BAB II LANDASAN TEORI
B. Landasan Teori
3. Materi Pembelajaran
a. Dasar-dasar dan Sumber Pengembangan Materi
Setelah silabus sebagai pedoman untuk membuat garis besar pembelajaran dan petunjuk untuk latihan serta kegiatan pembelajaran dibuat, disusul dengan penyusunan materi pembelajaran sebagai keseluruhan bahan yang akan diajarkan kepada siswa. Materi pembelajaran merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pembelajaran dan memiliki kedudukan penting, yakni sebagai pusat kegiatan pembelajaran dan berfungsi sebagai alat pembelajaran yang strategis bagi guru dan siswa (Werdiningsih via Kurniasari, 2004: 32).
Menurut Moody (1988: 27―33) agar dapat memilih bahan pembelajaran sastra, termasuk pembelajaran puisi dengan tepat, ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan oleh seorang guru. Aspek pertama adalah bahasa. Sangat penting memilih bahan pembelajaran sastra yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswa. Bahan juga dipilih bertolak dari kebutuhan siswa yang dianggap telah melewati tahap penguasaan bahasa tingkat dasar.
Aspek kedua adalah psikologi. Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerjasama, dan kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan masalah yang dihadapi siswa. Karya sastra yang terpilih untuk diajarkan hendaknya sesuai dengan tahap psikologis pada umumnya dalam suatu kelas. Tentu saja tidak semua siswa dalam satu kelas mempunyai tahapan psikologis
yang sama, tetapi guru hendaknya menyajikan karya sastra yang setidak-tidaknya secara psikologis dapat menarik minat sebagian besar siswa dalam kelas itu.
Aspek ketiga adalah latar belakang kebudayaan siswa. Pada umumnya, siswa akan mudah tertarik pada karya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka, terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan mereka. Secara umum, guru sastra hendaknya memilih bahan pengajaran dengan menggunakan prinsip mengutamakan karya sastra yang latar ceritanya dikenal oleh siswanya. Guru sastra hendaknya memahami apa yang diminati oleh para siswanya, sehingga dapat menyajikan suatu karya sastra yang tidak terlalu menuntut gambaran di luar jangkauan kemampuan pembayangan yang dimiliki oleh siswanya.
Lima kriteria yang harus dipenuhi dalam penyusunan materi pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Validity artinya tingkat kebenaran, atau kesahihan materi. Dalam menjabarkan materi pelajaran dari standar nasional ke silabus dan seterusnya ke pembelajaran perlu mempertimbangkan tingkat kebenaran materi yang akan dijabarkan.
2) Significance artinya tingkat kepentingan materi untuk dipelajari oleh peserta didik.
3) Utility artinya tingkat manfaat atau kegunaan materi pembelajaran bagi peserta didik, baik secara akademis maupun non akademis. Bermanfaat secara akademis berarti materi yang diajarkan dapat memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan yang akan dikembangkan lebih lanjut.
Bermanfaat secara non akademis berarti materi yang diajarkan dapat mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
4) Learnability artinya kemungkinan materi untuk dipelajari, baik berkaitan dengan tingkat kesulitan (tidak terlalu mudah, atau tidak terlalu sulit) maupun berkaitan dengan tingkat kelayakan, dilihat dari segi ketersediaan bahan ajar dan kondisi setempat.
5) Interest artinya kemenarikan materi bagi peserta didik, sehingga dapat memotivasi peserta didik untuk belajar lebih lanjut.
b. Media Sebagai Pendukung Pengembangan Materi
Setelah materi pembelajaran dikembangkan, guru harus mengembangkan media pembelajaran untuk menyajikan materi tersebut kepada siswa. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari sumber pesan kepada penerima pesan (Farida Mukti via Widharyanto dkk., 2003: 52). Media pembelajaran dimaksudkan untuk membantu agar siswa mudah menyerap materi pembelajaran. Materi pembelajaran dikatakan dapat terserap oleh siswa secara optimal apabila seluruh informasi dapat masuk ke dalam ingatan jangka panjang (long term memory). Fungsi media dalam hal ini adalah untuk membantu proses penyerapan
informasi baru ke otak kecil atau ingatan jangka panjang siswa, sebab informasi yang hanya tersimpan di otak besar atau ingatan jangka pendek siswa akan mudah dilupakan.
Media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua cara, yaitu sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media yang dapat digunakan sendiri oleh siswa. Kegunaan media adalah sebagai berikut: (1) dapat membantu guru memberikan informasi lebih baik, (2) media mampu memperlihatkan gerakan cepat yang sulit diamati dengan cermat oleh mata biasa, (3) media dapat memperbesar benda-benda kecil yang tidak dapat dilihat oleh mata, (4) benda atau objek yang besar dapat diganti dengan gambar, film, atau modus yang digunakan guru dalam memberikan kejelasan di dalam kelas, (5) media dapat menyajikan suatu proses atau pengalaman hidup yang utuh, dan (6) dapat menggantikan objek yang terlalu kompleks seperti mesin atau jaringan radio
Ada enam syarat yang harus diperhatikan dalam pemilihan media, yakni: (1) harus sesuai dengan kompetensi dasar yang ingin dikembangkan, (2) harus sesuai dengan karakteristik siswa, (3) harus disesuaikan dengan alokasi waktu yang tersedia, (4) harus disesuaikan dengan ketersediaan sumber, (5) harus disesuaikan dengan ketersediaan dana, tenaga, dan fasilitas, dan (6) harus dipertimbangkan keluwesan, kepraktisan, dan daya tahan media (Widharyanto dkk., 2003: 53).
Widharyanto (2003: 54) mengemukakan ada berbagai wujud media pembelajaran, yaitu (a) media berupa garis, (b) media berupa gambar, (c) media berupa gerak, (d) media berupa tulisan, dan (e) media berupa suara. Masing-masing media ini dapat digabung satu dengan yang lain, tergantung pada kemampuan guru dan syarat-syarat lain yang memungkinkan pemanfaatan media
tertentu. Sekarang ini, media yang banyak dikenal orang adalah (a) media auditif, (b) media visual, dan (c) media audio visual.
Penelitian Eyler dan Giles via Widharyanto (2003) membuktikan bahwa keefektifan pembelajaran dipengaruhi oleh media yang digunakan guru. Mereka menemukan bahwa model pembelajaran yang letaknya paling atas dalam kerucut, yakni pembelajaran yang hanya melibatkan simbol-simbol verbal melalui sajian teks adalah pembelajaran yang menghasilkan tingkat abstraksi paling tinggi. Pembelajaran yang paling efektif adalah pembelajaran yang berada pada dasar kerucut, yakni terlibat langsung dengan pengalaman-pengalaman belajar yang bertujuan. Tingkat abstraksi pada model pembelajaran ini sangat rendah sehingga memudahan siswa dalam menyerap pengetahuan dan keterampilan baru. Berikut ini disajikan berbagai media yang dapat digunakan oleh guru dalam pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia menurut Dale.
Bagan 2.9 Kerucut Pengalaman Edgar Dale
12 Lambang kata 11 Lambang visual 10 Gambar
9 Rekaman, radio, gambar tetap 8 Gambar hidup 7 Televisi 6 Pameran 5 Karyawisata 4 Demonstrasi 3 Pengalaman dramatisasi 2 Pengalaman tiruan yang diatur 1 Pengalaman langsung bertujuan