• Tidak ada hasil yang ditemukan

MATERI DAN METODE

Dalam dokumen BAHAN KULIAH BIOKIMIA I (Halaman 52-56)

DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN PADA ITIK BALI ( THE EFFECT OF PURPLE SWEET POTATO (Ipomoea batatas) FERMENTED BY

MATERI DAN METODE

Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana selama lima bulan ( Agustus – Desember 2011).

Materi dan pelaksanaan penelitian

Umbi ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) diperoleh di desa Licin, Kecamatan Licin, Kabuoaten Banyuwangi. Aspergillus

niger yang digunakan dalam penelitian ini

diperoleh dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian(BPTP) Denpasar.

Itik jantan diperoleh dari Iwayan Pegeg (Gianyar, Bali) sebanyak 75 ekor. Petak – petak kandang sebanyak 15 unit berukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 70 cm, setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum terbuat dari belahan bambu.

Tabel 1. Komposisi ransum penelitian

Keterangan :

Perlakuan A : Ransum tanpa ubi jalar ungu Perlakuan B : Ransum mengandung 10% ubijalar ungu tanpa fermentasi, Perlakuan C : Ransum mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi.

Komposisi bahan(%) _____________________Perlakuan________________ A B C Jagung kuning Dedak padi Bungkil kelapa Kacang kedelai Tepung ikan Ubi jalar ungu Premix Garam (NaCl) 54,36 49,98 49,98 10,58 11,00 11,00 11,31 11,00 11,00 9,97 10,45 10,45 13,13 8,10 8,10 - 10,00* 10,00** 0,50 0,50 0,50 0,15 0,15 0,15

53 *Ubi jalar ungu tanpa fermentasi ** Ubi jalar ungu terfermentas

Tabel 2. Kandungan Zat Nutrisi Ransum Penelitian

Nutrien Perlakuan Standar :

Scott et al.(1969) A B C Energi met(Kkal/kg) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor tersedia (%) 2796,86 2835,53 2843,40 16,46 16,45 16,91 5,80 4,86 4,90 4,92 4,86 4,9 0,95 1 .01 1,01 0,43 0,45 0,45 2 800 15 – 17 4 – 7 3 – 6 0.80 0,50 Rancangan Percobaan

Pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan , yaitu ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A), ransum mengandung 10% ubi jalar ungu tanpa fermentasi (perlakuan B), dan ransum mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi (perlakuan C). Setiap perlakuan terdi atas lima ulangan dan setiap ulangan berisi lima ekor itik umur 3 minggu dengan berat yang homogen.

Peubah yang diamati meliputi kecernaan ransum (BK), kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, retensi protein, dan pertambahan bobot badan.

Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie, 1993).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kecernaan Ransum (Bahan Kering), Kecernaan Bahan Organik, Kecernaan Serat Kasar dan Kecernaan Protein

Kecernaan ransum pada itik yang diberikan perlakuan kontrol atau ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A) adalah 59,34% (Tabel 3). Pemberian ransum yang mengandung 10% ubi jalar ungu tanpa terfermentasi atau ubi jalar ungu terfermentasi ( perlakuan B atu C) dapat meningkatkan kecernaan ransum sebesar 16,64% dan 9,30% secara nyata (P < 0,05) dibandingkan dengan perlakuan A. Peningkatan kecernaan pada itik yang diberikan ransum mengandung 10% ubi jalar ungu atau 10% ubi jalar ungu terfermentasi, disebabkan pada ubi jalar ungu mengandung zat antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas (Qauliyah, 2006), sehingga zat nutrisi yang dicerna

54 akan lebih banyak dan kecernaannya akan meningkat. sedangkan pemberian ransum yang mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi, disamping mengandung zat antioksidan dan penggunaan Aspergillus

niger dapat menghasilkan enzim-enzim

pencernaan (Wainwrigh, 1992), sehingga semakin banyak ransum yang dapat dicerna,maka kecernaan ransum menjadi meningkat.

Tabel 3. Kecernaan ransum(Kec.BK), kecernaan bahan organik (Kec.BO), kecernaan serat kasar (Kec.SK ), kecernaan lemak ( Kec. fat), kecernaan protein (Kec. PK).

Perlakuan

Kecernaan (%)

Kec.BK Kec.BO Kec.SK Kec.Fat Kec. Pk A B C SEM 2) 59,34 c 62,04 c 59,43 c 54,60 c 72,89 c 1) 64,86 b 69,00 b 53,62 b 62,25 b 76,59 b 69,21 a 73,88 a 52,53 a 66,40 a 79,47 a 7,05 0,69 0,66 0,311 0,38 Keterangan :

1) Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama adalah berbeda nyata(P<0,05)

2) SEM : Standard Error of the treatment

Means

Kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, kecernaan lemak dan kecernaan

protein pada itik yang mendapatkan ransum kontrol (A) adalah 62,04%, 59,43%, 54,6%, dan 72,89%. Dengan meningkatnya kecernaan bahan kring ransum pada itik yang diberikan ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau ubi jalar ungu terfermentasi akan berpengaruh terhadap kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, kecernaan lemak dan protein. Hal ini disamping adanya zat antioksidan yang dapat menetralisir radikal bebas , serta adanya enzim-enzim yang dihasilkan oleh

Aspergillus niger, yaitu berupa enzim

selulase, glukoamilase, pektinliase, dan α – amilase ( Muchtadi et al. (1992), yang dapat mencerna polisakarida terutama pada serat kasar , yaitu selulosa menjadi senyawa gula sederhana, sehingga kecernaan serat kasar meningkat secara nyata. Adanya enzim proteolitik dapat membantu kecernaan protein menjadi asam-asam amino , dan adanya enzim lipolitik dapat mencerna lemak menjadi asam-asam lemak dan gliserol (Wainwright, 1992), sehingga kecernaan protein dan lemak menjadi

55 meningkat, sehingga akan berpengaruh terhadap kecernaan bahan organik yang lebih tinggi , jika dibandingkan dengan itik yang diberikan ransum kontrol.

Retensi Protein dan Pertambahan Bobot Badan

Retensi protein pada itik yang mendapatkan ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A) adalah 5,60 gr/hr (Tabel 4). Pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau ubi jalar terfermentasi dapat meningkatkan retensi protein sebesar 8,1% dan 9,82% (P<0,05) dibandingkan dengan pemberian perlakuan A.

Peningkatan retensi pada ransum yang mengandung pada pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau terfermentasi .Hal ini disebabkan adanya peningkatan kecernaan ransum (bahan kering) , kecernaan -bahan

Tabel 4. Retensi protein dan pertambahan bobot badan pada Itik yang diberi ransum ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) terfermentasi

Perlakuan

Variabel

Brt awal Brt akhir Pert.bobot Rtn Protein (gr/ekor) (gr/ekor) bdn (gr/ekor) (gr/e/hr)

A B C SEM 2) 306,4 a 1192,8c 886,80 c 5,60 c 5,60 c 1) 308,8a 1252,8 b 942,00 b 6,06 b 307,2 a 1292,8 a 969,20 a 7,85 a 0,78 6,99 7,05 0,151

Keterangan : 1) Nilai dengan huruf yangsama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata (P>0,05)

2) SEM : Standard Error of the Treatment

means.

bahan organik, kecernaan lemak dan kecernaan protein sehingga semakin banyak zat nutrisi yang dapat diserap dan menghasilkan bobot akhir serta pertambahan bobot badan yang lebih tinggi secara nyata (Tabel 4).dibandingkan dengan itik yang diberikan perlakuan kontrol. Wibowo dan Zabri (2008) menyatakan bahwa pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu yang mengandung Selenium (Se) yang berfungsi mencegah stres oksidatif, mendukung fungsi tiroid (yang menghasilkan hormon tiroksin untuk pertumbuhan dan perkembangan) berperan sebagai

56

immunocompetence (kekebalan tubuh),

menin gkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ayam broiler.

KESIMPULAN

Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu (Iipomoea

batatas) terfermentasi dapat meningkatkan

kecernaan bahan kering, kecernaan organik, kecernaan lemak, kecernaan protein, retensi protein dan pertambahan bobot badan.

Dalam dokumen BAHAN KULIAH BIOKIMIA I (Halaman 52-56)

Dokumen terkait