i KULIAH KERJA PROFESI PEMBUATAN FILM DIVISI
TATA ARTISTIK DI LOSTE PRODUCTION
LAPORAN
Laporan ini disusun guna memenuhi syarat Menempuh Kuliah Kerja Profesi (KKP)
Program Studi Film dan Televisi Jurusan Seni Media Rekam
Oleh :
YUSUF WAHYU SAPUTRA NIM. 17148143
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA
SURAKARTA
2020
ii
iii KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Atas limpahan berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) yang harus ditempuh mahasiswa Program Studi Film dan Televisi pada semester VII dan menyelesaikan laporan Kuliah Kerja Profesi dengan tepat waktu. Laporan kegiatan KKP ini disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban tertulis atas terlaksananya kegiatan.
Selama melakukan KKP dalam kurun waktu satu bulan, penulis mendapatkan banyak pengalaman perihal pengembangan ide kreatif untuk dijadikan sebuah film. Penulis mendapat kesempatan untuk memperoleh pengalaman di Loste Production khususnya di bawah bimbingan Sito Fossy Biosa sebagai pendiri pertama Loste Production.
Kelancaran terlaksananya KKP ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan kegiatan KKP di Loste Production selama satu bulan ini, diantaranya:
1. Bapak Titus Soepono Adji, S.Sn., M.A. selaku Dosen Pembimbing KKP yang telah membimbing penulis selama proses pelaksanaan kegiatan KKP hingga menyelesaikan laporan akhir, dan selaku Ketua Prodi Film dan Televisi Institut Seni Indonesia Surakarta.
2. Ibu Sri Wastiwi Setiawati, S.Sn, M.Sn. selaku Ketua Jurusan Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia Surakarta.
3. Orang tua tercinta serta saudara yang selalu memberikan doa dan dukungan sepenuhnya.
4. Bapak Sito Fossy Biosa selaku pendiri Loste Production yang telah dengan sabar dan rendah hati membimbing penulis dengan baik selama pelaksanaan KKP.
5. Eka Kecap sebagai mentor dalam produksi film Urip
6. Seluruh teman-teman Program Studi Film dan Televisi angkatan 2017 yang saling memberikan semangat dalam pelaksanaan serta perjuangan yang sama.
Laporan ini menjelaskan aktivitas KKP yang telah dilaksanakan di Loste Production.
Penulis sangat menyadari bahwa laporan ini jauh dari kata sempurna dan masih terdapat banyak kesalahan. Penulis mengharapkan adanya masukan dan kritikan dari berbagai pihak. Semoga laporan KKP ini dapat memberikan manfaat, baik inspirasi maupun motivasi bagi pembaca.
Surakarta, 21 November 2020
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... 1
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Manfaat ... 3
D. Waktu pelaksanaan ... 4
E. Lokasi Pelaksanaan... 3
BAB 2 MATERI DAN METODE KULIAH KERJA PROFESI A. Materi Kerja Profesi ... 6
1. Materi Umum ... 6
2. Materi Khusus ... 8
B. Metode Kerja Profesi ... 10
1. Pengumpulan Data Primer... 10
2. Pengumpulan Data Sekunder...11
BAB III PELAKSANAAN KERJA PROFESI A. Tinjauan Umum Rumah Produksi... 13
B. Pelaksanaan Kegiatan ... 17
1. Rencana Pelaksanaan Produksi ... 17
2. Realisasi Kegiatan ... 18
3. Kegiatan Harian ... 21
4. Capaian ... 22
BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan ... 23
B. Saran ... 23 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
2 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semakin berjalannya waktu, sumber daya manusia dalam dunia kerja berkembang semakin pesat. Pelatihan kerja di luar kampus atau magang wajib diberikan oleh sekolah tinggi, universitas, maupun institusi kepada mahasiswanya sebagai sumber daya manusia di dalam dunia kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan dan pendidikan kerja profesi sesua dngan program studi/jurusan yang ditempuh oleh sumber daya manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, Kuliah Kerja Profesi (KKP) menjadi mata kuliah yang bermaksud memberi dan menambah wawasan mahasiswa mengenai dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang terkenal akan profesionalitas keahlian keseniannya tak ketinggalan juga memberika mata kuliah ini kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Mahasiswa semester VII di Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain diwajibkan untuk memrogramkan mata kuliah Kuliah Kerja Profesi. Pengajuan program Kuliah Kerja Profesi ini mempertimbangkan beberapa hal, salah satunya semakin banyaknya instansi atau lembaga pemerintah dan non pemerintah yang menggunakan karya audiovisual sebagai media untuk melakukan publikasi yang sejalan dengan perkembangan zaman.
Ketertarikan penulis dalam sebuah karya audio visual/Film khusunya dalam bidang tata artistik membuat penulis memanfaatkan program Kuliah Kerja profesi sebagai kesempatan mempelajari dan memperdalam pengetahuan tentang tata artistik untuk memantapkan profesi mahasiswa pada bidangnya, khususnya bidang tata artistik
Tata Artistik merupakan sebuah konsep yang luas, yang meliputi beberapa elemen visual produksi film seperti perancangan dan konstruksi set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostu. Sebagai bagian dari praproduksi.
tata artistik berperan penting dalam memberikan semacam rupa atau wajah dari film itu sendiri.
Rupa atau wajah film tidak hanya berkaitan dengan penciptaan gaya saja melainkan juga peluang untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang bagaimana seluruh elemen dapat digunakan untuk memperkuat citra visual sebuah film seta
kisah yang di sajikan. Karena itu, tata artistik memiliki beberapa fungsi.
Salah satu yang kemudian dipilih oleh penulis adalah Loste Production yang di prakasai oleh Sito Fossy Biosa. Sito Fossy Biosa lahir di Probolinggo, Jawa Timur pada 31 Juli 1991. Ia adalah sutradara film, seniman visual, penulis, performance artist, dan dosen seni yang lulus dari Institut Seni Indonesia Surakarta jurusan S-1 Film dan Televisi dan S-2 Penciptaan Seni Videografi di Institut Seni Indonesia Yogyakarta.
Dalam pelaksanaan kegiatan KKP nantinya, mahasiswa akan berusaha mendedikasikan kompetensi yang telah dipelajari selama masa kuliah di program studi Televisi dan Film Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Penulis berharap bahwa program KKP ini akan dapat menambah pengalaman, wawasan, dan motivasi untuk lebih kreatif dan inovatif dalam bisa televisi dan film guna menjadi bekal menghadapi dunia kerja dan pembuatan tugas akhir skripsi kaitannya dengan Tata artistik.
B. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Profesi di Loste Production pada divisi Tatat Artistik adalah untuk:
1. Mengenal dan mengalami suasana kerja secara langsung dalam divisi Tata Artistik di Loste Production untuk membantu mahasiswa mengerjakan tugas akhir skripsi nantinya
2. Mengetahui sistem manajemen dalam divisi Tata Artistik di Loste Production sebagai sarana pengerjaan tugas akhir skripsi mahasiswa mengenai tata artistik 3. Mengembangkan kemampuan bekerja sama terutama interpesonal skill
(human relation) di Loste Production
4. Sarana untuk memantapkan profesi mahasiswa pada bidangnya, khususnya bidang tata artistik
C. Manfaat
Manfaat yang diharapkan untuk diperoleh sealam melaksanakan Kuliah kerja Profesi di Loste Production bukan hanya bagi mahasiswa, namun juga bagi lembaga pendidikan maupun dunia industri nantinya, antara lain:
4 1. Bagi Mahasiswa
a. Bertambahnya ilmu pengetahuan dan kemampuan praktis proses produksi di Loste Production dan membantu memperoleh pengalaman baru untuk pengerjaan tugas akhir skripsi berkaitan dengan tata artistik
b. Meningkatkan pengetahuan mengenai struktur kerja dalan bidang manajemen perfilman dan membantu mahasiswa dalam pengerjaan tugas akhir berupa skripsi tentang tata artistik
c. Menjalin relasi antara mahasiswa dengan pihak Loste Production 2. Bagi Lembaga Pendidikan
a. Menjadi jembatan kerja anatara Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan Loste Production
b. Didapatkannya informasi mengenai kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan pada divisi Tatat Artistik di Loste Production
3. Bagi Loste Production
a. Akan diperolehnya calon tenaga terdidik yang diperlukan di Loste Production pada divisi Tata Artistik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
b. Mendapatkan referensi berupa hasil karya audio visual dari mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang nantinya dapat dipublikasikan ataupun diarsipkan di Loste Production
D. Waktu Pelaksanaan
Penulis melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) selama satu bulan lima belas hari terhitung sejak 19 Oktober 2020 hingga 5 Desember 2020.
Pertemuan pertama pada 19 Oktober 2020 dilakukan via zoom dikarenakan adanya pandemi Covid-19. Pertemuan daring dilaksanakan semingu saat pra produksi, sekitar pukul 19.00 atau 20.00 WIB hingga selesai. Selanjutnya pemilihan ide cerita dan riset dibahas pada pertemuan offline. Penulis bersama tiga teman anggota kelompok KKP lainnya mengunjungi basecamp Loste Production di Lidah Wetan, Surabaya menemui mentor kami yaitu Sito Fossy Biosa.
E. Lokasi Pelaksanaan
Pelaksanaan Kuliah Kerja Profesi (KKP) yang telah dilaksanakan oleh mahasiswa adalah dengan keterangan sebagai berikut:
Nama Instansi : Loste Production Bagian : Produser
Alamat : Jl. Bangkingan VIII Blok XF No.33, Bangkingan, Kec.
Lakarsantri, Kota SBY, Jawa Timur 61177 Email : [email protected] No. Telepon : 082265200386
Gambar 1. Loste Production (Sumber: Google Maps, 2019)
6 BAB II
MATERI DAN METODE KULIAH KERJA PROFESI A. Materi Kuliah Kerja Profesi
1. Materi Umum
Semakin berjalannya waktu, sumber daya manusia dalam dunia kerja berkembang semakin pesat. Pelatihan kerja di luar kampus atau magang wajib diberikan oleh sekolah tinggi, universitas, maupun institusi kepada mahasiswanya sebagai sumber daya manusia di dalam dunia kerja. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan pelatihan dan pendidikan kerja profesi sesua dngan program studi/jurusan yang ditempuh oleh sumber daya manusia yang bersangkutan. Oleh karena itu, Kuliah Kerja Profesi (KKP) menjadi mata kuliah yang bermaksud memberi dan menambah wawasan mahasiswa mengenai dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikannya. Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang terkenal akan profesionalitas keahlian keseniannya tak ketinggalan juga memberika mata kuliah ini kepada mahasiswa-mahasiswanya.
Meskipun terkendala oleh adanya pandemi COVID-19 namun hal ini tidak menghalangi terlaksananya KKP pada tahun 2020. Melalui kegiatan KKP mahasiswa diharapkan dapat menyalurkan penguasaan kompetensi keahlian berupa hard skill dan soft skill yang telah didapatkan selama perkuliahan dan mengaplikasikannya dalam dunia kerja.
Melalui pembekalan KKP 2020 yang disampaikan dalam pertemuan daring oleh Ketua Program Studi Film dan Televisi menyarankan agar semua mahasiswa dapat memilih tempat KKP sesuai dengan potensi dan kemampuan masing- masing mahasiswa, selain itu dengan mempertimbangkan Tugas Akhir skripsi maupun karya yang dipilih oleh setiap mahasiswa. Oleh karena itu, rumah produksi film menjadi salah satu pilihan penulis untuk melaksanakan KKP dan mengembangkan potensi kreatifitas supaya dapat menjadi pengalaman dalam bidang tata artistik untuk kebutuhan penulisan skripsi nantinya.
Rumah produksi atau biasa disebut “Production House” melakukan produksi audio visual sesuai dengan peraturan undang-undang yang berlaku, untuk keperluan lembaga penyiaran. Rumah produksi adalah sebuah badan usaha yang mempunyai organisasi dan keahlian dalam memproduksi program-
program audio visual untuk disajikan kepada khalayak.
Umumnya sebuah Rumah Produksi memiliki beberapa karakteristik yang berbeda dengan perusahaan lain (Laksono), diantaranya:
a. Masa kerja relatif 24 jam sehari b. Tidak bekerja berdasarkan birokrasi c. Aturan luwes
d. Demokratis e. Kreatif
f. Saling menghargai, saling percaya, dan saling pengertian diantara pimpinan dan pelakasana.
Jenis-jenis rumah produksi sendiri terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Production House Agency
Merupakan sebuah rumah produksi yang sebagian besar kegiatnnya tidak memproduksi suatu program secara langsung, melainkan melalui rumah produksi lain atau dengan kata lain hanya sebagai perantara. Walaupun terjadi kontrak dengan stasiun televisi, namun tidak membuat sendiri produk yang dijualnya. Selain itu rumah produksi dengan jenis ini terkadang juga menjadi satu atau sebagai bagian dalam perusahaan periklanan, dimana untuk iklan yang akan tayang sebagai sponsor suatu paket program acara dapat tayang melalui rumah produksi ini.
2. Production House Produksi
Merupakan sebuah rumah produksi yang kegiatan sehari-harinya memproduksi suatu program baik acara televisi, iklan, film layar, lebar, maupun video klip.
Yang kegiatannya meliputi perencanaan, shooting, editing, hingga pemasaran.
Kontrak Production House Produksi tidak hanya kepada stasiun televisi, namun bisa juga dengan pihak lain atau independen. Loste Production sendiri termasuk dalam Production House yang independen yakni atas produksi film pendek maupun panjang.
8 2. Materi Khusus
Selama kegiatan KKP, penulis mendapatkan materi khusus mengenai tata artistik, sebagai langkah pertama kami menonton secara bersama film.
Setelah kami selesai menonton kami membuka sesi diskusi dan kami
dipersilahkan untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan tentang devisi yang kami ambil dalam melaksanakan Program KP, disini penulis yang mengambil kesempatan untuk menanyakan beberapa hal yang berkaitan dengan Tata Artistik kepada pembuat ide karya secara langsung.
Tata Artistik sendiri merupakan sebuah konsep yang luas, yang meliputi beberapa elemen visual produksi film seperti perancangan dan konstruksi set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostum. Sebagai bagian dari praproduksi dan produksi. Tata artistik berperan penting dalam memberikan semacam rupa atau wajah dari film itu sendiri.
Rupa atau wajah film tidak hanya berkaitan dengan penciptaan gaya saja melainkan juga peluang untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang bagaimana seluruh elemen dapat digunakan untuk memperkuat citra visual sebuah film serta kisah yang di sajikan. Karena itu, tata artistik memiliki beberapa fungsi sebagai berikut,
1. Membentuk konteks cerita
Fungsi tata artistik dalam film yang pertama adalah membentuk konteks cerita. Hal ini dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa elemen visual seperti perancangan dan konstruksi set, lokasi, dekorasi, properti, riasan wajah, dan kostum sehingga apa yang disajikan di layar merupakan sebuah satu kesatuan cerita yang utuh.
2. Menampilkan karakter tokoh
Fungsi tata artistik dalam film selanjutnya adalah untuk menampilkan karakter tokoh dalam film. Hal ini biasanya terkait dengan tata rias artis serta kostum yang digunakan. Salah satu fungsi tata rias adalah menampilkan karakter tokoh terkait dengan usia, ras, bentuk wajah, dan tubuh agar sesuai dengan naskah. Selain melalui tata rias, tampilan karakter tokoh dapat film juga dapat diperkuat melalui kostum yang dikenakan sesuai dengan naskah.
3. Menambah efek dramatis
Tata artistik dalam film juga berfungsi untuk menambah efek dramatis. Hal ini berkaitan dengan riasan wajah, kostum, serta properti yang digunakan.
Misalnya, seorang tokoh yang digambarkan tertembak di bagian dada akan dirias demikian sesuai dengan kebutuhan seperti baju yang tertembus peluru, darah yang digambarkan keluar dari tubuh, dan lain sebagainya. Efek dramatis film juga dapat ditambah dengan musik latar yang digunakan.
4. Menyampaikan cerita secara visual
Fungsi tata artistik dalam film berikutnya adalah menyampaikan cerita secara visual. Hal ini biasanya berkaitan dengan perangcangan dekorasi yang digunakan dalam film sesuai dengan naskah. Yang termasuk dekorasi di sini meliputi berbagai macam properti (properti utama maupun pendukung) furnitur, dan asesoris yang digunakan di lokasi syuting. Berbagai item dekorasi yang digunakan dalam film umumnya merujuk pada latar belakang waktu dari naskah cerita apakah masa lalu, masa kini, atau masa depan.
Masing-masing memerlukan riset mendalam agar film nantinya dapat menyampaikan cerita secara visual.
5. Membentuk suasana dan atmosfer film
Tata artistik dalam film juga berfungsi untuk membentuk suasana dan atmosfer film kepada khalayak. Hal ini biasanya berkaitan dengan warna dan tekstur yang digunakan. Baik warna dan tekstur dapat mencerminkan karakter sang tokoh. Warna dapat mencerminkan latar belakang sosial dan budaya dari karakter sang tokoh. Di samping itu, warna juga dapat digunakan untuk menekankan tema atau suasana dari cerita film. Selain warna, tekstur juga dapat membentuk suasana dan atmosfer film. Misalnya, sebuah kamar yang dipenuhi dengan berbagai objek yang lembut dan terang seperti cermin merefleksikan kepribadian yang terbuka dan ceria.
Penulis selanjutnya diberikan tugas oleh mentor untuk mengamati salah satu objek dengan profesi tertentu, lalu penulis memilih untuk mengamati tukang parkir di salah satu tempat parkir wilayah sekitar tempat magang.
Setelah pengamatan beberapa hari, penulis di minta bagaimana hasil
pengamatan selama satu hari kepada mentor berkaitan dengan pakaian yang dikenakan, seperti apa make up saat mereka bekerja dan karakter subjek yang penulis amati. Dan mentor menyampaikan tujuan dari pengamatan adalah
10 bagaimana cara membangun sebuah karakter melalui pakaian, make up dan
artistik linkungan sesuai karakter dalam sebuah naskah.
Kemudian dalam salah satu penugasan yang diberikan oleh mentor, Saya berkesempatan untuk menciptakan karakter fiksi dalam bentuk wayang untuk kebutuhan pembuatan film untuk lomba yang diadakan oleh UNESA.
Dalam setiap karakter memiliki sifat yang berkaitan dengan elemen Air, Api, Tanah dan Angin, tahapan pertama penulis adalah mencari nama sesuai dengan karakter yang disebutkan diatas dengan melihat beberapa referensi nama lain dari 4 elemen tersebut dalam bahasa sansekerta penulis memilih nama :
1. Api sebagai Agni 2. Air sebagai Tirta 3. Angin sebagai Panawa 4. Tanah sebagai Siti
Setelaha penulis mempresentasikan calon nama tersebut seluruh tim
menyetujuinya dan giliran Penulis menggambar karakter dari 4 elemen diatas.
B. Metode Kerja Profesi
Selama pelaksanaan KKP di Loste Production, penulis telah menggunakan beberapa metode untuk mendapatkan data dan materi. Metode yang digunakan terbagi menjadi dua, yaitu pengumpulan data primer dan sekunder. Berikut adalah pengumpulan data primer dan sekunder yang digunakan penulis:
1. Pengumpulan Data Primer
Data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data pertama di lokasi penelitian atau objek penelitian (Bunging, 2005). Oleh karena itu, data primer diperoleh oleh penulis saat pelaksanaan KKP berlangsung. Adapun metode yang digunakan penulis untuk mengumpulkan data primer yaitu melalui observasi, wawancara, dan partisipasi.
a. Observasi
Metode observasi adalah teknik pengumpulan yang mengharuskan peneliti turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat,
pelaku, kegiatan, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaan (Mamik, 2015).
Awalnya penulis diberi materi tentang metode produksi film yang diterapkan di Loste Production, yaitu melalui riset yang kemudian datanya digunakan sebagai sumber penciptaan film. Cerita yang dipilih adalah berdasarkan realita yang kemudian diadaptasi menjadi sebuah cerita fiksi. Hal ini merupakan metode baru bagi penulis dan cukup menarik karena berbeda dari metode membangun karakter dalam sebuah film fiksi pada umumnya. Selanjutnya penulis turun langsung ke lapangan melakukan observasi di beberapa tempat seperti cafe, pedalangan, dan lain-lain. Hal ini dilakukan untuk menemukan karakter- karakter yang akan di bangun dalam naskah.
b. Wawancara
Menurut Moleong (1988:148) wawancara adalah kegiatan percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh kedua belah pihak yaitu pewawancara dan yang diwawancarai (Mamik, 2015). Wawancara yang dilakukan penulis bersifat non formal berupa obrolan santai dengan narasumber.
Hal ini dimaksudkan untuk menambah pengetahuan, informasi, dan menjalin keakraban dengan narasumber. Penulis bersama tiga anggota kelompok KKP lainnya telah melakukan wawancara secara non-formal kepada Moudy, seorang perempuan yang pernah menjadi korban kekerasan fisik dalam menjalin hubungan.
c. Partisipasi
Penulis dituntut untuk berpartisipasi secara aktif dalam proses kerja, terutama pada saat brainstorming ide dengan anggota kelompok KKP dan mentor. Penulis ikut menyumbangkan ide-ide kreatif selama pengolahan ide, penyusunan cerita, hingga akhirnya siap untuk ditulis dalam bentuk naskah film fiksi.
2. Pengumpulan Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang sebelum peneliti memasuki lapangan sudah tersedia, baik itu dalam bentuk kepustakaan, dokumen- dokumen, foto-foto, maupun berdasarkan obrolan orang atau dari manapun yang hal tersebut berhubungan dengan penelitian yang dilakukan (Setiawan, 2018). Data yang dikumpulkan penulis berupa dokumentasi dan data-data penting lainnya yang digunakan sebagai studi pustaka. Studi pustaka yang berisi dokumen-dokumen dari hal yang diamati akan melengkapi data observasi dan wawancara yang telah
12 dilakukan (Setiawan, 2018). Data berupa dokumen yang digunakan untuk menulis laporan ini di antaranya adalah catatan atau data-data yang berupa profil dan sejarah berdirinya Loste Production, biografi Sito Fossy Biosa, dan data lainnya seputar Loste Production. Analisis dokumen inilah yang memperkuat laporan KKP. Kemudian, penulis
juga menggunakan dokumentasi berupa foto yang dipotret penulis ketika melakukan kegiatan KKP di Loste Production.
BAB III PELAKSANAAN KERJA PROFESI
A. Tinjauan Umum Rumah Produksi 1. Sejarah Loste Production
Bersama dengan M. Falah Al Faila Sufi dan Mikael Bagus W, Loste Production mulai merintis film perdana berupa film dokumenter Soak Ngalam (2012) yang berhasil diputar di Temu Karya TV daN Film Nasional ISI Padangpanjang, Sumatera Barat. Juga menggarap film eksperimental . Tenjik (2012) diputar di Surabaya Move On dan Turtle Nation (2012) yang diputar di galeri Gedung Daya Joeang, Surakarta. Sempat bekerjasama menjadi tim artistik TVC “Ulang Tahun BRI 117 Th” (2012). Pada tahun 2013 Loste Production melalui Osa (Sito Fossy Biosa) memutuskan magang sebagai tim artistik serial drama televisi ACUN di tempat Garin Nugroho SET Film setelah sebelumnya menggarap film eksperimental Kiprah Lengger yang diputar di Experimental &
Documentary Movie Festival Cisangkan, Bandung dan Institut Francais Indonesia Bandung.
Setelah menyelesaikan rutinitas magang di SET Film, Loste Production ditawari bekerjasama dengan salah satu rumah produksi di Tangerang Selatan, JC Production milik seorang produser film Jane Chrisdianty. Osa menyutradarai enam film fiksi pendek mereka. Beberapa diantaranya sukses masuk ke Bioskop nasional Platinum Cineplex, lolos di taraf festival nasional hingga internasional;
Goresan Dimensi, JUAN, dan Celengan Gawe Bapak diputar di Bioskop Platinum Cineplex, Festival Pesta film Anak di Surakarta, hingga Sharjah International Children’s Film Festival di United Arab Emirates. Setelah sepulangnya dari Jakarta, Loste Production ditawari kembali membuat film dokumenter bersama produser Elena Diez Villagrasa (Spain) dan Victor Hugo Hidalgo (Mexico) dari Gnayaw Puppet Company untuk penggarapan film dokumenter puitis di tahun 2014. Dibantu dengan kawan – kawan baru film dokumenter puitis Wayang Sampah Laut dan Sampah Kuliner berhasil diputar dan dipentaskan di bentara budaya balai Soejadmoko Gramedia Surakarta dan Harmony Puppet Carnival di Bangkok,Thailand.
14 Perjalanan rumah produksi film ini makin berkembang sejak tahun 2014.
Loste Production bekerjasama dengan Brand International Surfer Girl dalam penggarapan film micro documentary SADEWA yang sukses diputar di Pacitan Jawa Timur dan beberapa kota di Indonesia. Di tahun 2015, Loste Production berhasil menggarap film fiksi fantasi pendek berjudul Ilusi. Berkat distributor film mereka, Hastami Cintya Luthfi, Ilusi diapresiasi hingga Malaysia dan United Arab Emirates sebelum diputar di bioskop Platinum Cineplex dan beberapa kota di Indonesia. Pencapain penonton yang luar biasa membuat Loste Production didanai oleh JIS Pro, Drs. Sriyono Sundoro Hadi, M.M di tahun 2016 untuk pembuatan film fantasi pendek terbaru mereka, Memeluk Angin yang diputar tanggal 12 Juli 2016 di bioskop Platinum Cineplex.
2. Visi dan Misi
Loste Production mengawali tahap perencanaan dengan merumuskan visi &
misi yang berkaitan dengan tujuan dan cita-cita yang di harapkan untuk kedepannya. berikut merupakan visi dan misi dari Loste Production:
Visi : Sebagai sumber utama tontonan anal-anak.
Misi : Rumah produksi film yang didedikasikan untuk tumbuh kembang anak-anak.
Rumah produksi Loste Production menekankan pada pembuatan karya film yang mengangkat isu tentang anak-anak, untuk itulah apa yang tertuang dalam visi dan misi Loste Production merupakan sebuah proses yang terus berjalan dan akan selalu dikelilingi oleh anak-anak.
3. Logo Loste Production
Gambar 2. Logo Loste Production (Sumber: Desain Pono Anggo, 2015)
Tergila-gila dengan Louis Jean Lumiere & Auguste Marie Louis Nicholas Lumiere (Lumiere Brothers), penemu cinematographe (kamera gambar gerak) membuat Sito Fossy Biosa “merakit” nama rumah produksinya menjadi Loste di awal tahun 2010.
Berkaitan dengan logo Loste Production, Sito Fossy Biosa memberikan penjelasan sebagai berikut.
“Logo Loste dengan pilihan tipografi yang lentur memiliki makna naif atau cenderung kekanak-kanakan yang berarti ceria dan spontan. Huruf O pada Loste diganti visual roll film diartikan sebagai simbol putaran yang terus menerus, berkembang besar, dan konsisten.” (Wawancara Sito Fossy Biosa,2016).
4. Struktur Organisasi
Loste Production memiliki struktur organisasi. Berikut struktur organisasi di Loste Production:
Gambar 3. Struktur organisasi Loste Production (Sumber: Dokumen Loste Production, 2015)
Divisi Teknis Distributor
Owner Loste Production
16 Loste Production dimulai dengan pembagian tugas dalam setiap anggota yang tergabung pada sebuah kelompok oraganisasi. Dalam sistem kepengurusan, Loste Production hanya memiliki tiga orang inti saja yang menjabat sebagai pemilik/pendiri rumah produksi, divisi teknis, dan juga distributor, berikut merupkan struktur kepengurusan rumah produksi Loste Production.
Owner (Sito Fossy Biosa) bertugas untuk melakukan perancangan dan persiapan produksi meliputi pembuatan naskah, pemilihan pemain, pelatihan pemain, menentukan hal-hal dalam pra produksi , selain tentunya didapuk sebagai seorang sutradara. Divisi teknis, Yogyakarta (Andika Wahyu Adiputra) bertugas dalam hal pengadan alat yang dibutuhkan selama melakukan produksi seperti; kamera, alat perekam suara, komputer editing dan beberapa hal yang berhubungan dengan teknis. Distributor (Lusia Maria Kristian) bertugas melakukan promosi setelah film selesai diproduksi, distributor Loste Production sejauh ini telah bekerja sama secara tetap dengan bioskop Platinum Cineplex, Hartono Mall Solo paragon dalam hal pemutaran film. Fasilitas alat yang dimiliki oleh Loste Production sejauh ini hanya seperangkat komputer editing karena setiap kali akan memproduksi sebuah film, Loste Production akan melakukan kerjasama dengan pihak tertentu dalam hal pengadaan alat selama proses produksi berlangsung.
5. Layanan Loste Production
Loste Production merupakan sebuah rumah produksi yang menyediakan jasa dan pembuatan produk seni yaitu film. Pada proses menjalankan organisasi , berhubungan dengan karakteristik organisasi dan fungsi manajemen yakni fokus pada produksi film. Loste Production telah berhasil membuat sebuah manajemen seni berintegrasi dengan sebuah karya seni sehingga mampu untuk menjaga eksistensi sebuah karya seni di dunia kesenian itu sendiri.
B. Pelaksanaan Kegiatan 1. Rencana Pelaksanaan KKP
Pelaksanaan program Kuliah Kerja Profesi (KKP) diawali dengan pengajuan proposal dan Curriculum Vitae (CV) ke pihak program studi Film dan Televisi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Pengajuan proposal serta
CV digunakan sebagai persyaratan seleksi mahasiswa sesuai dengan mentor praktisi yang diinginkan.
Setelah mengajukan proposal dan CV mentor Sito Fossy Biosa mengabarkan bahwa saya bersama tiga anggota KKP yang lain diterima untuk melaksanakan magang di Loste Production. Pertemuan pertama dilakukan secara daring pada tanggal 19 Oktober 2020.
2. Realisasi Kegiatan
a. Adaptasi Lingkungan Kerja
Hari pertama pada tangga 19 Oktober 2020 melaksanakan Kegiatan Kerja Profesi (KKP), penulis dan teman-teman kelompok KKP memperkenalkan diri masing-masing dan berkenalan dengan tim Loste Production. Setelah perkenalan kami melakukan sharing dan diskusi bersama Sito Fossy Biosa.
Beliau menceritakan alur kerja pembuatan film yang dilakukan oleh Loste Production terutama pada tahap pengembangan naskah yaitu mulai pencarian ide hingga penulisan kreatifnya. Dan prosedur apa saja yang dilakukan sebelum memulai produksi. Penulis mencoba memahami dan melaksanakan cara kerja yang dijelaskan oleh Sito Fossy Biosa.
b. Penugasan yang Diberikan oleh Mentor
Penugasan yang diberikan kepada penulis dan teman-teman kelompok KKP cukup beragam diantaranya memilih ide cerita, melakukan riset, pembuatan karakter, dan produksi. Berikut detail tugas yang dikerjakan:
1) Pemilihan ide cerita
Dalam kesempatan pemilihan ide cerita pada penggarapan film yang diadakan UNESA anggota KKP dipersilahkan untuk mencari ide sesuai tema yang diberikan oleh pihak UNESA. Setelah masing-masing dari kami memaparkan ide cerita anggota mulai mendiskusikan kelibahan dan kekurangan setiap ide cerita yang kami miliki, dengan dampingan mentor kami menggabungkan 2 ide dalam satu cerita.
Dalam pemilihan ide cerita setiap dari kami dituntut untuk berkreatifitas secara liar dan beda dari yang lain seperti inovasi-inovasi baru dalam pembuatan film dengan menggunakan wayang dan lain sebagainya.
18 2) Melakukan riset
Penulis selanjutnya diberikan tugas oleh mentor untuk mengamati salah satu objek dengan profesi tertentu, lalu penulis memilih untuk mengamati tukang parkir di salah satu tempat parkir wilayah sekitar tempat magang.
Setelah pengamatan beberapa hari, penulis di minta bagaimana hasil
pengamatan selama satu hari kepada mentor berkaitan dengan pakaian yang dikenakan, seperti apa make up saat mereka bekerja dan karakter subjek yang penulis amati. Dan mentor menyampaikan tujuan dari pengamatan adalah bagaimana cara membangun sebuah karakter melalui pakaian, make up dan artistik linkungan sesuai karakter dalam sebuah naskah.
3) Membentuk Karakter
Kemudian dalam salah satu penugasan yang diberikan oleh mentor, Saya berkesempatan untuk menciptakan karakter fiksi dalam bentuk wayang untuk kebutuhan pembuatan film untuk lomba yang diadakan oleh UNESA.
Dalam setiap karakter memiliki sifat yang berkaitan dengan elemen Air, Api, Tanah dan Angin, tahapan pertama penulis adalah mencari nama sesuai dengan karakter yang disebutkan diatas dengan melihat beberapa referensi nama lain dari 4 elemen tersebut dalam bahasa sansekerta penulis memilih nama :
5. Api sebagai Agni 6. Air sebagai Tirta 7. Angin sebagai Panawa
8. Tanah sebagai Siti
Setelaha penulis mempresentasikan calon nama tersebut seluruh tim
menyetujuinya dan giliran Penulis menggambar karakter dari 4 elemen diatas.
4) Produksi
Setelah melewati pra produksi untuk mengurus perizinan tempat, mencari talent, reading naskah serta pematangan rehearseal penulis dan anggota KKP melakukan produksi di ruang indoor guna meminamalisir kegiatan diluar.
Namun dengan produksi kedua kami melaksanakannya di ruang outdoor tetap menjalakan protokol. Berikut dokumentasi saat produksi:
Gambar 5. Produksi (Sumber: Azmi Abid,
2020)
Gambar 6. Produksi (Sumber: Safira, 2020)
20 3. Kegiatan Harian
Hari/ Tanggal Deskripsi Kegiatan Senin,
19 Oktober 2020
- Perkenalan via daring dengan mentor.
- Mengetahui profil Loste Production.
- Menonton film hasil bimbingan Loste Production.
Rabu,
21 Oktober 2020
- Pemberian tugas mencari ide cerita eksperimental menarik.
- Riset Media Kamis,
22 Oktober 2020
- Riset Media
- Menonton beberapa judul film sebagai referensi Juma’at,
23 Oktober 2020
- Pengumpulan ide cerita dan sharing.
- Diskusi ide cerita secara daring dengan kelompok KKP melalui video call.
Sabtu,
24 Oktober 2020
- Diskusi ide cerita dengan anggota kelompok KKP secara offline di Samiroto.
Selasa,
27 Oktober 2020
- Mengirim hasil tulisan ke mentor.
- Diskusi pemilihan ide cerita secara daring melalui Zoom.
Rabu,
28 Oktober 2020
- Observasi macam wayang secara offline - Penyusunan naskah dengan anggota kelompok
KKP.
Minggu, - Naskah di acc oleh mentor 1 November 2020
Senin,
2 November 2020
- Breakdown art Rabu ,
4 November 2020
- Membeli kebutuhan artistik.
- Membuat pola wayang “URIP”.
Jum’at,
6 November 2020
- Merekam suara untuk kebutuhan Voice Over.
- Produksi film “URIP”.
Sabtu,
7 November 2020
- Produksi film “URIP”.
Rabu,
11 November 2020
- Editing film.
Kamis,
12 November 2020
- Editing film.
- Editing sound.
Jum’at,
13 November 2020
- Pembuatan trailer film.
- Mengisi syarat dan ketentuan submit film.
Minggu,
15 November 2020
- Submit film.
Kamis,
19 November 2020
- Mengunjungi basecamp Loste Production.
- Evaluasi.
- Planning produksi film “Framing”.
Sabtu,
21 November 2020
- Pengembangan ide.
- Riset kekerasan fisik terhadap perempuan.
Senin,
23 November 2020
- Diskusi ide cerita secara daring dengan kelompok KKP melalui video call.
Rabu,
25 November 2020
- Briefing crew oleh mentor.
- Sabtu,
28 November 2020
- Pertemuan pertama talent dengan crew.
- Reading naskah dengan talent.
- Survey lokasi.
Kamis,
30 November 2020
- Rehearseal.
Selasa,
1 Desember 2020
- Produksi non talent (shoot detail mesin) Rabu,
2 Desember 2020
- Produksi film “Framing”.
Jum’at,
4 Desember 2020
- Evaluasi.
- Rekam suara untuk Voice Over.
Minggu, - Film dalam tahap editing.
6 Desember 2020 Kamis,
10 Desember 2020
- Final editing.
Jum’at,
01 Januari 2021
- Launching film.
4. Capaian
a. Mengenal dan mengalami suasana kerja secara langsung dalam divisi Tata Artistik di Loste Production
b. Mengetahui sistem manajemen dalam divisi Tata Artistik di Loste Production
c. Mengembangkan kemampuan bekerja sama terutama interpesonal skill (human relation) di Loste Production
22 BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kegiatan Kuliah Kerja Profesi (KKP) dilaksanakan pada tanggal 19 Oktober 2020 hingga 5 Desember 2020 di Loste Production. Sito Fossy Biosa sebagai mentor telah memberikan banyak ilmu pengetahuan dan pengalaman bagi penulis dalam proses produser film menggunakan metode eksperimental.
Hard skill dan soft skill penulis lebih terasah selama menjalani KKP di Loste Production, sehingga penulis mampu menyelesaikan KKP ini dengan baik.
Penulis memahami pembuatan film fiksi menggunakan metode eksperimental sangat jarang ditemukan di industri perfilman komersial. Maka ini merupakan sebuah pengetahuan serta pengalaman baru bagi penulis. Demikianlah, kegiatan dan pengalamn praktis yang telah diperoleh selama kegiatan KKP di Loste Production. Pengalaman serta ilmu yang telah diberikan oleh Sito Fossy Biosa merupakan suatu hal yang berharga dan bermanfaat bagi penulis di masa mendatang khususnya setelah dinyatakan lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
B. Saran
1. Untuk Peserta Kuliah Kerja Profesi
a. Sebelum melaksanakan KKP, mahasiswa dianjurkan untuk memilih tempat KKP yang tepat dan sesuai dengan bidang minat peserta agar mendapatkan kenyamanan selama melaksanakan KKP.
b. Pada saat melaksanakan KKP, diharapkan mahasiswa mampu menjaga nama baik almamater kampus dan tempat KKP terkait dengan mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan.
c. Peserta KKP diharapkan dapat berperan aktif dalam seluruh kegiatan dari pihak tempat KKP dan dapat memanfaatkan kesempatan yang ada dengan maksimal untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya.
2. Untuk Program Studi Film dan Televisi
Program studi Film dan Televisi diharapkan memberikan sosialisasi, pengarahan, dan pembekalan yang terperinci terlebih mengenai jadwal, alur pelaksanaan, penyusunan laporan, hingga tempat-tempat yang dapat digunakan sebagai pelaksanaan kegiatan KKP.
DAFTAR PUSTAKA
Buku
Ahyari, Agus. 1992. Manajemen Produksi, Perencanaan Sistem Produksi, Yogyakarta: BPFE Yogyakarta
Bram, Aloysius, dkk.2015. Dari Bangku Penonton, Memandang Film Indonesia Dari Mata Penonton, Yogyakarta: Buku Litera
Permas, Achsan, dkk. 2003. Manajemen Organisasi Seni Pertunjukan, Jakarta : Penerbit PPM
Dokumen
Loste Production. (2015). Desain Pono Anggo
Internet
Sito Fossy Biosa, S.Sn, M.Sn. (2019). About profile. Daftar film yg disutradarai.
(https://scholar.google.com/citations?user=Uzb3CjcAAAAJ&hl=id)
Ambar (2019).Fungsi Tata Artistik. https://pakarkomunikasi.com/fungsi-tata-artistik- dalam-film.
24 LAMPIRAN
(DOKUMENTASI)
Gambar 7. Perkenalan mentor dengan anggota KKP ISI Surakarta Via daring (Foto: Safira, 2020)
Gambar 8. Pembahasan mengenai ide cerita (Foto: Safira, 2020)
Gambar 9. Pengembangan ide cerita dan hasil riset (Foto: Safira, 2020)
Gambar 10. Screenshot film URIP masuk nominasi (Foto: Instagram, 2020)
26 Gambar 11. Diskusi
Daring (Foto:
Safira, 2020) Gambar 12. Diskusi
Daring 2 (Foto: Safira, 2020)
Gambar 13. Persiapan kebutuhan artistik (Foto: Safira, 2020)
27 Gambar 14. Survey
Lokasi (Foto: Safira, 2020)
28 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN
TINGGI
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN Jalan Ringroad Km 5,5 Mojosongo, Jebres, Surakarta 57127 Telepon 0271 7889050 Faksimile
0271 7889051
http:// fsrd.isi-ska.ac.id email:[email protected]
FORM PELAKSANAAN KULIAH KERJA
PROFESI
Nama Mahasiswa Yusuf Wahyu Saputra
NIM 17148143
Jurusan / Prodi Seni Media Rekam / Film dan Televisi Instansi KP Loste Production
Divisi Kerja Tata Artistik Nama Instruktur Sito Fossy Biosa
Hari/ Tanggal Deskripsi Kegiatan Paraf
Senin, 19 Oktober 2020
- Perkenalan via daring dengan mentor.
- Mengetahui profil Loste Production.
- Menonton film hasil bimbingan Loste Production.
Rabu, 21 Oktober 2020
- Pemberian tugas mencari ide cerita eksperimental menarik.
- Riset Media Kamis,
22 Oktober 2020
- Riset Media
- Menonton beberapa judul film sebagai referensi
29 Juma’at,
23 Oktober 2020
- Pengumpulan ide cerita dan sharing.
- Diskusi ide cerita secara daring dengan kelompok KKP melalui video call.
Sabtu, 24 Oktober 2020
- Diskusi ide cerita dengan anggota kelompok KKP secara offline di Samiroto.
1 November 2020 Senin, 2 November 2020
- Breakdown art
Rabu , 4 November 2020
- Membeli kebutuhan artistik.
- Membuat pola wayang “URIP”.
Jum’at, 6 November 2020
- Merekam suara untuk kebutuhan Voice Over.
- Produksi film “URIP”.
Sabtu, 7 November 2020
- Produksi film “URIP”.
Rabu, 11 November 2020
- Editing film.
Kamis, 12 November 2020
- Editing film.
- Editing sound.
Jum’at, 13 November 2020
- Pembuatan trailer film.
- Mengisi syarat dan ketentuan submit film.
Minggu, 15 November 2020
- Submit film.
30 Kamis,
19 November 2020
- Mengunjungi basecamp Loste Production.
- Evaluasi.
- Planning produksi film “Framing”.
Sabtu, 21 November 2020
- Pengembangan ide.
- Riset kekerasan fisik terhadap perempuan.
Senin, 23 November 2020
- Diskusi ide cerita secara daring dengan kelompok KKP melalui video call.
Rabu, 25 November 2020
- Briefing crew oleh mentor.
-
Sabtu, 28 November 2020
- Pertemuan pertama talent dengan crew.
- Reading naskah dengan talent.
- Survey lokasi.
Kamis, 30 November 2020
- Rehearseal.
Selasa, 1 Desember 2020
- Produksi non talent (shoot detail mesin)
Rabu, 2 Desember 2020
- Produksi film “Framing”.
Jum’at, 4 Desember 2020
- Evaluasi.
- Rekam suara untuk Voice Over.
Minggu, - Film dalam tahap editing.
31 6 Desember 2020
Kamis, 10 Desember 2020
- Final editing.
Jum’at, 01 Januari 2021
- Launching film.
Surabaya, 25 November 2020 Instruktur
Sito Fossy Biosa
32 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
Jalan Ringroad Km 5,5 Mojosongo, Jebres, Surakarta 57127 Telepon 0271 7889050 Faksimile 0271 7889051
http:// fsrd.isi-ska.ac.id email:[email protected]
BERITA ACARA
KONSULTASI KULIAH KERJA PROFESI
Nama Mahasiswa Yusuf Wahyu Saputra
NIM 17148143
Jurusan / Prodi Seni Media Rekam / Film dan Televisi Instansi KP Loste Production
Bidang Kerja Tata Artistik
Dosen Pembimbing KP Titus Soepono Adji, S.Sn., M.A
No Tanggal Materi Konsultasi
Tanda Tangan Dosen Pembimbing
KP 1 15 sep
2020
Mengirim surat permohonan magang dan curriculum vitae.
2 2 Oktober 2020
Konsultasi perihal tempat magang.
3. 7 Oktober 2020
Menanyakan kelanjutan kebijakan magang keluar kota yang diberikan prodi.
4. 16 Oktober 2020
Penandatanganan proposal via online
5. 3 Januari 2020
Konfirmasi magang selesai
33 Surakarta, 27 Januari 2021 2020
Dosen Pembimbing
Titus Soepono Adji, S.Sn., M.A.
NIP. 197609152008121001
34
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
Jalan Ringroad Km 5,5 Mojosongo, Jebres, Surakarta 57127 Telepon 0271 7889050 Faksimile 0271 7889051
http:// fsrd.isi-ska.ac.id email:[email protected]
FORM PENILAIAN KULIAH KERJA PROFESI
Nama Mahasiswa Yusuf Wahyu Saputra
NIM 17148143
Jurusan / Prodi Seni Media Rekam / Instansi KP LOSTE production Divisi Kerja Art Director
Nama Instruktur Sito Fossy Biosa, M.Sn
No Aspek Penilaian
Nilai
E D C B A
Kurang
sekali Kurang Cukup Baik Baik sekali
1. Penguasaan Materi B
2. Kedisiplinan B
3. Tanggung jawab B
4. Kerja sama A
5. Kreatifitas A
6 Kinerja A
Catatan & Saran :
Yusuf sosok yang memiliki selera yang baik (sense of art). Ia seorang yang cermat. Pilihan-pilihan bentuk dan warna untuk proyek yang dikerjakan selama magang selalu tepat. Kelemahannya hanya sama-sama pendiam seperti Aan.
Mengetahui, HRD. Dept. Head
Sito Fossy Biosa, M.Sn
Surabaya, 18 Januari 2021 Instruktur,
Sito Fossy Biosa, M.Sn
35