BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
6. Materi Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan
Materi kelarutan dan hasil kali kelarutan merupakan materi pokok kimia yang diajarkan di kelas XI pada semester genap. Materi ini tergolong materi yang bersifat abstrak dan memiliki banyak konsep hitungan sehingga sebagian besar siswa menganggap materi yang sulit. Dalam materi ini terdiri dari empat sub pokok bahasan yaitu kelarutan dan hasil kali kelarutan, ion senama, pH larutan dan reaksi pengendapan.
a. Pengertian Kelarutan
Kemampuan garam-garam larut dalam air tidaklah sama, ada garam yang mudah larut dalam air seperti natrium klorida (NaCl) dan ada pula garam sukar larut dalam air seperti perak klorida (AgCl). Apabila NaCl dilarutkan ke dalam air mula-mula akan larut, akan tetapi jika NaCl ditambahkan terus-menerus makaakan ada NaCl yang tidak dapat larut. Semakin banyak NaCl ditambahkan ke dalam air, semakin banyak endapan yang diperoleh.
Hal ini dikarenakan di dalam air, larutan NaCl melarut dan terdisosiasi menjadi ion-ionnya, yaitu Na+ dan Cl–. Penambahan lebih lanjut akan mengakibatkan molaritas ion Na+ dan Cl– menjadi semakin tinggi, akibatnya larutan menjadi jenuh.
Setelah mencapai keadaan jenuh ternyata tetap terjadi proses melarut, tetapi pada saat yang sama terjadi pula proses pengkristalan dengan laju
commit to user
pembentukan ulang padatan, maka proses yang berlawanan arah tersebut dikatakan berada dalam kesetimbangan. Larutan yang demikian itu disebut larutan jenuh atau tepat jenuh artinya pelarut tidak dapat lagi melarutkan NaCl. Konsentrasi zat terlarut di dalam larutan jenuh sama dengan kelarutannya (Harnanto dan Ruminten, 2009: 222).
Kelarutan (solubility) dilambangkan dengan lambang s dapat didefinisikan sebagai jumlah maksimum suatu zat terlarut yang dapat larut dalam pelarut tertentu. Satuan kelarutan biasanya dinyatakan mol/Liter.
Jadi, kelarutan (s) sama dengan molaritas (M). Besarnya kelarutan suatu zat dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut:
1) Suhu
Kelarutan zat padat dalam air semakin tinggi bila suhunya dinaikkan.
Adanya panas mengakibatkan semakin renggang. Merenggangnya jarak antar molekul zat padat menjadikan kekuatan gaya antarmolekul tersebut menjadi lemah sehingga mudah terlepas oleh gaya tarik molekul-molekul air (Sudarmo, 2006: 209).
2) Jenis pelarut
Senyawa polar akan mudah larut dalam senyawa polar. Sebagai contohnya garam dapur, alkohol, dan semua asam merupakan senyawa polar sehingga mudah larut dalam pelarut polar seperti air. Senyawa non polar akan mudah larut dalam senyawa nonpolar, misalnya lemak mudah larut dalam minyak. Senyawa polar umumnya tidak larut dalam senyawa nonpolar, misalnya alkohol tidak larut dalam minyak tanah. Contoh lainnya NaCl mudah larut dalam air, ternyata sukar larut dalam pelarut benzena (Permana, 2009: 140-141).
b. Hasil Kali Kelarutan (Ksp)
Hasil kali kelarutan (Ksp) menggambarkan perkalian konsentrasi ion-ion elektrolit yang sukar larut dalam larutan jenuhnya, dipangkatkan koefisien masing-masing menurut persamaan ionisasinya. Senyawa yang mempunyai harga Ksp adalah senyawa elektrolit yang sukar larut. Senyawa elektrolit yang mudah larut seperti NaCl, Na2SO4, KOH, HCl, atau H2SO4 tidak
commit to user
mempunyai harga Ksp. Demikian pula senyawa-senyawa yang sukar larut, tetapi non-elektrolit seperti benzen, minyak, eter, juga tidak mempunyai harga Ksp. Besarnya harga Ksp dari suatu zat adalah tetap pada suhu tetap.
Garam-garam yang sukar larut seperti BaSO4, AgCl, dan HgF2, jika dimasukkan dalam air murni lalu diaduk, akan terlarut juga walaupun hanya sedikit sekali. Karena garam-garam ini adalah elektrolit, maka garam yang terlarut akan terionisasi, sehingga dalam larutan akan terbentuk suatu kesetimbangan ion (Harnanto dan Ruminten, 2009 : 224).
Perhatikan persamaan reaksi kesetimbangan AgCl dibawah ini.
AgCl (s) Ag+(aq) + Cl–(aq)
Tetapan kesetimbangannya dapat dituliskan sebagai berikut.
Kc =
Kc [AgCl] = [ Ag+] [Cl-]
Apabila pada keadaan kesetimbangan heterogen terdapat larutan dan padatan, maka hanya molaritas ion-ion saja yang diperhitungkan dalam menentukan harga tetapan kesetimbangan. Hal itu disebabkan molaritas padatan di dalam larutan jenuh selalu sama. Tetapan kesetimbangan yang berlaku disebut tetapan hasil kali kelarutan dan disimbolkan Ksp. Jadi, persamaan tetapan hasil kali kelarutan di atas dapat dituliskan:
Ksp = [Ag+] [Cl-]
Jika pada larutan jenuh senyawa ion AxBy ditambahkan air, maka senyawa ion AxBy akan terionisasi dan terjadi reaksi kesetimbangan.
Persamaan reaksi kesetimbangan secara umum dapat dituliskan sebagai berikut:
AxBy(s) xAy+(aq) + yBx-(aq)
Sedangkan harga tetapan hasil kali kelarutannya dapat dirumuskan sebagai berikut:
Ksp = [Ay+]x [Bx-]y
dengan x,y= koefisien reaksi
commit to user [Ay+] = molaritas ion Ay+ ...(M) [Bx-] = molaritas ion Bx- ...(M) Contoh:
Tuliskan rumus tetapan hasil kali kelarutan untuk senyawa Mg(OH)2 ! Jawab:
Mg(OH)2 dalam larutan akan terurai menjadi ion-ionnya, Mg(OH)2(s) Mg2+(aq) + 2 OH–(aq)
maka dari rumus umum Ksp diperoleh Ksp = [Mg2+] [OH–]2
c. Hubungan Kelarutan (s) dengan Tetapan Hasil Kali Kelarutan (Ksp) Senyawa AxBy akan larut atau terionisasi dalam sistem kesetimbangan.
Jika kemolaran zat dalam larutan sama dengan harga kelarutannya dalam mol L–1, maka persamaan reaksinya dapat dituliskan:
AxBy(s) xAy+(aq) + yBx-(aq)
Jika dalam sistem kesetimbangan AxBy dengan kelarutan s, maka persamaan reaksi kesetimbangan dapat dituliskan sebagai berikut.
AxBy(s) xAy+(aq) + yBx-(aq)
s mol L–1
xs mol L–1 ys mol L–1
Sehingga hubungan antara tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) dan kelarutan (s) adalah sebagai berikut:
Ksp = [Ay+]x[Bx–]y
= (xs)x(ys)y
Jadi, harga tetapan hasil kali kelarutan (Ksp) suatu larutan jenuh dengan kemolaran zat di dalam larutan sebesar s mol L–1 dapat dihitung dengan rumus berikut:
Dengan x dan y = koefisien reaksi Ksp = tetapan hasil kali kelarutan s = kelarutan... (mol L–1)
Ksp= xx yy s(x+y)
commit to user
Dari rumus Ksp tersebut dapat ditentukan nilai kelarutannya dengan rumus berikut.
s =
(Pranata dan Wiyarsi, 2009: 229-232 )
Untuk kelarutan Ag2CO3 dengan kelarutan s, rumus Ksp dapat diperoleh sebagai berikut:
Ag2CO3 2 Ag+(aq) + CO32– (aq) s 2s s KspAg2CO3 = [Ag+]2 [CO32–
] KspAg2CO3 = (2s)2 x s KspAg2CO3 = 4s3 Contoh:
Harga Ksp Ag2S adalah 1,08 x 10–16, berapa kelarutan senyawa ini dalam air?
Jawab:
Ag2S 2Ag+ + S s 2s s Ksp = [Ag+]2 [S2–]
= (2s)2 (s) = 4s3
S =
s = 3 x 10-6 mol / liter
maka kelarutan Ag2S sebesar 3 x 10-6 mol / liter
d. Pengaruh Ion Senama terhadap Kelarutan
Kelarutan suatu zat dapat berubah jika terdapat faktor luar yang mempengaruhinya, salah satunya molaritas zat. Molaritas zat bisa berubah jika ada penambahan ion senama maupun perubahan pH. Suatu zat elektrolit
commit to user
yang mengandung salah satu ion dari elektrolit tersebut. Jika AgCl dilarutkan dalam larutan NaCl atau larutan AgNO3, ternyata kelarutan AgCl dalam larutan tersebut akan lebih kecil jika dibandingkan dengan kelarutan AgCl dalam air murni.
Sesuai dengan Asas Le Chatelier, penambahan Ag+ akan menggeser kesetimbangan ke reaktan, sehingga AgCl yang larut makin sedikit. Dengan demikian, adanya ion sejenis akan memperkecil kelarutan suatu elektrolit.
Dengan adanya penambahan AgNO3 ini maka molaritas Ag+ dalam larutan bertambah sehingga kesetimbangan akan bergeser ke reaktan. Untuk lebih jelasnya perhatikan diagram di bawah ini.
AgNO3(aq) Ag+(aq) + NO3– (aq)
Penambahan ion senama Ag+ AgCl(s) Ag+(aq) + Cl–(aq)
Kesetimbangan bergeser ke reaktan, kelarutan AgCl berkurang Contoh:
Diketahui harga Ksp CaF2 sebesar 4 × 10–10. Tentukan kelarutan CaF2
dalam larutan CaCl2 0,01 M.
Jawab:
Asumsikan bahwa CaF2 terionisasi sempurna.
Ionisasi CaF2 : CaF2 (aq) Ca2+(aq) + 2F–(aq) s ~ s ~ 2s Kesetimbangan CaCl2 : CaCl2(aq) Ca2+(aq) + 2Cl–(aq) 0,01 M ~ 0,01 M ~ 0,01 M Dari reaksi di atas diperoleh [Ca2+] = s
[Ca2+]= (0,01 M + s), karena s << 0,01, maka [Ca2+] = 0,01 M.
Kelarutan CaF2 dalam larutan CaCl2 dapat dihitung dengan cara berikut:
Ksp CaF2 = [Ca2+] [F–]2 4× 10–10 = (0,01) (2s)2 s = 10–4 M
Jadi, kelarutan CaF2 dalam larutan CaCl2 0,01 M sebesar 10–4 M.
e. Pengaruh pH terhadap Kelarutan
Tingkat keasaman larutan (pH) dapat mempengaruhi kelarutan dari berbagai jenis zat. Suatu basa umumnya lebih larut dalam larutan yang bersifat asam, dan sebaliknya lebih sukar larut dalam larutan yang bersifat basa. Garam-garam yang berasal dari asam lemah akan mudah larut dalam larutan yang bersifat asam kuat.
Kelarutan suatu zat dapat kita tentukan dari harga Ksp zat tersebut.
Sebaliknya, harga Ksp suatu zat dapat kita peroleh dari kelarutan zat tersebut. Jika kelarutan suatu zat kita ketahui, maka susunan konsentrasi ion-ion zat tersebut dalam larutan jenuhnya dapat kita tentukan. Berarti, dengan mengetahui harga Ksp suatu zat, susunan konsentrasi ion-ion zat tersebut dalam larutan jenuhnya dapat kita tentukan. Dengan demikian, pH larutan jenuhnya dapat diketahui. Demikian pula dengan mengetahui pH larutan jenuh suatu zat maka harga Ksp zat tersebut dapat ditentukan.
Contoh: Basa L(OH)2 mempunyai harga Ksp = 3,2 x 10-11. Tentukan pH dari larutan jenuh L(OH)2 tersebut !
Pembahasan:
commit to user
Reaksi kelarutan L(OH)2 beserta susunan konsentrasi ion-ion pada larutan jenuhnya berdasarkan kelarutannya dapat kita tuliskan sebagai berikut.
L(OH)2(aq) L2+(aq) + 2OH– (aq)
2 x 10-4 M 2 x 10-4 M 4 x 10-4 M Pada larutan jenuh L(OH)2, [OH-] = 4 x 10-4 M pOH larutan jenuh L(OH)2 = - log 4 x 10-4 = 4 – log 4 Oleh karena itu, pH larutan jenuh L(OH)2 = 14 – pOH
= 14 - (4-log 4)
= 10 + log 4 f. Reaksi Pengendapan
Salah satu ciri reaksi kimia adalah terbentuknya endapan. Harga Ksp suatu elektrolit dapat digunakan untuk memperkirakan apakah elektrolit tersebut dapat larut atau mengendap dalam suatu larutan. Semakin besar harga Ksp suatu senyawa, maka semakin mudah larut senyawa tersebut.
Terbentuknya endapan atau tidak pada akhir proses reaksi tergantung pada molaritas ion-ion dipangkatkan dengan koefisiennya.
Dengan membandingkan harga Ksp dengan harga hasil kali konsentrasi ion-ion (Qc) yang ada dalam larutan yang dipangkatkan dengan koefisien reaksi masing-masing, maka ada tiga kemungkinan yang akan terjadi jika dua buah larutan elektrolit dicampurkan yaitu:
1) Jika Qc <Ksp, maka larutan belum jenuh (tidak terjadi endapan), 2) Jika Qc= Ksp, maka larutan tepat jenuh (mulai terbentuk endapan), 3) Jika Qc> Ksp, maka larutan lewat jenuh (terjadi endapan).
commit to user B. Kerangka Berpikir
Dalam proses belajar mengajar seringkali ditemukan banyak kendala diantaranya dalam memilih metode pembelajaran yang tepat agar tercapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru nantinya dapat berpengaruh terhadap baik tidaknya hasil prestasi belajar siswa.
Selama ini kebanyakan guru selaku pengajar masih menerapkan metode ceramah sehingga suasana pembelajaran bersifat pasif dimana siswa hanya mendengarkan penjelasan tanpa adanya interaksi timbal balik. Sehingga siswa sering mengalami kendala dalam penguasaan konsep, salah satu pemecahannya yaitu dengan mencoba menggabungkan kemampuan antar personal yang dipadukan dalam metode pembelajaran kooperatif atau kerja sama dengan panduan salah satu anggota kelompoknya. Dengan cara ini, kesulitan yang dialami siswa selama proses belajar mengajar dapat ditanyakan kepada teman dalam kelompoknya yang lebih menguasai tetapi masih dalam bimbingan guru. Jadi terjadi proses belajar bersama yang terarah dan jelas tujuannya.
Materi Kelarutan dan Hasil Kelarutan merupakan salah satu materi kimia yang menurut sebagian siswa kelas XI SMA Negeri 1 Simo mengganggap materi yang sulit. Hal ini ditunjukkan dengan nilai ulangan harian siswa pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan yang relatif rendah dan lebih dari 40%
siswa kelas XI tidak tuntas pada materi ini. Permasalahan ini dikarenakan materi ini sebagian besar berupa konsep hitungan dan bersifat abstrak yang memerlukan tingkat pemahaman dan kemampuan matematik yang cukup tinggi. Sehingga akan lebih baik jika metode yang diterapkan dapat meningkatkan pemahaman konsep siswa dan melatih kemampuan mengerjakan soal hitungan. Hal ini sesuai dengan teori belajar kontruktivistik yang menjelaskan bahwa setiap siswa harus aktif melakukan kegiatan, aktif berpikir, menyusun konsep dan memberi makna tentang hal-hal yang sedang dipelajari agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.
Dalam penelitian ini metode pembelajaran yang digunakan adalah metode pembelajaran kooperatif Student Teams Achievement Divisions (STAD).
Metode pembelajaran kooperatif STAD merupakan pembelajaran dalam
commit to user
tertentu sehingga para siswa merasa lebih fair, senang, dan terjadi konstruksi pengetahuan yang lebih kuat diantara mereka. Diskusi dalam bentuk kelompok-kelompok kecil ini sangat efektif untuk memudahkan siswa dalam memahami materi dan memecahkan suatu permasalahan.
Selain penggunaan metode pembelajaran yang tepat, agar proses pembelajaran lebih efektif juga perlu ditunjang dengan media pembelajaran guna mempermudah pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan. Pemanfaatan media dalam pembelajaran juga sangat berpengaruh terhadap kualitas proses belajar mengajar. Media pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini merupakan media pembelajaran yang berupa handout dan smart card. Dengan pemanfaatan media berupa handout siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing dan juga bisa mengulangi materi yang belum dikuasai. Sehingga pada akhirnya siswa memahami materi secara menyeluruh sesuai dengan kecepatan belajar mereka masing-masing. Sedangkan penggunaan media smart card memberi manfaat berupa pengakomodasian siswa yang lamban menerima pelajaran, baik itu dikarenakan mengalami kesulitan belajar, kurangnya minat belajar, maupun kurangnya motivasi berprestasi. Media smart card didesain dalam bentuk mainan sederhana yang praktis dan diharapkan dapat lebih menarik perhatian siswa untuk mempelajari materi di dalamnya sehingga mampu merubah iklim belajar siswa.
Berdasarkan uraian di atas, diprediksi bahwa pembelajaran kimia dengan menggunakan metode pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) dilengkapi media handout dapat memberikan perbedaan hasil belajar yang signifikan dengan metode STAD yang dilengkapi smart card baik dari aspek kognitif maupun afektif. Untuk memperjelas hubungan metode dan media pembelajaran dengan prestasi belajar siswa ditunjukkan dengan ilustrasi kerangka pemikiran seperti pada Gambar 2 berikut:
Gambar 2 Bagan Kerangka Berpikir
C. Penelitian yang Relevan
1. Jurnal Internasional dari Adesoji dan Ibraheem (2009) menyimpulkan bahwa metode pembelajaran menggunakan pembelajaran kooperatif tipe STAD, memiliki potensi untuk memberikan hasil positif terhadap peningkatan hasil belajar siswa dalam pelajaran kimia di SMA. Hal ini ditunjukkan dengan hasil posttest siswa di kelas eksperimen yang menggunakan metode STAD terbukti lebih tinggi dari pada kelas kontrol yang menggunakan metode konvensional.
Selain itu jika ditinjau dari aspek afektif seperti minat dan sikap, kelompok eksperimen dengan metode STAD juga memiliki skor rata-rata tertinggi terhadap sikap siswa. Di tinjau dari segi minat ternyata siswa yang memiliki kemampuan sedang dan rendah jika digabungkan dengan siswa yang memiliki kemampuan tinggi dapat memberikan penampilan atau kinerja yang lebih baik daripada mereka bekerja sendiri.
Metode STAD dilengkapi smart card pada materi pokok kelarutan dan hasil kali
kelarutan
Metode STAD dilengkapi handout pada materi pokok kelarutan dan hasil kali
kelarutan Kelas Eksperimen I
Kelas Eksperimen II
Perbedaan Prestasi Belajar
Aspek Kognitif
Aspek Afektif
commit to user
2. Penelitian yang dilakukan oleh Tzu-Hua Huang, Yuan-Chen Liu, Wan-Ting Yan, dan Yu-Chun Chen (2009) menyatakan pengaruh aktivitas pembelajaran kooperatif telah memberikan pengaruh positif untuk meningkatkan prestasi akademik dalam pelajaran.
3. Penelitian Oludipe dan Awokoy (2010) diperoleh kesimpulan bahwa metode pembelajaran kooperatif memberikan pengaruh yang positif terhadap kegelisahan siswa dalam belajar kimia sebagai hasil dari sikap ketergantungan positif yang memungkinkan siswa melihat bahwa kontribusi, masukan, dan kesuksesan mereka berasal dari siswa lainnya dalam kelompok.
D. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka dan kerangka berpikir tersebut dapat diambil hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat perbedaan prestasi belajar aspek kognitif siswa antara penggunaan metode STAD yang dilengkapi handout dan metode STAD yang dilengkapi smard card pada materi pokok kelarutan dan hasil kelarutan.
2. Terdapat perbedaan prestasi belajar aspek afektif siswa antara penggunaan metode STAD yang dilengkapi handout dan metode STAD yang dilengkapi smard card pada materi pokok kelarutan dan hasil kelarutan.
commit to user
Penelitian ini dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2011/2012 dimulai pada bulan Februari sampai Juni 2012. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan secara bertahap. Adapun tahap-tahap pelaksanaannya adalah sebagai berikut:
Berdasarkan masalah-masalah yang akan dipelajari, maka penelitian ini menggunakan metode eksperimen. Sampel penelitian terdiri dari dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen I (metode STAD dengan media smart card) dan kelompok eksperimen II (metode STAD dengan media handout). Rancangan yang
commit to user
digunakan dalam penelitian ini adalah “Randomized Post Test Design”. Kedua kelompok diuji dengan uji keseimbangan, untuk mengetahui keadaan awal yang sama. Untuk lebih jelasnya rancangan dapat dilihat dalam Tabel 5.
Tabel 5 Desain Penelitian Randomized Post Test Design
Kelas Perlakuan Posttest
Eksperimen I Eksperimen II
X1 X2
T T
Keterangan:
X1 = Pembelajaran menggunakan metode STAD dengan media smart card.
X2 = Pembelajaran menggunakan metode STAD dengan media handout.
T = Posttest terhadap penguasaan materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan.
1. Variabel Penelitian
Pada penelitian ini terdapat dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat sebagai berikut:
Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Variabel terikat pada penelitian ini adalah prestasi belajar siswa. Prestasi belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil yang diperoleh sebagai akibat dari aktivitas selama mengikuti pelajaran kimia materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan yang mengakibatkan perubahan dalam diri siswa yang dilambangkan dalam bentuk nilai. Prestasi belajar siswa yang diukur dalam penelitian ini meliputi dua aspek, yaitu aspek kognitif dan aspek afektif yang terlihat dari nilai posttest.
Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya variabel terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah metode pembelajaran STAD dilengkapi smart card untuk kelas ekserimen I dan metode STAD dilengkapi handout untuk kelas eksperimen II.
commit to user 2. Prosedur Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan secara bertahap dengan berkesinambungan dengan urutan sebagai berikut:
Langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian ini adalah:
a. observasi pada kelas XI IPA SMA Negeri 1 Simo meliputi objek penelitian yang akan digunakan,
b. penentuan dua kelas untuk dijadikan sampel penelitian secara random, c. pemberian perlakuan X1 berupa penggunaan metode STAD dilengkapi
smart card dan perlakuan X2 berupa penggunaan metode STAD dilengkapi handout,
d. pemberian posttest berupa aspek kognitif dan afektif pada kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II untuk mengukur prestasi kognitif dan afektif setelah diberi perlakuan X1 dan X2,
e. penggunaan uji statistik yang sesuai untuk menentukan perbedaan tersebut bersifat signifikan, yaitu dengan uji-t dua pihak,
f. pengolahan dan menganalisis data yang diperoleh dengan uji statistik yang sesuai,
g. penarikan kesimpulan.
C. Penetapan Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel 1. Penetapan Populasi Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Simo tahun pelajaran 2011/2012 yang terdiri dari 3 kelas.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik cluster random sampling. Dalam teknik ini sampel merupakan unit dalam populasi yang mendapat peluang sama untuk menjadi sampel, bukan siswa secara individual tetapi kelas. Dengan teknik pengambilan sampel ini akan didapat elemen sampel dengan heterogenitas dalam kelompoknya dan homogenitas antar kelompok. Dari 3 kelas XI IPA SMA Negeri 1 Simo
commit to user
tersebut diambil secara acak dua kelas yaitu kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen I dan kelas XI IPA 3 sebagai kelas eksperimen II. Selanjutnya untuk mengetahui kesamaan kemampuan awal, kedua kelas di uji t-matching terhadap nilai ujian akhir semester ganjil mata pelajaran kimia.
D. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data bermanfaat dalam proses pengujian hipotesis.
Pengumpulan data pada penelitian ini terlebih dahulu dilakukan dengan menguji perangkat instrumen penelitian dengan memberikan tryout kepada siswa kemudian dilakukan pengujian data. Data yang memenuhi kriteria perangkat tes akan dijadikan sebagai posttest. Selanjutnya perangkat tes tersebut digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa baik kognitif maupun afektif. Hal ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan yang diberikan peneliti terhadap prestasi belajar siswa pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan akibat perlakuan yang diberikan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode angket dan metode tes.
1. Metode Tes
Tes adalah alat yang digunakan untuk mengukur kemampuan individu yang dalam penelitian ini untuk mengukur prestasi belajar kognitif pada materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan kelas XI IPA SMA Negeri 1 Simo tahun pelajaran 2011/2012. Metode tes yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat pada Lampiran 6.
2. Metode Angket
Angket yang digunakan dalam penelitian adalah jenis angket langsung dan tertutup, karena daftar pertanyaan diberikan langsung kepada responden dan jawabannya sudah disediakan, sehingga responden tinggal memilih jawaban yang ada. Metode angket ini digunakan untuk mendapatkan data nilai prestasi belajar afektif. Untuk metode angket yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Lampiran 11.
commit to user E. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian terdiri atas 2 instrumen yaitu instrumen penilaian kognitif dan afektif. Penilaian kognitif menggunakan bentuk tes obyektif dan untuk penilaian afektif menggunakan angket. Sebelum digunakan untuk mengambil data penelitian, instrumen tersebut diujicobakan terlebih dahulu untuk mengetahui kualitas soal. Untuk mengetahui kelayakan instrumen yang digunakan dalam penelitian maka perlu ditinjau aspek kelayakannya, yang diuji dengan statistik sebagai berikut:
1. Instrumen Penilaian Kognitif
Tes adalah alat yang digunakan dalam pengumpulan data, berupa suatu daftar pertanyaan atau butir-butir soal. Tes yang digunakan untuk mengumpulkan data berupa tes objektif yang disusun oleh peneliti berdasarkan rancangan pembelajaran dan kisi-kisi tes. Tes yang berisi perolehan hasil belajar kimia tersebut digunakan untuk mengambil data prestasi belajar kognitif materi pokok kelarutan dan hasil kali kelarutan. Perangkat tes yaitu tes objektif dengan 5 alternatif jawaban. Jawaban yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0.
a. Uji Validitas Isi
Dalam penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi. Validitas isi adalah sebuah validitas instrumen yang menunjukkan bahwa isi instrumen yang disusun benar-benar dibuat berdasarkan literatur yang ada dan mewakili setiap indikator yang diukur. Untuk mendapatkan validitas isi,
Dalam penelitian ini, validitas yang diuji adalah validitas isi. Validitas isi adalah sebuah validitas instrumen yang menunjukkan bahwa isi instrumen yang disusun benar-benar dibuat berdasarkan literatur yang ada dan mewakili setiap indikator yang diukur. Untuk mendapatkan validitas isi,