DAN PERTAMBAHAN BOBOT BADAN PADA ITIK BALI ( THE EFFECT OF PURPLE SWEET POTATO (Ipomoea batatas) FERMENTED BY
MATERI DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana selama lima bulan ( Agustus – Desember 2011).
Materi dan pelaksanaan penelitian
Umbi ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L) diperoleh di desa Licin, Kecamatan Licin, Kabuoaten Banyuwangi. Aspergillus
niger yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian(BPTP) Denpasar.
Itik jantan diperoleh dari Iwayan Pegeg (Gianyar, Bali) sebanyak 75 ekor. Petak – petak kandang sebanyak 15 unit berukuran panjang 80 cm, lebar 60 cm, dan tinggi 70 cm, setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan tempat minum terbuat dari belahan bambu.
Tabel 1. Komposisi ransum penelitian
Keterangan :
Perlakuan A : Ransum tanpa ubi jalar ungu Perlakuan B : Ransum mengandung 10% ubijalar ungu tanpa fermentasi, Perlakuan C : Ransum mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi.
Komposisi bahan(%) _____________________Perlakuan________________ A B C Jagung kuning Dedak padi Bungkil kelapa Kacang kedelai Tepung ikan Ubi jalar ungu Premix Garam (NaCl) 54,36 49,98 49,98 10,58 11,00 11,00 11,31 11,00 11,00 9,97 10,45 10,45 13,13 8,10 8,10 - 10,00* 10,00** 0,50 0,50 0,50 0,15 0,15 0,15
53 *Ubi jalar ungu tanpa fermentasi ** Ubi jalar ungu terfermentas
Tabel 2. Kandungan Zat Nutrisi Ransum Penelitian
Nutrien Perlakuan Standar :
Scott et al.(1969) A B C Energi met(Kkal/kg) Protein kasar (%) Lemak kasar (%) Serat kasar (%) Kalsium (%) Fosfor tersedia (%) 2796,86 2835,53 2843,40 16,46 16,45 16,91 5,80 4,86 4,90 4,92 4,86 4,9 0,95 1 .01 1,01 0,43 0,45 0,45 2 800 15 – 17 4 – 7 3 – 6 0.80 0,50 Rancangan Percobaan
Pada penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan , yaitu ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A), ransum mengandung 10% ubi jalar ungu tanpa fermentasi (perlakuan B), dan ransum mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi (perlakuan C). Setiap perlakuan terdi atas lima ulangan dan setiap ulangan berisi lima ekor itik umur 3 minggu dengan berat yang homogen.
Peubah yang diamati meliputi kecernaan ransum (BK), kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, retensi protein, dan pertambahan bobot badan.
Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan sidik ragam, dilanjutkan dengan uji Duncan (Steel dan Torrie, 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kecernaan Ransum (Bahan Kering), Kecernaan Bahan Organik, Kecernaan Serat Kasar dan Kecernaan Protein
Kecernaan ransum pada itik yang diberikan perlakuan kontrol atau ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A) adalah 59,34% (Tabel 3). Pemberian ransum yang mengandung 10% ubi jalar ungu tanpa terfermentasi atau ubi jalar ungu terfermentasi ( perlakuan B atu C) dapat meningkatkan kecernaan ransum sebesar 16,64% dan 9,30% secara nyata (P < 0,05) dibandingkan dengan perlakuan A. Peningkatan kecernaan pada itik yang diberikan ransum mengandung 10% ubi jalar ungu atau 10% ubi jalar ungu terfermentasi, disebabkan pada ubi jalar ungu mengandung zat antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas (Qauliyah, 2006), sehingga zat nutrisi yang dicerna
54 akan lebih banyak dan kecernaannya akan meningkat. sedangkan pemberian ransum yang mengandung 10% ubi jalar ungu terfermentasi, disamping mengandung zat antioksidan dan penggunaan Aspergillus
niger dapat menghasilkan enzim-enzim
pencernaan (Wainwrigh, 1992), sehingga semakin banyak ransum yang dapat dicerna,maka kecernaan ransum menjadi meningkat.
Tabel 3. Kecernaan ransum(Kec.BK), kecernaan bahan organik (Kec.BO), kecernaan serat kasar (Kec.SK ), kecernaan lemak ( Kec. fat), kecernaan protein (Kec. PK).
Perlakuan
Kecernaan (%)
Kec.BK Kec.BO Kec.SK Kec.Fat Kec. Pk A B C SEM 2) 59,34 c 62,04 c 59,43 c 54,60 c 72,89 c 1) 64,86 b 69,00 b 53,62 b 62,25 b 76,59 b 69,21 a 73,88 a 52,53 a 66,40 a 79,47 a 7,05 0,69 0,66 0,311 0,38 Keterangan :
1) Nilai dengan huruf yang berbeda pada kolom yang sama adalah berbeda nyata(P<0,05)
2) SEM : Standard Error of the treatment
Means
Kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, kecernaan lemak dan kecernaan
protein pada itik yang mendapatkan ransum kontrol (A) adalah 62,04%, 59,43%, 54,6%, dan 72,89%. Dengan meningkatnya kecernaan bahan kring ransum pada itik yang diberikan ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau ubi jalar ungu terfermentasi akan berpengaruh terhadap kecernaan bahan organik, kecernaan serat kasar, kecernaan lemak dan protein. Hal ini disamping adanya zat antioksidan yang dapat menetralisir radikal bebas , serta adanya enzim-enzim yang dihasilkan oleh
Aspergillus niger, yaitu berupa enzim
selulase, glukoamilase, pektinliase, dan α – amilase ( Muchtadi et al. (1992), yang dapat mencerna polisakarida terutama pada serat kasar , yaitu selulosa menjadi senyawa gula sederhana, sehingga kecernaan serat kasar meningkat secara nyata. Adanya enzim proteolitik dapat membantu kecernaan protein menjadi asam-asam amino , dan adanya enzim lipolitik dapat mencerna lemak menjadi asam-asam lemak dan gliserol (Wainwright, 1992), sehingga kecernaan protein dan lemak menjadi
55 meningkat, sehingga akan berpengaruh terhadap kecernaan bahan organik yang lebih tinggi , jika dibandingkan dengan itik yang diberikan ransum kontrol.
Retensi Protein dan Pertambahan Bobot Badan
Retensi protein pada itik yang mendapatkan ransum tanpa ubi jalar ungu (perlakuan A) adalah 5,60 gr/hr (Tabel 4). Pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau ubi jalar terfermentasi dapat meningkatkan retensi protein sebesar 8,1% dan 9,82% (P<0,05) dibandingkan dengan pemberian perlakuan A.
Peningkatan retensi pada ransum yang mengandung pada pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu tanpa fermentasi atau terfermentasi .Hal ini disebabkan adanya peningkatan kecernaan ransum (bahan kering) , kecernaan -bahan
Tabel 4. Retensi protein dan pertambahan bobot badan pada Itik yang diberi ransum ubi jalar ungu (Ipomoea batatas) terfermentasi
Perlakuan
Variabel
Brt awal Brt akhir Pert.bobot Rtn Protein (gr/ekor) (gr/ekor) bdn (gr/ekor) (gr/e/hr)
A B C SEM 2) 306,4 a 1192,8c 886,80 c 5,60 c 5,60 c 1) 308,8a 1252,8 b 942,00 b 6,06 b 307,2 a 1292,8 a 969,20 a 7,85 a 0,78 6,99 7,05 0,151
Keterangan : 1) Nilai dengan huruf yangsama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata (P>0,05)
2) SEM : Standard Error of the Treatment
means.
bahan organik, kecernaan lemak dan kecernaan protein sehingga semakin banyak zat nutrisi yang dapat diserap dan menghasilkan bobot akhir serta pertambahan bobot badan yang lebih tinggi secara nyata (Tabel 4).dibandingkan dengan itik yang diberikan perlakuan kontrol. Wibowo dan Zabri (2008) menyatakan bahwa pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu yang mengandung Selenium (Se) yang berfungsi mencegah stres oksidatif, mendukung fungsi tiroid (yang menghasilkan hormon tiroksin untuk pertumbuhan dan perkembangan) berperan sebagai
56
immunocompetence (kekebalan tubuh),
menin gkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit dan dapat meningkatkan pertambahan bobot badan ayam broiler.
KESIMPULAN
Dari hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa : pemberian ransum yang mengandung ubi jalar ungu (Iipomoea
batatas) terfermentasi dapat meningkatkan
kecernaan bahan kering, kecernaan organik, kecernaan lemak, kecernaan protein, retensi protein dan pertambahan bobot badan.