RANSUM SELAMA PENGGEMUKAN
MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Peternakan Domba Mitra Tani Farm (MT Farm), Desa Tegal Waru RT 04 RW 05, Ciampea, Bogor. Waktu penelitian dimulai pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2010.
Materi Ternak
Ternak yang digunakan adalah domba ekor gemuk (DEG) jantan yang berumur dibawah satu tahun (Io) sebanyak 24 ekor. Kisaran bobot badan domba yaitu 9-14 kg dengan koefisien keragaman 11,24%. Domba ekor gemuk ini berasal dari Surabaya dan Malang, Jawa Timur. Domba dikelompokkan menjadi kelompok bobot badan kecil (9-12,5 kg) dan bobot badan besar (12,6-14,6kg).
Pakan dan Minum
Pakan yang diberikan adalah pakan campuran konsentrat komersial dan limbah tauge yang dicampur secara manual hingga tercapai kondisi yang homogen. Limbah tauge tersebut berasal dari pasar Bogor yang dikumpulkan oleh para pedagang melalui proses pengayakan terlebih dahulu. Kondisi limbah tauge ini sedikit tercampur dengan tauge yang tidak tersaring. Mekanisme pengumpulan limbah tauge ini adalah dengan menghubungi para pedagang tauge untuk mengumpulkan limbah tauge tersebut kedalam karung lalu setelah terkumpul, dibawa ke tempat tujuan. Konsentrat yang dipakai merupakan konsentrat yang biasa digunakan di peternakan MT Farm. Pencampuran dilakukan di atas triplek dan dimasukkan ke dalam tong dengan cara memampatkan ransum tersebut kemudian ditutup rapat agar tidak mudah mengalami kebusukan. Air diperoleh dari sumur yang terdapat di MT Farm dan dituangkan ke dalam ember yang ada pada masing-masing kandang individu domba. Pakan dan minum diberikan secara ad libitum. Kondisi pakan sebelum melalui proses pencampuran dapat dilihat pada Gambar 1.
13 (a) (b)
Gambar 1. Kondisi Konsentrat dan Limbah Tauge sebelum dihomogenisasi. (a) = Konsentrat; (b) = Limbah tauge
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang individu dengan tipe kandang panggung dengan bahan dasar kayu dan bambu. Tempat makan diberi alas karpet yang berbahan karet sedangkan lantai bercelah ± 1-1,5 cm. Kandang dibersihkan setiap hari selama penelitian. Adapun Peralatan yang digunakan adalah timbangan pakan kapasitas 10 kg, timbangan domba digital berkapasitas 150kg, stopwatch, thermohygrometer, stetoskop, termometer, ember, karung, dan tong.
Prosedur Persiapan Penelitian
Persiapan penelitian dilakukan dengan mempersiapkan kandang, peralatan, dan pakan. Domba yang didatangkan dari Jawa Timur tersebut diistirahatkan terlebih dahulu, lalu diberikan obat-obatan seperti antibiotik, obat cacing dan vitamin agar stamina dan kondisi tubuh domba membaik setelah mengalami stres dan lelah selama perjalanan dari Jawa Timur hingga Jawa Barat. Sebelum memasuki kandang individu, dilakukan pencukuran bulu terlebih dahulu agar mencegah perkembangbiakan ektoparasit dan juga untuk menjadikan penampilan domba terlihat lebih bersih. Setelah proses pencukuran, dilakukan pemasangan kode domba agar tidak tertukar. Pakan limbah tauge diberikan secara bertahap agar sistem pencernaan domba dapat beradaptasi dengan pakan baru selama penelitian.
14
Pelaksanaan Penelitian
Pemeliharaan dilakukan selama dua bulan. Domba dikelompokkan berdasarkan bobot badannya kemudian diberi empat taraf perlakuan. Pakan diberikan setiap hari secara ad libitum begitu pula dengan minumnya. Kandang juga dibersihkan setiap hari. Pengukuran fisiologis dilakukan seminggu satu kali yang terdiri dari pengukuran denyut jantung dan respirasi menggunakan stetoskop, dan suhu rektal menggunakan termometer. Pengukuran suhu dan kelembaban dilakukan setiap hari yaitu pada pagi jam 07:00 WIB, siang jam 13:00 WIB dan sore jam 18:00 WIB. Pengukuran konsumsi pakan dilakukan setiap hari dengan cara mengurangi jumlah pemberian pakan dengan sisa pakan dari pakan yang diberikan kemarin.
Rancangan Percobaan Perlakuan
Perlakuan yang diberikan adalah pemberian campuran konsentrat dengan limbah tauge dengan taraf yang berbeda-beda. Domba dikelompokkan berdasarkan bobot badan besar dan bobot badan kecil. Adapun beberapa taraf perlakuan pakan yang diberikan berdasarkan segar adalah sebagai berikut :
P1 : 100 % konsentrat : 0 % limbah tauge P2 : 75 % konsentrat : 25 % limbah tauge P3 : 50 % konsentrat : 50 % limbah tauge P4 : 25 % konsentrat : 75 % limbah tauge
Model
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tiga kali ulangan. Adapun model rancangan tersebut menurut Mattjik dan Sumertajaya (2002) yaitu :
Yijk = µ + Pi + Kj + εij
Keterangan :
Yijk = Nilai pengamatan pemberian pakan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai tengah umum pengamatan pemberian pakan
Pi = Pengaruh pemberian pakan pada taraf ke-i (i = P1, P2, P3, P4) Kj = Pengaruh pemberian pakan pada kelompok ke-j (j = 1, 2, 3, 4, 5, 6)
15 εij = Pengaruh galat percobaan perlakuan ke-i pada ulangan ke-j
Analisis Data
Data hasil penelitian dianalisis menggunakan ANOVA untuk mengetahui pengaruh perlakuan. Jika perlakuan berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati maka dilakukan uji banding dengan menggunakan uji Tukey untuk mengetahui perlakuan yang terbaik. Hubungan palatabilitas dan respon fisiologis di analisis korelasi dengan faktor tetap (x) yaitu konsumsi pakan dan faktor variabel (y) yaitu respon fisiologis yang meliputi denyut jantung, respirasi dan suhu rektal.
Peubah yang Diamati
Peubah yang diamati dalam penelitian ini adalah konsumsi pakan, kondisi fisiologis yang terdiri dari denyut jantung, respirasi dan suhu rektal.
Palatabilitas
Konsumsi pakan merupakan salah satu cara untuk melihat tingkat palatabilitas domba terhadap pakan yang diberikan. Konsumsi pakan dapat diperoleh dengan cara menghitung pakan dikurangi dengan sisa pakan (gram/ekor/hari) setiap harinya menggunakan timbangan pakan.
Konsumsi Pakan Segar (gram/hari) = Pakan yang diberikan – Sisa pakan
Laju Respirasi
Laju respirasi pada domba diukur dengan cara mendengar hembusan nafas domba melalui stetoskop pada bagian rongga dada selama satu menit menggunakan stopwatch pada pagi, siang dan sore hari.
Laju Denyut Jantung
Denyut jantung dapat diperoleh dengan menghitung banyaknya detak jantung domba melalui stetoskop selama satu menit pada bagian dada kiri dengan menggunakan stopwatch pada pagi, siang dan sore hari.
Suhu Rektal
Pengukuran suhu rektal dilakukan menggunakan termometer dengan cara memasukkan termometer ke dalam anus domba selama dua sampai tiga menit menggunakan stopwatch pada pagi, siang dan sore hari.
16 HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Penelitian Limbah Tauge dan Konsentrat
Limbah tauge merupakan bagian dari tauge yang tidak dikonsumsi oleh manusia, yaitu berupa kulit tauge atau tudung atau lebih dikenal dengan angkup tauge yang berwarna hijau. Kondisi atau penampakan umum dari limbah tauge umumnya sedikit bercampur dengan kepala atau ekor tauge yang tidak utuh. Hal ini disebabkan karena pada saat proses penyaringan, beberapa tauge yang tidak utuh terbawa sehingga menjadi limbah tauge. Berdasarkan pengamatan di Pasar Bogor, limbah ini tidak dikonsumsi manusia karena para pedagang tauge mengumpulkan limbah tersebut untuk dibuang ke tempat pembuangan sampah ataupun diberikan kepada seseorang yang membutuhkannya untuk dijadikan sebagai pakan ternak. Hal ini menunjukkan bahwa limbah tauge dapat digunakan sebagai pakan karena tidak bersaing dengan kebutuhan manusia. Sedangkan konsentrat ialah bahan makanan berupa biji-bijian, umbi-umbian, dan limbah dari biji-bijian yang mengandung protein, lemak, dan karbohidrat dengan kandungan serat kasar (terdiri dari selulosa, hemiselulosa, lignin dan silika) kurang dari 18% yang biasa digunakan sebagai pakan domba pada usaha penggemukan domba di kalangan peternak (Parakkasi, 1999).
Kondisi Lapang
Penelitian ini dilaksanakan di Peternakan Domba Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor. Tempat penelitian yang sering disebut MT Farm ini terletak sedikit berjauhan dengan akses jalan raya namun sudah ditempati warga masyarakat. Jenis ternak yang ada di MT Farm adalah sapi pedaging, domba dan kambing. Bangunan yang terdapat di MT Farm adalah bangunan kandang untuk penggemukan dan pembibitan, kantor, WC, tempat penyimpanan pakan, tempat pemotongan hewan, tempat pengolahan daging domba, tempat istirahat dan mushola dengan luas lahan keseluruhan yaitu 800 m2. Rata-rata suhu dan kelembaban lingkungan pada pagi, siang dan sore selama penelitian yaitu 24,6 0C dan 89,9%; 30,7 0C dan 64%; 26 0C dan 85%. Rata-rata suhu lingkungan pada pagi dan sore hari lebih rendah dibandingkan dengan suhu lingkungan pada siang hari karena kelembaban pada pagi dan sore hari lebih tinggi dibandingkan siang hari. Menurut Yousef (1985), daerah termoneutral zone untuk
17 domba pada daerah pemeliharaan berkisar antara 22-31oC. Ternak akan berusaha menyesuaikan suhu tubuhnya dengan lingkungan dengan cara melakukan evaporasi ketika suhu lingkungan panas dan akan memproduksi panas ketika suhu lingkungan dingin. Data curah hujan, kelembaban dan suhu udara daerah Dermaga dan sekitarnya dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Data Curah Hujan, Kelembaban dan Suhu Lingkungan Daerah Darmaga dan sekitarnya Tahun 2010.
Bulan Waktu (WIB) Suhu (oC) Kelembaban (%) Curah hujan (mm)
07:00 23,0 95 Agustus 13:00 30,9 61 477,6 18:00 26,1 84 07:00 23,1 96 September 13:00 30,2 65 601,0 18:00 24,7 90 07:00 23,4 94 Oktober 13:00 29,2 68 436,2 18:00 25,5 86 Sumber : BMKG (2010)
Berdasarkan data BMGK (2010), curah hujan selama bulan Agustus hingga Oktober (selama penelitian) sedikit mengalami fluktuasi. Terlihat dari jumlah curah hujan yang meningkat dari 477,6 mm pada bulan Agustus hingga 601,0 mm pada bulan September dan mengalami penurunan kembali menjadi 436,2 mm pada bulan Oktober. Curah hujan yang fluktuatif dapat mempengaruhi konsumsi pakan maupun respon fisiologis domba. Namun, selama penelitian, suhu masih berada pada kisaran yang optimum bagi ternak untuk berproduksi di daerah tropis menurut Yousef (1985) yaitu pada suhu 22-31 oC. Rata-rata suhu dari bulan Agustus hingga Oktober yaitu 26,2 oC. Sedangkan untuk kelembaban dari bulan Agustus hingga Oktober sedikit berada di atas kisaran normal yaitu 82,1%. Kisaran kelembaban yang nyaman bagi domba yaitu dibawah 75% (Yousef, 1985). Kelembaban yang tinggi ini dapat disebabkan tingginya curah hujan yang terjadi saat penelitian.
18
Kondisi Domba
Ternak yang digunakan pada penelitian ini yaitu domba ekor gemuk yang berasal dari Malang Jawa Timur. Selama di Jawa Timur, domba tersebut dipelihara secara ekstensif atau digembalakan yang sebagian besar makanannya adalah rumput lapang. Setelah sampai di MT Farm, domba diistirahatkan dan diberikan obat-obatan yaitu vitamin, antibiotik dan obat cacing untuk memulihkan kondisi setelah pengangkutan. Kondisi domba yang digunakan yaitu berbadan kurus namun sehat agar lebih mudah dalam mengetahui perkembangan pertumbuhannya seperti yang dikemukakan oleh Yamin (2001) bahwa kondisi masa pertumbuhan yang relatif kurus dari pasar akan cukup ideal untuk penggemukan domba yang berlangsung 2-3 bulan. Sebagian besar penyakit yang diderita domba yaitu orf, sakit mata dan mencret. Penyakit orf ditandai dengan benjolan di daerah sekitar mulut yang menyebabkan domba sulit untuk makan. Sakit mata ditandai dengan mata merah dan berlendir dan kadang kelopak mata sulit terbuka. Mencret ditandai dengan berubahnya tekstur feses menjadi lebih cair dan bau yang lebih menyengat. Selama penelitian, terdapat satu ekor domba yang terkena orf pada perlakuan pakan menggunakan kandungan 50% limbah tauge dan domba yang sakit mata rata-rata terjadi pada perlakuan 100% konsentrat dan campuran 25% limbah tauge dalam ransum. Domba yang mengalami sakit mata pada perlakuan P1 (100% konsentrat) dan P2 (75% konsentrat dan 25% limbah tauge) dapat disebabkan karena sifat konsentrat yang berdebu yang masuk ke mata.
Kondisi Pakan
Kondisi limbah tauge yang diberikan kepada domba adalah dalam bentuk segar yang langsung diambil dari pasar Bogor. Kondisi limbah tauge sedikit tercampur dengan ekor badan, atau kepala tauge yang tidak tersaring. Agar kondisi kesegaran ransum tetap terjaga, dilakukan pemampatan ke dalam tong sehingga kondisi ransum lebih tahan lama dibandingkan dengan disimpan di dalam karung.
Sebelum dimasukkan kedalam tong, limbah tauge dicampur dengan konsentrat sesuai dengan perlakuan dengan cara manual di atas hamparan triplek dengan cara diaduk dengan menggunakan kaki hingga tercapai kondisi homogen. Setelah homogen, ransum langsung dimasukkan ke dalam tong masing-masing perlakuan. Ransum campuran limbah tauge dan konsentrat rata-rata habis dalam jangka waktu
19 4-5 hari dalam seminggu sehingga kondisi ransum masih dapat terjaga kesegarannya. Adapun perbandingan kandungan zat makanan pada konsentrat dan limbah tauge dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Kandungan Zat Makanan Konsentrat dan Limbah Tauge
Bahan Makanan BK ABU PK SK LK BETA-
N TDN ---%--- Konsentrat As fed 80,52 11,36 10,58 13,62 4,81 40,15 36,03 Kering 100 14,11 13,14 16,92 5,97 49,86 62,11 Limbah Tauge As fed 44,62 3,28 6,08 22,06 0,52 12,68 35,44 Kering 100 7,35 13,63 49,44 1,16 28,42 64,65
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan tahun 2010
Berdasarkan Tabel 4, Kandungan protein kasar yang terdapat pada limbah tauge cukup tinggi bahkan sedikit lebih tinggi dari protein kasar yang terkandung pada konsentrat yaitu sebanyak 13,63%. Kandungan serat kasar pada limbah tauge pun tinggi yaitu sebanyak 49,44%. Kandungan protein yang tinggi pada limbah tauge yang hampir mirip dengan leguminosa menjadikan keunggulan tersendiri sebagai bahan pakan ternak yang berkualitas murah, dan mudah didapat. Okoronkwo et al (2010) menyatakan bahwa perubahan kandungan protein kasar pada kacang hijau menjadi kecambah mengalami peningkatan dari 23,57% menjadi 25%. Meningkatnya kandungan protein kasar pada tauge memungkinkan pula berdampak pada kandungan protein limbah tauge. Adapun kondisi pakan masing-masing perlakuan dapat dilihat pada Gambar 2. Sedangkan, persentase bahan kering masing- masing perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Persentase Bahan Kering Masing-masing Perlakuan Persentase
(LT : KT) P1 P2 P3 P4
---%---
Bahan Segar 0 : 100 25 : 75 50 : 50 75 : 25
Bahan Kering 0 : 80,52 15,59 : 84,41 35,66 : 64,34 62,44 : 37,56
Keterangan : LT = Limbah Tauge ; KT = Konsentrat ; P1 = 100% konsentrat + 0% limbah tauge, P2 = 75% konsentrat + 25% limbah tauge, P3 = 50% konsentrat + 50% limbah tauge, P4 = 25% konsentrat + 75% limbah tauge
20
(a) (b)
(c) (d)
Gambar 2. Kondisi Ransum Campuran Konsentrat dan Limbah Tauge. (a) = P1 (100% konsentrat); (b) = P2 (75% konsetrat + 25% limbah tauge); (c) = P3 (50% konsentrat + 50% limbah tauge); (d) = P4 (25% konsentrat + 75% limbah tauge)
Berdasarkan persentase bahan kering masing-masing perlakuan, terlihat bahwa dari seluruh perlakuan pakan, konsentrat memiliki bahan kering yang lebih tinggi dibandingkan limbah tauge. Sehingga meskipun domba mengonsumsi limbah tauge dalam jumlah banyak, bahan kering yang terkonsumsi tidak akan sebanyak apabila mengkonsumsi konsentrat dalam jumlah banyak.
Palatabilitas
Konsumsi pakan dapat mencerminkan palatabilitas atau tingkat kesukaan ternak terhadap pakan yang diberikan. Rataan konsumsi pakan segar selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 6.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan limbah tauge berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan. Hasil uji lanjut menunjukkan
21 bahwa palatabilitas ransum tanpa penambahan limbah tauge (645,6 g/ekor/hari) dan ransum yang menggunakan 25% limbah tauge (871,9 g/ekor/hari) berbeda lebih rendah dari palatabilitas ransum 50% limbah tauge (1358 g/ekor/hari). Sementara, palatabilitas 50% limbah tauge nyata lebih rendah dari palatabilitas ransum 75% limbah tauge (1669,9 g/ekor/hari). Konsumsi pakan paling tinggi terjadi pada ransum dengan penambahan 75% limbah tauge dan ransum dengan 100% konsentrat memiliki tingkat konsumsi pakan yang paling rendah.
Tabel 6. Rataan Konsumsi Pakan Segar Selama Penelitian
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05)BBK : Bobot Badan Kecil ; BBB : Bobot Badan Besar ; P1 = 100% konsentrat + 0% limbah tauge, P2 = 75% konsentrat + 25% limbah tauge, P3 = 50% konsentrat + 50% limbah tauge, P4 = 25% konsentrat + 75% limbah tauge
Hal ini diduga karena limbah tauge memiliki tektur yang lembut, warna yang hijau cerah, dan tidak berdebu yang dapat meningkatkan daya tarik ternak untuk mengkonsumsinya sehingga konsumsi pakan pun meningkat seiring dengan bertambahnya kandungan limbah tauge di dalam ransum. Maka dapat disimpulkan bahwa semakin banyak kandungan limbah tauge di dalam ransum akan semakin tinggi palatabilitasnya. Menurut Church dan Pond (1998), konsumsi sangat dipengaruhi oleh palatabilitas yang tergantung pada beberapa hal yaitu penampilan dan bentuk pakan, bau, rasa, tekstur, dan suhu lingkungan. Parakkasi (1999) menyebutkan bahwa konsentrat merupakan bahan penguat dan apabila diberikan terlalu banyak akan meningkatkan konsentrasi energi pakan dan dapat menurunkan tingkat konsumsi.
Berdasarkan tingkat konsumsi pakan antara bobot badan besar dan kecil, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan tidak berubah terhadap perbedaan bobot badan yaitu pada kisaran 1123±380 sampai 1150±497gram/ekor/hari. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi pakan tidak dipengaruhi oleh bobot badan domba melainkan lebih dipengaruhi oleh palatabilitas pakan itu sendiri. Konsumsi bahan kering ransum perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.
Kelompok P1 P2 P3 P4 Rataan
--- g/ekor/hari --- BBK 641,9±91,7 920,0±95,9 1408,4±68,0 1521,6±39,4 1123±380
BBB 649,2±61,3 824±280 1308±175 1818,3±29,5 1150±497 Rataan 645,6±69,8c 871,9±194,4c 1358±131.0b 1669,9±165.5a
22 Tabel 7. Rataan Konsumsi Bahan Kering Konsentrat dan Limbah Tauge
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05); BBK : Bobot Badan Kecil; BBB : Bobot Badan Besar; BK = Bahan Kering ; P1 = 100% konsentrat + 0% limbah tauge, P2 = 75% konsentrat + 25% limbah tauge, P3 = 50% konsentrat + 50% limbah tauge, P4 = 25% konsentrat + 75% limbah tauge
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah tauge berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi bahan kering domba ekor gemuk. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa konsumsi bahan kering ransum tanpa limbah tauge (519,8 g/ekor/hari) dan 25% limbah tauge (623,8 g/ekor/hari) berbeda lebih rendah dari konsumsi bahan kering ransum mengandung 50% limbah tauge (849,7 g/ekor/hari) dan 75% limbah tauge (895,0 g/ekor/hari). Berdasarkan konsumsi bahan kering pun ternyata ransum 50% limbah tauge dan ransum 75% limbah tauge memiliki konsumsi bahan kering terbanyak. Hal ini dapat disebabkan karena pakan pada ransum 50% limbah tauge dan 75% limbah tauge memiliki palatabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ransum 100% konsentrat dan 25% limbah tauge sehingga sejalan dengan tingginya konsumsi pakan, bahan kering yang terkonsumsi pun akan lebih banyak. Namun, pada Tabel 7. dapat dilihat bahwa jumlah bahan kering yang dikonsumsi P3 dan P4 tidak berbeda nyata yaitu 875,7 g/ekor/hari dan 920.1 g/ekor/hari sedangkan konsumsi bahan segar pada P4 (1669,9 g/ekor/hari) lebih tinggi dibandingkan P3 (1358,0 g/ekor/hari) atau dapat dikatakan berbeda nyata. Hal ini dapat disebabkan karena kandungan bahan kering konsentrat (80,52%) yang lebih banyak dibandingkan bahan kering pada limbah tauge (44,62 %) sehingga total bahan kering yang terkonsumsi pada P3 dan P4 tidak jauh berbeda. Tingginya konsumsi bahan kering pada P3 dan P4 menunjukkan palatabilitas yang nyata lebih tinggi. Rataan konsumsi bahan kering pakan selama penelitian sesuai dengan konsumsi bahan kering domba menurut NRC (1985) yaitu berkisar antara 500-1000 gram/ekor/hari. Kelompok P1 P2 P3 P4 Rataan --- g/ekor/hari --- BBK 516,9±73,8 658,2±68,6 881,3±42,6 815,5±21,1 718,0±51,5 BBB 522,8±49,3 589±200,0 818,1±109,6 974,5±15,8 726,1±93,7 Rataan 519,8±56,2b 623,8±139,1b 849,7±82,0a 895,0±88,7a
23
Respon Fisiologis
Respon fisiologis adalah respon terhadap berbagai macam faktor, baik secara fisik, kimia maupun lingkungan sekitarnya (Yousef, 1985). Rangkaian proses fisiologis akan mempengaruhi kondisi dalam tubuh ternak yang berkaitan dengan faktor cuaca, nutrisi dan manajemen (Awabien, 2007). Respon fisiologis yang diamati pada penelitian ini adalah denyut jantung, respirasi dan suhu rektal domba.
Denyut Jantung Domba
Denyut jantung merupakan salah satu bagian dari respon fisiologis ternak yang dipengaruhi oleh suhu lingkungan, gerakan dan aktivitas otot (Edey, 1983). Jantung memiliki suatu mekanisme khusus yang menjaga denyut jantung dan menjalankan potensi aksi keseluruhan otot jantung untuk menimbulkan denyut jantung yang berirama (Isnaeni, 2006). Hasil rataan denyut jantung masing-masing perlakuan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Denyut Jantung Domba Selama Penelitian
Keterangan : Superskrip yang berbeda pada kolom yang berbeda menunjukan berbeda nyata (P<0,05) ; BBK : Bobot Badan Kecil; BBB : Bobot Badan Besar; BK = Bahan Kering ; P1 = 100% konsentrat + 0% limbah tauge; P2 = 75% konsentrat + 25% limbah tauge; P3 = 50% konsentrat + 50% limbah tauge; P4 = 25% konsentrat + 75% limbah tauge
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan limbah tauge berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap denyut jantung domba ekor gemuk. Hasil uji lanjut menunjukkan bahwa denyut jantung domba yang mengonsumsi ransum 50% (117,58 g/ekor/hari) dan 75% limbah tauge (115,23 g/ekor/hari) berbeda lebih tinggi dibandingkan denyut jantung domba yang mengonsumsi ransum tanpa limbah tauge (101,89 g/ekor/hari) tetapi tidak berbeda nyata dengan denyut jantung domba yang mengonsumsi ransum 25% limbah tauge (113,85 g/ekor/hari). Sementara itu, denyut jantung domba yang mengonsumsi ransum tanpa penambahan limbah tauge tidak berbeda nyata (101,89 g/ekor/hari) dengan denyut jantung domba yang mengonsumsi ransum 25% limbah tauge (113,85 g/ekor/hari). Rata-rata denyut jantung domba
Kelompok P1 P2 P3 P4 Rataan
--- g/ekor/hari --- BBK 104,52±9,43 110,65±5,25 121,38±7,43 118,52±11,25 113,77±10,11
BBB 99,27±0,76 117,05±14,24 113,78±2,18 111,94±6,21 110,51±9,72 Rataan 101,89±6,64b 113,85±10,22ab 117,58±6,42a 115,23±8,89a
24 dengan pakan penambahan limbah tauge lebih tinggi dibandingkan denyut jantung domba dengan pakan tanpa penambahan limbah tauge. Bila ditinjau dari segi kandungan kacang hijau, kacang hijau memiliki kandungan protein (asam amino) cukup lengkap yang terdiri atas asam amino esensial yakni isoleusin 6,95% ; leusin 12,90% ; Lysin 7,94% ; Methionin 0,84% ; Phenylanin 7,07% ; Threonin 4,50% ; Valin 6,23% dan juga asam amino nonesensial yakni Alanin 4,15% ; Arginin 4,44% ; Asam Aspartat 12,10%, Asam Glutamat 17% ; Glycin 4,03% ; Tryptophan 1,35% ; dan Tyrosin 3,86% (Rukmana, 1997). Asam Glutamat memiliki kandungan tertinggi di dalam protein yaitu sekitar 17%. Zhou et al. (2006) menyatakan bahwa efek fisiologis dari glutamat di dalam jaringan dapat melemahkan kontraksi otot namun membangkitkan rangsangan respon kardiovaskular. Kardiovaskular menyangkut sistem peredaran darah, maka hal ini dapat memicu jantung untuk berdenyut lebih cepat sehingga domba dengan pakan yang mengandung lebih banyak limbah tauge memiliki denyut jantung yang lebih cepat. Menurut Okoronkwo et al. (2010), kacang hijau maupun tauge memiliki beberapa anti nutrisi yaitu Phytat, Trypsin inhibitor activity, Haemagglutinin, Starchyose, Raffinose, Cyanide, Non-glucosic cyanide, dan Melandialdehyde. Menurut Marquardt et al. (1975), Haemagglutinin yang terkandum pada leguminosa dapat mengaglutinasi atau menggumpalkan sel darah. Limbah tauge memiliki karakteristik yang hampir sama dengan leguminosa yaitu mengandung haemagglutinin. Penggumpalan darah akibat adanya haemagglutinin, akan memacu denyut jantung untuk bekerja lebih cepat sehingga darah dapat diedarkan secara normal. Sehingga, domba yang mengonsumsi ransum dengan kandungan limbah tauge yang tinggi akan memiliki denyut jantung yang lebih cepat dibandingkan domba yang mengonsumsi ransum dengan kandungan limbah tauge dalam jumlah sedikit. Peningkatan denyut jantung pada penelitian ini dapat diakibatkan oleh perlakuan pakan yaitu penambahan limbah tauge.
Rata-rata denyut jantung domba normal menurut Duke (1995) berkisar 60- 120 kali/menit. Denyut jantung domba pada penelitian ini secara keseluruhan masih berada pada batas normal yaitu 101-115 kali/menit. Menurut Yousef (1985) Termoneutral Zone untuk domba pada daerah pemeliharaan berkisar antara 22-31oC dan kelembaban udara yang optimum bagi ternak untuk berproduksi di daerah tropis yaitu dibawah 75%. Rataan suhu selama penelitian berada di kisaran normal untuk
25 domba yaitu sebesar 27,1oC, namun kelembaban udara sedikit berada di atas kisaran normal yaitu 80%. Hal ini dapat disebabkan curah hujan yang tinggi yang terjadi saat penelitian.
Berdasarkan hasil penelitian, rataan denyut jantung domba berbobot badan besar dan berbobot badan kecil tidak berbeda nyata yaitu berkisar 113,77±10,11