DASAR TEORI
A. Deskripsi Teori
3. Materi Pokok Massa Jenis
Materi pokok massa jenis merupakan salah satu materi pembelajaran fisika di SMP Negeri2Gamping pada kelas VII F semester pertama. Materi pokok masa jenis terdiri dari beberapa topik, antara lain: 1.Satuan massa jenis 2. Menentukan massa jenis beberapa zat 3.Menentukan jenis zat dengan massa jenis
1. Satuan Massa Jenis
Massa jenis didefenisikan sebagai massa zat dibagi volumenya. Hal itu berarti satuan massa jenis sama dengan satuan massa di bagi satuan volume.
72
Dalam SI satuan massa adalah kg dan satuan volumenya adalah m3. Jadi satuan massa jenis adalah kg/m3 atau kgm-3.
Dalam sistem CGS, satuan massa adalah gram dan satuan volum adalah cm3, maka satuan massa jenis adalah gram/cm3. Bagaimana perubahan nilai massa jenis zat dari sistem SI dalam sistem CGS? coba cari hubungan yang ada! dengan melihat di tabel yang terdapat dalam buku fisikamu.
2. Menentukan Massa Jenis Berbagai Zat
Untuk mengukur massa jenis sutu zat,terlebih dahulu diukur massa dan volumnya. Selanjutnya massa jenis dihitung dengan rumus = .
a. Zat Padat
1). Zat padat yang bentuknya teratur
Massa zat diukur dengan neraca atau timbangan. Untuk mengukur volume zat yang bentuknya teratur, misalnya kubus,balok dan selinder, caranya sangat mudah. Ukur panjang sisi atau garis tengahnya dengan mistar atau jangka sorong. Dengan mengunakan rumus dapat dihitung volume benda itu. Massa jenis dapat diketahui dengan menghitung
2). Zat padat yang bentuknya tidak teratur
Untuk mengukur volume benda padat yang bentuknya tidak teratur digunakan gelas ukur. Caranya adalah sebagai berikut
(1). Masukan sejumlah air ke dalam gelas ukur, misalnya sampai skala 50 ml (2).Masukan benda yang akan diukur massa jenisnya. Catat kenaikan
73
(1 ml =1 cc = 1 cm3).Jika massa benda 193 gram maka massa jenisnya :
= 19,3 g/cm3
b. Zat Cair
Massa jenis zat cair dapat diukur dengan mengunakan hidrometer. Hidrometer dilengkapi dengan skala massa jenis dan pemberat agar posisi hidrometer vertikal. Besar massa jenis ditunjukan oleh skala yang lurus atau datar dengan permukaan zat cair. Semakin dalam hidrometer tercelup, menyatakan semakin kecil massa jenis zat cair. Sebaliknya semakin dangkal hidrometer tercelup, semakin besar massa jenis zat cair.
3. Menentukan Zat dengan Massa Jenis
Bagaimana cara menentukan nama zat berdasarkan massa jenisnya? Massa jenis berbagai zat dapat dilihat seperti pada tabel berikut:
Tabel 1. Massa jenis beberapa zat.
No Nama Zat MassaJenis
Kg/m3 g/cm3 1 Udara 1,3 0,0013 2 Alkohol 790 0,79 3 Aluminium 2.700 2,7 4 Kayu Balsa 130 0,13 5 Darah (370 c) 1.060 1,06 6 Tulang 1.600 1,6 7 Karbon dioksida 2,0 0,002
74
Dengan mengetahui massa jenis suatu zat, kita dapat menentukan jenis suatu zat. Caranya adalah dengan mengukur massa dan volumnya, kemudian membagi massa dengan volume sehingga diperoleh massa jenis. Dengan mencocokan nilai massa jenis dalam tabel, dapat diketahui jenis zatnya, Misalnya sekelompok siswa melakukan percobaan, dan diperoleh data seperti tabel berikut:
Tabel 2. Menentukan Massa Jenis Zat
Nama Benda Massa (g) Volum (cm3) Massa Jenis (g/cm3)
A B C D 15,6 16,8 62,4 67,2 2 2 8 8 7,8 8,4 7,8 8,4 Sumber: Adul Khalim dkk (2003:30).
Dengan mencocokan nilai massa jenis sutu zat, kelompok siswa tadi dapat mengetahui nama bendanya, yaitu A dan C adalah besi, sedangkan B dan D adalah kuningan. Dari percobaan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut.
1. Jenis zat dapat diketahui dari massa jenisnya. 2. Zat yang sejenis memiliki massa jenis yang sama. B. Kerangka Berpikir
Berdasarkan deskripsi dalam paparan pada bab ini maka dapat disusun kerangka berpikir yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Fisika dalam pembelajaran atau pelaksanaan pendidikan tidak cukup hanya memperhatikan dua aspek proses dan produk atau materi yang dikuasai siswa, tetapi lebih dari itu, dalam aspek proses diharapkan dapat memunculkan
75
keterlibatan sikap ilmiah (scientific attitude) pada individu siswa. Proses ilmiah yang dimaksud misalnya melalui pengamatan, eksperimen, dan analisis yang bersifat rasional. Sedang sikap ilmiah misalnya objektif dan jujur dalam mengumpulkan data yang diperoleh. Mempelajari fisika akan bermakna manakala pengetahuan dicari dan ditemukan sendiri oleh siswa. Sehingga belajar lebih dari sekedar proses menghafal dan memupuk ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan yang diperolehnya bermakna untuk siswa. Pengetahuan itu dapat diperoleh ketika siswa melakukan aksi atau tindakan terhadap suatu rangsang, maka siswa akan memperoleh pengalaman fisik. Dengan demikian proses pembelajaran dapat mengaktifkan siswa (Student Centered) atau pembelajaran akan berpusat pada aktivitas siswa. Salah satu cara untuk meningkatkan keberhasilan belajar siswa adalah dengan cara menggunakan model pembelajaran yang dapat mengarahkan kepada keaktifan optimal belajar siswa atau yang lebih banyak melibatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa adalah model pembelajaran Project Based Learning. Dalam model pembelajaran Project Based Learning siswa dilatih untuk menemukan konsep-konsep dari aktivitas belajarnya dan mengetahui bagaimana teori dan rumus-rumus diperoleh serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan digunakannya model pembelajaran Project Based Learning berarti siswa memperoleh pengetahuan/konsep berdasarkan aktivitas belajar siswa sehingga konsep akan tertanam kuat pada diri siswa dan kemampuan kognitif siswa yang sesuai dengan standar kelulusan akan tercapai. Kegiatan merancang
76
percobaan yang dilakukan dapat mengaktifkan siswa dan menciptakan pembelajaran menarik, sehingga keterampilan psikomotor dan afektif siswa akan berkembang. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa prestasi belajar siswa pada aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotorik akan meningkat. Besarnya peningkatan prestasi siswa dapat dinyatakan dengan angka yang ditunjukkan oleh kemampuan kognitif siswa diperoleh dari hasil post test,
Model pembelajaran Project Based Learning yang akan dilakukan pada penelitian ini, dengan cara guru memberi proyek pada siswa berupa merancang percobaan pada materi pokok massa jenis. Pembelajaran ini diawali dengan pemberian pre test yang berfungsi untuk merangsang pengetahuan awal siswa dan sebagai gambaran terhadap materi yang akan dipelajari, kemudian guru memberi sebuah LKS yang berisi proyek dan tugas berupa pertanyaan inquiry.Siswa merancang percobaan untuk mencari jawaban dari pertanyaan inquiryyang tertulis pada LKS. Pertanyaan inquiry itu berisi pertanyaan yang menuntun kearah konsepmassa jenis dan bisa dijawab apabila siswa merancang percobaan. Kemudian hasil kerja proyek siswa dipresentasikan dan didiskusikan agar mendapat konsep materi yang benar dan diakhiri dengan post test untuk menjaring kemampuan kognitif siswa setelah mengikuti proses pembelajaran. Dengan demikian siswa memperoleh konsep dan melihat aplikasinya dengan aktivitas belajarnya melalui proses ilmiah, sehingga konsep tersebut didapat tidak sekedar ditampilkan dalam bentuk teori dan rumus yang bersifat text book. Secara ringkas langkah pembelajaran Project Based Learning meliputi: essensial question(pertanyaan essensial),plan(perencanaan), schedule(menyusun jadwal),
77
monitor (monitoring), asses (penilaian), dan evaluated (evaluasi). Oleh sebab itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VII F SMPNegeri 2 Gamping melalui model pembelajaran Project Based Learning khususnya pada materi pokok massa jenis.
C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian teori dan kerangka berpikir, dapat dimunculkan suatu hipotesis bahwa model pembelajaran Project Based Learning yang digunakan dalam pembelajaran fisika di kelas VII F SMP Negeri2 Gamping dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
D.Indikator Keberhasilan
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi pembelajaran, dalam hal ini prestasi belajar siswa kelas VII F SMPNegeri2Gamping. Oleh karena itu indikator keberhasilan penelitian ini ditandai dengan adanya peningkatan prestasi belajar siswasetelah menggunakan model Project Based Lerning. Indikator keberhasilan yaitu terpenuhinya batas kriteria kelulusan minimal (KKM) yang berlaku disekolah yaitu mencapai skor 7.0.
78
BAB III