TINJAUAN PUSTAKA
D. Material Requirement Planning (MRP)
1. Definisi Material Requirement Planning (MRP)
Menurut Nasution (2006:271) MRP adalah prosedur logis, aturan keputusan, dan teknik pencatatan terkomputerisasi yang dirancang untuk menerjemahkan jadwal induk produksi atau MPS
(master production schedulling) menjadi kebutuhan bersih atau NR (net requirement) untuk semua item.
Sementara itu menurut Render & Heizer (2005:160) MRP adalah sebuah teknik permintaan terikat yang menggunakan daftar kebutuhan bahan, persediaan, penerimaan yang diperkirakan, dan jadwal produksi induk untuk menentukan kebutuhan material.
Definisi lain juga dikemukakan oleh Gaspersz (2005 : 177) MRP adalah metode penjadwalan untuk purchased planned orders dan manufactured planned orders yang kemudian diajukan untuk analisis lanjutan berkenaan dengan ketersediaan kapasitas dan keseimbangan menggunakan perencanaan kenutuhan kapasitas
(capacity requirements planning = CRP). 2. Tujuan MRP
MRP biasanya digunakan untuk menghasilkan informasi persediaan yang mampu digunakan untuk mendukung melakukan tindakan secara tepat dalam melakukan produksi. Suatu sistem MRP pada dasarnya bertujuan untuk merancang suatu sistem yang mampu menghasilkan informasi untuk mendukung aksi yang tepat
ulang. Menurut Baroto (2002 : 142) System MRP adalah suatu sistem yang bertujuan untuk menghasilkan informasi yang tepat untuk melakukan tindakan yang tepat ( pembatalan pesanan, pesan ulang, dan penjadwalan ulang ). Ada empat tujuan yang menjadi ciri utama sistem MRP yaitu sebagai berikut :
a. Menentukan kebutuhan pada saat yang tepat. b. M enentukan kebutuhan minimal setiap item. c. Menentukan pelaksanaan rencana pemesanan.
d. Menentukan penjadwalan ulang atau pembatalan atas suatu jadwal yang sudah direncanakan.
3. Komponen utama sistem MRP
Sistem MRP dikembangkan untuk membantu perusahaan manufaktur mengatasi kebutuhan akan item-item dependent secara lebih baik dan efisien. Disamping itu, sistem MRP dirancang untuk membuat pesanan produksi dan pembelian untuk mengatur aliran bahan baku dan persediaan dalam proses sehingga sesuai dengan jadwal produksi untuk produk akhir. Hal ini memungkinkan perusahaan memelihara tingkat minimum dari item-item yang kebutuhannya dependent, tetapi tetap dapat menjamin terpenuhinya jadwal produksi untuk produk akhirnya. Sistem MRP juga dikenal sebagai perencanaan kebutuhan berdasarkan tahapan waktu
(Time-phase requirements planning).
Material Requirements Planning (MRP) merupakan suatu strategi material proaktif. Maksudnya, MRP melihat ke masa depan
dan mengidentifikasi material yang akan diperlukan, jumlahnya, dan tanggal diperlukannya. Komponen utama sistem MRP dapat dikatakan juga sebagai input dari MRP itu sendiri yang antara lain adalah sebagai berikut :
a. Master Production Schedule (MPS)
Merupakan suatu pernyataan definitif tentang produk akhir apa yang direncanakan perusahaan untuk diproduksi, berapa kuantitas yang dibutuhkan, pada waktu kapan dibutuhkan, dan bilamana produk itu akan diproduksi. Dapat dikatakan juga sebagai jadwal produksi utama yang berupa skedul produksi produk jadi untuk produksi mendatang sebesar pesanan dan ramalan permintaan.
b. Bill of Material (BOM)
Merupakan daftar dari semua material, part, dan subasemblies serta kuantitas dari masing – masing yang dibutuhkan untuk memproduksi satu unit produk atau parent
assembly. MRP menggunakan BOM sebagai basis untuk
memperhitungkan banyaknya setiap material yang dibutuhkan untuk setiap periode waktu.
Gambar II.1. Bill of Material (BOM) Sumber : Nasution ( 2006 : 273 ) c. Inventory Record File
Inventory Record File atau arsip pencatatan persediaan
yang berisi dokumen lengkap tentang status persediaan barang jadi, bahan baku, dan sub-bahan baku dalam struktur produk, jumlah yang ada di tangan, level persediaan pengaman (safety stock) dan lamanya tenggang waktu (lead
time). Inventory record file atau arsip pencatatan persediaan
dapat dilihat pada table di bawah ini :
Item : On Hand : Lead Time : Week 1 2 3 4 5 Total Requirement Schedule recept On hand Net Requirement Planned recept Order Release
Gambar II.2. Inventori Record File Sumber :
http://ocw.gunadarma.ac.id/course/economics/management-s1/manajemen-operasional/perencanaan-persediaan d. Inventory record file atau arsip pencatatan persediaan terdiri
dari : 1) Item.
Item merupakan jenis komponen apa yang akan dipakai, dipantau kebutuhan dan perhitungannya dalam data
inventory record file (IRF).
Merupakan waktu yang diperlukan oleh suatu item bahan baku sejak dilakukan pemesanan sampai bahan baku tersebut siap digunakan dalam proses produksi.
3) Week
System pengendalian persediaan dengan MRP, periode waktu yang digunakan adalah mingguan.
4) Schedule Receipt (penerimaan yang direncanakan)
Penerimaan yang akan direncanakan merupakan jumlah item yang diharapkan diterima pada awal suatu periode waktu dari pemasok atau bagian bahan karena pesanan-pesanan yang telah dilakukan.
5) On Head (persediaan akhir)
Merupakan jumlah item yang tersedia pada akhir periode waktu untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dalam periode waktu yang akan datang. Persediaan di tangan meliputi penerimaan yang dijadwalkan ditambahkan dengan penerimaan pesanan yang direncankan dikurangi kebutuhan kotor untuk periode tersebut ditambah yang tersedia dari periode sebelumnya.
6) Net Requirement (kebutuhan bersih)
Adalah jumlah bersih suatu item bahan yang harus dipesan atau diproduksi untuk memenuhi output yang dijadwalkan untuk suatu periode. Jumlah ini dihitung
dijadwalkan untuk periode tersebut dikurangi yang tersedia dari periode sebelumnya.
7) Planned Receipt
Planned order release merupakan suatu item yang
direncanakan untuk dipesan dalam periode waktu yang direncanakan.
4. Output MRP
MRP merupakan suatu konsep dalam sistem produksi untuk menentukan cara yang tepat dalam perencanaan kebutuhan material dalam proses produksi, sehingga material yang dibutuhkan dapat tersedia sesuai dengan yang dijadwalkan. Tujuannya untuk mengurangi kesalahan dalam memperkirakan kebutuhan material, karena kebutuhan material didasarkan atas rencana jumlah produksi. Sehingga pada nantinya MRP dapat memberikan informasi atau output yang dapat digunakan sebagai acuan untuk melakukan tindakan selanjutnya.
Adapun output dari MRP menurut Nasution (2006 : 274 ) adalah :
a. Memberikan catatan tentang pesanan penjadwalan yang harus dilakukan atau direncanakan, baik dari pabrik sendiri maupun dari suplier.
c. Memberikan indikasi untuk pembatalan pesanan. d. Memberikan indikasi untuk keadaan persediaan
5. Langkah – langkah mendasar proses MRP
MRP merupakan sistem yang dirancang secara khusus untuk situasi permintaan yang bergelombang (tidak konstan), yang secara tipikal karena permintaan tersebut dependent.
Adapun langkah – langkah proses MRP adalah sebagai berikut menentukan Kebutuhan Bersih (Net Requirement). Net Requirement adalah selisih antara kebutuhan kotor (gross requirement) dengan persediaan yang ada di tangan (on hand). Data yang diperlukan dalam menentukan kebutuhan bersih adalah :
a. Kebutuhan kotor setiap periode b. Persediaan yang ada ditangan
c. Rencana penerimaan (scheduled receipts)
d. Menentukan Jumlah Pesanan. Berdasarkan kebutuhan bersih, ditentukan jumlah pesanan, baik item maupun komponennya
Menentukan BOM dan Kebutuhan kotor setiap Komponen. Kebutuhan kotor setiap komponen, ditentukan oleh rencana pemesanan (planned order released) komponen yg ada diatasnya dengan dikalikan kelipatan tertentu sesuai kebutuhan.
Menentukan Tanggal Pemesanan. Penentuan tanggal pemesanan yang tepat dipengaruhi oleh Rencana Penerimaan