BAB 2 MATERI DAN METODE KULIAH KERJA PROFESI
1. Materi Umum
Semakin berjalannya waktu, sumber daya manusia dalam dunia kerja berkembang semakin pesat. Pelatihan kerja di luar kampus atau magang wajib diberikan oleh sekolah tinggi, universitas, maupun institusi kepada mahasiswanya sebagai sumber daya manusia di dalam dunia kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan dan pendidikan kerja profesi sesua dngan program studi/jurusan yang ditempuh oleh sumber daya manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, Kuliah Kerja Profesi (KKP) menjadi mata kuliah yang bermaksud memberi dan menambah wawasan mahasiswa mengenai dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang terkenal akan profesionalitas keahlian keseniannya tak ketinggalan juga memberika mata kuliah ini kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Meskipun terkendala oleh adanya pandemi COVID-19 namun hal ini tidak menghalangi terlaksananya KKP pada tahun 2020. Melalui kegiatan KKP mahasiswa diharapkan dapat menyalurkan penguasaan kompetensi keahlian berupa hard skill dan soft skill yang telah didapatkan selama perkuliahan dan mengaplikasikannya dalam dunia kerja.
Melalui pembekalan KKP 2020 yang disampaikan dalam pertemuan daring oleh Ketua Program Studi Film dan Televisi menyarankan agar semua mahasiswa dapat memilih tempat KKP sesuai dengan potensi dan kemampuan masing- masing mahasiswa, selain itu dengan mempertimbangkan Tugas Akhir skripsi maupun karya yang dipilih oleh setiap mahasiswa. Oleh karena itu, rumah produksi film menjadi salah satu pilihan penulis untuk melaksanakan KKP dan mengembangkan potensi kreatifitas supaya dapat menjadi pengalaman dalam bidang tata artistik untuk kebutuhan penulisan skripsi nantinya.
Rumah produksi atau biasa disebut “Production House” melakukan produksi audio visual sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku, untuk keperluan lembaga penyiaran. Rumah produksi adalah sebuah badan usaha yang mempunyai organisasi dan keahlian dalam memproduksi
program-program audio visual untuk disajikan kepada khalayak.
Umumnya sebuah Rumah Produksi memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan perusahaan lain (Laksono), diantaranya:
a. Masa kerja relatif 24 jam sehari b. Tidak bekerja berdasarkan birokrasi c. Aturan luwes
d. Demokratis e. Kreatif
f. Saling menghargai, saling percaya, dan saling pengertian diantara pimpinan dan pelakasana.
Jenis-jenis rumah produksi sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Production House Agency
Merupakan sebuah rumah produksi yang sebagian besar kegiatnnya tidak memproduksi suatu program secara langsung, melainkan melalui rumah produksi lain atau dengan kata lain hanya sebagai perantara. Walaupun terjadi kontrak dengan stasiun televisi, namun tidak membuat sendiri produk yang dijualnya. Selain itu rumah produksi dengan jenis ini terkadang juga menjadi satu atau sebagai bagian dalam perusahaan periklanan, dimana untuk iklan yang akan tayang sebagai sponsor suatu paket program acara dapat tayang melalui rumah produksi ini.
2. Production House Produksi
Merupakan sebuah rumah produksi yang kegiatan sehari-harinya memproduksi suatu program baik acara televisi, iklan, film layar, lebar, maupun video klip.
Yang kegiatannya meliputi perencanaan, shooting, editing, hingga pemasaran.
Kontrak Production House Produksi tidak hanya kepada stasiun televisi, namun bisa juga dengan pihak lain atau independen. Loste Production sendiri termasuk dalam Production House yang independen yakni atas produksi film pendek maupun panjang.
8 2. Materi Khusus
Selama kegiatan KKP, penulis mendapatkan materi khusus mengenai tata artistik, sebagai langkah pertama kami menonton secara bersama film.
Setelah kami selesai menonton kami membuka sesi diskusi dan kami
dipersilahkan untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan tentang devisi yang kami ambil dalam melaksanakan Program KP, disini penulis yang mengambil kesempatan untuk menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Tata Artistik kepada pembuat ide karya secara langsung.
Tata Artistik sendiri merupakan sebuah konsep yang luas, yang meliputi beberapa elemen visual produksi film seperti perancangan dan konstruksi set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostum. Sebagai bagian dari praproduksi dan produksi. Tata artistik berperan penting dalam memberikan semacam rupa atau wajah dari film itu sendiri.
Rupa atau wajah film tidak hanya berkaitan dengan penciptaan gaya saja melainkan juga peluang untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang bagaimana seluruh elemen dapat digunakan untuk memperkuat citra visual sebuah film serta kisah yang di sajikan. Karena itu, tata artistik memiliki beberapa fungsi sebagai berikut,
1. Membentuk konteks cerita
Fungsi tata artistik dalam film yang pertama adalah membentuk konteks cerita. Hal ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa elemen visual seperti perancangan dan konstruksi set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostum sehingga apa yang disajikan di layar merupakan sebuah satu kesatuan cerita yang utuh.
2. Menampilkan karakter tokoh
Fungsi tata artistik dalam film selanjutnya adalah untuk menampilkan karakter tokoh dalam film. Hal ini biasanya terkait dengan tata rias artis serta kostum yang digunakan. Salah satu fungsi tata rias adalah menampilkan karakter tokoh terkait dengan usia, ras, bentuk wajah, dan tubuh agar sesuai dengan naskah. Selain melalui tata rias, tampilan karakter tokoh dapat film juga dapat diperkuat melalui kostum yang dikenakan sesuai dengan naskah.
3. Menambah efek dramatis
Tata artistik dalam film juga berfungsi untuk menambah efek dramatis. Hal ini berkaitan dengan riasan wajah, kostum, serta properti yang digunakan.
Misalnya, seorang tokoh yang digambarkan tertembak di bagian dada akan dirias demikian sesuai dengan kebutuhan seperti baju yang tertembus peluru, darah yang digambarkan keluar dari tubuh, dan lain sebagainya. Efek dramatis film juga dapat ditambah dengan musik latar yang digunakan.
4. Menyampaikan cerita secara visual
Fungsi tata artistik dalam film berikutnya adalah menyampaikan cerita secara visual. Hal ini biasanya berkaitan dengan perangcangan dekorasi yang digunakan dalam film sesuai dengan naskah. Yang termasuk dekorasi di sini meliputi berbagai macam properti (properti utama maupun pendukung) furnitur, dan asesoris yang digunakan di lokasi syuting. Berbagai item dekorasi yang digunakan dalam film umumnya merujuk pada latar belakang waktu dari naskah cerita apakah masa lalu, masa kini, atau masa depan.
Masing-masing memerlukan riset mendalam agar film nantinya dapat menyampaikan cerita secara visual.
5. Membentuk suasana dan atmosfer film
Tata artistik dalam film juga berfungsi untuk membentuk suasana dan atmosfer film kepada khalayak. Hal ini biasanya berkaitan dengan warna dan tekstur yang digunakan. Baik warna dan tekstur dapat mencerminkan karakter sang tokoh. Warna dapat mencerminkan latar belakang sosial dan budaya dari karakter sang tokoh. Di samping itu, warna juga dapat digunakan untuk menekankan tema atau suasana dari cerita film. Selain warna, tekstur juga dapat membentuk suasana dan atmosfer film. Misalnya, sebuah kamar yang dipenuhi dengan berbagai objek yang lembut dan terang seperti cermin merefleksikan kepribadian yang terbuka dan ceria.
Penulis selanjutnya diberikan tugas oleh mentor untuk mengamati salah satu objek dengan profesi tertentu, lalu penulis memilih untuk mengamati tukang parkir di salah satu tempat parkir wilayah sekitar tempat magang.
Setelah pengamatan beberapa hari, penulis di minta bagaimana hasil
pengamatan selama satu hari kepada mentor berkaitan dengan pakaian yang dikenakan, seperti apa make up saat mereka bekerja dan karakter subjek yang penulis amati. Dan mentor menyampaikan tujuan dari pengamatan adalah
10 bagaimana cara membangun sebuah karakter melalui pakaian, make up dan
artistik linkungan sesuai karakter dalam sebuah naskah.
Kemudian dalam salah satu penugasan yang diberikan oleh mentor, Saya berkesempatan untuk menciptakan karakter fiksi dalam bentuk wayang untuk kebutuhan pembuatan film untuk lomba yang diadakan oleh UNESA.
Dalam setiap karakter memiliki sifat yang berkaitan dengan elemen Air, Api, Tanah dan Angin, tahapan pertama penulis adalah mencari nama sesuai dengan karakter yang disebutkan diatas dengan melihat beberapa referensi nama lain dari 4 elemen tersebut dalam bahasa sansekerta penulis memilih nama :
1. Api sebagai Agni 2. Air sebagai Tirta 3. Angin sebagai Panawa 4. Tanah sebagai Siti
Setelaha penulis mempresentasikan calon nama tersebut seluruh tim
menyetujuinya dan giliran Penulis menggambar karakter dari 4 elemen diatas.
B. Metode Kerja Profesi
Selama pelaksanaan KKP di Loste Production, penulis telah menggunakan beberapa metode untuk mendapatkan data dan materi. Metode yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Berikut adalah pengumpulan data primer dan sekunder yang digunakan penulis:
1. Pengumpulan Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian (Bunging, 2005). Oleh karena itu, data primer diperoleh oleh penulis saat pelaksanaan KKP berlangsung. Adapun metode yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data primer yaitu melalui observasi, wawancara, dan partisipasi.
a. Observasi
Metode observasi adalah teknik pengumpulan yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat,
pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan (Mamik, 2015).
Awalnya penulis diberi materi tentang metode produksi film yang diterapkan di Loste Production, yaitu melalui riset yang kemudian datanya digunakan sebagai sumber penciptaan film. Cerita yang dipilih adalah berdasarkan realita yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah cerita fiksi. Hal ini merupakan metode baru bagi penulis dan cukup menarik karena berbeda dari metode membangun karakter dalam sebuah film fiksi pada umumnya. Selanjutnya penulis turun langsung ke lapangan melakukan observasi di beberapa tempat seperti cafe, pedalangan, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk menemukan karakter-karakter yang akan di bangun dalam naskah.
b. Wawancara
Menurut Moleong (1988:148) wawancara adalah kegiatan percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai (Mamik, 2015). Wawancara yang dilakukan penulis bersifat non formal berupa obrolan santai dengan narasumber.
Hal ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan, informasi, dan menjalin keakraban dengan narasumber. Penulis bersama tiga anggota kelompok KKP lainnya telah melakukan wawancara secara non-formal kepada Moudy, seorang perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan fisik dalam menjalin hubungan.
c. Partisipasi
Penulis dituntut untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses kerja, terutama pada saat brainstorming ide dengan anggota kelompok KKP dan mentor. Penulis ikut menyumbangkan ide-ide kreatif selama pengolahan ide, penyusunan cerita, hingga akhirnya siap untuk ditulis dalam bentuk naskah film fiksi.
2. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang sebelum peneliti memasuki lapangan sudah tersedia, baik itu dalam bentuk kepustakaan, dokumen- dokumen, foto-foto, maupun berdasarkan obrolan orang atau dari manapun yang hal tersebut berhubungan dengan penelitian yang dilakukan (Setiawan, 2018). Data yang dikumpulkan penulis berupa dokumentasi dan data-data penting lainnya yang digunakan sebagai studi pustaka. Studi pustaka yang berisi dokumen-dokumen dari hal yang diamati akan melengkapi data observasi dan wawancara yang telah
12 dilakukan (Setiawan, 2018). Data berupa dokumen yang digunakan untuk menulis laporan ini di antaranya adalah catatan atau data-data yang berupa profil dan sejarah berdirinya Loste Production, biografi Sito Fossy Biosa, dan data lainnya seputar Loste Production. Analisis dokumen inilah yang memperkuat laporan KKP. Kemudian, penulis
juga menggunakan dokumentasi berupa foto yang dipotret penulis ketika melakukan kegiatan KKP di Loste Production.
BAB III PELAKSANAAN KERJA PROFESI
A. Tinjauan Umum Rumah Produksi 1. Sejarah Loste Production
Bersama dengan M. Falah Al Faila Sufi dan Mikael Bagus W, Loste Production mulai merintis film perdana berupa film dokumenter Soak Ngalam (2012) yang berhasil diputar di Temu Karya TV daN Film Nasional ISI Padangpanjang, Sumatera Barat. Juga menggarap film eksperimental . Tenjik (2012) diputar di Surabaya Move On dan Turtle Nation (2012) yang diputar di galeri Gedung Daya Joeang, Surakarta. Sempat bekerjasama menjadi tim artistik TVC “Ulang Tahun BRI 117 Th” (2012). Pada tahun 2013 Loste Production melalui Osa (Sito Fossy Biosa) memutuskan magang sebagai tim artistik serial drama televisi ACUN di tempat Garin Nugroho SET Film setelah sebelumnya menggarap film eksperimental Kiprah Lengger yang diputar di Experimental &
Documentary Movie Festival Cisangkan, Bandung dan Institut Francais Indonesia Bandung.
Setelah menyelesaikan rutinitas magang di SET Film, Loste Production ditawari bekerjasama dengan salah satu rumah produksi di Tangerang Selatan, JC Production milik seorang produser film Jane Chrisdianty. Osa menyutradarai enam film fiksi pendek mereka. Beberapa diantaranya sukses masuk ke Bioskop nasional Platinum Cineplex, lolos di taraf festival nasional hingga internasional;
Goresan Dimensi, JUAN, dan Celengan Gawe Bapak diputar di Bioskop Platinum Cineplex, Festival Pesta film Anak di Surakarta, hingga Sharjah International Children’s Film Festival di United Arab Emirates. Setelah sepulangnya dari Jakarta, Loste Production ditawari kembali membuat film dokumenter bersama produser Elena Diez Villagrasa (Spain) dan Victor Hugo Hidalgo (Mexico) dari Gnayaw Puppet Company untuk penggarapan film dokumenter puitis di tahun 2014. Dibantu dengan kawan – kawan baru film dokumenter puitis Wayang Sampah Laut dan Sampah Kuliner berhasil diputar dan dipentaskan di bentara budaya balai Soejadmoko Gramedia Surakarta dan Harmony Puppet Carnival di Bangkok,Thailand.
14 Perjalanan rumah produksi film ini makin berkembang sejak tahun 2014.
Loste Production bekerjasama dengan Brand International Surfer Girl dalam penggarapan film micro documentary SADEWA yang sukses diputar di Pacitan Jawa Timur dan beberapa kota di Indonesia. Di tahun 2015, Loste Production berhasil menggarap film fiksi fantasi pendek berjudul Ilusi. Berkat distributor film mereka, Hastami Cintya Luthfi, Ilusi diapresiasi hingga Malaysia dan United Arab Emirates sebelum diputar di bioskop Platinum Cineplex dan beberapa kota di Indonesia. Pencapain penonton yang luar biasa membuat Loste Production didanai oleh JIS Pro, Drs. Sriyono Sundoro Hadi, M.M di tahun 2016 untuk pembuatan film fantasi pendek terbaru mereka, Memeluk Angin yang diputar tanggal 12 Juli 2016 di bioskop Platinum Cineplex.
2. Visi dan Misi
Loste Production mengawali tahap perencanaan dengan merumuskan visi &
misi yang berkaitan dengan tujuan dan cita-cita yang di harapkan untuk kedepannya. berikut merupakan visi dan misi dari Loste Production:
Visi : Sebagai sumber utama tontonan anal-anak.
Misi : Rumah produksi film yang didedikasikan untuk tumbuh kembang anak-anak.
Rumah produksi Loste Production menekankan pada pembuatan karya film yang mengangkat isu tentang anak-anak, untuk itulah apa yang tertuang dalam visi dan misi Loste Production merupakan sebuah proses yang terus berjalan dan akan selalu dikelilingi oleh anak-anak.
3. Logo Loste Production
Gambar 2. Logo Loste Production (Sumber: Desain Pono Anggo, 2015)
Tergila-gila dengan Louis Jean Lumiere & Auguste Marie Louis Nicholas Lumiere (Lumiere Brothers), penemu cinematographe (kamera gambar gerak) membuat Sito Fossy Biosa “merakit” nama rumah produksinya menjadi Loste di awal tahun 2010.
Berkaitan dengan logo Loste Production, Sito Fossy Biosa memberikan penjelasan sebagai berikut.
“Logo Loste dengan pilihan tipografi yang lentur memiliki makna naif atau cenderung kekanak-kanakan yang berarti ceria dan spontan. Huruf O pada Loste diganti visual roll film diartikan sebagai simbol putaran yang terus menerus, berkembang besar, dan konsisten.” (Wawancara Sito Fossy Biosa,2016).
4. Struktur Organisasi
Loste Production memiliki struktur organisasi. Berikut struktur organisasi di Loste Production:
Gambar 3. Struktur organisasi Loste Production (Sumber: Dokumen Loste Production, 2015)
Divisi Teknis Distributor
Owner Loste Production
16 Loste Production dimulai dengan pembagian tugas dalam setiap anggota yang tergabung pada sebuah kelompok oraganisasi. Dalam sistem kepengurusan, Loste Production hanya memiliki tiga orang inti saja yang menjabat sebagai pemilik/pendiri rumah produksi, divisi teknis, dan juga distributor, berikut merupkan struktur kepengurusan rumah produksi Loste Production.
Owner (Sito Fossy Biosa) bertugas untuk melakukan perancangan dan persiapan produksi meliputi pembuatan naskah, pemilihan pemain, pelatihan pemain, menentukan hal-hal dalam pra produksi , selain tentunya didapuk sebagai seorang sutradara. Divisi teknis, Yogyakarta (Andika Wahyu Adiputra) bertugas dalam hal pengadan alat yang dibutuhkan selama melakukan produksi seperti; kamera, alat perekam suara, komputer editing dan beberapa hal yang berhubungan dengan teknis. Distributor (Lusia Maria Kristian) bertugas melakukan promosi setelah film selesai diproduksi, distributor Loste Production sejauh ini telah bekerja sama secara tetap dengan bioskop Platinum Cineplex, Hartono Mall Solo paragon dalam hal pemutaran film. Fasilitas alat yang dimiliki oleh Loste Production sejauh ini hanya seperangkat komputer editing karena setiap kali akan memproduksi sebuah film, Loste Production akan melakukan kerjasama dengan pihak tertentu dalam hal pengadaan alat selama proses produksi berlangsung.
5. Layanan Loste Production
Loste Production merupakan sebuah rumah produksi yang menyediakan jasa dan pembuatan produk seni yaitu film. Pada proses menjalankan organisasi , berhubungan dengan karakteristik organisasi dan fungsi manajemen yakni fokus pada produksi film. Loste Production telah berhasil membuat sebuah manajemen seni berintegrasi dengan sebuah karya seni sehingga mampu untuk menjaga eksistensi sebuah karya seni di dunia kesenian itu sendiri.
B. Pelaksanaan Kegiatan 1. Rencana Pelaksanaan KKP
Pelaksanaan program Kuliah Kerja Profesi (KKP) diawali dengan pengajuan proposal dan Curriculum Vitae (CV) ke pihak program studi Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pengajuan proposal serta
CV digunakan sebagai persyaratan seleksi mahasiswa sesuai dengan mentor praktisi yang diinginkan.
Setelah mengajukan proposal dan CV mentor Sito Fossy Biosa mengabarkan bahwa saya bersama tiga anggota KKP yang lain diterima untuk melaksanakan magang di Loste Production. Pertemuan pertama dilakukan secara daring pada tanggal 19 Oktober 2020.
2. Realisasi Kegiatan
a. Adaptasi Lingkungan Kerja
Hari pertama pada tangga 19 Oktober 2020 melaksanakan Kegiatan Kerja Profesi (KKP), penulis dan teman-teman kelompok KKP memperkenalkan diri masing-masing dan berkenalan dengan tim Loste Production. Setelah perkenalan kami melakukan sharing dan diskusi bersama Sito Fossy Biosa.
Beliau menceritakan alur kerja pembuatan film yang dilakukan oleh Loste Production terutama pada tahap pengembangan naskah yaitu mulai pencarian ide hingga penulisan kreatifnya. Dan prosedur apa saja yang dilakukan sebelum memulai produksi. Penulis mencoba memahami dan melaksanakan cara kerja yang dijelaskan oleh Sito Fossy Biosa.
b. Penugasan yang Diberikan oleh Mentor
Penugasan yang diberikan kepada penulis dan teman-teman kelompok KKP cukup beragam diantaranya memilih ide cerita, melakukan riset, pembuatan karakter, dan produksi. Berikut detail tugas yang dikerjakan:
1) Pemilihan ide cerita
Dalam kesempatan pemilihan ide cerita pada penggarapan film yang diadakan UNESA anggota KKP dipersilahkan untuk mencari ide sesuai tema yang diberikan oleh pihak UNESA. Setelah masing-masing dari kami memaparkan ide cerita anggota mulai mendiskusikan kelibahan dan kekurangan setiap ide cerita yang kami miliki, dengan dampingan mentor kami menggabungkan 2 ide dalam satu cerita.
Dalam pemilihan ide cerita setiap dari kami dituntut untuk berkreatifitas secara liar dan beda dari yang lain seperti inovasi-inovasi baru dalam pembuatan film dengan menggunakan wayang dan lain sebagainya.
18 2) Melakukan riset
Penulis selanjutnya diberikan tugas oleh mentor untuk mengamati salah satu objek dengan profesi tertentu, lalu penulis memilih untuk mengamati tukang parkir di salah satu tempat parkir wilayah sekitar tempat magang.
Setelah pengamatan beberapa hari, penulis di minta bagaimana hasil
pengamatan selama satu hari kepada mentor berkaitan dengan pakaian yang dikenakan, seperti apa make up saat mereka bekerja dan karakter subjek yang penulis amati. Dan mentor menyampaikan tujuan dari pengamatan adalah bagaimana cara membangun sebuah karakter melalui pakaian, make up dan artistik linkungan sesuai karakter dalam sebuah naskah.
3) Membentuk Karakter
Kemudian dalam salah satu penugasan yang diberikan oleh mentor, Saya berkesempatan untuk menciptakan karakter fiksi dalam bentuk wayang untuk kebutuhan pembuatan film untuk lomba yang diadakan oleh UNESA.
Dalam setiap karakter memiliki sifat yang berkaitan dengan elemen Air, Api, Tanah dan Angin, tahapan pertama penulis adalah mencari nama sesuai dengan karakter yang disebutkan diatas dengan melihat beberapa referensi nama lain dari 4 elemen tersebut dalam bahasa sansekerta penulis memilih nama :
5. Api sebagai Agni 6. Air sebagai Tirta 7. Angin sebagai Panawa
8. Tanah sebagai Siti
Setelaha penulis mempresentasikan calon nama tersebut seluruh tim
menyetujuinya dan giliran Penulis menggambar karakter dari 4 elemen diatas.
4) Produksi
Setelah melewati pra produksi untuk mengurus perizinan tempat, mencari talent, reading naskah serta pematangan rehearseal penulis dan anggota KKP melakukan produksi di ruang indoor guna meminamalisir kegiatan diluar.
Namun dengan produksi kedua kami melaksanakannya di ruang outdoor tetap menjalakan protokol. Berikut dokumentasi saat produksi:
Gambar 5. Produksi (Sumber: Azmi Abid,
2020)
Gambar 6. Produksi (Sumber: Safira, 2020)
20 3. Kegiatan Harian
Hari/ Tanggal Deskripsi Kegiatan Senin,
19 Oktober 2020
- Perkenalan via daring dengan mentor.
- Mengetahui profil Loste Production.
- Menonton film hasil bimbingan Loste Production.
Rabu,
21 Oktober 2020
- Pemberian tugas mencari ide cerita eksperimental menarik.
- Riset Media Kamis,
22 Oktober 2020
- Riset Media
- Menonton beberapa judul film sebagai referensi Juma’at,
23 Oktober 2020
- Pengumpulan ide cerita dan sharing.
- Diskusi ide cerita secara daring dengan kelompok KKP melalui video call.
Sabtu,
24 Oktober 2020
- Diskusi ide cerita dengan anggota kelompok KKP secara offline di Samiroto.
Selasa,
27 Oktober 2020
- Mengirim hasil tulisan ke mentor.
- Diskusi pemilihan ide cerita secara daring melalui
- Diskusi pemilihan ide cerita secara daring melalui