HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Paparan Proses Penelitian
2. Tindakan Siklus I
Sebelum melaksanakan tindakan pada siklus I, peneliti menyampaikan kepada siswa bahwa pembelajaran yang akan dilaksanakan menggunakan model Project Based Learning berupa merancang percobaan di laboratorium. Siswa terlihat senang ketika mendengar akan melaksanakan percobaan di labotorium. Hal ini karena siswa sudah bosan dengan kegiatan pembelajaran fisika yang biasa dilakukan dan siswa tidak pernah diajak melaksanakan percobaan.
Kegiatan pembelajaran siklus I dilaksanakan dengan metode eksperimen dan metode diskusi selama dua kali pertemuan yaitu pertemuan pertama pada hari sabtu 01 Oktober 2011 dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Dan pertemuan kedua pada hari sabtu 08 Oktober 2011 dengan alokasi waktu 2 x 40 menit. Mengapa pelaksanaan satu siklus ini bisa dilaksanakan sampai dua kali pertemuan, karena keterbatasan waktu dari pihak sekolah. Pada pertemuan pertama waktu yang teralokasi peneliti gunakan untuk melakukan pre test10 menitdan pembagian kelompok selama 10 menit, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan tentang proyek massa jenis zat padat dilaksanakan selama 15 menit.Penjelasantentang massa jenis zat cair dilaksanakan selama 15 menit, penjelasantentang pengukuran bentuk benda yang tidak beraturan selama 10 menit serta latihan pengerjaan
soal-89
soal tentang massa jenis selama 10 menit dan 10 menit terakhir siswa terlibat mendiskusikan rencana proyek yang akan dilaksanakan pada pertemuan kedua yaitupada hari Sabtu tanggal 08 Oktober 2011 selama 2 x 40 menit, dengan rincian waktu untuk penyelesaian proyek selama 40 menit, presentasi hasil dan pembahasan dilaksanakan pada pertemuan itu selama 20 menit hanya perwakilan kelompok saja yang dapat mempresentasikan hasil kerja proyek karena keterbatasan waktu, dan 20 menit pelajaran terakhir dilaksanakan post test. Pembelajaran yang dilakukan diamati oleh peneliti. Adapun yang menjadi fokus dalam pengamatan tersebut adalah mengamati keterampilan psikomotorik dan afektif siswa pada saat melaksanakan proyek berupa merancang percobaan, dan kejadian-kejadian lain yang berkaitan dengan jalannya kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Langkah-langkah pembelajaran pada siklus I ini meliputi:
1) Questions
Pada tahap ini guru merangsang pengetahuan awal siswa melalui pemberian pre test selama 10 menit. Setelah selesai pre test siswa mengumpulkan pekerjaannya pada peneliti. Adapun pertanyaan pre test yang diberikan untuk mengetahui pengetahuan awal siswa adalah sebagai berikut : Mengapa kubus besi pejal 1 cm3 tenggelam ketika kita masukan dalam air? Jelaskan menurut pendapatmu mengapa minyak dan air terpisah ketika kita campurkan dalam botol meskipun dikocok? Jelaskan menurut pendapatmu.
2) Plan
Pada tahap perencanaan ini, pembagian kelompok 10 menit dan penjelasan materi massa jenis untuk topik zat padat 15 menit, topik massa jenis zat cair 15
90
menit, pengukuran benda tidak beraturan 10 menit dan latihan soal-soal 10 menit dan 10 menit terakhir pada pertemuan pertama terlihat aktivitas siswa menyusun rencana yang akan dilakukan untuk menyelesaikan proyek yang telah ditugaskan. Agar siswa mengetahui aktivitas yang akan dilakukan, guru memberikan penjelasan tentang skenario pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan indikator pembelajaran yang akan dicapai. Proyek pembelajaran yang diberikan berupa merancang percobaan. Sebagai panduan proses pembelajaran, guru membagikan LKS yang berisi proyek dan pertanyaan inquiry. Siswa membaca LKS yang telah dibagikan persiswa dan berdiskusi sesama anggota kelompok untuk melaksanakan proyek yang ada pada LKS. Pada saat proses diskusi tidak semua siswa melakukannya. Setiap kelompok hanya dua atau tiga siswa yang melakukan diskusi, siswa lainnya ada yang mengobrol danhanya diam sehingga terlihat bahwa kerjasama antar anggota kelompok masih kurang.
Gambar 3. Siswa masih bingung untuk mengerjakan proyek
Meskipun sudah diberi kesempatan diskusi untuk merencanakan proyek, para siswa masih mengalami kebingungan terhadap aktivitas yang akan mereka lakukan sehingga peneliti banyak membimbing dan memancing-mancing siswa
91
agar dapat menemukan caranya sendiri untuk merancang percobaan yang dijadikan proyek dapat dilihat pada gambar 3di atas.
3) Schedule
Agar waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan proyek pada siklus I efisien,guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas untuk melaksanakan proyek.Jadwal aktivitas itu meliputi dua pertemuan. Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 01 Oktober 2011 selama 2 jam pelajaran atau 80 menit, dengan rincian siswa melakukan pre test10 menit dan pembagian kelompok selama 10 menit, kemudian dilanjutkan dengan penjelasantentang proyek massa jenis zat padat dilaksanakan selama 15 menit, penjelasantentang massa jenis zat cair dilaksanakan selama 15 menit dan penjelasantentang pengukuran bentuk benda yang tidak beraturan selama 10 menit, latihan soal-soal massa jenis 10 menit dan 10 menit terakhir siswa dalam kelompok merencanakan proyek yang akan dibuat untuk pertemuan kedua.Pada pertemuan kedua hari Sabtu08 Oktober 2011 selama 2 x 40 menit,dengan rincian waktu dilaksanakan penyelesaian proyek selama 40 menit. Presentasi hasil dan pembahasan dilaksanakan pada pertemuan itu selama 20 menit hanya perwakilan kelompok saja yang dapat mempresentasikan hasil kerja proyek karena keterbatasan waktu, dan 20menit pelajaran terakhir dilaksanakan post test.
4) Monitor
Pada tahap monitoring, guru bertanggung jawab mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Dalam hal ini guru menyediakan alat-alat percobaan yang digunakan untuk merancang ketiga percobaan pada LKS,
92
yaitu percobaan massa jenis pada zat padat peralatan yang disediakan adalah kubus besi pejal, kubus aluminium pejal dan neraca ohaus dan pengaris. Tujuannya untuk membuktikan adanya perbedaan massa jenis antara dua benda yang berbeda.Percobaan massa jenis zat cairperalatan yang disediakan adalah gelas kimia, air, minyak kelapa dan botol. Tujuannya untuk menunjukkan massa jenis zat cair. Kegiatan yang terakhir yaitu bentuk benda tidak beraturan peralatan yang dibutuhkan adalah air, gelas ukur, pengaris, neraca ohaus. Tujuannya untuk mengukur volume benda yang bentuknya tidak beraturan.
Selain itu peneliti juga bertanggung jawab menjadi fasilitator bagi aktivitas siswa, dalam hal ini peneliti memantau, mendorong, dan membantu siswa ketika mengalami kesulitan terhadap semua aktivitas belajarnya. Para siswa terlihat kurang memahami proyektentang massa jeniszat padat,massa jenis zat cair, danpengukuran bentuk benda tidak beraturan.
Peralatan yang digunakan pada proyekmasa jenis zat padat adalah benda besi pejal, aluminium dan neraca. Benda yang berbeda jenis dan sama volumenya digunakan untuk mengetahui massa jenis suatu benda yang dihasilkan. Dengan mengukur volumenya yang samadan massa benda yang berbeda kemudian melakukan perhitungan dengan rumus massa jenis ρ = . Benda dengan massa yang lebih besar menunjukkan besarnya massa jenis yang dihasilkan, semakin kecil massa suatu benda maka semakin kecil massa jenis suatu benda. Untuk mengetahui hubungan massa jenis suatu zat cair yaitu antara air dan minyak kelapa, maka minyak kelapa dan air dicampurkan dalam satu wadah kemudian dikocok, dengan mengamati air dan minyak kelapa dalam gelas kemudian
93
didiamkan beberapa menit terjadilah perbedaan campuran posisi minyak kelapa berada diatas permukaan air sedangkan air berada dibawah permukaan minyak kelapa dengan memahami konsep massa jenis ternyata minyak goreng massa jenisnya lebih kecil dibandingkan dengan air.
Gambar 4. Siswa mempelajari pertanyaan penuntun pada LKS
Setelah kegiatan selesai, siswa menjawab pertanyaan inqury yang ada pada LKS. Pada kegiatan ini siswa masih terlihat kebingungan sehingga guru masih membimbing dan memancing-mancing dalam merancang percobaan dan menjawab pertanyaan inquiry dapat dilihat pada gambar 4 di atas.
ix
Siswa mengukur beberapa massa kubus, mengunakan neraca ohaus untuk mengetahui massa jenis dari kubus besi dan aluminium. Meskipun siswa sudah mulai terbiasa merancang percobaan siswa masih mengalami kesulitan melakukan pengukuran massa jenis benda menggunakan neraca ohaus sehingga waktu dibutuhkan lebih banyak untuk membimbing mereka. Untuk mengatasinya peneliti harus menerangkan terlebih dahulu cara mengukur massa jenis benda menggunakan neraca ohaus. Selanjutnya siswa baru merancang percobaanyaitu dengan menimbang massa kubus besi, aluminium dan bentuk besi yang tidak beraturan. Pada kegiatan ini siswa sudah mulai menikmati kegiatan percobaan dan dilihat dari raut muka siswa terlihat senang mengikuti pembelajaran dengan model ini. Setelah selesai kegiatan percobaan siswa berdiskusi menjawab pertanyaan inquiry pada LKS, kegiatan ini dapat diamati pada gambar 5 di atas.
Gambar 6. Siswa mendiskusikan pertanyaan pada LKS
Pada diskusi kelompok untuk pertanyaan pada LKS ini masih banyak siswa yang bertanya pada peneliti cara merancang percobaan sehingga peneliti harus membimbing dan memancing-mancing siswa untuk menemukan sendiri cara merancang percobaan melalui aktivitasnya. Hal itu disebabkan para siswa belum
x
bisa memanfaatkan kesempatan diskusi untuk merencanakan percobaan dan kerjasama dalam kelompok masih kurang dapat dilihat pada gambar 6 di atas.
Gambar 7. Siswa Mempresentasikan Hasil Proyek
Presentasi hasil dilaksanakan setelah proses merancang percobaan selesai dan pertanyaan inqury yang ada pada LKS selesai dikerjakan. Kegiatan ini guru memberi kebebasan kepada para siswa yang akan mempresentasikan dengan mengacungkan jari terlebih dahulu. Tidak semua siswa yang presentasi atas inisiatif sendiri tetapi karena ditunjuk guru hal ini karena kebanyakan siswa tidak percaya diri terhadap pekerjaannya dan ada sebagian siswa yang presentasi tetapi tidak maju kedepan kelas dapat dilihat pada gambar 7 di atas.
Untuk menyamakan konsep materi pembelajaran guru dan siswa melakukan diskusi tanya-jawab dengan tujuan mengevaluasi dan meluruskan konsep yang masih salah serta guru memberikan informasi tambahan mengenai materi yang tidak terdapat dalam percobaan. Guru mengarahkan siswa untuk menyimpulkan hasil diskusi yang mengarah pada konsep fisis, yaitu dengan cara memancing
xi
siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada konsep fisisnya dan siswa yang menjawabnya.
Selanjutnya guru menghadirkan kembali pertanyaan diawal yaitu Mengapa kubus besi pejal 1cm3 tenggelam ketika kita masukan dalam air? Jelaskan menurut pendapatmu? Mengapa minyak dan air terpisah ketika kita campurkan dalam botol meskipun dikocok? Jelaskan menurut pendapatmu. Kemudian dilakukan diskusi untuk pemecahannya dengan cara mengaitkan konsep materi yang telah dipelajari. Guru juga memberi kesempatan siswa untuk bertanya tentang materi yang belum dipahami. Setelah tidak ada pertanyaan dari siswa, guru membagikan soal post test untuk mengetahui tingkat penguasaan konsep siswa.
5) Assess
Penilaian dilakukan dengan dengan memberi tes. Pre test digunakan untuk mengetahui pemahaman awal sedangkan post test untuk mengetahui hasil akhir setekah adanya tindakan. Hasil pre test rata-rata 49,13 dan post test rata-rata 72,48 dengan selisih 24,35 menjadi bahan penilaian proses pembelajaran untuk mengukur ada tidaknya peningkatan prestasi belajar siswa, Kemudian yang menjadi acuan mutlak apakah model pembelajaran dengan Project Based Learning dapat meningkatkan prestasi belajar fisika siswa dengan cara melihat nilai perbandingan antara nilai Post test dengan nilai KKM yang ditetap oleh sekolah, jika nilai post test ≥ nilai KKM sekolah maka model Project Based Learning dapat dikatakan meningkatan prestasi belajar fisika siswa SMP Negeri 2 Gamping sedangkan jika nilai post test lebih kecil dari nilai KKM sekolah maka
xii
model Project Based Learning tidak dapat meningkatan prestasi belajar siswa. Dengan melihat nilai rata-rata post test yang peneliti peroleh ≥ KKM adalah 72,48
maka dapat dikatakan bahwa model Project Based Learning dapat meningkatkan presatasi belajar fisika siswa. Sedangkan lembar evaluasi dan dokumen berupa foto-foto sebagai data kualitatif untuk pembahasan.
6) Evaluate
Pada akhir proses pembelajaran, guru dan siswa melakukan evaluasi dan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan dengan cara siswa diminta untuk mengisi lembar evaluasi pembelajaran yang berisi tentang ungkapan perasaan dan pengalaman siswa selama mengikuti proses pembelajaran dapat dilihat pada lampiran 5. Dari lembar evaluasi tersebut diketahui bahwa siswa senang dengan model pembelajaran project based learning dan siswa meminta agar jika diadakan siklus berikutnya guru mau menerangkan lebih jelas materi yang dipelajari karena siswa merasa belum mantap terhadap materi yang dikuasai.
Proses refleksi juga dilakukan dengan cara melakukan diskusi antara guru peneliti dan guru mata pelajaran. Dari diskusi tersebut diperoleh bahwa proses pembelajaran pada siklus ini sudah terjadi proses belajar mengajar yang baik dan sudah terlihat bahwa siswa mau belajar, bekerjasama dalam kelompok dan terlibat langsung dalam proses belajar mengajar mereka berani melakukan eksperimen dengan merancang percobaaan sebagai proyek. Untuk lebih meningkatkan kerjasama dalam melakukan proyek maka guru terus memotivasi dan membangkitkan semangat siswa.
xiii