PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG AFLATOKSIN DENGAN
LEVEL BERBEDA
YULIANA KOMALASARI D24061522
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010
RINGKASAN
YULIANA KOMALASARI. D24061522. 2010. Performa Ayam Broiler yang Diberi Ransum Mengandung Aflatoksin dengan Level Berbeda. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr. Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.
Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pengembangan peternakan. Pakan ternak mudah rusak sehingga dapat menurunkan mutu pakan. Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pakan adalah infeksi kapang pada pakan maupun bahan penyusun pakan. Kapang yang banyak mencemari pakan dan bahan penyusun pakan diantaranya adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Kedua spesies kapang tersebut merupakan kapang yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder berupa aflatoksin. Aflatoksin dapat memberikan efek negatif pada pertumbuhan ternak, dan bila dikonsumsi dalam dosis tinggi aflatoksin pada pakan dapat menyebabkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh level aflatoksin dalam pakan terhadap performa ayam broiler.
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari sampai dengan Mei 2010, di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan dan Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Unggas Kandang C. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3 = Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil. Peubah yang diamati adalah konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan mortalitas ayam broiler.
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap konsumsi pakan ayam broiler pada periode starter, finisher dan selama lima minggu pemeliharaan. Level aflatoksin nyata (P<0,01) mempengaruhi pertambahan bobot badan ayam broiler pada periode starter, tetapi tidak berpengaruh nyata pada periode finisher dan selama lima minggu pemeliharaan. Pemberian aflatoksin pada pakan sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi konversi pakan selama periode starter dan lima minggu pemeliharaan, namun tidak nyata (P>0,01) mempengaruhi konversi pakan pada periode finisher. Pakan perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (P>0,01) terhadap mortalitas ayam broiler. Kesimpulan dari penelitian ini adalah keberadaan aflatoksin sebesar 191 ppb dalam pakan ayam broiler yang dipelihara selama lima minggu dapat meningkatkan angka konversi pakan tetapi tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan mortalitas ayam broiler.
ABSTRACT
Performance of Broiler Fed Various Level of Aflatoxin Y. Komalasari, R. Mutia and Nahrowi
Aflatoxins are toxical compound which have mutagenic, teratogenic, and carcinogenic effect. Aflatoxins are secondary metabolite of Aspergilus flavus and
Aspergillus paraciticus that highly found in corn. This toxical compounds emerge
because of bad storage and handling. The main purpose of this research was to investigate the effects of aflatoxins level in diet on broiler performance during five weeks experiment. This research used Completely Random Design with six treatments and four replications, each replication contain 10 chicks. The treatments were: R1 [diet containing 12 ppb aflatoxin (starter); 12 ppb aflatoxin (finisher) ], R2 [diet containing 53 ppb aflatoxin (starter); 57 ppb aflatoxin (finisher) ], R3 [diet containing 94 ppb aflatoxin (starter); 101 ppb aflatoxin (finisher) ], R4 [diet containing 136 ppb aflatoxin (starter); 146 ppb aflatoxin (finisher) ], R5 [diet containing 177 ppb aflatoxin (starter); 191 ppb aflatoxin (finisher) ], R6 [fed comersial feed]. The variables observed were feed consumption, body weight gain, feed conversion and mortality. The result of this experiment shows that the aflatoxin level in diet significantly (P<0.01) increased feed conversion, however it did not affect feed consumption and body weight gain. Feeding 191 ppb aflatoxins increased feed conversion about 12.08% as compared to control. The conclusion of this experiment are aflatoxins in diet ≥ 191 ppb increased feed conversion but did not affect feed consumption and body weight gain.
PERFORMA AYAM BROILER YANG DIBERI RANSUM MENGANDUNG AFLATOKSIN DENGAN
LEVEL BERBEDA
YULIANA KOMALASARI D24061522
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana peternakan pada
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010
Judul : Performa Ayam Broiler yang Diberi Ransum Mengandung Aflatoksin dengan Level Berbeda
Nama : Yuliana Komalasari NRP : D24061522
Menyetujui,
Pembimbing Utama, Pembimbing Anggota,
(Dr. Ir. Rita Mutia, M.Agr.) (Prof. Dr. Ir. Nahrowi, M.Sc.) NIP: 19630917 198803 2 001 NIP: 19620425 198603 1 002
Mengetahui: Ketua Departemen,
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr.) NIP: 19670506 199103 1 001
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 2 Juli 1988 di Gunung Kidul, Yogyakarta. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Suwardi dan Ibu Sumini.
Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1994 di Sekolah Dasar Negeri 1 Kramatwatu dan diselesaikan pada tahun 2000. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2000 dan diselesaikan pada tahun 2003 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 1 Serang. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Kramatwatu pada tahun 2003 dan diselesaikan pada tahun 2006.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2006 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2007. Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif dalam kegiatan Organisasi Mahasiswa Daerah Keluarga Mahasiswa Banten pada tahun 2007-2008. Penulis pernah mengikuti kegiatan magang di peternakan sapi potong PT Lembu Jantan Perkasa (LJP) Serang, pada tahun 2008.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, syukur yang tidak terkira penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat, karunia dan ridha-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana peternakan.
Skripsi ini berjudul “Performa Ayam Broiler yang Diberi Ransum Mengandung Aflatoksin dengan Level Berbeda”. Penelitian ini dilaksanakan Bogor, dari bulan Februari hingga Mei 2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh level aflatoksin dalam pakan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan mortalitas ayam broiler.
Penulis memahami bahwa dalam penulisan skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, besar harapan penulis atas sumbangan pemikiran dari berbagai kalangan untuk peningkatan kualitas skripsi ini.
Bogor, November 2010
DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ... i
ABSTRACT ... ii
LEMBAR PERNYATAAN ... iii
LEMBAR PENGESAHAN ... iv
RIWAYAT HIDUP ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix DAFTAR GAMBAR ... x DAFTAR LAMPIRAN ... xi PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan ... 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3 Aflatoksin ... 3 Ayam Broiler ... 7
Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler ... 8
Konsumsi Pakan ... 9
Pertumbuhan ... 10
Konversi Pakan ... 11
Mortalitas Ternak ... 11
MATERI DAN METODE ... 13
Waktu dan Tempat ... 13
Materi ... 13
Kultur Aspergillus flavus ... 13
Ternak ... 13
Kandang dan Peralatan ... 13
Pakan ... 13
Vaksin dan Obat-obatan ... 15
Metode ... 15
Perbanyakan dan Transfer Aspergillus flavus ke Jagung ... 15
Persiapan Kandang ... 16
Persiapan dan Perlakuan Pakan ... 16
Penanganan Anak Ayam ... 17
Pemeliharaan Ayam ... 18
Vaksinasi ... 18
Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20
Keadaan Umum Penelitian ... 20
Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Pakan ... 20
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan ... 23
Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Pakan ... 26
Pengaruh Perlakuan terhadap Mortalitas Ternak ... 28
KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
Kesimpulan ... 30
Saran ... 30
UCAPAN TERIMAKASIH ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 32
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Pengaruh Pemberian Berbagai Level Aflatoksin terhadap Performa
Ayam Broiler ... 6
2. Standar Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan, dan Konversi Pakan Ayam Broiler Strain Ross Umur 1-5 Minggu ... 8
3. Kebutuhan Nutrisi untuk Ayam Broiler Periode Starter dan Finisher ... 9
4. Pengaruh Pemberian Berbagai Level Aflatoksin terhadap Mortalitas Ayam Broiler ... 12
5. Formula Pakan Ayam Broiler Periode Starter dan Finisher ... 14
6. Kandungan Nutrien Pakan Periode Starter (As fed) ... 14
7. Kandungan Nutrien Pakan Periode Finisher (As fed) ... 15
8. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang selama Lima Minggu Pemeliharaan ... 20
9. Rataan Konsumsi Pakan selama Periode Starter (0-3 minggu), Finisher (4-5 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan (Kumulatif) ... 21
10. Rataan Pertambahan Bobot Badan selama Periode Starter (0-3 minggu), Finisher (4-5 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan (Kumulatif) ... 23
11. Rataan Konversi Pakan selama Periode Starter (0-3 Minggu), Finisher (4-6 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan (Kumulatif) ... 27
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Struktur Kimia Aflatoksin B1, B2, G1, dan G2 ... 3 2. Gambaran Jalur Poliketida yang merupakan Jalur Awal
Metabolisme untuk Sintesis Aflatoksin ... 4 3. Grafik Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu
Pemeliharaan ... 22 4. Ayam yang Menderita Aflatoksikosis berupa Ketidaksempurnaan
pada Tulang Kaki (Bengkok) ... 25 5. Grafik Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama Lima
Minggu Pemeliharaan ... 26 6. Grafik Konversi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Rataan Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Periode Starter (0-3
Minggu Pemeliharaan) ... 36 2. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 36 3. Rataan Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Periode Finisher
(4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 36 4. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 36 5. Uji Jarak Duncan Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 37 6. Rataan Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu
Pemeliharaan ... 37 7. Analisis Ragam Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Lima
Minggu Pemeliharaan ... 37 8. Uji Jarak Duncan Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Lima
Minggu Pemeliharaan ... 38 9. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama Periode
Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 38 10. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Periode Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 38 11. Uji Jarak Duncan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Periode Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 39 12. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama Periode
Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 39 13. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Periode Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 39 14. Uji Jarak Duncan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Periode Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 40 15. Rataan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama Lima
Minggu Pemeliharaan ... 40 16. Analisis Ragam Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Lima Minggu Pemeliharaan ... 40 17. Uji Jarak Duncan Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama
Lima Minggu Pemeliharaan ... 41 18. Rataan Konversi Pakan Ayam Broiler selama Periode Starter (0-3
19. Analisis Ragam Konversi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 41 20. Uji Jarak Duncan Konversi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Starter (0-3 Minggu Pemeliharaan) ... 42 21. Rataan Konversi Pakan Ayam Broiler selama Periode Finisher
(4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 42 22. Analisis Ragam Konversi Pakan Ayam Broiler selama Periode
Finisher (4-5 Minggu Pemeliharaan) ... 42 23. Rataan Konversi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu
Pemeliharaan ... 42 24. Analisis Ragam Konversi Pakan Ayam Broiler selama Lima
Minggu Pemeliharaan ... 43 25. Uji Jarak Duncan Konversi Pakan Ayam Broiler selama Lima
PENDAHULUAN Latar Belakang
Pakan merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pengembangan peternakan karena sebagian besar biaya yang dikeluarkan digunakan untuk membeli pakan. Selain itu, pakan merupakan kebutuhan pokok bagi ternak dalam menunjang pertumbuhan.
Sebagai komoditas pertanian, pakan ternak mudah rusak dan dapat membahayakan kesehatan ternak yang mengkonsumsinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi mutu pakan adalah infeksi kapang pada pakan maupun bahan penyusun pakan. Kapang yang banyak mencemari pakan dan bahan penyusun pakan diantaranya adalah Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Kedua spesies kapang tersebut merupakan kapang yang menghasilkan senyawa metabolit sekunder berupa mikotoksin. Kapang kemudian memproduksi senyawa beracun sehingga pakan maupun bahan pakan menjadi rusak dan bermutu rendah. Salah satu mikotoksin yang sangat dikenal yang dihasilkan oleh kedua spesies ini adalah aflatoksin.
Di Indonesia, aflatoksin merupakan mikotoksin utama yang banyak mengkontaminasi produk-produk pertanian seperti jagung dan kacang tanah, pakan dan bahan pakan ternak serta produk ternaknya (Bahri, 2001). Jagung merupakan bahan baku utama penyusun pakan dengan proporsi kurang lebih 50%. Oleh karena itu, penanganan pascapanen bahan pakan jagung yang kurang tepat akan mempercepat pertumbuhan kapang yang selanjutnya akan meningkatkan kadar aflatoksin pada pakan (Ahmad, 2009).
Aflatoksin dikenal sebagai salah satu penyebab terjadinya karsinoma hati bila dikonsumsi dalam jumlah rendah dan berlangsung dalam jangka waktu lama. Kontaminasi aflatoksin pada pakan dapat menurunkan bobot badan ayam broiler (Al-Shawabkeh et al., 2009). Masalah yang cukup berat akibat pencemaran aflatoksin pada pakan akan berlanjut dengan timbulnya gangguan keracunan bagi ternak (aflatoksikosis) serta dapat menyebabkan kematian bila dikonsumsi dalam dosis tinggi. Untuk mengetahui timbulnya berbagai gangguan yang diakibatkan oleh aflatoksin terutama pengaruhnya terhadap performa ayam broiler, maka kajian terhadap level aflatoksin dalam pakan menjadi sangat penting dilakukan.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh level aflatoksin dalam pakan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, konversi pakan dan mortalitas ayam broiler.
TINJAUAN PUSTAKA Aflatoksin
Sejak kejadian luar biasa berupa kematian kalkun di Inggris pada tahun 1961, aflatoksin kini telah dikenal sebagai racun. Aflatoksin merupakan senyawa toksik yang bersifat mutagenik, hepatotoksik dan karsinogenik. Aflatoksin diproduksi oleh kapang Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Kapang A. Flavus optimum menghasilkan aflatoksin pada kadar air bahan 15-30%, kondisi suhu 25-32°C dan kelembaban minimal 85% (Reddy dan Waliyar, 2000). Jenis aflatoksin terdiri atas aflatoksin B1, B2, G1, G2, M1 dan M2. Pemberian nama aflatoksin berdasarkan pada penampakan warna dari fluorosensinya pada lempeng kromatografi lapisan tipis dengan silika gel yang disinari dengan ultraviolet. Bila penampakan fluorosensinya berwarna biru maka diberikan akhiran B (blue) sedangkan bila hijau diberi akhiran G (green). Struktur kimia aflatoksin B1, B2, G1, dan G2 dapat dilihat pada Gambar 1. Selain itu dikenal juga aflatoksin M1, dan M2. Aflatoksin M pertama kali ditemukan pada susu sehingga diberi nama aflatoksin M (dari kata milk). Aflatoksin B1 merupakan aflatoksin yang paling berbahaya bila dibandingkan dengan yang lainnya, dengan urutan toksisitas AFB1>AFG1>AFB2>AFG2. Aflatoksin tidak mengalami kerusakan terhadap proses pemanasan karena sifatnya yang termotoleran hingga suhu mencapai 220 oC (Syarief et al., 2003).
Gambar 1. Struktur Kimia Aflatoksin B1, B2, G1, dan G2
Aflatoksin dapat dihasilkan di dalam banyak jenis substrat, antara lain beras, jagung, gandum serta biji-bijian lainnya terutama kacang-kacangan yang tersimpan dalam kondisi yang kurang memenuhi syarat (Syarief et al., 2003). Bahan-bahan kaya minyak seperti kacang tanah merupakan komoditi yang sangat disukai untuk menghasilkan toksin. Produksi aflatoksin dirangsang oleh lipida dan protein yang terkandung dalam substrat. Setelah pemecahan lipida oleh enzim lipase, asam-asam lemak dimetabolisasi menjadi asetil-koenzim A oleh β-oksidaasi. Selanjutnya, asetil koenzim A akan masuk kedalam sistem metabolisme melalui jalur poliketida (Deacon, 1997). Bagan Jalur poliketida terpapar dalam Gambar 2.
3 CH3CO.CoA + 3CO2 3 HOOC.CH2CO.CoA. + 3CO2 Asam Lemak
Asetil-Koenzim A Malonil –CoA
Asetil-CoA
3CO2 3CoA
O O O O || || || ||
Rantai Ketida CH3.C.CH2. C.CH2. C.CH2.C – Ikatan Protein
Pelingkaran
Gambar 2. Gambaran Jalur Poliketida yang merupakan Jalur Awal Metabolisme untuk Sintesis Aflatoksin
Sumber : Deacon (1997)
Tempat metabolisme utama aflatoksin adalah organ hati, namun ada juga yang dimetabolisme di dalam darah dan organ lain. Metabolisme aflatoksin terdiri atas tiga tahap, yaitu bioaktivasi, konjugasi dan dekonjugasi. Efek aflatoksin yang dihasilkan akan dikurangi oleh tubuh melalui pengeluaran cairan empedu, susu, telur dan urin (Ahmad, 2009).
Karboksilasi Kondensasi
Di Indonesia, aflatoksin merupakan mikotoksin utama yang banyak mengkontaminasi produk-produk pertanian seperti jagung dan kacang tanah, pakan dan bahan pakan ternak serta produk ternaknya (Bahri, 2001). Bahri et al. (1998 ) mendapati bahwa lebih dari 70% sampel jagung, kacang tanah, dedak, konsentrat, dan pakan ayam komersial yang diperoleh dari Lampung dan Jawa Timur mengandung aflatoksin B1. Hasil uji banding antar laboratorium dan hasil peneitian kerjasama dengan Pengujian Mutu Pakan Ternak (BPMPT), Direktorat Jenderal Peternakan (tahun 2003-2004) menunjukkan bahwa. sebanyak 14% pakan ayam dari 207 sampel yang berasal dari berbagai sumber mengandung aflatoksin melebihi standar mutu berdasarkan Standar Nasional Indonesia yaitu sebesar 50 ppb. Pakan ayam yang dikumpulkan dari berbagai daerah umumnya tercemar aflatoksin. Kadar aflatoksin pada pakan yang diperoleh dari berbagai sumber seperti pabrik pakan dan toko pakan yang tersebar di Indonesia berkisar antara 0,3-175,1 ppb dan kadar aflatoksin pada jagung sebagai bahan baku pakan yang diperoleh dari berbagai daerah berkisar antara 0,3-214 ppb (Rachmawati, 2005). Frekuensi cemaran aflatoksin pada pakan ayam komersil merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan pakan lainnya (Bahri, 2001). Selain terdapat dalam pakan dan bahan baku pakan, aflatoksin juga dapat menjadi residu pada produk ternak akibat ternak mengkonsumsi pakan yang terkontaminasi aflatoksin. Maryam (1996) mendapati adanya AFB1 dan AFM1 dengan kandungan berkisar antara 0,1-7,36 ppb pada daging ayam broiler dan 0,1-12,07 ppb pada hati ayam broiler yang koleksi dari beberapa daerah di Jawa Barat. Sapi perah yang pakannya tercemari aflatoksin menghasilkan susu yang mengandung residu AFM1 dengan kadar berkisar 0,04-0,17 ppb (Bahri et
al., 1994). Telur juga tidak luput dari cemaran aflatoksin. Maryam et al. (1994)
melaporkan bahwa hampir semua telur yang diperiksa positif mengandung aflatoksikol dan AFB1 dengan kisaran 0,1-2,36 ppb.
Kontaminasi aflatoksin pada pakan ternak dapat mempengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Aflatoksin dapat memberikan efek negatif pada pertumbuhan ternak (Bahri dan Maryam, 2004). Pemberian aflatoksin B1 dapat menyebabkan penurunan daya tetas, kelainan embrio berupa pendarahan, malabsorbsi kuning telur, kekerdilan, lemah dan cacat kaki ringan (Bahri et al., 2005). Aflatoksin dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan, kelesuan dan
kelemahan sayap. Selain itu, aflatoksin juga dapat mengakibatkan kegagalan vaksinasi, hewan lebih peka terhadap penyakit menular, daya tahan terhadap cekaman (stress) menurun dan pigmen pada karkas juga kurang. Pengaruh pemberian berbagai level aflatoksin terhadap performa ayam broiler disajikan pada Tabel 1.
Untuk menjaga agar kadar aflatoksin dalam pangan dan pakan tetap dalam batas-batas yang masih dapat ditolerir dan tidak membahayakan ternak dan manusia, beberapa negara termasuk Indonesia telah menetapkan batas maksimum kadar aflatoksin dalam pakan dan pangan. Menurut badan kesehatan dunia (WHO) batas maksimum mikotoksin dalam bahan pangan sebesar 30 ppb. Sedangkan menurut SNI 01-7385-2009 batas maksimum mikotoksin dalam bahan pangan sebesar 0,5 ppb. Jagung sebagai bahan baku pakan, maksimum mengandung aflatoksin sebanyak 50 ppb ditetapkan dalam SNI 01-4483-1998. Batas maksimum kandungan aflatoksin dalam pakan ayam broiler periode starter dan finisher ditetapkan sebesar 50 ppb yang tertuang dalam SNI 01-3930-1995 dan SNI 01-3931-1995. Batas toleransi aflatoksin untuk bahan baku pakan non ruminansia berkisar antara 20 – 50 ppb dan antara 100 – 200 ppb untuk pakan konsentrat ruminansia (Suparto, 2004). Kanada dan USA menetapkan kadar maksimum aflatoksin total untuk semua ternak sebesar 20 ppb.
Tabel 1. Pengaruh Pemberian Berbagai Level Aflatoksin terhadap Performa Ayam Broiler Kadar Aflatoksin Lama Pemaparan (hari)
Pengaruhnya terhadap Performa Ternak
Sumber Konsumsi Pakan ↓ Bobot Badan ↓ PBB ↓ Konversi Pakan ↑ ---%--- 78 ppb 49 - 20,00 - 9,20 Afzal & Zahid (2004) 1 ppm 42 8,12 17,90 - 20,00 Safameher & Shivazad (2008) 3 ppm 35 33,3 30,19 - 1,52 Santurio et al. (1999) 4 ppm 21 22,61 - 25,16 3,13 Ledoux et al. (1998)
Keterangan : PBB = Pertambahan Bobot Badan
↓ = Mengalami penurunan
Aflatoksin dapat dideteksi melalui tiga tahapan penting yaitu ekstraksi, pemurnian (purifikasi) dan penentuan (determinasi). Kromatografi merupakan teknik yang paling sering digunakan untuk penyidikan aflatoksin. Teknik deteksi aflatoksin berdasarkan AOAC (1984) adalah menggunakan kromatografi lapisan tipis (Thin Layer Chromatography-TLC) dan kromatografi cair kinerja tinggi (High Pressure Liquid Chromatography-HPLC). Dalam perjalanan waktu, pelaksanaan penyidikan aflatoksin membutuhkan peningkatan sensitifitas, spesifisitas, kecermatan, ketepatan, stabilitas, kesederhanaan teknik dan penghematan biaya. Tuntutan-tuntutan tersebut memicu pengembangan teknik penyidikan. Penyidikan dengan teknik imunologik menjawab hampir semua tuntutan tersebut. Beberapa teknik imunologik yang digunakan adalah metode agar gel precipitation test (AGPT), radioimmunoassay (RIA), immunoaffinity coloumn assay (IACA) dan enzyme linked immunosorbent
assay (ELISA).
Ayam Broiler
Salah satu ternak yang potensial sebagai penghasil daging adalah ayam broiler. Ayam broiler merupakan ayam muda yang dapat dipasarkan untuk dikonsumsi masyarakat pada umur 5 sampai 7 minggu baik dalam bentuk utuh, potongan dalam beberapa bagian maupun produk-produk yang telah diolah (Pond et
al., 1995). Karakteristik dari ayam broiler adalah pertumbuhan yang cepat, banyak
penimbunan daging pada dada dan otot-otot daging, di samping itu relatif lebih rendah aktivitasnya jika dibandingkan dengan ayam petelur (Pond et al., 1995). Amrullah (2004) menyatakan bahwa pertumbuhan yang cepat dari ayam harus diimbangi dengan ketersediaan nutrisi dalam pakan yang cukup dan keadaan lingkungan yang meliputi temperatur lingkungan dan pemeliharaan. Temperatur lingkungan yang dibutuhkan ayam broiler untuk dapat tumbuh optimal yaitu berkisar antara 18-21°C (Rasyaf, 1999).
Di Indonesia, biasanya ayam broiler dipanen setelah umurnya mencapai 6-7 minggu dengan bobot badan sekitar kurang dari 1,7 kg. Standar konsumsi pakan, pertambahan bobot badan, dan konversi pakan ayam broiler strain Ross umur 1-5 minggu disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Standar Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan, dan Konversi Pakan Ayam Broiler Strain Ross Umur 1-5 Minggu
Umur (minggu) Konsumsi pakan (g/ekor) Pertambahan Bobot badan (g/ekor) Konversi pakan 1 161 140 0,89 2 523 413 1,15 3 1,149 832 1,32 4 2,065 1,370 1,46 5 3,248 1,939 1,61 Sumber : Aviagen (2007)
Kebutuhan Nutrisi Ayam Broiler
Kebutuhan nutrisi setiap unggas berbeda-beda tergantung dari macam unggas, umur, lingkungan dan tingkat produksi (Rasyaf, 1992). Nilai energi yang diinginkan dalam nutrisi unggas adalah energi metabolisme karena pengukuran energi ini tersedia untuk semua tujuan termasuk hidup pokok, pertumbuhan, penggemukan dan produksi telur (Wahju, 2004). Energi yang tersimpan dalam tubuh adalah energi metabolisme yang diperhitungkan 70-90% dari energi bruto, tergantung dari berbagai faktor (Anggorodi, 1995). Pada masa awal pertumbuhan, semua jenis unggas membutuhkan tingkat protein yang tinggi dalam pakan untuk menunjang pertumbuhannya yang cepat (Rasyaf, 1992).
Pakan ayam broiler harus mengandung energi yang cukup untuk membantu reaksi-reaksi metabolik, menyokong pertumbuhan, dan mempertahankan suhu tubuh (Wahju, 2004). Kebutuhan nutisi ayam broiler periode starter dan finisher yang dirujuk dari Leeson dan Summers (2005) dapat dilihat pada Tabel 3. Menurut NRC (1994), kebutuhan energi metabolis ayam broiler umur 1-3 minggu sebesar 3200 kkal/kg dan kebutuhan protein kasar 23%, sedangkan energi metabolis untuk ayam umur 4-6 minggu sebesar 3200 kkal/kg dengan kandungan protein kasar sebesar 20%.
Tabel 3. Kebutuhan Nutrisi untuk Ayam Broiler Periode Starter dan Finisher
Komponen Starter Finisher
Protein Kasar (%) 22,00 18,00
Energi Metabolis (kkal/kg) 3050 3150
Kalsium (%) 0,95 0,89 Phosphor (%) 0,45 0,38 Histidin (%) 0,40 0,28 Treonin (%) 0,72 0,55 Arginin (%) 1,40 1,10 Methionin (%) 0,50 0,38 Phenilalanin (%) 0,75 0,60 Valin (%) 0,85 0,56 Isoleusin (%) 0,75 0,55 Leusin (%) 1,40 0,90 Lysin (%) 1,30 1,00
Sumber : Leeson dan Summers (2005)
Konsumsi Pakan
Konsumsi adalah jumlah makanan yang dikonsumsi oleh hewan bila diberikan ad libitum (Parakkasi, 1999). Menurut Wahju (2004) konsumsi pakan merupakan jumlah pakan yang dimakan dalam waktu tertentu yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ternak akan mencapai penampilan produksi yang optimum sesuai dengan genetiknya bila mendapatkan zat makanan yang cukup sesuai dengan kebutuhannya. Tingginya energi dalam pakan menentukan banyaknya pakan yang dikonsumsi. Ayam cenderung meningkatkan konsumsinya jika kandungan energi pakan rendah dan sebaliknya konsumsi akan menurun jika kandungan energi pakan meningkat. Pakan yang tinggi kandungan energinya harus diimbangi dengan protein, vitamin dan mineral yang cukup agar ternak tidak mengalami defisiensi nutrien.
Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain besar tubuh ayam, aktivitas sehari-hari, suhu lingkungan, kualitas dan kuantitas pakan (NRC, 1994).
Leeson dan Summers (2001) menambahkan faktor bentuk pakan, kandungan energi pakan, kesehatan, lingkungan, zat-zat nutrisi, kecepatan pertumbuhan dan stres sebagai faktor yang juga mempengaruhi konsumsi pakan. Selain itu, temperatur lingkungan yang panas disertai kelembaban yang tinggi juga dapat menyebabkan penurunan konsumsi pakan. Konsumsi pakan ayam broiler strain Ross selama lima minggu adalah 3.248 gram/ekor (Aviagen, 2007).
Pertumbuhan
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu peubah yang digunakan untuk mengukur laju pertumbuhan. Pertumbuhan merupakan perbanyakan dan perbesaran sel. Pertumbuhan tersebut meliputi peningkatan lemak tubuh total di jaringan lemak, peningkatan skeleton, berat otot, ukuran bulu, kulit dan organ dalam (Rose, 1997). Pertumbuhan ternak dapat diidentifikasi dengan adanya peningkatan ukuran dan berat. Pertumbuhan dan perkembangan dapat diukur dari bobot bagian-bagian tubuh, jaringan dan organ (Mc Donald et al., 2002). Pertumbuhan ayam pedaging sangat cepat dan pertumbuhan dimulai sejak menetas sampai umur delapan minggu dan setelah itu kecepatan pertumbuhan akan menurun (Bell dan Weaver, 2002).
Wahju (2004) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah bangsa, tipe ayam, jenis kelamin, energi metabolis, kandungan protein dan suhu lingkungan. Pertumbuhan erat kaitannya dengan konsumsi pakan. Amrullah (2004) menjelaskan bahwa temperatur yang tinggi dapat mengakibatkan ayam dalam kondisi stres, yang lebih jauh berakibat pada menurunnya pertumbuhan karena konsumsi pakan menurun. Pertambahan bobot badan ayam broiler selama lima minggu yaitu sebesar 1.939 gram/ekor (Aviagen, 2007). Widiastuti (2000) menjelaskan bahwa terjadi penurunan bobot badan ternak, baik pada unggas maupun ruminansia akibat pencemaran aflatoksin pada pakan yang dikonsumsinya. Rachmawati (2005) menjelaskan bahwa pemberian 300 ppb AFB1 (0,3 mg/kg BB) pada DOC boiler selama 35 hari mengakibatkan penurunan konsumsi pakan dan bobot badan dari 1049 gram (kontrol) menjadi 640 (ayam perlakuan AFB1).
Konversi Pakan
Konversi pakan adalah suatu ukuran penting dari efisiensi pakan. Lacy dan Vest (2000) menyatakan bahwa konversi pakan merupakan rasio antara konsumsi pakan dengan pertambahan bobot badan yang diperoleh selama kurun waktu tertentu yang berguna untuk mengukur produktivitas ternak. Sedangkan menurut NRC (1994), konversi pakan merupakan hubungan antara jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu satuan bobot badan atau produksi telur. Semakin tinggi konversi pakan menunjukkan semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk meningkatkan bobot badan per satuan bobot. Dijelaskan pula bahwa semakin rendah angka konversi pakan berarti kualitas pakan semakin baik. Perkiraan terbaik untuk mengetahui mutu pakan adalah dengan melihat efisiensi penggunaan pakan atau angka konversinya. Ayam broiler strain Ross umur 5 minggu yang memiliki bobot badan rata-rata 1.939 gram dan mengkonsumsi pakan sebanyak 3.248 gram akan mendapatkan angka konversi pakan sebesar 1,61 (Aviagen, 2007).
Menurut Lacy dan Vest (2000) faktor utama yang mempengaruhi konversi pakan adalah genetik, temperatur, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis pakan, penggunaan zat aditif, kualitas air, pengafkiran, penyakit dan pengobatannya, manajemen pemeliharaan, selain itu faktor pemberian pakan, dan penerangan mempengruhi konversi pakan. Sedangkan menurut North dan Bell (1990) konversi pakan dipengaruhi oleh tipe litter, panjang dan intensitas cahaya, luas lantai per ekor, gas amonia di kandang, penyakit dan bangsa ayam. Pada umumnya aflatoksin pada anak ayam dapat menyebabkan pertumbuhan menurun dan konversi pakan menjadi tidak efisien.
Mortalitas Ternak
Mortalitas atau angka kematian yaitu angka yang menunjukkan jumlah ayam yang mati selama pemeliharaan. Rasyaf (1999) menyatakan angka mortalitas merupakan perbandingan antara jumlah seluruh ternak yang mati dengan jumlah total ternak yang dipelihara. Mortalitas akan menentukan keberhasilan suatu usaha peternakan karena angka mortalitas yang tinggi akan menyebabkan kerugian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas antara lain berat badan, bangsa, tipe ayam, iklim, kebersihan, lingkungan, sanitasi peralatan, kandang dan penyakit (North dan Bell, 1990). Selanjutnya dinyatakan juga bahwa pemeliharaan ayam
broiler diketahui berhasil jika angka kematian keseluruhan kurang dari 5 %. Menurut Lacy dan Vest (2000) mortalitas yang normal pada ayam roiler sekitar 4%. Pengaruh pemberian berbagai level aflatoksin terhadap mortalitas ayam broiler disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Pengaruh Pemberian Berbagai Level Aflatoksin terhadap Mortalitas Ayam Broiler Kadar Aflatoksin (ppb) Lama Pemaparan (hari) Mortalitas % Sumber 860 56 26 Shareef (2010) 1600 7 10 Hussain et al. (2008) 3200 7 20 Hussain et al. (2008) 6400 7 36,25 Hussain et al. (2008)
MATERI DAN METODE Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan selama empat bulan yaitu mulai dari bulan Februari sampai dengan Mei 2010 di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Laboratorium Terpadu dan Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Unggas Kandang C, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Materi Kultur Aspergillus flavus
Bahan-bahan yang digunakan dalam penumbuhan jamur yaitu jagung, A.
flavus, PDA (Potato Dextrose Agar), alkohol 70%, dan aquadest. Sedangkan
peralatan yang digunakan adalah tabung reaksi, kawat ose, pembakar spirtus, timbangan, autoclave, plastik tahan panas kapasitas 5 kg, karet gelang, terpal, plastik penutup transparan, sarung tangan, dan masker.
Ternak
Ternak yang digunakan adalah ayam broiler strain Ross usia satu hari (DOC) yang dibeli dari PT Cibadak Indah Sari Farm sebanyak 240 ekor. Anak ayam dipelihara dari umur DOC (Day Old Chick) sampai umur 5 minggu.
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang sistem litter beralaskan sekam padi. Kandang diberi sekat bambu dengan ukuran 1,3 x 1,5 x 1 m sebanyak 24 petak. Setiap petak berisi 10 ekor ayam. Peralatan kandang dilengkapi dengan tempat pakan, tempat air minum, pemanas batu bara, hygrotermometer dan timbangan.
Pakan
Pakan yang digunakan tersusun atas jagung, bungkil kedelai, dedak, Corn
Gluten Meal (CGM), Meat Bone Meal (MBM), Crude Palm Oil (CPO), Dicalcium Phosphat (DCP), garam, premix, dan limestone. Formula pakan ayam broiler starter
dan finisher disajikan pada Tabel 5. Kandungan nutrisi pakan ayam broiler periode
Tabel 5. Formula Pakan Ayam Broiler Periode Starter dan Finisher
Bahan Makanan Komposisi Bahan (%)
Starter Finisher Jagung 47,95 51,64 Bungkil kedelai 25,00 19,26 Dedak 12,01 12,48 CGM 6,70 3,06 MBM 5,00 8,09 CPO 1,59 5,00 DCP 1,00 - Garam 0,27 0,22 Premix 0,25 0,25 Limestone 0,24 - Jumlah 100 100
Tabel 6. Kandungan Nutrien Pakan Periode Starter (As fed)
Kandungan nutrien Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5 Bahan Kering (%) 84,44 84,68 84,09 84,21 82,74 Abu (%) 6,11 6,50 6,61 6,45 6,47 Protein Kasar (%) 17,10 18,17 20,45 20,76 20,95 Serat Kasar (%) 3,49 3,78 4,82 5,04 4,93 Lemak Kasar (%) 2,17 2,44 2,31 2,57 2,53 Beta-N (%) 55,57 53,79 49,9 49,39 47,86 Ca (%) 1,28 1,17 1,3 1,19 1,04 P (%) 0,87 0,85 1,22 0,96 0,93
Gross Energy (kkal/kg) 3261 3354 3331 3372 3396
Keterangan: Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2010). R1= Ransum
basal mengandung 12 ppb aflatoksin; R2= Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin; R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin; R4= Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin; R5= Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin; dan R6= Ransum komersil.
Tabel 7. Kandungan Nutrien Pakan Periode Finisher (As fed)
Kandungan nutrien Perlakuan
R1 R2 R3 R4 R5 Bahan Kering (%) 89,37 84,95 85,10 84,07 84,25 Abu (%) 6,95 5,82 6,43 6,71 6,83 Protein Kasar (%) 18,35 17,03 16,41 17,45 17,16 Serat Kasar (%) 3,95 3,59 3,34 4,20 6,46 Lemak Kasar(%) 6,80 3,66 2,74 2,26 4,56 Beta-N (%) 53,32 54,85 56,18 53,45 49,24 Ca (%) 1,06 1,12 1,03 1,08 1,20 P (%) 0,93 0,88 0,98 1,00 1,05
Gross Energy (kkal/kg) 3423 3456 3380 3398 3431
Keterangan: Hasil analisis Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor (2010). R1= Ransum basal mengandung 13 ppb aflatoksin; R2= Ransum basal mengandung 57 ppb aflatoksin; R3= Ransum basal mengandung 101 ppb aflatoksin; R4= Ransum basal mengandung 146 ppb aflatoksin; R5= Ransum basal mengandung 191 ppb aflatoksin; dan R6= Ransum komersil.
Vaksin dan Obat-obatan
Obat-obatan yang digunakan yaitu Vitastress yang diberikan melalui air minum yang diberikan pada umur satu minggu pertama dan seminggu sekali setelah penimbangan. Jenis vaksin yang digunakan yaitu vaksin ND (Newcastle Disease) dan Vaksin IBD (Infectious Bursal Disease).
Vaksin ND diberikan pada umur 3 hari melalui tetes mata dan umur 21 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit Newcastle Disease. Pemberian vaksin IBD pada umur 10 hari melalui air minum untuk mencegah penyakit Gumboro.
Metode
Perbanyakan dan Transfer Aspergillus flavus ke Jagung
Potato Dextrose Agar ditimbang sebanyak 1,1 gram dan dimasukkan ke
dalam erlemeyer kemudian ditambahkan aquades steril sebanyak 28 ml. Larutan agar dipanaskan diatas api sambil diaduk hingga homogen, kemudian diautoclave. Bahan selanjutnya diambil masing-masing 5 ml untuk dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditutup dengan kapas. Setelah itu media agar didinginkan dengan posisi tabung miring. Setelah media agar terbentuk, kultur A. flavus dioleskan pada bagian atas
media agar. Tabung yang telah berisi A. flavus ditutup kapas dan parafilm, kemudian dimasukkan ke dalam inkubator. Tabung yang berisi A. flavus didiamkan selama 1 minggu hingga muncul hifa-hifa kapang A. flavus yang ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman.
Kultur Aspergillus flavus dicampurkan dengan air dan dikelupas perlahan dari agar menggunakan kawat ose untuk memisahkan jamur dari media tanpa merusak media. Kultur A. flavus selanjutnya dicampurkan pada 5 kg jagung secara merata dan didiamkan selama 1 minggu pada suhu kamar. Setelah 1 minggu hifa-hifa jamur
Aspergillus flavus akan muncul yang ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman.
Jagung yang telah ditumbuhi kapang disebar ke dalam sisa 285 kg jagung yang telah diautoclave. Pencampuran dilakukan dengan menambahkan air terlebih dahulu pada jagung murni, baru kemudian dicampur dengan jagung yang sudah ditumbuhi jamur, lalu diaduk hingga homogen. Jagung didiamkan selama 5 minggu dengan ditutup plastik transparan. Selama 5 minggu inkubasi, dilakukan pengadukan 3 hari sekali dan selalu diberikan udara secara rutin. Tiap minggu diambil sampel untuk dianalisa jumlah aflatoksinnya. Pada hasil analisa minggu ke lima, kandungan aflatoksin pada jagung yaitu sebesar 369 ppb. Analisis kandungan aflatoksin menggunakan teknik kromatografi cair kinerja tinggi (High Pressure Liquid Chromatography-HPLC) yang dilakukan di laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Persiapan Kandang
Kandang dan peralatan kandang seperti tempat pakan dan tempat air minum dibersihkan dengan air bersih dan detergen. Kandang dipasang sekat dan dilakukan pengapuran pada dinding dan lantai kandang serta dicucihamakan terlebih dahulu dengan desinfektan. Setelah itu sekam mulai disebar dengan ketebalan sekitar 4-6 cm dan sekeliling kandang ditutup dengan plastik.
Persiapan dan Perlakuan Pakan
Pakan yang diberikan dibagi atas dua periode sesuai dengan masa pemeliharaannya, yaitu pakan untuk broiler masa awal (starter) dan pakan untuk broiler masa akhir (finisher). Pembuatan pakan disesuaikan dengan formula pakan yang telah ditentukan dan disesuaikan dengan perlakuan. Jagung yang tercemar
aflatoksin dicampur dengan jagung komersil sesuai yang telah ditetapkan yaitu R2 (25% jagung tercemar aflatoksin), R3 (50% jagung tercemar aflatoksin), R4 (75% jagung tercemar aflatoksin) dan R5 (100% jagung tercemar aflatoksin), sedangkan R1 (tidak dicampur dengan jagung yang tercemar aflatoksin) merupakan pakan kontrol sehingga tidak perlu dicampur dengan jagung yang telah ditumbuhi jamur
Aspergillus flavus. R6 merupakan pakan komersial dengan kode CP511 dan CP512
yang didapat dari PT Charoen Pokhpand. Pencampuran dilakukan dari komposisi yang paling terkecil hingga homogen, setelah itu baru yang paling besar. Pencampuran ini dilakukan secara manual untuk bahan-bahan yang berjumlah sedikit seperti mineral, baru kemudian dicampur menggunakan mesin mixer hingga homogen. Pakan yang telah dicampur kemudian diproses berbentuk crumble. Perlakuan pakan penelitian didapat melalui hasil perhitungan. Perlakuan yang digunakan pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
R1 : Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher)
R2 : Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher)
R3 : Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher)
R4 : Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher)
R5 : Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher)
R6 : Ransum komersil Penanganan Anak Ayam
Sebelum DOC datang, pemanas dinyalakan terlebih dahulu agar suhu dalam kandang mencapai ±30 oC. Lantai kandang yang beralaskan sekam dipasang kertas koran terlebih dahulu. DOC yang baru datang diambil 10 ekor secara acak untuk setiap kandang kemudian dilakukan penimbangan. DOC dimasukkan kedalam kandang (setiap kandang berisi 10 ekor) dan diberikan air gula sebagai sumber energi untuk memulihkan kondisi DOC akibat stres pengangkutan.
Pemeliharaan Ayam
Pemeliharaan ayam dilakukan selama lima minggu. Pada umur tujuh hari pertama diberikan pakan perlakuan yang ditempatkan pada tempat pakan berbentuk nampan yang diletakkan di atas sekam, hari selanjutnya pakan diletakkan pada tempat pakan yang digantung sejajar dengan punggung ayam. Pada umur tujuh hari masing-masing anak ayam dipasang wing band pada sayapnya. Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Pakan yang diberikan dibagi atas dua periode sesuai dengan masa pemeliharaanya, yaitu pakan untuk broiler starter (0-3 minggu) dan pakan untuk broiler finisher (4-5 minggu). Pemberian air minum ditambahkan Vitastress dengan aturan pemakaian yaitu satu gram Vitastress untuk setiap liter air diberikan selama 7 sampai 10 hari dan sesudah vaksinasi serta penimbangan. Vitastress ini digunakan untuk mencegah stres akibat pindah kandang, iklim buruk, pergantian pakan, gangguan pertumbuhan dan saat pemulihan kesehatan selain sakit. Penimbangan ayam dan sisa pakan dilakukan setiap minggu. Jika terdapat ternak yang mati maka dilakukan penimbangan ayam yang mati maupun yang masih hidup, penimbangan pakan dan pengukuran air minum.
Vaksinasi
Vaksinasi ND dilakukan dua kali yaitu pada umur 3 hari melalui tetes mata dan pada umur 21 hari melalui air minum. Cara memberikan vaksinasi ND melalui tetes mata yaitu vaksin dilarutkan dalam pelarut kemudian satu persatu anak ayam dipegang dengan tangan kiri kemudian vaksin diteteskan pada salah satu mata dan dibiarkan sampai vaksin terserap semua, setelah itu anak ayam diturunkan. Anak ayam yang telah di vaksin diberikan vitastres melalui air minum. Vaksinasi ND melalui air minum diberikan pada ayam setelah dua jam pemuasaan. Vaksinasi IBD (Gumboro) dilakukan pada umur 10 hari melalui air minum.
Peubah yang Diamati
1. Konsumsi pakan (gram/ekor)
Jumlah konsumsi pakan selama penelitian diperoleh dari perhitungan selisih antara pakan yang diberikan dengan sisa, dibagi jumlah ayam yang ada dalam satu petak.
Pertambahan bobot badan dihitung dari selisih antara bobot akhir dengan bobot awal selama penelilitian.
3. Konversi pakan
Konversi pakan dihitung dari rasio jumlah pakan yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan.
4. Mortalitas ternak (%)
Mortalitas ternak dihitung berdasarkan jumlah ayam yang mati selama penelitian dibagi jumlah ayam penelitian dikalikan 100 %.
Rancangan Percobaan dan Analisis Data
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 6 perlakuan dan 4 ulangan. Model statistika yang digunakan pada rancangan percobaan ini adalah :
Yij = µ + τi + εij Keterangan :
Yij = Nilai pengamatan pada perlakuan ke-i dan ulangan ke-j µ = Nilai rataan umum
τi = Pengaruh dari perlakuan ke-i
εij = Pengaruh galat perlakuan ke-i ulangan ke-j i = Perlakuan ke-i
j = Perlakuan ke-j
Data yang diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan menggunakan sidik ragam ANOVA (Analysis of Variance) dan jika memberikan hasil yang berbeda nyata maka diuji Jarak Duncan untuk melihat perbedaan antar perlakuan (Steel dan Torrie, 1993).
HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian
Rataan temperatur dan kelembaban udara lingkungan selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang selama Lima Minggu Pemeliharaan Pukul (WIB): 06.00 10.00 14.00 18.00 22.00 Minggu Suhu (⁰C) RH (%) Suhu (⁰C) RH (%) Suhu (⁰C) RH (%) Suhu (⁰C) RH (%) Suhu (⁰C) RH (%) 1 27,3 83,2 29,6 80,7 34,5 57,7 30,1 75,5 28,0 83,2 2 27,3 84,6 29,9 77,9 34,3 53,6 29,8 76,3 27,9 83,4 3 26,9 85,3 30,0 77,6 33,2 57,4 29,2 77,6 27,1 90,6 4 27,3 81,9 30,3 74,1 33,6 55,6 29,6 75,9 27,5 86,6 5 27,4 80,0 30,2 74,1 33,4 53,4 29,6 73,4 27,7 84,4 Rataan 27,2 83,0 30,0 76,9 33,8 55,5 29,7 75,7 27,6 85,6
Tabel 8 menunjukkan bahwa rataan suhu pada pagi hari (pukul 06.00) yaitu 27,2°C dan rataan suhu pada pukul 14.00 sebesar 33,8°C. Menurut Rasyaf (1999) temperatur lingkungan yang dibutuhkan ayam broiler untuk dapat tumbuh optimal yaitu berkisar antara 18-21°C. Amrullah (2004) menyatakan bahwa suhu lingkungan diatas 27°C ayam mulai menggunakan energi lebih banyak sebagai usaha agar tetap nyaman. Jika suhu lingkungan tinggi, ayam akan mengalami panting (meningkatkan frekuensi pernapasan).
Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Pakan
Rataan konsumsi pakan selama periode starter (0-3 minggu), finisher (4-5 minggu) dan kumulatif (0-5 minggu) disajikan pada Tabel 9. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pakan perlakuan ayam broiler periode starter (0-3 minggu) tidak nyata (P>0,01) mempengaruhi konsumsi pakan ayam broiler, sedangkan pada periode finisher (4-5 minggu) nyata (P<0,05) dan kumulatif (0-5 minggu) sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi konsumsi pakan. Konsumsi pakan ayam broiler periode finisher pada perlakuan R6 nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan konsumsi ayam yang mendapat perlakuan lainnya. Secara kumulatif konsumsi
Tabel 9. Rataan Konsumsi Pakan selama Periode Starter (0-3 Minggu), Finisher (4-5 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan (Kumulatif)
Perlakuan
Periode Pemeliharaan Broiler
Starter (0-3 minggu) Finisher (4-5 minggu) Kumulatif (0-5 minggu) ---(g/ekor)--- R1 1006,45 ± 59,77 1683,42 ± 93,72a 2689,87 ± 152,83AB R2 984,10 ± 21,22 1651,73 ± 161,09a 2635,83 ± 174,56A R3 978,43 ± 4,16 1641,97 ± 47,80a 2620,39 ± 44,53A R4 974,40 ± 44,40 1629,55 ± 47,89a 2603,95 ± 88,78A R5 964,58 ± 44,39 1620,26 ± 128,28a 2584,84 ± 126,04A R6 1054,03 ± 44,50 1920,16 ± 226,47b 2974,18 ± 194,24 B
Keterangan : Superskrip huruf besar yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). Superskrip huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05). R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3 = Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
pakan ayam broiler yang mendapat perlakuan R6 sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan R2, R3, R4 dan R5 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan R1. Ayam yang mendapat perlakuan R5 tidak berbeda nyata dengan perlakuan R1, R2, R3 dan R4. Akan tetapi jika dilihat secara numerik terlihat perbedaan jumlah konsumsi pakan yang semakin menurun (P<0,88) dari perlakuan kontrol (R1), hingga perlakuan R5. Konsumsi pakan R1 dan R5 secara kumulatif berturut-turut sebesar 2689,87 dan 2584,84 g/ekor, terjadi penurunan konsumsi pakan sebesar 3,9%. Penurunan konsumsi pakan perlakuan terkait dengan peningkatan kandungan persentase aflatoksin dalam pakan. Semakin banyak jumlah aflatoksin yang diberikan dalam pakan maka konsumsi pakan semakin sedikit. Hal ini diduga karena adanya senyawa berbahaya (toksik) pada aflatoksin yang dapat mempengaruhi fungsi fisiologis tubuh terutama yang berkaitan dengan fungsi hati sebagai tempat detoksifikasi racun dan gangguan metabolis pada saluran pencernaan sehingga proses metabolisme terganggu, yang pada akhirnya menekan konsumsi pakan ternak. Hal ini sesuai dengan pendapat Shanhan dan
Brown (2001) yang menyatakan bahwa ternak unggas yang mengalami aflatoksikosis akan mengalami pertumbuhan terhambat, nafsu makan berkurang, penekanan sistem kebal, sindrom perlemakan pada hati, dan dapat berakhir dengan kematian. Shareef
et al. (2008) menambahkan bahwa aflatoksin yang terkandung dalam pakan ayam
broiler dapat menurunkan konsumsi pakan dan laju pertumbuhan.
Grafik konsumsi pakan ayam broiler selama lima minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 3.
0 200 400 600 800 1000 1200 1 2 3 4 5 K o ns um si Ra ns um (g ra m /ek o r/m in g g u )
Umur Ayam (minggu)
R1 R2 R3 R4 R5 R6
Keterangan : R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
Gambar 3. Grafik Konsumsi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu Pemeliharaan
Gambar 3 menunjukkan bahwa konsumsi pakan meningkat seiring dengan bertambahnya umur ayam. Hal ini sejalan dengan pendapat North dan Bell (1990) menyatakan bahwa konsumsi pakan setiap minggu akan bertambah sesuai dengan pertambahan berat badan. Konsumsi pakan perlakuan selama lima minggu pemeliharaan berkisar antara 2584,84-2974,18 gram/ekor. Bila dibandingkan dengan standar konsumsi pakan strain Ross umur lima minggu yang dikeluarkan oleh Aviagen (2007) yaitu 3.248 gram/ekor, maka rataan konsumsi pakan penelitian lebih
rendah dibandingkan dengan standar. Hal ini disebabkan suhu selama penelitian tinggi mencapai 33,8°C (Tabel 8) sehingga diduga terjadi stress panas pada ayam broiler. Untuk mengatasi stres panas tersebut ayam akan melakukan panting dan banyak minum sehingga berdampak terhadap pengurangan konsumsi pakan (Amrullah, 2004). Konsumsi pakan dipengaruhi oleh bentuk pakan, kandungan energi pakan, kesehatan ternak, suhu lingkungan, zat-zat nutrien, kecepatan pertumbuhan dan stres (Leeson dan Summers, 2001).
Pengaruh Perlakuan terhadap Pertambahan Bobot Badan
Rataan pertambahan bobot badan selama periode starter (0-3 minggu),
finisher (4-5 minggu) dan kumulatif (0-5 minggu) disajikan pada Tabel 10.
Pemberian aflatoksin pada pakan sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi pertambahan bobot badan ayam broiler. Pada periode starter, ayam yang mendapat perlakuan R5 sangat nyata (P<0,01) menurunkan pertambahan bobot badan dibandingkan dengan perlakuan kontrol (R1), R2, R3 dan R6, namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan R4. Pada periode finisher pemberian pakan mengandung aflatoksin pada perlakuan Tabel 10. Rataan Pertambahan Bobot Badan selama Periode Starter (0-3 Minggu),
Finisher (4-5 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan
(Kumulatif)
Perlakuan
Periode Pemeliharaan Broiler
Starter (0-3 minggu) Finisher (4-5 minggu) Kumulatif (0-5 minggu) ---(g/ekor)--- R1 609,55 ± 50,30B 669,44 ± 57,03AB 1278,99 ± 102,02A R2 631,95 ± 12,60B 623,50 ± 43,84A 1255,45 ± 36,11A R3 619,95 ± 52,59B 632,23 ± 75,77A 1252,18 ± 92,06A R4 579,73 ± 30,93AB 608,23 ± 110,94A 1187,96 ± 132,39A R5 538,38 ± 28,30A 540,33 ± 62,17A 1078,70 ± 88,22A R6 762,13 ± 35,97C 827,83 ± 96,87B 1589,96 ± 62,25B
Keterangan : Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3 = Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
R5 sangat nyata (P<0,01) menurunkan pertambahan bobot badan dibandingkan dengan perlakuan R6 tetapi tidak berbeda nyata dengan ayam yang mendapat perlakuan kontrol (R1), R2, R3 dan R4. Secara kumulatif, ayam yang mendapat perlakuan R6 sangat nyata (P<0,01) memiliki pertambahan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Ayam yang mendapat perlakuan R5 tidak berbeda nyata dengan ayam yang mendapat perlakuan R1 (kontrol), R2, R3, dan R4. Tetapi jika dilihat secara numerik, terlihat perbedaan pertambahan bobot badan yang semakin menurun dari perlakuan R1 (kontrol) hingga perlakuan R5.
Perbedaan pertambahan bobot badan disebabkan oleh perbedaan dalam konsumsi pakan. Hal ini sejalan dengan pendapat Amrullah (2004) yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan yang cepat diimbangi dengan konsumsi pakan yang banyak. Selain itu, adanya aflatoksin yang terkandung dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan ayam broiler. Hati mensintesis dan mensekresikan hormon insulin like
growth faktor-1 (IGF-1). IGF-1 merupakan faktor yang menyerupai hormon
pertumbuhan yang bekerja jika berikatan dengan reseptor pada sel hati. IGF-1 mempercepat pertumbuhan pada masa pubertas jika kadar didalam darah cukup tinggi. Jika reseptor IGF-1 pada sel hati diduduki oleh aflatoksin maka IGF-1 tidak dapat bekerja sehingga pertumbuhan terhambat (Primadona, 2002). Pertambahan bobot badan ayam broiler pada perlakuan R1 dan R5 yang dipelihara selama lima minggu secara berturut-turut sebesar 1278,99 dan 1078,70 gram/ekor. Terjadi penurunan pertambahan bobot badan sebesar 15,66 %. Bahri dan Maryam (2004) menyatakan bahwa aflatoksin dapat memberikan dampak negatif bagi performan unggas diantaranya terjadi penurunan produktivitas yang ditandai dengan pertambahan bobot badan rendah. Widiastuti (2000) menjelaskan bahwa terjadi penurunan bobot badan ternak, baik pada unggas maupun ruminansia akibat pencemaran aflatoksin pada pakan yang dikonsumsinya. Level aflatoksin sebesar 0,075 ppm nyata menurunkan bobot badan meskipun ayam tidak memperlihatkan tanda kurang sehat dan kematian (Doerr et al., 1983).
Gejala aflatoksikosis yang ditimbulkan pada ayam broiler yang mendapat perlakuan R5 yaitu pertumbuhan terhambat, kekerdilan (badan tampak lebih kecil) dibandingkan dengan ayam broiler yang diberikan dosis yang lebih rendah maupun
kontrol. Selain itu, terlihat juga ketidaksempurnaan pada tulang kaki (bengkok) (Gambar 4). Hal ini diduga disebabkan karena ternak mengalami defisiensi vitamin D sehingga penyerapan kalsium menjadi berkurang. Aflatoksin merusak produksi vitamin D dalam hati yang berakibat terjadi penurunan kalsium dalam darah sehingga menurunkan kekuatan tulang (Khan, 2001). Sutikno et al. (1993) melaporkan bahwa aflatoksin dapat menyebabkan terganggunya fungsi metabolisme dan absorpsi lemak, tembaga, besi, kalsium, fosfor dan beta karoten serta memperlemah sistem kekebalan.
Gambar 4. Ayam yang Menderita Aflatoksikosis berupa Ketidaksempurnaan pada Tulang Kaki (Bengkok)
Grafik pertambahan bobot badan ayam broiler selama lima minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 5. Gambar 5 menunjukkan bahwa pertumbuhan ayam pada minggu pertama hingga minggu ketiga meningkat cepat, kemudian meningkat perlahan diminggu keempat dan menurun pada minggu kelima. Puncak pertumbuhan dicapai pada minggu keempat yang ditandai dengan pertambahan bobot badan maksimum. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Aviagen (2007) yang menyatakan bahwa pertambahan bobot badan maksimum ayam broiler strain Ross dicapai pada umur enam minggu dan setelah itu kecepatan pertumbuhan akan menurun. Kecepatan pertumbuhan dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya tipe ayam, jenis kelamin, energi metabolis, kandungan protein dan suhu lingkungan (Wahju, 2004). Kandungan protein dalam pakan penelitian lebih rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan protein pakan ayam broiler yang disarankan oleh
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450 500 1 2 3 4 5 P er ta m ba ha n B o bo t B a da n (g ra m /ek o r/ m ing g u)
Umur Ayam (minggu)
R1 R2 R3 R4 R5 R6
Keterangan : R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
Gambar 5. Grafik Pertambahan Bobot Badan Ayam Broiler selama Lima Minggu Pemeliharaan
Leeson dan Summers (2005), sehingga pertumbuhan menjadi kurang optimal. Selain itu suhu selama penelitian tinggi mencapai 33,8°C (Tabel 8) sehingga ayam diduga mengalami stress panas.
Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Pakan
Rataan konversi pakan selama periode starter (0-3 minggu), finisher (4-5 minggu) dan kumulatif (0-5 minggu) disajikan pada Tabel 11. Pemberian aflatoksin pada pakan sangat nyata (P<0,01) mempengaruhi konversi pakan selama periode
starter dan lima minggu pemeliharaan, namun tidak nyata (P>0,01) mempengaruhi
konversi pakan pada periode finisher. Pada periode starter, konversi pakan ayam yang mendapat perlakuan R5 sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan R2, R3 dan R6 tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan kontrol (R1) dan R4. Secara kumulatif, konversi pakan pada perlakuan R5 sangat nyata (P<0,01) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan R1, R2, R3 dan R6
Tabel 11. Rataan Konversi Pakan selama Periode Starter (0-3 Minggu), Finisher (4-6 Minggu) dan selama Lima Minggu Pemeliharaan (Kumulatif)
Perlakuan
Periode Pemeliharaan Broiler
Starter (0-3 minggu) Finisher (4-5 minggu) Kumulatif (0-5 minggu) ---(g/ekor)--- R1 1,66 ± 0,10BC 2,53 ± 0,25 2,11 ± 0,17 AB R2 1,56 ± 0,02B 2,65 ± 0,21 2,10 ± 0,11AB R3 1,59 ± 0,12B 2,62 ± 0,31 2,10 ± 0,17AB R4 1,69 ± 0,10BC 2,73 ± 0,38 2,20 ± 0,18BC R5 1,79 ± 0,07C 3,04 ± 0,47 2,40 ± 0,20C R6 1,38 ± 0,01A 2,33 ± 0,19 1,87 ± 0,10A
Keterangan : Superskrip berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang sangat nyata (P<0,01). R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3 = Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan R4. Tingginya konversi pakan disebabkan karena rendahnya kualitas pakan akibat adanya aflatoksin yang terkandung dalam pakan yang menyebabkan pertumbuhan menurun sehingga konversi pakan tidak efisien. Hal ini sejalan dengan pernyataan Lacy dan Vest (2000), faktor yang mempengaruhi konversi pakan adalah genetik, temperatur, ventilasi, sanitasi, kualitas pakan, jenis pakan, penggunaan zat aditif, kualitas air, pengafkiran, dan penyakit. Khan (2001) menegaskan adanya efek kronis akibat aflatoksikosis pada unggas berupa kehilangan berat badan, efisiensi pakan menurun dan meningkatnya kerentanan tubuh terhadap infeksi penyakit.
Grafik konversi pakan ayam broiler selama lima minggu pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 6. Gambar 6 menunjukkan bahwa konversi pakan minggu pertama hingga minggu kelima mengalami peningkatan. Tingginya konversi pakan ini disebabkan karena konsumsi pakan yang tinggi dan pertambahan bobot badan yang rendah. Angka konversi pakan perlakuan selama lima minggu pemeliharaan berkisar antara 1,87-2,40. Konversi pakan penelitian kurang baik bila dibandingkan dengan standar yang dikeluarkan oleh Aviagen (2007) yaitu 1,61. Hal ini
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 1 2 3 4 5 K o n v ersi Ra n su m
Umur Ayam (minggu)
R1 R2 R3 R4 R5 R6
Keterangan : R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
Gambar 6. Grafik Konversi Pakan Ayam Broiler selama Lima Minggu Pemeliharaan
dikarenakan kualitas pakan rendah. Menurut Amrullah (2004) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi angka konversi pakan yaitu kualitas pakan, teknik pemberian pakan dan angka mortalitas.
Pengaruh Perlakuan terhadap Mortalitas Ternak
Mortalitas atau angka kematian merupakan perbandingan antara jumlah keseluruhan ayam yang mati selama pemeliharaan dengan jumlah total ayam yang dipelihara. Mortalitas ayam broiler selama lima minggu pemeliharaan disajikan pada Tabel 12. Jumlah ayam broiler yang mati selama penelitian yaitu sebanyak 8 ekor dari total 240 ekor yang berarti memiliki angka mortalitas sebesar 3,3%. Mortalitas ayam broiler penelitian masih berada dibawah standar normal. Menurut Lacy dan
Vest (2000) mortalitas yang normal pada ayam broiler sekitar 4%. Permberian level aflatoksin dalam pakan perlakuan tidak mempengaruhi mortalitas ayam broiler. Hal ini diduga karena dosis aflatoksin yang diberikan kurang sehingga tidak mempengaruhi mortalitas ayam broiler.
Tabel 12. Mortalitas Ayam Broiler selama Lima Minggu Pemeliharaan
Minggu ke- Perlakuan Jumlah
R1 R2 R3 R4 R5 R6 1 0 0 0 0 0 0 0 2 0 0 0 0 0 0 0 3 0 0 0 1 1 0 2 4 1 0 0 0 0 1 2 5 0 0 1 1 0 2 4 Jumlah 1 0 1 2 1 3 8 Total Ayam 40 40 40 40 40 40 240 (%) 2,5 0 2,5 5,0 2,5 7,5 3,3
Keterangan : R1 = Ransum basal mengandung 12 ppb aflatoksin (starter) dan 13 ppb aflatoksin (finisher); R2 = Ransum basal mengandung 53 ppb aflatoksin (starter) dan 57 ppb aflatoksin (finisher); R3= Ransum basal mengandung 94 ppb aflatoksin (starter) dan 101 ppb aflatoksin (finisher); R4 = Ransum basal mengandung 136 ppb aflatoksin (starter) dan 146 ppb aflatoksin (finisher); R5 = Ransum basal mengandung 177 ppb aflatoksin (starter) dan 191 ppb aflatoksin (finisher); dan R6 = Ransum komersil.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Kadar aflatoksin ≥ 191 ppb dalam pakan ayam broiler yang dipelihara selama lima minggu dapat meningkatkan angka konversi pakan tetapi tidak berpengaruh terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan mortalitas ayam broiler.
Saran
Kadar aflatoksin dalam pakan ayam broiler sebaiknya tidak melebihi standar yang ditetapkan SNI yaitu sebesar 50 ppb, agar tidak memberikan dampak negatif bagi performan unggas.