• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEOR

13. Materi Ibadah Haji dan Umrah

Ibadah Haji

a. Pengertian Ibadah Haji dan Hukumnya

Arti haji secara bahasa adalah بُ لْ طَقلْاطَ ()artinya menyengaja, sedangkan pengertian haji menurut syariat Islam adalah sengaja mengunjungi baitullah di Mekah untuk melaksanakan ibadah yang

terdiri atas tawaf, sa‟i, wukuf, dan amalan-amalan lainnya pada masa tertentu untuk memenuhi panggilan Allah Swt serta mengharapkan keridaan-Nya dengan syarat dan hukum tertentu.

Ibadah haji wajib dilaksanakan secepat mungkin bagi mereka yang mampu untuk memenuhi syaratnya. Jika seseorang yang sudah memenuhi syarat-syaratnya dan tidak segera menunaikan ibadah haji, ia akan berdosa karena melalaikannya.

Hukum melaksanakan ibadah haji adalah wajib. Meskipun demikian, dalam keadaan tertentu hukum melaksanakan ibadah haji bisa menjadi sunah, makruh, bahkan haram.

1) Hukumnya wajib, untuk pertama kali dan telah mampu untuk menjalankannya, apabila bernazar untuk haji maka wajib melaksankannya.

2) Hukumnya sunah, apabila dapat mengerjakan haji untuk kedua kali dan seterusnya.

3) Hukumnya makruh, apabila sudah pernah pergi haji sementara masyarakat yang hidup di sekelilingnya serba kekurangan dan butuh bantuan untuk kelangsungan hidupnya.

4) Hukumnya haram, apabila ia pergi haji dengan maksud membuat kerusakan di negeri Mekah.

b. Syarat Wajib Haji

Syarat wajib haji adalah hal-hal yang harus dipenuhi ketika seseorang hendak mengerjakan ibadah haji. Syarat wajib haji sebagai

berikut:

1) Beragama Islam, orang kafir tidak sah mengerjakan ibadah haji. 2) Berakal, orang gila dan orang bodoh tidak wajib mengerjakan

ibadah haji.

3) Balig, anak-anak tidak wajib haji. Jika anak-anaknya mengerjakannya, hajinya sah sebagai amal sunah, kalau sudah cukup umur atau dewasa wajib melaksanaknnya kembali.

4) Merdeka

Mampu (istita‟ah) menjalankannya, seperti memiliki biaya untuk pergi ke Mekkah dan kembali, sehat jasmani dan rohani, memiliki ilmu tentang haji, aman selama perjalanan dari pergi hingga pulang.

c. Rukun Haji

Rukun haji adalah beberapa amalan yang harus dikerjakan dalam ibadah haji dan tidak bisa diganti dengan membayar denda (dam) bila meninggalkannya. Jika ditinggalkan hajinya batal, dan harus mengulangi dari awal di tahun sebelumnya. Rukun haji sebagai berikut,

1) Ihram, adalah niat untuk melaksanakan ibadah haji dengan memakai pakaian yang serba putih dan tidak berjahit.

2) Wukuf, adalah berhenti di Padang Arafah pada tanggal 9 dzulhijah mulai dan dari waktu zuhur sampai terbit fajar pada tanggal 10 dzulhijah.

3) Tawaf ifadah, adalah mengelilingi ka‟bah 7 kali dimulai dari Hajar Aswad.

4) Sa‟i, adalah berlari-lari kecil antara bukit Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali.

5) Tahalul, adalah mencukur atau menggunting rambut kepala paling sedikit tiga helai.

6) Tertib, adalah mendahulukan sesuai dengan urutan ibadah haji. d. Wajib Haji

Wajib haji adalah bagian-bagian di dalam ibadah haji yang harius dilaksanakan selama menunaikan ibadah haji dan apabila tada yang tertinggal dapat diganti dengan membayar dam atau denda, berupa menyembelih hewan atau berpuasa.

Adapun wajib haji sebagai berikut:

1) Ihram dari miqat,yakni memakai pakaian ihram yang dimulai dari batasan waktu dan tempat yang ditentukan.

2) Bermalam di musdalifah, yaitu setelah wukuf di padang Arafah pada tanggal 10 dzulhijah lewat tengah malam.

3) Bermalam di Mina.

4) Melempar jumrah aqabah pada hari Raya Idul Adha. 5) Melempar tiga jumrah, yaitu „ula, wustha, dan aqabah.

e. Larangan ibadah haji

1) Larangan bagi jamaah Pria

a) Memakai pakaian yang berjahit.

b) Memakai tutup kepala pada waktu ihram.

c) Memakai sepatu yang menutupi mata kaki selama ihram. 2) Larangan bagi jamaah wanita

Memakai tutup muka dan sarung tangan sewaktu ihram. 3) Larangan bagi jamaah pria dan wanita

a) Memotong kuku.

b) Memcukur rambut kepala. c) Memakai harum-haruman.

d) Berburu atau membunuh binatang. e) Mengadakan perkawinan.

f) Mencaci maki, mengumpat, bertengkar, dan mengucapksan kata-kata kotor.

g) Menebang pohon, termasuk memecahkan rantingnya. f. Macam-Macam Haji

1) Haji ifrad, mengerjakan haji dan umrah dengan cara mendahulukan haji daripada umrah dan keduanya dilaksanakan secara terpisah.

2) Haji tamattu‟, mengerjakan haji dan umrah dengam mendahulukan umrah daripada haji, dan umrah dilakukan pada musim haji.

3) Haji kiran, mengerjakan haji dan umrah sekaligus. g. Miqat Haji

Miqat haji adalah batas waktu atau batas tempat untuk memulai ihram ibadah haji atau umrah. Miqat haji dikategorikan menjadi dua macam berikut,

1) Miqat zamani, yaitu batas waktu mulai melakukan ihram ibadah haji.

2) Miqat makani, yaitu batas tempat mulai melakukan ibadah haji. h. Urutan Pelaksanaan Haji

a. Ihram

Pada tanggal 8 dzulhijah (hari tarwiyah) jamaah haji melakukan ihram untuk haji, dengan persiapan sebagai berikut: a) Mandi dan berwudhu.

b) Memakai wangi-wangian pada tubuh untuk laki-laki, dan perempuan dilarang memakai wangi-wangian.

c) Memakai pakaian ihram, kemudian mengucapkan

هاً جطَح َّ بُ َّ ا طَكلْيطَبطَا,

Artinya: “Ya Allah, kami penuhi panggilan-Mu untuk

melakukan haji”.

b. Mabit (bermalam) di Mina

Setelah melakukan ihram, kemudian keluar menuju Mina. Di Mina melakukan salat Zuhur sampai dengan Subuh dengan cara menqashar pada waktunya masing-masing, selain salat Magrib dan Subuh.

c. Wukuf di Padang Arafah

Di padang arafah jamaah menunggu wukuf tanggal 9 dzulhijjah setelah tergelincir matsahari (waktu zuhur) sampai terbit fajar tanggal 10 dzulhijjah 9 hari Raya Idul Adha). Wukuf merupakan inti dari ibadah haji. Jadi, bila seseorang ketinggalan dalam wukuf, maka hajinya batal. Pada saat ibadah ahaji hendaknya memperbanyak dzikir.

d. Mabit (bermalam) di Muzdalifah

Setelah matahari terbenam, para jamaah haji menuju Muzdalifah, sesampainya disana melakukan salat magrib dan isya‟ secara jamak qashar. Kemudian jamaah haji mencari minimal tujuh butir kerikil untuk melempar jumrah aqabah. e. Menuju Mina

Sesudah matahari terbit tanggal 10 dzulhijjah, jamaah haji menuju Mina. Sesampainya di Mina, jamaah haji melakukan hal- hal berikut:

a) Melempar jumrah aqabah dengan kerikil tujuh kali secara berturut-turut, setiap lemparan diiringi dengan takbir, setelah membaca doa

اًرلْوبُفلْغطَ هاًبلْنطَ ذطَو اًرلْوبُ لْبطَ هاً جطَح بُهلْ طَ لْج َّ بُ َّ اطَ

Artinya: “Ya Allah, jadikanlah haji yang mabrur dan dosa

b) Menyembelih hadyu (hewan kurban), bagi yang berhaji secara tamattu‟ dan qiran.

c) Mencukur rambut, yang dinamakan dengan tahalul awal. d) Melakukan Tawaf ifadah dan sa‟i.

e) Mabit di Mina dan Melempar Jumrah ula, wusta, dan aqabah Setelah tawaf ibadah, jmaah haji kembali ke Mina dan bermalam disana pada hari tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 dzulhijjah. Pada tanggal-tanggal tersebut di Mina, jamaah haji melempar ketiga jumrah mulai dari jumrah ula, kemudian wusta, dan aqabah setelah tergelincir matahari (Zuhur) masing-masing dengan tujuh lemparan dan setiap lemparan diiringi dengan takbir.

f) Tawaf wada‟

Tawaf wada‟ adalah tawaf perpisahan sebelum meninggalkan kota Mekah. Tawaf wada‟ dilakukan tanpa lari-lari di tiga putaran pertama dan tanpa sa‟i.

Ibadah Umrah

a. Pengertian Ibadah Umrah dan Hukumnya

Kata umrah secara bahasa artinya بُ طَرهطَ لِّلاطَ mengunjungi atau datang. Umrah menurut istilah artinya mengunjungi baitullah Ka‟bah, tawaf, sa‟i, dan memotong rambut untuk beribadah semata- mata karena Allah Swt.

1) Hukum Wajib

Hukum umrah wajib ain bagi orang yang baru pertama kali menunaikan umrah bersamaan dengan menunaikan ibadah haji yang pertama kali. Begitu juga apabila seseorang yang sudah menunaikan ibadah haji bersama umrah, kemudian ia bernazar akan umrah, maka ia wajib menunaikan umrah untuk, menunaikan nazarnya.

2) Hukum Sunah

Hukum umrah menjadi sunah bagi orang yang sudah pernah melaksanakan umrah yang pertama kali bersamaan dengan ibadah haji.

b. Syarat Wajib dan Syarat Sahnya Umrah

1) Syarat Wajib Umrah sama seperti wajib haji yaitu:

Islam, balig, berakal, merdeka artinya bukan hamba sahaya, istiha‟ah atau mempunyai kemampuan.

2) Syarat sahnya umrah sama dengan syarat sahnya haji yaitu: Islam, balig, berakal dan merdeka.

c. Rukun Umrah

Perbedaan rukun umrah dengan rukun haji adalah rukun umrah tidak ada wukuf di padang Arafah dan boleh dilaksanakan pada bulan apa saja, adapan rukun haji harus wukuf di padang Arafah dan harus dikerjakan pada bulan dzulhijah saja.

1) Ihram dengan niat untuk ihram.

2) Tawaf, yaitu mengelilingi Ka‟bah sebanyak tujuh kali dengan niat tawaf umrah.

3) Sa‟i, yaitu berlari-lari kecil antara bukit Safa dan bukit Marwah. 4) Tahallul, yaitu memotong atau menggunting rambut paling sedikit

tiga helai.

5) Tertib artinya menertibkan rukun dengan mendahulukan yang lebih dahulu tidak boleh dibolak-balik.

Adapun wajib umrah ada dua macam, yaitu 1) Ihram dimulai dari miqat (miqat makani saja).

2) Meninggalkan semua hal yang diharamkan (dilarang selama melaksanakan ihram).

d. Pelaksanaan Ibadah Umrah 1) Ihram

Ihram adalah niat melakukan umrah dengan menjauhi hal- hal yang terlarang selama ihram. Caranya sebagai berikut:

a) Setelah sampai miqat, jamaah umrah hendaknya mandi, bersuci dan memotong kuku, memakai wangi-wanhgian. b) Meninggalkan pakaian yang berjahit dan pakaian ihram. c) Mengucapkan atau melafazkan niat umrah (tidak hanya di

dalam hati), yaitu

طَ طَ لْ بُ َّ بُ َّ ا طَكلْيطَبطَا

Artinya: “Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk

2) Tawaf

3) Sa‟i antara bukit Safa dan Marwah

Selama melakukan sa‟i, jamaah umrah terus menerus membaca:

بَُّ عِ عِآ طَ طَ عِ طَ طَولْ طَ لْا طَوهطَفَّ ا َّإ

Artinya :“Sesungguhnya Shafa dan Marwah itu termasuk syiar-

syiar Allah.” (Q.S. al-Baqarah [2]: 158).

Hal tersebut dilakukan tujuh kali, dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, deemikian sebaliknya. Jadi, sa‟i dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.

4) Tahalul

Dengan mencukur rambut atau memendekkan, sedangkan bagi wanita cukup menggunting ujung rambutnya kira-kira seujung jari.

e. Miqat Umrah

Miqat umrah hanya terdapat pada miqat makani, yaitu batas tempat dimulainya melaksanakan ihram umrah.

f. Larangan dalam Ibadah Umrah

Larangan dalam ibadah umrah sama dengan haji yaitu: 1) Larangan bagi jamaah Pria

a) Memakai pakaian yang berjahit.

b) Memakai tutup kepala pada waktu ihram.

c) Memakai sepatu yang menutupi mata kaki selama ihram. 2) Larangan bagi jamaah wanita

3) Larangan bagi jamaah pria dan wanita a) Memotong kuku.

b) Mencukur rambut kepala. c) Memakai harum-haruman.

d) Berburu atau membunuh binatang. e) Mengadakan perkawinan.

f) Mencaci maki, mengumpat, bertengkar, dan mengucapkan kata-kata kotor.

g) Menebang pohon, termasuk memecahkan rantingnya (Buku Guru Kurikulum 2013 Fiqih kelas VIII, 2017: 4-16).

Dokumen terkait