BAB II. MATERI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KURSUS
C. Pengolahan Materi Pendidikan Iman Anak (PIA) Dalam KPP
3. Materi-materi PIA Yang Perlu Diolah Dalam KPP
Calon suami-istri sebagai orang tua dipanggil untuk menjalankan perannya seturut Allah. Peran orang tua ini merupakan pengembangan dinamis dan eksistensial jati dirinya. Untuk menepati jati dirinya orang tua mengemban misi menjaga, mengungkapkan serta menyalurkan cinta kasih. Cinta kasih itu merupakan pantulan hidup serta partisipasi nyata dalam kasih Allah kepada manusia (FC art 17). Partisipasi nyata yang dapat orang tua lakukan sebagai suatu persekutuan kehidupan dan cinta kasih dengan menjalankan kewajiban yang dipercayakan Allah kepada keluarga, menjalankan kewajiban dan perannya kepada masyarakat dan Gereja.
Calon suami-istri perlu mengetahui peran mereka sebagai orang tua dalam pendidikan iman anak yaitu dapat dilakukan dengan mendidik dan membesarkan anak, memberi teladan yang baik, memberi contoh sikap iman yang baik, melatih anak untuk melakukan suatu pekerjaan tertentu. Tugas perutusan pada masyarakat, menjadi panutan yang baik bagi masyarakat, dan lain sebagainya.
Tugas perutusan kepada Gereja dapat dilaksanakan dengan mengikuti kegiatan dan organisasi Gereja, misalnya, menjadi pewarta, menjaga kelangsungan hidup
Gereja, dan lain sebagainya. Dengan melaksanakan tugas pengutusan itu, orang tua diharapkan dapat memberikan kesaksian imannya kepada sesama dan terutama kepada anggota keluarganya.
1) Tugas dan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan iman anak
Orang tua mempunyai tugas yang mulia untuk mendidik dan mendampingi perkembangan iman anak. Orang tua sebagai pendamping merupakan sarana untuk menolong anak dalam menghayati imannya akan Yesus Kristus. Orang tua merupakan wakil Tuhan di dunia untuk mendidik dan mengarahkan perkembangan iman anak-anaknya, sehingga hidup iman anak tidak menyimpang dari jalan yang benar. “didiklah orang muda jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun tidak akan menyimpang”, (Amsal 22:6). Di samping ajaran, anak-anak perlu juga diberi nasehat, sebab Santo Paulus sendiri mengingatkan bahwa anak-anak harus dibawa pada Tuhan lewat ajaran dan nasehat, “Dan kamu.
Bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarahmu di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah di dalam ajaran dan nasehat Tuhan” (Ef 6:4). Itulah tugas yang harus dilaksanakan oleh orang tua, sebab Allah sendiri akan menghukum orang tua yang tidak mau mendidik anak-anaknya. “sebab telah ku beritahukan kepadanya, bahwa aku akan menghukum keluarganya untuk selamanya karena dosa yang telah diketahuinya, yakni anak-anaknya telah menghujat Allah, tetapi tidak memarahi mereka” (1 Sam 3:13).
Di dalam Gravissium Educationis artikel 1 dijelaskan bahwa: pendidikan yang dilakukan orang tua hendaknya mengarah pada pembinaan pribadi manusia
yang utuh dan mengarah untuk kepentingan masyarakat. Untuk menjadi manusia yang berpribadian utuh, anak harus dibantu dalam mengembangkan bakat fisik, moral dan intelektual secara harmonis. Dalam rangka pendidikan iman ini Konsili Vatikan II menegaskan bahwa, anak-anak supaya dididik dan didorong agar mempertimbangkan nilai-nilai moral dengan hati nurani yang tepat, dan mengikuti dengan keyakinan pribadi untuk mengenal dan mencintai Allah dengan lebih sempurna.
Mendidik iman anak adalah hal yang sangat mendasar dan bersifat hakiki.
Pendidikan ini harus dilakukan sendiri oleh orang tua dan tidak dapat diambil alih oleh orang atau pihak lain. Keberadaan orang tua tidak tergantikan. Hak maupun kewajiban orang tua untuk mendidik bersifat hakiki, karena berkaitan dengan penyaluran hidup manusiawi. Selain itu bersifat asali dan utama terhadap peran serta orang-orang lain dalam pendidikan, karena keistimewaan hubungan cinta kasih antara orang tua dan anak-anak. Tugas mendidik ini tidak tergantikan dan dapat diambil alih, dengan demikian tidak dapat diserahkan sepenuhnya kepada orang-orang lain atau direbut oleh mereka (FC art 36). Inilah dasar tanggung jawab orang tua terhadap pendidikan iman anak-anaknya.
Tugas dan kewajiban orang tua dalam mendidik iman anak terutama dalam pendidikan iman anak ditegaskan juga dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK) pada kanon 226, 793, 1136. Kanon-kanon tersebut menjelaskan bahwa orang tua berperan dalam pendidikan iman anak. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua lebih menitik beratkan pada pendidikan kristiani yakni pendidikan secara utuh baik dari segi fisik, sosial, cultural maupun religiusnya berdasarkan pada iman
kristiani. Tugas orang tua adalah sebagai pedamping perkembangan iman anak-anaknya, di mana pendampingan yang dilakukan oleh orang tua tersebut merupakan tugas dan kewajiban yang sangat luhur.
2) Orang Tua sebagai Pendidik
Anak-anak pertama-tama dididik oleh orang tua maka disinilah orang tua sebagai pengajarnya, ia harus memahami pelajaran yang hendaknya menuntun anak semur hidupnya yakni: pelajaran mengenai sikap penghargaan, penghormatan, pengendalian diri, sikap kebenaran dan kejujuran. Pendidikan dalam keluarga merupakan tempat yang utama dalam segala pendidikan. Dalam melaksankan tugasnya sebagai pendidik, khususnya pendidikan iman, orang tua perlu menyampaikan berapa nilai dasar kristiani sebagai usaha pendidikan agama dalam rangka pengembangan iman anak-anaknya di dalam keluarga. “Keluarga merupakan sekolah Allah, dimana anak belajar mengenal Kristus, belajar mencintai orang lain lewat teladan dan hidup orang tuanya” (Bernadet, 1981: 9).
Usaha pengembangan iman bagi anaknya merupakan hal yang sangat penting dan perlu dilaksanakan oleh orang tua di dalam keluarga. Untuk mencapai hal itu, maka keluarga perlu berusaha menciptakan situasi yang memungkinkan iman dapat tumbuh dan berkembang secara lebih nyata. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan cara: mengatur kerapihan rumah dan menghidarkan gambar-gambar porno, menepatkan doa dalam kehidupan keluarga, menyediakan dan mengatur sarana-sarana seperti: gambar-gambar yang menyangkut iman, salib, ruang doa (kapel mini), dan lain sebagainya (Bernadet, 1981:10). Selain itu, orang
tua perlu menanamkan sikap-sikap dan dasar-dasar nilai Kristiani pada anak agar nilai-nilai tersebut dapat tertanam sejak dini, seperti misalnya tidak lekat pada harta, menjunjung tinggi martabat dan sesama manusia.
3) Orang tua sebagai saksi iman
Orang tua tidak cukup hanya mengajar anak tentang Kristus, tetapi orang tua hendaknya pula memberikan kesaksian hidup yang baik terhadap anak-anaknya. Peran orang tua pertama-tama adalah menjadi saksi iman. Menjadi saksi iman berarti mengarahkan seluruh pribadinya dan dengan segala apa yang dikatakannya. Menjadi saksi iman berarti mengarahkan pada kenyataan hidup dan kepada kebenarannya (Cooke, Bernard, 1972: 6). Bila orang tua berbicara tentang Kristus, maka orang tua hendaknya berbicara tentang Kristus sebagai seorang yang sungguh ada, ini sangat penting bagi anak.
Dalam hidup orang tua yang memancarkan cahaya kasih di dalam keluarganya, anak lambat laun akan melihat itu sebagai kenyataan bahwa Kristus ada di sini, Allah Bapa ada di sini, Roh Kudus ada disini, Gereja ada di sini dan cinta Allah kepadaku sungguh nyata. Di rumah, anak harus diberikan pengajaran.
Memberi pengajaran kepada anak dalam iman tidak boleh hanya menguraikan ajaran-ajaran doktrin melainkan harus mengajar tentang pribadi-pribadi Kristus dan Bapa, sebab iman itu merupakan penerimaan terhadap dua pribadi itu. Anak harus diberi tahu tentang Kristus dulu, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana Kristus sekarang dan siapa Allah Bapa itu. Anak harus diajari siapa pribadi-pribadi itu dan bahwa mereka mencintainya dan memperhatikannya. Tetapi
penjelasan tentang agama katolik sebagai satu keluarga dan tentang pribadi Kristus dan Allah Bapa harus selalu diberikan dalam doa. Doa mereka terasa sebagai sesuatu yang normal dan sewajarnya. Bila mereka diberitahukan Allah hadir, mereka harus terdorong untuk berbicara dengan Allah.
b. Upaya-upaya untuk mendidik iman anak dalam keluarga
Keluarga merupakan tempat persemaian, pertumbuhan dan perkembangan iman anak. Dari orang tua, anak mulai mendapat pendidikan iman yang pertama dan utama, dan mulai mengalami perhatian dan kasih sayang. Perhatian dan kasih sayang dari orang tua ini merupakan tanda yang nyata bagi anak yang dikasihi Allah.
Anak adalah milik Tuhan, diserahkan sepenuhnya kepada orang tua untuk mengasuh dan mendidik mereka. Orang tua dipanggil pada suatu tanggung jawab baru. Tanggung jawab ini harus diterima sebagai suatu anugrah dari Allah. Oleh karena itu, orang tua berupaya untuk menyampaikan iman kepada anak-anaknya, mendidik anak dengan kata dan teladan, membantu anak untuk memilih panggilan hidupnya, serta memelihara dan memupuk panggilan suci yang membuat diterima dalam diri anak melalui pendidikan yang diterima di dalam keluarga seperti:
1. Kebiasan mengajak anak untuk berdoa bersama
Anak merupakan peniru ulung. Sifat peniru inilah yang menjadi modal dasar bagi orang tua untuk menanamkan nilai-nilai iman pada diri anak. Sebelum anak dapat berpikir dan memahami hal-hal yang abstrak serta belum sanggup
membedakan hal-hal yang baik dan buruk dalam diri mereka, sebaiknya orang tua sudah membiasakan anak untuk selalu terlibat dalam kegiatan bersama seperti makan bersama, doa bersama, dan berkreasi bersama.
Karena dengan kebiasan tersebut yang diterima anak dalam keluarga sangat penting dalam pembentukan iman anak. Anak sudah banyak mengetahui dan belajar bagaimana harus berdoa dengan baik walaupun mereka belum terlalu mengikuti cara berdoa dengan baik dan lancar tetapi kalau dibiasakan untuk selau hadir dalam doa bersama dan terus menerus mengajarkan mereka secara pelan-pelan tentang tanda salib, doa Bapa Kami, dan doa salam Maria, serta dia singkat dan sederhana yang mudah dihafal dan dimengerti anak, lama kelamaan anak akan berdoa dengan lebih baik dan lancar.
Di sini orang tua tidak bisa memaksakan anak-anaknya dengan caranya sendiri, sebaiknya mengajak anak untuk berdoa melalui sikap dan keteladanan orang tua, sengan demikian anak akan melihat dan meniru apa yang diperbuat oleh orang tuanya seperti yang ditulus oleh Anne Maria Zenzucchi (1995 : 49).
2. Kebiasan mengajak anak untuk terlibat dalam kegiatan Gereja dan lingkungan
Pada umumnya orang tua merasa malas dan bosan mengajak anak-anak mereka hadir dalam perayaan misa dan ibadat lingkungan, karena selalu mengganggu suasana doa, akhirnya orang tua memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengajak anak lagi utnuk hadir dalam perayaan ekaristi dan ibadat
lingkungan, padahal anak yang masih kecil senang sekali untuk di ajak bermain dan senang dengan bangunan Gereja yang begitu megah.
Barang-barang kudus yang dilihatnya di dalam Gereja seperti patung, salib, lilin dan bunga bahkan manusia yang dilihatnya begitu banyak. Sifat keingintahuan anak sangat besar dan pasti anak akan banyak bertanya tentang apa saja yang dilihatnya. Oleh karena itu, orang tua janganlah pernah bosan dan malas mengajak anak ke Gereja dan menjelaskan satu persatu kepada anak akan arti bangunan Gereja, sikap dalam Gereja, makna perayaan ekaristi, dan bagaimana cara berdoa yang baik.
Apabila orang tua dengan sikap sabar menjelaskan satu persatu kepada anak dengan kata yang halus dan penuh kasih, maka dengan sendirinya anak akan mencoba dan melakukanya dengan baik sesuai dengan apa yang telah diajarkan kepada mereka. Sehingga suatu saat tiba waktunya untuk menerima komuni pertama atau dipilih mejadi anggota misdinar, dan mengikuti sekolah minggu anak tidak merasa kaget karena orang tua sudah menjelaskannya kepada mereka.
Demikian juga dengan keterlibatan dengan anak di lingkungan, apabila orang tua sudah mengajarkan hal-hal baik tentang Tuhan dan sesama, maka dengan sendirinya kebaikan yang diterima anak dalam keluarga akan dibagikan juga di lingkungan seperti sikap berdoa yang baik, sikap menghargai orang yang lebih tua, dan memberi sapaan kepada setiap orang yang dijumpainya
3. Kebiasan anak untuk membaca dan mendengarkan sabda Tuhan
Anak yang masih kecil sama sekali belum mengerti dan menangkap sabda Tuhan yang dibacakan orang tua dalam keluarga saat berdoa bersama, bahkan mereka pun mungkin belum bisa, tetapi terus menerus membiasakan anak untuk hadir bersama serta setia melatih anak-anak membaca Kitab Suci setiap hari sebelum mengadakan doa bersama tentunya akan membantu anak untuk lebih mengerti dan menangkapnya.
Apabila anak sudah bisa membaca dengan baik dan lancar, maka berilah mereka giliran untuk membaca sabda Tuhan secara bergantian setiap malam, dan memberi tugas kepada anak untuk mencari salah satu ayat Kitab Suci yang sangat cocok dengan kehidupan anak, kemudian disharingkan waktu doa bersama. Selain itu juga orang tua dapat menceritakan kisah dari Kitab Suci, kehidupan Santo-Santa kepada anak-anak sebelum mereka tidur malam, karena dengan cerita tersebut membantu anak untuk semakin ingat dan meneladani sikap hidup orang kudus dalam kehidupan sehari-hari
4. Mengusahakan suasana Kasih di Rumah
Orang tua sudah seharusnya menciptakan suasana di rumah yang penuh dengan kasih dan penghormatan kepada Tuhan dan sesama. Suasana yang penuh kasih dirumah dapat menumbuhkan pendidikan pribadi dan sosial yang menyeluruh bagi anak. kasih itu harus menjiwai semua prinsipnya, yang disertai juga dengan nilai-nilai kebaikan, pelayanan, tidak pilih kasih, kesetian dan pengorbanan. Dalam hal ini, komunikasi antara anak dan orang tua menjadi suatu
hal yang sangat penting, sebab tanpa komunikasi akan sangat sulit menciptakan suasana yang penuh kasih di dalam keluarga. Oleh karena itu, sangat diharapkan agar orang tua menjunjung tinggi rukun hidup dengan terus mengembangkan cinta kasih Allah secara nyata dalam kehidupannya (GS art 47).
BAB III
KATEKESE MODEL PENGALAMAN HIDUP
UNTUK MENGOLAH MATERI PENDIDIKAN IMAN ANAK DALAM KURSUS PERSIAPAN PERKAWINAN
A. Katekse Model Pengalaman Hidup
1. Pengertian Katekese Model Pengalaman Hidup
Dalam Catechesi Tradendae, katekese dipahami sebagai salah satu usaha Gereja untuk memperoleh murid-murid, untuk membantu umat mengimani Yesus Kristus Putra Allah dan supaya dengan beriman mereka beroleh kehidupan dalam nama-Nya (CT, art. 1). Gereja mempunyai kewajiban untuk membantu umat-Nya dalam mengembangkan iman mereka dengan ajaran-ajaran Kristen yang disesuaikan dengan umur, jenis pekerjaan dan lingkungan tempat tinggal mereka. Katekese diberikan secara bertahap hingga mereka dapat menghayati Yesus Kristus dalam hidup sehari-hari.
Katekese merupakan usaha Gereja menolong umat supaya semakin percaya kepada Yesus Kristus, sehingga semakin terlibat untuk pembangunan hidup jemaat sesuai dengan perintah Yesus. Dalam konteks Indonesia rumusan katekese sebagai usaha Gereja menolong umat dimaknai sebagai katekese umat.
Rumusan ini dihasilkan Pertemuan Kateketik antar Keuskupan se-Indonesia pertama (PKKI 1). Peserta PKKI 1 merumuskan gagasan suatu bentuk katekese yang melibatkan seluruh umat, yang akhirnya dikenal sebagai katekese umat,
oleh umat dan untuk umat dengan kata lain katekese yang mengumat (Yosef Lalu, 2005: 3).
Dalam PKKI II pengertian katekese umat dijernihkan:
Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman antara jemaah melalui kesaksian para peserta (penghayatan iman) antara anggota jemaat/kelompok. Melalui kesaksian para peserta saling membantu sedemikian rupa, sehingga iman masing-masing diteguhkan dan dihayati secara semakin sempurna (PKKI II, 1980).
Katekese umat diartikan sebagai komunikasi iman atau tukar pengalaman iman.
Tukar menukar pengalaman iman yang terlaksana dalam katekese umat dapat meneguhkan dan memperkaya umat dalam penghayatan hidup beriman sehari-hari.
Penghayatan iman dalam hidup sehari-hari sangatlah penting untuk dikomunikasikan dalam katekese umat (Huber, 1981: 10). Komunikasi iman merupakan usaha peserta untuk saling meneguhkan satu sama lain dalam dialog yang dilakukan oleh mereka. Komunikasi iman yang dimaksud ialah komunikasi diantara semua peserta yang hadir dalam katekese umat, baik peserta dengan pembimbing maupun antar peserta sehingga mereka dapat menemukan diri mereka sendiri dan menemukan kehendak Allah. Peserta diharapkan mensharingkan pengalaman iman bukan tentang rumusan iman.
Usaha untuk menggali pengalaman hidup peserta dan mengolahnya dalam terang Kitab Suci dan tradisi Kristiani dilakukan dengan bermacam-macam model. Salah satu model katekese umat adalah model pengalaman hidup.
Menurut Sumarno Ds (2009:11) katekese model pengalaman hidup adalah katekese yang bertitik tolak dari pengalaman hidup peserta Pengalaman hidup
masing-masing peserta disharingkan sehingga mereka pada akhirnya akan menemukan makna dari pengalaman-pengalaman mereka dalam terang sabda Allah.
Katekese model pengalaman hidup tidak berlawanan dengan pengertian katekese pada umumnya sebagai pengajaran. Katekese model pengalaman hidup juga merupakan pengajaran umat untuk lebih mendalami setiap pengalaman hidupnya sehari-hari dalam terang Kitab Suci. Dalam katekese model pengalaman hidup pengajaran secara khusus terjadi melalui penyampaian dan pengolahan Kitab Suci atau tradisi kristiani yang diberikan oleh pendamping.
2. Keunggulan Katekese Model Pengalaman Hidup untuk Mengolah Materi PIA dalam KPP
a. Pengalaman hidup peserta sebagai titik tolak
Menurut Catechesi Tradendae (CT art 27) jangan diperlawankan katekese yang bertolak dari kehidupan terhadap katekese yang bersifat tradisional, doktriner dan sistematis. Perwahyuan Allah tentang diri-Nya kepada manusia tidak terlepas dari kehidupan konkrit manusia dan menyinari seluruh hidup manusia. Dari pandangan ini CT sangat menekankan pentingnya pengalaman hidup tetapi sekaligus juga pentingnya ajaran iman.
Katekese model pengalaman hidup mempunyai keunggulan karena bertolak dari pengalaman shidup peserta sendiri akan perwahyuan Allah dalam kehidupan mereka. Proses katekese yang bertolak dari hidup peserta lebih mendorong peserta untuk aktif terlibat dalam katekese, karena mereka
masing-masing mempunyai pengalaman yang dapat disharingkan. Mereka berbicara tentang diri mereka sendiri sebagai orang beriman menanggapi perwahyuan Allah.
Dalam KPP katekese model pengalaman hidup akan memungkinkan proses pertemuan KPP yang lebih hidup. Calon suami-istri akan terbantu melihat pengalaman hidup mereka masing-masing maupun keluarga mereka tentang pendidikan iman anak, sehingga memahami peran dan tugas mereka sebagai pendidik iman anak.
Melalui katekese model pengalaman hidup, calon suami-istri semakin diteguhkan satu sama lain dalam mempersiapkan diri menjadi orang tua. Materi pendidikan iman anak dalam KPP tidak diolah secara informatif atau transfer pengetahuan tetapi melalui sharing yang mendalam antar peserta dengan pendamping dalam terang Kitab Suci. Dengan katekese model pengalaman hidup pada akhirnya calon suami-istri sebagai peserta katekese sejak awal proses katekese tergerak untuk mengolah memahami materi pendidikan iman anak dari kesadaran diri mereka sendiri bukan dari pendamping.
b. Katekese yang kontekstual
Katekese yang kontekstual adalah katekese yang sungguh masuk dan meresap ke dalam lingkungan dan kenyataan sosial umat (Heryatno, 2012: 132).
Katekese model pengalaman hidup mempunyai keunggulan untuk mengolah materi PIA dalam KPP karena relevan dengan hidup dan kenyataan calon suami-istri sebagai peserta katekese. Konteks hidup calon suami-suami-istri adalah kelurga
mereka masing-masing dengan seluruh dinamikanya termasuk pergulatan perlaksanaan pendidikan iman anak.
Katekese model pengalaman hidup yang bertolak dari konteks hidup calon suami-istri akan membantu mereka untuk menghayati tugas mereka sebagai pendidik iman anak. Dengan menggali pengalaman peserta sendiri dalam kehidupan sehari-hari baik lingkungan keluarga maupun kehidupan sosial, katekese membantu calon suami-istri dapat memaknai setiap peristiwa hidup mereka guna memperkembangkan iman mereka, sehingga dengan iman yang dewasa mereka mampu membekali diri akan tugas sebagai pendidik iman anak.
Dari pengertian ini, menjadi jelas bahwa katekese kontekstual tidak bisa dilepaskan dari situasi konkrit yang sedang terjadi dalam hidup peserta. Situasi tersebut memungkinkan terjadinya katekese yang hidup supaya peserta semakin menyadari iman mereka kepada Allah dan tanggung jawab peserta dalam mempersiapkan diri untuk membangun sebuah keluarga.
c. Peran Pendamping KPP sebagai Fasilitator dan Peserta sebagai Subyek yang Aktif
Pengolahan kursus perkawinan tidak hanya transfer materi kursus dari pendamping kepada peserta KPP tetapi harus menempatkan pendamping dan perserta sebagai subyek. KPP yang dilaksanakan dengan katekese model pengalaman hidup sangat menekankan kedudukan pendamping dan peserta sebagai subyek. Peran khusus pendamping dalam KPP dengan katekese model
pengalaman hidup adalah sebagai fasilitator. Komunikasi yang terjadi antara pendamping dan peserta, peserta dan peserta adalah komunikasi antar subyek.
Dialog antar subyek dalam katekese model pengalaman hidup yang dilaksanakan dalam KPP untuk mengolah materi PIA mendapatkan penekanan yang kuat. Selain antar subyek dialog juga terjadi dengan teks dan dengan keadaan setempat, maka katekese model pengalaman hidup merupakan pendekatan multi arah (Groome, 1997: 1).
Pendamping disebut sebagai subyek karena pendamping juga ikut terlibat untuk sharing pengalaman hidupnya. Melalui dialog calon pasangan suami-istri sebagai peserta kursus persiapan perkawinan dibantu menemukan pengalaman-pengalaman hidup mereka dan saling berbagi pengalaman-pengalaman. Pengalaman hidup yang disharingkan itu kemudian diolah dalam terang injil. Secara bertahap iman suami-istri semakin berkembang dan menjadi dewasa dan pada akhirnya pasangan suami-istri sampai pada pertobatan yang sempurna, yakni penyerahan diri secara total kepada Allah (CT. art. 20).
B. Unsur-unsur Katekese Model Pengalaman Hidup
Katekese model pengalaman hidup dalam prosesnya menekankan segi dialog/sharing, komunikasi iman dari peserta yang sederajat. Mereka bersaksi tentang iman mereka, ada unsur-unsur yang harus ada dalam proses katekese, hal
Katekese model pengalaman hidup dalam prosesnya menekankan segi dialog/sharing, komunikasi iman dari peserta yang sederajat. Mereka bersaksi tentang iman mereka, ada unsur-unsur yang harus ada dalam proses katekese, hal