BAB II DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI DALAM
B. Profil Pondok Pesantren Suryabuana
2. Materi Pendidikan
Materi yang diajarkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, pastinya tidak lepas dari ajaran-ajaran agama Islam yang memprioritaskan tentang ibadah dan akhlak sebagai seorang muslim yang taat. Materi pokoknya mengambil dari kitab-kitab klasik ajaran-ajaran ideologi Suni salafi, sesui anjura para orang-orang yang berpengetahuan dan mempunyai otoritas dalam persoalan-persoalan agama dan hukum. Hal ini merupakan keyakinan secara turun temurun, yang berakar dari konservatisme agama dan keyakinan kokoh terhadap wahyu sebagai inti dari semua pengetahuan, seperti pada ajaran-ajaran Islam yang ada pasca al-Ghazali,
47
kurikulum di masjid-masjid akademi dan madrasah, semua mengikuti terhadap halaqah-halaqah yang berada di masjid jami‟,48
tanpa harus mempertanyakan atau merekonstruksi pemahaman terhadap kebutuhan pendidikan yang menunjang lainnya.
Pembelajaran yang memang mempunyai ciri khas tersendiri bagi pondok pesantren, yang biasanya dalam masyarakat umum akrab dengan sebutan full day school. Dalam kegiatan pembelajarannya meliputi materi-materi agama dan ilmu-ilmu yang menunjang dalam pemahaman ajaran agama tersebut, yang secara umum meliputi tentang aqida, tasawuf, akhlaq, fiqh, tafsir, dan balaghah. Materi pembelajaran tersebut yang dianggap bisa memperdalam keberagamaan para santri.
Di ponpes al-Ittihad sendiri, walau pun mereka dalam memberikan materi ajarnya selalu mengikuti para kyai, atau pun guru-gurunya yang terdahulu, mereka juga tidak menutup kemungkinan mengadopsi pembelajaran dari ponpes yang lainnya, bahkan mereka juga pernah mengadopsi matode pembelajaran yang berada di ponpes al-Irsyad tengaran. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Bambang dalam wawancara penelitian:
Walaupun, disini terkenal dengan ajaran Suni salafi, layaknya ponpes klasik di Jawa yang lainnya, akan tetapi disini tidak pernah menutup kemungkinan untuk mengadopsi ilmu dari ponpes lain, sekalipun mereka mempunyai cara pandang yang berbeda dengan kami dalam beberapa disiplin ilmu, asalkan ilmu yang kami ambil dari mereka bermanfaat bagi kami, dan menunjang keilmuan yang kami miliki, sehingga kami bisa berkembang dan bersaing.49
48
Hasan Ashari Dan Afandi, Pendidikan Tinggi Dalam Islam: Sejarah Dan Perannya Dalam Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Logos Publishing Hous, 1994, 52.
49
Kitab-kitab yang digunakan dalam membangun karakter berdasarkan eskatologi al-Ghazali yaitu: Ihya‟ Ulumuddin, Mauidhotul Mu‟minin,
Daqaiq al-Akhbar; Ta‟lim al-Muta‟alim, Ala la. Dan yang lainnya. 3. Strategi pembelajar
Pelaksanaan pembelajaran a. Kegiatan Harian
No Waktu Je nis Ke giatan
1 04.30 Jama'ah Subuh
2 05.00 Sorogan Kitab
3 07.00 Masuk Madrasah I
4 09.00 Jama'ah Duha dan Istirahat
5 09.30 Masuk Madrasah II
6 10.30 Pulang Madrasah
7 13.00 Jama'ah Duhur, dilanjutkan Ngaji Bandongan 8 15.30 Jama'ah Ashar, dilanjutkan Ngaji bandongan 9 18.00 Jama'ah Magrib, dilanjutkan Sorogan AL-Qur'an 10 19.45 Jama'ah Isa, dilanjutkan Ngaji Bandongan 11 20.30 Tikror/Musyawarah Pelajaran
b. Kegiatan Mingguan
No Hari Waktu Je nis Ke giatan
1 Senin 18.30 Qiroatul Qur'an
2 20.30 Khitobah
3 Rabu 20.30 Musyawarah Fathul Qarib & Mabadi Fiqhiuah
4 Kamis 16.30 Ziarah Qubur
5 18.30 Mujahadah Yasinan
6 20.30 Dziba'iyah
7 21.30 Seni Bela Diri
8 Jum'at 05.00 Lalaran Kubra
9 06.00 Ziarah Qubur Makam Masayikh
10 07.00 Roan
c. Kegiatan Bulanan
1) Musyawarah Kubra/Bahtsul Masail Intern 2) Khitobah Kubra
3) Lomba Baca Kitab dan Pidato 4) Mujahadah Al-Qur‟an
5) Manaqiban 6) Praktik Ubudiyah
7) Pengajian al-Hikam (alumni dan santri) d. Kegiatan Tahunan
1) Khataman Kitab Hadis Sohihain 2) Haul K.H Misbah dan Keturunannya
3) Khotmil Qur‟an bil Ghoib
4) Ziarah Makam Auliya50 4. Evaluasi pembelajaran
Pemberlakuan evaluasi pembelajaran di ponpes al-Ittihad mempunyai perbedaan pada lembaga pendidikan yang diselenggarakan secara formal oleh kementerian pendidikan atau pun kementerian agama pada lembaga sekolah atau pun madrasah masing-masing dalam mengukur keberhasilan kegiatan belajar mengajarnya, di ponpes al-Ittihad seakan-akan tes tertulis untuk mengaukur keberhasilan pendidikan kuranglah penting, karena mereka menganggap cara tersebut hanyalah mengukur kemampuan kognitif tidak untuk sisi afegtif dan psikomotor para santri. Menurut
50
peneuturan salah satu guru yang mengajar di ponpes al-Ittihad tersebut seperti berikut:
Evaluasi kesuksesan pembelajaran biasanya dengan tes lisan, seperti dilakukan lalaran dan sejenisnya, jadi nanti setiap hari santri disuruh mengulang pembelajaran yang telah diajarkan pada hari kemarin.51 Sedangkan untuk memperbaiki perilaku santri yang kurang sesui dengan kode etik ponpes al-Ittihad, mereka akan dipanggil dan dinasehati.52
Sesuai penuturan tersebut, berarti pengukuran kesuksesan belajar, ada lebih penekanan dalm sisi psikomotorik santri dalam pelaksanaanya, selain itu ada juga pengawasan secara intens ada memperbaiki perilaku para santri dalam kehidupan sehari-harinya.
D. Kurikulum Pondok Pesantren Suryabuana 1. Tujuan pendidikan
Sebelum masuk kedalam pendidikan yang biasanya mengedepankan faktor kognitif pada peserta didik, pondok pesantren Suryabuana mempunyai karakter khas dari pada pondok pesantren salaf pada umumnya. Walaupun dalam tujuannya sama saja yaitu membentuk karakter peserta didik yang mempunyai akhlakul karimah, peduli pada sesama, rajin beribadah, dan sifat-sifat yang lainnya.
Pendidikan ponpes Suryabuana ditujukan dalam perubahan perilaku ubudiyyah khususnya. Ponpes tersebut memanglah tidak muluk-muluk dalam berekspektasi dalam hasil pendidikannya, karena menurut mereka ketika seseorang bisa menata hatinya agar tetap bersih dan terjaga maka orang tersebut akan mempunyai emosi yang terkontrol, dan stimulus
51
Wawancara Dengan Bp. Fahmi, Guru Ponpes Al-Ittihad, Pada 7 September 2017. 52
Wawancara Dengan Bp. Ahmad Zurqani, Wakil Kepala Ponpes Al-Ittihad, Pada 5 September 2017.
yang diberikan oleh hati bersih tersebut akan menimbulkan pemikiran yang positif, seketika itu hati sudah baik menjalar ke pemikiran yang positif, maka yang timbul dari ucapan pun kata-kata yang santun, sehingga semua hal tersebut akan termanifestasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Seperti penuturan yang diutarakan oleh pengasuh ponpes Suryabuana:
ketika manusia sudah mengucapkan lafal ”lailaha illallah” samapai ke lubuk hati yang terdalam, maka semua anggota tubuh pun akan mengikuti untuk mentauhidkanNya, sehingga semua akan tergetar untuk melakukan kebaikan, dan dzikir yang berpotensi paling kuat dalam memberikan perubahan perilaku manusia adalah lafal lailaha illallah tersebut, maka disini setiap setelah selesai melakukan salat
wajib diharuskan membaca lafal tersebut” tuturnya.53
Pengambilan materi pembelajarannya mengacu pada filosofi dari ayat berikut:
ٍِٚزَّنا
ْإُُ يآ
ٍِئ ًْط ر ٔ
ىُُٓثُٕهُل
ِشْكِزِث
ِّالله
لا أ
ِشْكِزِث
ِّالله
ٍِئ ًْط ر
ُةُٕهُمْنا
:ذعشنا(
ٕ2
)
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S al-Ra‟du: 28).
Pemfokusan dalam ibadah yang dilakukan pun dikembangkan dari ayat tersebut, mereka selalu membaca lafal tahlil setelah beribadah lima waktu secara berulang ulang, dengan menggerak-gerakkan anggota badan, yaitu kepala, sesuai arahan guru. Seperti penuturan informan sebagai berikut:
Disetiap selesai melaksanakan salat wajib para santri diharuskan untuk mengucapkan kalimat tahlil sebanyak 160 kali.54
53
Wawancara Dengan Bp.Sirrullah Pengasuh Ponpes Suryabuana, Pada 20 Agustus 2017. 54
Wawancara Dengan Samsul Ma‟arif Mubaligh Ponpes Suryabuana, Pada 8 Agustus
2. Materi pendidikan
Dipandang dari sisi materi yang diajarkan. Ponpes Suryabuana memang tidaklah memberikan materi yang banyak untuk memacu ranah kognitif bagi para santrinya, karena selain di situ memang secara fasilitas masih berkembang, di sisi lain selalu lebih mengedepankan ilmu khal, atau bisa dibilang fokus pendidikannya adalah tentang perilaku, seperti apa yang dibangun, bukan materi seperti apa dan sejauh mana penguasaannya. Karena dalam prinsip pendidikan karakter yang mereka bangun pada para santrinya yaitu semua harus bermuara dari hati bukanya kecanggihan pemikiran mereka dalam memahami ayat-ayat Allah atau pun Hadis nabi, sesuai tuntunan Hadis yang mengatakan bahwa: “di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan apabila itu buruk, maka juga akan buruk semua seluruh jasad, dan ingatlah, itu adalah hati”55
.
Materi pembelajaran yang digunakan untuk memberikan sumbangsih dalam ilmu pengetahuan tidaklah banyak, mnurut penjelasan yang diberikan informan sebagai berikut:
Kitab-kitab yang diajarkan di ponpes Suryabuana tidaklah sekomplek ponpes secara umumnya, karena di sini hanya mengajarkan beberapa kitab tentang bahasa, syari‟ah Islam, dan kitab-kitab yang dianggap pokok bagi kami seperti: Uqudul Jumaan, Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar, dan Tajul Arus.56 Sesuai penuturan yang diberikan tersebut, ada ungkapan tidak langsung, bahwa pembelajaran yang mereka prioritaskan adalah tentang
55
Bukhari, Shahih Bukhari, Hadis Ke 50, 56
pembelajaran perilaku beribadah. Dilihat dari sedikitnya materi yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajarnya.