HAK ASASI MANUSIA DI PAPUA
Penulis Markus Haluk | Penerbit DEIYAI | Cetakan 2013 | Jumlah halaman xxiv + 330 hlm. | ISBN 978-602-17071-3-5
RESENSI
H
arapan untuk tetap bisa hidup, itulah yang dicitacitakan oleh rakyat Papua. Pulau di ujung timur Indonesia yang memiliki ke ka ya an dan keindahan alam melimpah ru ah ini, ternyata tidak mampu membuat rakyat Papua untuk hidup tentram dan sejahtera. Hal ini berbanding terbalik dengan apa yang telah diamanatkan dalam Pasal 33 UUD 1945, bahwa kekayaan alam, bumi air dan seisinya dikuasai nega
ra dimanfaatkan sebesarbesarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Dikenal sebagai pulau yang memberikan kekaya
an alam tanpa batas membuat Papua di
jadikan sebagai objek eksploitasi. Tam
bangtambang dibangun pihak asing dan dijaga ketat oleh aparat negara. Akibat
nya, Papua masuk pusaran konflik antara masyarakat sipil dengan aparatur negara (TNIPOLRI). Keberpihakan terhadap kor
porasi kemudian memicu terjadinya kon
flik, pemberontakan dan munculnya ge
rak an separatis.
Berbagai kasus tindakan kekerasan, penangkapan, bahkan pembunuhan ter
hadap warga sipil belum menemui titik terang sampai saat ini. Aksi damai yang dilakukan oleh para aktivis pembela HAM berujung pembungkaman dan penangkap
an dengan tuduhan makar serta terlibat ge rakan separatis, media dilarang meliput serta berbagai pelanggaran hak yang la
in nya. Dengan membaca buku ini, Anda akan dibawa masuk ke dalam alam berfi
kir penulis yang terlibat langsung di la
pang an. Bagaimana perjuangan rakyat Papua menuntut keadilan berdasarkan prinsipprinsip HAM. Keinginan mereka sebenarnya sederhana, yaitu merdeka di tanah leluhur mereka sendiri, ingin men
da pat kan pendidikan yang layak, kesehat
an yang terjamin, serta berdaulat secara ekonomi dan budaya. Dalam buku ini di
sa ji kan pula beberapa kasus atau peristi
wa yang terjadi selama empat tahun tera
khir (20082012), misalnya penganiyaan terhadap warga sipil yang dilakukan oleh aparat negara TNIPOLRI.
Dalam Bab I, penulis membahas ten
tang Prinsipprinsip HAM. Dalam bab ini diuraikan tentang sejarah terbentuknya HAM oleh Perserikatan BangsaBangsa (PBB). Setelah secara resmi Indonesia men jadi bagian dari PBB, maka negara se
bagai subjek hukum wajib melaksanakan setiap perjanjian yang telah disepakati.
Setiap pelanggaran HAM dalam wilayah Indonesia menjadi tanggung jawab nega
ra untuk menyelesaikannya, juga menjadi tanggung jawab komunitas internasional dalam memantau melalui rekomendasi yang telah diberikan kepada negara. Wa
laupun Indonesia sudah masuk dalam ko
munitas internasional, pada kenyataannya pelanggaran HAM di tanah Papua masih kerap terjadi. Pembungkaman ruang de
mo krasi, intimidasi, kekerasan, bahkan pembunuhan masih menghantui kehidup
an rakyat Papua.
Belum terpenuhinya HakHak Sipil dan Politik dibahas dalam Bab II. Dalam hal ini negara yang menjadi bagian dari ko munitas internasional wajib melaksan
akan kovenan internasional untuk meme
nuhi hakhak sipil dan politik. Negara se
bagai subjek hukum wajib menghormati (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfil) kovenan internasi
onal yang telah disepakati. Negara wajib hadir dan melakukan tindakan apabi
la terjadi pelangaran terhadap hakhak sipil serta politik warga negara. Dalam hal ini, negara seakanakan diam terh
adap kasus yang terjadi di Papua. Banyak kasus peng aniayaan dan pembunuhan tokoh adat yang dilakukan oleh aparat keamanan, beberapa kasus tanpa peng
adilan. Setidak nya, ada sekitar 48 kasus kekerasan yang terjadi tanpa pengadilan sejak 1 Februari 2008 sampai 6 Desember 2012. Pembungkaman ruang demokrasi di Papua sangat jelas dirasakan, pelarangan berkumpul, berserikat, mengemukaan pe
n dapat di mu ka umum serta demonstrasi dibatasi. Pe la rangan kunjungan beberapa utusan luar negeri serta pengekangan ke
bebasan pers menambah daftar panjang pelanggar an hakhak warga sipil serta me nunjukkan bagaimana keadaan politik di Papua.
Ketimpangan ekonomi memicu protes dan tuntutan tentang HakHak Ekonomi Sosial dan Budaya dibahas dalam Bab III. Otonomi Khusus (Otsus) di Papua su
dah berjalan 10 tahun lamanya, melalui UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Munculnya Otsus ini dise
babkan karena berbagai aspirasi politik me nuntut kemerdekaan rakyat Papua, di
EDISI KHUSUS 2018 PRANALA |43 susul gagalnya pembangunan di bidang
ekonomi, pendidikan, kesehatan dan in
frastuktur. Papua yang memiliki kekaya
an alam melimpah dan mampu mengha
sil kan devisa yang sangat besar untuk pen dapatan nasional pada kenyataannya ma sih disibukkan dengan masalah kemis
kinan, pendidikan tidak merata, gizi bu
ruk, serta angka kematian yang begitu tinggi. Menurut penulis pengalokasian da na APBD yang tidak efektif, menyebab
kan ketimpangan memicu berbagai protes yang dilakukan oleh rakyat Papua. Pembe
rian izin operasi penambangan, perke
bunan, dan eksploitasi sumber daya alam, membuat rakyat Papua merasa termar
jinalkan. Mereka hidup dalam struktur masyarakat paling rendah dan diperlaku
kan tidak semestinya.
Dalam Bab IV membahas tentang zo
nazona konflik di Papua. Gerakan poli
tik Papua dimulai pada pertengahan ta
hun 1950an ditandai dengan program Papua nisasi yang dilakukan pemerintah.
Berpusat di Jayapura sebagai ibukota Pro
vinsi Papua, memunculkan berbagai ge
rak an po litik rakyat Papua yang menun
tut kemer dekaan dan keadilan. Beberapa gerakan separatis muncul, pemerintah de ngan perangkat aparatnya melakukan pen dekatan dengan metode militeristik.
Zo na konflik selalu dijaga oleh aparat se
perti di Timika, Puncak Jaya, Jayapura, Degeuwo, dan Paniai. Penembakan berun
tun orang tidak dikenal (OTK) yang terjadi masih menjadi misteri yang tak terpecah
kan, pelakukanya tidak pernah ditemu
kan. Kekerasan di zona tambang seperti Freeport sering terjadi, konflik antara masyarakat dengan aparat keamanan yang menjaga tambang mengakibatkan ba nyaknya korban jiwa yang berjatuhan.
Pe nu lis mengungkapkan ada ribuan warga si pil yang menjadi korban karena konflik dengan tambang. Berbagai kepentingan me la tarbelakangi penjagaan ketat yang di
la kukan oleh aparat TNI dan Polri, bisnis gelap menyelubungi seperti halnya pendu
langan limbah tambang emas, prostitusi dilingkungan tambang serta pembalakan hutan.
Posisi Pemerintah dalam konflik Pa
pua dijelaskan dalam Bab V. Sikap peme
rintah yang cenderung diam memuncul
kan pertanyaan tersendiri bagi penulis.
Ber bagai kepentingan antara perusahaan asing, TNI, POLRI serta pejabat pemerin
tah tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di Papua. Di bagian akhir dari pembahasan disusun bebera
pa kesimpulan yang disampaikan penu lis an tara lain peran pemerintah dan apa
rat keamanan yang melakukan pelang
gar an HAM, serta berbagai tuntutan dan permin taan dukungan untuk rakyat pa
pua dari dunia Internasional. Di bagian akhir ditulis epilog untuk mengenang Umeki Kelly Kwalik yang menginspirasi ba nyak rakyat papua untuk melawan ke
tidakadilan.
Buku yang ditulis oleh Markus Haluk menunjukkan situasi nyata di lapangan.
Kit a dapat memahami bagaimana rak
yat Papua membutuhkan banyak perha
tian. Buku ini menyajikan secara akurat menge nai konflikkonflik di lapangan de ngan didukung sumber infomasi dari me dia yang terpercaya. Berbagai kasus ser ta do ku men tasi diambil mulai dari me
dia lo kal, media nasional, hingga internasio
nal. Pengadvokasian telah dilakukan oleh ber bagai lembaga untuk melindungi hak dan kepentingan rakyat Papua., namun ti dak akan menemui titik terang apabila pa ra pelanggar HAM disana tidak dipro
ses secara hukum. Tentunya, rakyat Papua mem butuhkan dukungan dari berbagai pi hak, lembaga, LSM, serta elemen rakyat yang lainnya.
Buku ini cukup memberikan informa
si yang lengkap bagi para pembaca yang ingin mendalami mengenai kondisi riil di Papua. Hal ini karena dalam buku ini selain ditulis mengenai kejadian runtut beberapa konflik di Papua, juga melam
pirkan dengan lengkap berbagai state
mentstatement dari negara luar menge
nai responnya terhadap konflik yang ada di Papua. Bagusnya, penulis buku ini ada
lah seorang warga asli di Papua, sehingga keakuratan mengenai pemaparan kondisi riil dan konflik menjadi lebih akurat dan dapat dipercaya, didukung dengan ber
ba gai hasil liputan banyak media massa.
Hanya saja, perspektif yang digunakan oleh penulis dalam buku ini lebih banyak menggunakan perspektif dirinya sebagai warga asli di Papua, sehingga terlihat sub
jektif karena keberpihakan penulis terha
dap Papua yang sangat tinggi. n