• Tidak ada hasil yang ditemukan

EDISI KHUSUS 2018 PRANALA |51 Endnote

1 Saya menggunakan penulisan nama

“Ratulangie” mengikuti model

penulisan George J. Aditjondro, dalam Sam Ratulangie: Burung Manguni yang Rindukan Deburan Ombak Pasifik, Prisma, No. 3, 1985, hlm.

81. Adapun buku dan tulisan yang membahas Ratulangie memang tidak banyak. Hampir tak ada buku dan tulisan yang ada secara memadai membahas tokoh ini. Selain tulisan Aditjondro, ada tulisan Daniel Dhakidae, Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi: Pijar­pijar Bintang Kejora dari Timur, Kompas Edisi 1000 Tahun Nusantara, 2000.

Gerry van Klinken, 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa: Nasionalisme Minoritas Kristen, Yogyakarta: LkiS, 2010. Soebagijo I.N., Sebelas Perintis Pers Indonesia, Penerbit Djambatan, 1976. S. Kutojo dan M. Safwan, Dr.

G.S.S.J. Ratulangie: Riwayat Hidup dan Perjuangannya, Penerbit Mutiara Jakarta tanpa tahun. Dr. G.S.S.J.

Ratulangie, Indonesia di Pasifik:

Analisa Masalah­masalah Pokok Asia Pasifik, Jakarta: Sinar Harapan, 1982. Lefrand Winston Sondakh dan Reiner Emyote Ointoe (Penyunting), Cahaya di Timur Merambah Pasifik:

Pijar­pijar Pikiran Tentang Dr.

G.S.S.J. Ratulangie, Diterbitkan Atas Kerjasama Unsrat Press dan Media Pustaka, 2004.

2 Peneliti HAM. Pegiat Ilmu Hukum Tata Negara. Dosen di Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Penulis dalam empat tahun terakhir melakukan sejumlah penelitian eks ploratif melalui PUSHAM UII Yogyakarta, terhadap konfigurasi antara relasi negara (Kepolisian dan Pemda) dengan Ormas, dan Masyarakat. Sejumlah wilayah yang diriset di antaranya:

Lampung, Maluku Utara, Gorontalo, dan yang terkini Provinsi Sulawesi Utara (16–22 April 2017). Selain memiliki Tokoh Nasional legendaris seperi Sam Ratulangie. Wilayah ini juga tercatat sebagai wilayah dengan tingkat toleransi yang layak diberi

penghargaan.

3 Gelar doktoral Ratulangie (dan juga gelar doktoral Douwes Dekker) disangsikan oleh Gerry van Klinken dalam bukunya 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa. Dalam penelusurannya, Gerry hanya menemukan transkrip kuliah dua semester bidang Psikologi di samping Matematika. Sayangnya, Gerry dalam bukunya tidak

menjelaskan lebih detail temuannya itu. Apakah itu transkrip kuliah Psikologi atau itu juga transkrip yang sama untuk jurusan Fisika dan Matematika.

Penelusuran lain dilakukan oleh Lani Ratulangie, putri kedua Ratulangie. Dia menemukan sejumlah dokumen surat menyurat rekomendasi, dimana bagian lampiran berupa ijazah doktoral tidak ditemukan. Surat­surat itu menunjukkan bahwa Ratulangie telah menyelesaikan studinya. Persoalannya di situ persis: surat­suratnya ada tapi lampiran ijazahnya hilang.

Mengingat jejak kekritisannya kepada pemerintah kolonial, maka, persoalan ini kita mahfum sebagai upaya diskredit terhadap Ratulangie.

Lihat dokumen­dokumen penelusuran Lani Ratulangie selengkapnya dalam blog pribadinya:

https://laniratulangi.wordpress.

com/2009/09/22/sam­ratu­

langie­belajar­di­eropa­1913­1919/

kesangsian Gerry saya kira cukup beralasan, meskipun menurut saya sebaiknya sebelum menuliskan kesangsiannya terlebih dahulu mengkaji bagaimana proses dan mekanisme promosi doktoral di Universitas Zurich di zaman itu, dan hubungannya dengan surat­surat yang ditemukan Lani Ratulangie dimana disebutkan dalam surat tersebut ada lampiran berupa ijazah yang kemudian hilang. Hemat saya itulah usaha yang tepat, dibandingkan memilih jalan penelusuran yang berakibat kontroversial bagi sosok Ratulangie, tokoh yang kita sama­

sama tahu perlawanannya terhadap pemerintah kolonial mendatangkan resiko berat.

4 Terlahir sebagai putera bungsu dari kalangan aristokrat lokal Minahasa, pada 5 November 1890 dari pasangan Jozias Ratulangie dan Agustina Gerungan. Sam Ratulangie wafat pada 30 Juni 1949 di Jakarta.

Istri: Suzanne Houtman dan Maria Tambayong. Anak­anak: Cornelis (Oddy) Ratulangie, Emily (Zus) Ratulangie, Milly Ratulangie, Lani Ratulangie, Uki Ratulangie.

5 Dalam kehidupan spirituil, Ratu Langie adalah umat yang shaleh dia penganut agama Kristen Protestan. Ikuti selengkapnya catatan­catatan kesaksian dilengkapi dengan dokumentasi keluarga, Lani Ratulangie, putri kedua Sam Ratulangie, dalam blog pribadinya:

http://laniratulangi.blogspot.

co.id/2009/04/sejarah­singkat­dr­

gssjratu­langie.html

6 Terlahir sebagai putera bungsu dari kalangan aristokrat lokal Minahasa, pada 5 November 1890 dari pasangan Jozias Ratulangie dan Agustina Gerungan. Kakak tertua Sam: Wulan Kajes Rachel Wilhelmina. Kakak kedua Sam: Wulan Rachel Wilhelmina Maria. Lihat koleksi foto keluarga Sam Ratulangie selengkapnya di sini: https://matulanda.wordpress.

com/2010/03/16/sam­ratu­langies­

parents­sisters/

7 Selengkapnya simak dalam Heddy Shri Ahimsa­Putra (Ed), Esei­esei Antropologi, Yogyakarta: Keppel Press, 2006.

8 Ratulangie memulai studinya di Eropa pada Vrije Universiteit, Amsterdam.

Mendapatkan ijasah guru Middlebare Onderwijs Akte di bidang Wiskunde en Paedagogiek. Dia kemudian melanjutkan ke program doktoral di Universitas Zurich, Swiss. Dia doktor boemipoetera pertama di bidang ilmu pasti dan alam. Baca uraian­uraian selama Ratulangie belajar di Eropa dalam George J. Aditjondro, dalam Sam Ratulangie: Burung Manguni yang Rindukan Deburan Ombak Pasifik.., ibid.., Daniel Dhakidae, Gerungan Saul Samuel Jacob

Ratulangi: Pijar­pijar Bintang Kejora dari Timur, Kompas Edisi 1000 Tahun

Nusantara, 2000, hlm. 634. Gerry van Klinken, 5 Penggerak Bangsa yang Terlupa: Nasionalisme Minoritas Kristen, Yogyakarta: LkiS, 2010, hlm.

131­135.

9 Dr. G.S.S.J. Ratulangie, Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah­masalah Pokok Asia Pasifik, Jakarta: Sinar Harapan, 1982, hlm. 125.

10 Terjemahan tulisan dapat diakses di sini: http://minahasatempodulu.

blogspot.co.id/

11 Lihat kutipan­kutipan tulisan Ratulangie dalam Gerry van Klinken, ibid.., Gerry di dalam bukunya mencoba menafsirkan berbagai tulisan Ratulangie sejak dia menjadi Ketua Indische Vereniging.

12 Loc cit..,

13 (Indie in de Nederlandsche Studentenwereld, 1918: 19). Lihat dalam Gerry van Klinken, ibid.., hlm.

144. Lihat juga kelanjutan perjalanan hidup Ratulangie sekembalinya ke tanah air dalam Gerry van Klinken, ibid.., George Aditjondro, ibid.., Daniel Dhakidae, ibid..,

14 Gerry van Klinken, loc cit.., 15 Ambil dari tulisan Basri Amin...

16 Gerry van Klinken, ibid.., hlm 147.

Lihat juga kelanjutan perjalanan hidup Ratulangie sekembalinya ke tanah air dalam Gerry van Klinken, ibid.., George Aditjondro, ibid.., Daniel Dhakidae, ibid..,

17 Pada waktu itu, penduduk yang diajak melakukan transmigrasi lokal (resettlement) berasal dari Tondano, Tompase, Kakas, Sonder. Sedangkan daerah­daerah pemukiman yang dibuka di Modoinding, dekat

perbatasan Minahasa dengan Bolaang Mongondow, serta di Utaranya, yang kini dikenal sebagai Tompaso Baru.

Selengkapnya lihat dalam George J.

Aditjondro, ibid.., hlm. 82.

18 Persatoean Minahasa dia dirikan bersama Tumbelaka pada 16 Agustus 1927. Ratulangie semakin lantang bersuara dengan kekhasannya sendiri, tidak radikal, tetapi tidak juga

“lembek” sebagai yang ditudingkan Arnold Mononutu kepadanya karena berbeda taktik politik dimana Ratulangie menolak untuk bergabung

EDISI KHUSUS 2018 PRANALA |53 di PPPKI yang dibentuk Bung Karno

muda pada 17 Desember 1927.

Ratulangie punya siasat lain, model radikal ala PPPKI tidak begitu cocok dengan garis politiknya. Ratulangie memilih bergabung bersama GAPI.

Simak ulasan menarik oleh George J.

Adtjondro, ibid.., hlm. 83.

19 Sebagai seorang Kristen yang tak mau tunduk pada dominasi Budaya Belanda, Sam Ratulangie ikut mendukung Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM), yang sejak setengah abad pada waktu itu sudah melepaskan diri dari dominasi Indische Kerk. Gereja yang dirintis B.W. Lapian, pejuang kemerdekaan asal Kawangkoan, Minahasa, waktu itu sudah mandiri [bahkan]—dalam arti sudah sama sekali lepas dari bantuan dana luar negeri, dan hanya dihidupi oleh kas jemaatnya sendiri. Istimewanya, KGPM pada waktu itu sudah menggunakan bahasa Indonesia (Melayu) sebagai pengantarnya. Kekhasan lain dari KGPM adalah jalur pendidikan ketiga yang diselenggarakannya.

Waktu itu ada Gouvermentse H.I.S.

(Hollands Inlandsche School) serta Christelijke H.I.S. yang dikelola oleh Indische Kerk yang pada tahun 1934 bermetamorfosa menjadi GMIM (Gereja Masehi Injili Minahasa).

Namun KGPM mendirikan H.I.S.

sendiri, lebih dikenal dengan istilah Sumual School. Sekarang masih merupakan gereja minoritas di Minahasa (dibandingkan dengan GMIM yang tersebar lebih banyak).

Gereja KGPM juga tersebar di Sangihe Talaud, Balikpapan, Surabaya, dan Jakarta. Lihat George J. Adijtondro, loc cit..,

20 Gerry van Klinken, ibid.., hlm. 155.

21 Dr. G.S.S.J. Ratulangie, Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah­masalah Pokok Asia Pasifik, Jakarta: Sinar Harapan, 1982.

22 Ratulangie, Husti Thamrin, dan Soetardjo, memang tiga serangkai yang menjadi momok di Volksraad.

Pemerintah kolonial selalu mengincar ketiganya. Ratulangie salah satu yang jadi korban, dituduh secara sepihak

tidak jujur dalam membuat laporan perjalanannya (termasuk keuangan).

Proses peradilannya pun kontroversi.

Beritanya digoreng sedemikian rupa oleh pers Belanda (pers putih), tapi Ratulangie didukung sepenuhnya oleh pers pergerakan nasional waktu itu.

Lihat ulasan Daniel Dhakidae, ibid.., hlm. 643­646.

23 Daniel Dhakidae, ibid.., hlm 656.

24 Mieke Schouten (1981) telah

mendaftarkan sekitar 17 tulisan Sam Ratulangie antara tahun 1913­1938.

Itulah periode intensitas menulisnya, dengan gaya jurnalisme publisistik yang khas, yang membahas pelbagai topik penting. Lihat uraian menarik dari Basri Amin, Warisan Sam Ratulangie Bagi Masa Depan Kita, dalam Lefrand Winston Sondakh dan Reiner Emyot Ointoe, Cahaya di Timur Merambah Pasifik.., ibid.., hlm. 241. Lihat juga Soebagijo I.N., Sebelas Perintis Pers Indonesia, Penerbit Djambatan, 1976.

25 Justus Inkiriwang, Amurang Pos 1925, dalam Lefrand Winston Sondakh dan Reiner Emyot Ointoe, Cahaya di Timur Merambah Pasifik.., ibid.., hlm. 186. Lihat juga dalam uraian Daniel Dhakidae, loc cit.., 26 Sejumlah konflik baik itu

bersinggungan dengan agama, maupun yang bersinggungan dengan suku (dan lalu berujung pada agama), tercatat di antaranya: konflik Ambon (1999), kerusuhan Poso (I, II, III;

1998­2000), konflik Sampit (2001), kerusuhan Sambas (1999), konflik Sampang (2012); yang di samping konflik­konflik tersebut juga tercatat sejumlah potensi konflik disejumlah daerah terkait dengan soal­soal pendirian rumah ibadah dengan ormas keagamaan, juga ormas kedaerahan (adat). Situasi terkini, wilayah DKI sejak Pilgub dihelat, isu­isu SARA beriringan menjadi bagian dari kompetisi politik. Efeknya menyebar hingga ke wilayah seantero Indonesia.

27 Luas Wilayah Sulawesi Utara tercatat 15.273 km2, yang terbagi atas 11 kabupaten dan empat kota. Bolaang Mongondow merupakan kabupaten

dengan wilayah terluas, yaitu 3.022 km2, atau 19, 78 persen dari wilayah Sulawesi Utara. Persentase suku bangsa secara keseluruhan:

Minahasa (43,2%), Sangir Talaud (22,8%), Bolaang Mongondow (17,4%), Gorontalo (7,5%), Tionghoa (3%), dan lain­lain (6%). Pemeluk agama:

Protestan (63,05%), Islam (28,98%), Katolik (6,08%), Hindu (0,95%), Budha (0,89%), Kong Hu Cu (0,026%), dan Lainnya (0,034%). Untuk rumah ibadah, tercatat: Masjid—1 077; Gereja Protestan 4 538; Gereja Katolik—222;

Pura—31; Vihara—31; Litang—1.

Sumber BPS Sulawesi Utara dalam angka 2016.

28 Sebuah event besar telah diselenggarakan, antara lain:

Perayaan Paskah Nasional; Peringatan 500 Tahun Reformasi 1517­2017.

Sekaligus menyelenggarakan Pekan Kerukunan Nasional 2017. Acara dibagi tiga bagian: Paskah Nasional dan Konferensi Misi Global 21­

24 April 2017 (Manado); Pekan Kerukunan Nasional dan Konferensi Pemuda 23­25 April (Manado);

Konser Paskah Nasional 28 April 2017. Komitmen seperti ini telah mulai dirintis sejak era Gubernur E.E. Mangindaan, dilanjutkan Sarundajang, hingga Gubernur saat ini Olly Dondokambey. Sebagaimana terlihat juga dalam slogan­slogan seperti : Torang Samua Basudara, atau Torang Samua Ciptaan Tuhan, atau juga Baku Beking Pande, dll. Bahkan sejumlah penelitian menunjukkan, harmonisasi antar agama dengan budaya suku lokal berjalan harmonis sejak lama, seperti misalnya penerimaan suku Minahasa terhadap konsep Kristen, juga Islam (Jawa­Tondano, lihat misalnya studi Babcock, Tim G. 1989, Kampung Jawa Tondano Religion and Cultural Identities, Jakarta: YOI.

Djojosuroto, Kinayati, 2011. Dialek

Identitas jawa tondano di Minahasa, Fakultas Bahasa dan Seni UNJ, Junral Dialektika Dwija Indria. Vol.

1. Pulukadang, Umar. 1978. Kiyai Madja dan Islam di Minahasa, Jurnal Mimbar Ulama No. 18), dan agama lainnya. Penerimaan dan internalisasi nilai­nilai itulah yang kemudian berkembang dan bertahan menjadi komitmen bersama dari lapisan atas sampai lapisan bawah masyarakat Sulawesi Utara hingga saat ini.

29 Lihat penelitian­penelitian menarik terkait dalam Hendri Gunawan, Steven Sumolang, Janeke Peggy Slippy, Bunga Rampai Sejarah: Merajut Peristiwa dan Masyarakatnya, Yogyakarta: Keppel Press, 2015. Max Sudirno Kaghoo, dkk, Menemukenali Kearifan Lokal dalam Kaitannya dengan Watak dan Karakter Bangsa di Minahasa Utara, Yogyakarta: Keppel Press, 2012. Irawati Usma, dkk, Bunga Rampai dari Internalisasi Nilai Budaya Hingga Pembauran Antar Etnik, Yogyakarta: Keppel Press, 2015.

Dan sejumlah penelitian menarik lainnya yang dapat diakses di Balai Pelestarian Nilai Budaya Sulawesi Utara.

30 A.E. Sinolungan, Beberapa Pandangan Pemikiran Dr. G.S.S.J.

Ratulangie, dalam Lefrand Winston Sondakh dan Reiner Emyot Ointoe, Cahaya di Timur Merambah Pasifik.., ibid.., 195. Tulisan ini pernah disampaikan dalam diskusi panel: Pemahaman Pandangan, Pokok­pokok Pikiran dan Falsafah Dr. G.S.S.J. Ratulangie, yang diselenggarakan oleh Lembaga Penelitian Unsrat kerjasama dengan Jakarta Post dalam rangka Hari Pers Nasional XI, Manado, 10 Februari 1995. A.E. Sinolungan adalah mantan Rektor IKIP Manado (kini Universitas Negeri Manado). n

Dokumen terkait