TEPUNG DAUN BELUNTAS, VITAMIN C DAN E DALAM PAKAN
MATERI DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapangan Blok B, Ilmu Produksi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini dimulai dari bulan Mei hingga bulan September 2010.
Materi Penelitian Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah itik alabio jantan berumur 1 minggu dan dipelihara hingga umur 10 minggu sebanyak 96 ekor. Itik dikelompokan (kecil, sedang, besar) karena bobot badan awal yang tidak seragam. Rataan bobot awal itik kelompok kecil adalah sebesar 73,25 g, sedangkan kisaran bobot awal kelompok sedang adalah sebesar 85,85 g dan kelompok besar adalah 115,4 g. Itik yang digunakan berasal dari peternak itik di daerah Bogor.
Kandang dan Peralatan
Penelitian ini menggunakan kandang dengan sistem litter dengan lebar 1,25 meter dan panjang 1,5 meter sebanyak 12 buah dengan sekam setinggi 5-10 cm. Pada awal pemeliharaan, kandang diberi pemanas dan lingkar pembatas, peralatan lain yang digunakan berupa tempat makan, tempat minum, timbangan, ember.
Pakan
Pakan yang diberikan pada penelitian ini pada itik umur 1-7 minggu adalah sebagai berikut :
K = Pakan komersial ayam broiler sebagai perlakuan kontrol
KB = Pakan komersial ayam broiler yang mengandung tepung daun beluntas 0,5%
KBC = Pakan komersial ayam broiler yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg
KBE = Pakan komersial ayam broiler yang mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU
Pakan yang diberikan pada itik umur 7-10 minggu adalah sebagai berikut :
K = kombinasi 40% pakan komersial ayam broiler : 60% dedak padi sebagai perlakuan kontrol
KB = kombinasi 40% pakan komersial ayam broiler : 60% dedak padi, mengandung tepung daun beluntas 0,5%
KBC = kombinasi 40% pakan komersial ayam broiler : 60% dedak padi mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg KBE = kombinasi 40% pakan komersial ayam broiler : 60% dedak padi
mengandung tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU Komposisi kimia ransum komersial, tepung daun beluntas dan dedak padi disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Komposisi Kimia Ransum Komersial, Tepung Daun Beluntas, dan Dedak Padi (As Fed)
Komponen Ransum Kontrol1) Tepung Daun Beluntas2) Dedak3)
Bahan Kering (%) 87 85,83 91
Energi Bruto (kkal/kg) 3448
EM (kkal/kg) 3000 2068,84) 1900 Protein (%) 21 19,02 13 Lemak (%) 5 3,7 5 Serat kasar (%) 5 15,8 12 Abu (%) 7 15,69 11,33 Kalsium (%) 0,9 2,4 0,06 Phospor (%) 0,6 0,29 0,8 Vitamin C (mg/100g) 0 98,255) 0 Vitamin E (IU/mg) 0 0 0 Tanin (%) 0 1,885) 0
Keterangan : 1) Charoen Phokhpan BR 11 (2010)
2)
Gunawan (2005)
3)
Leeson & Summers (2005)
4)
EM = 0,6 x Energi Bruto
5)
Rukmiasih, et al. (2010)
Susunan dan kandungan nutrien dan antinutrien dalam pakan itik perlakuan pada umur 1-7 minggu disajikan pada Tabel 2, sedangkan susunan dan kandungan nutrien dan antinutrien pada itik perlakuan umur 7-10 minggu disajikan pada Tabel 3.
Tabel 2. Susunan dan Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan dalam Pakan Itik Perlakuan Umur 1-7 Minggu.
Susunan Pakan K KB KBC KBE
Komersial (%) 100 99,5 99,47 99,46 Beluntas (%) 0 0,5 0,5 0,5 Vitamin C (%) 1) 0 0 0,025 0 Vitamin E (%) 2) 0 0 0 0,04 Jumlah 100 100 100 100 Kandungan Nutrien,
Antinutrien dan Andioksidan:
Bahan Kering (%) 87 86,99 87 87 EM (kkal/kg) 3000 2995,34 2994,44 2994,14 Protein (%) 21 20,99 20,99 20,98 Lemak (%) 5 4,99 4,99 4,99 Serat kasar (%) 5 5,05 5,05 5,05 Abu (%) 7 7,04 7,04 7,04 Kalsium (%) 0,9 0,91 0,91 0,91 Phospor (%) 0,6 0,60 0,60 0,60 Antinutrien (tanin) (%) 0 0,01 0,01 0,01 Antioksidan : Vitamin C (mg/kg) 0 4,91 254,91 0 Vitamin E (IU/kg) 0 0 0 400
Keterangan : 1) Setara dengan 250 mg/kg, 2) Setara dengan 400 IU, K = pakan komersial; KB = pakan
komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin C 250 mg/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin E 400 IU/kg
Tabel 3. Susunan dan Kandungan Nutrien, Antinutrien dan Antioksidan dalam Pakan Itik Perlakuan Umur 7-10 Minggu.
Susunan Pakan K KB KBC KBE
Komersial (%) 40 39,75 39,74 39,73 Dedak (%) 60 59,75 59,73 59,73 Beluntas (%) 0 0,5 0,5 0,5 Vitamin C (%)1) 0 0 0,025 0 Vitamin E (%)2) 0 0 0 0,04 Jumlah 100 100 100 100 Kandungan Nutrien,
Antinutrien dan Antioksidan :
Bahan Kering (%) 89,40 89,37 89,38 89,39 EM (kkal/kg) 2340 2339,09 2337,79 2337,49 Protein (%) 16,20 16,21 16,21 16,20 Lemak (%) 5.00 4,99 4,99 4,99 Serat kasar (%) 9,20 9,23 9,23 9,23 Abu (%) 9.60 9,63 9,63 9,63 Kalsium (%) 0,40 0,41 0,41 0,41 Phospor (%) 0,72 0,72 0,72 0,72 Antinutrien (tanin) (%) 0 0,01 0,01 0,01 Antioksidan : Vitamin C (mg/kg) 0 4,91 254,91 0 Vitamin E (IU/kg) 0 0 0 400
Keterangan : 1) Setara dengan 250 mg/kg, 2) Setara dengan 400 IU/kg, K = pakan komersial;
KB = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin C 250 mg/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + vitamin E 400 IU/kg
Prosedur Persiapan Kandang
Sebelum ternak datang, kandang dan peralatan dibersihkan terlebih dahulu. Ruang kandang disemprot desinfektan dan dikapur. Peralatan lain seperti tempat pakan dan tempat air minum dicuci hingga bersih. Kemudian sekam ditabur sebagai alas kandang dengan ketinggian 10-5 cm dan dilakukan pemasangan lingkar
pembatas dan pemanas buatan beberapa jam sebelum DOD datang dengan tujuan untuk menghangatkan lingkungan kandang.
Pembuatan Pakan
Pembuatan tepung daun beluntas diawali dengan pemanenan daun beluntas. daun beluntas yang sudah dipanen dikeringkan dalam suhu ruang dan tidak terkena matahari langsung. Pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan sekitar satu minggu. Setelah daun beluntas kering, kemudian daun beluntas digiling hingga halus dan menjadi tepung daun beluntas. Daun beluntas yang sudah digiling dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Tepung Daun Beluntas
Berikut adalah contoh cara mencampur setiap kg pakan perlakuan. Pakan perlakuan KB dibuat dengan cara mencampur 5 gram tepung daun beluntas dengan 995 gram pakan komersial, pakan perlakuan KBC dibuat dengan cara mencampur 5 gram tepung daun beluntas, 0,25 mg vitamin C dan 994,75 g pakan komersial. Pakan perlakuan KBE dibuat dengan cara mencampur 5 gram tepung daun beluntas, 0,4 g vitamin E dan 994,6 g pakan komersial. Pada umur 7 minggu, pakan yang diberikan ditambahkan dedak dengan perbandingan dedak dan pakan komersial yakni 60:40. Pakan perlakuan K dibuat dengan cara mencampur pakan komersial sebanyak 400 g dan dedak 600 g, pakan perlakuan KB dibuat dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dengan pakan komersial sebanyak 397,5 g dan dedak 597,5 g, pakan KBC dibuat dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dan vitamin C 0,25 g ke dalam pakan komersial sebanyak 375,375 g dan dedak 597,375 g, pakan KBE dibuat dengan cara mencampur 5 g tepung daun beluntas dan vitamin E 0,4 IU dengan pakan komersial sebanyak 397,3 g dan dedak 597,3 g.
Vitamin C yang digunakan dalam bentuk ascorbic acid dan vitamin E yang digunakan dalam bentuk -tokoferol. Pencampuran bahan-bahan pakan dilakukan dengan cara mencampur bahan-bahan yang berbobot kecil dengan sebagian kecil pakan komersial, kemudian pencampuran bahan dilakukan sedikit demi sedikit hingga seluruh pakan tercampur dengan merata.
Pemeliharaan Itik
Setibanya di lokasi pemeliharaan, itik diberi larutan gula 3% untuk mengurangi stres akibat perjalanan. Kemudian itik diberi nomor pada sayapnya dan ditimbang. Hasil penimbangan dikelompokan menjadi besar, sedang dan kecil lalu ditempatkan pada unit-unit kandang percobaan secara acak.
Pemberian pakan diberikan tiga kali dalam sehari yakni pada pukul 07.30 WIB, pukul 12.00 WIB dan pukul 16.00 WIB. Pemberian pakan dilakukan dengan cara membasahi pakan dengan sedikit air. Pada umur 7 minggu dilakukan pergantian pakan. Penggantian pakan dilakukan dengan bertahap yaitu dengan memberi 25% pakan baru dan 75% pakan lama untuk hari pertama dan kedua, lalu 50% pakan baru dan 50% pakan lama untuk hari ketiga dan keempat, 75% pakan baru dan 25% pakan pada hari kelima dan keenam dan pada hari selanjutnya yang diberikan berubah 100% pakan baru.
Penimbangan bobot badan dilakukan setiap minggu. Kemudian itik dipotong pada umur 10 minggu dan dilakukan penimbangan karkas, paha, dada dan lemak abdomen. Sebelum dipotong, itik ditimbang untuk mengetahui bobot potong yang dihasilkan. Pemotongan dilakukan dengan cara memasukkan itik ke dalam sebuah corong dengan kepala itik mengarah ke bawah yang bertujuan agar darah cepat mengalir dan sebanyak-banyaknya keluar dari tubuh. Pemotongan dilakukan dengan cara memotong leher bagian atas, sesaat setelah pemotongan itik didiamkan sampai darah tidak menetes lagi atau proses pengeluaran darah berlangsung sempurna. Setelah proses pengeluaran darah berlangsung sempurna kemudian itik dibului dan dilakukan pengeluaran bagian oval, pemisahan kaki dan kepala lalu ditimbang untuk mengetahui bobot karkas. Kemudian bagian dada dan paha dipotong, masing-masing ditimbang, di rendam dalam butiran-butiran es dan segera dibekukan. Deboning dilakukan dalam keadaan karkas (dada dan paha) masih beku, lalu daging dengan kulit masing-masing bagian karkas (dada dan paha) ditimbang untuk mengetahui
persentase daging dan tulang. Potongan karkas, dada dan paha itik alabio jantan umur 10 minggu dapat dilihat pada Gambar 4.
(a) (b)
Gambar 4. Karkas (a), Dada dan Paha (b) Itik Alabio Jantan Umur 10 Minggu
Peubah yang diamati dalam penelitian ini yaitu : 1. Persentase karkas
Nilai persentase karkas diperoleh dengan membagi bobot karkas dengan bobot sesaat sebelum itik dipotong dikali 100%.
2. Persentase dada
Nilai persentase dada diperoleh dengan cara membagi bobot dada dengan bobot karkas dikali 100%.
3. Persentase daging dada
Nilai persentase daging dada diperoleh dengan cara membagi bobot daging dada dengan dada dikali 100%.
4. Persentase tulang dada
Nilai persentase tulang dada diperoleh dengan cara membagi bobot tulang dada dengan dada dikali 100%.
5. Persentase paha
Nilai persentase paha diperoleh dengan cara membagi bobot kedua paha dengan bobot karkas dikali 100%.
6. Persentase daging paha
Nilai persentase daging paha diperoleh dengan cara membagi bobot daging paha dengan bobot paha utuh dikali 100%.
7. Persentase tulang paha
Nilai persentase tulang paha diperoleh dengan cara membagi bobot tulang paha dengan bobot paha utuh dikali 100%.
8. Persentase lemak abdomen
Nilai persentase lemak abdomen diperoleh dengan cara membagi bobot lemak abdomen dengan bobot potong dikali 100%.
Rancangan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK), yang terdiri atas 4 perlakuan dengan 3 kelompok. Setiap kelompok terdiri atas 8 ekor itik. Pengelompokan berdasarkan bobot badan itik pada umur 1 minggu yaitu kecil, sedang dan besar. Model rancangan percobaan yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = µ + Ki + Pj + ij Keterangan ;
Yij = Nilai pengamatan perlakuan dalam pakan ke-i dan kelompok ke-j µ = Nilai tengah
Ki = Pengaruh perlakuan pakan ke-i ( i = 1,2,3,4 ) Pj = Pengaruh kelompok ke-j (j = 1, 2, 3)
ij = Pengaruh galat percobaan yang dari perlakuan dalam pakan ke-i dan kelompok ke-j
Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan sidik ragam (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie, 1993) menggunakan program SPSS versi 17.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Konsumsi pakan selama penelitian adalah 6.515,29 g pada kontrol, 6.549,93 g pada perlakuan KB 6.604,83 g pada perlakuan KBC dan 6.520,29 g pada perlakuan KBE. Konversi pakan itik perlakuan adalah sebesar 4,91 pada kontrol, 5,05 pada perlakuan KB, KBC sebesar 4,97 dan KBE sebesar 4,98.
Karkas
Pengaruh perlakuan terhadap bobot potong, bobot karkas dan persentase karkas itik alabio jantan umur 10 minggu hasil penelitian ini disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Bobot Potong, Bobot Karkas dan Persentase Karkas Itik Alabio Jantan Umur 10 Minggu
Peubah Perlakuan K KB KBC KBE Bobot Potong (g/ekor) 1365,52 ± 44,60 1333,47 ± 66,45 1358,33 ± 140,41 1340,27 ± 25,28 Bobot Karkas - (g/ekor) 815,03 ± 37,62 796,67 ± 13,68 817,05 ± 58,19 799,29 ± 25,58 - % 59,66 ± 1,04 59,79 ± 2,07 60,33 ± 2,11 59,64 ± 0,92
Keterangan : K = pakan komersial; KB = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 250 gr/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 400 IU/kg
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penambahan tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan dan kombinasi antara tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg serta tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU dalam pakan tidak berpengaruh terhadap bobot potong. Hal ini menunjukkan bahwa kandungan tanin dalam tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan tidak mengganggu bobot potong. Tabel 3 menunjukkan kandungan tanin dalam pakan sebesar 0,01%. Selain kandungan tanin, bobot potong yang tidak nyata juga diduga terjadi karena kandungan nutrien pakan pada keempat perlakuan sama yaitu isokalori dan isoprotein.
Tabel 4 menunjukkan bahwa penambahan tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan dan kombinasi antara tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg serta tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU dalam pakan tidak berpengaruh terhadap bobot karkas dan persentase karkas yang diperoleh. Hal ini karena bobot potong dari keempat perlakuan di atas tidak berbeda nyata, yakni berkisar antara 1333,4g-1365,52 g/ekor.
Menurut Setiyanto (2005), penambahan tepung daun beluntas dalam pakan hingga taraf 1% pada itik jantan lokal selama delapan minggu tidak mempengaruhi persentase karkas. Rataan persentase karkas yang diperoleh dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% dan 1 % adalah 51,75% dan 51,20%, tidak berbeda dengan perlakuan kontrol dengan rataan persentase karkas 51,25%. Menurut Wahyudin (2006), pemberian tepung daun beluntas hingga taraf 2 % dalam pakan tidak memberikan mengaruh nyata terhadap persentase karkas itik yang dihasilkan. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan karkas berlangsung merata pada semua taraf perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian Wahyudin (2006), rataan persentase karkas dengan perlakuan penambahan tepung daun beluntas 0%, 1%, dan 2 % secara berturut-turut adalah 59,61%, 59,70% dan 60,66%.
Hasil penelitian Randa (2007), menunjukkan rataan bobot akhir itik alabio jantan yang diberipakan komersialadalah sebesar 1315,6 g dengan rataan persentase karkas adalah sebesar 68,3±0,6% sementara rataan persentase karkas itik cihateup adalah sebesar 56,3 ± 4,2%. Rataan persentase karkas yang diperoleh pada penelitian Randa (2007), lebih tinggi dibandingkan dengan rataan yang diperoleh pada penelitian ini. Hal ini diduga terjadi karena perbedaan kandungan nutrien pakan itik yang digunakan selama pemeliharaan.
Dada
Rataan bobot dada, persentase dada, bobot daging dada, persentase daging dada, bobot tulang dada dan persentase tulang dada itik alabio jantan umur 10 minggu dapat dilihat pada Tabel 5.
Hasil analisis ragam dari keempat pakan perlakuan menunjukkan bahwa penambahan tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan dan kombinasi antara tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg serta tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU dalam pakan tidak berpengaruh terhadap persentase dada itik alabio jantan pada umur pemotongan 10 minggu. Hal ini karena bobot potong itik tidak berbeda. Dibandingkan dengan itik tegal, pada umur pemotongan yang sama, persentase dada itik alabio jantan lebih besar. Persentase dada itik alabio jantan dan itik tegal yang mendapat pakan kontrol masing-masing sebesar 31,88% dan 28,39%, sedangkan persentase dada itik alabio jantan dan tegal yang mendapat pakan mengandung beluntas 0,5% masing-masing 30,10% dan 28,39% (Setiyanto, 2005).
Tabel 5. Rataan Dada, Daging Dada dan Tulang Dada Itik Alabio Jantan Umur 10 Minggu Peubah Perlakuan K KB KBC KBE Dada* : (g/ekor) 260,22 ± 17,99 239,93 ± 10,86 251,15 ± 25,21 257,02 ± 4,70 %1 31,88 ± 1,08 30,10 ± 0,94 30,57 ± 0,90 32,16 ± 0,86 Daging dada**: (g/ekor) 228,68 ± 19,15 201,67 ± 12,01 219,72 ± 26,18 223,71 ± 6,65 % 87,82 ± 1,38 84,18 ± 1,54 87,25 ± 2,18 87,03 ± 3,06 Tulang dada**: (g/ekor) 31,53 ± 1,19 38,27 ± 3,16 31,43 ± 3,76 33,31 ± 7,82 % 12,18 ± 1,30 15,98 ± 1,64 12,62 ± 2,11 12,94 ± 2,91
Keterangan : K = pakan komersial; KB = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 250 gr/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 400 IU/kg. *) = Dihitung berdasarkan bobot karkas; **) = Dihitung berdasarkan bobot dada
Penambahan tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan dan kombinasi antara tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg serta tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU dalam pakan tidak berpengaruh terhadap persentase daging dan tulang dada itik alabio jantan. Hal ini dapat terjadi karena bobot potongnya yang sama. Menurut Soeparno (2005), proporsi tulang, otot dan lemak sebagai komponen utama karkas, selain dipengaruhi oleh umur, dipengaruhi oleh bobot hidup. Dibandingkan dengan itik tegal, pada umur pemotongan yang sama, persentase daging dada itik alabio jantan lebih besar. Persentase daging dada itik alabio jantan dan daging dada itik tegal yang mendapat pakan kontrol masing-masing sebesar 87,82 % dan 78,21%, sedangkan persentase daging dada itik alabio jantan dan daging dada tegal yang mendapat pakan mengandung beluntas 0,5% masing-masing 84,18 % dan 72,24% (Setiyanto, 2005). Sementara persentase tulang dada itik alabio jantan dibandingkan dengan tulang dada itik tegal pada itik yang mendapat pakan kontrol masing-masing sebesar 12,18% dan 21,79%, sedangkan yang mendapat pakan mengandung 0,5% beluntas masing-masing sebesar 15,98% dan 27,76% (Setiyanto, 2005). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase dada dan daging dada dipengaruhi oleh galur itik.
Paha
Hasil rataan bobot dan persentase paha utuh, bobot dan persentase daging paha dan bobot dan persentase tulang itik alabio jantan umur 10 minggu disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Rataan Persentase Paha, Daging Paha dan Tulang Paha Itik Alabio Jantan Umur 10 Minggu Perlakuan Perlakuan K KB KBC KBE Paha * : (g/ekor) 186,38 ± 3,48 187,13 ± 7,31 186,87 ± 9,72 178,98 ± 11,84 % 22,89 ± 1,01 23,53 ± 0,48 22,88 ± 0,47 22,41 ± 1,61 Daging paha**: (g/ekor) 163,02 ± 7,45 165,73 ± 17,96 163,45 ± 10,96 150,51 ± 23,69 % 87,34 ± 2,35 88,34 ± 6,08 87,38 ± 1,57 84,26 ± 7,50 Tulang paha**: (g/ekor) 23,37 ± 4,01 21,40 ± 10,76 23,42 ± 2,13 28,47 ± 12,71 % 12,57 ± 2,37 11,59 ± 6,13 12,58 ± 1,61 16,23 ± 8,36
Keterangan : K = pakan komersial; KB = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 250 gr/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 400 IU/kg ; *) = Dihitung berdasarkan bobot karkas; **) = Dihitung berdasarkan bobot paha utuh
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung daun beluntas 0,5% dalam pakan, kombinasi tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C 250 mg dan kombinasi tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E 400 IU tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase paha. Persentase paha itik alabio jantan umur 10 minggu dengan pakan kontrol adalah sebesar 22,89% sementara persentase paha itik tegal dengan pakan kontrol sebesar 25,55% (Setiyanto, 2005). Persentase paha itik alabio jantan umur 10 minggu dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% adalah sebesar 23,53% sementara persentase paha itik tegal dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% sebesar 26,44% (Setiyanto, 2005). Perbedaan ini diduga karena perbedaan galur itik yang digunakan dalam penelitian.
Tabel 6 menunjukkan bahwa persentase daging paha itik alabio jantan umur 10 minggu yang tidak berbeda pada keempat perlakuan. Rataan persentase daging paha itik alabio jantan yang diberi pakan kontrol pada penelitian ini adalah sebesar 87,34% dan itik tegal dengan pakan kontrol dan umur pemotongan 10 minggu adalah sebesar 81,03% (Wahyudin, 2005). Sementara rataan persentase daging paha itik
alabio jantan umur 10 minggu dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% adalah sebesar 88,34% dan itik tegal sebesar 80,90% (Wahyudin, 2005). Persentase daging paha itik alabio terlihat lebih besar daripada itik tegal.
Rataan persentase tulang tidak berbeda nyata antar perlakuan. Rataan persentase tulang paha itik alabio jantan yang diberi pakan kontrol pada penelitian ini adalah sebesar 12,57% dan itik tegal dengan pakan kontrol dan umur pemotongan 10 minggu adalah sebesar 18,87% (Wahyudin, 2005). Sementara rataan persentase tulang paha itik alabio jantan umur 10 minggu dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% adalah sebesar 11,59% dan itik tegal sebesar 19,10% (Wahyudin, 2005). Persentase tulang paha itik alabio terlihat lebih kecil daipada itik tegal. Perbedaan persentase tulang ini terjadi diduga karena perbedaan galur itik.
Lemak Abdomen
Rataan bobot dan persentase lemak abdomen itik alabio jantan pada keempat perlakuan dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Rataan Bobot dan Persentase Lemak Abdomen Itik Alabio Jantan Umur 10 Minggu.
Lemak Abdomen* Perlakuan
K KB KBC KBE
g/ekor 10,29 ± 3,24 10,65 ± 3,66 13,32 ± 5,54 12,12 ± 4,55
% 0,74± 0,23 0,79± 0,24 0,95± 0,32 0,90± 0,33
Keterangan : K = pakan komersial; KB = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5%; KBC = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 250 gr/kg; KBE = pakan komersial + tepung daun beluntas 0,5% + 400 IU/kg ; *) = Dihitung berdasarkan bobot potong
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pemberian tepung daun beluntas 0,5%, kombinasi tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin C, kombinasi tepung daun beluntas 0,5% dan vitamin E tidak mempengaruhi persentase lemak abdomen itik alabio jantan umur 10 minggu. Rataan konsumsi pakan yang tidak jauh berbeda diduga membuat asupan nutrisi yang hampir sama sehingga menyebabkan deposit lemak abdomen yang tidak berbeda nyata pada keempat perlakuan. Menurut Iskandar
et al. (2000), persentase lemak perut terlihat semakin tinggi dengan meningkatnya kandungan gizi pakan. Menurut Bintang dan Antawidjaja (1995), semakin menurunnya taraf energi dalam pakan terdapat kecenderungan penurunan lemak abdominal ternak entog. Menurut Abbas dan Rusmana (1995), serat kasar berpengaruh terhadap kandungan lemak tubuh itik fase pertumbuhan. Konsumsi serat
kasar antar perlakuandalam penelitian ini tidak jauh berbeda yakni berkisar antara 5%-5,05% pada saat umur 1-7 minggu dan 9,20%-9,23% pada umur 7-8 minggu.
Rataan persentase lemak abdomen itik alabio jantan yang mendapat pakan kontrol, umur 10 minggu pada penelitian ini adalah sebesar 0,74% , sementara rataan lemak abdomen itik tegal dengan pakan kontrol pada umur pemotongan yang sama adalah sebesar 0,79% dari bobot potong (Setiyanto, 2005). Rataan lemak abdomen itik alabio jantan umur 10 minggu dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% pada penelitian ini adalah sebesar 0,79% dan rataan lemak abdomen pada itik tegal dengan penambahan tepung daun beluntas 0,5% adalah sebesar 0,72% dari bobot potong (Setiyanto, 2005).
KESIMPULAN
Pemberian tepung daun beluntas, kombinasi tepung daun beluntas dan vitamin C, dan kombinasi tepung daun beluntas dan vitamin E dalam pakan, tidak mengganggu persentase karkas, persentase dada, persentase paha dan persentase lemak abdomen pada itik alabio jantan umur 10 minggu. Selain itu pemberian perlakuan pakan tersebut juga tidak mempengaruhi persentase daging dan tulang dada dan paha.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas, W.H & W. S. N. Rusmana. 1995. Toleransi itik periode pertumbuhan terhadap serat kasar pakan. Jurnal Peternakan dan Lingkungan 1 (03):1-5
Achmanu. 1997. Ilmu Ternak Itik. Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang.
Asiamaya. 2003. Beluntas. http://www.asimaya.com/jamu/isi/ beluntas_pluceaindikaless.htm[ 22 Februari 2011]
Berges, E. 1999. Importance of vitamin E in the oxidation stability of meat : organoleptic qualities and consequences. Di dalam: Brufau J, Tacon E, editor. Feed Manufacturing in the Mediterranean Region: Rescent Advances in Research and Technology. Reus (Spain): CIHEAM-IAMZ.hlm 347-363.
Bintang, I, A & T, Antawidjaja. 1995. Pengaruh berbagai tingkat energi metabolis terhadap bobot badan, organ dalam dan kandungan lemak abdominal anak entok (Cairina Moschata). Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi Peternakan, Balai Penelitian Peternakan, Bogor.
Dirjen Peternakan. 2009. Statistika Peternakan 2009. Departemen Pertanian, Jakarta
Gordon, M. H. 1990. The mechanism of antioxidant action in vitro. Dalam : Hudson BJF, editor. Food Antioxidants. Elsevier Applied Sci, London
Gunawan, A. 2005. Penampilan itik lokal jantan yang diberi tepung daun beluntas (Pluchea Indica L) dalam pakan. Skripsi, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hardjosworo, P. S, Setioko, P. P. Ketaren, L.H. Prasetyo, A. P Sinurat & Rukmiasih. 2001. Perkembangan teknologi peternakan unggas air di Indonesia. Pros. Lokakarya Unggas Air. Pengembangan Agribisnis Unggas Air sebagai Peluang Usaha Baru. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor-Balai Penelitian Ternak. hlm 22-41.
Iskandar, S., Bintang, I, A, K & Triyantini. 2000. Tingkat energi/protein pakan untuk menunjang produksi dan kualitas daging anak itik jantan lokal. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner, Balai Penelitian Ternak, Bogor
Johri TS. 2005. Poultry nutrition research in India and its perspective. http://www.fao.org/DOCREP/ARTICLE/AGRIPPA/659_en00.htm [ 22 Februari 2011]
Kusnadi, E. 2006. Suplementasi vitamin C sebagai penangkal cekaman panas pada ayam broiler. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 11 (4): 249-253
Leeson, S & J. D. Summers. 2005. Commercial Poultry Nutrition. 3rd edition. University Books Ontario, Canada.
Niki, E., Nuguchi. N., Tsuchihasshi. H, & Gotoh, N. 1995. Interaction among vitamin C, vitamin E, -carotene. Am J Clin Supl 62 : 1322S-1326S
Omojola, A. B. 2007. Carcass and organoleptic characteristic of duck meat as influenced by breed and sex. International Journal of Poul. Sci 6 (5): 329-334