pengamat kegiatan belajat klasikal, kegiatan kelompok (A, B, dan C), dan kegiatan penanya.

3) Pengamat II sebagai pengamat kegiatan belajar klasikal, kegiatan kelompok (D, E, F, dan G), dan kegiatan penjawab.

4) Pemotret, sebagai pengambil gambar semua kegiatan pembelajaran. Setelah semua anggota tim memahami berbagai kegiatan yang akan dilakukan, pertemuan diakhiri.

Sehari sebelum melakukan tindakan, peneliti/guru Kelas VI memberi pengarahan kepada siswa yang di tunjuk bahwa besok akan diadakan pembelajaran STAD atau belajar kelompok. Kemudian peneliti membentuk kelompok menjadi tujuh kelompok, memberi nama kelompok dengan nama bangun seperti: Persegi, Persegipanjang, Segitiga, Jajargenjang, Lingkaran, Trapesium, dan Belah Ketupat. Nama-nama kelompok ini berdasarkan tema dan bentuk kartu anggota kelompok. Agar tidak terjadi persamaan dalam membuat soal, maka setiap kelompok membuat soal sesuai dengan nama kelompoknya. Misalnya kelompok Persegi membuat soal tentang persegi, kelompok lingkaran membuat soal tentang lingkaran dan seterusnya. Siswa dibagi menjadi tujuh kelompok berdasarkan kemampuan matematika. Di mana setiap kelompok terdapat siswa pandai, sedang, dan kurang. Diharapkan terjadi interaksi yang positif diantara anggota kelompok. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran tentang pembagian kelompok.

Langkah selanjutnya peneliti menggandakan instrumen sesuai kebutuhan pada siklus I, yaitu:

a. Instrumen kegiatan pembelajaran klasikal 2 lembar, karena dua Pengamat melakukan pengamatan bersama-sama.

b. Instrumen kegiatan pembelajaran kelompok, 7 lembar. Pengamat I mengamati kelompok A, B, dan C. Sedangkan Pengamat II mengamati kelompok D, E, F, dan G.

(35)

d. Instrumen kegiatan menjawab 7 lembar diamati oleh Pengamat II.

2. Siklus I

(36)

Tabel : 4.1

Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus I dari Pengamat I

No. Nama Kegiatan

1. Melihat 26 100% Prosentase = jumlah

2. Mendengar 26 100% yang melakukan :

3 . Mencatat 0 0 jumlah yang hadir x

4. Bertanya 0 0 100

5. Menjawab 18 69,23%

Rata-rata = 269,23 : 5 = 53,84 % (Pengamat I)

Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa hasil pengamatan belajar klasikal manunjukkan rerata 53,84% menurut pengamat I. Sedangkan hasil pengamat II sebagai berikut:

Tabel : 4.2

Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus I dari Pengamat II

No. Nama Kegiatan

1. Melihat 25 96,15 Prosentase= jumlah

2. Mendengar 26 100 Yang melakukan :

3. Mencatat - 0 jumlah yang hadir x

4. Bertanya - 0 100

5. Menjawab 20 76,93

Rata-rata = 296,15 : 5 = 54,61 % (Pengamat II)

Tabel 4.2 menunjukkan hasil pengamatan pengamat II dengan rerata 54,61%. Jika hasil kedua pengamat diambil rerata, maka hasilnya sebagai beikut :

Pengamat I = 53,84 % Pengamat II = 54,61 % +

Rata-rata = 108, 45 : 2 = 54,22 %

(37)

mencatat. Pada kegiatan klasikal pengamat I dan II menemukan beberapa temuan antara lain:

a. Seorang siswa memukul-mukul bangku.

b. Seorang siswa melamun sambil memainkan kukunya.

Dari beberapa temuan tadi disarankan agar pada kegiatan klasikal berikutnya semua siswa diberi alat peraga seperti yang dipakai oleh guru sehingga semua siswa aktif belajar.

Kemudian dilanjutkan kegiatan membentuk kelompok sesuai pengarahan guru sebelumnya. Masing-masing ketua kelompok membagikan kartu identitas kepada anggotanya. Siswa dengan sendirinya mengelompok sesuai dengan nama kelompok dan kartu identitasnya. Setelah semua siswa duduk tenang pada kelompok masing-masing, guru memberi pengarahan tugas kelompok, yaitu setiap siswa membuat satu soal beserta jawabannya. Soal dan jawaban yang dibuat disesuaikan dengan nama kelompoknya. Misalnya kelompok persegi, harus membuat soal tentang persegi. Guru memberi pengarahan bahwa, setiap anggota kelompok mempunydi tanggungjawab membuat satu soal dan jawabannya. Namun, jika alda anggota yang kesulitan, anggota lain harus membantu mengajari sampai berhasil. Setelah pengarahan guru membagikan lembar kegiatan siswa kepada setiap siswa. Selama kegiatan kelompok berjalan, guru berkeliling sambil memberi bimbingan kepada kelompok yang kesulitan. Sedangkan pengamat I mengamati kelompok A, B, dan C. Dan pengamat II mengamati kelompok D, E, F, dan G. Kegiatan kelompok ini berjalan cukup lancar, walaupun masih ada beberapa kelompok yang masih sering bertanya, terutama kelompok lingkaran. Ketika waktu yang disediakan selama 35 menit habis, masih ada kelompok yang belum selesai yaitu kelompok lingkaran.

(38)

Tabel : 4.3

Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus I

No Kegiatan

Kelompok

Jumlah Anggota Jumlah/

Rerata

A B C D E F G

1. Kerjasama 4 4 4 4 4 3 3 26

2. Berpendapat 4 4 3 1 4 1 1 18

3. Semangat 4 4 4 4 4 3 3 26

4. Hasil Kerja 4 4 4 4 4 3 3 26

Prosentase 100 100 93,75 81,25 100 83,33 83,33 91,66%

Data di atas menunjukkan nilai yang sangat tinggi yaitu nilai rerata 91,66%, jauh di atas yang diharapkan yaitu 70-80%. Pada kegaiatan kelompok ini memang hampir semua siswa aktif melakukan kegiatan belajar sesuai tugasnya masing-masing. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan kuis atau bertanya menjawab.

Dalam kegiatan bertanya dan menjawab setiap kelompok maju ke depan kelas untuk menanyakan soal-soalnya kepada kelompok penjawab. Kelompok penjawab berasal dari beberapa kelompok yang berbeda duduk di bangku depan yang sudah disediakan. Kegiatan kuis berjalan dengan lancar. Setiap individu baik dari kelompok penanya maupun kelompok penjawab telah melaksanakan tugasnya masing-masing. Namun dari kelompok lingkaran hasil kerja membuat soal betul, namun jawabannya masih salah semua. Pada kelompok trapesium hasil kerja membuat soal benar tiga orang dan satu orang gagal membuat soal yang benar tetapi hasil kunci jawabannya salah. Namun kelompok penjawab dapat menjawab soal trapesium dengan benar dan satu orang tidak menjawab karena soalnya salah. Sehingga kelompok trapesium tidak dapat menilai jawaban kelompok penjawab karena jawabannya sendiri salah. Sedangakan kelompok lainnya yaitu kelompok segitiga, persegipanjang, jajargenjang, persegi, dan belaketupat hasil kerja membuat soal dan jawaban betul semua dan dapat dijawab oleh kelompok penjawab dengan benar juga.

(39)

Tabel : 4. 4

Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus I

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. A 97,05

2. B 97,05

3. C 98,52

4. D 61,76

5. F 57,53

6. G 94,11

7. H 90,19

Rerata 85,17

Data kegiatan kuis kelompok penanya pada tabel tersebut mencapai rerata 85,17%. Tercapainya rerata 85,17% pada kegiatan kuis melalui observasi kelompok penanya telah mencapai jauh di atas yang diharapkan yaitu 60-70%. Sedangkan hasil observasi kegiatan penjawab dapat dilaporkan sebagai berikut:

Tabel : 4. 5

Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus I

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. I 86,53

2. II 78,84

3. III 75,00

4. IV 61,53

5. V 67,30

6. VI 79,48

7. VII 76,92

Rerata 64,47

Tercapainya rerata 64,47% pada kegiatan kuis melalui observasi kelompok penjawab telah mencapai target yang diharapkan yaitu 60-70%. Apabila diambil rerata dari kelompok penanya dan penjawab dapat dilihat sebagai berikut:

( 85,17% + 64,47% ) : 2 = 74,82 %

(40)

Adapun hasil belajar siswa pada siklus I dapat dilaporkan sebagai berikut:

Tabel : 4.6

Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I

No Kode Nomor Soal Jumlah

(41)

dari pengamat maupun dari peneliti sendiri. Ditinjau dari jumlah kesalahan siswa pada soal nomor 8 dan 9 lebih dari separoh siswa yaitu 17/18 siswa masih mengalami kesalahan. Maka perlu penjelasan ulang tentang penyelesaian soal nomor 8 dan 9 tersebut. Penjelasan ulang itu dilakukan pada waktu sebelum melanjutkan siklus II. Sedangkan siswa-siswa yang belum tuntas diberi bimbingan di luar jam efektif dan diberi tugas latihan soal-soal untuk dikerjakan di rumah.

Setelah diselesaikan siklus I, tim peneliti mengadakan pertemuan untuk membahas hal-hal positif maupun negatif yang muncul dalam siklus I. Pertemuan Tim peneliti terdapat beberapa masukan untuk perbaikan-perbaikan pada siklus II yaitu:

a. Pengamat I menyarankan agar semua siswa diberi alat peraga pada pembelajaran klasikal.

b. Pengamat II menyarankan agar dua orang siswa yang kurang memperhatikan pada saat pembelajaran klasikal dipanggil dan diberi pengarahan.

c. Peneliti berinisiatif pada saat presentasi kuis, siswa lain tidak hanya melihat dan mendengar saja, tapi juga diberi tugas untuk ikut mengerjakan soal-soal yang disampaikan oleh teman-temannya agar juga ikut aktif belajar. Karena jika tidak ikut aktif mengerjakan sebagian ada yang bicara dan ramai. Bagi yang mengerjakan akan diberi motivasi penilaian.

3. Siklus II

(42)

mencatat pada saat diberi penjelasan materi atau pada saat pembelajaran klasikal. Karena pada saat pembelajaran klasikal siklus I belum ada kegiatan bertanya dan mencatat.

Pada saat pelaksanaan tindakan, pembelajaran berjalan sesuai dengan rencana. Pada saat pembelajaran klasikal semua siswa diberi beberapa potongan kertas yang berbentuk berbagai macam bangun datar. Sebelum memberi tugas guru mengingatkan kembali rumus-rumus luas bangun datar dilanjutkan dengan demontrasi menghitung luas gabungan berbagai macam bangun. Setelah demonstrasi menghitung luas gabungan bangun diberi kesempatan bertanya dan mencatat. Sebagian besar siswa mencatat dan ada empat siswa yang mengajukan pertanyaan yaitu:

a. Siswa A : "Jika gambar separoh lingkaran bagaimana mencari luasnya?"

Guru : "Siapa yang dapat menjawab pertanyaan temanmu ?"

Sebagian siswa menjawab: "Caranya sama dengan mencari luas lingkaran, kemudian hasilnya dibagi 2"

b. Siswa B : "Tugas membuat soal nanti, membuat bangun gabungan sebanyak-banyaknya atau ada batasnya ?"

Guru menawarkan kepada semua siswa, bagaimana, dibatasi apa bebas? semua siswa sepakat bebas.

c. Siswa C : "Jika bangun digabung sesuai dengan panjang sisinya apakah dapat disebut satu bangun?"

Guru: "Bagaimana, siapa yang dapat menjawab pertanyaan temanmu?" Karena tidak ada yang menjawab maka guru memberi penjelasan bahwa jika gabungan bangun itu membentuk suatu bangun baru boleh saja dikatakan satu bangun asal kalian dapat menghitungnya langsung satu bangun. Tetapi jika kesulitan, menghitungnya satu persatu kemudian baru dijumlahkan kedua luasnya.

d. Siswa D : "Jika bangun gabungan dikatakan dua bangun, apakah dicari luasnya sendiri-sendiri?"

(43)

Pada pembelajaran klasikal tim pengamat mengadakan pengamatan bersama-sama. Tidak seperti pada siklus I dimana kedua pengamat mengamati sendiri-sendiri. Pemeblajaran klasikal berjalan lebih baik dari siklus I, karena terjadinya interaksi yang semkin hidup antara siswa dan guru dan antara siswa dan siswa. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan tabel 4.7 hasil observasi pembelajaran klasikal berikut ini:

Tabel : 4.7

Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus II

No. Nama Kegiatan Jumlah Siswa

Aktif Prosentase Keterangan

Jumlah siswa 26

1. Melihat 26 100 prosentase =

2. Mendengar 26 100 yang melakukan

3. Mencatat 20 76,92 jumlah yang

4. Bertanya 4 15,38 hadir x 100

5. Menjawab 10 38,46

Rerata : 330,76 : 5 = 66,15%

Hasil pengamatan belajar klasikal menunjukkan rerata 66,15%. Hal ini menunjukkan kenaikan rerata dari siklus I yang hanya mencapai rerata 54,22%. Kenaikan rerata ini disebabkan adanya peningkatan kegiatan pembelajaran mencatat dan bertanya sebagaimana dijelaskan pada uraian di atas.

(44)

Tabel : 4.8

Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus II

No Kegiatan

Prosentase 100 75 100 75 1oo 100 100 92,85%

Tabel di atas menunjukkan angka rerata dari belajar kelompok sebesar 92,85%. Sedangkan pada siklus I belajar kelompok telah menunjukkan rerata 91,66%. Maka terdapat peningkatan yang sangat tipis yaitu 2,19% dari siklus I. Hal positif yang perlu dijelaskan adalah bahwa semua siswa bekerja menyelesaikan tugas dengan senang tanpa ada gangguan teman-temannya yang biasanya suka mengganggu karena mereka yang suka mengganggu pun juga asyik bekerja dengan senang. Munculnya situasi positif tersebut karena adanya alat peraga potongan kertas dengan berbagai macam bangun.

(45)

menyelesaikan empat soal. Sedangkan guru bekerja mengatur jalannya kuis. Untuk mengetahui hasil observasi pengamat I sebagai pengamat kelompok penanya dapat dilihat tabel berikut ini:

Tabel : 4.9

Rekapitulisi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus II

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. A 100

2. B 82,35

3. C 83,82

4. D 79,41

5. F 97,05

6. G 80,39

7. H 100

Rerata 89,00

Tabel 4.9 menunjukkan keberhasilan kinerja kelompok penanya yang mencapai rerata 89,00%. Keberhasilan tersebut di samping mencapai target yang ditentukan yaitu 60% -70%, juga mengalami kenaikan dari siklus I yang telah mencapai 85,17%. Sedangkan hasil observasi kinerja kelompok penjawab dapat dijelaskan pada tabel 4.10 berikut ini:

Tabel: 4.10

Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus II

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. I 75,00

2. II 69,23

3. III 73,07

4. IV 90,38

5. V 88,46

6. VI 97,43

7. VII 89,74

Rerata 83,33

(46)

64,47. Apabila diambil terata dari kelompok penanya dan penjawab dapat dilihat sebagai berikut:

(89,00% + 83,33%) : 2 = 86,16% terdapat kenaikan dari siklus I (74,82%) Dari beberapa kenaikan proses kegiatan pembelajaran yang dicapai, maka dapat dilihat keberhasilan hasil belajar pada tabel 4.11 berikut ini:

Tabel : 4. 11

Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II

No Kode Nomor Soal Jumlah

Benar Nilai Keterangan

(47)

Dilihat dari materi soal nomor 9 dan 10, masih >50% siswa belum berhasil menyelesaikan dengan benar. Maka diperlukan penjelasan ulang atau remedial klasikal tentang soal nomor 9 dan 10.

Setelah seluruh kegiatan siklus II selesai maka dilanjutkan dengan pertemuan tim peneliti untuk merefleksi kegiatan siklus II dan dipakai pedoman untuk penyusunan rencana siklus III. Beberapa masukan yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Dari Pengamat I: untuk menghemat waktu pada saat pembelajaran klasikal berpindah ke pembelajaran kelompok, diperlukan penataan tempat duduk secara kelompok.

2. Dari Pengamat II: Pada siklus III supaya tetap diusahakan alat peraga untuk semua siswa agar kegiatan pembelajaran klasikal meningkat. 3. Peneliti berinisiatif untuk memberikan banyak latihan-latihan soal

untuk dikerjakan di rumah, karena materi pelajaran semakin sulit.

4. Siklus III

Sebelum pelaksanaan siklus III peneliti mempersiapkan:

a. Alat peraga untuk peneliti sendiri yaitu beberapa balok, kubus, dan tabung berasal dari bekas bungkus makanan kemas. Sedangkan untuk para siswa adalah beberapa gambar jaring jaring bangun ruang seperti: jaring jaring kubus, balok, silinder, limas, dan prisma segitiga.

b. Beberapa instrumen untuk observasi kegiatan pembelajaran klasikal, kelompok, kuis, dan soal-soal tes untuk mengetahui hasil belajar.

c. Lembar kegiatan siswa baik kelompok, kuis, maupun pos tes.

(48)

kubus. Setelah semua siswa menemukan jaring jaring kubus Guru mengajak para siswa untuk memikirkan bagaimana cara menghitung luas jaring jaring tersebut?

Kemudian Ana Mulyana mengatakan sendiri ketika teman-temannya masih berfikir, "Caranya rusuk kali rusuk kali enam". Guru menanyakan "Mengapa kali enam?" siswa menjawab, "Karena jumlah sisi kubus ada enam". Guru menjawab:" Bagus! Jadi untuk mencari luas permukaan kubus adalah..." Siswa serentak menjawa: "Rusuk kali rusuk kali enam!" Kegiatan dilanjutkan dengan guru mendemonstrasikan cara menghitung luas permukaan luas kubus. Semua siswa mencatat di buku tulis masing-masing. Begitu pula untuk menemukan luas permukaan tabung dan bangun-bangun lainnya menggunakan prosedur di atas. Pada saat pembelajaran klasikal muncul beberapa pertanyaan dari siswa anatar lain:

a. Siswa : "Satuan luas untuk bangun ruang menggunakan persegi apa kubik?" Guru mengembalikan kepada siswa, siapa yang dapat menjawab pertanyaan temanmu? Karena tidak ada yang menjawab, maka guru menjawab: " Tetap menggunakan persegi karena satuan luas bukan satuan isi atau volum".

b. Siswa: "Rumus luas limas segitiga mengapa dikalikan 4?" Guru kembali bertanya kepada semua siswa mengapa dikalikan 4? "Beberapa siswa menjawab:" Karena terdiri dari 4 segitiga yang sama."

c. Siswa: " Bagaimana caranya mencari luas lingkaran jika diketahui diameter 7 cm?". Guru menanyakan lagi kepada siswa, kemudian sebagian siswa menjawab:"Harus dicari jari jarinya dengan cara diameternya dibagi 2." Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang lainnya.

(49)

Tabel : 4.12

Hasil Pengamatan Belajar Klasikal Siklus III

No. Nama Kegiatan Jumlah Siswa

Aktif Prosentase Keterangan

Jumlah siswa 26

1. Melihat 26 100 Prosentase =

2. Mendengar 26 100 jumlah yang

3. Mencatat 26 100 melakukan .

4. Bertanya 10 38,46 jumlah yang

5. Menjawab 22 84,61 hadir x too

Rerata : 423,07: 5 = 84,61%

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa dari hasil pengamatan pembelajaran klasikal siklus III telah berhasil mencapai rerata 84,61%. Keberhasilan tersebut telah dapat memenuhi target yang ditentukan yaitu 60% -70% dan mengalami kemajuan yang cukup signifikan dibandingkan siklus I yang baru mencapai 54,22% dan siklus II telah mencapai 66,15%. Hasil catatan bebas dari Pengamat II menjelaskan: "Guru menerangkan secara klasikal setelah itu muncul pertanyaan-pertanyaan dari siswa sehingga terjadi timbal balik dalam proses pembelajaran. Karena adanya alat peraga dan alat bantu belajar untuk siswa, maka yang biasanya tidak aktif bertanya menjadi aktif bertanya dan mau berusaha menyelesaikan tugasnya. Peningkatan proses pembelajaran klasikal tersebut disebabkan semakin banyaknya pertanyaan dari siswa dan peningkatan kegiatan mencatat siswa, juga kegiatan menjawab. Ada 22 siswa yang aktif menjawab pertanyaan guru tentang rumus-rumus luas lingkaran, balok, dan kubus. Sedangkan ada beberapa siswa yang tidak ikut menjawab. Gejala negatif yang muncul perlu direfleksi dengan bimbingan dan penyuluhan.

(50)

Tabel : 4.13

Hasil Pengamatan Belajar Kelompok Siklus III

No Kegiatan

Kelompok

Jumlah Anggota Jumlah/

Rerata

A B C D E F G

1. Kerjasama 4 4 4 4 4 3 3 26

2. Berpendapat 3 4 4 4 4 2 3 24

3. Semangat 4 4 4 4 4 3 3 26

4. Hasil Kerja 4 4 4 4 4 3 3 26

Prosentase 93,75 100 100 100 100 91,66 100 97,91

Tabel di atas menunjukkan angka rerata dari belajar kelompok sebesar 97,91%. Sedangkan pada siklus II belajar kelompok telah menunjukkan rerata 92,85%. Maka terdapat peningkatan 5,06% dari siklus II. Peningkatan kegiatan kelompok ini disebabkan karena hampir semua kelompok mencapai keaktifan 100% kecuali kelompok A dan F karena masing-masing kelompok tersebut ada satu siswa yang kurang berpendapat dalam diskusi kelompok. Hasil observasi tersebut telah mencapai jauh di atas target yang ditentukan.

Sedangkan untuk mengetahui hasil pengamatan kegiatan kuis dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel : 4. 14

Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penanya Siklus III

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. A 97,05

2. B 98,52

3. C 100

4. D 79,14

5. F 97,05

6. G 80,39

7. H 100

Rerata 93,16

(51)

peningkatan kegiatan dari siklus II yang baru mencapai 89,00%, sehingga peningkatan yang terjadi adalah 4,16%. Tercapainya rerata 93,16% telah memenuhi jauh di atas target yang ditentukan yaitu 70% - 80%. Untuk lebih mengetahui kegiatan kuis seluruhnya dapat dilihat tabel berikut ini:

Tabel: 4.15

Rekapitulasi Hasil Observasi Kelompok Penjawab Siklus III

No. Nama Kelompok Perolehan Nilai dalam Prosen

1. I 100

Hasil pengamatan kelompok penjawab dapat diperoleh rerata sebesar 92,39%. Terjadi peningkatan 9,06% dari siklus II yang baru mencapai rerata 83,33%. Jika diambil rerata dari kegiatan kelompok penanya dan kelompok penjawab, maka dapat dijelaskan sebagai berikut: 93,16 + 92,39 = 185,: 2 = 92,77% terdapat kenaikan dari siklus II (86,16%) Pada saat kegiatan kuis semua aktif belajar dan melaksanakan tugasnya sesuai ketentuan. Bahkan pada saat bel istirahat berbunyi para siswa ingin tetap meneruskan kuis. Padahal biasanya meminta segera istirahat." Dari beberapa peningkatan proses pembelajaran tersebut, bagaimana dampaknya terhadap hasil belajar?. Maka dapat dilihat hasil belajar siswa pada siklus III sebagai berikut:

Tabel: 4.16

Hasil Belajar dan Analisis Hasil Belajar Siswa Pada Siklus III

No Kode Nomor Soal Jumlah

(52)

7 B3 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 8 80 Tuntas

Tabel: 4.16 menunjukkan hasil belajar siswa yang mencapai rerata 79,61% dengan ketuntasan belajar 100%. Dengan demikian indikator keberhasilan telah dicapai yaitu 100% siswa mengalami ketuntasan belajar. Namun demikian masih ada dua soal yaitu soal nomor 7 dan nomor 9 masih ada 15 siswa yang belum bisa menyelesaikan dengan benar. Karena ada >50% siswa yang belum menguasai maka perlu ditindaklanjuti dengan penjelasan ulang secara klasikal.

E. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan

Dalam rangka meningkatkan hasil belajar harus melalui peningkatan proses pembelajaran. Peningkatan proses pembelajaran dilakukan melalui tindakan kelas dan saat ini lebih dikenal dengan penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa (Suharsimi Arikunto, 2006).

Gambar

Tabel : 2.1
Gambar 3.1 : Tahapan Per Siklus
Gambar : 3.2 Tahapan Penelitian Tindakan Kelas
Tabel 3.2Jadual Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada siklus III terjadi peningkatan yang signifikan dari siklus II yaitu dengan rata-rata keterampilan menulis aksara jawa 21,05 dan presentase keberhasilan mencapai diatas

Bahwa pemahaman belajar siswa pada siklus I mencapai skor rata-rata daya serap klasikal 65,71% pemahaman tersebut berada pada kategori cukup (C). Data yang menunjukkan

Hasil observasi aktivitas guru pada siklus I pertemuan 1 persentase aktivitas guru mencapai 84% dan berada pada kategori baik kemudian pada pertemuan ke 2 persentase

Bahwa pemahaman belajar siswa pada siklus I mencapai skor rata-rata daya serap klasikal 65,71% pemahaman tersebut berada pada kategori cukup (C). Data yang menunjukkan

Bahwa pemahaman belajar siswa pada siklus I mencapai skor rata-rata daya serap klasikal 65,71% pemahaman tersebut berada pada kategori cukup (C). Data yang menunjukkan

I.. Berikut ini adalah akibat dari rotasi bumi, kecuali ... Terjadinya siang dan malam. Adanya perbedaan waktu. Terjadinya gerak semu harian matahari. Terjadinya perbedaan musim.

Dari tabel 4.2 di atas dapat diUhat bahwa rata-rata aktivitas siswa secara klasikal pada siklus 1 baru mencapai 64.44% atau kategori rendah, terlebih pada unsur 8 siswa yang terlibat

42 Gambar 4.1 Diagram Ketuntasan Belajar Klasikal Siklus I Pencapaian nilai rata-rata kelas 2 SD Negeri 1 Telawah dengan jumlah siswa 16 dapat dilihat dalam diagram gambar 4.2.: