1 TESIS
DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI
(IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER SANTRI PONDOK PESANTREN AL-ITTIHAD BRINGIN SEMARANG DAN PONDOK
PESANTREN SURYABUANA PAKIS MAGELANG 2017)
Disusun Oleh: M. MUSTHOLIQ ALWI
12010150036
Tesis diajukan sebagai pelengkap persyaratan untuk gelar Magister Pendidikan
PROGRAM PASCASARJANA
ABSTRAK
Doktrin Eskatologi Al-Ghazali (Implementasi Pendidikan Karakter Santri Pondok Pesantren Al-Ittihad Bringin Semarang Dan Pondok Pesantren Suryabuana Pakis Magelang 2017). Tesis Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Program Pascasarjana, Institut Agama Islam Negeri Salatiga, 2017, pembimbing Dr. H. Sa‟adi, M.Ag.
Latar belakang dari penelitian ini adalah sistem yang ada dalam beberapa pondok pesantren Sunni salafy di Jawa khususnya pada pondok pesantren al-Ittihad dan Suryabuana, tentang pendidikan karakter. Kedua pondok pesantren tersebut mempunyai beberapa cara dalam mengupayakan pendidikan karakter bagi para santrinya, yang mana pendidikan karakter yang ada dalam pondok pesantren tersebut berhubungan dengan dokrin eskatologi al-Ghazali, atau yang dikenal doktrin tentang keimanan seorang muslim pada hari akhir.
Penelitian ini ditujukan pada materi-materi dan sumber-sumber pendidikan karakter yang digunakan di pondok pesantren al-Ittihad Bringin, dan pondok pesantren Suryabuana Pakis dalam membentuk generasi seorang muslim yang ahli ibadah, beretika, dan peduli terhadap kepentingan sosial. Penelitian yang digunakan dalam penyusunannya menggunakan metode field research (penelitian lapangan), yaitu dengan wawancara dan penelaahan materi ajar, seperti kitab-kitab kuning dan yang lainnya. Data yang dihasilkan lewat kata-kata dari hasil wawancara dan disajikan bentuk diskripsi bukan angka.
Beradasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan, doktrin eskatologi al-Ghazali sudah termanifestasikan dalam bentuk kurikulum dan materi ajar yang ada di pondok pesantren al-Ittihad dan pondok pesantren Suryabuana. Pondok pesantren al-Ittihan dan Suryabuana mengimplikasikan doktrin eskatologi al-Ghazali lewat kegiatan-kegiatan keagamaan, seperi wirid, shalawat, tahlil, mujahadah, dan ibadah-ibadah lain, yang berkaitan dengan ilmu akhirat seperti ilmu mukasyafah
dan ilmu mu‟amalah.
ABSTRACT
Doktrin Eskatologi Al-Ghazali (Implementasi Pendidikan Karakter Santri Pondok Pesantren Al-Ittihad Bringin Semarang Dan Pondok Pesantren Suryabuana Pakis Magelang 2017). [12:49 PM, 9/28/2017] Fita: Thesis of Islamic Education Studies Program (PAI), postgraduate Program, State Islamic Institute of Salatiga, 2017, mentors. H. Sa'adi, M.Ag.
The background of this research is the existing system in some boarding school Sunni salafy in Java, especially in Islamic boarding schools al-Ittihad and Suryabuana, about character education. Both boarding schools have several ways of pursuing character education for their students, in which the character education that exists within the boarding school is related to al-Ghazali's eschatological doctrine, or the known doctrine of a Muslim's faith in the last day.
This research is aimed at the materials and sources of character education used in al-Ittihad Bringin Islamic boarding school , and Islamic boarding school of Suryabuana Pakis in forming a generation of Muslim worshipers, ethical, and caring for social interests. The research used in the preparation using field research method (field research), namely by interview and review of teaching materials, such as yellow books and others. The data generated through the words of the interview and presented the form of description is not a number.
Based on the results of the research, the doctrine of al-Ghazali eschatology has been manifested in the form of curriculum and teaching materials that exist in al- ittihan Islamic boarding schools and Islamic boarding school of Suryabuana. Al-Ittihan and Suryabuana Islamic boarding schools imply the doctrine of al-Ghazali eschatology through religious activities, such as wirid, shalawat, tahlil, mujahadah, and other worship, related to the science of the after life such as mukasyafah and
mu'amalah.
MOTTO
Pentingnya seorang manusia berkarakter al-Qur‟an dan Hadis, melebihi segala sesuatu yang paling berharga di dunia ini, maka sebenarnya perhiasan yang paling
PRAKATA
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya, serta pertolongannya sehingga tesis ini dapat terselesaikan. Salawat serta salam tak lupa penulis sampaikan untuk baginda Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan tauladan yang baik kepada umatnya, sehingga memberikan motivasi tersendiri bagi penulis dalam menuntut ilmu pengetahuan dan menyelesaikan tesis ini.
Tesis yang berjudul Nilai toleransi dalam Pendidikan Agama (Telaah Silabus dan Perspektif Guru Pendidikan Agama Islam, Kristen dan Katolik) ini disusun guna memberikan kontribusi di bidang keilmuan. Dalam penyusunannya, penelitian ini tidak dapat terselesaikan dengan mudah tanpa adanya dukungan, arahan, bantuan, bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati penulis ingin berterima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi selaku Rektor IAIN Salatiga
2. Bapak Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag. Selaku Direktur Pascasarjana IAIN Salatiga dengan segala kebiksanaannya memudahkan dalam terselesaikannya tesis ini.
3. Bapak Hamam selaku kaprodi Pendidikan Agama Islam Pascasarjana.
4. Bapak Dr. H. Sa‟adi, M Ag. Selaku dosen pembimbing tesis, yang senantiasa memberikan bimbingan, arahan, petunjuk-petunjuk penyusunan tesis, dan memberikan tambahan wawasan mengenai toleransi, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik.
5. Guru Besar dan Dosen beserta Staff Pascasarjana IAIN Salatiga.
7. Bapak-bapak pengurus pondok pesantren al-Ittihad dan pondok pesantren Suryabuana, yang telah membantu peneli untuk melancarkan penggalian informasi di pondok pesantren.
8. Bapak dan Ibu saya tercinta, Bapak Shodiq dan Ibu Siti Haryanti, yang tidak henti-henti selalu memberikan suport dan doanya, sehingga saya bisa menjadi orang berguna dan bisa menempuh pendidikan sejauh ini.
9. Saudara-saudara saya, Mbak Laila Fitriana, S.Pd, Amilia Fita, dan Mas Aman Santosa, S.Pd yang telah memberikan dukungan bagi pendidikan saya.
10. Semua teman-teman dari Al-Iman Bulus Purworejo, teman IAIN angkatan 2010 khususnya kelas B, teman Pasca sarjana 2015, seluruh teman-teman HMI cabang Salatiga, teman-teman guru, dan semuanya yang pernah saya kenel, teriamaksih telah memberikan sumbangsih keilmuan dan pengalamannya, sehingga memberikan banyak pelajaran bagi saya, dan teman-teman yang telah membantu saya dalam menyelesaikan tugas akhir, semoga kita selalu dalam rahmat Allah SWT dan selalu bisa menjadi orang yeng lebih baik dan berguna bagi sesama dan agama kita.
Salatiga, 29 September 2017
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN... iii
C. Signifikansi Penelitian ... 3
1. Tujuan Penelitian ... 3
F. Sistematika Penulisan ... 13
BAB II DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER A. Profil Pondok Pesantren al-Ittihad ... 15
B. Profil Pondok Pesantren Suryabuana ... 17 C. Doktrin Eskatologi al-Ghazali dalam Pendidikan Karakter ... 18 BAB III MANIFESTASI DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER PADA KURIKULUM PONDOK PESANTREN AL-ITTIHAD BRINGIN DAN SURYABUANA PAKIS A. Kurikulum Pondok Pesantren al-Ittihad ... 23
2. Materi Pendidikan ... 24
3. Strategi Pembelajaran ... 26
4. Evaluasi Pembelajaran ... 27
B. Kurikulum Pondok Pesantren Suryabuana ... 28
1. Tujuan Pendidikan ... 28
2. Materi Pendidikan ... 30
3. Strategi Pembelajaran ... 31
4. Evaluasi Pembelajaran ... 32
BAB IV IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER GHAZALI DALAM PONDOK PESANTREN AL-ITTIHAD DAN SURYABUANA A. Penanaman Karakter Yang Diwujudkan Dalam Perilaku Sehari-Hari Di Ponpes Al-Ittihad Bringin ... 34 B. Penanaman Karakter Yang Diwujudkan Dalam Perilaku Sehari-Hari Di Ponpes Suryabuana Pakis ... 38 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 43
B. Saran ... 44 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1 BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Islam Indonesia merupakan manifestasi pendidikan Suni yang dirumuskan dan dikukuhkan oleh Madrasah Nizhamiyyah pada abad 11 sampai 13 M. Susunan kurikulum yang ada diklsifikasikan dalam tiga fokus dasar-dasar pendidikan agama Islam oleh para guru dan pejabat pemerintah saat itu,
seperti menentukan dalam aqidah, syari‟ah, dan tasawuf. Madarsah
Nizhamiyyah merupakan instansi pendidikan terdepan pada masanya, dan mempunyai banyak guru yang ahli dalam bidang keagamaan, salah satunya seorang sufi dan teolog yang sangat terkemuka yaitu Imam al-Ghazali.1 Al-Ghazali mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan kurikulumnya.
Al-Ghazali, sebagai guru besar umat muslim, ajarannya lebih menekankan terhadap dimensi eskatologi, karena visi keagamaan dan eskatologi menuntun manusia untuk memfokuskan terhadap kehidupan di akhirat. Al-Qur‟an memerintah manusia untuk beriman kepada Allah SWT dan patuh terhadap kehendak-Nya.2 Kecenderungan sufistik dalam ajaran eskatologinya sering terealisir dalam menetapkan sesuatu berdasarkan kemanfaatannya, baik di dunia maupun di akhirat,3 sehingga ajaran-ajarannya
1
F. Rahman, Propbecy in Islam: Philosophy and Ortodoxy, London: George Alen & Unwin Ltd, 1958, 92.
2
Ira. M. Lapidus, Sejarah Sosial Umat Islam, Terjemah Ghufron A. Mas‟adi, Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2000, 152. 3
kental dengan subtansi keagamaan. Ilmu keyakinan terhadap akhirat, merupakan ilmu para shiddiqin dan muqarrabin,4 yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Menurut al-Ghazali akal merupakan penopang dalam berpikir segala ilmu, akan tetapi akal mempunyai batas-batas tertentu dan hanya naql lah yang bisa melewati batas ini.5 Naql yang bersifat transendental juga mengarahkan manusia menuju keselamatan dunia dan akhirat.
Muslim Indonesia mayoritas menganut ideologi Suni, melihat dari masuknya Islam ke Indonesia menurut sejarawan sekitar abad 13 masehi,6 yang mana masih dalam hegemoni Suni. Model penyebaran Islam pada saat itu sampai sekarang yaitu dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam berupa pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan wadah untuk mengembangkan pendidikan Islam yang paling strategis, para orang tua pun untuk mendukung anaknya agar berkode etik sesuai tuntunan al-Qur‟an mempercayakan pendidikan anaknya di pondok pesantren.7 Salah satu pondok pesantren yang mempunyai karakter pendidkan Islam Suni yaitu pondok pesantren al-Ittihad Bringin, kabupdaten Semarang, Jawa Tengah dan pondok pesantren Suryabuana Pakis, kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kedua pondok pesantren tersebut mempunyai geneologi keilmuan dengan para tokoh-tokoh Islam Suni dan seperti al-Ghazali. Materi pendidikannya berupa kitab-kitab yang bercorakkan keilmuan Suni, seperti ajaran aqidahnya yang menganut Abu
4
Abudin Nata, Perspektif Islam Tentang Pola Hubungan Guru-Murid, Jakarta: Rajagrafindo, 2001, 41.
5
Ibrahim Madkour, Aliran dan Teori Filsafat Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2004, 74. 6
Djohan Efendi, Pembaruan Tanpa Membongkar Tradisi, Jakarta: Kompas, 2010, 38. 7
Hasan al-Asy‟ari,8 fiqhnya menganut salah satu dari empat mazhab, dan mengikuti sufistik al-Ghazali. Perwujudan pendidikan karakter santri sebagai manifestasi dokrin eskatologi merupakan sebuah keharusan, karena doktrin tersebut yang akan membangun karakter santri, sebagai muslim yang ahli ibadah dan ahli amaliyyah (kebaikan). Pesantren berupaya untuk mewujudkan hal tersebut dengan mengajarkan para santrinya untuk hidup sederhana, tidak hedon, dan lebih memikirkan kehidupan di akhirat, karena hidup di dunia hanya ibarat mampir ngombe.
B. Rumusan Masalah
Untuk memfokuskan penelitian yang akan berlanjut, peneliti membatasi pokok penelitiannya pada doktrin eskatologi al-Ghazali yang dipakai dalam pondok pesantren al-Ittihad dan Suryabuana, dengan rumusan masalah berikut:
1. Sejauh mana konsep doktrin eskatologi al-Ghazali dimanifestasikan dalam kurikulum Pondok Pesantren al-Ittihad Bringin dan Pondok Pesantren Suryabuana Pakis?
2. Sejauh mana doktrin eskatologi al-Ghazali dimplementasikan dalam pendidikan karakter santri Pondok Pesantren al-Ittihad Bringin dan Pondok Pesantren Suryabuana Pakis?
C. Signifikansi Penelitian 1. Tujuan penelitian
Penelitian ini sangat penting dilakukan, agar kita dapat mengetahui apa sajakah yang memberikan fondasi dalam pendidikan Islam di Indonesia
8
yang terwujudkan dalam pesantren al-Ittihad, dan seperti apakah corak pendidikan Islam yang kita anut, maka tujuan penelitain ini yaitu:
a. Untuk mengetahui sejauh mana konsep doktrin eskatologi al-Ghazali termanifestasikan dalam kurikulum Pondok Pesantren al-Ittihad Bringin dan Suryabuana Pakis.
b. Untuk mengetahui sejauh mana doktrin eskatologi al-Ghazali terimplementasikan dalam pendidikan karakter santri Pondok Pesantren al-Ittihad Bringin dan Suryabuana Pakis.
2. Manfaat penelitian a. Manfaat teoritik
Penelitian ini, diharapkan dapat memberikan sumbangsih keilmuan dalam dunia muslim tentang doktrin eskatologis al-Ghazali dan manifestasinya dalam ajaran-ajaran Islam.
b. Manfaat praktis
D. Tinjauan Pustaka
Penelitian-penelitian dipandang berkaitan dengan judul yang diteliti oleh penulis seperti berikut:
1. Penelitian Terdahulu
Penelitian Ibnu fikri dengan judul “Naskah Shahadat Sekarat: Konstruksi Nalar Suístik atas Kematian dan Eskatologi Islam di Jawa”. Penelitian tersebut menjelaskan tentang doktrin eskatologis yang terpadukan dalam balutan ilmu tauhid dan tasawuf melalui ajaran shahadad sekarat, peneliti menggunakan tafsir hermeunetik sebagai pendekatannya. 9
Penelitian yang dilakukan oleh Ziyad Khalil al-Daghomin, dengan berjudul: “Al-Ab‟ad al-Ma‟rufiyyah Wa at-Tarbiyyah Lil-Iman Bi al-Akhirah Qiraatan fi rasailil al-Nur”, menyebutkan tentang pentingnya pendidikan eskatologi agar manusia mau untuk saling tolong menolong di jalan Allah, bukan hanya tolong menolong dalam kehidupan dunia yang kebanyakan hanya mengejar kehidupan hedonis.10
Penelitian yang dilakukan oleh Syamsul Asri, dengan judul: “Jalan Lain Politik Profetik: Sejarah Sebagai Momen Eskatologis”. Penelitian
tersebut menjelaskan tujuan lain dari politik profetik yang berkaitan dengan tuntunan eskatologi Hadis, dalam membawa insan kamil memenuhi tujuan
9 Ibnu Fikri, “Naskah Shahadat Seka
rat: Konstruksi Nalar Suístik Atas Kematian dan
Eskatologi Islam di Jawa”, Manassa, Volume 5, Nomor 2, (Juli, 2015), 36. 10
penciptaannya, yakni kebahagiaan komprehensif yang diperoleh melalui kedekatan haq dengan al-Haq. 11
Penelitian yang dilakukan oleh Asep Nasrul Musadad, dengan judul “Eschatological Expression In The Holy Text(A Preliminary Hermeneutical Exploration On Selected Eschatological Narratives In The Qur’an And The Bible)”, mengungkapkan ajaran eskatologi dari apokaliptik Qur‟an dan Bibel oleh beberapa entitas historis yang melingkupinya dengan menggunakan suatu analisis hermeunetik. 12
Penelitian yang dilakukan oleh Syahid, dengan judul: “Eskatologi Dalam al Quran”, bahwa al-Qur‟an memberikan informasi paling otentik tentang doktrin eskatologi, sehingga manusia diharuskan berbuat baik dan selalu berperilaku sesuai tuntunan al-Qur‟an.13
Penelitian-penelitian di atas, mempunyai fokus utama dalam ajaran eskatologi, akan tetapi tidak pernah membahas tentang eskatologi al-Ghazali ketika termanifestasikan dan terimplementasikan dalam kurikulum pondok pesantren, serta seperti apakah pengaruhnya dalam membangun pendidikan karakter, saat doktrin eskatologi al-Ghazali tersebut dijadikan landasan keilmuannya. Berdasarkan alasan tersebut maka peneliti mengupayakan penelitian doktrin eskatologi yang terdiskripsikan dalam tradisi keilmuan pendidikan karakter di pesantren al-Ittihad Bringin dan Suryabuana Pakis..
11
Syamsul Asri, “Jalan Lain Politik Profetik: Sejarah Sebagai Momen Eskatologis”,
Politik Profetik, Volume 02,Nomor 02, (Juni, 2013), 2.
12 Asep Nasrul Musadad, “Eschatological Expression in The Holy Text”,
Internatonal Journal of Islamic Studies, Volume 02, Nomor 01, (Juni, 2014), 201.
13
2. Kerangka Teori
Doktrin adalah konsep ajaran yang bersistem14, sedangkan doktrin Islam sebuah ajaran yang bersumber dari Al-Qur‟an dan Hadis, yang diajarkan Nabi Muhammad dan diinterpretasikan oleh para ulama. Eskatologi yaitu sebuah doktrin tentang keyakinan yang berhubungan dengan kejadian-kejadian akhir hidup manusia seperti kematian, hari kiamat, hari pembalasan dan sebagainya,15 intinya setelah nyawa manusia terlepas dari tubuhnya, maka akan ada kehidupan abadi, yaitu akhirat.16Menurut al-Ghazali, doktrin eskatologi merupakan pendidikan yang penting dalam dunia muslim, karena konsep-konsep eskatologi menjadi pilar bagi tegaknya aqidah seorang muslim.17 Fazlur Rahman, seorang pemikir muslim kontemporer,18 berpendapat yang sama dengan al-Ghazali, bahwa semua doktrin yang berasal dari ajaran al-Qur‟an tidak bisa dilepaskan dengan doktrin eskatologi. Islam dan iman adalah tentang hukum akhirat dan dunia, manusia tidak akan mencapai kebahagiaan yang sempurna tanpa iman, dan wajib bagi orang beriman tidak hanya meyakinkan dalam hati dan pembenaran dalam lisan, akan tetapi juga harus dengan rentetan amal yang mengkarakter. Seperti itu jug al-Ghazali, menuntut orang beriman agar merealisasikan keimanannya melalui perilaku yang mengakarakter.19
14Syaiful Rahman, “Islam dan Pluralisme”,
Fikrah, Volume 02, Nomor 01, (Juni, 2014), 409.
15
Peter Adam, Dictionary of Philosophy, English: Joanna Cotler Book, 1981. 68 16
Al-Ghzali, Ad-Durrah Al-Fakhirah fi Kasyf Ulum Al-Akhirah, Bairut: Mu‟assasah Al -Kutub Al-Saqafiyyah, 1992, 44.
17
Sibawaihi, Eskatologi Al-Ghazali dan Fazlur Rahman, Yogyakarta: Islamika, 2004, 72. 18
Magareth Smith, Al-Ghazali The Mytic, London, Luzac & Co, 1994, 55. 19
Dalam teori Thomas Licona, pendidikan karakter merupakan gabungan tiga komponen yang inheren, yaitu tentang pengetahuan moral, keinginan sebagai orang bermoral, dan melakukan kebiasaan perilaku orang yang bermoral.20 Dalam teori need milik Maslow, kebutuhan tertinggi manusia akan terpuaskan ketika dia bisa melakukannya.21 Menurut Belferik manulang karakter watak utama yang membentuk manusia berkualitas, yang mengutamakan budi pekerti.22 Menurut Syaifudin Zuhri pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, agar menjadi insan kamil.23 Berarti pendidikan karakter sesungguhnya tidak harus menggunakan kurikulum yang formal, seperti di pondok, cukup dengan hiden curriculum. Pendidikan karakter tidak selalu diajarkan dalam kelas, namun dilakukan secara simultan dan berkelanjutan di dalam dan di luar kelas,24 yang terpenting dalam pendidikan karakter bukanlah transfer pengetahuannya, tapi transfer nilai kehidupan yang tercerminkan dalam perilaku kesehariannya.
Penggunaan istilah pondok pesantren sebagai pendidikan Islam tradisional tidaklah hanya khusus di Jawa saja, tetapi di dunia dan di daerah rumpun Melayu juga menggunakan, hanya saja di lain tempat mempunyai nama berbeda, seperti di Aceh bernama Dayah, dan di Minangkabau
20
Thomas Licona, Educating for Character, New York: Bantam Books, 1991, 51. 21
Lilik Sriyanti, Teori-teori Pembelajaran, Salatiga: STAIN Salatiga Press, 159.
22 Belferik Manullang, “Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045”, Pendidikan Karakter, Volume 03, Nomor 1, (Februari 2013), 2
23
M. Syaifuddien Zuhriy, “Budaya Pesantren dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf”, Pendidikan Karakter, Volume 19, Nomor 2, (November 2011), 292-293
24Kamin Sukardi, “
bernama Surau. Pondok pesantren adalah salah satu dari sekian banyak institusi pendidikan Islam yang ada di dunia, dan diyakini sebagai pendidikan Islam di indonesia yang tertua, dilain itu ponpes juga menjadi salah satu alternatif ekspansi Islam.25
Doktrin eskatologi al-Ghazali merupakan seluruh ajaran yang ada dalam al-Qur‟an tanpa membatasi tentang keimanan pada hari akhir. Cakupan dari gambaran eskatologi al-Ghazali diawali dengan konsep:
Kematian (makna dan terjadinya kematian), Alam Barzakh, Hari Kiamat
(peristiwa, kebangkitan dan pengadialan), dan Surga dan Neraka,26 akan tetapi juga diterangkan, bahwa paling utamanya sebuah amal adalah islam, dan paling utamanya islam adalah iman,27 sedangkan keimanan seorang muslim terhadap hari akhir dan al-Qur‟an harus termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai manusia berilmu dan mempunyai karakter,28 dengan memahami kebaikan moral, menginginkan menjadi orang yang bermoral, dan menjadikan moral tersebut sebagai sebuah kebiasaan yang terbangun dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dia merasakan kepuasan batin, dengan cara berkata santun dan berperilaku sesuai kode etik.29 Jadi doktrin eskatologi Ghazali adalah semua pendidikan yang ada dalam al-Qur‟an dan Hadis, karena semua pendidikannya pasti berorentasi pada
keselamatan dunia dan akhirat, sedangkan orang yang ingin selamat di
25
Gamal abdul nasir zakaria, “Pondok pesantren: changes and its future”, journal islamic and arabic education, Volume 2, No 2, (2010), 46
26
Sibawaihi, Eskatologi Al-Ghazali dan Fazlur Rahman, Yogyakarta: Islamika, 2004, 77. 27
Al-Ghazali, Ihya‟ „Ulum al-Din, Jakarta: Haramain, 2005, 116. 28
Syekh al-Zarmuzi, Ta‟limul Muta‟alim, Khortoum: dar al-sudaniyyah lil Kutub, 2004, 9. 29
dunia akhirat, maka dia harus menanamkan karakter kebaikan dalam hidupnya, dengan bertutur kata dan berperilaku yang baik pula. Pondok pesantren yang bercorakkan Sunni salafi (pesantren klasik di Indonesia) seperti pondok pesantren Suryabuana dan al-Ittihad mengajarkan doktrin eskatol al-Ghazali sebagai misi membangun karakter santri agar kelak bisa mencerminkan perilaku insan kamil, seperti yang diajarkan dalam al-Qur‟an dan Hadis. Penanaman karakter tersebut dituangkan dalam visi dan misi yang dimiliki oleh kedua pondok tesebut, dan materi-materi yang diajarkan dalam madrasah diniyyah sehari-hari dalam waktu dan tempat yang sudah ditentukan, selain materi ajar sebagai sarana penanman karakter sesuai doktrin eskatologi al-Ghazali, ada juga penanaman melalui amalan-amalan ibadah dan yang lainnya.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Peneliti menggolongkan penelitian ini pada penelitian lapangan. Penelitian lapangan merupakan penelitian yang dilakukan secara intensif, terperinci dan mendalam terhadap suatu objek tertentu dengan mempelajarinya sebagai suatu kasus.30
2. Pendekatan Penelitian
Pengumpulan data di lapangan sebagai pemusatannya, seperti di lingkungan masyarakat dan pendidikan adalah merupakan penelitian deskriptif
30
kualitatif.31 Maka metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah studi deskriptif, yang mana disitu peneliti membangun penelitiannya melalui problematika yang ada di lokasi penelitian dan dikaitkan dengan teori yang berkaitan.
3. Lokasi Penelitian
Pemusatan penelitian yang dilakukan menunjuk pondok pesantren al-Ittihad Bringin dan pondok pesantren Suryabuana Pakis.
4. Metode Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang akurat mengenai obyek penelitian, maka penulis akan menggunakan ciri khas penelitian kualitatif, yaitu melalui hasil wawancara, pengamatan, dan dokumentasi.32
a. Wawancara atau interview merupakan bentuk komunikasi langsung antara peneliti dan responden dalam bentuk tanya jawab dalam hubungan tatap muka.33 Peneliti akan mencoba menggali informasi kepada seluruh elemen yang mempunyai hubungan dengan pesantren yang diteliti dengan wawancara yang terstruktur secara langsung. b. Pengamatan merupakan suatu teknik mengumpulkan data dengan jalan
mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung di pesantren baik secara partisipatif maupun nonpartisipasif.34 Untuk mencari data peneliti terjun langsung ke lapangan, agar dapat memahami pendidikan yang berjalan di pesantren yang diteliti.
31
Sarjono, dkk. Panduan Penulisan Skripsi, Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004,21.
32
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitaif, …, 9. 33
W. Gulo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1991, 86. 34
c. Dokumentasi merupakan pencarian data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, rapat, legger, agenda, dan sebagainya.35 Dokumen-dokumen yang terhimpun kemudian dipilih dan disesuaikan dengan tujuan dan fokus masalah. Untuk pengarsipan hal-hal yang berkaitan dengan pesantren yang diteliti, peneliti mencoba menggali lewat literatur-literatur yang ada, seperti majalah, koran, ataupun arsip dari dinas terkait.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan prisip-prinsip deskriptif.36 Aktifitas dalam analisis data pada penelitian ini terdiri dari empat komponen yang inheren, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
a. Pengumpulan data
Merupakan proses pencarian data yang dilakukan dengan jalan pengamatan/observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari catatan tersebut peneliti perlu membuat catatan refleksi yang merupakan catatan dari peneliti sendiri berisi komentar, kesan, pendapat dan penafsiran terhadap fenomena yang ditemukan.
35
Joko Subagyo, Metode Penelitian dalam Teori dan Praktek, Jakarta: Rineka Cipta, 1991, 106.
36
b. Reduksi data
Merupakan proses pemilihan, perumusan dan perhatian pada penyederhanaan atau menyangkut data dalam bentuk uraian (laporan) yang terinci sistematis pada pokok-pokok yang penting agar lebih mudah dikendaikan. Laporan kegiatan ini merupakan proses seleksi/pemilihan, pemfokusan/pemusatan penelitian, penyederhanaan, abstraksi dan transformasi data kasar yang mucul dari catatan lapangan. c. Penyajian data
Sajian data adalah mengorganisasikan data yang sudah direduksi. Diberikan dalam bentuk narasi, kalimat yang disusun logis dan sistematis mengacu pada rumusan masalah.
d. Penarikan kesimpulan dan verifikasi
Penarikan kesimpulan merupakan tahap akhir atas pola-pola atau konfigurasi tertentu dalam penelitian ini, sehingga menggambarkan secara utuh terhadap seluruh rangkaian kegiatan penelitian, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Komparasi
2) Similarisasi
3) Sintesis
F. Sisematika Pembahasan
Bab kedua, mengenai gambaran umum lokasi pondok pesantren al-Ittihad Bringin dan Suryabuana Pakis, meliputi letak geografis pondok, identitas, visi misi, fasilitas, dan kegiatan-kegiatan pondok pesantren API Tegalrejo.
Bab ketiga, berisi tentang pendidikan karakter pondok pesantren al-Ittihad Bringin dan pondok pesantren Suryabuana Pakis yang berkaitan dengan doktrin eskatologi al-Ghazali dalam konten yang diajarkannya.
Bab keempat, dalam bab ini penulis mendiskripsikan tentang implementasi doktrin eskatologi yang termanifestasikan dalam pendidikan pondok pesantren al-Ittihad Bringin dan pondok pesantren Suryabuana Pakis dalam membangun karakter santri.
BAB II
DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER
A. Pondok Pesantrean Al-Ittihad Bringin
Al-Ittihad, sebuah lembaga pendidikan agama Islam berbasis pondok pesantren yang didirikan pada tahun 1893 M/1310 H, oleh seorang alim ulama
yang bernama K.H Misbah. Beliau merasa terpanggil untuk nasr al-din
(menyelamatkan agama), karena beliau memang termasuk orang yang sangat memperhatikan masalah agama. Suatu hari kabar akan kealiman beliu terdengar oleh penguasa desa Getas yaitu mbah Sinder atau lebih sering dikenal dengan nama H. Thoyib, yang kelak mewakafkan tanah sebagai cikal-bakal pondok pesantren al-Ittihad Poncol, Bringin. Setelah selesainya K.H Misbah dari menimba ilmu di daerah Ngawi, dia dimintai tolong untuk mengamankan daerah ngrekesan dari gangguan makhluk halus, setelah itu K.H Misbah bisa melaksanakan permintaan tersebut, dan diapun diberi wakaf tanah yang selanjutnya dia dirikan pondok pesantren al-Ittihad di situ sebagai sarana menyebar luaskan agama Islam, dan sekarang pondok pesantren tersebut diasuh oleh keturunan-keturunannya yaitu: K.H Sahli Bidayah, K.H Nurcholis Thohir, dan K.H Fathurrahman.37
Pondok pesantren al-Ittihad sendiri termasuk pondok dalam tipe Sunni salafi, yang dalam pengajarannya masih menggunakan kitab-kitab klasik sebagai pokok pembahasannya. Pondok pesantren tersebut mempunyai fasilitas
37
pendidikan yang cukup mewakili bagi kebutuhan kegiatan belajar mengajar bagi para santrinya. Pondok pesantren tersebut mempunyai sembilan asrama, dan jaraknya tidaklah saling berjauhan, sembilan asrama tersebut adalah: asrama Nahdlotus subban, Jamiatul atfal, Tarbiyatul aulad, Hasan as‟ari, Bani misbah,
Ittihadiyyah, Darus salam, Al-fadil, As‟ariyyah, Al-habib, dan Syamsul muhanna.
Selain asrama-asrama tersebut, pondok pesantren al-Ittihad juga menyediakan fasilitas
guna menunjang kegiatan belajar mengajar setiap harinya, seperti masjid dan beberapa
musola yang ada disetiap asrama-asrama yang terpisah, selain itu juga ada aula
sebagai tempat musyawarah ataupun diskusi dan yang lainnya. Madrasah diniyyah,
layaknya pondok pesantren pada umumnya, madrasah diniyyah berfungsi sebagai
kegiatan belajar sehari-hari. Dilengkapi juga dengan perpustakaan, untuk menambah
referensi keilmuan para santri, dan juga dilengkapi sarana wajib seperti, koperasi,
dapur, dan MCK, agar kegiatan sehari-harinya lebih nyaman dan terkondisikan.
Adapun visi dan misi pondok pesantren al-Ittihad Visi pondok pesantren al-Ittihad
1. Jaga aswaja dari virus wahabi, syi‟ah & aliran sesat lainnya.
2. Bela NKRI Pancasila dari penyakit HTI & Teroris. 3. Mempererat ukhuwah islamiyah dan kebangsaan.
4. Melestarikan amalan para ulamasalaf al-shalih & wali songo.
5. Sebagai wadah tempat jamaah sarkubiyah (santun berdakwah sejuk beribadah) berkarya & berbagi.38
Misi pondok pesantren al-Ittihad
1. Menyediakan tempat pembelajaran yang layak bagi para santri.
38
2. Membekali pengetahuan agama yang sesuai ulama salaf al-shalih dan para wali songo.
3. Membangun amalan-amalan ibadah pada diri santri sesuai ajaran aswaja.
4. Mengajarkan para santri untuk berdakwah dan mengajarkan agama Islam secara luas.39
B. Pondok Pesantren Suryabuana
Pondok pesantren Suryabuana adalah pondok pesantren yang terletak di Jl Magelang-Kopeng Km 15 Balak, losari. Pondok pesantren tersebut didirikan oleh abah Ahmad Sirrullah MQD pada tahun 1999. Pembina dalam kegiatan kesehariannya adalah H. Arif Sudarsono dan Drs M. Syafi‟i. Jumlah perwakilan daerah yang mengikuti kegiatan di sana mencapai 27 daerah, 27 santri muqim dan kurang lebih 7500 santri non muqim semua itu dipimpin oleh 10 mubaligh dalam kegiatannya.
Pondok pesantren Suryabuana mempunyai fasilitas berupa gedung-gedung dan bangunan fungsional yang mempunyai perannya masing-masing, seperti masjid Surya mustika rahmat sebagai pusat kegiatan bagi para santri, seperti ritual salat, dzikir, dan manaqib, pendopo yang berfungsi sebagai tempat diskusi anggota tarekat (santri non mukim), ruang khalwat yang berfungsi untuk menyendiri dan tadabbur, ruang makan bersama, kolam mandi taubat (putra dan putri), gapura sasoning swargo (patilasan sembilan wali), menara kalimosodo yang terletak di samping masjid Surya mustika
39
rahmat, dan dilengkapi dengan lapangan yang berfungsi sebagai parkir dan berdagang saat ada acara tarekat.
Adapun visi dan misi pondok pesantren Suryabuana Visi pondok pesantren Suryabuana:
Menghidupkan ruh lailaaha illallah ke tengah masyarakat muslim dengan semangat keilmuan Islam dan nilai-nilai ketimuran, persatuan ikhwan dan pancasila yang saat ini mulai ditinggalkan dan menipisnya semangat nasionalisme.
Misi pondok pesantren Suryabuana:
1. Melaksanakan dan menyebarkan ajaran TQN (tarakat Qadariyyah Wa Naqsabandiyyah) asuhan pangarsa Abah Anom (pengasuh pondok pesantren Suryalaya), ke tengah-tengah masyarakat muslim.
2. Melaksanakan dan menyebarkan ajaran Tanbih, dari pangarsa Abah Sepuh dari pondok pesantren Suryalaya ke tangah-tengah para ikhwan
TQN.
3. Melaksanakan dan menyebarkan keilmuan Islam (ala ahlus sunnah wal
jama‟ah) ke tengah masyarakat muslim yang berkaitan dengan
kehidupan beragama dan bernegara.
C. Doktrin Eskatologi al-Ghazali dalam Pendidikan Karakter
kodifikasi, berikut adalah konsep doktrin eskatologi dalam kitab-kitab
al-"buatkanlah aku perincian tentang sebuah ilmu jalan menuju akhirat yang mengisyaratkan penjelasan ilmu tersebut, walaupun tidak maksimal (penanya belum bisa melaksanakan) perincianya”. ketahuilah kamu sekalian, bahwa sesungguhnya ilmu (akhirat) itu ada dua, yaitu: ilmu mukasyafah dan ilmu muamalah. Pembagian Ilmu jalan menuju akhirat yang pertama: Ilmu mukasyafah yaitu ilmu hati (untuk mengetahui kesaan Alloh dengan segala macam bentuknya, seperti Ilmu iman, yakin dan ilmu makrifat kepadaNya), hal itu menurut ImamGhozali merupakan puncaknya ilmu. Sebagian ulama ahli makrifat telah berkata bahwa "Barang siapa tidak bisa mengambil/memiliki bagian dari ilmu itu, maka ditakutkan pada akhirnya su‟ulkhatimah. Ilmu mukasyafah juga merupakan ilmunya orang-orang yang suka terhadap kebenaran dan yang suka mendekatkan diri kepada Allah, saya tegaskan lagi bahwa ilmu mukasyafah adalah sebuah pengibaratan cahaya hati yang murni dari sifat madzmumah. Adapun pembagian yang kedua: Ilmu muamalah
40
yaitu sebuah ilmu yang membahas perbuatan hati dari perspektif (terpuji atau tercela), adapun yang termasuk perbuatan hati terpuji ialah sabar, syukur, takut akan murka Allah bersamaan dengan mengharap (ridha Allah), ridha, zuhud, taqwa, qona‟ah, dermawan, meyakini akan anugerah Allah terhadap segala hal, ihsan, dan khusnudzon terhadap Alloh, berbudi pekerti, bergaul dengan baik, jujur, serta ikhlas, maka mengetahui beberapa hakikat seputar ilmu (akhirat), batasan-batasan, dan beberapa sebab-sebabnya sehingga menghantarkan ke sebuah hasil-hasil, dan tanda-tandanya, dan meningkatkan sifat mahmudah dari keterpurukan, tidak pernah melepaskan diri dari sifat-sifat mahmudah, itu merupakan sebuah ilmu akhira”.
Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya ilmu yang wajib dipelajari itu ada
tiga jumlahnya: yaitu ilmu tauhid, ilmu sirr, maksudnya adalah yang
Artinya: “Elok bagimu untuk menyelaraskan antara perkataan dan
perbuatan sesuai dengan syariah, dan sebuah ilmu jika tidak
berlandaskan syari‟ah, maka akan tersesat.”
41
Al-Ghazali, Minhaj al-„Abidin, Semarang, Toha Putra, 2007, 6-7. 42
4. Bidayah al-Hidayah
Artinya: “Janganlah kamu terlalu banyak angan-angan sehingga
membebani kehidupanmu dan sungguh mendekatkan pada kematian, dan ucapkanlah pada dirimu sesungguhnya aku menanggung beban pada suatu hari, dan mungkin hingga mati pada malam hari, maka aku tetap sabar dan mungkin juga aku besok akan matiI.”
5. Al-Munkid min al-Dholal
Artinya: “Dan menurutku telah jelas, bahwa tidak ada hal apapun yang
dapat membawa menuju kebahagiaan ahirat, kecuali hanya dengan taqwa, dan menjaga jiwa dari hawa nafsu. Sedangkan inti dari keduanya adalah dengan memutuskan bergantungnya hati dari dunia, yaitu dengan cara bergeser dari dunia bujuk rayu menuju dunia pasti, dan menerima anugerah alloh dengan benar-benar melaksanakan, Semua itupun belumlah sempurna kecuali dengan berpaling dari harta dan tahta, serta meninggalkan beberapa hal yang membuat jiwa tersibukakan diri sehingga lupa, dan beberapa hal yang menyebabkan bergantung sehingga melupakan.”
Pemikiran asketis al-Ghazali sangatlah nampak pada keterangan yang terkodifikasi dalam kitab-kitabnya. Pemahaman yang bisa diambil dari kutipan redaksi kitab al-Ghazali di atas adalah ajaran-ajarannya
43
Al-Ghazali, Bidayh al-Hidayah, Jakarta: Haramain, 2015, 47. 44
yang selalu menuntun manusia agar selalu mempelajarinya untuk mengedepankan ilmu akhirat, yang cakupannya tentang ilmu
mukasyafah dan ilmu mu‟amalah. Ilmu-ilmu tersebut yang akan menuntun manusia agar menjadi manusia yang berkarakter, karena kedua ilmu tersebut mengajarkan tentang doktrin eskatologi al-Ghazali, yang fokusnya adalah ilmu tentang pengetahuan hati kepada Allah dan sifat-sifatnya, dan ilmu tentang baik dan buruknya perilaku manusia sesuai tuntunan al-Qur‟an dan Hadis.
BAB III
MANIFESTASI DOKTRIN ESKATOLOGI AL-GHAZALI DALAM PENDIDIKAN KARAKTER PADA KURIKULUM PONDOK PESANTREN
AL-ITTIHAD DAN SURYABUANA
A. Kurikulum Pondok Pesantren 1. Tujuan pendidikan
Pendidikan yang diselenggarakan di ponpes al-Ittihad Poncol selalu mengedepankan tentang akhlakul karimah, agar santri-santri yang ikut melaksakan kegiatan pembelajaran, bisa mempunyai budi pekerti yang baik dan tidak sombong ketika sudah mempunyai ilmu.45 Menurut penuturan oleh salah satu seorang gurunya:
Akhlak merupakan tujuan yang lebih penting dari ilmu yang diperoleh di ponpes al-Ittihad, menimba ilmu disini, bagi para santri pintar itu nomor dua, yang lebih penting dari pada santri menjadi orang yang pintar yaitu santri harus mempunyai adab, sopan santun, taat kepada guru, dan bisa menyambung salaturahim kepada sesama.46
Selain mempunyai akhlakul karimah mereka juga diharapkan punya rasa sosial yang tinggi terhadap sesama manusia, dan juga mereka mempunyai kepedulian akan keberagamaan orang yang hidup disekitarnya, tidak hanya membahas kepentingan sosial dalam kehidupan sehari-hari saja, karena kehidupan vertikallah sebenarnya yang lebih penting dari pada kehidupan horisontal. Menilik pendirian ponpes al-Ittihad tersebut, yang mana K.H Misbah, melakukan babad alas di desa Poncol tersebut tujuan utamanya
45
Al-Ghazali, Ihya‟ Ulumuddin Juz 4, Surabaya: Haramain, 501. 46
adalah nasr ad-din bukanlah yang lain, karena memang pada saat itu minimnya pengetahuan agama bagi masyarakat yang dekat dengan desa tersebut.
Dakwah atau menyebar luaskan ajaran agama Allah dan mangagungkanNya,47 merupakan sebuah keharusan bagi para santrinya secara keseluruhan, ketika mereka memang sudah dianggap cukup dalam menimba ilmu agama. Penyebarannya pun sesuai dengan kemampuan individu masing-masing, tidak semua para santrinya dianjurkan sebagai seorang mubaligh panggung, akan tetapi paling tidak, ketika mereka sudah pulang dengan bekal ilmu agama yang telah didapat dari ponpes al-Ittihad tersebut, mereka bisa mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada seluruh elemen masyarakat.
2. Materi pendidikan
Materi yang diajarkan dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari, pastinya tidak lepas dari ajaran-ajaran agama Islam yang memprioritaskan tentang ibadah dan akhlak sebagai seorang muslim yang taat. Materi pokoknya mengambil dari kitab-kitab klasik ajaran-ajaran ideologi Suni salafi, sesui anjura para orang-orang yang berpengetahuan dan mempunyai otoritas dalam persoalan-persoalan agama dan hukum. Hal ini merupakan keyakinan secara turun temurun, yang berakar dari konservatisme agama dan keyakinan kokoh terhadap wahyu sebagai inti dari semua pengetahuan, seperti pada ajaran-ajaran Islam yang ada pasca al-Ghazali,
47
kurikulum di masjid-masjid akademi dan madrasah, semua mengikuti terhadap halaqah-halaqah yang berada di masjid jami‟,48 tanpa harus mempertanyakan atau merekonstruksi pemahaman terhadap kebutuhan pendidikan yang menunjang lainnya.
Pembelajaran yang memang mempunyai ciri khas tersendiri bagi pondok pesantren, yang biasanya dalam masyarakat umum akrab dengan sebutan full day school. Dalam kegiatan pembelajarannya meliputi materi-materi agama dan ilmu-ilmu yang menunjang dalam pemahaman ajaran agama tersebut, yang secara umum meliputi tentang aqida, tasawuf, akhlaq, fiqh, tafsir, dan balaghah. Materi pembelajaran tersebut yang dianggap bisa memperdalam keberagamaan para santri.
Di ponpes al-Ittihad sendiri, walau pun mereka dalam memberikan materi ajarnya selalu mengikuti para kyai, atau pun guru-gurunya yang terdahulu, mereka juga tidak menutup kemungkinan mengadopsi pembelajaran dari ponpes yang lainnya, bahkan mereka juga pernah mengadopsi matode pembelajaran yang berada di ponpes al-Irsyad tengaran. Seperti yang diungkapkan oleh bapak Bambang dalam wawancara penelitian:
Walaupun, disini terkenal dengan ajaran Suni salafi, layaknya ponpes klasik di Jawa yang lainnya, akan tetapi disini tidak pernah menutup kemungkinan untuk mengadopsi ilmu dari ponpes lain, sekalipun mereka mempunyai cara pandang yang berbeda dengan kami dalam beberapa disiplin ilmu, asalkan ilmu yang kami ambil dari mereka bermanfaat bagi kami, dan menunjang keilmuan yang kami miliki, sehingga kami bisa berkembang dan bersaing.49
48
Hasan Ashari Dan Afandi, Pendidikan Tinggi Dalam Islam: Sejarah Dan Perannya Dalam Ilmu Pengetahuan, Jakarta: Logos Publishing Hous, 1994, 52.
49
Kitab-kitab yang digunakan dalam membangun karakter berdasarkan eskatologi al-Ghazali yaitu: Ihya‟ Ulumuddin, Mauidhotul Mu‟minin,
Daqaiq al-Akhbar; Ta‟lim al-Muta‟alim, Ala la. Dan yang lainnya.
7 13.00 Jama'ah Duhur, dilanjutkan Ngaji Bandongan 8 15.30 Jama'ah Ashar, dilanjutkan Ngaji bandongan 9 18.00 Jama'ah Magrib, dilanjutkan Sorogan AL-Qur'an 10 19.45 Jama'ah Isa, dilanjutkan Ngaji Bandongan 11 20.30 Tikror/Musyawarah Pelajaran
b. Kegiatan Mingguan
No Hari Waktu Je nis Ke giatan
1 Senin 18.30 Qiroatul Qur'an
2 20.30 Khitobah
3 Rabu 20.30 Musyawarah Fathul Qarib & Mabadi Fiqhiuah
c. Kegiatan Bulanan
1) Musyawarah Kubra/Bahtsul Masail Intern 2) Khitobah Kubra
3) Lomba Baca Kitab dan Pidato 4) Mujahadah Al-Qur‟an
5) Manaqiban 6) Praktik Ubudiyah
7) Pengajian al-Hikam (alumni dan santri) d. Kegiatan Tahunan
1) Khataman Kitab Hadis Sohihain 2) Haul K.H Misbah dan Keturunannya
3) Khotmil Qur‟an bil Ghoib
4) Ziarah Makam Auliya50 4. Evaluasi pembelajaran
Pemberlakuan evaluasi pembelajaran di ponpes al-Ittihad mempunyai perbedaan pada lembaga pendidikan yang diselenggarakan secara formal oleh kementerian pendidikan atau pun kementerian agama pada lembaga sekolah atau pun madrasah masing-masing dalam mengukur keberhasilan kegiatan belajar mengajarnya, di ponpes al-Ittihad seakan-akan tes tertulis untuk mengaukur keberhasilan pendidikan kuranglah penting, karena mereka menganggap cara tersebut hanyalah mengukur kemampuan kognitif tidak untuk sisi afegtif dan psikomotor para santri. Menurut
50
peneuturan salah satu guru yang mengajar di ponpes al-Ittihad tersebut seperti berikut:
Evaluasi kesuksesan pembelajaran biasanya dengan tes lisan, seperti dilakukan lalaran dan sejenisnya, jadi nanti setiap hari santri disuruh mengulang pembelajaran yang telah diajarkan pada hari kemarin.51 Sedangkan untuk memperbaiki perilaku santri yang kurang sesui dengan kode etik ponpes al-Ittihad, mereka akan dipanggil dan dinasehati.52
Sesuai penuturan tersebut, berarti pengukuran kesuksesan belajar, ada lebih penekanan dalm sisi psikomotorik santri dalam pelaksanaanya, selain itu ada juga pengawasan secara intens ada memperbaiki perilaku para santri dalam kehidupan sehari-harinya.
D. Kurikulum Pondok Pesantren Suryabuana 1. Tujuan pendidikan
Sebelum masuk kedalam pendidikan yang biasanya mengedepankan faktor kognitif pada peserta didik, pondok pesantren Suryabuana mempunyai karakter khas dari pada pondok pesantren salaf pada umumnya. Walaupun dalam tujuannya sama saja yaitu membentuk karakter peserta didik yang mempunyai akhlakul karimah, peduli pada sesama, rajin beribadah, dan sifat-sifat yang lainnya.
Pendidikan ponpes Suryabuana ditujukan dalam perubahan perilaku ubudiyyah khususnya. Ponpes tersebut memanglah tidak muluk-muluk dalam berekspektasi dalam hasil pendidikannya, karena menurut mereka ketika seseorang bisa menata hatinya agar tetap bersih dan terjaga maka orang tersebut akan mempunyai emosi yang terkontrol, dan stimulus
51
Wawancara Dengan Bp. Fahmi, Guru Ponpes Al-Ittihad, Pada 7 September 2017. 52
yang diberikan oleh hati bersih tersebut akan menimbulkan pemikiran yang positif, seketika itu hati sudah baik menjalar ke pemikiran yang positif, maka yang timbul dari ucapan pun kata-kata yang santun, sehingga semua hal tersebut akan termanifestasikan dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Seperti penuturan yang diutarakan oleh pengasuh ponpes Suryabuana:
ketika manusia sudah mengucapkan lafal ”lailaha illallah” samapai ke lubuk hati yang terdalam, maka semua anggota tubuh pun akan mengikuti untuk mentauhidkanNya, sehingga semua akan tergetar untuk melakukan kebaikan, dan dzikir yang berpotensi paling kuat dalam memberikan perubahan perilaku manusia adalah lafal lailaha illallah tersebut, maka disini setiap setelah selesai melakukan salat
wajib diharuskan membaca lafal tersebut” tuturnya.53
Pengambilan materi pembelajarannya mengacu pada filosofi dari ayat berikut: tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.S al-Ra‟du: 28).
Pemfokusan dalam ibadah yang dilakukan pun dikembangkan dari ayat tersebut, mereka selalu membaca lafal tahlil setelah beribadah lima waktu secara berulang ulang, dengan menggerak-gerakkan anggota badan, yaitu kepala, sesuai arahan guru. Seperti penuturan informan sebagai berikut:
Disetiap selesai melaksanakan salat wajib para santri diharuskan untuk mengucapkan kalimat tahlil sebanyak 160 kali.54
53
Wawancara Dengan Bp.Sirrullah Pengasuh Ponpes Suryabuana, Pada 20 Agustus 2017. 54
2. Materi pendidikan
Dipandang dari sisi materi yang diajarkan. Ponpes Suryabuana memang tidaklah memberikan materi yang banyak untuk memacu ranah kognitif bagi para santrinya, karena selain di situ memang secara fasilitas masih berkembang, di sisi lain selalu lebih mengedepankan ilmu khal, atau bisa dibilang fokus pendidikannya adalah tentang perilaku, seperti apa yang dibangun, bukan materi seperti apa dan sejauh mana penguasaannya. Karena dalam prinsip pendidikan karakter yang mereka bangun pada para santrinya yaitu semua harus bermuara dari hati bukanya kecanggihan pemikiran mereka dalam memahami ayat-ayat Allah atau pun Hadis nabi, sesuai tuntunan Hadis yang mengatakan bahwa: “di dalam tubuh ada segumpal darah, apabila ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan apabila itu buruk, maka juga akan buruk semua seluruh jasad, dan ingatlah, itu adalah hati”55.
Materi pembelajaran yang digunakan untuk memberikan sumbangsih dalam ilmu pengetahuan tidaklah banyak, mnurut penjelasan yang diberikan informan sebagai berikut:
Kitab-kitab yang diajarkan di ponpes Suryabuana tidaklah sekomplek ponpes secara umumnya, karena di sini hanya mengajarkan beberapa kitab tentang bahasa, syari‟ah Islam, dan kitab-kitab yang dianggap pokok bagi kami seperti: Uqudul Jumaan, Sirr al-Asrar wa Mazhar al-Anwar, dan Tajul Arus.56 Sesuai penuturan yang diberikan tersebut, ada ungkapan tidak langsung, bahwa pembelajaran yang mereka prioritaskan adalah tentang
55
Bukhari, Shahih Bukhari, Hadis Ke 50, 56
pembelajaran perilaku beribadah. Dilihat dari sedikitnya materi yang diberikan dalam kegiatan belajar mengajarnya.
3. Strategi pembelajaran
Berlangsungnya pembelajaran sehari-hari dalam upaya membentuk karakter para santri, dalam ponpes tersebut juga tidaklah sama dengan ponpes pada umumnya, yang mana secara umum dalam ponpes akan mempunyai jadwal yang pasti, untuk kegiatan belajar mengajar sehari-hari, dalam sebuah ruang kelas atau sejenisnya. Beda dengan ponpes Suryabuana yang cenderung mempunyai kajian kitab atau meteri lisan sangat sedikit, dan itu pun tidak diagendakan secara pasti, karena pengajaran yang dilaksanakan langsung berbentuk akhwal.
Pembelajaran itu langsung dilakukan oleh mubaligh yang ada disitu, mula-mula dengan memberikan pemahaman tentang khakikat ketuhanan Allah Swt, setelah itu mereka diberikan amalan-amalan yang bisa menggiring diri mereka agar mempunyi kemauan dan mampu untuk melaksakan amalan-amalan yang diajarkan, setelah mereka terbiasa dengan amalan-amalan tersebut mereka setiap minggu sekali diberikan
reinsformen agar lebih memantapkan dalam hati mereka terhadap ajaran yang dilaksanakan. Dan dalam acara bulanan pun mereka akan diberikan penguatan juga, agar karakter yang diinginkan segera terbangun sesuai dengan apa yang diinginkan. Seperti penuturan salah satu mubaligh ponpes tersebut:
kami ajarkan ibadah setiap hari secara rutin, dengan wirid-wirid yang sesuai dengan anjuran di ponpes ini, setelah itu setiap minggu diadakan penguatan pemahaman dengan cara musyawarah, yang dilakukan di masjid, dan setiap satu bulan sekali dilakukan mujahadah manaqiban.57
4. Evaluasi pendidikan
Pendidikan di ponpes Suryabuana yang memang tidak memberikan penekanan materi secara kompleks pada santrinya, melakukan proses evaluasi pendidikannya dalam ponpes tersebut pun mempunyai perbedaan dengan ponpes yang lain. Ponpes secara umumnya memberikan syahadah
untuk mengetahui hasil belajar para santrinya, yang mungkin kalau dalam pendidikan modern ini, sering disebut dengan ijazah, sebagai bukti atas hasil pembelajarannya, apakah sudah sesui yang dituju ataukah belum sesuai dengan tujuan utama pembelajaran yang dilaksanakan dalam beberapa bulan atau tahun.
Ponpes Suryabuana mengevaluasi para murid-muridnya dengan melihat perkembangan psikomotor mereka, apakah ada perbedaan atau tidak pada perilaku sehari-hari mereka. Semua perilaku para santri akan dievaluasi oleh para mubaligh yang ada dalam kesehariannya, dan biasanya mereka yang sudah bisa mengamalkan ajaran-ajaran yang telah terkodifikasi dalam pendidikan di ponpes tersebut, akan mengalami perubahan secara signifikan dalam perilaku atau pun yang lainnya. Seperti yang dituturkan oleh informan:
Santri yang dulunya biasa saja ketika meninggalkan salat menjadi malu ketika mereka tidak salat, bahkan rasa malu itu bukan hanya
57
ketika mereka dikathui oleh orang lain saat tidak salat, mereka akan merasa malu pada diri sendiri ketika tidak melakukan salat, karena dalam pemikiran mereka sudah ditanamkan akan rasa sykur terhada segudang nikmat Allah yang diberikan seperti waktu dan kesehatan yang diberikan sehari-hari, dan cara mengucapkan rasa syukur terhadapNya lewat salat, dan disitu juga para mubaligh mengevaluasi perkembangan pendidikannya.58
BAB IV
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER AL-GHAZALI DALAM PONDOK PESANTREN AL-ITTIHAD DAN SURYABUANA
A. Penanaman Karakter yang Diwujudkan dalam Perilaku Sehari-Hari di Pondok Pesantren Al-Ittihad Bringin
Penanaman karakter bagi sebuah instansi pendidikan merupakan tujuan yang sangat penting, mengingat degradasi moral para remaja penerus bangsa saat ini yang semakin memprihatinkan. Dikatakan oleh bapak Zurqani bahwa pondok pesantren al-Ittihad menyelenggarakan pendidikan agama yang mempunyai tujuan utamanya yaitu menjadikan manusia ber akhlaq al-karimah, berjiwa sosial, sabar, santun, dan yang selalu diajarkan harus selalu tawadhu‟.59
Karakter pendidikan yang menjadi cerminan doktrin eskatologi al-Ghazali diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti yang biasanya anak pondok pesantren lakukan yaitu hidup dalam kesederhanaan dan menjauhi perilaku hedon, agar menjadi generasi masa depan yang siap menjalani berbagai macam beban kehidupan. Pembelajaran tersebut tertanamkan dalam kehidupan sehari-hari secara turun-temurun dari kakak-kakak kelas hingga ke generasi selanjutnya, itu dikarenakan percontohan yang terkonsep dalam perilaku kakak kelasnya, sehingga mereka memahami konsep tersebut lewat percontohan yang ada. Disini bisa dilihat, bahwa pendidikan karakter seakan-akan belajar secara alami karena menjadi perilaku mereka sehari-hari, tanpa
59
harus adanya pemaksaan dari para pengurusnya, semua berjalan dengan sendirinya sehingga menjadi habit, karena pendidikan karakter yang paling baik adalah contoh perilaku baik, karena memberi contoh kebaikan itu lebih baik dari pada memberikan arahan untuk menjadi orang baik.
Ibadah-ibadah yang digunakan sebagai sarana penanaman pendidikan karakter sesuai yang diajarkan dalam doktrin eskatologi al-Ghazali seperti, dianjurkannya salat tahajjud di waktu sepertiga malam terakhir, agar para santri mempunyai waktu khusus dalam mendekatkan diri pada RabbNya, selain salat tahajjud yang dianjurkan, di sela-sela pembelajaran madrasah pada pagi hari, juga diwajibkan salat dhuha secara berjama‟ah. Semua kegiatan salat
sunat tersebut dilaksanakan setiap hari, selain ke dua salat sunat tersebut, juga dianjurkan salat sunat rawatib secara berjama‟ah, karena dipandang dari segi
agama itu akan menambah pahala bagi yang melaksanakannya, dan dipandang dari sosial bisa memupuk rasa kekeluargaan bagi sesama santri dalam kehidupan sehari-hari. Sebelum melaksanakan salat berjama‟ah, wajib bagi santri yang datang lebih awal untuk menunggu yang lainnya dan imam salatnya datang sembari membaca al-Qur‟an. Sesuai penuturan dari kepala pondok pesantren al-Ittihad sebagai berikut:
Hendaknya semua santri, tidak dikhususkan, entah itu yang sudah lama atau yang masih baru, diharapkan semuanya agar membagi waktu dalam kesehariannya dalam tiga bagian, sesuai anjuran imam Ghazali, yaitu delapan jam untuk ibadah, delapan jam untuk belajar atau mencari ilmu, dan delapan jam untuk istirahat, termasuk di dalamnya makan dan yang lain-lain. Jadi ketika anjuran dari imam Ghazali itu bisa dilaksanakan pasti kehidupannya akan bermanfaat dan lebih nyaman.60
60
Selain salat-salat sunat, membaca dan menghafal al-Qur‟an. Ada juga anjuran-anjuran praktik keagamaan yang lainnya, seperti membaca salawat qur‟ani setiap sebelum melaksanakan kegiatan belajar mengajar, agar para
santri tidak mengalami kejenuhan dalam kegiatan yang akan berlangsung. Semua itu ditujukan untuk memupuk semangat kebersamaan mereka dalam belajar sesuai pada visinya yaitu dengan membangun ukhuwwah Islamiyyah. Selain itu juga mengonsep pemikiran mereka dalam membiasakan langkah-langkah untuk membuat majlis dzikir, ketika mereka berada dalam sebuah perkumpulan yang dilihatnya kurang memberikan manfaat, maka secara otomatis hatinya akan tergerak untuk mengadakan mejlis dzikir yang kiranya dipandang sangat bermanfaat, karena orang yang sering berada dalam majlis dzikir akan dinaungi rahmat Allah.61
Kegiatan ekstra kurikuler, dalam membangun karakter ahli ibadah yang diupayakan pondok pesantren al-Ittihad, setiap satu minggu minimal satu kali santri-santri diharuskan membaca manakib syekh Abdul Qadir al-Jailani,
mujahadah dalail al-khairat, dan membaca yasin fadhilah (yaitu setelah kata
mubin dalam surat yasin diselipkan doa kebaikan dunia, akhirat dan keluarga serta meminta perlindungan dari fitnah)62. Pelaksanaak kegiatan mingguan tersebut dilaksanakan secara berjama‟ah, dengan dipimpin oleh pengurus
komplek masing-masing, yang mana manakib syekh Abdul Qadir al-Jailani
dijadwalkan pada setiap malam selasa, kegiatan tersebut dilaksanakan guna dijadikan tashowwur oleh para santri, sehingga mereka bisa mengambil hikmah
61
Al-Ghazali, Ihya‟ „Ulum al-Din, Jakarta: Haramain, 297. 62
dari kisah kehidupan syekh Abdul Qadir al-Jailani. Pengonsepan seorang tokoh (Abdul Qadir al-Jailani) panutan tersebut agar bisa diambil pelajaran atas riwayat kehidupannya, tidak hanya sekedar dibaca saja, juga harus dipahami, kerena setelah pembacaan manaqib tersebut selalu dikasih mau‟idhoh a l-Hasah tentang cerita kehidupan syekh Abdul Qadir.
Malam dan hari jum‟at, pada hari tersebut dipercayai sebagai sayyid
al-ayyam. Pondok pesantren al-Ittihad mengadakan kegiatan mujahadah bersama-sama bagi seluruh santri, tidak terbatas umur, hanya saja untuk laki-laki dan perempuan diadakan di tempat berbeda. Malam jum‟at sendiri dilaksanakan
mujahadah dalail al-khairat, sebagai tanbih dan nasihat bagi para santri, setelah itu para santri dikasih wejangan oleh salah satu dari para guru pondok pesantren al-Ittihad, atau langsung dari pengasuh pondok pesantren. Dan pada
siang harinya di hari jum‟at dilaksanakn yasinan bersama-sama, guna
mendo‟akan para orang tua dan guru-guru mereka. Pendekatan yang dilakukan
dalam membangun karakter ahli ibadahnya dilakukan dengan intens dan selalu diberikan reinforcement di akhir setiap kegiatannya.
karakter yang mencerminkan perwatakan seorang santri dengan metode pembelajaran aktif.
B. Penanaman Karakter yang Diwujudkan dalam Perilaku Sehari-hari di Pondok Pesantren Suryabuana Pakis
Penanaman karakter yang diinginkan dalam pembelajaran di pondok pesantren Suryabuana adalah karakter ahli ibadah, itu merupakan hal yang pokok dan diutamakan. Bermula dari itulah bisa dilihat pada kegiatan belajar mengajar yang tidak terlalu diberikan ruang banyak dalam kesehariannya, melainkan yang lebih diberi ruang kegiatan dalam kehidupan sehari-hari adalah pendidikan yang sifatnya pengembangan profesi dan amalan-amalan ubudiyah
keseharian.
Amalan ibadah yang dilaksanakan disana merupakan konversi dari kitab-kitab yang telah mereka pelajari,63 dengan mengambil sebagai filosofi berikut:
دٕجعي لا
دٕصمي لا
دٕجٕي لا
Gambar cara berpikir 4.1
1. Laa ma’buda yang berarti tidak ada yang wajib disembah (selain Allah). Menurut yang dituturkan oleh informan, perilaku yang pertama kali dilaksanakan oleh seorang hamba adalah menyembah, penyembahan
63
seorang hamba terhadap Tuhannya merupakan tingkatan paling awal dari sebuah penghambaan, karena terkadang dalam beribadah masih banyak orang yang hanya menggugurkan kewajiban saja, selain itu, ada juga orang beribadah hanya karena menginginkan nikmat yang sementara dan bahkan hanya ingin mendapat reputasi lebih dari sesama, akan tetapi ketika orang tersebut bisa beribadah dengan bisa memadukan antara tubuh dan
batinyyah, maka ibadahnya akan menjadi lengkap dan sempurna.64 Pelaksanaan pembangunan karakter di dalam pondok pesantren tersebut yaitu dengan memulai pembelajaran yang paling awal tersebut, dengan tujuan mempermudah pembelajaran bagi para santri baru.
Ibadah sebagai kurikulum yang wajib dilaksanakan dalam menjalankan kurikulum sesuai dengan ajaran-ajaran tasawuf eskatologi al-Ghazali adalah:
a. Salat wajib lima waktu
b. Zikir wajib setelah salat lima waktu (sesuai tuntunan mursyid) c. Mujahadah mingguan
d. Mujahadah bulanan
Pembelajaran karakter ibadah dilaksanakan secara intens, sehingga para santri akan terbiasa untuk melaksanakannya, dan ketika para santri tidak melaksanakan akan merasa ada yang hilang dalam diri mereka, dan bahkan mereka pun akan merasa malu secara sendirinya ketika tidak
64
melaksanakan. Menurut penuturnan beliu informan65, bahwa ketika tingkatan ubudiyyah telah terlaksanakan maka para santri secara otomatis pribadinya akan naik dalam tingkatan laa maqsuda.
2. Laa maqsuda yang berarti tidak ada tujuan atau maksud menyembah
(selain Allah). Menurut penuturan informan, tingkatan ini merupakan kelanjutan dari tingkatan sebelumnya, akan tetapi belum tentu semua santri akan langsung memasuki tingkatan ini semua, setelah melaksanakn tingkatan yang pertama, ada yang dengan cepat naik ketingkatan ke dua, akan tetapi ada juga yang membutuhkan waktu yang lama.66 Karena setiap manusia memiliki kecenderungan, keterbatasan dan kelebihan masing-masing.67 yang sudah rutin dilaksanakan oleh santri dalam ibadah sesuai peraturan kurikulum yang sudah ditentukan. Ajaran ini bermaksud untuk membenahi niat yang dilakukan oleh santri ketika melaksanakan salat atau ibadah-ibadah lainnya, di sinilah salah satu metode tazkiyyah al-nafsi
dilakukan, dengan memperbaiki niat yang dilakukan tatkala seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah, mereka meniatkannya hanya kepada Allah semata, tidaklah dalam hati seseorang berniatkan selain Allah, seperti salat dengan berniatkan agar mendapat surganya Allah dan menjauhi nerakaNya, apalagi niat salat hanya sekedar menggugurkan kewajiban saja, yang secara langsung orang tersebut menjalankan ibadah kepada Allah hanya karena terpaksa.
65
Wawancara Dengan Bp. Akib Ketua Yayasan Bakti Umat Pondok Pesantren Suryabuana 8 Agustus 2017.
66
Wawancara Dengan Bp. Akib Ketua Yayasan Bakti Umat Pondok Pesantren Suryabuana 8 Agustus 2017.
67
3. Laa maujuda yang berarti tidak ada wujud di dunia ini (selain Allah). Ajaran ini merupakan tingkatan paling tinggi dalam sebuah peribadatan, menurut penuturan informan68. Dalam ibadah ketika seseorang sudah bisa melakukan secara kontinuitas, setelah itu dia akan merasakan nikmatnya ibadah setelah bisa menyatu dan melebur dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ibadah tersebut menjadi kebutuhan dalam kehidupannya, dan orang tersebut beribadah dengan maksud mencari ridho Allah bukan karena takut ketika dicampakkan surgaNya dan takut akan siksa api nerakaNya.
Orang beribadah merupakan manifestasi rasa syukur akan segala nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, karena dia menyadari, bahwa semua yang ada di dalam dunia ini adalah ciptaanNya, dan dengan penuh kesadaran mengakui bahwa segala yang ada di dunia ini adalah bagian dari wujud transendentalNya. Pernyataan ini sesuai dengan filsafat
Ibdu „Arabi, bahwa manusia adalah emansi dari cahaya Ilahiyyah Allah,
sehingga manusia bisa disimpulkan manusia dan cahaya Ilahiyyah Allah merupakan wahdatul wujud (wujud yang satu).69
Tingkatan kepuasan tertinggi manusia dalam kehidupannya merupakan kepuasan batinnya, ketika dia bisa mengerti dan memaknai akan segala kehidupannya, masalah yang dia hadapi dan bisa diselesaikan, sehingga dia bisa menjadi sukses dan bisa mencerminkan perilakunya kesuksesan yang mengkarakter pada dirinya. Kebutuhan humanistik yang
68
Wawancara Dengan Bp. Akib Ketua Yayasan Bakti Umat Pondok Pesantren Suryabuana 8 Agustus 2017.
69
digambarkan oleh Maslow juga mengatakan manusia akan mencapai kepuasan tertinggi jika dia bisa melaksanakan keinginan batinnya, seperti mendekatkan diri kepada Allah, karena ketika manusia sudah bisa mencapai semua kesuksesan yang dia inginkan pelabuhan terahir dari tujuannya adalah kedekatannya pada Allah yang akan dia rasakan dari dia hidup sampai di akhirat kelak.
BAB V
PENUTUP
A. Simpulan
Hasil dari penelitian ini menunujukkan relevansi doktrin eskatologi al-Ghazali dalam kurikulum dan implementasinya di pondok pesantren al-Ittihad Bringin dan Suryabuana Pakis, dengan rincian berikut:
1. Pondok pesantern al-Ittihad Bringin dalam menanamkan doktrin eskatologi al-Ghazali lewat kurikulum pendidikan sangat intens, melihat dari jadwal pembelajarannya setiap hari, dan materi-materi ajarnya yang mempunyai keterkaitan dengan ajaran-ajaran doktrin eskatologi al-Ghazali, dan dalam implementasi doktrin eskatologi pada pendidikan karakter juga sudah relevan dengan ajaran al-Ghazali. 2. Pondok pesantern Suryabuana Pakis dalam menanamkan doktrin
B. Saran
1. Pondok pesantren al-Ittihad
a. Hendaknya menyesuaikan ajaran eskatologi al-Ghazali dengan modernitas kurikulum sesuai perkembangan zaman.
b. Hendaknya mengembangkan keilmuan yang ada dengan melihat kultur sosial masyarakat yang mempunyai diferensiasi dalam ideologi keagamaan.
c. Walaupun pondok pesantren kurang memprioritaskan administrasi yang berhubungan dengan pemerintah, setidaknya administrasi sebagai pelengkap unsur-unsur pendidikan disempurnakan.
2. Pondok pesantren Suryabuana
a. Hendaknya memberikan tambahan jadwal bagi kajian-kajian keilmuan bagi para santri, walupun jadwal beribadah dalam kesehariannya sudah penuh.