Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan yaitu mulai dari bulan Februari sampai dengan Mei 2010 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Laboratorium Terpadu dan Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Unggas Kandang C, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Kultur Aspergillus flavus
Bahan-bahan yang digunakan dalam penumbuhan jamur yaitu jagung, A.
flavus, PDA (Potato Dextrose Agar), alkohol 70%, dan aquadest. Sedangkan
peralatan yang digunakan adalah tabung reaksi, kawat ose, pembakar spirtus, timbangan, autoclave, plastik tahan panas kapasitas 5 kg, karet gelang, terpal, plastik penutup transparan, sarung tangan, dan masker.
Ternak
Ternak yang digunakan adalah ayam broiler strain Ross usia satu hari (DOC) yang dibeli dari PT Cibadak Indah Sari Farm sebanyak 240 ekor. Anak ayam dipelihara dari umur DOC (Day Old Chick) sampai umur 5 minggu.
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang sistem litter beralaskan sekam padi. Kandang diberi sekat bambu dengan ukuran 1,3 x 1,5 x 1 m sebanyak 24 petak. Setiap petak berisi 10 ekor ayam. Peralatan kandang dilengkapi dengan tempat pakan, tempat air minum, pemanas batu bara, hygrotermometer dan timbangan.
Pakan
Pakan yang digunakan tersusun atas jagung, bungkil kedelai, dedak, Corn
Gluten Meal (CGM), Meat Bone Meal (MBM), Crude Palm Oil (CPO), Dicalcium Phosphat (DCP), garam, premix, dan limestone. Formula pakan ayam broiler starter
dan finisher disajikan pada Tabel 5. Kandungan nutrisi pakan ayam broiler periode
Tabel 5. Formula Pakan Ayam Broiler Periode Starter dan Finisher
Bahan Makanan Komposisi Bahan (%)
Starter Finisher Jagung 47,95 51,64 Bungkil kedelai 25,00 19,26 Dedak 12,01 12,48 CGM 6,70 3,06 MBM 5,00 8,09 CPO 1,59 5,00 DCP 1,00 - Garam 0,27 0,22 Premix 0,25 0,25 Limestone 0,24 - Jumlah 100 100
Tabel 6. Kandungan Nutrien Pakan Periode Starter (As fed)
Kandungan nutrien Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5 Bahan Kering (%) 84,44 84,68 84,09 84,21 82,74 Abu (%) 6,11 6,50 6,61 6,45 6,47 Protein Kasar (%) 17,10 18,17 20,45 20,76 20,95 Serat Kasar (%) 3,49 3,78 4,82 5,04 4,93 Lemak Kasar (%) 2,17 2,44 2,31 2,57 2,53 Beta-N (%) 55,57 53,79 49,9 49,39 47,86 Ca (%) 1,28 1,17 1,3 1,19 1,04 P (%) 0,87 0,85 1,22 0,96 0,93
Gross Energy (kkal/kg) 3261 3354 3331 3372 3396
Keterangan: Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2010). R1= Ransum
basal mengandung 12 ppb aflatoksin; R2= Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin; R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin; R4= Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin; R5= Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin; dan R6= Ransum komersil.
Tabel 7. Kandungan Nutrien Pakan Periode Finisher (As fed)
Kandungan nutrien Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5 Bahan Kering (%) 89,37 84,95 85,10 84,07 84,25 Abu (%) 6,95 5,82 6,43 6,71 6,83 Protein Kasar (%) 18,35 17,03 16,41 17,45 17,16 Serat Kasar (%) 3,95 3,59 3,34 4,20 6,46 Lemak Kasar(%) 6,80 3,66 2,74 2,26 4,56 Beta-N (%) 53,32 54,85 56,18 53,45 49,24 Ca (%) 1,06 1,12 1,03 1,08 1,20 P (%) 0,93 0,88 0,98 1,00 1,05
Gross Energy (kkal/kg) 3423 3456 3380 3398 3431
Keterangan: Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2010). R1= Ransum basal mengandung 13 ppb aflatoksin; R2= Ransum basal mengandung 57 ppb aflatoksin; R3= Ransum basal mengandung 101 ppb aflatoksin; R4= Ransum basal mengandung 146 ppb aflatoksin; R5= Ransum basal mengandung 191 ppb aflatoksin; dan R6= Ransum komersil.
Vaksin dan Obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan yaitu Vitastress yang diberikan melalui air minum yang diberikan pada umur satu minggu pertama dan seminggu sekali setelah penimbangan. Jenis vaksin yang digunakan yaitu vaksin ND (Newcastle Disease) dan Vaksin IBD (Infectious Bursal Disease).
Vaksin ND diberikan pada umur 3 hari melalui tetes mata dan umur 21 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit Newcastle Disease. Pemberian vaksin IBD pada umur 10 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit Gumboro.
Metode
Perbanyakan dan Transfer Aspergillus flavus ke Jagung
Potato Dextrose Agar ditimbang sebanyak 1,1 gram dan dimasukkan ke
dalam erlemeyer kemudian ditambahkan aquades steril sebanyak 28 ml. Larutan agar dipanaskan diatas api sambil diaduk hingga homogen, kemudian diautoclave. Bahan selanjutnya diambil masing-masing 5 ml untuk dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditutup dengan kapas. Setelah itu media agar didinginkan dengan posisi tabung miring. Setelah media agar terbentuk, kultur A. flavus dioleskan pada bagian atas
media agar. Tabung yang telah berisi A. flavus ditutup kapas dan parafilm, kemudian dimasukkan ke dalam inkubator. Tabung yang berisi A. flavus didiamkan selama 1 minggu hingga muncul hifa-hifa kapang A. flavus yang ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman.
Kultur Aspergillus flavus dicampurkan dengan air dan dikelupas perlahan dari agar menggunakan kawat ose untuk memisahkan jamur dari media tanpa merusak media. Kultur A. flavus selanjutnya dicampurkan pada 5 kg jagung secara merata dan didiamkan selama 1 minggu pada suhu kamar. Setelah 1 minggu hifa-hifa jamur
Aspergillus flavus akan muncul yang ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman.
Jagung yang telah ditumbuhi kapang disebar ke dalam sisa 285 kg jagung yang telah diautoclave. Pencampuran dilakukan dengan menambahkan air terlebih dahulu pada jagung murni, baru kemudian dicampur dengan jagung yang sudah ditumbuhi jamur, lalu diaduk hingga homogen. Jagung didiamkan selama 5 minggu dengan ditutup plastik transparan. Selama 5 minggu inkubasi, dilakukan pengadukan 3 hari sekali dan selalu diberikan udara secara rutin. Tiap minggu diambil sampel untuk dianalisa jumlah aflatoksinnya. Pada hasil analisa minggu ke lima, kandungan aflatoksin pada jagung yaitu sebesar 369 ppb. Analisis kandungan aflatoksin menggunakan teknik kromatografi cair kinerja tinggi (High Pressure Liquid Chromatography-HPLC) yang dilakukan di laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Persiapan Kandang
Kandang dan peralatan kandang seperti tempat pakan dan tempat air minum dibersihkan dengan air bersih dan detergen. Kandang dipasang sekat dan dilakukan pengapuran pada dinding dan lantai kandang serta dicucihamakan terlebih dahulu dengan desinfektan. Setelah itu sekam mulai disebar dengan ketebalan sekitar 4-6 cm dan sekeliling kandang ditutup dengan plastik.
Persiapan dan Perlakuan Pakan
Pakan yang diberikan dibagi atas dua periode sesuai dengan masa pemeliharaannya, yaitu pakan untuk broiler masa awal (starter) dan pakan untuk broiler masa akhir (finisher). Pembuatan pakan disesuaikan dengan formula pakan yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan perlakuan. Jagung yang tercemar
aflatoksin dicampur dengan jagung komersil sesuai yang telah ditetapkan yaitu R2 (25% jagung tercemar aflatoksin), R3 (50% jagung tercemar aflatoksin), R4 (75% jagung tercemar aflatoksin) dan R5 (100% jagung tercemar aflatoksin), sedangkan R1 (tidak dicampur dengan jagung yang tercemar aflatoksin) merupakan pakan kontrol sehingga tidak perlu dicampur dengan jagung yang telah ditumbuhi jamur
Aspergillus flavus. R6 merupakan pakan komersial dengan kode CP511 dan CP512
yang didapat dari PT Charoen Pokhpand. Pencampuran dilakukan dari komposisi yang paling terkecil hingga homogen, setelah itu baru yang paling besar. Pencampuran ini dilakukan secara manual untuk bahan-bahan yang berjumlah sedikit seperti mineral, baru kemudian dicampur menggunakan mesin mixer hingga homogen. Pakan yang telah dicampur kemudian diproses berbentuk crumble. Perlakuan pakan penelitian didapat melalui hasil perhitungan. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
R1 : Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher)
R2 : Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher)
R3 : Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher)
R4 : Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher)
R5 : Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher)
R6 : Ransum komersil Penanganan Anak Ayam
Sebelum DOC datang, pemanas dinyalakan terlebih dahulu agar suhu dalam kandang mencapai ±30 oC. Lantai kandang yang beralaskan sekam dipasang kertas koran terlebih dahulu. DOC yang baru datang diambil 10 ekor secara acak untuk setiap kandang kemudian dilakukan penimbangan. DOC dimasukkan kedalam kandang (setiap kandang berisi 10 ekor) dan diberikan air gula sebagai sumber energi untuk memulihkan kondisi DOC akibat stres pengangkutan.
Pemeliharaan Ayam
Pemeliharaan ayam dilakukan selama lima minggu. Pada umur tujuh hari pertama diberikan pakan perlakuan yang ditempatkan pada tempat pakan berbentuk nampan yang diletakkan di atas sekam, hari selanjutnya pakan diletakkan pada tempat pakan yang digantung sejajar dengan punggung ayam. Pada umur tujuh hari masing-masing anak ayam dipasang wing band pada sayapnya. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Pakan yang diberikan dibagi atas dua periode sesuai dengan masa pemeliharaanya, yaitu pakan untuk broiler starter (0-3 minggu) dan pakan untuk broiler finisher (4-5 minggu). Pemberian air minum ditambahkan Vitastress dengan aturan pemakaian yaitu satu gram Vitastress untuk setiap liter air diberikan selama 7 sampai 10 hari dan sesudah vaksinasi serta penimbangan. Vitastress ini digunakan untuk mencegah stres akibat pindah kandang, iklim buruk, pergantian pakan, gangguan pertumbuhan dan saat pemulihan kesehatan selain sakit. Penimbangan ayam dan sisa pakan dilakukan setiap minggu. Jika terdapat ternak yang mati maka dilakukan penimbangan ayam yang mati maupun yang masih hidup, penimbangan pakan dan pengukuran air minum.
Vaksinasi
Vaksinasi ND dilakukan dua kali yaitu pada umur 3 hari melalui tetes mata dan pada umur 21 hari melalui air minum. Cara memberikan vaksinasi ND melalui tetes mata yaitu vaksin dilarutkan dalam pelarut kemudian satu persatu anak ayam dipegang dengan tangan kiri kemudian vaksin diteteskan pada salah satu mata dan dibiarkan sampai vaksin terserap semua, setelah itu anak ayam diturunkan. Anak ayam yang telah di vaksin diberikan vitastres melalui air minum. Vaksinasi ND melalui air minum diberikan pada ayam setelah dua jam pemuasaan. Vaksinasi IBD (Gumboro) dilakukan pada umur 10 hari melalui air minum.
Peubah yang Diamati
1. Konsumsi pakan (gram/ekor)
Jumlah konsumsi pakan selama penelitian diperoleh dari perhitungan selisih antara pakan yang diberikan dengan sisa, dibagi jumlah ayam yang ada dalam satu petak.
Pertambahan bobot badan dihitung dari selisih antara bobot akhir dengan bobot awal selama penelilitian.
3. Konversi pakan
Konversi pakan dihitung dari rasio jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan.
4. Mortalitas ternak (%)
Mortalitas ternak dihitung berdasarkan jumlah ayam yang mati selama penelitian dibagi jumlah ayam penelitian dikalikan 100 %.
Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Model statistika yang digunakan pada rancangan percobaan ini adalah :
Yij = µ + τi + εij Keterangan :
Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai rataan umum
τi = Pengaruh dari perlakuan ke-i
εij = Pengaruh galat perlakuan ke-i ulangan ke-j i = Perlakuan ke-i
j = Perlakuan ke-j
Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan sidik ragam ANOVA (Analysis of Variance) dan jika memberikan hasil yang berbeda nyata maka diuji Jarak Duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan (Steel dan Torrie, 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN